A/N : Hai! Kali ini aku menulis cerita one-shot lainnya. Temanya tentang persahabatan… Aku harap kalian akan suka cerita ini meskipun bertema persahabatan. Yah… aku tahu, tema ini memang membosankan… Tapi… aku membuat cerita ini untuk temanku yang paling berharga. Aku merasa bersalah padanya… Aku berpikir bahwa dia tidak akan memaafkanku (#hopeless). Tapi aku masih menunggunya, aku harap dia mau mengerti…

Dan untuk jawaban dari permintaan maafku ada di cerita ini…

_0_0_0_0_0_0_0_

CAN YOU FORGIVE ME? © MonstrelyPisces

_0_0_0_0_0_0_0_

Dipersembahkan Untuk

"Benedicta Febdiana Clarista"

.

.

.

"Maaf ya! Aku gak bisa bareng kalian lagi…"

"Loh? Kenapa Mon? Kamu jadi pindah kota?" Aku hanya dapat menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Putri.

"Lalu kenapa?" sambung Vio, sahabat sekaligus sepupuku.

"Hmh… aku merasa semakin jauh dengan kalian. Ditambah lagi kita tidak sekelas…"

"Kok gitu sih?! Emang kita kenapa?" protes Putri.

"Sudahlah… tak usah dibahas lagi. Nanti kalian pun akan mengerti."

.

.

.

Hmhhm… mungkin sejak saat itu, aku tak pernah lagi berbicara bahkan menyapa mereka. Sebenarnya aku merasa kesepian tanpa sahabat-sahabatku. Well, kami bersahabat berenam. Ada aku, Vio, Putri, Tasya, Cornelia, dan Titi. Kami sering sekali melewati masa-masa menyenangkan bersama, benar-benar sahabat yang tak tergantikan. Tapi karena kami berenam, kami tak bisa terlalu akrab satu sama lain. Malah terkadang kami terpisah menjadi dua kelompok. Aku bersama Vio dan Putri, sedangkan Tasya bersama Cornelia dan Titi. Maka dari itu aku tidak terlalu akrab (seperti yang tadi kubilang) dengan Tasya, Cornelia, dan Titi.

Di kelas 8 ini aku sekelas dengan Titi, tapi Titi itu paling cuek dari antara kami berenam. Aku khawatir akan merasa kesepian dan tersendiri. Untung saja ada Nathan, Hansen, dan Anggara, teman cowok yang sering sekali sekelas denganku, orangnya jahil dan norak. Hmm, dan sebenarnya ada Mona juga sih, temanku yang walaupun menyebalkan karena suka meniru style-ku, berisik dan yah… begitulah, tapi baik dan perhatian pada temannya.

Hari-hariku di awal kelas 8 ini kujalani dengan arah tak tentu. Aku benar-benar merasa sedih dan kesepian. Yah… mungkin aku yang salah karena meninggalkan mereka. Tapi aku sungguh tidak tahan dengan persahabatan yang menyesakkan dada ini. Bayangkan saja jika sahabat kalian mendadak cuek dan tidak peduli pada kalian. Lalu bayangkan sahabat kalian membicarakan kalian dan memaki-maki kalian, dan mereka melakukannya di belakangku, hanya ketika aku tidak ada! Di depanku mereka bersikap manis sekali, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ditambah aku tak dapat mengungkapkan perasaanku, aku tak dapat marah pula. Well, mau bagaimana lagi? Nasi telah menjadi bubur, semua tak dapat diulang kembali.

Hampir setiap malam kulewati dengan menangisi persahabatanku ini. Ya, saat itu aku benar-benar kehilangan diriku sendiri. Diriku yang selalu bersemangat, pantang menyerah, dan sabar. Aku menjadi stress, dan tentu saja sedih. Aku terus merasa seperti itu sampai pada suatu hari…

"Monic!"

"Ya?"

