"Amamu yapa?"

"Ivy…amu apa?"

"Kita… akan selalu bersama, kan, Ivy?"

"Ahh, aku ingin sekali dekat denganmu selalu, Dean!"

"Janji ya?"

"Ya!"

Lelaki yang satunya membuat mahkota dari ranting-ranting. Senyumannya tidak lepas dari wajahnya ketika dia mendekati perempuan yang berlari-lari di sekitar perbukitan itu. Lelaki itu melambaikan tangannya, mencoba mengejar si perempuan. Perempuan itu tertawa dan tergelak, menjulurkan lidahnya. Matanya bersinar, dan dia tampak sangat bahagia. Dan si lelaki, dengan senyuman paling menawan, menaruh rangkaian mahkota ranting itu di kepala si perempuan. Keduanya tertawa bersama, dan mereka saling menggenggam tangan masing-masing. Adegan yang sangat klise dan romantis, tapi ini—sebuah momen yang tidak terlupakan. Untuk kedua insan itu.

"Dean—Apa itu… jatuh cinta?"

"Hm, sesuai di buku, cinta bisa membuat orang menangis, tertawa, mulas, dan banyak hal lain. Aku tidak begitu mengerti. Memang kenapa?"

"Enak ya, punya cinta. Tapi seram sekali, kenapa menangis?"

"Itu 'kan artinya kau membuat hubungan spesial dengan orang lain, Ivy. Kadang mungkin saja orang lain itu tidak membalas."

"Oh… aku takut dengan Cinta, Dean. Sepertinya sangat menyeramkan!"

"Aku tidak akan menyakitimu Ivy. Dean akan jadi pangeranmu!"

"—walaupun itu artinya si pangeran menikah dengan si putri, bukan putri duyung?" Lelaki itu terkejut. Gadis itu melanjutkan, "Karena aku putri duyung."

Gadis kecil dan lelaki itu berlari-lari bersama. Mereka benar-benar tampak berbahagia. Senyum terbentuk di wajah mereka berdua. Tangan saling bertautan. Mata mereka saling menatap, dan senyum terbentuk di wajah mereka. Mata yang penuh kepolosan, dan kasih sayang yang betul banyak luar biasa. Walau usia mereka berdua bisa di bilang sangat muda

"—Ivy!"

"Hn?"

"Kita selalu bersama, kan?"

Gadis itu tersenyum. "Kita sudah janji!" Jari kelingking mereka bertaut.

Cinta Masa Kecil

©Jellal/Myst29

This story is mine.

One-Shot.

Any similarity name is only coincidence.

Warning : Some trash Indonesian's Song, I got the inspiration from Heart.

Enjoy.

"—Hari ini aku ada latihan sepak bola, Vy! Jadi, seperti biasa kau akan menungguku latihan, kan?" Tanya Dean, menaruh tasnya di loker. Pandangannya memicing ke arah perempuan berwajah oriental itu; Ivy. Sedangkan si perempuan hanya bisa mengangkat alis, lalu mengangkat bahu. Tangannya sibuk menggenggam lebih dari lima buku.

"Baiklah, kalau kau memaksa. Tapi habis itu kau harus traktir aku di restoran!" Ancam Ivy, dan menyeringai licik. Dean memajukan bibirnya. Dia paling benci ketika Ivy bisa membuatnya kalah seperti ini.

"Baik—tapi kau harus bantu aku dengan PR kimia ini!" Seru Dean, menjulurkan lidahnya balik. Ivy tidak bisa berkata apa-apa, dan memukul Dean. Lelaki itu langsung lari tunggang-langgang sebelum dia masuk rumah sakit karena Ivy memukulnya dengan keterlaluan. Begitulah, hubungan mereka berdua yang sahabat dari kecil. Mereka sangat akrab, terkadang lebih akrab dari sahabat sesama jenis mereka.

"Geez, aku benar-benar tidak menyangka bahwa lelaki itu sangat merepotkan!" Ivy menghela napas berat. Namun, tidak ada yang benar-benar memperhatikannya. Ivy sedang berjalan menuju lapangan sepak bola, seperti biasa menunggu latihan Dean.

"Ayo Dean! Kau pasti bisa!" Teriak Ivy spontan, ketika Dean menggiring bola menuju gawang. Gerakan Dean terhenti sesaat dan dia terkesima sejenak, lalu terpeleset jatuh. Bunyi yang cukup keras, diiringi Ivy yang memukul kepalanya sendiri. Dengan gerakan secepat kilat, Ivy mendekati Dean yang jatuh.

"Dean, kau baik-baik saja?" Tanya Ivy khawatir. Dia mendekati Dean, memeriksanya. "Kalau nggak bangun-bangun juga, nanti kucium, loh!" Seringai Ivy. Dean, ajaibnya langsung membuka mata. Tapi jawabannya tidak seperti yang di duga Ivy.

"Coba saja kalau berani!" Jawab Dean, yang di sambut oleh wajah memerah Ivy. "Tapi kakiku sepertinya agak terkilir. Aku tidak bisa lanjut bermain." Lanjut Dean. Ivy membantunya berdiri sampai akhirnya mereka berada di mobil keluarga Ivy.

"Pak, ke Caffe Late ya!" Pesan Ivy, sebelum akhirnya membaringkan Dean di sisinya.

~IvyDean~

Rasanya, ayam bakar itu sangat menggiurkan. Apalagi lelehan mentega yang berada di atasnya, benar-benar menggoda. Kesegaran jus jeruk yang tengah di siapkan juga membuat rasa lapar Dean makin menjadi-jadi. Karena dia sangat lapar sekarang.

