A/N : Hari ini saya langsung update dua chapter sekaligus dan ini dia chapter terakhri Dreams Comes True. Semoga kalian suka! Chapter ini dari sudut pandang Riri Hikari dan saya, Glace Aquarii, yang menulisnya. Jumat depan saya akan post cerita baru. Enjoy!


.

Chapter 5 : It's all about Riri

.


Hai, aku Riri Hikari. Anak kedua dari empat bersaudara keluarga Hikari. Aku bersekolah di Mamoru High. Bersahabat dengan empat orang yang bernama Glace Aquarii, Himeka Yumikasa, Miku Hatsune dan yang paling tidak penting Lemonade Aquarellius.

Jujur, sebenarnya aku iri sama mereka. Kenapa? Karena mereka mendapatkan cowok yang menurut mereka sempurna. Dalam sudut pandangku sih mereka tidak sempurna. Apa lagi pacar Nade yang bernama Takumi itu.

Impianku dalam waktu dekat ini adalah mempunyai pacar yang sempurna seperti yang ada di komik. Aku tahu itu mustahil, tapi itulah mimpiku. Aneh? Biarlah! Itu mimpi seorang Riri Hikari bukan mimpi kalian.

Aku yakin aku bisa menemukan cowok yang sempurna. Tidak seperti cowok yang sekarang berada di hadapanku ini. Tidak terlalu tinggi, otak pas-pasan, muka standart, dan kelakuan minus. Bukan sosok prince yang bisa di banggakan.

"Eh jelek."

"Apa, Kazuki Arashi?" Bentakku pada cowok yang menghalangi pandanganku ini.

"Minggir, aku mau lewat." Dia berdiri dengan santai di depanku. "Kamu tuh menghalangi jalan masuk."

"Kazu-chan, jangan ganggu Riri." Glace muncul dengan Himeka sambil melambai-lambaikan sebuah komik padaku. "Nih, komik baru."

"Woohoo, baru!" Aku langsung berlari meninggalkan Kazuki lalu menyambar komik yang berada di tangan Glace itu. Kudengar Kazuki mengutuk sambil memasuki kelas. "Ya ampuuuun, Kuze cakep banget sih!"

"Kenapa kamu tidak lihat yang ada di depan mata aja?" Tanya Kazuki lalu berjalan melewatiku begitu saja. Karena kesal aku pun meneriakinya.

"Biarkan saja!" teriakku kesal lalu dia hilang setelah melewati pintu kelas. Glace menepuk pundakku pelan.

"Mungkin dia masih kesal karena kamu tolak beberapa minggu yang lalu," kata Glace tenang lalu melepaskan tangannya dari pundakku untuk membalik halaman komik yang ia pegang.

Suatu hari pangeranku pasti datang. Aku yakin akan itu. "Eh, sepertinya akan ada murid baru deh," ucap Nade yang baru masuk ke kelas. "Katanya sih cakep."

"Ha? Di kelas siapa?" Tanyaku semangat.

"Hmm..ada dua orang yang masuk. Jadi di kelas kita satu dan kelas sebelah satu," jelas Nade dengan wajah berpikir.

Bel berbunyi tepat saat Miku memasuki kelas bersama Naruse-kun. Tidak lama setelah itu wali kelas kami masuk bersama cowok yang merupakan murid baru.

"Anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru lagi. Silahkan perkenalkan diri," ucap sang sensei lalu cowok itu maju beberapa langkah.

"Nama saya Seita Kuze. Mohon bantuannya." Cowok bernama Seita Kuze itu tersenyum sangat manis pada kami. Aku pun meleleh dibuatnya.

"Kamu duduk di depan Riri Hikari." Aku langsung mengangkat tangan saat namaku disebut dan bergumam kecil. "Lucky."

Dia berjalan ke arahku. "Mohon bantuannya ya, Hikari-san," ucapnya sebelum duduk.

Aku pasti akan rajin ke sekolah setiap hari kalau ada dia. Ya ampun, mimpi apa aku semalam sampai bisa bertemu dengan pangeran di sekolah.

"Riri Hikari." Seseorang berteriak tepat di telingaku. "Sudah bel! Sampai kapan kamu akan melamun sambil melihat bangku kosong di depanmu?"

Reflek aku langsung berdiri dan berlari keluar dari kelas untuk ke toilet. Kulihat Kuze berjalan dan memasuki kelas sebelah. Karena penasaran pun aku berhenti di pintu kelas itu untuk melihat apa yang akan ia lakukan.

"Seitaaa.. Kok kamu lama?" Seorang cewek cantik berambut coklat sepunggung memeluk manja lengan kanan Kuze. "Aku sampai bosan menunggumu."

"Aku 'kan di kelas sebelah, Shana." Seita tersenyum pada gadis itu. Apa dia pacarnya? Aku langsung berlari ke toilet karena shock yang kurasakan. Ternyata pangeranku sudah menjadi milik orang. Apa aku menyukainya? Tapi kan.. Aku baru saja bertemu dengannya. Aku harus bertanya pada Glace dan yang lainnya. Aku pun melangkahkan kaki ke kelas setelah keluar dari toilet.

