I'm Your Pet, You're My Master

.

Character:

Zekki Cruessaider

Izuna Hazuki

.

YOU ARE VERY WARNED!

This Story contain LIME, Almost—Raped, Sadistic Action, Angst, Character Abused, Almost—LEMON! For Adult material to be safe Rated! First M-Rated story. Better turn around for kids? Though I actually a kid myself—duuh!

YOU ARE VERY WARNED!

.


Aku Lemah…

Aku bukanlah apa-apa…

Aku hanyalah sebuah barang semata…

Tubuhku yang rapuh ini hanyalah sekedar alat permainan untukmu…

Suaraku yang parau ini hanyalah sekedar 'nyanyian' bagi dirimu…

Kau menyiksaku…

Kau membuatku mengerti arti 'kesakitan' yang sesungguhnya…

Di matamu itu…

Aku hanyalah seekor binatang peliharaanmu…

Di Dunia ini ada banyak sekali hal yang belum bisa dipahami oleh segelintir Manusia yang menempati Planet penuh kehidupan ini—Kalau mereka bukan satu-satunya yang hidup disini, bukan juga binatang ataupun tumbuhan di berbagai pelosok Wilayah, Apakah mereka juga tahu bahwa Para Iblis juga tinggal di Dunia ini berdampingan dengan mereka? Dengan wujud mereka yang menyamai Manusia dan Mereka juga bahkan tidak mengetahui bahwa kekuasaan seluruh Dunia ini sudah jatuh ke tangan Para Iblis tersebut…

Dunia ini—Bumi yang subur ini sudah sepenuhnya menjadi milik Iblis, Makhluk penghuni Neraka yang sangat kejam dan luar biasa ganasnya tersebut… Tidak seorangpun mengetahuinya karena rahasia ini memang dijaga rapat-rapat agar tidak terjadinya kepanikan di seluruh wilayah—Ini berawal dari sebuah Kontrak yang dilakukan demi mencegah Dunia ini musnah akibat adanya peperangan beberapa Negara yang melibatkan senjata Nuklir di dalamnya, Para pemimpin tidak memiliki cara lain selain mengadakan Kontrak tersebut demi mencegah hancurnya Bumi yang adalah satu-satunya tempat hidup manusia di Alam Jagat Raya ini. Maka dikumpulkanlah para Utusan untuk mengadakan Upacara, Mereka memanggil sang Raja Iblis itu sendiri yang bernama Lord Goevernet Cruessaideryang terkenal memiliki kekuatan yang dahsyat yang tidak akan pernah bisa ditandingi oleh apapun itu, Kontrak itu melibatkan banyak sekali hal demi membuat Sang Raja Iblis membantu permasalahan mereka—Seperti, Rahasia ini akan selamanya tidak pernah dibicarakan atau diumbarkan pada public; Seluruh kepemimpinan berada di dalam kekuasaannya; Hanya Keturunannya saja yang boleh melanjutkan pemerintahan; Para Iblis pengikutnya juga akan ikut tinggal di Bumi berdampingan dengan para Manusia tanpa terkecuali dan Si Perantara Kontrak harus memberikannya persembahan yang berupa seorang gadis muda dari keturunannya—Jika kontrak tersebut dilanggar, maka tidak berbelas kasihan Sang Iblis akan membawa Api Neraka menuju permukaan bumi untuk membakar planet ini seluruhnya. Manusia yang lemah hanya bisa menerima hal tersebut dan Kontrakpun dimulai…

Setiap beberapa tahun sekali, Penguasa akan meminta persembahan dan Si Perantara Kontrak harus rela membiarkan Putrinya untuk berada di tempat Iblis tersebut—entah apa yang terjadi dengan si persembahan tersebut, Mungkin dibunuh atau di Siksa hingga mati—sampai saat ini kabarnya masih belum jelas, Asalkan Bumi masih damai seperti ini… Kontrakpun juga harus berjalan sesuai dengan mestinya…

Hari berganti Hari, Tahun berganti Tahun hingga pada akhirnya sang Penerus baru muncul—Ia adalah Keturunan dari garis darah Sang Raja Iblis, level kekuatannya lebih kuat dibandingkan para pendahulunya dan sesuai apa yang dikatakan kontrak, Ia meminta persembahan miliknya… persembahan itu harus dikirim ke sebuah Mansion Mewah di tengah-tengah hutan dengan luas berhektar-hetar tanpa ada siapapun yang berani mencoba memasuki wilayah tersebut karena dijaga oleh para Iblis dengan spesialis tinggi untuk memastikan keamanan area tersebut…

"Tuan Muda… Sebentar lagi Para Utusan itu akan datang membawakan Persembahan untuk anda…" ucap seorang butler mengenakan pakaian hitam rapi membungkuk hormat dihadapan seseorang yang masih ditutupi oleh bayang-bayang di sudut ruangan—Hanya Mata Crymson-nya yang menyala saja yang dapat terlihat tetapi sosoknya masih tertutupi

Pandangan Mata tersebut melirik kearah jendela "…Aku tidak mengerti untuk apa aku menyimpan Manusia di dalam Mansionku ini…" ucapnya "Kau bisa meletakannya di ruangan yang sudah ku katakan padamu…" ucapnya dingin

"Baik, Tuan Muda…" ucapnya

"Pastikan untuk memberikan apa saja kebutuhannya di Ruangan itu—Sementara aku memikirkan apa yang harus kulakukan untuk menikmati Persembahan itu…" tambahnya sebelum si butler melangkah pergi keluar ruangan

Tak berapa lama kemudian, Gerbang Utama di sebelah Utara Mansionpun terbuka lebar menampilkan Kereta yang ditarik oleh dua ekor kuda gagah berwarna kecoklatan berikut disertai dengan dua orang yang mengawal di bagian depan Kereta—karena isi yang ada di dalam Kereta sangatlah berharga melebihi apapun sehingga mereka menjaganya dengan ketat. Keretapun berhenti di depan halaman Utama yang berjarak sedikit jauh dari Mansion yang ada di depan, Orang Asing tidak diperkenankan untuk memasuki wilayah selanjutnya—Maka, para penjagapun menghampiri dan kemudian membuka pintu kereta.

