Kuchiki Household

Chapter eight : Kuchiki's Summer Vacation

.


"Bagaimana kalau kita liburan di rumah pantai Kaisuna yang berada di Okinawa?" Tanya Buta pada sekelompok manusia di dalam ruangan itu.

Miku membuka mulutnya tidak percaya, garpu di tangan Kaito jatuh begitu saja, Riri berbinar, Kuzo hanya duduk diam di kursinya, dan para pelayan tidak memberikan respon apa-apa. Bagaimana pun juga mereka tidak akan berlibur.

Riri menjadi orang pertama yang bergerak. Dia melompat senang dan berlari ke arah kakeknya. "Kita akan ke pantai? Benarkah?" Tanyanya tidak percaya. Buta hanya mengangguk dan memberikan senyuman tipis kepadanya. Riri kembali melihat orang-orang yang masih belum bergerak. "Kita akan ke pantai. Pantai. Pantai. Pantai."

Kuzo menghela napas lelah melihat adik angkatnya yang terlalu bersemangat. Kuzo sendiri tidak begitu menyukai pantai, lebih tepatnya dia memiliki pengalaman buruk dengan air. Pergi ke pantai bukanlah hal menyenangkan untuknya. Mungkin dia bisa duduk di pasir putih untuk membaca buku dan melihat pemandangan sekitar.

Kaito yang baru sadar juga terlihat senang seperti Riri, tapi dia tidak mengungkapkannya secara berlebihan. Dia meminta pelayan untuk memberikannya garpu baru dan kembali memakan kuenya. Menghabiskan waktunya bersama keluarga di pantai. Sudah berapa lama dia menginginkan hal itu?

Dan tentu saja Miku tidak setuju dengan semua itu. Sebagai wakil direktur yang baik, dia tidak mungkin membiarkan sang direktur utama, wakil direktur, dan karyawan dengan kedudukan yang cukup tinggi itu tidak bekerja pada hari yang sama. Wanita berambut Tosca itu membuka mulutnya untuk protes. "Aku tidak setuju. Kita semua tidak bisa mengambil hari libur yang sama. Bagaimana dengan Kaisuna Corp?"

Riri dan Kaito melihatnya dengan tatapan sedih dan memelas. Miku berpikir kalau mereka memang sangat cocok menjadi ayah dan anak. Perhatian Miku kembali tertuju pada sang ayah yang berdehem untuk membersihkan tenggorokannya.

"Kamu tidak perlu cemas, Miku. Kita hanya akan pergi untuk beberapa hari dan aku yakin Kaisuna Corp dapat bertahan tanpa kita disana. Lagipula Morinaga dapat di percaya, kan?" Tanya Buta.

Miku memang percaya pada sekretarisnya, tapi tetap saja. Dia tidak ingin berlibur dengan ayahnya yang seram dan Kaito yang menyebalkan. Mungkin kalau mereka berdua tidak ikut Miku akan mempertimbangkannya. Miku kembali melemparkan protesnya, tapi Buta tidak menghiraukannya dan memutuskan untuk mencoba shortcake buatannya.

"Kuzo, kita akan ke pantai." Kaito menusuk lengan anak pertamanya dengan jari karena Kuzo tidak memberikan reaksi apa-apa. "Kamu tidak terlihat senang. Ada apa? Kamu tidak bisa berenang ya?" Tanyanya menggoda.

Buku yang ada di tangan Kuzo jatuh begitu saja ke atas meja makan. Wajah anak laki-laki itu memerah, tapi dia tidak mungkin membiarkan kelemahannya terbuka begitu saja. "Si-Siapa bilang aku tidak bisa berenang? A-aku bisa."

Kaito tertawa kecil karena akhirnya dia bisa membuat anaknya yang tidak suka menunjukkan ekspresi berlaku seperti itu. Dia mengacak rambut hitam Kuzo. "Tenang saja, aku akan mengajarimu nanti."

"Otou-sama!"

