missmorningdew: Aih, kalo missmorningdew-san punya chapternya bisa setiap hari update, kok ^^; Iya ya, emang alurnya agak cepet. Soalnya Echa emang gitu orangnya, nggak sabaran (dia ka orang yang kukenal ^^;)

Nina : 'Sesuatu?' Pasti dong XD Tapi ini lebih sedih 'sesuatu'nya. Lihat di preview Jikan ;)

Kesamaan nama hanya kebetulan saja.
Cerita ini milik saya!

Enjoy.


Dean menaruh tasnya di meja. Dia sebenarnya terheran-heran kenapa adiknya begitu bahagia. Senyum tidak lepas dari wajahnya semejak tadi. Matanya berbinar-binar bahagia, sepertinya sesuatu baru saja terjadi. Tetapi, Dean, si kakak tetap tersenyum. Dia membuka kulkas yang berwarna keabu-abuan, kemudian menggumam. Pikirannya sekarang ada pada isi barang-barang di kulkas. Tidak terlalu banyak, bahkan nyaris habis. Dean merutuki dirinya sendiri. Kenapa aku tidak belanja tadi, sesal Dean. Kemudian dia mengambil sebotol air dingin dari kulkas. Di ambilnya, lalu di taruhnya di meja. Dia beranjak mengambil gelas kosong bersih, lalu menuangkan isi air dingin itu ke gelas. Sementara adiknya bernyanyi-nyanyi gembira, melntasinya. Senyum tersungging di bibirnya lagi. Ada sedikit niat untuk menggoda adiknya ini.

"Wah, vy, ada apa senyum-senyum terus? Dapet nilai nol?" Goda Dean. Kening Ivy berkerut mendengar tiga kata terakhir. Dia menghentikkan langkah bahagianya, kemudian melipat tangannya. Dia berbalik, dan mukanya tampak sangat menyeramkan. Kenapa siffat Ivy langsung berubah drastis begini? Jawabannya, tidak ada yang tahu.

"Aku tidak dapat nilai nol! Urgh! Kau ngaco, Dean. Payah deh," Ivy menghela napas, lalu duduk di sofa. Tapi sepuluh detik kemudian, bibirnya lagi-lagi membentuk senyuman. Dia mengambil buku, dan pura-pura membaca. Padahal pikirannya di penuhi oleh rencana yang akan ia lakukan bersama Echa besok pagi. Dean yang memperhatikan geleng-geleng kepala, membawa gelasnya kedekat Ivy. Dia berdiri tepat di depan Ivy, sambil menghirup airnya.

"Seru?" Tanya Dean spontan. Ivy yang sedang tidak membaca tergagap.

"Eh ap—I…iya!" Jawab Ivy refleks, padahal dia belum baca sepatahpun kata dari buku itu. Dean terkikik geli, kemudian menepuk kepala Ivy.

"Bukunya saja kebalik, vy. Apa yang seru?" Sindir Dean, kemudian berjalan ke dapur untuk menaruh gelasnya. Pipi Ivy merona merah ketika mengetahui bahwa buku yang ia baca ternyata terbalik. Dia tidak tahu harus mengatakan apa.

"Iya iya, aku cerita deh," ucap Ivy, berniat untuk berbagi cerita untuk kehidupan cinta-nya. Ivy menghela napas, kemudian menyomot salah satu kue yang di bawa Dean di nampan. "Besok, aku dan Echa akan kencan!" Seru Ivy ceria. Anehnya, Dean menampilkan reaksi biasa-biasa saja.

Ivy mengerutkan alisnya.

"Kenapa? Kakak tidak suka aku kencan lagi dengan Echa?" Cerocos Ivy. Dean mengangkat bahu, menghembuskan napasnya di mug yang sedang ia pegang. Asap dari kopi yang baru ia buat tadi saat Ivy bercerita mengepul.

"Tidak juga," kata Dean, lalu menghirup kopi-nya. "Hanya saja—" kata-kata Dean terhenti. Dia merasakan tenggorokannya tercekat oleh sesuatu, dia tidak tahu harus bicara apa pada Ivy. Susah menjelaskannya, yang penting ini insting seorang kakak—insting seseorang yang menyukai seseorang. Ivy tidak sabar, memelototkan matanya. Kenapa kata-kata kakaknya ini terhenti.

"Hanya saja apa, kak?" Desak Ivy, menggigit bibir. Dia penasaran, apa yang membuat Dean, seorang yang cerewet bisa kehabisan kata-kata begini. Dean tersenyum, lalu mengelus pipi Ivy pelan. Sontak, pipi Ivy memerah. Entah kenapa perasaannya jadi tidak keruan begini ketika Dean melakukan itu.

"Aku bisa merasakan bahwa dia akan membuatmu menangis—" Ivy tertegun akan perkataan Dean. Tetapi ternyata perkataan itu belum selesai. "—lagi," ucap Dean. Ivy terkesima. Dia tidak tahu bahwa kakaknya sekarang sangat peduli padanya. Tetapi dengan pandangan terima kasih, Ivy memeluk Dean. Senyum yang tulus tersungging di bibir keduanya.

"Itu resikoku, kak. Resikoku," bisik Ivy di telinga Dean, mereka saling berpelukan erat.