Siapa dia? Aku tahu dia teman sekelasku, tapi aku tidak tahu namanya. Aku memang tidak mudah bergaul. Tapi sejak aku berpisah dengan Vio dan Putri sifatku berubah. Aku mulai jahil bahkan sangat jahil pada teman-temanku. Sehingga teman-teman yang lain merasa dekat padaku.

"Kamu pulangnya lewat jalan ke bawah, yang turun ke SD?" tanyanya sedikit ragu.

"Iya. Kenapa memang?"

"Bareng ya!" pintanya sambil tersenyum.

"Ya!" Dan kami pun berjalan bersama ke SD.

Selama perjalanan kami mengobrol dengan asiknya. Kami tidak sadar bahwa kami semakin akrab dan dekat. Sejak hari itu kami selalu menghabiskan waktu bersama. Banyak dari teman kami yang menganggap kami bersahabatan, tapi sebenarnya tidak. Atau mungkin belum… Well, sebenarnya aku terlalu takut untuk menganggapnya sebagai sahabat. Aku takut dikhianati seperti saat bersama Vio dan Putri. Tapi lama kelamaan aku mulai percaya pada Rista. Ya, namanya Rista. Aku mulai percaya akan kebaikan, keramahan, dan kesungguhan Rista. Aku pun mulai menganggapnya sebagai sahabatku. Entah apa dia menganggap demikian pula atau tidak? Kalau pun tidak, aku cukup bahagia dianggapnya teman.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Banyak waktu telah kulewati dengan kebahagiaan dari sahabat baru. Kami melewati waktu berdua dengan bersenda gurau, melakukan hal-hal yang kami sukai bersama-sama, bermain bersama… Waktu berlalu begitu cepat. Sekarang kami berada di kelas 9. Memang sih kami berbeda kelas, tapi kami tetap bersama. Di kelas 9 ini kami bergabung kembali dengan Tasya, Cornelia, dan Titi. Tinggal satu tahun lagi dan kami akan masuk ke jenjang yang lebih tinggi, SMA. Entah apakah persahabatan kita akan berlanjut atau berhenti? Biarlah waktu yang menjawab pertanyaan ini. Tapi aku yakin kami berlima akan terus bersama. Dan untungnya kami semua akan memasuki SMA yang sama. Hanya saja… Titi masih bingung akan masuk SMA yang sama dengan kami atau SMA yang lainnya. Tapi tentu saja hal ini tak akan membuat perpecahan di antara kami.

Enam bulan pun berlalu… Kami telah menerima nilai akhir kami selama satu semester lalu. Nilai-nilai kami tidak terlalu buruk dan mungkin boleh dibanggakan. Tapi aku merasa aneh dengan Rista pada hari pembagian rapot. Dia begitu cuek padaku dan tampak seperti tidak peduli padaku. Aku takut kejadian terdahulu saat bersama Vio dan Putri terulang lagi. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak tahu. Aku hanya dapat berdiam diri dengan perasaan yang tercampur aduk berbagai macam emosi. Marah, sedih, dan takut. Itulah emosi-emosi yang sedang berkecamuk dalam hatiku. Dan akhirnya aku pulang begitu saja dengan perasaan yang masih tak karuan.

Liburan yang menyenangkan pun terlewati. Kami memasuki semester baru, dimana banyak ujian telah menanti kami, murid-murid kelas 9. Kami tidak bisa bermain-main lagi. Oh ya! Sebelum kami menghadapi banyak ujian, kami akan mengikuti retret untuk mempersiapkan pikiran, mental, dan hati kami. Dan kami akan dibagi menjadi tiga gelombang. Hari ini adalah hari pembagian gelombang diumumkan. Kira-kira aku akan segelombang dengan siapa saja ya? Aku pun bergegas untuk melihat pengumuman gelombang retret yang baru saja ditempel di mading. Saat kulihat, aku segelombang dengan Tasya, Cornelia, Titi, dan teman-teman lainnya yang menurutku asik di gelombang tiga. Mungkin kami cukup beruntung, tapi sayangnya Rista ada di gelombang dua. Aku jadi merasa bersalah padanya. Aku ingat beberapa hari lalu…

.

