Title: The Last Dream
Genre: mythology (Greek—dan sedikit menyerempet folklor Eropa Utara orz)
Characters: Morpheus & Thanatos
Warning: sepertinya tanpa plot, penggambaran tercampur imajinasi pribadi penulis, dan serentetan A/N berisikan istilah menunggu Anda di bawah.

A/N: Entah kenapa pengin aja gitu bikin cerita kayak gini. ._.

* Morpheus: dewa mimpi, putra Hypnos (personifikasi tidur).

* Thanatos: personifikasi kematian, saudara kembar Hypnos.


The Last Dream

by Alitheia

Sosok bermantel abu-abu itu duduk di bingkai jendela yang terbuka, punggungnya yang terlihat lebar dan bungkuk menghalangi sebagian cahaya dari bulan dan berlian-berlian di langit malam. Bayangannya jatuh dari tudungnya yang terpasang ke lantai kayu di bawah kakinya, dalam gelap menyerupai burung bangkai yang sedang bertengger menunggu makanan.

Remang cahaya merambat di sepanjang ruangan kecil itu, memberi cukup penerangan untuk melihat sebuah tempat tidur, lemari, dan meja kayu beserta kursi yang kosong. Tapi sosok itu tak perlu cahaya untuk melihat di mana pun, karena bahkan saat matanya terpejam seperti sekarang pun, ia tahu apa yang ada di hadapannya.

Seorang anak laki-laki—mungkin tiga atau empat belas tahun—terbaring dengan selimut menutupi tubuhnya hingga ke leher. Rambut hitam berantakan menempel ke wajahnya yang miring ke satu sisi. Kelopak matanya yang tertutup berwarna merah muda sakit, seperti orang yang diserang demam. Napasnya lemah dan dan lambat, peluh menuruni dahinya; di balik tirai yang tertutup itu, bola matanya bergerak-gerak. Mulutnya terbuka sedikit, memberi jalan bagi sebuah erangan pelan untuk terselip melalui bibirnya, diikuti dengan serangkaian racauan yang tak dapat terdengar dengan jelas.

Sosok yang tertunduk di ambang jendela itu membuka matanya, dan dua permata bersinar melalui tudungnya. Bahkan dalam gelap, matanya terlihat memancarkan cahaya. Pupilnya bulat, seperti kelereng, namun warna-warni berpusar di matanya, seakan-akan ada yang mengaduk pelangi di sana. Bukan warna-warni terang yang mencolok, tapi serangkaian warna yang damai dan menenangkan; melihat ke dalamnya seakan menyaksikan seluruh dunia tersedot ke dalam pusarannya, membuat manusia hanya ingin memejamkan mata, membiarkan segala keresahan menguap sebelum akhirnya terjatuh ke dalam tidur dan dibuai oleh mimpi.

Mimpi.

Sesaat pusaran itu bergerak di matanya lebih cepat, lalu pada sekejapan berikutnya, kembali pada kecepatan normal; lambat dan menenangkan.

Anak lelaki yang terbaring itu berhenti bersuara, matanya tidak lagi bergerak-gerak dengan panik, namun dengan perlahan, seakan hal mengerikan apa pun yang ia lihat dalam tidurnya telah berganti. Peluhnya berhenti, napasnya yang sempat menjadi cepat dan pendek-pendek kembali memelan; melemah. Ia terlihat lebih tenang, tidak lagi gelisah. Mulutnya terbuka sedikit, seakan hendak mengatakan sesuatu namun diurungkan dan disimpannya dalam kesadaran di tidurnya.

Untuk beberapa menit, anak lelaki itu dibiarkan dengan damai. Sosok bermantel abu-abu itu tidak bergerak dari tempatnya, namun bibirnya membentuk senyum, menggerakan kerutan-kerutan halus wajahnya. Napas anak lelaki itu semakin melemah, namun ia terlihat bahagia, senyum kini terukir di bibirnya. Ketenangan merangkul udara, dan satu-satunya suara yang terdengar hanyalah desahan malam dan embusan angin di ambang jendela.