"Nii-san tidak bisa berenang!" Tiba-tiba saja Riri berteriak dan menunjuk Kuzo dengan telunjuknya dan tertawa dengan sangat senang. Dia berlari saat Kuzo turun dari kursinya dan mulai mengejar si rambut coklat dengan wajah yang menyaingi warna tomat.

Kuzo terus mengejar Riri mengelilingi dapur sampai akhirnya dia teringat akan perkataan Lemonade di mobil saat menjemput mereka berdua dari sekolah. Perkataan yang memperlihatkan kelemahan Riri. "Ha! Kamu juga tidak bisa berenang!" Teriak Kuzo penuh kemenangan. Riri berhenti dan melihat Kuzo dengan mata besarnya. "Riri tidak bisa berenang!"

Sekarang posisi di balik. Riri mengejar Kuzo yang berlari jauh lebih cepat darinya. Kaito hanya bisa mentertawakan kedua anaknya. Buta hanya bisa menggelengkan kepalanya. Miku yang di abaikan ayahnya memutuskan untuk duduk di kursi, membiarkan kedua anaknya berlari dan hampir menjatuhkan prabotan pecah belah yang ada di ruang makan.

"Riri-sama, Kuzo-sama." Lemonade lah yang maju untuk menghentikan kedua anak kecil itu. Dia tidak ingin membersihkan pecahan-pecahan guci dan ruang dapur yang di penuhi dengan tepung dan coklat. Melihat pelayan pribadi Kuzo memasuki ruangan, Lemonade pun memanggilnya. "Michio-kun, tolong antarkan Kuzo-sama ke kamarnya."

Pemuda berambut midnight blue itu mengangguk dan mengantarkan Kuzo ke kamarnya. Lemonade mengantarkan Riri yang masih terlalu bersemangat ke kamarnya dengan susah payah. Gadis kecil itu terlalu enerjetik, bahkan untuk Lemonade yang berada dalam usia remajanya. Usia dimana ia penuh dengan energi.

Semuanya kembali ke kamar masing-masing setelah menghabiskan shortcake mereka. Kaito menusuk lengan Miku dengan jarinya. Miku menepis tangan Kaito dan menatapnya sebal. Kaito membalasnya dengan senyuman. Moodnya sudah jauh lebih baik daripada siang tadi di pemakaman.

"Bagaimana perjalananmu tadi?" Tanya Miku yang mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kaito mengganti posisi duduknya agar lebih nyaman, menatap ke arah lain. Senyuman sedih menggantikan senyum senangnya.

"Sama seperti biasanya. Sepi," jawabnya.

Miku mengangguk sebelum merebahkan tubuhnya di kasur. Kedua tangannya ia letakkan di atas perutnya. "Hmm.. Kalau begitu kenapa kamu pergi sendirian?"

Kaito juga merebahkan tubuhnya dan meletakkan kedua tangannya di bawah kepalanya. "Karena orang yang ingin ku ajak tidak ingin pergi?"

"Kamu pasti tidak mengatakan apa-apa padanya." Miku menghela napas. Berbalik ke sisinya hingga ia memunggungi Kaito. "Sudahlah, besok kita harus bekerja."

"Oyasuminasai, Miku."

"Oyasumi."

Setelah yakin Kaito sudah tidur, Miku berbalik dan melihat pria itu. Wajahnya terlihat jauh lebih baik dengan senyuman daripada tadi pagi. Dia tetap berpura-pura tidur saat Kaito keluar dari lapisan selimutnya karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Miku memperhatikan Kaito, membandingkan wajahnya yang sekarang dan dulu. Saat dia menjadi ketua anak-anak berandal di sekolahnya.

"Aku tidak begitu mengingatnya, tapi aku yakin sangat berbeda." Lalu Miku memutuskan untuk kembali ke posisi semulanya. "Seperti apapun dia sekarang, itu tidak akan merubah apa-apa."

Dia tidak tahu kalau Kaito mendengarnya.