"Glace," panggilku. Tapi tampaknya Glace sedang sibuk dengan telepon genggamnya. "Hari ini? Bisa. Kamu mau ketemu sama mama? Ha? Serius?"

Pasti dia sedang berbicara dengan pacarnya yang berbeda sekolah itu. Karena Glace tidak bisa di ganggu, aku pun pergi untuk mencari sahabatku yang lainnya. Aku mengintip ke kelas sebelah. Kelas dari Zeruno-senpai dan Aramaki-senpai. Tapi Hime dan Nade juga terlihat sibuk. Sasaran selanjutnya putri keluarga Hatsune. Setelah mengelilingi sekolah sebanyak enam kali dan melihatnya di kantin bersama Naruse-kun, aku pun mengurungkan niat dan kembali ke kelas.

"Ada apa, Princess Riri-ku tercinta?" Tanya Glace saat aku masuk ke kelas dan duduk di kursiku yang tepat berada di sebelahnya. "Lagi sedih? Siapa yang berani membuat Riri-ku sedih? Beri tahu aku."

"Tidak kok. Aku hanya ingin ngobrol dengan kalian, tapi kalian semua sibuk tadi."

"Pulang sekolah. Taman dekat rumah."

Sebenarnya sih aku tidak mengerti apa yang fangirl Saint Seiya ini maksud, tapi aku ikuti saja dia dari pada semua gunung berapi meletus. "Hizu, maaf ya, tapi aku ga bisa ketemuan nih hari ini. Itu tuh sahabat aku lagi ada masalah. Nanti aku ganti kok. Oke? Makasih, Hizu. Kamu baik deh. Bye!"

Setelah pulang sekolah kami semua pun berkumpul di taman untuk mendiskusikan tentang masalahku. Aku senang deh punya sahabat yang baik dan manis kaya permen. Mereka sampai batalin janji sama cowok mereka hanya demi seorang Riri Hikari. Walaupun satu dari antara mereka tidak rela dengan hal itu.

"Pokoknya kamu harus bayar ya, Glace! Dia itu mengajakku jalan hari ini setelah sekian lama! Eh kamu malah maksa aku buat dateng kesini! Jahat!" Oceh Nade tidak senang.

Glace sendiri menutup telinganya dengan kedua tangan dan menyanyikan sebuah lagu. Hal itu jelas membuat Nade makin kesal dan siap menerkamnya.

"Glace!"

"Ehh! Amankan dia! Amankan!" Teriak Himeka shock. Aku dan Miku pun segera menangkan singa yang lepas itu.. Tapi Glace sendiri masih asik menyanyikan lagu kesukaanya. Setelah dia di hajar massa, dia pun sadar.

"Baiklah, mari kita mulai rapat kita siang hari ini," ucap Glace serius. "Silahkan ceritakan masalah anda, Riri."

Aku pun menceritakan semuanya pada mereka. "Pacarnya? Wajar sih soalnya dia itu cakep," ucap Nade sambil membersihkan kuku-kuku jari tangannya.

"Kamu yakin?" Tanya Himeka curiga.

"Tidak sih, tapi kelihatannya seperti itu," ucapku lirih.

"Detective Miku dan Toru siap bekerja, boss." Tiba-tiba Miku berteriak. Karena shock pun kami tidak bisa berbicara. "Sudahkan? Aku pulang ya." Lalu dia berlari pergi.

"Dia kenapa?" Glace-lah yang pertama kali mendapatkan suaranya kembali.

"Kita lihat saja besok. Dia pasti lupa," ucap Nade.

Kami pun segera pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah aku segera masuk ke kamar dan merebahkan tubuhku di atas kasur berukuran Queen itu. "Apa benar aku menyukainya? Coba pikir tanda-tanda jatuh cinta," ucapku pada diri sendiri lalu mengambil handphone-ku dan membuka folder saved message.

"Selalu nyari dia, ingin ketemu terus, kalau lihat dia jadi berdebar, senyum tidak jelas dan selalu mikirin dia." Aku membaca sms yang sudah kusimpan selama beberapa bulan dari Glace. "Ja.. Jadi.. A.. Aku.. SUKA SAMA DIA?" Aku berteriak.

~Dreams Comes True~

"Pagi." Aku menyapa temanku yang berada di kelas, tapi tidak ada jawaban dari mereka. "Oh! Lagi pada asik sama handphone-nya nih."

Aku mengambil hp mereka satu persatu lalu memasukannya ke dalam sebuah kantong plastik yang ada di mejaku. Dan ekspresi mereka semua sama. "Riri balikin hpnya!"

"Aku sita hp kalian sampai pulang," jawabku acuh tak acuh. Dapat kulihat Miku dan Glace tampak sangat amat kecewa dengan ini.

"Kenapa? Hari ini kan Toru tidak masuk karena sakit perut," ucap Miku memelas, tapi hal itu tidak bisa membuatku, Riri Hikari, meleleh.