Lalu, udara berdenyar, manusia biasa tak akan menyadarinya, tapi sosok bermantel di ambang jendela itu bisa. Di salah satu sudut ruangan yang diisi lemari, warna dan citra bergetar, mengabur, lalu berputar dalam warna hitam. Saat perubahan yang hanya beberapa saat itu berhenti dan dimensi kembali menjadi normal, sesosok lain telah berdiri di sana.

Sesosok lelaki muda dengan rambut sehitam malam. Kulitnya putih pucat dan dingin seperti porselen, tanpa sedikit pun rona merah muda sehat di pipinya. Kedua matanya yang seperti sepasang kancing hitam dinaungi oleh bulu mata yang lentik, dan bibirnya terbentuk dari segaris tipis yang rata. Lelaki muda itu tampan, namun terlihat dingin. Ia mengenakan tunik hitam tanpa lengan sepanjang lutut di bawah jubahnya yang juga hitam, menampakkan tangan-tangan putihnya yang ramping namun berotot. Di pinggang kirinya, tergantung sebuah pedang dengan warna segelap tuniknya. Mengintip dari jubahnya yang direkatkan dengan pin emas, terlipat sepasang sayap seperti angsa, yang berbulu halus dan indah, namun keseluruhannya berwarna hitam. Di bawah tuniknya, ia mengenakan sepasang sandal Yunani yang juga berwarna hitam. Selain kulit, pin, dan sabuknya, lelaki itu sepenuhnya bernuansa hitam. Pandangannya terfokus kepada anak lelaki yang tertidur.

"Thanatos." Panggil sosok yang berjubah abu-abu, ia masih tak bergerak dari tempat duduknya di jendela.

Lelaki muda yang dipanggil Thanatos itu menengadah, memperlihatkan matanya yang hitam, dalam, dan teduh. "Morpheus."

Morpheus tersenyum, menurunkan tudungnya, menampakkan rambut cokelat pasir keabu-abuan yang pendek. Wajahnya seperti lelaki paruh baya, namun penuh senyum dan matanya yang berwarna-warni membuatnya terlihat hampir selalu bahagia. Ia menegakkan duduknya. "Lama tak berjumpa, Thanatos, datang untuk menjemput satu nyawa lagi?"

Thanatos mengangguk, matanya menerawang ke belakang Morpheus, seakan mencari-cari sesuatu. "Ya, bisa kau bergeser sedikit, Morpheus? Bulannya terhalang, aku ingin memastikan waktu."

Sebenarnya hal itu tidak perlu, karena lelaki bernama Morpheus itu tahu bahwa dewa semacam Thanatos memiliki perasa waktu yang bahkan lebih akurat dari perkiraan lewat bulan, namun tanpa protes ia tetap menurut dan turun dari ambang jendela. Gerakannya itu menyibakkan sedikit mantelnya, dan sayap-sayap angsa seperti milik Thanatos terlihat di sana, namun warnanya bukan hitam, melainkan cokelat muda bersemburat pelangi yang mengalir di setiap bulu-bulunya. Meski berwarna-warni, nyala di sayap Morpheus tidak terang mencolok, namun damai dan lembut, membuat manusia mengantuk. Ia bergeser dan berjalan ke dekat meja, kakinya seakan tidak melangkah di bawah tunik abu-abunya saat ia bergerak.

Sesuai perkataannya, lelaki berambut hitam itu mengamati bulan, lalu pandangannya kembali teralih ke anak lelaki yang terbaring. Tangan kirinya bertumpu di gagang pedang, meski gesturnya santai, ia tetap terlihat mengancam. Entah kenapa sejak kehadiran Thanatos, malam menjadi dua kali lebih sunyi, seakan saat Sang Kematian datang, suasana di sekitarnya pun ikut terdiam.

