Chapter 1 : It's all about Lemonade.

.

"Asik ya setelah liburan panjang yang membosankan kita bisa masuk sekolah lagi," kata Himeka semangat. Aku memalingkan wajahku padanya karena aku sama sekali tidak setuju dengan ucapannya itu.

"Aduh.. sekolah? Aku tidak ingin bertemu dengan matematika, fisika, kimia, sejarah, pkn, dan yang lainnya," kataku malas seraya merentangkan kedua tanganku kesamping lalu mengembalikannya, menarik nafas panjang. Kami sedang berada di kelas sepuluh dua yang merupakan kelas kami.

Dia tampak memutarkan kedua bola matanya lelah. "Semua pelajaran maksudmu? Kita harus belajar kalau mau naik kelas, Nade," kata gadis berambut hitam panjang itu sok bijak.

"Ya aku tahu, tapi tidak setiap hari kita harus belajar dengan serius, 'kan? Aku bisa bertahan datang ke sekolah ini karena aku bisa melihat prince-ku," kataku senang. Terbayang sesosok pemuda tampan di depan mataku. Rambutnya hitam rapi, iris matanya berwarna hitam indah, dan kulitnya yang coklat. Bahkan kacamata yang ia gunakan membuatnya makin terlihat mempesona.

"Aramaki Takumi-senpai, 'kan?" tanya Himeka dan aku mengangguk yakin. "Apa sih bagusnya senpai itu sampai kamu tergila-gila? Memang sih dia pintar dan ahli memainkan alat musik, tapi dari segi fisik.."

"Ah, kamu iri 'kan karena aku bisa ngobrol dengan Aramaki-senpai dan kamu sama sekali tidak bisa bicara dengan prince pujaanmu itu," godaku. Wajah Himeka memerah apalagi saat pemuda yang sedang kami bicarakan melewati pintu kelas kami untuk menuju ke kelasnya.

"Kalian berdua bisa diam? Pagi-pagi begini sudah ribut." Glace berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati kami. Ya, sahabat kami yang berambut pirang ini memang sangat tidak suka dengan hal yang bernama keributan dan akan melakukan apa pun untuk membela ketenangan. "Bagaimana kalau sabtu sepulang sekolah kita semua pergi ke taman yang tenang?"

"Boleh-boleh, siapa tahu aku bisa bertemu dengan prince-ku secara kebetulan," kataku setuju dengan usul gadis beriris hijau itu. Sosok Aramaki-senpai terbayang lagi, senyumanku pun mengembang.

Dapat kudengar banyak helaan nafas, aku memutuskan untuk melihat kedua sahabatku itu. Mereka langsung memalingkan wajah mereka dan melakukan aktivitas lain seperti menyelesaikan tugas dan melanjutkan cerita pendek miliknya. Kenapa mereka tidak bisa mengerti perasaanku? Himeka memang memiliki panggeran yang ia sukai, tapi dia terlihat biasa saja. Berbeda dengan Glace yang tergila-gila pada Anime dan meng-claim beberapa tokoh Anime sebagai pacarnya.

Hari yang kami tunggu pun tiba. Aku berlari cepat menuju rumah Glace karena taman yang akan kami kunjungi berada di dekat rumahnya. Aku dapat melihat beberapa orang gadis berkumpul di depan rumah yang cukup sederhana itu. Tenggorokanku tercekat saat seorang gadis berambut coklat melihat kearahku dengan tatapan tajam yang seakan menusuk tulangku.

"Lemonade Aquarellius, kamu tahu 'kan sekarang sudah jam berapa?" tanya Riri dengan suara rendahnya. Dia terlihat sangat kesal saat ini.

"Jam empat lewat sepuluh menit." Aku melihat jam tangan hijau yang selalu aku pakai kapan pun dan kembali menatap Riri. "Maaf aku terlambat, bagaimana kalau kita pergi sekarang?"

Sahabatku yang satu ini memang paling ketat soal waktu. Terlambat lebih dari tiga puluh menit dan kamu harus mengatakan selamat tinggal pada barangmu karena dia akan melemparkannya atau bahkan membuangnya.

