Secret Admirer © 2013

An original fiction by Amacchi

.

"Coba ya kalau misalnya tinggi aku tuh segini," ucap salah satu temanku saat kami bertiga menuju perpustakaan. Ia berjalan di atas tanah—yang telah di paving blok—yang tinggi dan lebarnya kira-kira sepuluh senti.

"Ngayal kamu Gin!" ujarku sembari sedikit terkekeh dan menyenggol lengan atasnya. Sesaat keseimbangannya goyah namun tak sampai terjatuh.

"Eh...," gumamnya pelan. Ia yang hampir terjatuh karena ulahku kembali menegakkan tubuhnya. Ia meloncat kecil dan berjalan di samping Tiwi—teman di samping kananku—.

"Haha, biarin. Aku kan pengen setinggi Iwi." Tangan kirinya terangkat ke atas untuk mengukur tinggi Tiwi.

Tiwi terkekeh dan aku hanya tersenyum kecil. Ah, tak terasa kami bertiga tinggal beberapa langkah lagi mendekati beranda perpus. Kami membuka sepatu dan disimpan di sebuah rak yang telah disediakan.

Aku lebih dulu masuk—karena aku lebih cepat membuka sepatu—dan menghampiri meja absen siswa-siswi yang mengunjungi perpustakaan. Aku mengambil bolpoin yang telah disediakan. Aku sedikit membungkukkan tubuhku untuk menuliskan namaku.

"Aku tulisin ya Naz," seru Gina di sela-sela aku yang masih menulis namaku. Langsung saja aku menuliskan nama Gina.

"Aku juga," ujar Tiwi. Mereka berdua berlalu entah kemana. Aku hanya mengangguk dan menuliskan nama Tiwi lalu menulis kelas di samping nama yang kutuliskan. Kelas XI IPA 1.

Yap, selesai juga. Aku memutar tubuhku. Bola mataku seketika mendapati kedua temanku itu sedang mencari kartu perpustakaan mereka di loker-loker kecil yang letakya hanya beberapa langkah dari tempatku. Aku menghampiri mereka.

"Lihat kartuku gak?" tanyaku. Aku menarik loker bertuliskan IPA 1 tersebut dan tidak mendapati satu lembar kartu pun. Sepertinya telah ditarik keluar semua oleh Tiwi dan Gina. Pantas saja, di kedua tangan mereka memegang kartu-kartu pinjaman buku kelas XI IPA 1.

"Hm... nih!" ucap Tiwi sembari menyerahkan kartu perpustakaan yang berwarna kuning itu padaku. Gina menyimpan kembali kartu-kartu tersebut.

Aku mengambil kartuku dengan segera dan menunggu Tiwi menaruh kembali kartu-kartu yang masih ada di tangannya.

"Yuk!" ajakku sambil menggamit lengan mereka berdua. Kami berjalan beriringan. Tapi kemudian Gina dan Tiwi hendak mengembalikan buku yang mereka pinjam. Aku sih hari-hari kemarin gak minjam buku apapun. Jadi aku duluan menghampiri rak-rak buku di sebelah kiri yang berkategori novel. Aku pikir, pasti beberapa novel dikembalikan di waktu menjelang istirahat seperti sekarang ini.

Bola mataku membaca buku-buku yang berderet cukup rapi. Sesekali aku menarik keluar sebuah buku yang menurutku menarik. Kemudian mengamati cover depannya dan membalikkan buku tersebut agar aku dapat membaca rentetan kalimat sinopsisnya. Jika sinopsis tersebut tak sesuai kriteria buku yang hendak kubaca, langsung saja kukembalikan ke tempat semula.

Aku menggerutu pelan saat aku tak satupun menemukan buku novel yang pas. Aku mencari-cari keberadaan Gina dan Tiwi.

Aha, aku menemukan mereka. Tiwi sedang membaca buku dan Gina masih mencari buku di balik rak buku tempatku saat ini.

Aku menepuk pelan pundak Gina.

"Kamu dapet buku yang bagus gak?" tanyaku. Ia mengembalikan buku yang tadi ia ambil lalu menatap ke arahku.

