Words

By Dina Sectio


Aku melihatnya.

—di sebuah stasiun berumur.

Aku berdiri disana—di antara bangku-bangku kumuh yang berjejer—tengah menunggu seseorang. Tanggal duapuluh enam, bulan Desember. Tanggal yang aku benci sekaligus musim dingin (sialan) yang kubenci. Sebenarnya, aku tak tahu tujuan aku kesini, namun yang jelas, akan ada seseorang yang melangkah keluar dari salah satu gerbong kereta, mencariku, dan aku harus menjemputnya.

Angin dingin berhembus kencang. Butiran salju yang menumpuk di sela-sela ranting pohon, terbang ke arahku. Mendarat tepat di wajah.

Salju sialan.

Aku membersihkan salju dari wajahku dengan sekali sapuan tangan.

"Andai saja—" Gumamku terpaku sejenak, tak meneruskan perkataanku sampai selesai. Sedikit teringat sesuatu. Tidak ada. Aku menggelengkan kepala.

Karena lelah, kuputuskan duduk di antara bangku-bangku reyot tersebut. Sambil mencoba mengingat sesuatu tentang; sejak kapan aku kesini, dan mengapa aku hanya ingat dengan seseorang yang akan keluar dari salah satu gerbong kereta.

Kusadari, aku mulai tolol—dan ketololan itu kusayangkan tak kusadari sejak awal. Ya, stasiun ini—bisa dikatakan—sangat sepi, padahal sudah sekitar jam delapan—meskipun kondisi luar masih berkabut. Kusimpulkan begitu karena arloji yang melekat di tangan kiri menunjukkan angka delapan. Loket-loket di seberang juga masih tertutup.

Sebuah bunyi berisik pertanda kereta akan datang, membanjiri rongga telingaku.

Konyol.

Tanpa berpikir lebih lanjut. Aku memaksa kedua kakiku melesat mencari pintu keluar stasiun. Stasiun berumur ini—tanpa perkiraanku lebih awal—sangat luas.

—sudah turun dari kereta.

Setetes ingatan muncul begitu saja. Teringat, aku tadi membawa mobilku dengan kondisi sedikit mabuk, dan tanpa kusadari (mungkin) aku tersesat, di kota ini. Kota asing yang sedikit mendapat sinar matahari.

Juga, makhluk itu. Yang muncul limabelas tahun yang lalu. Makhluk mengerikan yang bisa mengendalikan ingatan seseorang itu, dan sekaligus mengontrol semaunya.

Aku berhenti sejenak. Darah dalam tubuhku seakan berhenti. Dingin. Lalu tanpa memperhatikan keadaan, aku mendorong handel pintu yang baru saja aku lihat. Dan masuk ke dalamnya.

Gelap.

Semoga ia tak tahu kalau aku berada disini.

Kurogoh ponselku, lalu menyalakan lampu senternya. Kuarahkan sinar lampu ke berbagai pelosok ruangan. Ruangan ini bisa aku simpulkan sebagai gudang, atau tempat barang-barang milik orang yang hilang.

Kuraba dinding-dinding ruangan itu dengan bantuan lampu ponsel.

Tanpa sadar aku sudah berjalan ke dinding terjauh dalam ruangan tersebut. Samar-samar aku melihat sesuatu yang menonjol di bawah. Kutolehkan mukaku ke bawah lantai, dan disitu aku menemukan sebuah kalimat yang samar-samar terbaca; "Tubuhku bawahnyadari gerbong."

Lantai di seberangnya juga terdapat kalimat yang berbunyi; "Kepalaku akan datang ke sini dari ruangan sebelah kiri. Jangan melihat ke belakang."


THE END


Awalnya ini cerita iseng-iseng saya tulis di catatan akun facebook saya, lalu saya pindahin sekalian disini. Dan seperti biasa... Nggak nyambung seperti biasanya, typo di mana-mana, kata-kata nggak sesuai dengan EYD. -_- Okeh, kritik (yang membangun), dan saran diterima. ^^