Masalah Cinta © 2013

An original fiction by Amacchi

.

Aku membuka halaman seratus delapan puluh dua pada buku paket fisika. Di sana terdapat tiga butir soal tentang titik berat. Tugas untuk besok.

Buku catatan fisika aku ambil dari tas gendong hitam yang tersampir di kursi yang kududuki. Aku mengambil pulpen dari tempat pinsil yang tergeletak di dekat buku paket. Iris mataku membaca rentetan kalimat soal itu. Baru saja aku selesai membaca soal nomor satu, suara ketukan dari luar pintu kamarku mengusik perhatianku.

"Masuk. Gak dikunci kok," ucapku. Aku memutar kepalaku pada arah pintu masuk yang membelakangi meja belajarku.

Perlahan pintu kamarku dibuka, sehingga aku melihat seorang gadis dengan pakaian tidur biru muda. Adikku satu-satunya.

Raut wajahnya sedikit kusut. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.

"Tumben nih ke sini," kataku saat ia mendudukkan dirinya di atas kasurku yang jaraknya hanya dua meter dari meja belajarku. Pulpen yang kupegang kuletakkan di tengah-tengah buku paket fisika.

Ia menatapku sekilas. Aku menyunggingkan seulas senyum.

"Kak Reza, boleh nanya gak?"

Aku menautkan alisku. Sejak kapan dia mau bertanya saja meminta izin? Biasanya 'kan kalau ada soal yang tak bisa dikerjakannya dia langsung memberikan bukunya padaku.

"Tanyakan saja. Kakakmu ini pasti bisa mengerjakan soal sesulit apapun—" Tapi tunggu, dia ke sini tak membawa buku satu pun. Aku menatapnya dengan tatapan heran.

"—lho? Mana bukunya?" Aku menggaruk pipiku yang tak gatal.

Ia tampak ragu-ragu.

"Err, Kak, aku bukan nanya tentang pelajaran."

Aku terheran-heran sebentar kemudian mengangguk.

"Gak papa, tanyakan aja." Cengiran tersungging di bibirku. Tak biasanya adik perempuanku bersikap seperti ini.

"Itu... Kakak pernah ngerasa cinta sama seseorang gak?" tanyanya malu-malu. Ingin sekali aku tertawa keras mengingat adikku itu setiap harinya selalu berkutat dengan buku-buku tebalnya.

"Tentu pernah dong. Malahan banyak yang kakak cintai. Ibu, Ayah, Kakek, Nenek, Pam—"

Belum selesai aku menyebutkan semuanya, Resti memotongnya dengan nada sedikit jengkel.

"Ah Kakak, maksudku bukan ituuu. Suka sama lawan jenis lho~" Ia sedikit mengerucutkan bibirnya. Semakin membuatnya bertambah lucu dan menggemaskan.

"Hayo hayooo~ kamu lagi suka sama seseorang kan~ siapa dia? Orangnya gimana? Lebih ganteng daripada kakak gak?" godaku. Detik selanjutnya aku langsung mendapatkan 'bantal melayang' dari Resti.

Untung saja aku bisa menangkapnya dengan sigap.

"Dari tadi Kakak gak nyambung. Ditanya malah balik nanya. Gak jadi deh nanyanya."

Aku terkekeh geli.

"Iya deh iya. Maaf. Tadi kamu nanya apa?"

"Tuh kaaan... tau ah!"

"Oh, Kakak ingat. Perempuan yang Kakak ehm, cintai ya? Hm... ada sih. Cuma Kakak belum pernah nyatain perasaan Kakak."

Aku menatapnya dan mendapati ekspresinya yang menyiratkan penasaran.

"Kenapa?" tanyanya. Kerutan dengan jelas tampak di dahinya.

"Yah, palingan juga cuma cinta sesaat. Atau cuma kagum. Orang bilang mungkin cuma cinta monyet."

Resti manggut-manggut. Kedua telapak tangannya menekan kasur dan kedua kakinya ia ayunkan pelan.

"Kakak juga gak mau ada perempuan yang dendam gara-gara Kakak putusin. Apalagi kalo dendamnya sampai mau bunuh Kakak."

Aku mengarahkan telapak tanganku pada leher seperti memeragakan memenggal leherku. Ia bergidik ngeri dan kakinya berhenti mengayun.

"Kakak imajinasinya terlalu tinggi. Orang psikopat kali yang dendam langsung maen bunuh," tanggapnya. Aku hanya tertawa. Lalu ia mengajukan sebuah pertanyaan lagi.