Setelah berdebat cukup panjang dan dihentikan oleh Glace yang siap memukul kami, perjalanan kami pun dimulai. Suasana taman itu sangatlah tenang, sejuk, dan membuat pikiran tenang. Tidak ada seorang pun disana sampai mataku menangkap lembaran indah dari rambut hitam yang tak jauh dari tempatku berpijak.

"Aramaki-senpai..?" Aku tidak percaya apa yang mataku lihat saat ini. Pemuda berambut hitam, berkulit coklat dan berkacamata berdiri di depanku. "Aramaki Takumi-senpai?"

Mataku tidak mau terlepas dari sosok pemuda itu. Apa Tuhan menjawab doaku untuk bertemu dengannya hari ini dan di taman ini? "Loh, itu Aramaki-senpai, 'kan?" Setelah kuperhatikan dia baik-baik, ternyata dia sedang bersama dengan beberapa senpai yang juga kukenal. Kupalingkan wajahku untuk melihat Himeka, dia pasti sangat terkejut melihat siapa yang berdiri disamping Aramaki-senpai. Arai-senpai dan.. Zeruno Ryuuka-senpai, ya prince Himeka.

"Hey kalian." Suara itu membuatku kembali melihat ketiga pemuda itu, mereka berjalan kearah kami dengan semangat. "Apa yang sedang kalian lakukan disini?"

Salah satu dari sahabatku yang bernama Miku menjawab mereka. "Kami sedang berjalan-jalan untuk menghilangkan stress belajar. Senpai sendiri?"

Aramaki-senpai tersenyum padaku. Entah aku salah lihat atau bagaimana, yang jelas senyuman itu membuatku berbunga-bunga dan bisa melesat ke langit kapan saja. "Kami mau ke Game Center sebenarnya, tapi Ryuu bilang dia mau kesini sebentar. Kalian mau ikut?"

Dia menawariku atau lebih tepatnya kami semua untuk pergi bersamanya. Ya ampun, aku tidak mungkin menyianyiakan kesempatan ini, tapi bagaimana dengan sahabat-sahabatku ya? Himeka pasti mau ikut karena Zeruno-senpai ada disana, tapi Glace, Riri, dan Miku yang tidak tertarik dengan cowok itu? Aku menghela nafas lalu melihat mereka semua.

"Mungkin Nade dan Hime-chan mau ikut dengan senpai," kata Glace memberikan sebuah kedipan mata padaku. "Aku tidak berminat dengan tempat ramai dan kurasa Riri dan Miku juga tidak ingin ke Game Center."

Mataku berkaca-kaca saat mendengar perkataan Glace. Dia memang bisa selalu mengerti keadaan. "Baiklah, aku dan Himeka akan ikut dengan kalian," jawabku semangat. Himeka hanya mengangguk malu, dia tidak mungkin bisa melihat Zeruno-senpai secara langsung.

Kami berlima pun pergi dari taman itu menuju ke Game Center yang terletak cukup jauh dari sana. Himeka yang biasanya bawel hanya memilih untuk duduk diam di sebuah kursi dan membiarkan aku bersenang-senang dengan yang lainnya. Sesekali aku melihatnya dan merasa sangat kasihan dan merasa bersalah, tapi dia membalasku dengan senyumannya.

"Nade, kamu kenapa? Dari tadi kamu diem saja padahal aku sudah mengajakmu bermain permain yang cukup seru." Suara Aramaki-senpai menyadarkanku. "Kamu tidak suka bermain bersamaku?"

Aku kaget sampai tidak bisa mengatakan apa pun, kulihat Arai-senpai dan Zeruno-senpai bermain dengan asiknya di mesin di sebelah kami. "Bukan begitu, senpai. Hanya saja aku merasa bukan sahabat yang baik untuk Himeka. Di saat aku bersenang-senang dengan senpai dia hanya duduk sendirian disana."

Dia terlihat berpikir. "Hmm.. ternyata itu masalahnya. Ryuu, kamu bisa menemani Himeka bermain, 'kan? Aku rasa dia bosan karena tidak ada teman yang bisa menemaninya," katanya.

