Langit, Awan dan Hujan © 2013

An original fiction by Amacchi (MizuRaiNa)

.

Seorang gadis bersurai hitam sepinggang itu mengentakkan kakinya dengan kesal di sepanjang koridor sekolah. Wajahnya begitu kusut. Gerutuan tak jelas terus keluar dari bibir tipisnya.

Pandangan matanya tertuju lurus pada tangga yang menghubungkan ke atap sekolah.

"Menyebalkan! Gara-gara dia tadi aku memimpin rapat OSIS yang menjenuhkan itu! Tak akan kubiarkan dia menghindar dari persetujuan proposal-proposal dari tiap ekstrakulikuler!" gumamnya pelan.

Ya. Seharusnya bukan gadis itu yang mengurusi rapat OSIS. Ada seseorang yang memiliki jabatan lebih tinggi darinya yang mempunyai tanggung jawab mengenai tugas itu—ketua OSIS. Sedangkan dirinya hanyalah pendampingnya, atau biasa dikatakan wakil ketua OSIS.

Ia berdecak sebal lalu membuka pintu atap dengan dan membantingnya dengan cukup keras.

"Hei Abdurrahman Putra!" seru gadis itu. Ia meletakkan kedua tangan di pinggangnya.

Tak ada sahutan.

Lelaki yang sedang terbaring santai dengan tangan menyangga kepalanya itu tak bergerak sedikitpun. Seperti ia tak mendengar gertakan sebal dari arah pintu.

Si Gadis perlahan menghampiri si Lelaki. Entah karena apa kemarahannya mulai mereda. Kedua tangannya ia letakkan kembali di samping. Ia menatap lekat ekspresi yang dilukiskan si Lelaki di wajahnya. Sungguh tenang dan damai. Ia menggerak-gerakkan tangan kanannya di depan wajah si Lelaki untuk memastikan apakah dia memang tertidur.

Ia menghela napas panjang.

"Hhh... rupanya dia tertidur di sini," keluhnya pelan.

Ia berjongkok di samping kepala lelaki itu. Manik miliknya bergulir menatap seraut wajah yang sudah tak asing baginya. Tanpa sadar, sudut-sudut bibirnya melengkung ke atas.

Sejujurnya, ia sangat suka melihat sosok lelaki itu. Melihat wajahnya, senyumnya, bahkan tingkah lakunya yang seringkali menjengkelkan dirinya. Ia merasa damai dan tenang saat berada di dekatnya. Seperti saat ini, penglihatannya tak bisa lepas dari sosok itu.

"Kau tak usah menatapku terus." Sebuah suara yang berasal dari lelaki yang sedang terlentang itu sontak membuat si Gadis terkejut. Bola matanya sedikit melebar menyadari lelaki itu mulai membuka kelopak matanya. Ia terempas ke belakang dan menutup mulutnya. Semburat merah langsung saja menghiasi pipi putih miliknya.

"Ti-tidak! Aku tak menatapmu kok!" jawabnya dengan terbata-bata. Sungguh jawaban yang meragukan. Lelaki itu hanya tersenyum samar dan mengubah posisinya sehingga terduduk.

-oOo-

Lelaki itu membaringkan dirinya di atap sekolah. Kedua telapak tangannya menyangga kepalanya sehingga arah pandangnya tertuju lurus pada langit.

Ya. Ia sangat suka langit. Hanya dengan melihatnya dapat mengubah suasana hatinya. Seolah-olah semua beban yang ada di benaknya ketika melihat birunya langit. Pandangannya kini mengarah pada awan-awan stratus yang berarak. Dalam penglihatannya awan tersebut berkolaborasi dengan awan komulus, sehingga membentuk seraut wajah yang terkadang mengusik pikirannya.

Ia mendesah berat lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain—berusaha menghindari gumpalan-gumpalan putih itu. Sayang. Langit saat ini berawan dan hampir sepenuhnya tertutupi awan.

Angin berembus menggelitik wajahnya. Ia begitu menikmatinya. Perlahan, kelopak matanya terpejam.

"Lebih baik seperti ini," gumamnya nyaris tak terdengar.

Sosok itu dapat menghilang dari pandangannya—melalui awan itu—namun kini bayangannya melekat di pikirannya.

Untuk menetralisir pikiran, ia menenangkan dirinya agar terlelap. Ia memang seringkali tertidur di sini—atau lebih tepatnya sengaja tidur di sini. Ah ya, tapi seharusnya saat ini ia tidak boleh berada di sini. Ia seharusnya memimpin sebuah rapat OSIS saat jam istirahat.

Menit demi menit berlalu. Jam istirahat tak terasa ia habiskan tertidur di atap sekolah. Derap langkah kaki seseorang yang sedang menaiki tangga mengusik tidurnya. Ia mengembuskan napas panjang. Ia tahu. Ia sudah bisa menebak siapa orang yang menaiki tangga itu.

'Pasti dia,' pikirnya.