"Dari sini kami yang bertugas untuk mengantar Nona kedalam…" ucap salah satu Penjaga pada seorang gadis berambut panjang sepunggung berwarna Ungu gelap mengenakan gaun putih polos dengan kulit putih cream yang sangat halus itu perlahan melangkahkan kakinya keluar dari kereta

"Baiklah—Kalau begitu kami akan kembali…" ucap para penjaga Kereta gadis itu kepada para Penjaga Mansion sebelum kemudian menarik tali kekang kudanya dan kembali pergi meninggalkan kini si gadis sendiri bersama para Penjaga Mansion.

Penjaga tersebut mulai mengantar gadis itu berjalan menelusuri Halaman menuju Mansion—Tampak si Gadis hanya bisa terdiam selama perjalanan mereka menuju tempat tujuan, Pandangannya sempat teralih melihat keindahan hamparan bunga-bunga yang tubuh di sekitar halaman dan juga pepohonan yang rindang menghiasi halaman ini hingga terlihat begitu elegan ditambah juga dengan Patung-Patung marmer yang memiliki karya seni tinggi yang diletakkan di berbagai sisi strategis halaman menambah nuansa klasik—Langkah mereka terhenti karena dihadapi oleh seseorang laki-laki berpakaian rapi mengenakan kaca mata, Matanya yang tajam menatapi si Gadis dengan seksama sebelum kemudian teralihkan kepada para Penjaga di sekelilingnya.

"Cukup sampai disini kalian mengantarnya…" ucapnya sambil menaikan kaca matanya dengan salah satu tangan "Tuan Muda yang menyuruhku untuk mengambil alih sisanya dari sini—Kalian bisa pergi ke tempat jaga kalian sekarang…" perintahnya

Satu per satu Penjaga tersebut mengangguk pertanda mereka mengerti apa yang diucapkan oleh orang itu sebelum kemudian melesat pergi ke tempat jaga mereka dan melaksanakan kewajiban mereka yaitu mengawasi keamanan tempat ini—Sementara itu gadis itu ditinggalkan berdua dengan Laki-Laki tadi di depan Mansion.

"Sebelum Nona memasuki Mansion—Siapakah nama Nona sebenarnya?... Ini untuk memastikan apakah anda adalah orang yang sesungguhnya dan bukan pemalsu…" ucapnya

Si gadis memandangi Laki-Laki tersebut sebelum kemudian membuka mulutnya dan menjawab "Izuna… Namaku—Hazuki Izuna…" jawabnya dengan sedikit gugup

Laki-Laki itu mengangguk mengerti "Saya akan mengantar anda memasuki Mansion menuju ruangan anda…" ucapnya kemudian berbalik "Mari, Nona Izuna…" ucapnya mengajak gadis itu

"B—Baik…" ucapnya sedikit gugup kemudian mengikuti langkah Laki-Laki itu memasuki Mansion yang pintunya langsung terbuka lebar begitu mereka henda memasukinya menampilkan barisan para Maid yang berbaris dengan rapi menyambut kedatangan gadis itu—Mereka membungkuk hormat dan mengucapkan salam kepada gadis yang akan menjadi penghuni baru Mansion ini.

Mansion yang sangat luas ini memiliki banyak sekali pelayan dan butler yang bertugas untuk mengurusi Mansion ini—Mereka semua adalah orang-orang yang sudah terlatih dan memiliki keterampilan yang sangat tinggi, ditambah lagi Mereka juga adalah kepercayaan yang sudah merawat Mansion ini dari generasi ke generasi, karena itu tidak heran semuanya adalah orang-orang yang sangat bisa dipercayai—Ruangan Mansion diselimuti oleh Karpet Merah dan banyak sekali perabotan juga barang-barang antic yang terpajang di sisi kanan ataupun kiri dinding, Izuna melihat sekeliling Mansion sedikit mengagumi keindahan estetis Mansion ini, tetapi di lain pihak juga—Hatinya terasa begitu takut, takut untuk melangkah lebih dalam ke dalam Mansion ini…

Keduanya kini berhenti di sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu Pohon Oak berwarna kehitaman dengan ukiran disana-sini, Laki-Laki itu membuka pintu tersebut menampilkan sebuah Kamar yang sangat luas dengan sebuah ranjang mewah di tengah-tengahnya dan Jendela yang besar dibagian samping kamar memperlihatkan pemandangan langsung Halaman di luar—Kamar tersebut di dominasi dengan warna Merah Marun yang tidak terlalu mencolok.

"Mulai sekarang—Ini adalah Kamar Nona…" ucap Laki-Laki itu memberitahu Izuna yang melangkah masuk ke dalam kamar nan luas tersebut, Ia menghampiri lemari besar dan kemudian membukanya menarik keluar sebuah gaun putih transparan berwarna putih dengan belahan dada yang rendah kemudian menunjukkannya di hadapan Izuna yang kemudian menerimanya "Kenakan baju itu—Aku akan kembali ke tempatku… Sementara itu kau boleh bebas menjelajahi kamar ini tapi kau dilarang keluar dari ruangan ini…" ucapnya memperingati

Izuna memperhatikan baju yang diberikan oleh Laki-Laki itu "…Aku harus mengenakan ini—?" tanyanya

Si Laki-Laki itu mengangguk "Ini perintah dari Tuan Muda—Sebentar lagi ia akan menemuimu disini… Satu saran untukmu, Nona…" ucapnya mengawali sambil menatap Izuna serius seakan ia tidak akan bercanda dengan ucapan yang akan dilontarkannya "…Jangan sekali-kali kau melanggar perintah Tuan Muda kalau kau tidak ingin mendapatkan kosekuensinya.."