"Kau rakus," komentar Ivy ketika melihat Dean langsung melahap ayam bakar dan sayurannya ketika pelayan baru menaruh itu di meja. Dean memutar matanya, dan mendelikkannya balik pada Ivy. Perempuan itu hanya cengar-cengir saja, menganggap kalau dirinya sama sekali tidak salah.

"Lagian, inipun aku yang bayar kok!" Balas Dean kesal. "Kau juga jangan pesan yang mahal-mahal!"

"Eh?" Seringai Ivy tambah lebar. "Baru saja aku mau pesan yang paling murah. Tapi karena di bolehin, yasudah aku pesan ice cream deluxe."

"Ivy!" Protes Dean, mengangkat tangannya untuk mencegah Ivy memesan sesuatu yang lebih parah. Namun Ivy hanya terkekeh pelan, memanggil pelayan yang langsung datang dengan sekali jentikkan. Ivy membisikkan sesuatu di telinga pelayan itu, dan pelayan itu tampak berseri dan mengangguk. Dean benar-benar curiga bahwa Ivy telah memesan makanan yang benar-benar mahal, maka dari itu pelayan itu benar-benar senang. Dean mendesiskan kata-kata sindiran.

"Jangan lupa, PR kimia-ku!" Dean memelotkan matanya. Ivy tertawa renyah. Dia mengangguk, mengedipkan matanya. Dalam sekejap mata, kertas berlembar-lembar telah berada di depan mata Ivy. Ivy membuka perlahan-lahan kertas itu. Dia menepuk dahi, lupa kalau kimia adalah salah satu pelajaran kelemahannya. Dengan menggerutu, dia mengambil pensil dan berusaha untuk menyelesaikan beberapa soal. Terlalu, pikir Ivy. Ternyata ini betul-betul menyiksanya. Dia tidak tahu kalau ternyata pelajaran Kimia adalah pelajaran yang sangat susah. Tapi rasanya, kalau ada Dean yang berada di sampingnya, pelajaran ini—bisa terasa sangat enteng. Dan entah kenapa, pelajaran Kimia menjadi pelajaran yang cukup mudah. Woahh, Ivy! Ada apa denganku? Pikir Ivy, lalu sibuk menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan yang lain.

"Sudah selesai." Ivy menaruh pensilnya di sebelah kirinya, ketika dia selesai mencorat-coret idi kertas. Ivy lalu beranjak dari tempat duduknya, lalu melihat pelayan telah datang. Senyum kembali mengembang di bibir Ivy. Dia lalu datang lagi pada Dean. Ivy menyerahkan apa yang ada di tangannya, es krim.

"I…ini?" Dean terkejut.

"Eh Ivy, Ivy!" Panggil Dean pada Ivy. Dean kecil mengerjapkan matanya penasaran, dan Ivy mendekat. Dean menunjuk pada etalase toko. Di dalamnya, ada waffle es krim yang tampak menggiurkan.

"Ada apa, Dean?" Respon Ivy. Dean lalu menunjuk pada waffle itu. Ivy mengangkat alisnya bingung, karena dia tidak mengerti maksud Dean dengan menunjuk waffle itu. Benar-benar abstrak.

"Roti itu—sepertinya enak, ya Vy!"

"Kau benar." Komentar Ivy datar, kemudian dia melihat harganya. Ternyata harganya mahal sekali. Ivy bungkam. Dia ingin menyenangkan Dean, tapi harganya mahal sekali. Kemudian, Ivy berbalik, menghadap Dean.

"Dean," ucap Ivy serius. Dean menoleh, memberi tanda kalau dia mendengar apa yang Ivy ingin katakan. "Kalau aku tidak bermain denganmu beberapa hari ini, tidak apa-apakan?" Tanya Ivy. Dean tampak bingung, tapi di tengah kebingungannya itu dia mengangguk. Ivy menghela napas lega. Semejak itu, beberapa hari kemudian, Ivy jarang bermain dengan Dean. Saat Dean bermain sepak bola sendirian, Ivy muncul dari belakangnya, mengagetkannya.

"Dean!" Seru Ivy dari belakang, tersenyum lebar.

"Ivy!" Teriak Dean kaget. Dia bersungut karena Ivy mengagetkannya. Dia mengerucutkan bibirnya. Ivy kemudian menyerahkan sesuatu. Terbungkus plastik dan harum. "Apa itu?" Dean menjulurkan kepala ingin tahu.

"Untukmu," bisik Ivy. "Karena aku sayang Dean," lanjut Ivy. Mata Dean berbinar-binar. Dean segera melahap waffle itu.

"Enak?" Ivy tersenyum lebar. Dean mengangguk.

"Syukurlah," ucap Ivy.

"Waffle ini sepertimu, deh Ivy. Es krimnya dingin sepertimu, tapi waffle-nya mengimbanginya. Waffle itu plain dan polos, sepertiku. Tapi—" Dean berhenti sejenak, dan Ivy terpaku. "Es krim itu manis, kan?" Dean tersenyum keren. Beberapa detik kemudian, Ivy menyikut Dean.

"Plain dan polos, eh? Siapa bilang?" Ejek Ivy. Muka Dean memerah padam, dan detik kemudian dia menjejalkan sepotong waffle ke mulut Ivy.

"Kau tahu dari mana kalau aku suka es krim?" Tanya Dean.

