[A/N] Err.. Ini cerita pertama gue di FictionPress. Awalnya sih gue bikin ini iseng aja, kepikiran tugas musik, malah jadi cerita kayak gini. Sori ya kalo rada gaje atau malah gaje banget. Hee. Oh iya, sebenernya gue pengen cantumin lirik lagu di cerita ini, tapi karena gak boleh, jadi aku cantumin judulnya aja ya.

Listening To: Some Nights – Fun.


Dahulu kala, ada seorang bajak laut yang sangat hebat. Semua musuh gentar padanya. Kemana pun Ia menyerang, musuh selalu tunduk padanya. Ia mempunyai peliharaan, yaitu seekor burung kakaktua yang setia. Burung itu selalu hinggap di lengan Bajak Laut. Namun sayang, si Bajak Laut tidak pernah membersihkan giginya sehingga semua giginya menjadi hitam.

Di tempat lain, ada seorang nenek-nenek. Pada masa mudanya dulu, Nenek itu sangat cantik. Nenek itu juga sangatlah baik hati. Nenek itu memiliki gigi yang sangat putih karena Ia selalu rajin menggosok gigi. Saat tua pun begitu. Meskipun sudah tergerus jaman, masih terlihat bekas-bekas kecantikannya pada masa muda. Dan giginya pun masih putih bersih tak bercela. Menurut berita yang tersebar, Nenek itu tinggal di Indonesia, tepatnya di dekat pelabuhan Tanjung Priok.

Mendengar berita tersebut, si Bajak Laut segera berlayar menuju Indonesia. Sesampainya di sana, si Bajak Laut disambut dengan hangat oleh penduduk setempat. Bajak Laut itu langsung minta dipertemukan dengan Nenek yang tersohor karena gigi-giginya yang putih.

Ternyata berita-berita itu tidaklah berbohong, Nenek itu masih terlihat cantik dengan kulitnya yang sawo matang, meskipun sudah keriput. Dan yang paling utama adalah giginya yang putih cemerlang.

Saat hari sudah malam, si Bajak Laut menyelinap ke dalam rumah si Nenek dengan peliharaannya yang selalu bertengger di lengannya dan sebuah pencongkel dalam genggamannya. Mendengar suara-suara aneh, si Nenek terbangun. Ia lalu keluar dari kamar tidurnya dan menemukan si Bajak Laut sedang menyelinap di dalam rumahnya.

"Hei! Siapa kamu?" Nenek itu bertanya pada si Bajak Laut. Tanpa banyak bicara, si Bajak Laut membiarkan Burung Kakaktuanya bertengger di sebuah jendela. Ia lalu menyerang Nenek itu.

Ia mencongkeli gigi-gigi Nenek itu tanpa ampun. Tanpa obat bius! Nenek itu spontan berteriak. "AAAAAA!" Teriakan yang sangat pilu dan menyayat hati.

Warga terbangun. "Suara apa itu?" tanya seorang pria pada Kepala Desa. "Aku tidak tahu. Tapi asal suaranya dari sana! Ayo kita periksa!" kata Kepala Desa sambil menunjuk ke arah rumah Nenek.

Mendengar keributan di luar, Bajak Laut segera menyelesaikan pekerjaannya, meskipun tersisa tinggal dua buah gigi di dalam mulut si Nenek. Karena terburu-buru, Bajak Laut melupakan peliharaannya. Si Bajak Laut lalu segera keluar lewat pintu belakang.

Beberapa saat setelah si Bajak Laut kabur, warga sekitar sampai di sumber teriakan. "Gelap sekali!" kata seorang dari mereka. Ia lalu menyalakan obor. Hampir pingsan dirinya ketika Ia sudah dapat melihat dengan jelas apa yang telah terjadi.

Sungguh pemandangan yang mengerikan; seorang Nenek yang sangat dikasihi oleh warga sekitar, mati karena tak sanggup menahan sakit dengan mulut menganga dan gigi yang tinggal dua. Sementara di jendela, hinggaplah seekor Burung Kakaktua yang ditinggal oleh pemiliknya. Kakaktua itu hanya dapat melihat si Nenek dengan tatapan mata sendu.

Akhirnya si Nenek dimakamkan. Untuk mengenang peristiwa tersebut, warga membuat sebuah lagu. Lagu ini akhirnya menyebar ke seluruh Indonesia. Karena nadanya yang riang, orang-orang mengira lagu itu adalah lagu anak-anak. Hanya warga setempatlah yang mengetahui kisah mengenaskan dibalik lagu tersebut, dan akan tetap begitu. Selamanya.

Judul dari lagu itu adalah "Burung Kakaktua".