Glek!

Izuna menelan ludah ketakutan kemudian mengangguk lemah menandakan ia mengerti dengan jelas apa yang baru saja diucapkan—Laki-Laki itu melangkah keluar tanpa mengucapkan sepatah kata apapun kemudian menutup ruangan rapat-rapat meninggalkan Izuna kini sendirian di kamarnya yang luas ini.

Perlahan ia melangkahkan kaki menuju cermin yang dipasang di samping lemari kayu barusan dan mengamati baju yang diberikan oleh Laki-Laki itu kepadanya—Panjangnya hanya mencapai Paha-nya saja, ditambah lagi baju yang transparan ini akan memperlihatkan seluruh bagian tubuhnya—dan tentu saja ia tidak akan pernah mau mengenakan pakaian ini, Tapi… Mengingat dimana ia berada saat ini, Ia harus menelan kuat-kuat ketakutannya itu dan harus menuruti apapun yang disuruh… Itu kalau ia tidak ingin mendapatkan kosekuensi yang dikatakan Laki-Laki iti barusan… Maka dengan berat hati dan menarik nafas sepanjang mungkin—Izuna mulai mengangkat tangannya untuk menurunkan resleting baju yang ia kenakan—Apapun yang terjadi, Ia tidak akan pernah menyesali keputusannya datang kesini… Ia tidak akan bisa mundur ke belakang dan berlari layaknya seorang penghianat dan juga seorang pengecut—Setelah gaun itu dengan mudahnya jatuh kebawah kakinya, Izuna menundukkan kepalanya kebawah tidak ingin melihat tubuhnya yang terbuka saat ini—Ia sempat meraih tangannya untuk melepaskan pakaian dalam yang masih ia kenakan di tubuhnya tapi ia mengurungkan niatnya karena ia tidak ingin dirinya begitu terbuka—Langsung saja, Izuna mengenakan baju yang diberikan tadi…

Baju simple yang transparan dengan belahan dada yang rendah itu tampak sedikit mengekspos lekukan tubuh Izuna saat ini—Perlahan Izuna melangkahkan kakinya menuju ranjang dan duduk di pinggir ranjang sambil memeluk erat-erat dirinya… tangannya bergetar dan suhu tubuhnya meningkat secara drastic membuat dirinya mengeluarkan sedikit keringat sebelum kemudian memandangi sekeliling…

~Other's Room~

Di Ruangan lain, Seorang Pemuda kini sedang berdiri memandangi jendela di hadapannya—Mata Crymsonya menatap lurus kedepan mengamati setiap pemandangan yang terlintas di pandangan matanya itu sampai suara ketukan terdengar di pintunya menandakan pelayannya datang untuk menemui dirinya.

"Masuk…" ucapnya tanpa membalikkan tubuhnya karena ia sudah bisa melihat jelas refleksi orang tersebut di dalam jendela di depannya

Pelayan yang memakai kaca mata itu membungkuk hormat kepadanya

"Apa kau sudah melakukan apa yang kuperintahkan?" tanyanya kepada si pelayan tanpa berbasa-basi lagi

Si pelayan itu mengangguk "Saya sudah mengantarnya ke Ruangannya seperti yang anda perintahkan Tuan—Sekarang ia ada di kamarnya menunggu kedatangan Tuan…"

"Hmm—Begitu…" ucapnya sambil berbalik menghadap pelayannya itu—Kini sosok itu terlihat jelas sudah, Pemuda yang memiliki rambut berwarna Hitam dengan mata Crymson yang menyala mengenakan Pakaian berwarna putih layaknya seorang bangsawan, Ia menyeringai sambil menatap Pelayannya "Menarik sekali… Siapa nama Persembahan itu, hmm?" ucapnya

"Namanya… Izuna—Hazuki…" jawab si Pelayan

Pemuda itu mengangguk mengerti "Izuna, hmm—Mungkin ia bisa menjadi Mainan baru untukku dibandingkan orang-orang lemah itu…" gumamnya sebelum kemudian "Pergilah… Aku akan menemuinya nanti setelah aku memikirkan apa yang haru aku lakukan pada Mainan baruku itu…" ucapnya

"Baik—Tuan…" ucap si Pelayan melangkah pergi meninggalkan ruangan meninggalkan si Pemuda di dalam ruangannya dengan seringaian mengerikan kini terpasang di wajahnya—Mainan baru—Ia akan menikmati Mainan barunya sebentar lagi…

~Izuna's Chamber~

Tak terasa waktu memang cepat berlalu dan sudah 4 jam lebih Izuna menetap di ruangannya kini—Para Maid datang 2 jam yang lalu membawakannya hidangan makan malam untuknya, Tapi ia tidak merasa begitu lapar sehingga membiarkan makanan tersebut di atas meja tanpa pernah tersentuh sekalipun. Langit kini sudah gelap gulita dan suara burung hantu juga binatang-binatang malam hari dapat terdengar jelas di dalam ruangan… Izuna sesekali menguap karena mengantuk, tapi ia sama sekali tidak bisa tertidur…

Perlahan ia beranjak berdiri untuk melihat ke Jendela pemandangan yang ada di luar sampai sebuah suara mengagetkannya…

