A/N : Halo! Ternyata saya bisa post hari ini. Mungkin akan di update tiap minggu.. Hope you like it! Jangan lupa reviewnya ya.


.

Chapter 1 : How It's Started

.


Pada suatu hari di sekolah Mamoru High, terlihat sekelompok remaja berkumpul mengelilingi sebuah meja.

"Hei, Bagaimana kalau kita kencan berlima?" Tanya Nade membuka pembicaraan siang itu di sekolahan sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.

"Boleh! Tapi kapan, kemana, naik apa, pergi jam berapa, pulang jam berapa?" Tanya Riri detail. Dia sendiri tidak keberatan, tapi kalau masalah pergi seperti ini ia harus memberitahu kedua orang tuanya secara detail.

"Kenapa gak sekalian kita bawa uang berapa?" Tanya Himeka.

"Udah-udah. Bentar lagi 'kan libur, jadi hari itu saja. Tanya sama cowok-cowok kalian dulu bisa apa tidak," kata Nade menenangkan Riri yang memanas.

"Oke!"

Lima menit kemudian wali kelas pun masuk ke dalam kelas mereka. Setelah memberi salam pada sang sensei, mereka semua duduk dan di kejutkan oleh seorang murid baru.

"Di pagi hari yang cerah ini, kita kedatangan teman baru yang merupakan murid program pertukaran pelajar. Silahkan perkenalkan dirimu pada teman-teman sekelasmu yang baru," perintah sang sensei pada murid baru yang seorang gadis itu. Rambutnya berwarna pink tua sepunggung, matanya sewarna peach.

"Namaku Kara Kizawa, kalian bisa panggil aku Kara. Aku dari Graud High, mohon bantuannya." Gadis itu membungkuk hormat sebelum berdiri tegak lagi.

"Graud High? Sekolah ternama yang paling elit itu?"

"Baiklah, kamu duduk di sebelah Hikari-san," kata sensei. Riri mengangkat tangannya lalu Kara pun menghampirinya dan duduk. "Kita mulai pelajaran kita hari ini."

Selama pelajaran berlangsung, Kara selalu mengganggu Riri. Entah itu bertanya tentang pelajaran, teman-temannya dan lain sebagainya. Hal itu tentu saja membuat si gadis berambut coklat kesal. Dia pun menumpahkan kekesalannya pada sang sahabat saat istirahat pagi.

"Sebel! Aku kesel, Glace! Dia itu berisik dan ingin tahu urusan orang!" Teriak Riri kepada Glace yang baru saja membuka kotak makannya.

Gadis pirang itu pun menutup telinganya dengan kedua tangannya. Miku hanya bisa tertawa melihat kelakuan kedua orang itu.

"Himeka dan Nade lama ya ambil makanannya." Miku melihat keluar kelas untuk mencari mereka lalu menghela napas. "Mereka sama Zeruno-senpai dan Aramaki-senpai tuh."

Nade dan Himeka pun masuk dengan pacar mereka kedalam kelas. Nade tertawa lalu mendekati Riri.

"Kenapa sih, Ri? Kelihatannya lagi emosi banget nih," godanya.

"Itu tuh! Si Kizawa! Nanya-nanya terus. Dari hal yang penting sampai yang bener-bener tidak penting!" Teriak Riri kesal.

"Udahlah, Ri. Kamu harus bisa sabar menghadapi dia," kata Himeka mencoba menenangkan dan dia teringat sesuatu yang cukup penting. "Besok 'kan kita mau pergi ngedate."

"Taku pasti bisa, 'kan?" Tanya Nade yakin pada pacarnya itu.

"Siapa yang bilang bisa?" Tanya Takumi balik. Dia tertawa senang lalu menatap sahabatnya, Ryuuka. "Kamu juga bisa, 'kan?"

"Besok ya? Bisa kok," jawabnya. "Apa sih yang tidak bisa buat Hime?"

"Ah, kamu bisa aja deh," balas Himeka dengan wajah memerah karena malu dan senang. Sementara mereka berempat bercanda, Riri dan Miku segera mencari pacar mereka, sedangkan Glace meneleponnya.

"Bagimana, Glace? Kizuno bisa ikut, 'kan?" Tanya Nade semangat saat Glace memutuskan hubungan teleponnya.

"Hizu pasti bisa kok. Dia kan akan melakukan apa pun untuk Princess Glace-nya tercinta," jawab Glace manis. Tidak lama kemudian Riri dan Miku masuk bersama Seita dan Toru.

"Kalian bagaimana?"

"Siap!"

Pelajaran di mulai kembali sepuluh menit kemudian. Lagi-lagi Riri di terror oleh rasa keingintahuan Kara yang sangat amat besar. Dan dia sangat bersyukur saat bel tanda pelajaran selesai berbunyi.

