Hey! Jellal balik lagi. BTW, sekedar info, Ivy itu own character-ku. Aku bakal bikin so many different scenes with her as main character.

Info: Echa itu cowok.

ANY NAMA YANG SAMA ITU CUMA COINCIDENCE DOANG!

Di sini, Dean itu kakak Ivy.

WARNING: INCEST!

Enjoy~


"Ivy, nggak apa-apa, 'kan?" Tanya seorang lelaki. Si perempuan mengerjapkan matanya, meringis. Lututnya berdarah, mengeluarkan darah segar.

"Aku—hiks, naik sepeda terus—ja…jatuh," lirih si perempuan, menunjuk lututnya. Si lelaki menjulurkan lehernya, lalu meniup luka itu.

"Ayo, Vy. Kalau di biarkan, bisa infeksi. Terus, Ivy, kan kuat. Jangan nangis, ya nanti kalau di periksa?" Lelaki itu membopong si perempuan. Matanya benar-benar teduh, melihat ke iris mata si perempuan. Si perempuan cuma merengut kecil, sisa-sisa air mata masih ada di pipinya yang kemerahan. Tampaknya dia kesal, merasa dia lemah.

"Semua manusia melakukan kesalahan," lanjut si lelaki. "Hidupmu jauh lebih berarti kalau kau mau memperbaiki kesalahan itu." Lelaki itu memajukan wajahnya, dan hidung perempuan itu dan lelaki itu bersentuhan. "Lain kali naik sepeda pakai pengamannya, Ivy." Tetapi si perempuan tampaknya tidak terhibur, malah makin frustasi.

"—Tapi aku banyak kesalahan, kak! Aku ini jauh lebih rendah dari sampah," ucap perempuan itu sedih. Air matanya mulai turun lagi. Si lelaki tersenyum lagi.

"Tenang saja. Aku akan melindungimu," kata lelaki itu, mengecup pelan dahi si perempuan. Perempuan itu tampak bahagia, bagaikan kecupan itu adalah obat yang paling mujarab di seluruh dunia ini. Lalu, dia membuka bibirnya. Matanya bersinar-sinar, seakan mengatakan hal yang menegaskan sesuatu paling penting. Dengan semangat, dia merangkul lelaki yang sedang menggendongnya ala lelaki menggendong perempuan baru menikah.

"Ya, kakak!"

.

.

Kakak

©Jellal

.

.

Perempuan itu dengan kesal segera membanting pintu rumah. Dia melihat pemuda yang sedang duduk santai di sofa. Dia menggenggam segelas cokelat hangat di tangannya, iris mata pemuda itu langsung menoleh pada si perempuan ketika perempuan itu sampai di ruangan itu. Tetapi si perempuan malah melotot pada si lelaki. Kemudian, si perempuan membuka isi kulkas, mengeluarkan sebotol cairan dan menuangkannya ke gelas. Tampaknya dia sedang uring-uringan. Lalu dengan satu sentakkan, perempuan itu duduk di sebelah pemuda itu.

Pemuda itu tertawa sedikit, mengusap rambut si perempuan. Tetapi si perempuan hanya bisa cemberut. Dia meeneguk cairan itu, dan pandangannya hanya terfokus pada acara televisi yang menayangkan hal-hal yang tidak bermutu. Si pemuda mengangkat alis, mencoba mengorek informasi dari si perempuan. Tetapi si perempuan tampaknya mengacuhkan si pemuda. Perempuan itu terus menekuk alisnya, mencoba memikirkan apa yang baru saja terjadi. Si pemuda mencoba menebak apa yang sedang terjadi. Jadi dia bangkit dan mengambil dua loyang pai, menghangatkannya di oven, lalu menyerahkannya pada si perempuan.

"—Bertengkar lagi dengan Echa?" Tanya si pemuda, Dean Nakamura. Si perempuan tetap mengacuhkannya, pandangannya tak lepas dari layar. Dean, pemuda itu terkikik geli. Ivy Fu Nakamura, adiknya memang suka begitu. Sedikit-sedikit bila bertengkar dengan pacarnya, dia akan marah dan senewen sepanjang hari. Echa—singkatan dari Rafersa, adalah pacar dari adiknya. Orangnya benar-benar resek, pokoknya jauh dari kata pemuda idaman gadis-gadis. Dia tidak tahu cara menjadi romantis, dan terlihat seperti orang yang tidak tahu kata terima kasih. Padahal sendirinya adalah orang yang sangat polos. Wah, hidup memang beragam dan aneh-aneh. Jangan salahkan Echa bila ternyata Ivy bisa terpikat olehnya.