'Ternyata dia tidak ingat. Memang, seharusnya aku pesan waffle.' Pikir Ivy, kemudian dia menepis kemungkinan-kemungkinan yang ada. Ivy menghela napas panjang.

"Sudah, makan saja. Gampang, kan? Aku sudah membantumu membuat tugas kimia, jadi cepat selesaikanlah makananmu, dan kita pulang," Gumam Ivy, lalu dia duduk tanpa melihat sekilas pada Dean lagi. Dean heran, tapi kemudian angkat bahu.

~IvyDean~

"Ehh? Ivy, kau tidak bisa? Menyebalkan!" Gerutu Dean ketika mengetahui bahwa Ivy tidak bisa menonton pertandingan sepak bolanya.

"Ya, maaf, Dean! Soalnya hari ini aku harus belajar—besok ada ujian, ingat?" Ivy mengingatkan Dean.

"Damn! Aku tidak ingat ada ujian besok?" Suara Dean dari seberang ponsel terdengar cemas. Ivy tergelak tertawa. Dia mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya ketika mengatakan itu.

"Maksudku, ujian untuk anak jurnalis sepertiku, Dean. Kau, kan bukan anak jurnalis. Jadi kau tenang saja, ya. Duduk yang manis," goda Ivy. Dean cemberut, dan Ivy bisa merasakannya. "Lagian, bukan ujian juga, kok. Tapi karena penting, sekalian aja aku bilang ujian." Jadi Ivy mengacak rambutnya, mencoba berlaku keren—seperti cowok. DIa nyengir. "Sudah deh, Dean. Aku tahu kau sedang memajukan bibir lima sentimeter," cemoh Ivy, walau bercanda tentunya.

"Kalau begitu, kau salah," tukas Dean dari seberang ponsel. Ivy menekuk alisnya.

"Oh, ya? Coba kau jelaskan, tuan muda besar Dean. Apa yang salah? Aku tahu kau dari kecil, dan aku tahu gelagatmu kalau lagi senewen karena di goda oleh putri cantik sepertiku. Keganteng—maksudku kejelekanmu akan langsung tambah parah." Ivy membusungkan dadanya.

"Huh," Dengus Dean, yang walaupun pelan bisa terdengar Ivy di ponsel saat itu. "Tuh, buktinya saja, 'kan kau tidak tahu!" Ejek Dean. Ivy tersinggung, tentu dalam konteks yang baik.

"Aku tahu banyak tentangmu! Ayahmu, ibumu, kakak sepupumu, nenekmu, kakekmu, temanmu, teman kita, sepupumu, adik sepupumu guru lesmu, gurumu, sainganmu, guru TK-mu, guru renangmu, sustermu, ka—"

"Stop!" Seru Dean, lalu dia hanya menggelengkan kepalanya. Terdengar gesekan dari seberang, jadi Ivy bisa memperkirakan bahwa Dean sedang menggelengkan kepalanya.

"Lalu?" Tanya Ivy, melipat satu tangannya, sedangkan tangannya yang satu mengenggam ponsel itu agar tetap merapat ke telinga.

"Kau, 'kan tidak tahu kalau bibirku maju enam sentimeter," sombong Dean. Ivy melongo untuk beberapa detik. Sambungan telepon terasa sunyi. Lalu, Ivy tergelak.

"Dean, kau ngelawak! Sumpah! Dan apa maksudmu dengan enam sentimeter? Perkembangan terbaru?" Ledek Ivy, masih tertawa.

"Kan hebat, ada perkembangan," kata Dean bangga. Ivy bisa menangkap nada ceria di suaranya.

"Perkembangan yang sangat signifikan," sindir Ivy, tetapi setelah itu tidak ada yang bicara. Semuanya diam.

"Ivy?"

"Ya?" Jawab Ivy, mengalihkan pikirannya dari sofa kuning yang sedang di duduki anjingnya—Latty.

"Jadi kau tetap tidak bisa menemaniku untuk bermain bola? Kau, 'kan jarang absen. Kau absen kalau kau sakit, dan itu pun—" Ivy mendengar Dean menghela napas. "Aku tidak ikut pertandingan dan tetap berada di sampingmu sewaktu kau sakit." Ivy tertegun. Dia masih ingat, dia memang tidak pernah absen untuk menonton pertandingan Dean. Kecuali waktu dia sakit, dan Dean turun tangan, dia tidak main dan mendampinginya. Perasaan bersalah melanda hatinya.

"Dean, baiklah. Aku akan berada di sana," ucap Ivy akhirnya, menyunggingkan senyum terbaiknya.

"Benar? Benarkah Vy?" Tanya Dean mempertanggung jawabkan kepastian.

"Iya, iya." Jawab Ivy, menganggukan kepalanya. Padahal, jelas sekali bahwa seorang Dean tidak bisa melihatnya. Tapi toh, tetap saja Ivy berniat menganggukan kepalanya itu.

"Janji?" Tanya Dean lagi. Ivy merutuk kesal. Masalahnya, Dean memintanya berjanji. Tapi, melihat suara Dean yang benar-benar antusias, Ivy menjawab.

"Iya Dean…! Ya ampun, ngotot banget, sih!" Komentar Ivy sewot, dan tertawa rendah. Dean tertawa di sebrang. Dia lalu melambaikan tangan, walaupun jelas dia tahu Ivy tidak akan tahu. Dan selanjutnya, sambungan telepon mereka terputus. Ivy menggelengkan kepalanya, berdiri dengan kakinya menyilang.