"Akhirnya pulang juga! Satu jam lagi aku duduk di sebelah dia, aku bisa mati," ucap Riri kesal, tapi sepertinya bukan hanya dia yang merasa kesal saat itu. Aura-aura tidak enak dan bahkan aura pembunuh keluar dari tubuh sahabatnya.

"Komik baruku.." Himeka menangisi komiknya yang terlihat robek disana sini akibat ia pinjamkan pada Kara. Dia meminjamkannya secara terpaksa sih.

Berbeda dengan Glace yang mengeluarkan aura pembunuh yang kuat. "Lihat saja novel aku jadi kotor seperti ini! Aku baru baca sekali dan ini dari Hizu! Di bilang tidak boleh ya tidak boleh!" Teriaknya kesal, apalagi saat dia mengingat adegan tarik menarik antara dirinya dan Kara.

Miku menatap lantai dibawahnya sedih. "Tadi dia pinjam pen aku dan sekarang dia tidak mengembalikannya dengan alasan hilang entah kemana," katanya.

"Emang sumber masalah tuh anak!" Teriak Nade tidak suka dan tiba-tiba saja orang yang di maksud menabraknya hingga ia nyaris jatuh. "Eh! Bisa bilang kata maaf, 'kan?"

"Sudah-sudah, kalian tenang saja, oke?" Akhirnya Riri yang bertugas menenangkan mereka semua padahal dia lah yang pertama kali kesal pada gadis itu.

"Glace, kita pulang sekarang, yuk!" Hyoga yang muncul dari balik gerbang sekolah langsung menghampiri Glace. "Kamu kenapa? Kayanya lagi tidak mood di ajak bercanda nih."

"Hizuuuuuu, novel yang kamu beliin waktu itu jadi kotor karena Kizawa mau merebutnya dariku," kata Glace, matanya berkaca-kaca saat itu. Hal itu tentu membuat Prince-nya agak naik darah.

"Apa? Bagaimana bisa?"

Takumi, Ryuuka, Toru, dan Seita datang mendekati mereka dan melihat ekspresi masing-masing pacar. Mereka pun di ceritakan tentang kekesalan para pacar mereka.

"Apa? Dia menabrak kamu dan tidak minta maaf?" Tanya Takumi agak kesal. "Dia tidak tahu apa pacarnya Nade siapa?"

"Apa? Komik baru kamu di robek sama dia? Bener-bener deh tuh orang!" Ucap Ryuuka tak kalah kesal.

"Pen couple kita di hilangin sama dia? Oh my! Kenapa dia seperti itu?" Teriak Toru yang biasanya sabar dan memaafkan siapa saja yang melakukan kesalahan padanya, tapi karena ini menyangkut Miku, sifat sabarnya pun menghilang.

"Dia ganggu kamu? Siapa namanya tadi?" Tanya Seita yang tidak mengikuti pelajaran pertama karena ia harus meminta ijin untuk mengikuti lomba di ruang guru. Dia juga tidak melihat ada perubahan di kelas karena dia sibuk memperhatikan pelajaran dan Riri padahal Kara ada tepat di sebelah pacarnya itu.

"Kara. Kara Kizawa," jawab Riri malas. Dia tidak ingin mengingat-ingat kejadian itu.

"Kara.. Kizawa? Kok rasanya tidak asing ya? Hmm..mungkin hanya perasaanku saja," gumam Seita pelan.

Semua cowok pun kesal mendengar cerita-cerita itu. Dan keesokkan harinya, saat mereka sedang ngedate di mall, Miku di kejutkan dengan sosok Kara yang juga berada dalam mall itu.

"Itukan Kizawa!" Miku menarik-narik lengan Toru untuk memperlihatkan Kara yang tak jauh dari tempat mereka berdiri saat itu. Dia sedang memperhatikan pameran keramik berwarna-warni karya anak-anak di panti asuhan.

"Iya, itu Kizawa yang sekelas sama kita itu, Sei!" Riri pun melakukan hal yang sama seperti Miku.

"Eh, kalian!" Kara melihat mereka lalu berjalan mendekat. "Boleh ikut?"

"Aduuh.. Males banget deh," batin Riri. Kara yang menyadari wajah Riri berubah menjadi tidak enak pun mendekatinya.

"Kenapa, Hikari-san? Ada yang salah?" Tanyanya polos lalu melihat pemuda yang ada di samping Riri. "Loh! Seita!"

"Ka-Kara?"

Riri hanya bisa melihat pacarnya dengan tatapan kaget. Dia juga melihat ekspresi yang sama dari Kara. Tidak ada yang bersuara saat itu dan satu pertanyaan di kepala Riri yang tidak bisa ia lontarkan saat itu. Seita mengenal Kara? Bagaimana bisa?

To be continue...