Ia acuh dan tetap memejamkan matanya saat pintu atap di buka dengan cukup keras.

"Hei Abdurrahman Putra!" seru seseorang di depan pintu atap. Dari nada bicaranya ia dapat memastikan bahwa orang itu dalam keadaan marah. Tapi lelaki itu hanya diam, seolah-olah sedang tertidur pulas.

Orang tadi—yang baru saja memasuki atap—menghampirinya dengan berkacak pinggang. Ia berjongkok dan menatap sekilas lelaki yang ada di hadapannya. Helaan napas panjang ia embuskan.

"Hhh... rupanya dia tertidur di sini," ucap gadis itu dengan sedikit nada keluhan.

Beberapa menit telah berlalu. Namun lelaki tadi tak juga mendeteksi gerak-gerik gadis tadi ke luar atap. Ia tak juga mendengar suara melengking gadis tadi. Ia heran. Akhirnya ia berasumsi bahwa gadis itu masih berada di sini—menatapnya.

"Kau tak usah menatapku terus," ucapnya dengan nada datar. Perlahan kelopak matanya terbuka untuk memastikan kebenaran apa yang baru diucapkannya.

Reaksi gadis itu ialah sedikit terjungkal ke belakang sembari menutup mulutnya. Di pipinya jelas sekali menampakkan semburat merah.

"Ti-tidak! Aku tak menatapmu kok!" bantah gadis itu. Lelaki itu hanya tersenyum samar dan mendudukkan dirinya.

"Mau apa kau ke sini?" tanya lelaki yang biasa dipanggil Abe.

Ditanya seperti itu, seakan-akan menyadarkan si Gadis dengan tujuan awal ia datang ke sini.

"Mau apa? Bisa-bisanya kau melupakan rapat OSIS yang seharusnya kau pimpin itu!" cerocosnya dengan menatap tajam iris hitam pekat Abe.

"Ya ya ya," tanggapnya tak acuh. Ia sudah sering mendengar ocehan gadis ini. Bosan, tentu. Tapi dibalik rasa bosan itu ia menyukai suara melengking yang bahkan sering membuat telinganya panas.

"Geez, susah bicara denganmu. Tapi nanti siang kau jangan lupa untuk menangani proposal-proposal dari tiap ekstrakulikuler!"

"Ya." Lagi-lagi jawaban singkat yang ia lontarkan.

Ghea—nama gadis itu—hendak berdiri. Ia rasa telah selesai berada di sini. Jam pelajaran keempat pun mungkin telah dimulai. Namun pergelangan tangannya dicengkram oleh jemari si Lelaki.

"Mau ke mana? Jam pelajaran sudah dimulai sepuluh menit lalu. Kau ingin datang terlambat, eh?"

Ghea menatap Abe dengan sebuah tanda tanya. Ia tak mengerti maksud dari ucapan lelaki itu beberapa detik lalu.

'Memangnya kenapa?' batin Ghea bertanya-tanya. Melihat ekspresi seperti itu, Abe mendengus.

"Kau lupa siapa yang mengajar? Pak Darma!" paparnya.

Aha, Ghea mengerti. Guru kimia itu memang—terlalu—killer. Selalu on time dan jika ada murid telat sedikit saja langsung dihukum. Dia tak mau tahu alasan keterlambatan murid-muridnya. Sekarang? Sudah sepuluh menit berlalu.

Ghea menepuk dahinya. "Kenapa aku bisa lupa kalau sekarang pelajaran Pak Darma? Ugh, tadi-tadi aku langsung ke kelas saja."

Abe melepaskan cengkramannya dan membaringkan dirinya seperti semula.

"Sudahlah. Daripada dihukum lebih baik di sini," ujar Abe. Ghea menatap lelaki itu yang mulai menutup matanya.

"Kau mau tidur lagi?" tanya Ghea. Ia sedikit penasaran dengan Abe yang sering sekali tidur di atap.

"Ya. Kecuali jika langit sedang cerah."

Bola matanya sontak menengadah. Ia melihat langit yang dihiasi dengan gumpalan-gumpalan putih yang disukainya.

"Lebih bagus seperti ini. Aku suka melihat awan-awan yang berarak," tanggap gadis itu. Ia ikut membaringkan dirinya di samping Abe.

"Aku tidak suka awan. Langit lebih indah," ucap Abe tanpa membuka kelopak matanya.

Ghea melirik sekilas ke arah Abe lalu kembali menatap awan-awan komulus yang berwarna kelabu.

'Langit ya... terlalu tinggi. Entah di mana ujungnya dan sulit untuk kugapai. Seperti dirimu.'

Ia memejamkan matanya dan menikmati angin yang berembus.


-oOo-


Jarum-jarum hujan berjatuhan dari awan komulus yang hitam merata. Gadis itu berdiri dengan bersandarkan pada tiang penyangga ruang OSIS. Telapak tangannya terulur untuk merasakan jarum-jarum hujan.