Morpheus menatap si anak lelaki, lalu mengamati Thanatos. "Kukira," mulainya pelan dengan nada santai orang tua yang sedang mengobrol di teras rumah, "dengan seiringnya jaman, kau sekarang lebih suka berkeliaran dengan wujud kerangka berjubah hitam yang membawa sabit raksasa ke mana-mana."

Tidak ada perubahan di ekspresi Thanatos saat ia menjawab, "Dan kukira juga, dengan seiringnya jaman, kau lebih suka berjalan-jalan dengan wujud pria pembawa payung yang menebar pasir di mana-mana."

Morpheus terbahak. "Sandman?"

"Itukah namanya?"

"Jangan kira itu aku, aku tidak menebar pasir!" Si Dewa Mimpi mengusap matanya, masih tertawa. "Itu Hypnos, tidakkah kau tahu kalimat dalam ceritanya? 'Der skal Du see min Broder, den anden Ole Lukøie! de kalde ham ogsaa Døden!': Di sana sekarang, kau bisa melihat saudaraku, Sandman lainnya! Ia juga disebut Kematian! Tidakkah itu jenis kata-kata yang akan diucapkan Hypnos?"

"Begitu?"

"Biarpun di beberapa kesempatan aku memang mengikuti wujudnya dan memberi mimpi dalam wujud Sandman," Morpheus mengaku, "tadi berani sumpah, yang mula-mula memperkenalkan wujud itu Hypnos, bukan aku."

"Kalian ayah dan putra sama saja," Thanatos tanpa ekspresi, "lagi pula, Sandman sekarang diasosiasikan denganmu. Dan omong-omong, Hypnos tak pernah bilang kalau ia yang menciptakan wujud itu."

"Ah, benarkah ia tak memberitahu kembaran tersayangnya?"

Thanatos berdecak.

Morpheus terdiam sebentar sebelum tertawa pelan sekali lagi. "Soal wujud ini, kupikir jadinya aneh juga kalau kau berkeliaran dengan wujud lelaki muda tampan dan aku seperti pria paruh baya, padahal kau lebih tua dariku."

"Kita ini abadi, apa gunanya memasang wajah yang dihabiskan waktu?"

"Lucu mendengar kalimat seperti itu keluar dari seorang dewa kematian."

Thanatos tidak menjawab, ekspresinya masih datar. Angin berembus masuk lewat jendela yang terbuka, meniup mantel dan jubah mereka ke samping. Anak lelaki itu tak bergerak di tempat tidurnya, percakapan kedua dewa itu tak mengganggunya, karena bahkan jika ia sedang terbangun pun, ia tidak akan bisa mendengar mereka.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Morpheus?"

"Aku sedang mengubah mimpi buruknya menjadi indah."

"Kenapa?" Tanya Thanatos, seakan-akan hal semacam itu memang perlu dipertanyakan.

"Aku mengambil bentuk manusia dan mimpi-mimpi indah, dan saudaraku Phobetor yang bertugas mendatangkan mimpi buruk." Morpheus tersenyum. "Menurutmu kenapa?"

"Kau mengasihaninya, Morpheus." Alis Thanatos terangkat seakan bertanya saat mengatakannya, tapi dari nada bicaranya yang datar, ia terdengar seperti sedang membuat pernyataan. Ada yang bilang bahwa sang Dewa Kematian tak memiliki belas kasihan, rumor lain berkata bahwa ia membenci semua hal—termasuk manusia yang nyawanya harus ia cabut dan bahkan para dewa yang menjadi saudara-saudaranya. Sulit memastikan mana yang benar, tapi Morpheus tidak yakin bahwa Thanatos adalah dewa yang sebegitu tidak menyenangkannya. Mungkin ia hanya salah dimengerti karena tugasnya, dan akhirnya menjadi bersikap terpisah dengan dewa-dewa yang lainnya.