"Sepertinya mulai saat ini aku memiliki peliharaan baru di rumah ini…" ucap sebuah sosok membuak Izuna tersontak kaget dan langsung membalikkan tubuhnya menghadapi kini sepasang Mata Crymson yang menyala dari seorang Pemuda di hadapannya—Entah kenapa ketika kontak mata itu berlangsung, Jantung Izuna sempat berdegup dengan sangat kencang dan tidak beraturan entah karena takut atau karena sesuatu yang lain…

Pemuda itu memandangi Izuna yang masih saja menatapinya dengan matanya yang terbelalak karena kaget bertanya-tanya kenapa atau sejak kapan ia sudah berada di dalam ruangan ini bersamanya—Ia menyeringai kecil melihat reaksi gadis itu…

"…" Izuna masih terdiam menatap Mata Crymson itu lekat-lekat

Si pemuda menyeringai di depannya "Harus ku katakan kau adalah satu-satunya orang yang berani menatapku seperti selama lebih dari 5 detik…" ucapnya memulai

Mendengar hal itu—Sontak dengan Instan Izuna menundukkan kepalanya—Keterkejutannya kini membawanya kedalam suatu masalah yang tidak bisa ia perkirakan…

"Jika kau tidak ingin mendapatkan masalah yang lebih berat—Kusarankan kau untuk tidak bertindak ceroboh dan memikirkan aksimu sebelum bertindak gegabah…" ucapnya

Izuna yang sama sekali kurang paham dengan maksud dari ucapan Pemuda tersebut mengangkat wajahnya perlahan tetapi tidak sampai menatapnya secara langsung kemudian bergumam "A—Aku… Tidak mengerti—" ucapannya yang lemah itu terputus

Pemuda itu menatapnya tajam "Apa aku sudah memberimu izin untuk berbicara—Huh?" ucapnya dengan nada sedikit keras membuat Izuna sedikit ketakutan dan semakin tidak mengetahui apa yang harus ia lakukan selanjutnya

"Aku… M-Ma—Akh!" ucapannya terpotong lagi karena sebuah tangan kini mecengkram dengan kuat rambutnya yang panjang itu, Izuna meringis kesakitan dengan tangan yang mencoba untuk melepaskan diri dari cengkraman tersebut—Tetapi semakin ia memberontak, semakin kencang cengkraman tersebut… Dari sudut matanya ia bisa melihat seringaian yang muncul di wajah pemuda tersebut seakan ia sangat menikmati hal yang ia lakukan saat ini.

"Sudah dua kali kau berbicara tanpa izin dariku—Peliharaanku yang satu ini benar-benar mengagumkan rupanya… Dia berani menentang perintah majikannya…" ucap Pemuda itu sambil menatap lekat wajah Izuna di depannya dengan seringaian kejam yang ia pasang di wajahnya kini "Hmm—Aku seharusnya membunuhmu pada detik ini juga…" ucapnya lagi sambil menghembuskan nafasnya di samping Izuna mengenai telinga gadis itu yang membuat tubuhnya semakin gemetaran tidak berdaya "Tapi—Karena ini hari pertamamu… Aku akan membiarkanmu tetap hidup…" ucapnya dengan nada tenang tanpa sedikitpun mengubah ekspresi wajahnya

Izuna hanya terbelalak tidak mampu berkata apa-apa mengingat resiko yang akan ia hadapi jika ia berbicara tanpa seizing Pemuda yang ada di depannya kini—Saat ini yang bisa ia lakukan hanya berdiam diri dan menahan rasa sakit di kepalanya ini…

Pemuda itu menarik cengkraman tangannya pada rambut Izuna membuat gadis itu kini meringis dengan keras sambil mengangkat dagunya—Izuna memejamkan matanya erat-erat dan menggigit bagian bawah bibirnya untuk mencegahnya berteriak terlalu keras di dalam ruangan, Hell to it… Ini masih belum seberapa dan ia bisa merasakan akan ada yang lebih banyak lagi berdatangan…

"Kalau kau ingin tetap hidup dan menghindari hukuman yang lebih dari ini…" ucap Pemuda itu mengawali perkataannya "Kau harus mengikuti semua peraturan yang berlaku disini atau kau ingin mendapatkan 'hadiah' yang jauh lebih special dariku?..." gumamnya

Izuna tidak dapat berkata-kata—Ia hanya menggelengkan kepala menandakan ia tidak ingin mendapatkan apapun 'hadiah' special yang dikatakan barusan untuk dirinya sementara si Pemuda hanya tersenyum penuh kemenangan, sepertinya Peliharaan barunya kini sudah belajar etika meskipun baru pemula… Maka ia segera melepaskan cengkramannya pada rambut gadis itu yang kini langsung terduduk lemas di lantai menunduk di hadapannya…

"Bagus—Kau sudah mulai belajar untuk menghormati majikanmu…" ucapnya tersenyum penuh kepuasan "Kita lanjutkan mengenai Peraturan yang kumaksud tadi—Ada Lima yang harus kau patuhi disini… Pertama, Kau harus mematuhi semua peraturan dan perintah yang aku berikan padamu atau kau akan mendapat kosekuensinya jika melanggar; Kedua, Di Mansionku ini—Kau hanya perlu menjawab semua perkataan dan pertanyaanku dengan 'Ya, Master' atau 'Tidak,Master' sekali kau menentang maka kosekuensi yang sama akan berlaku padamu; Ketiga, Kau tidak diizinkan untuk berbicara kecuali aku yang menyuruhmu untuk berbicara; Keempat, Kau tentu boleh berkeliaran di sekitar Mansion milikku ini—Tapi jika kau melangkahkan kakimu itu keluar Gerbang besar itu, Maka aku tidak akan segan-segan untuk memburumu dan menikam jantungmu; dan terakhir yaitu peraturan Kelima, Kau dilarang untuk menatapku secara langsung kecuali aku yang memperbolehkanmu—Sekarang, Kau mengerti?"