"Pasti berantem deh, ama Echa. Heran deh, kenapa kamu suka sama dia?" Tawa Dean. Ivy tidak tahan lagi. Dia mengambil bantal yang masih bersarung baru, lalu melemparnya tepat ke muka Dean. Dean yang sedang tidak memperhatikan, bisa menghindar di saat-saat terakhir. Cengirannya bertambah lebar. "Pasti deh. Ada apa, sih? Dia selingkuh?" Tanya Dean ingin tahu. Namun Ivy tidak menjawab. Tiba-tiba, dia mendekat ke arah Dean. Dia mengalungkan tangannya ke leher Dean dan memeluknya, erat sekali. Air mata jatuh perlahan-lahan dari kedua pelupuk matanya.

"Hiks… Dean… harusnya aku tahu! Echa itu, kan populer sekali di kalangan gadis-gadis. Perempuan itu mencoba mendekati Echa, tapi Echa tidak mencoba untuk menjauhinya!" Curhat Ivy pada Dean. Kepalanya masih tenggelam di dada bidang Dean. Dean mengusap rambut Ivy pelan. Dia memang tahu bahwa Echa itu populer, tapi sikapnya-lah yang membuat orang tidak ingin menjadi pacarnya.

"Yah—Echa, kan cuek Vy. Dia pasti tidak ingin repot-repot mengurusi hal seperti itu jika ada putri cantik yang sedang menangis di dada-ku ini," hibur Dean. Ivy tidak merespon lagi. Dia tetap tenggelam dalam dada Dean.

"Yasudah deh. Aku bisa berbuat apa, memangnya?" Dean mengangkat bahu.

~IvyDean~

"Cha, aku mau penjelasan. Kenapa kau sibuk jalan-jalan dengan Assyla? Maumu apa, hah?" Gertak Ivy suatu hari. Echa memutar matanya, merasa kesal karena Ivy tiba-tiba mencemohnya begitu saja. Dia melipat tangannya.

"Sejak kapan kau punya hak untuk mengatur kemana aku pergi, Vy?" Balas Echa, matanya penuh kemarahan juga. Dia tidak tahu mengapa Ivy bisa mengetahui aksinya, ketika dia berjalan-jalan dengan Assyla ke Town, taman bermain yang baru buka minggu lalu. Dia mati-matian mencoba santai, tapi matanya tidak bisa berbohong. Dia juga marah, entah marah kepada siapa.

"Bukan kemana kau pergi, Rafersa. Tapi dengan siapa!" Seru Ivy marah. Kini dia tidak bisa menahan amarahnya lagi. Ivy sudah cukup sabar kali ini. Siapa yang tidak marah bila pacarnya berjalan berduaan dengan gadis lain, hah? Bahkan orang yang paling sabar sekalipun bisa marah! Karena kali ini keterlaluan—berita pacaran antara Assyla dan Echa sampai ke majalah sekolah. Hubungan Ivy dan Echa memang masih di rahasiakan. Hanya orang-orang terdekat mereka tahu. Ivy tidak tahu dia harus berbuat apa setelah rumor-rumor yang beredar. Bahkan di sampul majalah sekolah, ada foto mesra antara Assyla dan Echa! Kesabarannya habis dan amarahnya tersulut.

"Terus kenapa? Kau tidak bisa melarang dengan siapa aku pergi!" Balas Echa lagi. Tampaknya dia tidak mau kalah. Dia mau merasa bebas dan tidak merasa terkekang. Tapi Assyla adalah perempuan penggemar Echa, dan hubungan Assya dan Echa selama ini tidak ada sejarah sahabat. Mereka jarang dekat, kecuali dalam pentas drama Romeo Juliet tahun lalu. Echa menjadi kepala keluarga Montague, dan Assyla istrinya.

"Tapi masalahnya, kau pergi dengan dia! Kau tidak mempunyai hubungan apapun dengannya!" Jerit Ivy benar-benar frustasi. Air mata mulai keluar dari matanya. Taman itu menjadi saksi bisu pertengkaran kedua insan itu. Saat itu Ivy menelpon Echa meminta datang ke taman itu, membicarakan sesuatu. Echa tahu mereka akan membicarakan hal seperti ini, tapi dia bungkam dan tetap datang. Angin semilir menerbangkan beberapa helai rambut Ivy.

"Aku hany—"

"Kalau mau putus, bilang! Tidak usah pakai acara begini, Echa! Kau menyiksa namanya!" Teriak Ivy, membuat orang-orang yang ada di taman mengalihkan pandangannya ke arah dua orang itu. Echa terpaku terdiam. Tangannya yang sedari tadi terkepal mulai melemas.

"Harusnya aku tahu! Dari awal kau menerimaku, kau tidak ada niat, iya 'kan? Sudahlah. Sampai di sini saja," kata Ivy, lalu menghentakkan kaki. Tangisan masih terlukis jelas di wajahnya, dan dalam hitungan menit dia sudah tidak bisa terlihat dari taman itu lagi. Ivy berjalan, dia tidak tahu ke arah mana. Matanya terasa buta dan otaknya penat. Dia sudah tidak kuat lagi, dan dia ambruk. Tapi ada orang yang menangkapnya.

"Dasar," gumam suara itu.


So? What do you think? REVIEW!