"Terus kalo ada yang suka atau cinta sama Kakak?"

Aku memamerkan cengiran lebar.

"Wah, kalau ini udah gak kehitung jumlahnya." Sebelum ada bantal melayang lagi, buru-buru aku mencegahnya. "kali ini jangan lempari kakak sama bantal lho!" seruku sembari mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf 'v'.

Ia yang hendak mengambil bantal urung gara-gara ucapanku barusan.

"Wuuuu... kakak narsis ih. Punya tampang segitu aja pedenya gak ketulungan."

"Kakak 'kan emang ganteng. Fans kakak banyaak banget. Loker kakak di sekolah tiap hari ada aja surat atau coklat."

"Beneran, aku gak nanya! Wee." Ia menjulurkan lidahnya. Gantian aku yang cemberut.

"Terus, emang ada yang bilang suka sama kamu ya?" godaku, mengalihkan topik pembicaraan yang sempat nyeleweng tadi.

Rona merah sedikit terlihat di pipi putihnya. Imut.

"Nggak juga sih... cuma ada seseorang yang tiap hari suka ngobrol bareng, ke perpus bareng, pulang bareng. Ya, gitu deh," ungkapnya. Ia memainkan jemarinya dan sedikit tertunduk.

"Jangan kegeeran dulu. Belum tentu loh dia suka kamu."

Ia mengangkat wajahnya sehingga menatapku dengan menekuk wajahnya—cemberut lagi.

"Bukan aku yang geer Kak. Sikapnya itu sih. Putri juga pernah bilang kalo orang itu kayaknya suka sama aku," tuturnya. Aku mengangguk kecil dan berpikir sejenak. Putri? Oh, aku tahu. Dia itu teman sebangku Resti sekaligus sahabat dekatnya. Pernah beberapa kali main ke sini.

Jemariku mengetuk-ngetuk meja belajarku.

"Hm... gimana ya? Terus, kalo emang orang itu cinta sama kamu dan ngungkapin perasaannya ke kamu, kamu mau apa?"

Ia terdiam.

"Nah itu dia Kak. Aku gak tahu. Pacaran aja belum pernah."

Aha, dia 'kan dari dulu emang minatnya cuma belajar, belajar dan belajar. Atau kalau nggak, ya baca buku. Gak beda jauh denganku sih, hehe.

"Kalo menurut kakak nih, kamu jangan terima dia. Belum tentu 'kan dia bener-bener cinta mati sama kamu. Belum tentu juga dia jodoh kamu."

"Kakak ngomongnya kejauhaaan. Aku belum mau nikah tau."

"Siapa juga yang ngomong nikah. Kakak tadi 'kan bilangnya jodoh."

"Sama aja deh. Kakak kolot~"

"Ya udah ah, gak usah bahas itu. Oh iya, kamu 'kan sekarang kelas sembilan. Mending jangan mikirin yang begituan. Kalo putus, galau semaleman atau bahkan berhari-hari baru tau rasa. Mau nilai kamu turun gara-gara hal seperti itu?"

Sontak ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ih Kakak kok gitu. Gak mungkin deh. Kan adikmu ini pinternya selangit."

"Narsisnya kumat!"

"Ketularan siapa coba kalo bukan Kakak."

"Berarti pinternya juga gara-gara ketularan Kakak dong."

"Kalo itu beda lagiiiii..."

"Udah udah. Kamu nanti putusin sediri. Pilih mana yang baik bagimu. Sekarang udah jam delapan nih. Kakak tadi udah ngasih saran. Sekarang peer Kakak masih numpuuk. Kamu juga sana! Kerjain peer."

Resti berdiri. "Kakak ngusir nih."

Aku mengangguk pelan dengan pura-pura cuek dan memasang raut wajah sangar. Ia tertawa renyah. "Haha, ok ok, aku mau keluar."

Ia melangkah pergi, keluar dari kamarku. Aku tersenyum samar.

"Tadi aku mau ngerjain apa ya?" Aku menepuk pelan dahiku. Ah iya. Fisika! Cepat-cepat aku mengerjakan tiga butir soal tadi.

-oOo-

Seminggu telah berlalu. Resti tak pernah cerita-cerita lagi tentang laki-laki yang katanya sering bareng itu. Mungkin ia bisa mengatasinya sendiri.