"Ah," kata sosok bermantel abu-abu itu, yang sekarang bergerak dan duduk di kaki tempat tidur si anak lelaki, "tidakkah kau memahami keindahan dari memberi dan mebahagiakan sesama?"

Untuk beberapa detik, Morpheus kira Thanatos tidak akan menjawab lagi. Namun tepat di saat-saat ketika si Dewa Mimpi ingin berkata lagi, lelaki bertunik hitam itu membuka mulut dan berujar, "Aku memperlakukan semua manusia dengan sama. Saat waktu mereka telah datang maka habis sudah. Aku tak akan menunda kematian seseorang hanya karena kasihan atau karena mereka berkelakuan baik."

"Kau terdengar adil," kata Morpheus, "dan seperti Atropos, tidak pandang bulu, ya?"

"Memangnya 'bulu' apa yang mau kau pandang dari manusia?" Untuk sesaat, sepasang sayap hitam yang terlipat itu mengembang, lalu merapat lagi. "Baik atau buruk, mereka semua itu sama saja."

"Aku tidak akan mengomentari itu."

Thanatos mengangkat bahu sebagai respon.

"Aku rasa ia adalah anak yang baik," kata Morpheus tanpa ditanya, sekaligus mengalihkan pembicaraan mereka, "setiap malam, ia berdoa agar dapat memimpikan ibunya—yang omong-omong, sudah lebih dulu kau jemput."

"Dan apakah keinginan itu otomatis membuatnya menjadi anak baik?"

"Tidakkah kau dapat melihat wajahnya yang tak berdosa itu?" Morpheus berkata. "Dan ia rajin, pantaslah masuk Elysium."

"Soal Elysium itu keputusan hakim nanti, tugasku hanyalah mengantarkannya ke Charon."

"Dingin dan efektif seperti biasa, Thanatos."

"Tugasku banyak," aku sang Dewa Kematian, "dan jadwalku padat. Kalau aku tidak bergerak cepat, lama-lama nyawaku sendiri yang harus dicabut karena intisariku terlalu banyak dibagi-bagi."

"Dewa semacam kalian sibuk, ya."

Thanatos mengangguk. "Tapi kurasa Charon lebih sibuk. Aku pasti memilih lompat ke Tartarus kalau harus mendayung sebanyak yang dia lakukan."

Morpheus tertawa. Sekilas Thanatos tampak tampan dan pendiam, lalu orang akan mendapatkan kesan dingin dan tak bersahabat darinya, tapi kemudian jika sudah lebih mengenalnya, orang akan tahu bahwa Thanatos sebenarnya dewa yang cerdas dan suka melontarkan komentar-komentar lucu. Meski terkadang penampilannya yang kelam dan rasa humornya yang penuh sindiran membuat orang harus berpikir dua kali lebih keras agar dapat mengerti maksud perkataannya yang sebenarnya.

Morpheus tidak membencinya, ketika bahkan para dewa sepertinya menunjukkan rasa kurang suka terhadap Thanatos, ia tidak bersikap sama. Thanatos hanyalah Thanatos, kenapa tugasnya sebagai Dewa Kematian membuatnya tidak disukai? Ia hanya mengerjakan apa yang dibebankan padanya. Morpheus yakin, kalaupun Thanatos bukanlah personifikasi kematian, ia pasti akan tetap megerjakan tugas lainnya dengan sama baiknya. Meskipun sekarang setelah sekian lama, rasanya sukar membayangkan Thanatos bukan sebagai Dewa Kematian.

Bunyi besi yang berdesing terdengar saat Thanatos mendadak mencabut pedangnya. "Baiklah," katanya kalem, "waktunya akan segera datang. Permisi, Morpheus." Ia berjalan mendekat dan mengarahkan ujung pedangnya yang terbuat dari besi hitam ke dada si anak lelaki.

"Demi langit, Thanatos, kau benar-benar akan melakukan pekerjaanmu dengan cara yang barbar?" Morpheus berdiri, bergantian melirik pedang dan si anak lelaki.