.

.

"Tuhan, hari senin nanti akan ada pengumuman tentang pembagian gelombang retret. Aku mohon padaMu… Semoga aku segelombang dengan Tasya, Cornelia, dan Titi, sisanya kuserahkan padaMu. Amin."

.

.

.

Well, aku tidak menyebut nama Rista karena aku masih kesal padanya. Yah itu memang doa sih… Dan belum tentu terkabul. Tapi lain bagiku. Setiap doaku, terutama yang buruk, akan terjadi. Terbukti kan?

Aku pun bercerita tentang doa itu pada Rista lalu meminta maaf. Dia memaafkanku. Tapi aku ragu… Aku yakin dia masih menyimpan rasa kesal padaku. Apa yang harus kulakukan? Aku benar-benar merasa bersalah… Berkali-kali aku meminta maaf dan dia hanya menjawab 'Tak apa'. Jawaban itulah yang membuatku merasa semakin bersalah. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.

Pada malam harinya aku bertekad untuk meminta maaf dengan cara yang khusus agar Rista mau memaafkanku. Dan aku membuat sebuah cerita yang kupersembahkan khusus kepadanya. Dalam waktu semalam, aku telah selesai membuat cerita tersebut. Hmmh, sebenarnya belum selesai juga sihh… Aku tidak menyelesaikan ending-nya. Aku hanya menulis 'SAD ENDING / HAPPY ENDING? That's all up to you.'

Keesokan harinya, tepatnya hari Selasa pagi, aku memberikan cerita itu pada Rista.

"Ris, ini buat kamu. Jangan ada yang baca selain kamu ya!"

"Memangnya ini apa Mon?"

"Nanti kamu baca saja ya!" jawabku sambil tersenyum misterius. Bagaimana pendapatnya saat membaca cerita itu ya? Apa dia akan benar-benar secara tulus memaafkanku? Atau akan tetap marah?

Dan pada saat jam istirahat di perpustakaan, dia membaca cerita itu. Selagi dia membaca aku hanya bisa mengobrol dengan Tasya, Cornelia, dan Titi, tentunya dengan perasaan yang masih was-was. Lalu…

"Monic!"

"Hmm…" Aku berjalan perlahan ke arahnya.

"So, can you forgive me sincerely?" tanyaku setelah sampai di sisinya.

"Ihh aku jadi malu!" dia pun memelukku. Well, jadi dia telah memaafkanku. Aku bisa menyelesaikan cerita itu sekarang. Dan aku dapat menyelesaikannya dengan happy ending. Sepertinya persahabatan kami akan terus berlanjut sampai selama-lamanya.

THE END

A/N : Bagaimana? Mungkin alurnya kecepatan ya? Ini karena aku membuatnya dalam semalam dan memberikan padanya keesokan harinya (seperti yang di dalam cerita). Dan cerita ini hanya berupa curahan perasaan saja -.-V

Oh ya! Nama-nama yang kupakai adalah nama asli… Aku tidak mau ada kebohongan dalam cerita ini. So, aku memakai nama asli. Seperti yang kalian baca, aku benar-benar memberikan cerita ini tanpa ending kepada Rista. Lalu setelah dia selesai membaca dia berkata, "Monic! Aku jadi malu nihh… Aku bener-bener maafin kamu kok!"

Hmmm… Aku tidak tahu apakah persahabatan kami berlima akan terus berlanjut atau tidak. Tapi aku berharap persahabatan ini akan berlangsung selama-lamanya. (Amin.)

Saat aku sedih karena ulah Vio dan Putri aku mendengarkan lagu Smile Like Monalisa buatannya All4one. Lagu ini benar-benar cocok untukku yang sedang merasa sedih. Coba deh kalian dengar…

Review this story (heart letter) if you don't mind… :D