"Belum. Kamu?"

"Sama. Gak ada yang menarik sih," jawabku. Ia mengangguk pelan. Detik kemudian ia kembali memilih-milih buku. Sedangkan aku sendiri berlalu dari hadapannya, menghampiri Tiwi.

Langkah kakiku terarah pada kursi-kursi yang mengelilingi meja persegi panjang yang berukuran besar dan lebar. Aku mendapati beberapa orang yang duduk di sana. Termasuk Tiwi yang duduk manis seorang diri sembari membaca sebuah buku.

Tanpa meminta izin padanya, aku menarik sebuah kursi di sampingnya dan menjatuhkan pantatku di atas kursi itu.

"Iwi, baca buku apa?" tanyaku. Aku melirik sekilas judul buku yang ia perlihatkan. Sebuah buku syair yang cukup tebal. Males aku baca yang begituan, hehe. Bahasanya terlalu rumit, sukar kupahami.

Aku duduk tanpa mengerjakan hal apapun. Well, habisnya aku gak nemu buku novel yang menarik. Ada sih yang menarik. Tapi banyak yang sudah kubaca.

Telapak tangan kiriku menopang dagu. Saat ini aku merasa sangat membosankan. Sempat terpikir olehku untuk mengajak ngobrol Tiwi. Tapi ini kan di perpustakaan. Always keep silent. Bisa-bisa kami kena teguran manis—alias sinis—dari salah satu Ibu penjaga perpus. Lagipula, ia tampak serius membacanya.

Aku mengembungkan pipiku. Paling tidak saat ini aku masih bisa adem-ayem di sini. Mengingat di kebisingan dan udara di sana cukup membuat gerah.

Pandanganku mengedar ke seluruh penjuru ruangan. Iseng-iseng, aku mengamati siswa-siswi di sini. Aku dapati beberapa siswi sedang mengerjakan tugas, mengutak-atik laptop, memilih-milih buku, ada juga yang menggunakan komputer perpustakaan.

Entah mengapa, pandangan mataku terus tertuju pada sesosok lelaki yang tengah memilih-milih di sebelah kanan yang posisinya hanya beberapa langkah dariku. Rak-rak buku di sebelah kanan memuat kategori buku-buku pendidikan, bahasa, eksak dan pelajaran. Sepertinya ia berada di bagian buku-buku eksak.

Aku memerhatikan pakaian yang ia kenakan. Seragam batik. Berarti dia masih duduk di kelas sepuluh, setiap hari kamis 'kan kelas sebelas dan kelas dua belas memakai seragam puti abu, pikirku. Bola mataku beralih pada wajahnya—memerhatikan ekspresinya. Ia tampak serius. Sesekali alisnya saling bertautan. Mungkin itu ekspresinya saat mendapatkan buku yang belum pernah ia baca.

Hm... memerhatikan ekspresinya ketika memilih buku membuatku teringat akan diriku sendiri. Bagaimana ekspresiku ya saat memilih-milih buku?

"Ke kantin yuk!" ajak Gina tiba-tiba. Ia sukses membuyarkan pikiranku dan kutolehkan kepala ke arahnya yang mengambil tempat duduk di samping kiri Tiwi.

"Yuk!" tanggap Tiwi.

Gina dan Tiwi menatapku. Aku menggeleng pelan.

"Aku nggak ikut deh. Kalian aja."

"Duluan ya Naz," ucap Gina dan Tiwi hampir berbarengan.

"Iya," jawabku.

Mereka berdua melangkah pergi ke pintu keluar. Aku melihat ke arah mereka sampai mereka menghilang dari pandanganku.

Setelah kepergian mereka dari perpus, aku mengarahkan pandanganku pada jajaran buku eksak. Tapi kali ini aku tak menemukan sosok lelaki tadi. Kemana ya? Aku menghela napas dan melempar pandanganku secara asal ke siswa-siswi yang sedang duduk di meja yang sama denganku. Seketika seulas senyum tipis terukir di sudut bibirku saat aku menemukan lelaki berseragam batik itu.

