A/N : Kali ini Glace buat fiction tentang keluarga. Namanya sama seperti cerita Glace sebelumnya, tapi nama keluarganya berubah dan ada beberapa karakter tambahan. Tidak ada hubungan sama yang sebelumnya.


.

Kuchiki Household

Chapter one : Kaisuna Household

.


"Buta, aku titipkan Miku padamu. Tolong jaga anak kita ini baik-baik ya." Dan dengan itu berakhirlah nafas Risa Kaisuna di atas tempat tidurnya di rumah sakit.

Air mata mengalir dari sudut mata pria bernama Buta itu, menuruni wajahnya, dan jatuh ke lantai. Dia menatap bayi perempuan yang berada di lengannya. "Risa.. Kenapa kamu harus meninggalkanku?"

Bayi itu pun ikut menangis, membuat Buta keluar dari kamar istrinya dan menitipkannya pada pelayan. "Bagaimana keadaan Risa-sama, tuan?" Tanya mereka cemas. Tentu saja mereka mengharapkan kabar baik keluar dari mulut tuan mereka yang baru berusia 25 tahun itu.

Buta hanya menggeleng lalu masuk ke dalam ruangan itu kembali, mengambil tangan Risa yang sudah dingin dan menciumnya. "Aku akan menjaga Miku, tapi maafkan aku kalau aku tidak bisa menjaganya dengan baik."

Dia hanya bisa menjanjikan Miku mendapatkan kehidupan yang layak bukan hidup dengan penuh cinta. Sebagai pewaris tunggal Kaisuna Inc dia harus mengurus perusahaan itu dengan segenap kemampuan dan waktunya. Di usia mudanya itu, dia sudah harus menjadi direktur karena kedua orang tuanya baru saja meninggal beberapa bulan yang lalu dalam sebuah kecelakaan pesawat. Meninggalkan sekitar 6 perusahaan di bidang yang berbeda ke dalam tangannya.

Buta tidak terpuruk dengan kecelakaan dan takdir yang pekerjaan yang menunggunya itu. Kematian Risa lah yang membuatnya jatuh dan tidak mungkin bisa bangkit lagi, tapi dia sadar, dia harus bangun untuk bisa membesarkan anaknya. Anak yang sudah Risa titipkan padanya sebagai permintaan terakhir. Bagaimana mungkin Buta bisa mengabaikan permintaan Risa, istrinya, dan sumber kekuatannya?

Rambut tosca wanita yang sudah tak bernyawa itu ia usap dengan penuh cinta. Air mata terus berjatuhan saat ia melakukan itu, membuat matanya sakit. Dia memang seorang laki-laki dewasa, tapi tidak bolehkah dia menangisi kepergian orang yang sangat penting dalam hidupnya?

25 tahun berlalu dan bayi munggil itu pun berubah menjadi seorang wanita cantik. Menjadi bagian keluarga Kaisuna yang kaya raya tanpa kekurangan sesuatu apapun dan memiliki banyak pelayan tidak membuat Miku menjadi anak yang manja. Dia malah menjadi seorang wanita yang mandiri walaupun yang ada di kepalanya hanyalah belajar dengan baik agar bisa menggantikan ayahnya suatu hari nanti. Dalam usianya yang ke 25 itu dia sudah berhasil mendapatkan posisi menjanjikan di Kaisuna Inc, wakil direktur.

Orang-orang akan berpikir Miku mendapatkannya dengan mudah karena ayahnya adalah direktur perusahaan itu, tapi mereka salah. Keberhasilan itu Miku dapatkan setelah beberapa tahun bekerja sebagai pegawai biasa dan menunjukan prestasi serta kemampuannya pada sang ayah.

"Otsukaresama deshita, Miku-sama."

"Otsukaresama desu."

Sore itu, Miku keluar dari kantornya dengan raut wajah yang terlihat sangat senang. Angin hangat musim semi menyapanya, menerbangkan beberapa kelopak bunga Sakura pada bahu dan rambut toscanya. Suatu hal yang bagus pasti akan terjadi, pikirnya.