Bukannya Ivy tidak mau, sih. Tapi, hanya saja dia harus kumpul dengan klub jurnalis. Klub jurnalis? Sejak kapan seorang Ivy Fu Nakamura suka dengan sesuatu yang berbau dengan tulis-menulis? Semejak Nara marah gara-gara namanya di masukkan di cerita konyol mereka? Ah—tentu saja tidak. Ternyata, di klub jurnalis itu ada sesuatu yang membuatnya tertarik. Seorang lelaki bernama Rafersa Nerwan.

Memang, sejak awal bertemu dia tidak langsung terperangah oleh pemuda berparas tampan ini. Kemampuannya bermain olahraga, pintar dalam pelajaran, dan serba bisa tidak membuatnya seseorang yang gampang saja di sukai oleh perempuan berselera tinggi. Karena yang di lihat oleh perempuan-perempuan berkelas adalah sifatnya, bukan? Sayang sekali pemuda ini sifatnya bisa di bilang sangat jelek.

Tetapi kemudian Ivy makin penasaran dengan pemuda ini. Kemudian dia mengikuti kemanapun pemuda tampan ini pergi. Dia baru tahu kalau pemuda ini suka game online Ressa Reya! Pemuda ini tahu kalau Ivy mengetahuinya dan mengancam harus masuk ke klub jurnalis agar bisa 'mengawasinya.' Iseng-iseng, Ivy mulai mendaftar di situr Ressa Reya atau bahasa inggrisnya Racer Reya. Ternyata itu sama sekali bukan game yang terlalu feminin. Seperti balap mobil, tapi ada dialog-dialog yang seperti opera sabun dank au harus memakaikan jbaju pada orangnya. Benar-benar imut untuk game cowok. Ivy mendaftar sebagai Venus_21.

~IvyDean~

"Jadi, Dean, si pacarmu nggak ke sini?" Tanya Ivan, men-juggling bola. Pandangannya mengarah pada sekitar lapangan bola itu, mencoba mencari gadis berambut sedada.

"Tidak, Ivan. Lagian, kau ngapain nyari dia? Pas dia ada juga, kau malah bertindak aneh!" Dean mengomentari, sambil mengangkat bahu. Ivan hanya nyengir, lalu menggiring bola sampai ke tengah lapangan.

"Ayo, Dean. Kita orang pertama yang datang ke sini. Harusnya, kita mempergunakan waktu ini untuk latihan!" Ajak Ivan semangat, lalu mulai menggiring bola lagi. Tidak kurang dari tiga detik untuk Dean menyanggupi tawaran Ivan itu. Dengan santai dia berlari mengejar Ivan, mencoba untuk merebut bola dari Dean. Kadang dia berposisi sebagai keeper untuk mencoba menangkap bola yang di tendang Ivan, atau kadang jadi striker. Pak David, si pelatih datang ketika Dean benar-benar sedang semangatnya berlatih.

Setelah pemanasan dan bimbingan dari pelatih dan kapten tim, Ken, mereka siap bertempur di lapangan hijau. Sebelum menepakkan kaki di rumput, Dean melirik ke bangku penonton sekilas. DI dalam hatinya, dia benar-benar berharap bahwa Nakamura Ivy berada di sana; duduk manis menunggu Dean dan menyorakinya. Kilasan-kilasan tentang janjinya kemarin kembali terulang.

"Janji?"

"Iya Dean…! Ya ampun, ngotot banget, sih!"

Entah kenapa, itu membuat hatinya lega. Dengan begini, dia akan bertanding dengan semangat empat lima. Dia membuat gol-gol spektarkuler dan umpan yang benar-benar bagus, kapten tim, Ken benar-benar terpesona akan kemampuan Dean yang benar-benar berkembang setelah beberapa minggu ini. Ken adalah lelaki berposisi sebagai penjaga gawang, dan dia sangatlah hebat. Gawang mereka belum kebobolan. Di babak selanjutnya, tim lawan mulai berhasil menyusul. Mereka menduduki posisi 3-3. Posisi imbang. Padahal ini sudah babak kedua dan waktu sudah hampir habis. Sudah jelas artinya—babak perpanjangan waktu. Dean mengambil istirahat. Peluh terus mengalir deras lewat pelipisnya dan jatuh. Dia meminum air sebanyak yang ia bisa, karena dia bisa dehidrasi. Dean terkejut ketika tidak menemukan handuk di tasnya.

"Mencari ini?" Tanya suara lembut. Dean menoleh. Seorang gadis cantik—berambut bergelombang dan bermata cokelat hangat. Dean benar-benar terperangah. Sosoknya yang cantik nan bidadari, tubuhnya yang benar-benar langsing—membuat Dean melongo. "Ha…halo?" Perempuan itu melambaikan tangannya. Dean cepat-cepat sadar dari dunia fantasinya.

"Eh-Ap—oh, iya. T-terima kasih," ucap Dean, mengangguk dan menerima handuk yang di serahkan gadis itu. Dia mengelap peluhnya sembari meminum air putih. Suasana canggung. "Kenapa canggung ya?" Celetuk Dean, dengan polosnya. Perempuan itu menoleh pada Dean, mata cokelatnya menelusuri setiap lekak-lekuk wajah Dean. Kemudian seorang manusia cantik di sebelah Dean itu tertawa, mengatupkan mulutnya. Dia menarik otot-otot mulutnya agar bibir itu melengkuk, terlepas. Seakan itu adalah hal yang tidak pernah di lakukannya sedari dulu, seakan itu hal yang tidak pernah dia lakukan semejak dia belum lahir. Karena saat ini, dia benar-benar sangat bahagia. Tertawa karena lelucon aneh yang di ciptakan Dean, walau itu sebenarnya bukan lelucon.