~IvyDean~

"Mau sarapan apa, nona cantik?" Tanya Dean pagi-paginya. Ivy, yang masih berpiyama hanya bisa pangling. Dia duduk dengan malas di meja, meregangkan tangannya, dan menguap. Suasana hatinya benar-benar tenang sekarang, walau perkataan Dean serasa melayang-layang di otaknya. Tidak butuh jawaban, Dean dengan cekatan menaruh dua roti panggang di depan Ivy. Susu putih juga menyusul, dengan gelas panjang. Ivy hanya bisa cemberut, karena Dean yang bangun lebih dulu. Maklum, biasanya Ivylah yang bangun pagi lebih dulu.

"Enak," komentar Ivy ketika dia mengunyah roti panggang itu. Matanya kembali teralih pada susu segar, meneguknya. Matanya yang masih segaris tadi, sekarang terbuka sedikit demi sedikit. Bola matanya berkilat, bersinar-sinar terkejut. Mungkin, dia tidak menyangka bahwa sarapan biasa itu terasa lebih spesial.

"Ho…, Ivy Fu Nakamura suka dengan masakanku?" Goda Dean, mengelap gelas yang baru selesai ia pakai. Ivy tidak mengacuhkan godaan kakaknya itu, dan melanjutkan makan. Matanya tetap terpejam sembari mengunyah roti itu. Dean pun tidak berbicara, mereka tidak ingin saling berbicara untuk sekarang. Namun, Ivy membuka mulutnya untuk menanyakan sesuatu kepada Dean.

"Eh, Dean! Ibu dan Ayah kemana?" Tanya Ivy, penasaran. Dean lalu tersenyum. Dia mengambil ponselnya yang sepertinya tergeletak di meja tidak jauh dari dapur dari tadi. Tampaknya ia mencari sesuatu, karena jempolnya sedang berpindah-pindah tombol dengan cepat. Setelah itu, raut wajahnya menampakkan kepuasan. Dia menunjukkan pada Ivy apa yang ada di layar ponsel itu.

Dean dan Ivy sayang,

Ibu dan Ayah masih ada kerja. Malahan, banyak sekali kerjanya. Maka dari itu, kalian di rumah berdua dulu ya? Tidak lama, mungkin lusa pulang. Maaf baru mengabarkan hari ini. Tadi malam Ayah lembur, dan ibu juga lembur. Batre-nya juga lowbatt, tidak bisa di gunakan. Charger-nya ibu tinggalkan di hotel. Maaf sekali lagi!

Salam sayang,

Ayah & Ibu.

"Tidak datang lagi eh? Bagus, menelantarkan anaknya," dengus Ivy pelan. Dean tertawa di balik ponselnya. Dia memasukkan ponselnya ke celananya. Lalu mengacak rambutnya sendiri, padahal dari tadi sudah acak-acakan.

"Bukan begitu, Ivy. Mereka, kan sibuk kerja!" Seru Dean, lalu membereskan piring adiknya yang sudah selesai makan. Ivy memelototi kakaknya itu.

"Bagus, Dean. Kau jadi kakak kebanggaan sekarang. Terus saja bela mereka!" Cibir Ivy, lalu dia menguncir rambutnya. Dia menyambar handuk, lalu mulai bernyanyi-nyanyi dengan suara rendah. "Aku mandi dulu!" Ucapnya sebelum membuka pintu kamar mandi. Dean hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat perlakuan Ivy, lalu pandangannya beralih pada jendela. Sepertinya dia memikirkan sesuatu. Dia merasakan sesuatu yang tidak enak hari ini…

Ivy dengan sigap segera berjalan menuju halte bus. Dia bersenandung sambil melompat-lompat sedikit dalam perjalanannya ke halte bus. Dia sekarang sudah terbiasa naik bus, walaupun dulu tidak. Ketika bus bercat merah datang, Ivy langsung melompat ke dalamnya. Kondektur bus melemparkan pandangan kemana Ivy akan pergi, dengan cengiran di wajahnya, Ivy menjawab,

"Snow Fairy!" Jawab Ivy, wajahnya merona ceria. Kondektur yang biasanya judes dan ketus, entah kenapa tersenyum melihat Ivy. Dia mengangkat satu jempolnya keatas. Ivy menyeringai senang, karena kondektur yang biasanya galak ini bisa baik juga. Ivy berjalan perlahan, melintasi satu persatu orang untuk mencari tempat duduk.

Pandangannya beralih pada tempat duduk paling depan, di samping kondektur bus. Dia mengucapkan permisi dan duduk. Ivy bersenandung kecil, sebelum akhirnya dia mendekati area Snow Fairy. Dia tampak berseri-seri, dan kemudian dari jendela, dia melihat orang yang mirip dengan Echa dengan perempuan berambut panjang. Hatinya berdebar keras sekali, pandangannya tidak menentu. Matanya membulat sempurna, dan dia mengepalkan tangannya. Air mata meleleh dari kedua matanya. Dia menunduk, kemudian melihat Echa dan perempuan itu menyebrang. Refleks, dia berteriak.

"AWAS PAK!" Jerit Ivy. Tetapi terlambat. Ivy merasakan sesuatu mendorongnya dari arah mana-mana, dan pandangannya yang mengabur. Gelap. Dia tidak bisa merasakan apa-apa lagi.

Jikan:

"Badan dan kepala saya sangat sakit, kak,"

Terima kasih untuk segalanya. Asal kau tahu, aku sangat menyayangimu.

Gema teriakkan Ivy sampai kemana-mana, dan air mata mengalir deras dari kedua pelupuk matanya.


Review ya :) I want to know how'd you feel.