Aku mengambil sebuah buku yang tadi pagi kupinjam dari perpustakaan. Bukan buku novel teenlit atau sejenisnya lho! Aku paling anti sama buku seperti itu. Yah, mumpung gak ada tugas untuk besok.

Aku membuka halaman yang ada pembatas bukunya. Kira-kira ada sepertiga halaman yang sudah kubaca di sekolah.

Baru dua lembar kubaca, ketukan pintu menghentikan aktivitas membacaku.

"Masuk," seruku.

Seperti seminggu yang lalu, aku mendapati Resti yang mengetuk dan membuka pintu. Ia datang tanpa membawa buku. Berarti bukan masalah pelajaran.

Ia duduk di samping kasurku. Aku menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

"Kak, masih inget 'kan aku pernah cerita sama Kakak tentang orang yang suka sama aku?"

"Nggak," jawabku asal. Jelas-jelas aku masih mengingatnya, pake nanya lagi.

"Ya udah, gak jadi deh." Resti merebahkan tubuhnya di kasurku. Aku tahu dia ngambek.

Aku tertawa geli.

"Maen ngambek aja. Entar cepet tua lho! Kakak masih inget dong. Memori kakak kapasitasnya gak kehitung."

Ia mendudukkan kembali dirinya. Tapi kali ini dengan menyilangkan kakinya lalu mengambil bantalku dan di taruh di atas pangkuannya.

"Gak kehitung karena saking kecilnya," balasnya.

"Huuuu," sorakku. Aku menggulung sobekan kertas yang ada di mejaku lalu melemparkan ke arahnya. Haha, gulungan kertas itu jatuh menimpa dahinya.

Resti mengambil gulungan kertas yg tadi kulempar. Ia membuang gulungan kertas itu secara asal ke lantai. "Lanjut gak nih?"

Aku mengubah posisi dudukku dengan memutar tubuhku sehingga perutku menempel dengan sandaran kursi.

"Iya adikku yang cantik, manis, pinter, baik hati dan rajin menabung, silakan lanjutin ceritanya."

Resti memulai ceritanya. "Gini, dua hari setelah aku cerita sama Kakak, dia nyatain cinta sama aku. Tapi aku tolak. Dalam artian menolak secara halus lho. Nah, hari-hari sesudahnya dia malah ngejauhi aku. Terus denger-denger dia malah pacaran sama anak kelas sebelah."

Aku mengangguk, tersenyum lebar. "Nah lho, untung aja gak kamu terima."

"Makasih ya Kak. Kalo aku gak ngobrol dulu sama Kakak mungkin aku udah nerima dia. Baru tahu ternyata dia cowok gak bener."

"Haha, terus kamu marah atau sedih gak ngelihat dia kayak gitu? Apalagi dia pacaran sama gadis lain," godaku.

Ia mengucek-ngucek matanya dengan ekspresi—yang kutahu disengaja—menangis.

"Sediiih bangeeettt, huhuhu."

Aku tahu ia cuma pura-pura.

"Kasiaaann~" balasku sembari menggoyangkan jari telunjukku.

Ia tertawa.

"Alias, ya jelas aku nggak sedih. Cowok kayak gitu gak perlu ditangisi."

Aku ikut tertawa bersamanya.

Tiba-tiba, aku ingin menjahili adik perempuanku ini. Aku menatapnya dengan tatapan serius yang kubuat-buat. "Res, mending pacarannya sama kakak aja yuk~"

Aku mengerlingkan mataku.

Aku melihat semburat mera tipis di pipinya. Ia melempar bantal yang ada di pangkuannya ke arahku. Untung kali ini aku juga bisa menangkapnya dengan cepat.

"Huuu, dasar! Kakak genit ih! Siapa juga yang mau sama Kakak. Udah ah, aku mau ngapalin dulu. Pra UN bentar lagi nih. Bye-bye Kakakku yang narsis~" Ia berdiri dan berjalan sembari melambaikan tangannya. Ketika hendak menutp pintu, dia memberikan sebuah kiss bye.

Aku speechless sesaat dan terkekeh. Dasar!


_The End_


Maafkan saya yang membuat orific segaje ini. Aaa... TwT

Terus, judulnya aneh bangeet. Gak nyambung juga kayaknya sama isi -_-a Saya lagi buntu mikirin judul buat orific ini. Kalo ada yg mau ngasih judul yg pas, kasih tauu. Biar saya perbaiki x_x

Terakhir, jangan lupa review-nya~~ :D

.

Regards,

Amacchi

[Finished : 5th March 2013]

[Published : 6th March 2013]