"…" Izuna diam tanpa kata—Penjelasan tadi sangatlah cepat dan ia masih belum bisa mencerna keseluruhan Informasi yang dikatakan barusan

"Apa kau mengerti!" seru Pemuda itu kembali menarik rambut Izuna dengan tangannya

Izuna meringis tidak berdaya dengan perlakuan dari Pemuda itu dan merasa ia perlu menjawab perkataannya barusan "Y—Ya… M-Master…" ucap Izuna terbata-bata

Sekali lagi Pemuda itu melepaskan cengkramannya terjadap rambut Izuna sebelum kemudian memerintahkannya "Sekarang—Cepat berdiri…" ucapnya dengan nada sedikit keras kemudian melangkahkan kakinya menuju ranjang dan duduk di pinggir ranjang tersebut sambil memandangi Izuna dengan tatapan Matanya yang sangat tajam seperti ingin menghabisi dan mengoyak tubuh yang ada di hadapannya itu saat ini juga

Dengan cepat Izuna bangkit dari posisinya yang semula dan menundukkan kepalanya menunggu apa yang selanjutnya akan dilakukan oleh Pemuda tersebut terhadapnya kini—Sesuatu yang diperkirakan sangat mengerikan mungkin akan terjadi nantinya…

Pemuda yang kini sedang duduk dipinggir ranjang besar yang empuk itu kini memperhatikan gadis yang ada di depannya itu—Zekki Crussaider, kini sedang memperhatikkan Peliharaan barunya kini—cukup kejam memang menyamakan gadis ini dengan seekor binatang, Tapi memang itulah kenyataannya-Ia adalah Persembahan yang diberikan untuknya sesuai dengan kontrak ia bisa melakukan apapun yang ia kehendaki padanya, mirip dengan seekor binatang kan? Well—Gadis itu kini ada di tempatnya dan ia bebas untuk melakukan apapun pada gadis itu, satu pemikirannya tentang saat ini adalah ia ingin melihat seberapa bagus kualitas gadis yang Para Manusia itu berikan padanya… Tidak terlalu mengecewakan kalau gadis ini cukup cantik—Tapi itu tidak masalah baginya, Apa yang akan selanjutnya ia lakukan? Hemm—sepertinya Zekki memiliki pemikiran terlintas di benaknya saat ini…

WARNING! WARNING! LIME SCENE! WARNING! WARNING!

"Sebagai Peliharaan…" ucap Zekki memulai perkataannya pada Izuna di depannya kini "Apa kau tahu tugas dan kewajibanmu?" tambahnya

Izuna tetap diam tidak bisa menjawab—Ia sebenarnya tidak tahu apa yang harus ia lakukan setelah sampai ke dalam Mansion ini, Ia sama sekali tidak diberitahu apa dan harus menjadi apa ia jika ia sudah berada di dalam Mansion ini kelak.

"Jawab Pertanyaanku!" seru Zekki merasa pertanyaannya masih belum terjawab dari mulut Izuna yang membungkam mulutnya

Izuna tersentak kaget dengan nada amarah yang dikeluarkan olehnya dan kemudian menelan ludah untuk memberanikan dirinya dan perlahan dengan bibirnya yang kini masih bergetar ia mulai menjawab "T—Tidak… Master…" jawabnya kecil

Zekki menyeringai layaknya seorang iblis—Well, dia emang keturunan Iblis sejak awal jadi apa bedanya?—Ia beranjak dari ranjang menghampiri Izuna kemudian mengangkat dagu gadis itu dengan salah satu tangannya sehingga ia bisa melihat wajahnya lebih jelas, Tampak Mata Izuna kini melebar memandangi Mata Crymson miliknya dengan tatapan ketakutan dan keterkejutan yang tidak terduga.

"Kapanpun dan Dimanapun—Disaat aku merasa bosan atau lelah… Kau harus menghiburku dengan apapun yang kau punya atau kau akan mendapat hukuman jika menentang…" ucap Zekki dengan suara yang monotone "Jika… Kau berani melanggar atau mengeluh—Kau akan menanggung kosekuensinya…"

Napas Izuna serasa tercekat mendengar nada bicara yang digunakkan Zekki kepadanya yang berisi nada mengancam tapi dilain pihak juga terdapat nada ketegasan disetiap kata-kata yang dikeluarkannya sepertinya ingin mencoba menyuruhnya untuk memahami setiap perkataannya—Hembusan napas itu kini menerpa sisi sensitive di lehernya membuatnya harus menggigit bagian bawah bibirnya untuk menahan desahan yang akan keluar dari mulutnya…GOD! Izuna tidak ingin tahu apa yang akan selanjutnya terjadi padanya, sehingga ia perlahan menutup kedua matanya rapat-rapat—Ia merasa sepenuhnya tenggelam dalam hembusan napas yang menggoda dan menggelitik nalurinya itu…

Jemari Zekki kini menghampiri bibir Izuna—Sepertinya ia menyadari gadis ini sengaja menggigit bibirnya sendiri untuk mencegahnya mengeluarkan suara-suara dari mulutnya itu, maka dengan perlahan jari telunjuknya mengelus pelan bagian bawah bibir Izuna sambil menyeringai begitu menyadari tubuh gadis itu bergetar karena debaran sensasi dari kontak yang baru saja ia lakukan, Hemm—Sepertinya akan menyenangkan untuk membuat gadis di depannya ini membuka mulutnya ketika ia bermain dengannya…

"Aku akan melakukan apa saja yang ku suka padamu—Apa kau kau ingin memprotes perkataanku barusan…Hmm?" ucap Zekki dengan mulus di telinga Izuna sambil menghembuskan napasnya ke daun telinga gadis itu membuatnya semakin tidak bisa menahan suara yang akan keluar menyeruak dalam tubuhnya yang menginginkan perlakuan yang lebih dari ini—LEBIH!