Ah, ternyata dia sedang baca buku. Dia tampak—sangat serius. Telapak tanganku menopang dagu dan arah pandanganku tertuju ke arahnya.

Tanpa sadar aku terus melirik lelaki itu hingga seseorang menggeser bangku di sebelahku.

"Hayo... lagi ngelamunin apa?" Aku sedikit tersentak dan menoleh pada siswi—karena aku tahu itu suara perempuan—yang duduk di samping kiriku.

"Eh Cicil, nggak ngelamunin apa-apa kok," sanggahku sembari menampakkan deretan gigi putihku. Ia hanya tertawa geli.

"Terserah kamu aja deh. Tumben nih gak baca buku. Biasanya kamu 'kan kalau di perpus selalu berkutat dengan sebuah buku," ucapnya panjang lebar.

Aku menggaruk pipiku yang tak gatal.

"Hehe, lagi males aja," tanggapku.

"Oh ya sudah. Aku mau cari buku dulu yaa~" pamitnya. Ia berdiri, menggeserkan kursi yang tadi didudukinya kembali seperti semula lalu pergi mencari buku.

Aku terdiam sesaat. Memutar kembali ucapan Cicil tadi. Memang baru kali ini pikiranku melayang entah ke mana dengan pandangan mengarah pada lelaki itu. Apa yang terjadi padaku?

Sudahlah. Lebih baik aku segera mencari buku untuk mengalihkan perhatianku. Jam istirahat beberapa menit lagi akan berakhir.

Aku mencari-cari buku di bagian buku eksak. Tak lama, aku menemukan sebuah buku dengan judul 'Ilmu Kebumian dan Antariksa'. Menarik juga untuk dipelajari. Minggu kemarin 'kan aku memilih intrakurikuler OSN astronomi.

Aku mengambil buku tersebut lalu mengambil kartu pinjamanku yang tertinggal di meja tempat aku duduk tadi. Aku meminjam buku itu kemudian kembali ke kelas.

-oOo-

Esoknya, aku pergi ke perpus lagi seorang diri dan kembali menemukan sosok lelaki yang kemarin sempat menyita perhatianku. Aku bersikap acuh dan mengambil tempat duduk yang berhadapan dengannya namun tidak tegak lurus—membentuk sudut lancip. Aku tak mau duduk terlalu dekat dengannya. Sempat beradu pandang dengan bola matanya saja membuat debar jantungku semakin cepat.

Untuk mengalihkan perhatian—aku tak mau seperti kemarin yang hanya memerhatikannya tanpa berbuat apapun—dengan membaca buku yang kemarin kupinjam. Tapi tetap saja. Sesekali aku mencri pandang ke arahnya. Hh... sepertinya aku tak bisa berkonsentrasi penuh jika ada dia.

Hari berganti. Pelajaran pertama di hari sabtu adalah pelajaran fisika. Salah satu pelajaran yang aku suka—itu juga karena gurunya menerangkan dengan baik dan sedikit humoris namun juga tegas.

Pak Tegum—panggilan guru fisika itu yang nama aslinya Tedi Gumelar—mengajari kami menghitung gaya sebuah satelit. Selang beberapa menit dia memberikan soal dari buku paket dan siswa-siswi mengerjakannya, termasuk aku.

Ketika aku masih menghitung jarak antara sebuah satelit dan planet yang di orbitnya, Pak Tegum menghampiri mejaku.

"Nazma, nanti siang OSN astronomi. Kumpul di ruang wakasek," kata Pak Tegum. Aku berhenti menghitung dan segera menjawabnya.

"Iya Pak."

"Yang di IPA 1 cuma Nazma saja ya. Yang lainnya di IPA 3. Tinggal kasih tahu Puzie sama Becky," ujar Pak Tegum. Tangannya merogoh saku celananya untuk mengeluarkan ponsel lalu mengetikkan sebuah sms. Memberitahu Puzie sama Becky mungkin.

Pak Tegum melangkah pergi lalu keluar kelas.