"Ini hanya simbolis," Thanatos menyadari kekeliruan si Dewa Mimpi, "kalau kau memang mengharapkan acara yang berdarah, sebaiknya kau membuntuti para Keres saja."

"Ah," kata Morpheus, "itu melegakan." Ia menatap si anak lelaki, napasnya telah sangat lemah, hampir putus-putus, dan denyut nadinya nyaris tak terasa. Mata sang dewa yang berpusar dalam warna berkilat. "Ia sedang memimpikan ibunya, mereka sedang tertawa di padang rumput. Ia sangat merindukannya."

"Hm?" Pedang itu diangkat ke atas sedikit. "Kalau begitu ia tak perlu menunggu lama."

"Bukankah ia harus dikuburkan dulu baru kau bawa ke Dunia Bawah? Tahulah," kata Morpheus, "segala protokol tentang koin dan Charon itu."

"Pengecualian khusus," jawab si lelaki muda, "orang yang sakit kan tidak bisa mengeluarkan nyawanya sendiri, beda dengan yang mati karena perang atau apa. Lagi pula, benang kehidupannya akan diputus sebentar lagi, jadi kau mengerti maksudku, kan?"

Siapa yang bilang kalau Thanatos tak berbelas kasihan? Ia punya rasa belas kasih itu dengan caranya sendiri. Ia tak pernah menarik bayaran untuk jasanya, dan akan terus mengantarkan jiwa-jiwa orang mati hingga bertemu dengan Charon. Sikapnya justru berbeda dengan Charon sendiri, yang meminta bayaran untuk jasa perahunya, dan saat jiwa yang mati itu tak dapat membayar, ia akan membiarkan mereka terlantar untuk bertahun-tahun.

"Ya," gumam si Dewa Mimpi, "jangan biarkan siapa pun menderita lama-lama. Itulah mengapa aku di sini, mengubah kabut kelam dan monster dalam tidurnya menjadi kenangan yang indah, meski itu harus merusak kerja Phobetor."

"Jangan jadi lembek begitu, Morpheus." Untuk pertama kalinya malam itu, Thanatos menampakkan senyum tipisnya yang langka.

"Aku tidak," sanggahnya, sementara Thanatos berdecak tak percaya, Morpheus tersenyum mengamati sosok berwajah damai yang terbaring di tempat tidur. Wajah damai yang sedang sekarat. "Aku hanya memberinya mimpi indah terakhir sebelum kau menjemputnya."

Mereka berdua terdiam, Thanatos kembali memfokuskan diri pada pekerjaannya, dan Morpheus membiarkan pikirannya mengawang-awang. Hei, tidak ada salahnya bagi Dewa Mimpi, kan? Ia bahkan bermimpi saat sedang terjaga.

Kalau dipikir-pikir, tidakkah mereka—Thanatos, Hypnos, dan Morpheus—tanpa disadari telah menjadi tiga serangkai yang unik? Melakukan pekerjaan mereka secara berurutan. Hypnos melelapkan mereka ke dalam tidur; lalu Morpheus datang pada beberapa kesempatan, menghadiahi mereka mimpi; dan sebagai penutup, Thanatos akan singgah untuk menyelesaikan semuanya, mengubah pekerjaan dewa-dewa sebelumnya menjadi tidur abadi Hypnos dan mimpi terakhir Morpheus, mengantarkan jiwa-jiwa menuju Dunia Bawah, mengarahkan mereka ke kehidupan tanpa akhir. Thanatos yang pendiam, Hypnos yang tenang, dan Morpheus yang menyenangkan; aneh terkadang membayangkan bagaimana tiga dewa dengan sifat berbeda bisa bekerja berdekatan dan berkaitan, namun jarang saling bersinggungan. Hypnos akan selamanya menyebar kantuk, Morpheus akan selamanya memberi mimpi, dan Thanatos akan selamanya mengambil hidup.