26 Juni. Semua pelayan sibuk merapikan pakaian-pakaian yang akan keluarga Kuchiki bawa ke Okinawa besok. Sekolah Riri dan Kaito akan libur mulai besok dan ketiga orang dewasa keluarga itu memutuskan untuk cuti. Mereka akan berlibur disana selama satu minggu.

"Pantai!" Riri yang baru saja turun dari mobil hitamnya langsung berlari masuk ke dalam rumah, mengabaikan sapaan para pelayan yang berada di depan pintu. Dia langsung menarik Lemonade yang berada di barisan paling belakang ke kamarnya. "Nade-san, ayooooo!"

Lemonade tidak bisa melakukan apa-apa selain mengikuti permintaan Riri. Dia mengambil koper merah Riri yang berada di bagian bawah lemari pakaiannya dan meletakkannya di atas tempat tidurnya. Pakaian demi pakaian ia masukan ke dalam sana. Tidak lupa pakaian renang Riri yang berwarna biru tua dengan gambar macam-macam ikan dengan berbagai warna.

Michio merasa beruntung karena Kuzo sangat mandiri.

Keesokkan harinya, di pagi-pagi buta mereka pun pergi dengan mobil. Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan. Riri tidur dengan menyandarkan kepalanya pada bahu Kuzo. Miku hanya tersenyum melihat kedua angkatnya. Kaito duduk di depan bersama Hoka dan Buta berada di mobil lain.

5 jam kemudian mereka sampai di rumah pantai Kaisuna. Rumah sederhana itu terlihat mewah dengan perabotan emas dan perak yang menghiasinya. Temboknya berwarna biru pastel dengan langit-langit dan lantai kayu berwarna putih. Detailnya juga benar-benar mengagumkan. Pinggir langit-langitnya terdapat ukiran kapal dan berbagai jenis ikan serta bintang laut. Miku tidak percaya dengan apa yang matanya lihat. Rumah yang sudah tidak pernah ia datangi selama bertahun-tahun terlihat lebih bagus dari pada dulu.

"Kalian suka? Kaito yang merombak semuanya." Mata Buta berkilat senang. Dia memang meminta Kaito untuk mengubahnya beberapa tahun yang lalu.

Riri melihat ayahnya tidak percaya. "Wow! Otou-san memang hebat." Kuzo menganggukan kepalanya, tidak mengalihkan matanya dari kursi kayu coklat yang berada di teras.

"Terima kasih." Kaito menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena malu. Dia sering mendapat pujian, tapi mendengar itu dari Riri terasa berbeda. "Bagaimana kalau sekarang kita masuk dan beristirahat agar nanti kita bisa bermain di pantai?"

Maka mereka semua pun masuk. Siang harinya mereka keluar dengan pakaian renang dan pantai mereka. Riri berjalan dengan semangat bersama Nade yang mengenakan pakaian santainya, di ikuti Kuzo yang hanya memakai celana renang. Di belakangnya Michio berjalan dengan dua buah ban renang bulat berwarna kuning. Miku mengenakan pakaian renang biru dengan tali yang melewati lehernya, berjalan di sebelah Buta yang hanya mengenakan celana army. Kaito di sebelahnya dengan kemeja hawaii biru hijau yang tidak di kancing dan celana hitam.

Karena matahari masih sangat terik, Buta menyewa payung pantai dan menancapkannya ke atas pasir. Semuanya duduk di bawah payung besar itu dan memakai krim untuk melindungi kulit mereka. Sinar UV memang berbahaya.

Riri yang masih menunggu Lemonade selesai melihat kesana kemari dan melihat warna yang sangat mencolok disana. Warna kuning di antara warna-warna gelap. Seorang anak perempuan berambut pirang yang tidak lebih besar darinya bermain dengan sangat riang di tepi pantai bersama seorang pria berambut dirty blonde yang mungkin ayahnya. Kemudian anak perempuan itu melambaikan tangannya ke sebuah arah. Riri mengikuti arah itu dan melihat seorang wanita berambut coklat tua yang terlihat sedang hamil.