Ia menikmati tetesan-tetesan air itu. Ya, ia suka hujan. Banyak kenangan manis yang tersimpan di memorinya saat hujan. Salah satunya ketika ia masih siswa di tahun pertama. Saat ia kali pertama bertemu dengan lelaki itu.

Senyuman terukir di sudut-sudut bibirnya. Ia menyadari sebuah perasaan terus berkembang di dalam dirinya tanpa bisa ia cegah. Sudah lama ia merasakan perasaan ini.

Telapak tangannya masih terulur saking terhanyut dengan kenangan bersamanya. Hingga ia terkejut dengan sebuah pakaian tersampir di pundaknya.

"Pakailah. Kau pasti kedinginan."

Wajahnya merona menyadari suara baritone itu begitu dekat dengan telinganya. Ia memegang pakaian—yang ternyata sebuah jaket—yang tersampir di pundaknya lalu membalikkan tubuhnya. Ia mendapati Abe yang tengah menampakan senyum tipisnya. Sungguh jarang sekali Abe tersenyum seperti itu.

Dengan gelagapan, Ghea berkata, "M-makasih."

Abe tak menjawab. Ia berjongkok di samping gadis itu.

"Sama-sama. Kau mau menunggu di sini?" tanyanya. Ghea ikut berjongkok.

"Ya. Aku tak ingin menerobos hujan deras."

Pandangan mereka berdua tertuju lurus, menatap rinai-rinai hujan yang menari tertiup angin.

"Ghe... aku ingin menanyakan sesuatu." Ekspresi Abe tiba-tiba berubah—sedikit muram.

"A-apa? Tanyakan saja."

Abe tampak ragu. Ia mengembuskan napas panjang.

"Bagaimana reaksimu jika teman masa kecilmu menyukaimu? Apa yang akan kau lakukan?"

Gadis itu terdiam sejenak.

"Tentu saja aku senang. Sangat senang malah. Kalau bisa, aku ingin membalas perasaannya."

"Seperti itu?"

"Ya. Bukankah kesempatan itu jarang sekali datang dua kali? Aku tak ingin menyia-nyiakan perasaannya."

Hening. Abe tak menanggapi.

"Kemarin Citra bilang menyukaiku."

Hati Ghea seakan tertusuk ribuan jarum. Sakit dan perih. Ia tak menyangka gadis yang termasuk salah satu sahabatnya itu menyatakan perasaannya pada Abe. Ia mendesah berat dan menggigit bibirnya.

"Bagus bukan? Sudah kuduga ia memang menyukaimu. Dia itu suka sekali memerhatikanmu. Menurutku, kalian juga cocok." Ironi sekali. Jelas-jelas apa yang diucapkannya bertentangan dengan isi hatinya.

"..."

Rinai-rinai hujan mulai menipis. Hujan tak lagi sederas tadi.

"Ah Abe. Aku harus pulang. Terima kasih jaketnya. Semoga sukses ya!" Ghea mengulurkan jaket pada Abe. Ia tersenyum—palsu—dan membalikkan tubuhnya.

Abe masih terdiam.

Ghea meninggalkan Abe dan bulir-bulir bening berjatuhan dari matanya. Ia menyeka air matanya yang mengalir.

'Kau memang sulit untuk kugapai Abe... Ah, seharusnya aku senang. Kenapa hatiku sangat kontradiksi dengan apa yang seharusnya kulakukan? Mulai sekarang, aku harus berusaha mengubur rasa ini...'

Baru kali ini gadis itu memiliki kenangan pahit ketika hujan.


-oOo-


Abe masih terdiam tak berkutik. Ia terduduk lemas. Reaksi Ghea yang seperti itu tak pernah ia sangka sebelumnya. Ternyata dugaannya salah. Ia pikir Ghea menyukainya dan tak akan mendukung keputusan untuk menerima sahabat kecilnya itu.

Erangan kecil keluar dari bibirnya. Tangannya mengacak-acak rambut hitam legam miliknya. Frustrasi. Hatinya seakan terkoyak oleh pisau tajam. Perasaannya selama ini... hanya bertepuk sebelah tangan?

Ia berdiri dan menatap hujan gerimis.

'Aku tidak suka hujan. Hujan datang tanpa permisi. Seperti pertemuan pertama kita yang tak pernah kuduga dan perasaan terhadapmu yang entah kapan datangnya.'

Abe memakai jaket miliknya. Harum. Aroma gadis itu masih tertinggal dan menguar membaui indra penciumannya. Ia tersenyum miris.

'Mungkin aku harus melakukan seperti yang kau sarankan...'

Ia melangkah pergi dengan dada yang terasa sesak.


_The End_


Hohoho, saya datang lagi nihh~~ hehe

Seperti biasa, romance lagiii~ XD

Emm, maaf ya blm smua ripiu yg masuk saya balas. Habisnya gak sempet. Ntar jg dibales kok~ Pokoknya saya seneeng banget baca review-review dari kalian. Jadi, jgn bosen buat review fic saya ya~ hehe :3

Regards,

Amacchi