Merasa ia perlu menjawab pernyataan barusan, Izuna perlahan membuka sedikit mulutnya dan menahan keinginannya untuk mengeluarkan suara-suara layaknya ia menikmati perlakuan yang diberikan Zekki padanya saat ini "T—Tidak.. M-Ma—Akh!~" ucapan Izuna terputus ketika ia sontak berteriak karena kaget dan juga kesakitan merasakan kini Zekki tengah mengigit daun telinganya dengan giginya—Ia bisa merasakan taring yang juga ikut serta dalam perannya mengigit daun telinga tersebut

Zekki mendorong tubuh Izuna sehingga gadis itu kini terjatuh mengenai lantai dengan ia yang kini berada diatas tubuh gadis itu yang terbaring lemah tak berdaya di bawahnya dengan nafas yang tersengal-sengal tidak beraturan dan wajah yang sudah memerah dari sebelumnya—Tubuhnya serasa terbakar dan sangat panas rasanya..Zekki menekan kepala Izuna mengenai lantai sementara kini lidahnya sedang menelusuri jejak menuruni leher putihya—Izuna tidak bisa melawan sama sekali dibawah penderitaan ini, kepalanya serasa begitu sakit dan sensasi lidah yang kini tengah bermain di lehernya itu membuatnya tidak bisa berpikir lagi—otaknya membeku sepenuhnya.

Zekki hanya menyeringai sambil terus menjilati leher putih milik Izuna sampai pada akhirnya lidahnya berhenti di suatu titik—Merasa tidak begitu mengasyikan hanya menjilat saja seperti seekor serigala yang menjilati tulang mangsanya, Zekki membuka mulutnya sehingga 2 taring yang ada di dalam mulutnya itu kini terlihat dengan jelas kemudia membenamkan kepalanya lagi kali ini sambil menggigit leher gadis itu dengan kuat…

"A—Akhhh!" jerit Izuna kesakitan serasa seperti jarum kini menusuk-nusuk lehernya—ia bisa melihat sekilas aliran darah yang turun secara perlahan melalui lehernya itu, Zekki yang tampaknya sangat senang dengan penderitaannya malah semakin dalam mengoyak leher mulus tersebut "KHH—AKKHH—Hen…Kh! A—Kan…" teriak Izuna sejadi-jadinya tidak kuat menahan ras sakit yang diberikan oleh Zekki

"Hmm… Suaramu boleh juga…" bisik Zekki senang ditelinga Izuna menghentikan aktivitas sebelumnya dan meninggalkan leher yang terluka itu "… Teriakanmu seperti sebuah symphony di telingaku—Ayo berteriak lagi.." perintahnya kini tangannya menuruni leher Izuna kebawah dan kebawah dan perlahan merobek tali strap gaun yang dipakai Izuna dan membiarkannya terbuka… kuku-kukunya kini menekan lengan mulus milik Izuna layaknya sebuah pisau yang berjalan mengiris sebuah daging…

"Kh—A-…" Izuna menggelengkan kepalanya tidak ingin berteriak lagi karena ia tahu, teriakannya ahanya akan mengakibatkan Zekki semakin ingin menyiksanya—maka ia mengigit bibirnya untuk mencegahnya berteriak tapi tentunya Zekki tidak kehabisan akal, ia semakin menekan kuku-kukunya di lengan gadis itu sebelum kemudian layaknya pisau, ia menarik kuku-kukunya menuruni lengan Izuna membuat luka sayatan yang begitu dalam dan juga panjang, Izuna mengigit bibirnya sekuat mungkin hingga tidak mempedulikan darah juga mengalir dari bibirnya itu..

"Jadi—Kau mencoba untuk membungkam suaramu itu hmm…" gumam Zekki sambil menekan lebih darah luka sayatan itu di lengan Izuna mendapat sedikit erangan kesakitan yang berhasil lolos di mulut Izuna "…Jadi kau ingin melawanku, rupanya…" tambahnya lagi kemudian mendekati wajah Izuna kemudian perlahan-lahan menautkan bibirnya dengan bibir gadis itu, lidahnya perlahan mulai menjilati darah yang mengalir di bagian bawah bibir milik Izuna membuat Izuna semakin merasa meleleh di tempatnya dia berada saat ini dengan tindakan yang diperbuat oleh Zekki terhadapnya—Lidahnya seakan menggoda bibir Izuna untuk membukakan pintu untuknya masuk dan pada akhirnya, Izuna membuka mulutnya yang membuat Zekki langsung memasukan lidahnya kedalam mulut gadis itu perlahan menjelajahi rongga mulut Izuna dan mencicipi rasa yang dihasilkan gadis itu untuknya, lidah Zekki dengan lincahnya menelusuri rongga mulut Izuna mengecek dinding mulutnya dan gigi gadis itu, ia juga bisa merasakan lidah gadis itu yang sama sekali tidak bergerak dari tempatnya… Merasa akan bosan jika hanya ia yang bermain-main di tempat ini, lidah Zekki mulai mengajak lidah milik Izuna untuk bermain bersama dalam permainan dominasi mereka, Izuna hanya bisa mendesah begitu lidah Zekki melilit lidahnya sendiri saling menukar saliva satu sama lain.. ia bisa mencicipi rasa dari darahnya sendiri pada saat itu juga, hal ini membuat Izuna mendesah secara tertahan di dalam permainan dominasi milik Zekki itu—Zekki tidak akan berhenti untuk bermain-main di dalam rongga mulut Izuna yang manis itu meskipun ia tahu Izuna sudah kehabisan oksigen sejak tadi, Izuna hanya bisa pasrah sambil mencengkram pundak Zekki dengan erat.