Pemuda berambut abu gelap itu pun mengangguk lalu berjalan mendekati Himeka. Wajah Himeka memerah saat Zeruno-senpai mendekat dan mengajaknya bermain. "Terima kasih ya, senpai."

Aramaki-senpai memberikanku senyuman manisnya lagi, aku menundukan kepalaku. "Oh ya! Nade," panggilnya, aku pun mengangkat wajahku untuk melihatnya. "Bagaimana kalau Sabtu depan kita pergi lagi, tapi kita berdua saja? Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu dan aku tidak bisa menyampaikannya sekarang."

Jantungku berdebar sangat kencang dan aku mencoba untuk terlihat biasa saja di depannya. "Sabtu depan ya? Hmm.. Baiklah, akan aku usahakan." Lalu aku melihat keluar jendela. Langit tampak cukup gelap sekarang dan sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. "Senpai, aku pulang ya? Sepertinya akan turun hujan."

"Kamu pulang bersama Himeka, 'kan? Hati-hati ya di jalan, maaf kami tidak bisa mengantar kalian karena rumah kami jauh," katanya merasa bersalah. "Ryuu, Himeka dan Nade sudah mau pulang."

Himeka dan Zeruno-senpai berhenti bermain dan Himeka mendekatiku, dia tampak sangat senang. "Terima kasih ya, senpai."

"Kalau begitu kami pulang duluan ya. Sampai nanti." Aku membungkuk sedikit sebagai salam lalu pergi bersama Himeka keluar dari Game Center. Setelah cukup jauh dari sana dia menghentikan langkahnya lalu membalik tubuhnya agar bisa berhadapan denganku yang berjalan dibelakangnya.

Dia tersenyum lebar. "Bagaimana?"

Hanya dengan pertanyaan itu, aku tahu apa yang Himeka maksudkan. "Menyenangkan! Dan Sabtu depan dia mengajakku untuk pergi bersama, dia bilang ada sesuatu yang ingin ia sampaikan padaku," jawabku bersemangat.

"Oh ya? Mungkin dia mau menyatakan perasaannya padamu!"

"Mungkin.. Yaaah, doakan saja."

Seminggu berlalu, akhirnya hari-hari yang kutunggu datang juga. Semalaman aku hampir tidak bisa tidur karena memikirkan perkataan Himeka. Ah, Aramaki-senpai tidak mungkin menyukaiku. Aku hanya seorang adik kelas yang sama sekali tidak menarik untuknya. Aku segera pulang ke rumah dan bersiap-siap karena sebentar lagi dia akan datang untuk menjemputku.

Setelah selesai mandi aku membuka pintu lemariku dan pilihanku jatuh pada sebuah terusan selutut manis berwarna strawberry. Lalu aku duduk di depan cermin meja riasku. Kuambil lip gloss berwarna pink soft dan memoleskannya di bibirku. Menggunakan bedak dan mengenakan bando berwarna pink tua. Aku tidak mau terlihat mencolok di depan Aramaki-senpai hari ini.

"Ini tidak berlebihan, 'kan?" Aku berdiri, tetap melihat pantulan diriku di cermin lalu berputar sekali. "Nade, hari ini kamu hanya akan menghabiskan waktu bersama Aramaki-senpai sebagai senpai dan kouhai bukan kencan dengannya."

"Nade, teman kamu sudah datang."

"Iya, ma."

Karena tidak sabar aku langsung berlari keluar dari kamarku lalu menuruni tangga dan menghampiri mamaku yang berada di dapur. "Ma, aku pergi dulu ya."

"Hati-hati ya, jangan pulang malam."

"Aku mengerti, ma."

Kulangkahkan kakiku menuju pintu rumahku lalu melirik keluar dari jendela di dekat pintu. Aramaki-senpai disana. Dia tampak keren dengan kaos putih polos, jaket hitam dan jeans biru. Bisa-bisa aku pingsan disini sebelum bertemu dengannya.

Kugelengkan kepalaku keras lalu kubetulkan bando yang hampir terlepas dari kepalaku. Kubuka pintu itu pelan dan Aramaki-senpai menyadarinya dan menatapku.