Supirnya membukakan pintu mobil sedan hitamnya dan dia pun masuk, tidak sabar untuk sampai di rumah dan memanjakan dirinya di SPA pribadi rumahnya.

Tak lama setelah perjalanan dari kantornya tadi, Miku sudah melihat rumahnya. Sebuah bangunan cukup besar dengan model eropa. Rumah besar yang terdiri dari 3 lantai itu di lengkapi dengan banyak kamar, SPA, beberapa ruang kerja, ruang makan, dapur yang cukup besar, kamar para pelayan, banyak kamar mandi, perpustakaan, dan berbagai fasilitas lainnya. Bagi para pendatang baru, mereka memerlukan peta agar tidak tersesat di rumah yang juga bisa menjadi labirin.

Suara ringtone terdengar dan Miku pun segera mengambil hanphone yang berada dalam tasnya. Setelah memastikan ia mengenal siapa yang meneleponnya, dia pun menekan tombol terima. "Moshi-moshi, Kaisuna desu."

"Miku, ini aku Aiko. Kamu masih ingat, 'kan?" Miku menjauhkan benda komunikasi itu saat suara yang terdengar terkesan bisa membuat telinganya sakit. "Miku.."

Wanita beriris turquoise itu melihat kembali layar handphonenya yang bertuliskan 'Aiko Kitazawa' untuk memastikan. "Oh! Aiko yang teman kuliahku itu ya?" Tanya Miku, tertawa kecil. "Ada apa menghubungiku?"

"Begini.. Aku ingin mengundangmu ke acara pernikahanku bulan depan. Kamu bisa datang?" Tanya Aiko. "Kamu sudah menerima undangannya, 'kan?"

"Sudah, di Perancis ya? Maaf, aku tidak bisa datang karena aku sangat sibuk di perusahaan. Bagaimana kalau aku kirim hadiahnya saja?"

"Huuuh.. Baiklah kalau kamu memang sibuk," jawab Aiko yang terdengar sedikit kecewa. "Jangan lupa kirim hadiahnya ya! Aku akan memberitahu alamatku nanti dan jangan lupa untuk mengundangku saat kamu akan menikah."

".. Baiklah, akan kuingat. Ja ne." Miku menutup handphone flipnya dan memasukannya ke dalam tas. Dia melihat keluar melalui jendela yang berada disampingnya, menatap sendu alam yang berada di sekitarnya. "Menikah, huh? Aku tidak pernah memikirkan itu sebelumnya."

Pintu gerbang rumahnya di buka dan Hoka Tokihisa, supir pribadi Miku pun menjalankan kembali kendaraan itu. Miku menatap bosan pekarangan rumahnya yang berjarak 50 meter dari bangunan tempat tinggalnya, fountain dengan patung malaikat putih juga tidak menarik perhatiannya.

"Selamat datang, Miku-sama." Semua pelayan membungkuk hormat padanya. Tidak ada yang aneh dengan hal yang sudah biasa itu sampai dia menemukan seseorang yang seharusnya tidak berada disana berdiri di ujung dalam barisan para pelayan.

"Siapa anak itu?" Tanya Miku pada salah satu pelayan yang mengambil tasnya. "Apa dia tersesat?"

"Tiba-tiba saja Buta-sama membawanya setelah pulang dari acara bisnisnya tadi siang. Anda di tunggu di ruang kerjanya sekarang," jawab pelayan itu sopan sebelum membungkuk dan pergi dari sana.

Dua orang pelayan laki-laki yang merupakan keluarga Nishikiori mendekati Miku. Pelayan yang terlihat lebih tua dari yang satunya mengambil mantel dan coat Miku. "Mari saya antar," kata anak laki-laki pelayan itu, Michio. "Kuzo-sama."

Anak laki-laki asing itu mengangguk, membuat rambut hitam dengan potongan rapinya sedikit bergerak. Miku memulai pengamatannya, iris matanya merah, kulitnya putih, dan aura disekitarnya menunjukan kalau dia adalah anak yang tenang. Cukup berbeda dengan anak-anak yang sering ia temui di jalan.