"Kau lucu," gumam gadis itu ketika selesai tertawa. Dean nyengir meminta maaf, karena dia sebenarnya tidak bermaksud untuk berlagak jadi pelawak dadakan seperti itu.

"Siapa namamu? Kau baik sekali. Jarang lho, ada cewek yang mau nonton pertandingan bola seperti ini!" Seru Dean, lalu mengulurkan tangannya. Ya, kecuali Ivy. Tambahnya dalam hati. Dia berseri-seri menatap gadis itu, karena gadis itu paling tidak tertawa.

"Namaku, Gianina Edb," kata Gadis itu, menyambut uluran lelaki itu. Mereka berdua berjabat tangan, kemudian Dean bangkit. "Haha, padahal berkenalan denganmu itu bukan pilihan lho Dean. Kewajiban." Dia membereskan seluruhnya, termasuk tasnya yang dia sudah acak-acak dan handuk yang baru saja di berikan oleh Gianina itu.

"Sebaiknya kita cepat. Pertandingan hampir di mulai!" Dean memperingati, dia berlari-lari cepat.

"Oh oke. Ayo!" Seru Gianina tersenyum ramah. Mereka berdua bergandengan tangan menuju lapangan.

~IvyDean~

Hati-hati kalau kau berkeliaran saat musim hujan di Indonesia. Di Indonesia, udara seperti ini akan membuatmu sakit. Sistem tubuh akan menjadi tidak fit, dan TADA! Kau sakit, deh. Tapi ada kalanya kau tidak sakit, tapi tiba-tiba saja jadi bersin.

"HATCHHUUU!" Seru Ivy, bersin. Semua anggota klub jurnalis segera menolehkan kepala padanya, sedangkan Ivy kalang kabut mencari tissue.

"Duh, musim kayak gini masih di paksa dateng buat bikin laporan," gerutu Ivy, membersihkan hidungnya. Edlyn, yang juga ikut klub jurnalis menoleh dan juga tertawa.

"Lagian, kenapa juga kamu gabung, Vy? Kamu kan tidak tertarik dengan hal tulis menulis!" Tawa Edlyn, lalu mengetik kembali sesuatu yang sepertinya sudah di corat-coret Bu Isnina, pembimbing klub mereka.

"Eh it-itu…" ucap Ivy, mencoba mencari alasan. "Kamu juga! Image-mu nggak cocok banget, Edlyn! Anak paling populer sesekolah, ikut klub jurnalis? Kepalamu sinting?" Tanya Ivy, sepertinya mengalihkan pembicaraan. Namun Edlyn tidak keberatan, dan dia malah tertawa renyah.

"Ini hukuman dari Evan, adikku karena memakan roti bakarnya yang paling spesial. Golden choco latte smoke bake. Itu mahal dan rare banget, tapi malah aku habisin." Edlyn angkat bahu, lalu melanjutkan, "makanya ibu marah banget. DIa hukum aku untuk ikut jurnalis tiga bulan ini. Kalau sampai nggak, mau di tendang dari rumah kali!" Gurau Edlyn, beranjak dan mulai memotong-motong kertas. Jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat Ivy berada, sehingga Ivy tetap bisa mengobrol dengannya.

"Ya ampun, hanya gara-gara roti?" Ivy membelalakkan matanya, tidak percaya.

"Emm," jawab Edlyn mengangguk malas. "Parah banget, kan? Tapi aku ikhlas kok, di hukum. Salahku juga," kata Edlyn, lalu mulai duduk di kursinya lagi.

"Edlyn, inii tolong di edit. Tulisan tentang angkatan sembilan!" Seru Bu Nina dari jauh. Edlyn bangkit dari tempat duduknya dan tampak terburu-buru. Langkahnya ia percepat, karena setahunya Bu Nina bukanlah guru yang bisa entengnya di cuekin. Ivy mencoba melihat kertas yang di bawa Edlyn. Tebal, seperti sepuluh halaman. Dengan muka penasaran, Ivy bertanya.

"Ini apa sih, Edlyn?" Tanya Ivy. Edlyn mengangguk, menunjuk kertas yang sedang ia pegang.

"Oh, ini? Daftar-daftar murid angkatan sembilan, yang harusnya angkatan sembilan, dan alumni angkatan sembilan," jelas Edlyn, membolak-balikan kertas itu. Ivy masih memasang tampang tidak mengerti hingga Edlyn harus duduk dan menarik secangkir kopi, menjelaskan tentang data mentah—tidak mentah juga, bu Nina sudah mengolahnya sedikit menjadi bentuk artikel walaupun berantakan—tentang angkatan sembilan ini. Tapi tentu saja tidak. Edlyn cukup waras untuk tidak berlari ke hadapan gurunya dan berteriak 'Miss, kopi satu!' akan membuatmu di hadiahi PR menumpuk dan detensi.

"Ivy yang cantik, manis dan baik," Edlyn memulai, menunjuk kertas itu. "Itu daftar siswi angkatan sembilan, yang lahirnya tahun dua ribu. Tapi, kayak Rafersa, dia lahir tahun 1999 tapi angkatan sembilan. Ada juga yang lahir 2000 tapi angkatan sepuluh. Mereka yang begitu masuk daftar 'yang seharusnya angkatan sembilan,'" Jelas Edlyn sabar. "Alumni—itu seperti orang yang pindah. Martin, misalnya. Dia tetap ada kok."

