Ia sangat suka film horror. Suka sekali.

Sampai-sampai ia membeli segala jenis pisau—pisau dapur, pisau daging, pisau jeruji, pisau buah—untuk dipajang di kamarnya.

Ia juga membeli boneka—boneka bisque yang mengerikan, boneka terkutuk milik saudara tirinya, bahkan ia membuat boneka voodoo juga.

Tak terhitung berapa banyak tumpukan film-film horror yang ada di kamarnya, satu rak penuh dengan film horror, tiap malam ia ditemani boneka voodoo yang tergeletak di sampingnya, tiap malam ia melihat langit-langit dimana pisau-pisau itu tergantung, bisa terjatuh kapan saja.

Lalu suatu hari, ia merasakan sakit membakar dadanya, ia merasa dikhianati. Sepotong kue, ia ingin sekali sepotong kue dengan cherry yang menghiasi atasnya. Ia ingin sekali cherry itu. Ia ingin sekali.

Sementara ia mendapatkan kue dengan krim seputih salju di dalam piringnya. Ia tidak suka salju; putih, bersih, tidak seperti cherry. Merah, merah, MERAH—darah!

Ibu, kenapa kau tidak adil?

Ia bertanya pada ibunya yang bersenandung di dapur, sendok sup berada dalam genggaman sang ibu. Sedangkan ia menatap adiknya di seberang meja makan—sedang menikmati kue itu, menyisakan cherry di sisi piring.

Ia agak iri dengan adiknya itu.

Sang ibu mengernyit sedikit. Nak, aku memberimu bagian lebih banyak dari adikmu, loh. Jawabnya. Tapi ia langsung cemberut setelah mendengar jawaban ibunya. Cherry-nya sudah habis, nak. sambungnya.

Kemudian ia terdiam sebentar, sedikit malas menjawab pernyataan ibunya.

Hei, ia berhenti sebentar, memandang adiknya yang kini sudah menghabiskan sepotong kue pemberian ibunya. Kau mau main di kamarku? Tanyanya, sambil mengalihkan perhatiannya sedikit ke arah pintu kamarnya. Kau bilang kau mau masuk ke kamarku waktu itu.

Adiknya mengingat-ingat lagi, ia tak pernah masuk ke kamar kakaknya. Ia ingin tahu apa yang kakaknya lakukan di kamarnya tiap hari, ia penasaran sekali akan kamar kakaknya, ia penasaran—sekali.

Sang adik berhenti berpikir—

Aku mau, kak!

Lalu mengangguk dan tersenyum senang.


a/n. ini pelampiasan. saya mau kue dari adik saya, dia malah pelit banget. bisa dikatakan ini dari kisah nyata saya. tapi jangan anggap saya bunuh adik saya sendiri. endingnya? terserah mau bad ending ato good ending, itu pilihan para pembaca :3

efek males pake tanda petik. no comment deh.