Mereka bertiga berjalan menyusuri kediaman Kaisuna tanpa bersuara dan atmosfer di sekitar mereka terasa menjadi lebih hening saat mereka masuk ke lorong dimana ruangan kerja Buta, dan ruang rapat terletak.

Mereka berhenti di depan pintu dengan warna coklat benar-benar gelap. Michio memberitahu kedatangan mereka pada Buta dan pria berusia 50 tahun itu meminta mereka masuk.

"Silahkan, Miku-sama, Kuzo-sama. Saya permisi." Pintu itu di buka dan pria berambut midnight blue itu membungkuk hormat lalu pergi meninggalkan Miku dan anak laki-laki yang di panggil Kuzo itu.

Pintu kembali di tutup setelah kedua orang itu masuk. Tidak ada hal khusus yang ada di ruangan itu, hanya sebuah meja kayu mahogani, kursi hitam dengan roda, dua armchair coklat tua, satu sofa untuk tiga orang, satu coffee table, satu lemari buku yang cukup besar, dan beberapa tanaman hias di dekat jendela ruangan itu. Beberapa lukisan juga terdapat disana.

"Otou-sama, ada yang ingin aku tanyakan."

"Kalau kamu ingin bertanya tentang anak laki-laki yang ada di sebelahmu itu, dia adalah cucuku," jawab pemimpin Kaisuna Inc itu tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya. "Namanya Kuzo Kaisuna untuk sekarang."

"Cucu Otou-sama? Jadi maksudnya dia itu anakku?" Tanya Miku tidak percaya. Pacar saja dia tidak punya dan tiba-tiba saja dia punya anak yang bahkan asal usulnya tidak jelas.

"Iya, aku mengadopsinya siang tadi karena aku menginginkan cucu. Cepatlah menikah, Miku. Biarkan ayahmu ini menjadi kakek sebelum dia meninggal," jawab Buta yang kemudian menatap mata Miku. "Aku akan mempertemukanmu dengan beberapa orang yang kupilihkan untukmu. Kamu bebas memilih salah satu dari mereka."

"Apa? Tapi Otou-sama.."

"Miku, kamu mengerti keadaanku, 'kan?" Tanya Buta. Miku memang tidak bisa melawan ayahnya. Sudah sejak dulu dia tidak memiliki keberanian untuk membantah apa yang dikatakan olehnya. "Kuzo, besok kamu akan mulai bersekolah. Kenapa kamu tidak beristirahat sekarang?"

"Baik, Ojii-sama." Anak laki-laki itu keluar dari ruangan kerja kakek angkatnya setelah membungkuk pada kedua orang yang lebih tua darinya di ruangan itu. Impian Kuzo untuk memiliki keluarga sudah terkabul, tapi apa yang menunggunya di rumah barunya ini, dia tidak tahu.

Setelah menenangkan diri di dalam ruang kerja ayahnya itu Miku keluar dan masuk ke dalam kamarnya yang berada satu lorong dari sana.

Wanita itu merebahkan tubuhnya ke atas kasurnya dan menutup matanya dengan lengan kanannya. Pembicaraannya dengan Buta membuatnya teringat akan masa lalunya yang kelam. Masa lalu yang membuatnya memiliki trauma pada laki-laki. Trauma itu memang sudah hilang sekarang, tapi bukan berarti dia sudah bisa memulai hubungan dengan para laki-laki lebih dari teman dan rekan kerja.

"Apa yang akan terjadi padaku nanti? Haaah.."

.

.

To be continue..

.

.

Notes :

Otou-sama/-san/-chan : papa

Ojii-sama/-san/-chan : kakek

-sama : untuk manggil yang statusnya lebih tinggi

Otsukaresama deshita/desu : good work

Makasih udah baca dan jangan lupa untuk review. Glace masih butuh banyak bantuan buat cerita-cerita Glace. Arigatou..