"Oh," Ivy memberungut, lalu matanya menangkap jam. Iris matanya melebar. "Sudah jam segini? Aku harus menonton Dean!" Seru Ivy, langsung berlari. Dia tidak memedulikan teriakan Edlyn ataupun suara tegas Bu Nina. Yang di pikirannya sekarang hanya Dean, Dean, dan Dean. Sebentar lagi pertandingan akan selesai—oh tidak! Janji itu terngiang di kepala Ivy.

"Janji?"

"Iya Dean…! Ya ampun, ngotot banget, sih!"

TIdak peduli dia berhasil atau tidak, Ivy keluar dari kompleks sekolahnya. Ada satu bis yang berhenti, tetapi dia ragu untuk naik, karena Ivy adalah si anak rumahan yang tidak pernah naik bis. Tapi akhirnya Ivy mencoba. Dia menyerahkan uang secukupnya dan bis melaju. Ketike melihat lapangan yang biasa Dean pakai untuk pertandingan, Ivy turun. Padahal si kenek meneriakinya bilang bahwa ada kembalian. Tapi, masa bodo. Hanya Dean yang di cemaskannya sekarang. Tapi Ivy berhasil. Dia melihat Dean mencetak gol dan peluit panjang berbunyi. Air mata keuar dari pelupuk mata Ivy. Tim mereka menang! Ivy ingin berlari ke lapangan, memeluk Dean Pasdma saat itu juga. Tapi seketika itu juga, ada yang berlari dan memeluk Dean. Seseorang dengan rambut cokelat dan tinggi. Ivy membeku.

~IvyDean~

Dean tidak tahu mengapa, tapi Ivy fu Nakamura tampak seperti menjauhinya hari ini. Dean sudah mencoba bertanya berkali-kali, ada apa, atau kenapa, tapi Ivy tidak menggubrisnya. Seharusnya, dia, kan yang marah? Kenapa dia malah memohon-mohon belas kasihan begitu pada Ivy? Sungguh mengesalkan. Maka dari itu, waktu mereka saling berpapasan Dean tidak mengucapkan sepatah kata-pun. Dia kesal dengan Ivy. Sedangkan Ivy mengacuhkannya. Dia tidak berharap bahwa si bocah tengil bernama Dean Padma bisa menemukannya. Maaf, tapi dia tidak tertarik. Ivy segera berlair kecil ke perpustakaan, di mana biasanya klub jurnalis nongkrong. Bu Nina, pembimbing mereka sangat menyukai buku-buku. Kau tidak akan menemuinya berjalan-jalan tanpa buku, bahkan dalam pelajaran! (Haha, tentu saja. Buku pelajaran!)

"Telat lagi, eh?" Sindir bu Nina, dan seluruh anak jurnalis menoleh pada Ivy. Ivy tidak menanggapi, karena sekarang dia sedang stress. Biasanya dia akan nyengir dan bilang minta maaf, tapi kali ini tidak. Sepertinya seluruh orang menyadari bahwa ada keanehan.

"Silahkan duduk kalau begitu," ucap Bu Nina tidak peduli, membetulkan lekak-lekuk jilbabnya dan mulai menjelaskan dasar-dasar dari laporan asli. Bukan yang selama ini mereka buat. Ivy hanya termanggu, dia tidak memperhatikan pembimbing mereka itu. Kepalanya pusing, kenapa masalah ini selalu saja datang sih? Tap benar—di buku Chicken soup for the soul, kalau hanya orang mati saja yang tidak ada masalah. Ivy mendengus ke banjunya, karena jelas sekali masih ada masalah walau kau nanti mati. Dengan berat, dia mengangkat tangannya dan memijit-mijit pelipisnya. Urat-uratnya tegang di sekitar itu.

"Sebenarnya, ada apa denganku ini… kenapa aku merasa kecewa dan menjauhi Dean? Kenapa?' Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di kepala Ivy. Otaknya penat, dan tidak ada satupun kata-kata bu Nina yang masuk di kepalanya. Yang dia butuhkan sekarang hanya istirahat yang tenang, di tempat yang damai. Detik selanjutnya, Ivy tertidur pulas dengan tampang pucat dan kelelahan.

~IvyDean~

Kedua mata itu terbuka. Segalanya tampak putih bersih—tirai berwarna biru langit menghiasi kedua sisi gadis yang baru saja membuka mata itu. Di sebelahnya, ada rak berwarna krem yang kelihatannya masih baru. Gadis itu merasakan dahinya hangat, dan dia mengecek apakah ada kompres hangat. Ternyata ada. Dia masih merasa pusing, dan bawaannya hanya ingin tidur. Dia harusnya tidak tidur, ingat. Ini masih pelajaran tapi kenapa dia tertidur? Gadis itu membuka matanya lebar-lebar sepenuhnya. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah anak lelaki yang duduk dan menatapnya canggung. Keduanya bertemu mata dan mereka tidak tahu harus berkata apa. Kemudian, lelaki itu bersiap pergi ketika gadis itu menahannya.

"Maaf," bisik Ivy. "Sebenarnya, waktu itu aku datang ke pertandinganmu. Sumpah," kata Ivy lemah. Dean, nama lelaki itu menengok. Dia mengangguk singkat dan senyum datarnya tadi berubah melembut.

"Aku yang harusnya minta maaf," gumam Dean pelan. "Hee… jadi kau kemarin datang ya?" Tanya Dean terkejut. Ivy mengangguk sebagai jawaban. Kemudian mata Dean menerawang.