"Waktunya habis," Thanatos mengumumkan.

Pedang itu bergerak ke bawah. Nadi yang lemah itu berhenti berdenyut.

Atropos telah menggunting seuntai benang kehidupan lagi.

~.*.~

Malam itu setelah pertemuannya dengan Thanatos, Morpheus mengarungi langit dengan sayap-sayapnya yang berkilau seperti titik-titik air mata. Ia berhenti beberapa kali, menerbakan mimpi-mimpi kepada mereka yang terlelap oleh Hypnos.

Dan selamanya akan begitu, karena itulah tugas seorang Dewa Mimpi.

fin


A/N:

* Atropos: satu dari tiga Moirai—Takdir—ia yang memutuskan benang kehidupan manusia.

* Charon: tukang perahu Hades, menyeberangkan jiwa-jiwa orang mati melewati Sungai Styx yang memisahkan Dunia Bawah dan dunia manusia.
** Charon dan koin: Charon menarik bayaran berupa sebuah koin untuk setiap jiwa yang ia seberangkan. Jiwa yang jasadnya dikubur dapat membayar (orang Yunani dan Romawi dulu meletakkan koin di mulut orang mati sebelum menguburnya—disebut Charon's obol), sementara jiwa yang tak dapat membayar, akan dibiarkan mengembara di tepian Styx selama seratus tahun.

* Dunia Bawah (Underworld): negeri orang mati.

* Elysium: semacam surga.

* Keres: ruh kematian wanita, saudari-saudari Thanatos. Mereka dikaitkan dengan kematian yang berdarah, sementara Thanatos dikaitan dengan kematian yang damai.

* Phobetor: personifikasi mimpi buruk, muncul di mimpi manusia dalam wujud binatang atau monster.

* Sandman: tokoh mitos dalam dongeng rakyat Eropa Utara, sosoknya dikatakan membawa dua payung dan memercikkan pasir ajaib ke mata anak-anak untuk membuat mereka tertidur dan bermimpi. Muncul dalam cerita H.C. Andersen yang berjudul Ole Lukøje (Sandman). Dalam cerita ini, Sandman sebenarnya adalah Morpheus, tapi karena saya sedang tidak ingin menerima gambaran Morpheus sebagai makhluk mirip kurcaci yang bawa-bawa payung, saya ubah si Ole Lukøje menjadi Hypnos di sini. #nulisseenakjidat #digelindingin

* Tartarus: semacam neraka, terletak di bawah Underworld.

* Di fic ini ada beberapa "pernyataan" dari saya sendiri yang nggak ada di mitologi aslinya. Misalnya, nggak pernah disebutkan tuh kalau para dewa ini bekerja sebagai trio Hypnos-Morpheus-Thanatos. Dan saya juga kurang mengerti bagaimana kerja Thanatos sebenarnya, apakah dia hanya mengantarkan jiwa-jiwa ke Dunia Bawah setelah jasadnya dikubur, atau dia memang "mencabut nyawa" seperti yang saya tulis di sini.

* Morpheus terkadang disebutkan sebagai putra Hypnos atau saudara dari Hypnos dan Thanatos sendiri, tapi di sini, saya tuliskan dia sebagai putra Hypnos. (Jadi dengan kata lain, di fic ini Thanatos punya keponakan kayak bapa-bapa dan Morpheus punya om bertampang cowo baru lulus sarjana. ;3 #ngik Dan berhubung para dewa bisa menampakkan wujud apa pun yang diinginkan, tolong jangan bingung dengan penggambaran di sini).

* Anyway, sebelum catatan ini menjadi lebih panjang daripada ceritanya sendiri, sebaiknya saya sudahi saja. Terima kasih sudah membaca dan silakan tinggalkan review jika berkenan. :D

(* Dan mari ramaikan entri Mitologi dalam Bahasa Indonesia! C:)