-oOo-

Seperti yang dikatakan Pak Tegum, aku menuju ruang wakasek setelah pulang sekolah. Yah, telat sepuluh menit sih. Soalnya tadi aku ngerjain dulu tugas bahasa Indonesia yang dikumpulin sekarang.

Aku mempercepat langkahku. Tinggal beberapa meter lagi ruang wakasek dari auditorium.

Sampai juga. Aku membuka pintu ruangan itu. Langsung saja iris mataku berpendar mencari Pak Tegum. Aha, di sana. Puzie dan Becky sudah duduk di sofa-sofa yang berada di sudut ruangan ini.

"Maaf Pak, telat." Aku tersenyum dan mengambil sebuah tempat duduk yang satu-satunya masih kosong.

"Sekarang semuanya sudah hadir. Walaupun yang berminat dengan intrakurikuler ini hanya lima orang, tapi Bapak dengar dari guru-guru tentang kalian bahwa prestasi kalian bagus di kelas saat semester kemarin. Sama juga dengan Septian yang ketika SMP pernah memenangkan OSN fisika se-Jawa Barat."

Aku mengangguk kecil. Mendengar perkataan Pak Tegum barusan, mengingatkanku pada dua orang yang memakai seragam pramuka yang juga hadir di sini. Tadi aku tak sempat melihat wajahnya. Seorang perempuan dan seorang laki-laki. Yang perempuan aku tak mengenalnya lalu aku melirik yang lelaki.

Deg!

Dia... ternyata dia juga mengikuti intrakurikuler ini. Dan... apa tadi? Dia memenangkan OSN fisika?

Aku berdecak kagum—namun ekspresiku terlihat datar. Belum sempat aku mengalihkan pandangan ke arah lain, pandangannya mengarah ke arahku. Pandanganku dengannya sesaat bertubrukan. Seketika area pipiku terasa menghangat. Segera mungkin aku mengalihkan pandanganku ke Pak Tegum yang mengambil sebuah buku.

"Sekarang isi dulu absensinya." Pak Tegum memberikan buku tadi—yang ternyata buku absensi—pada dia.

Buku absensi terus berjalan hingga berada di tanganku. Sebelum aku menuliskan namaku, aku membaca sekilas nama lengkapnya. Septian Yudhistira Mahavikri. Nama yang bagus, inner-ku tiba-tiba. Aku menuliskan namaku lalu menyerahkannya pada Pak Tegum.

Selanjutnya, Pak Tegum hanya memberikan kami fotokopi materi dan soal-soal astronomi. Setelah itu kami pulang. Aku pulang bersama Puzie. Kebetulan kami searah. Jadi naik angkutan umum yang sama.

Saat berjalan di lobi, Puzie memulai sebuah pembicaraan.

"Septian itu udah cakep, pinter lagi."

"Iya," tanggapku singkat. Aku tersenyum.

"Kepengen deh punya pacar kayak dia."

Senyumanku sedikit memudar.

"Pacarin aja dia. Kamu 'kan juga cantik Zie," ucapku. Sedikit rasa perih kurasakan dalam hatiku.

"Huh, dia udah punya pacar. Males aku kalo ngerebut pacar orang."

"Oh." Entahlah. Aku tak tahu apalagi yang harus kuucapkan. Hatiku semakin mencelos.

Tak terasa kami telah sampai di gerbang sekolah. Sebuah angkot berhenti di depan kami. Puzie lebih dulu masuk disusul denganku. Aku duduk di samping Puzie. Ia mengutak-atik ponselnya sedangkan aku terhanyut dengan pikiranku.

Jadi... dia sudah memiliki pacar?

Ah, kenapa aku jadi sedih begini sih? Memangnya siapa aku? Apa yang aku harapkan?

Aku mengembuskan napas panjang. Berusaha menjernihkan pikiran.

Sudahlah. Aku jangan mengharapkannya. Lagipula banyak yang harus kuraih. Dia terlalu sulit. Aku cukup menjadi pengagum rahasianya. Ya, cukup seperti itu.


~END~


Majalengka, 1st March 2013