"Kemarin, aku bertemu dengan seseorang. Aku ingin mengenalkannya padamu," ujar Dean, lalu mempersilahkan seorang perempuan masuk. Berpostur tinggi dan bermata hazel itu—Gianina.

"Hai, kita pernah bertemu sebelumnya, kan?" Tanya Gianina tersenyum lebar—yang agak menakutkan, sebetulnya. Ivy membelalakkan matanya. Dia ingat betul.

"Kalau Dean mau ini, aku harus gigih mencari uang!" Tekad Ivy dalam hati. Dia menatap etalase toko itu dengan berbinar-binar. Waffle Deluxe terpajang, tampak menggugah selera. Tetapi tiba-tiba ada yang lewat, perempuan bermata cokelat hangat. Dia memandang Ivy dengan pandangnan mencela. Benar-benar kurang ajar, padahal mereka kira-kira seumuran.

"Huh, kau, mencari uang? Apa kau mampu?" Ejeknya kejam. Ivy kecil, yang masih polos dan belum terusak apapun mengangguk pelan. Dari gestur tubunya, sudah bisa di tebak bahwa dia takut dengan perempuan kecil ini.

"Hah. Kaukira akan senang apa, Dean denganmu? Kuberitahu, ya. Orangtua Dean yang sekarang itu orangtua angkat."

"Jangan ngomong sembarangan! Papa Mama Dean baik! Itu pasti orangtua Dean yang bener!" Bela Ivy sekuat tenaga.

"Keras kepala!" Cemooh anak itu.

"K-kau siapa, bisa tahu Dean?" Tantang Ivy. Ivy kecil juga penasaran siapa sebenarnya perempuan kurang ajar ini.

"Gianina," perempuan itu mengangkat dagunya tinggi, lalu pergi.

Dean adalah anak yang hidupnya biasa-biasa saja. Berkecukupan, tapi pas-pasan juga. Padahal tampang Dean cukup tampan dan dia berbakat. Tapi mengherankan, dia adalah anak yang dalam golongan seperti itu. Ivy sering bermain dengan Dean, jadi dia tahu.

"U-untuk apa kau ke sini?" Tanya Ivy benar-benar marah dengan orang itu. Dia adalah Gianina yang dulunya mengejeknya.

"Karena kami akan berjalan-jalan setelah ini," kikik Gianina dan dia menyeringai menyebalkan di belakang Ivy. Ivy benar-benar menahan sesuatu yang meledak-ledak di dada. Dean dengan mesranya menggandeng Gianina dan pergi dari klinik sekolah itu. Ivy tidak kuat. Dia ingin menangis, menangis sekeras-keras yang ia bisa. Tapi mau bagaimana lagi. Dia tidak bisa melakukannya di sekolah.

.

.

.

Aku… jatuh cinta.

.

.

.

Aku jatuh cinta…pada Dean Padma.

Semakin hari, Dean makin sering berpergian dengan Gianina yang pindah ke sekolah mereka. Ivy harus pasrah bergaul dengan teman seadanya. Sasha mau menerimanya dengan Alyssa dan mereka mengobrol, walaupun Ivy merasakan kesepian yang amat sangat. Dia benar-benar merindukan sahabatnya. Ini memang ironis. Dia jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.

~IvyDean~

Dengan langkah berat, Ivy menuju lokernya lalu membukanya. Dia menggenggam pensilnya, memastikan bahwa dia masih memegang pensil itu. Ivy menghela napas berat. Tidak ada lagi orang yang berada di sisinya mulai dari sekarang. Dia tahu harusnya tidak pernah peduli pada bocah sepak bola bernama Dean. Tapi dia tidak bisa mengelak, bukan? Dia memang mencintai Dean. Dia menyukai orang itu,, hanya saja dia tidak menyadarinya. Apalagi, mereka sahabat. Adanya perasaan di antara mereka membuat segalanya canggung.

"Ivy?" Sapa seorang lelaki. Ivy sangat mengenalnya, suara Dean. Tapi dia seharusnya tidak boleh banyak berharap—ketika dia menoleh dan ternyata ada Nina—Ivy terbiasa memanggilnya begitu sekarang. Ivy cepat-cepat memaasang wajah bahagia. Dia nyengir, memandang mereka berdua dengan bahagia.

"Nina ingin bicara denganmu," kata Dean, menunjuk Nina. Ivy menyipitkan matanya, tapi lalu mengangguk, melangkahkan kaki secepat yang ia bisa. Nina mengejarnya di belakangnya, napasnya tersengal-sengal karena mencoba mengejar Ivy. Ivy menatap tajam Nina.

"Apa yang—"

"Maafkan aku," bisik Nina pelan. Ivy terbelalak. DIa tidak menyangka kedua kata itu akan keluar dari mulut Nina. Nina lalu menggigit bibirnya. Dia tidak tahu apakah harus mengatakan hal ini pada Ivy, karena mengatakannya hanya membuat hati Ivy semakin sakit. Sakit.

"Untuk?"

"Aku—telah jatuh cinta pada Dean." Nina menatap mata Ivy. Dia tidak tahu apakah kata-katanya akan makin membuat Ivy semakin sakit, ataukah hanya beberapa kata itu saja sudah cukup membuat dada Ivy seperti di sayat-sayat. "Tadinya aku ingin bermain-main dengannya—tapi aku telah jatuh cinta paadanya sekarang. Maafkan yang tahun lalu, oh Ivy! Aku menyesal sekali. Maafkan aku," jelas Nina, memberikan tatapan minta di kasihani pada Ivy. Ivy mengepalkan tangannya. Dia tidak bisa melarang Nina mendekati Dean, karena itu hak Nina. Tapi apa yang harus ia lakukan di sana? Apa?

