A/N : Halo, ini fic dalam sudut pandang Glace Aquarii, Original Characterku, untuk sahabatnya, Riri Hikari. Hope you like it!

My Fear


Aku terduduk dalam diam di atas tempat tidurku karena rasa takut kembali menghantuiku. Kupejamkan kedua mataku agar bisa merasa lebih tenang, tapi bayangan akan masa laluku terlihat dan berjalan seperti film dokumenter di kepalaku.

Senyuman terlukis di wajahku saat aku teringat akan pembicaraanku yang pertama dengan orang yang sekarang menjadi sahabatku. Semua berjalan dengan cepat, tidak butuh waktu yang lama untuk bisa dekat dan bersahabat dengannya.

Kenangan itu digantikan dengan kenangan lain yang cukup menyakitkan, dimana aku harus memilih antara orang yang telah menjadi sahabatku sejak kelas satu SMP dan dua orang yang baru saja masuk kedalam hidupku. Senyumanku pun sirna.

Bagiku, mereka semua begitu penting dan sangat berarti. Tapi, kenapa dia tidak ingin menerima keputusanku dan memutuskan untuk pergi meninggalkanku. Apa persahabatan kami selama ini tidak memiliki arti apapun?

Sejak saat itu, aku berteman dengan kedua orang yang membuat sahabatku pergi. Pada awalnya, aku merasa senang karena bagiku kami selalu bisa bermain bersama tanpa memaksakan kehendak masing-masing. Tapi, lama-kelamaan aku merasa tersisih. Persahabatan dengan tiga orang di dalamnya memang akan selalu menyisakan satu orang sendirian.

Kusimpan rasa sakit itu sendirian, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Aku berharap banyak saat dua orang teman sekelas kami bergabung, tapi lagi-lagi aku terjatuh, terluka karena hal yang sama. Aku tersisih. Aku sempat menyesal atas apa yang terjadi padaku. Membuatku bertanya.. Apa itu persahabatan?

Semua ini bukan salah mereka. Ini semua karena keyakinanku sendiri. Rasa percaya pada pemikiran kalau aku memang tidak boleh memiliki sahabat. Kalau aku memiliki sahabat, mereka pasti hanya akan bertahan sebentar.

Tak jarang, aku bertindak ceroboh. Membuat orang di sekelilingku merasa tidak nyaman. Aku berlaku bodoh dengan terlalu mencampuri urusan pribadinya hanya karena rasa takutku. Rasa takut kalau dia akan meninggalkanku, rasa takut kalau orang yang berada di dekatnya akan membawa dampak buruk, dan mengubahnya. Saat itulah, terjadi pertengkaran pertama kami.

Semuanya terasa sangat berat, air mata terus berjatuhan, dan tanpa kusadari, aku mulai menyalahkan diriku sendiri dan orang lain yang kuyakini sebagai sumber dari semua masalah ini. Masalah ini membuatku yakin kalau ini adalah akhir dari persahabatan kami.

Perlahan satu demi satu masalah berhasil kami selesaikan dan aku memutuskan untuk menutup diri dan menjauh dari urusan pribadi mereka. Lebih baik kalau aku bisa menghilang dari kehidupan mereka.

Setahun kemudian, keyakinan bahwa persahabatanku hanya akan bertahan satu tahun mulai menghilang. Dia masih disana, berada di dekatku dalam keadaan senang maupun sulit, memberikanku semangat untuk terus berjalan maju walau mungkin ia tidak menyadari hal itu.

Aku senang, sangat senang, tapi bukan berarti rasa takutku hilang begitu saja tanpa bekas. Rasa takut itu muncul..bahkan lebih menakutkan dari sebelumnya. Aku tidak ingin dia pergi meninggalkanku sama seperti apa yang kulakukan pada sahabatku dulu, tapi aku tetap diam. Terus memberikan senyuman pada orang yang kutuduh akan mengambilnya. Kenapa? Karena aku tidak ingin dia berpikir kalau aku ini egois.

Terkadang terpikir olehku untuk menyerah, melepasnya, membiarkan dia pergi, membiarkan dia bertemu dan bersahabat dengan yang lain karena aku bukanlah orang yang pantas untuk menjadi sahabatnya. Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuknya dan malah menyusahkannya dengan sifat-sifat burukku.

Ada banyak orang diluar sana yang lebih baik, lebih layak untuk menjadi sahabatnya. Orang yang bisa jauh mengerti tentang perasaannya daripada aku. Itu yang aku rasakan, tapi aku tidak bisa mengatakannya.. Takut, takut, dan takut. Apa hanya hal itu yang aku tahu?

.

Kuhapus air mata yang membasahi wajahku. "You won't leave me, will you?" gumamku pelan.


Fin~