"…hah… hah…" Izuna menarik napas sepanjang mungkin berusaha mengambil oksigen sebanyak-banyaknya setelah Zekki melepaskan tautan bibirnya itu dan menyudahi permainan mereka meskipun kini dapat terlihat sedikit saliva mengalir di pojok bibir Izuna dan benang saliva tipis diantara keduanya, tak sedikitpun Zekki terlihat seperti Izuna yang sudah terengah-engah saat ini, sepertinya ia memiliki paru-paru yang kuat untuk menampun oksigen dalam jumblah yang besar juga stamina yang tak terbatas jumblahnya.

"Hmm… Rasamu lumayan enak untuk seorang manusia lemah…" bisik Zekki sambil menjilati bekas saliva itu dengan lidahnya kemudian menyeringai "…Darahmu juga harus ku katakan… sangat lezat hmm—" tambah Zekki kali ini jemarinya yang lincah itu bermain dan menggerayangi tubuh mungil Izuna yang kemudian berhenti tepat di pinggang gadis itu yang ramping

Izuna hanya bisa menahan rasa sakit yang kini tengah ia rasakan di leher dan juga lengannya, ia mungkin akan kehilangan suaranya kalau ia terus-terusan berteriak degan kekuatan seperti itu—ini bukan salahnya jika ia berteriak dan meringis di dalam kesakitan akibat penyiksaan yang dilakukan oleh Zekki terhadapnya, Apakah ini yang selama ini terjadi pada setiap persembahan yang dibawa ke Mansion ini? Mereka di datangkan hanya untuk disiksa dan dijadikan layaknya seekor binatang di Mansion ini… Mungkin mereka sudah mati karena tidak sanggup menahan semua siksaan yang berkelanjutan ini, dan hanya itulah jalan yang sangat tepat bagi mereka yang berhati lemah—Apa dia akan bernasib sama dengan mereka suatu saat nanti? Tidak! Izuna bukanlah seperti mereka yang lemah dan hanya bisa memutuskan bahwa kematian hanyalah satu-satunya cara untuk mengakhiri segalanya, Ia sudah menerima jika memang nasibnya adalah sebagai seorang persembahan, dan ia juga akan menerima nasibnya di dalam penyiksaan ini, tubuh ini—apapun yang berada dan ia miliki dalam tubuh ini, ia sudah merelakan semuanya…

"…AKH! Aaa—Kh!" Izuna berteriak kembali dengan suara yang menaiki jangkauan oktafnya sendiri begitu merasakan sesuatu tengah mencabik-cabik bagian disekitar pinggangnya dan mengoyak baju tipis itu seketika menyisakan hanya sedikit bagian bawah gaun yang masih menutupi tubuh bagian bawah milik Izuna sementara hanya sedikit memperlihatkan sedikit dari bawahan yang tengah ia gunakan sementara di satu sisi berbeda, kini tubuh bagian atasnya sudah sepenuhnya tereskspos di hadapan mata Crymson itu dengan cairan berwarna merah menetes keluar dari pinggang sebelah kirinya.

Zekki hanya menatapi sosok yang sudah tidak berdaya kini di hadapannya menunggu belas kasihannya untuk menghentikan penyiksaannya ini—Zekki hanya melirik sekilas tubuh Izuna yang kini sudah setengah terekspose di matanya, ia sama sekali tidak tertarik dengan pemandangan erotis seperti ini… Tapi ada sesuatu di dalam pikirannya yang mungkin akan menyenangkan untuk melukis tubuh gadis ini menggunakkan kuku-kukunya dan juga taringnya saat ini juga—Ia berpikir, bahwa akan sangat menyenangkan melihat ekspressi gadis itu yang sudah terlihat jauh dari kata 'pasrah' di hadapannya… Ia ingin membuat gadis itu berteriak, menangis ketakutan, dan memohonnya untuk berhenti atau membunuhnya saat itu juga—lagipula, ia sudah banyak sekali melihat yang seperti ini sebelumya…

"…Dengan begini, akan jauh lebih mudah untukku melakukan sesuatu dibandingkan saat pakaian penganggu itu masih menempel di tubuhmu…" desis Zekki kemudian dengan jemarinya ia menekan kembali luka di pinggang Izuna

"AKH!—Aaakkhh! J—Ja-Akh!" pekik Izuna kesakitan, tubuhnya merasa jauh lebih kesakitan daripada yang sebelumnya dan ia tidak bisa berpikir apakah ia masih sanggup untuk bertahan lebih lama lagi dengan keadaan yang seperti ini

Zekki hanya tersenyum mendengar jeritan Izuna sambil terus melakukan aksinya dan juga lidahnya kini sedang sibuk menggigit bahu sebelah kanan Izuna dengan taringnya yang tajam, ya—kini sudah diperkirakan, banyak sekali darah yang menetes menodai lantai batu yang dingin itu, pandangan mata Izuna kini sudah hampir kabur dan tidak bisa melihat dengan jelas… Suaranya kini sudah parau akibat berteriak tanpa henti dan tubuhnya kini sudah sangat lemah tidak berdaya akibat kehilangan banyak sekali darah dalam jumblah yang sangat besar yang disebabkan oleh Zekki yang terlalu banyak mengambil darahnya..