"Sebenarnya, sebulan lagi aku di jodohkan. Makanya, izinkan aku memilikinya, Ivy," pinta Nina. Matanya berkaca-kaca. Sedangkan Ivy menghela napas.

"Kalau begitu kau hanya akan menyakitinya, Nina. Dia akan makin stress setelah tahu bahwa kamu di jodohkan. Seharusnya kamu yang berkorban dengan tidak mendekatinya. Kau ini bagaimana? Nanti ujung-ujungnya, dia yang kecewa!" Seru Ivy, kini urat-urat di tangannya yang terkepal menegang. Dia menghentakkan kaki ke lantai, dengan ekspresi tidak bisa di tebak. Dadanya terasa meledak-ledak, dan ingin meronta-ronta. Tapi tidak bisa. Rasanya sakit. Dia tidak bisa mendengar detak jantungnya teratur, karena debaran itu sudah menjalar ke seluruh organ tubuhnya. Seorang Dean menepuk pundak Nina, wajah mereka dekat sekali.

"Selesai? Nina, kau cantik hari ini," puji Dean. Ivy menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia harus menahan agar dia tidak menerjang Nina karena ini. Rasanya dadanya hanya sakit sekali. Entah kenapa.

"Aku belum selesai, Ivy. Aku bilang begitu karena—"

Ivy telah pergi, menahan debaran sakit di dadanya.

~IvyDean~

Dean memutar sejumlah nomor di pintu lokernya, lalu membukanya. Matanya membulat ketika melihat secarik kertas yang di sematkan di pintu lokernya. Dengan gugup, dia menaruh taslaptop hitamnya di atas loker, lalu perlahan-lahan mulai membaca. Tangannya bergetar, bibirnya gemerutuk. Padahal udara sama sekali tidak dingin.

Dean,

Aku tahu kau dari lama. Aku sangat mengerti kau. Karena kau adalah orang yang paling dekat denganku, selama ini aku sangat sayang kau. Tapi Dean, ingatkah kau pada janji kita dulu?

Saat kau bilang, kau ingin menjadi pangeran? Sayangnya, aku bukan si putri. Aku adalah si duyung, yang sudah lebih dulu bersama pangeran, tapi pangeran malah menikahi putri. Tetapi, si duyung ikhlas dan mengharapkan yang terbaik.

Aku sayang kamu Dean, bukan hanya sebagai sahabat. Rasa sayang dari perempuan ke seorang lelaki.

Tapi aku tahu, kau benar-benar menyayangi dia. Kalau begitu, kejar dia, oke? Jangan lepaskan Nina.

Salam sayang, Ivy.

PS : Aku akan pindah, jangan pedulikan aku.

Dean melongo. Tidak boleh. Pantas, tadi Ivy tidak mau menemaninya main bola. Pantas dia akhir-akhir ini aneh. Ternyata—Dean langsung berlari walaupun badannya benar-benar basah keringat. Dia tidak peduli, dia akan mengejar Ivy. Dari jauh, Dean bisa melihat Ivy yang berambut panjang mengucapkan selamat tinggal pada guru-guru lamanya. Tiba-tiba, Dean memeluk Ivy begitu erat dengan melingkarkan tangannya di sekitar pinggang. Pipi Ivy memerah dan dia heran. Dia menjatuhkan tas abu-abunya, dengan mulut melongo. Ada apa sebenarnya dengan Dean? Bukankah dia seharusnya dengan Nina?

"Apa sih, Dean, sudah ah!" Seru Ivy kecil, mendorong bahu Dean. Dada bidang Dean yang lebih lebar daripada punyanya sendiri menahan Ivy. Dan ketika Ivy melihat wajah Dean, nyaris tidak ada kata-kata yang ingin di sampaikan perempuan yang di aliri darah Jepang itu selain terkejut.

"Ivy….jangan. Pergi," bisik Dean pelan, suaranya terdengar sangat kuat dan hebat di telinga Ivy. Ivy hanya bisa mendesah. Dia bisa merasakan jemari-jemari Dean di pinggangnya, meremas erat. Kulit Dean yang bersentuhan dengannya membuatnya makin membuat hatinya panas. Kemudian, Dean berbisik lagi. Sesuatu yang membuat hati Ivy meledak. "Bodoh. Aku juga mencintaimu—"

Ivy tersenyum.

Dia…ada perasaan meledak-ledak di perutnya, dan dia membalas memeluk Dean. Sepertinya, cintanya kali ini tidak bertepuk sebelah tangan… Mereka menggenggam tangan satu sama lain, tenggelam dalam kehangatan tubuh pasangan masing-masing. Ivy bisa merasakan bahwa hidung Dean menghitung hidungnya, dan selanjutnya tidak ada jarak di antara mereka berdua.

Ivy bisa membuat kesimpulan, bahwa ciuman pertamanya adalah ciuman yang manis.


A/N : Yap, One shot yang cuku panjang eh? /Padahal cuma 5000 words plak.

Oke deh. Kesamaan nama jangan salahkan saya ya!

Nggak biasanya bikin fluff sama cinta masa kecil gini.. bikinnya sambil nahan muntah *kebathroom bentar

Haha, bercanda.

Terakhir, REVIEW!

Jellal.