Kuzo memperhatikan adiknya itu bingung. "Apa yang sedang kamu lihat?" Tanyanya.

Riri menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku hanya memperhatikan anak yang sedang bermain dengan ayahnya itu. Itu membuatku berpikir tentang ayah dan ibu kandungku. Tapi, aku senang bisa ke pantai bersama kalian semua. Keluarga baruku."

"Aku tidak pernah melihat mereka. Aku sudah berada di panti asuhan sejak aku masih bayi dan aku sangat senang saat Ojii-sama mengadopsiku. Awalnya aku takut dengan keluarga yang akan menyambutku, tapi.. Aku senang."

"Nii-san.."

Lemonade yang mendengar percakapan kedua anak itu hanya tersenyum. "Riri-sama, sudah selesai. Ingin bermain sekarang?" Tanyanya semangat. Mengambil sebuah ban dari Michio yang sibuk dengan krim untuk dirinya sendiri.

"Ayo!"

Mereka bermain dengan semangat. Riri mencoba untuk berenang sendiri saat Kaito sibuk mengajari Kuzo. Sesekali mata Riri melirik anak perempuan pirang yang ia lihat tadi. Dia tersenyum saat melihat senyuman di wajah anak itu tidak pernah hilang. Riri tidak ingin kalah, dia juga ingin bersenang-senang bersama keluarganya. Dia mengambil ember pasir yang Kaito bawa, mencelupkannya ke dalam air, mengangkatnya, menghampiri Kaito dan Kuzo lalu menyiram mereka.

"Riri!"

Malamnya, mereka bermain kembang api di tepi pantai. Buta tinggal di rumah karena tidak kuat terhadap angin malam yang sangat dingin. Kaito dan Michio menggantung beberapa kembang api di sebuah tali yang dililitkan pada dua buah tiang. Riri dan Kuzo berdiri dan bermain kembang api.

Miku duduk sendirian di tepi pantai, menikmati pemandangan langit gelap penuh bintang dan air pantai yang membasahi kakinya. Dia merasa sangat senang dan tenang. Sudah lama sekali dia tidak merasakan hal itu. Atau mungkin tidak pernah. "Mungkin aku akan merasakannya kalau Okaa-sama ada saat aku kecil."

"Merindukan mamamu, Miku?" Sebuah suara pria mengejutkannya, dia menoleh dan melihat Kaito duduk di tepat di sebelahnya. Pria berambut coklat susu itu terlihat memikirkan sesuatu dengan caranya memainkan pasir dengan jarinya. "Terkadang aku juga begitu. Selalu malah."

Miku tidak mengatakan apa-apa dan mengalihkan matanya pada bulan terang yang berada di langit. Dia tidak pernah suka menceritakan masalahnya pada orang lain, apalagi pada Senpai-nya yang satu ini. Orang yang membuatnya tersiksa selama kehidupannya di sekolah.

"Mamaku meninggal karena leukimia. Aku baru mengetahuinya hari itu.. Hari terakhirnya," kata Kaito pelan. Jarinya masih membentuk sesuatu di atas pasir. "Kalau saja aku tahu lebih cepat. Tapi, mungkin itu tidak akan membantu apapun."

"Itu lebih baik dari pada tidak pernah melihatnya, mendengar suaranya dan merasakan cintanya," gumam Miku pada dirinya sendiri. Tapi Kaito bisa mendengarnya.

Kaito baru saja akan menepuk kepala Miku saat Riri datang dan memeluknya dari belakang. "Okaa-san, Otou-san, ayo main bersama kami."

Miku tersenyum dan memegang lengan kecil yang melingkari lehernya. "Setidaknya mereka bisa merasakan seperti apa memilikinya."

Pria beriris biru itu tersenyum dan berdiri. "Baiklah. Ayo kita main kembang api!"

"Ayoooo!"

.

.

To be continue..