"Hizu 'kan beda sekolah dan cara aku keep in touch sama dia itu hanya melalui handphone." Glace ikut memelas.

"Sudahlah, Glace. Riri 'kan keras kepala."

"Hei kalian semua," sapa Zeruno-senpai yang memasuki kelas bersama dengan Aramaki-senpai. Himeka dan Nade pun segera menghampiri mereka. "Besok kita mengadakan pesta untuk memperdalam hubungan. Kalian ikut, 'kan?"

"Pesta? Dress? Tidak. Terima kasih," tolak Glace tegas. Dia memang tidak pernah mau mengenakan dress apa lagi berada di tengah keramaian. Alasan lainnya pasti karena tidak ada Hyoga dan dia bisa diganggu sama cowok lain. Hyoga juga tidak mungkin mengijinkan Glace pergi tanpa dirinya. Cowok posesif satu itu memang keterlaluan.

"Kita yang kamu maksud itu siapa?" Tanya Himeka curiga. "Eits, jangan curiga gitu dong, Hime. Kita itu aku sama Takumi. Acaranya di rumah aku. Kalian bebas undang siapa aja dan itu GRATIS!" Zeruno-senpai memamerkan ibu jarinya pada kami semua.

"Beneran? Kalau begitu aku bisa ajak Hizu. Jam berapa?" Tanya Glace yang tiba-tiba langsung semangat.

"Jam enam sore."

"Tadi tidak mau, sekarang semangat." Aku menyikut Glace pelan dan dia hanya memperlihatkan deretan giginya padaku.

~Dreams Comes True~

Sudah kuduga aku akan berakhir sendirian dan menjadi bunga tembok malam ini. Percuma saja Nade mendandaniku habis-habisan sore tadi. Kita juga di minta mengenakan topeng hingga wajah kita tidak terlihat. Tiba-tiba saja seorang pemuda berambut coklat yang cukup familiar mendekatiku.

"Maukah kamu berdansa denganku?" Aku menerima uluran tangannya itu dan kami pun masuk ke dance floor. Kami berdansa sampai beberapa lagu habis di putar. Sekarang semuanya berdiri di depan panggung untuk mendengar pengumuman dari sang pemilik pesta.

"Baiklah, King dan Queen Ball malam ini adalah... Riri Hikari dan pangerannya! Silahkan maju."

Aku menaiki tangga panggung bersama cowok yang aku tidak tahu siapa.

"Sekarang semua topeng sudah boleh di lepas," ucap Zeruno-senpai dan semuanya membuka topengnya termasuk aku.

"Aku Riri Hikari. Kamu siapa?" Kulihat cowok itu melepas topengnya. Betapa shocknya aku saat kulihat wajahnya.

"Ini aku, Seita Kuze." Dia tersenyum padaku.

"Nah, Queen of the Ball. Apa yang ingin kamu sampaikan pada kami semua? Bagaimana perasaan kamu setelah terpilih menjadi Queen of the Ball?" Tanya Himeka.

"A.. Aku ga bisa bilang apa-apa." Karena terlalu gugup aku pun menolak microphone yang di sodorkan padaku.

"Kalau begitu bagaimana dengan Anda, King of the Ball?"

"Saya sangat senang bisa berada disini apa lagi terpilih menjadi King of the Ball. Ada satu hal yang ingin saya sampaikan pada Riri Hikari." Dia menatap mataku. "Aku menyukaimu semenjak pertama kali kita bertemu. Maukah kamu menjadi pacarku, Riri Hikari?"

Semuanya kaget dan terdiam akibat pernyataan cinta di depan umum ini. "Bu.. Bukannya kamu sudah punya pacar?" Tanyaku bingung.

"Belum." Dia menggeleng.

"Mana mungkin cowok sesempurna kamu seperti yang ada di komik belum punya pacar!" Teriakku tidak percaya.

"Aku tidak mempunyai pacar dan tidak sempurna," bantahnya.

"Lalu siapa Shana?"

"Hahahahahahaha!" Sebuah tawa keras terdengar dari tengah ruangan itu dan dapat dilihat seorang gadis menutup mulutnya karena malu. "Ups! Lebih baik kamu jelaskan padanya, Seita-nii."

"Seita-nii?"

"Umm.. Sebenarnya Shana itu adik tiriku," jawab Kuze seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"A.. Apa? APA?" Aku benar-benar shock. Apa lagi saat teman-temanku menjulurkan lidahnya. "Ternyata! Kalian!"

"Jadi bagaimana jawaban Anda, Queen of the Ball?" Tanya Kuze. Membuatku menatapnya.

"Ya, aku mau."

~Dreams Comes True~

Dulu kami tidak percaya kalau impian kami bisa menjadi keyataan. Ya memang sih ini hanya sebagian kecil dari impian kami yang begitu besar, tapi itu membuktikan kalau kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan dan impikan.

"Do your best and always have hope that your dreams will come true."

.

.

The end