"Selamat pagi." Dia menyapaku dengan senyuman dan aku nyaris saja meleleh karena senyuman itu memberikanku semangat yang sangat luar biasa. "Kamu sudah siap untuk jalan-jalan?"

"Pagi, senpai. Aku sudah siap! Pakaianku tidak aneh 'kan, senpai?" Aku memutar tubuhku, memperlihatkan pakaianku padanya.

Dia tertawa melihat kelakuanku. "Tidak, kamu manis. Ayo kita pergi!"

Kami pun pergi menyusuri jalanan dan pergi ke sebuah toko es krim di pinggir jalan. Kami memesan es krim lalu duduk di meja paling depan agar dapat melihat pemandangan di luar toko dari jendela besar disana.

"Senpai, sebenarnya apa yang ingin senpai sampaikan padaku?" Tanyaku penasaran, kubersihkan es yang mulai mencair dan hampir mengenai jariku.

"Sabar saja, aku pasti akan memberitahumu, tapi tidak sekarang. Aku harus mempersiapkan diriku untuk itu." Dia tersenyum lembut padaku lalu menghabiskan es krim choco mint-nya.

Aduuuh itu benar-benar membuatku penasaran. Apa yang ingin ia sampaikan padaku sampai ia harus mempersiapkan dirinya? Ah sudahlah, sebentar lagi juga aku akan tahu apa yang akan ia sampaikan. Sekarang aku hanya perlu memfokuskan pikiran pada es krim chocolate-strawberry-vanila yang ada di tanganku.

Setelah sekian lama mengobrol dan bercanda. Prince-ku pun mengajakku ke sebuah taman. Bukan taman yang kemarin karena aku tidak ingin Glace melihatku. Dia pasti akan mengejekku karena aku mengenakan warna yang sangat amat dibencinya, merah muda.

"Nade, dengarkan baik-baik ya karena aku tidak akan mengulanginya lagi," ucapnya dengan wajah yang sangat serius. Dapat kurasakan jantungku mulai berdetak tak terkendali.

"Ya ampun, senpai, tidak usah membuatku penasaran begitu!" kataku tidak sabar.

"Se-sebenarnya..a-aku.."

"Iya, senpai kenapa?"

"A-aku..menyukaimu. Apa kamu ingin menjadi pacarku?" Suara senpai benar-benar pelan saat mengucapkan itu. Aku hampir saja tidak bisa mendengarkan suaranya. Aku terdiam untuk mencerna kalimat itu lalu terlonjak kaget setelah berhasil dan kembali mematung.

"Nade! Kenapa diam saja? Aku 'kan sudah mengerahkan segenap keberanianku untuk menyampaikan itu padamu." Dia mengguncangkan tubuhku kencang agar aku tersadar.

"Ahh.. ehm.. jadi pacar Senpai?"

"Iya, Nade. Kamu mau, 'kan?"

Aku mengangguk mantap. "Ya, terima kasih ya, senpai."

"Huff.. Baguslah, aku pikir kamu tidak menyukaiku dan akan menolakku."

"Ya sudah aku tolak saja."

"Yah Nade!"

"Haha.. iya-iya, aku mau kok. Aku hanya bercanda, senpai."

"Yes, berhasil. Terima kasih ya, Nade," katanya lalu dia langsung memelukku. Ya, ini benar-benar keajaiban buatku. Akhirnya mimpiku selama ini menjadi nyata! Aku harus segera memberitahu teman-temanku yang lain.

~End of Chapter 1~

.

.

A/N : Halo! Salam kenal semuanya! Aku Glace Aquarii yang baru berani mempost cerita buatan sendiri disini. Aku sendiri sebenarnya belum puas dengan karya ini karena aku pasti melakukan kesalahan-kesalahan. Ini karya keduaku dan teman-teman aku di cerita campuran kami dan chapter ini di buat oleh temanku yang bernama Himeka Yumikasa dan aku sedikit mengedit dengan ijinnya. Terima kasih sudah membaca cerita ini. Tolong bantuannya ya, senpai.