"Hmm—Apa kau ada permintaan terakhir, peliharaanku?" bisik Zekki dengan suara yang bisa dikatakan begitu menggoda kini ditelinga Izuna sambil menjilat daun telinga gadis itu

"Ngh…Akh—!" Izuna meringis kesakitan dan bukan menjawab pertanyaan Zekki padanya barusan

"Aku beri kau dua pilihan…" ucap Zekki pada Izuna " Ingin melanjutkan atau Mengakhirinya saat ini juga.. Jawab pertanyaanku atau…" Zekki menggigit daun telinga gadis itu sambil menunggu Izuna mengatakan jawabannya dan memperkirakan gadis itu pasti akan memilih opsi pilihan yang kedua dan berarti—Ia akan membunuh gadis itu sekarang dan detik ini juga, Mengakhiri segalanya berarti mengakhiri perjanjian sebagai seorang persembahan dan sudah sepatutnya mereka dibunuh..

Izuna mencoba untuk membuka mulutnya menahan semua rasa sakit hanya untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya "M-Mela…Melanjutkannya, M—Master…" jawabnya dengan suara yang parau

Zekki terdiam sejenak—Melanjutkannya? Apa barusan gadis manusia ini memilih opsi pertama? Kenapa ia memilihnya? Apa ia tidak ingin mati begitu saja atau ada sesuatu yang lain yang membuat gadis ini begitu rela untuk melanjutkan tugas dan kontrak yang diberikan kepadanya—Zekki menarik kembali wajahnya dari leher gadis itu hanya untuk menatap Izuna yang saat ini tengah setengah membuka matanya menatapnya dengan napas yang tersengal-sengal, Ia tidak merasakan suatu keraguan dalam ucapan gadis itu. Apa dia mencoba untuk menjadi seorang pemberani disini?

"… Melanjutkannya, jadi itu yang kau pilih peliharaanku yang manis…" ucap Zekki sambil mengelus pipi Izuna "…Apa kau sama sekali tidak takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya setelah ini, huh?" ucapnya lagi

Izuna hanya menggeleng sementara Zekki hanya menatapnya "…Kalau begitu keputusanmu, baiklah…" ucap Zekki kini merobek tali pakaian dalam yang dikenakan Izuna sebelum kemudian merobeknya dan melemparnya entah kemana "..Aku salut padamu, manusia~ Tapi seberapa lama kau akan bertahan melalui semua ini?" ucapnya lagi dengan nada berbahaya

Izuna hanya bisa menatap mata Crymson itu perlahan sebelum matanya perlahan menutup dikarenakan karena terlalu lelah dan kehilangan banyak sekali stamina dan energy di dalamnya… Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya padanya, yang bisa ia rasakan hanya kini tubuhnya dipenuhi rasa nyeri disana-sini dan serasa tubuhnya bagaikan melayang layaknya sehelai kapas yang diterbangkan oleh angin—semuanya berlalu begitu saja.. Seberapa lama ia bisa bertahan tidaklah penting untuknya, ia akan bertahan sampai dirinya atau tubuh ini hancur sekalipun, ia tidak akan mati seperti gadis-gadis prsembahan lemah lainnya… dan dipikirannya saat ini, menjadi seekor binatang peliharaan di mata Crymson itu mungkin tidak terlalu buruk juga..

SAVE LINE! SAVE LINE! LIME SCENE OVER! SAVE LINE! SAVE LINE!

Zekki saat ini tengah duduk di kursi singgasananya di ruang tengah Mansion sambil bertopang dagu—sepertinya ia sudah menyelesaikan kunjungannya ke kamar peliharaannya itu beberapa saat yang lalu dan kini ia tampak sedang memikirkan sesuatu.

"Tuan Muda…" panggil seorang pelayan berkaca mata yang membungkuk hormat di depannya "Apa anda sudah menyelesaikannya?" tanya pelayan itu

"Hn…" sahut Zekki hanya bergumam saja

Si Pelayan itu hanya mengangguk "Apa anda ingin saya untuk emmbereskan semuanya sekarang juga?" ucapnya lagi

"Tidak—Sepertinya aku akan menyimpan persembahan itu…" sahut Zekki kepada pelayannya itu "..Panggilkan saja Tim Medis untuknya besok pagi, Aku ingin dia tetap terlihat sehat jadi berikan pelayanan yang bagus untuknya…"

Si Pelayan mengangguk tanda mengerti "Baik, Tuan Muda… Saya akan melakukan apa yang anda perintahkan…" sahutnya kemudian melangkahkan kaki meninggalkan ruangan meninggalkan Zekki masih terduduk di singgasananya

Mata Crymsonnya itu tidak pernah mungkin salah menilah seseorang—Ia menganggap manusia hanyalah makhluk lemah yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keturunan Iblis, mereka tidak memiliki apapun yang berguna di dalam diri mereka yang hanya bisa memelas meminta pertolongan tentang suatu hal, mereka juga memiliki hati yang lemah yang sama sekali tidak memiliki keteguhan apapun didalamnya—Mereka akan tunduk dengan mudah dan mereka akan rela membunuh diri mereka sendiri hanya untuk bebas dari beban permasalahan yang mereka tanggung, sungguh menyedihkan makhluk yang bernama manusia ini, tapi sesuatu dalam diri gadis yang bernama Izuna Hazuki ini mampu membuat seorang pemimpin Zekki bertopang heran, siapa sebenarnya Izuna Hazuki itu? Apa yang sebenarnya ada di dalam gadis ini?

"…Izuna Hazuki…" gumam Zekki sambil menyeringai kecil "Menarik sekali… Aku akan lihat sampai kapan dia mampu bertahan sampai akhir sebagai peliharaanku…"


Author notes: -_- Kritik dan Saran untuk membantu Author yang GAJE INI dengan Story ini… apakah story ini ABAL dan KURANG terasa unsur—well—di dalamnya?