Day 2: Code Breaker

"Oke! Ujian selesai. Kumpulkan kertas kalian di meja guru!"

1 September jam 14.00

Hari itu adalah hari awal masuk sekolah setelah usai libur musim panas. Hari itu diadakan ujian mendadak yang membuat hampir seluruh murid tercengang.

"Heeh ujian tadi benar-benar sulit ya! Bagaimana menurutmu, Sakagi?" Tanya Sato yang duduk di depannya. Ia memasang cengiran lebar di wajahnya dengan percaya diri, berharap Hio akan menjawab "soal itu susah sekali! Tolong ajarkan aku Sato-San!"

"Gampang…. Menurutku soal tadi gampang…"

"Uwaaah… bagaimana orang yang sering bolos sepertimu mengatakan ujian tersebut gampang? Apa saja yang kau lakukan di rumah untuk mendapatkan nilai-nilai itu?"

"…. Tentu saja belajar, memangnya kau pikir aku hanya bermain game saja hah?"

"Hahahah… aku salut lho kepadamu. Berani untuk bolos berhari-hari dan tidak mendapatkan pelajaran, tetapi tetap mendapat nilai yang bagus. Di sekolah ini tidak banyak yang seperti itu. Kupikir tindakanmu itu nekat sekali."

"Ngomong-ngomong aku boleh mengatakan sesuatu?"

"Yap! Katakan apapun kepada Sato-San!"

"Kau bawel sekali. Dah, aku pulang duluan.."

"Oii Sakagi tungguuu!"

Gamers Shop Center

- Alpha Road -

"Ufufufu akhirnyaaaa… Aku sampai di surgaaaa!"

Hio langsung berlari menyambar DVD game kesukaannya. Ia menghampiri sebuah rak yang menyimpan banyak DVD game dengan genre Role Play Game dimana si pemain berperan sebagai pahlawan yang membasmi monster-monster dari bumi.

"Haaah… Kau membeli game seperti itu?" Tanya seorang gadis yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

"Memangnya kenapa? Ini kan bukan masalahmu." Jawab Hio dengan cuek.

Gadis tak dikenal itu mengibaskan rambut panjangnya lalu memperlihatkan DVD game yang dibelinya kepada Hio.

"Hei di jaman modern yang canggih ini kau seharusnya memainkan game ini!"

"… Apa-apaan kau suka hal yang seperti itu? Hei..hei… jangan merasa hebat dulu sebelum kau mencoba game Endless Journey. Sebuah game menakjubkan yang menceritakan kisah petualangan yang mendebarkan. Aaah aku merasa bernostalgia…"

"Ha? Pecundang."

"Apa yang baru saja kau katakan?"

"Kau… Jika kau memang seorang laki-laki, seharusnya kau memainkan game Dead Area. Game yang benar-benar sadis! Hwaaa aku sangat menyukainya, apalagi ketika kita dibebaskan untuk membunuh semua player yang ada disana. Gimana?"

"Aku beli yang ini saja…."

"Terimakasih, silahkan datang kembali..!"

Hio pergi dari toko dengan senang seakan ia mendapat 1 karung koin emas. Sedangkan gadis aneh di belakangnya mengambil pisau dari sakunya lalu menghadang Hio.

"Hei kau mencueki-ku ha? Kau ingin aku membunuhmu dengan pisau ini?"

Glek! Apa-apaan sih orang ini. Akhir-akhir ini aku selalu bertemu dengan orang-orang yang tidak waras.

"Pak satpam tolong! Ada orang gila disini!"

"Oyy! Shttt..!"

Alpha Crosswalk

Di sepanjang perjalanan pulang, gadis berambut panjang itu mengikuti Hio sembari terus mengayun-ayunkan pisau saku yang dipegangnya. Hio merasa tidak tenang seperti seorang sandera yang diculik oleh seorang teroris. Bahkan orang-orang memandanginya dengan pandangan aneh. Beberapa dari mereka ada yang tertawa melihatnya. Akhirnya Hio menyerah, ia berbalik memandang gadis abnormal yang terus mengikutinya. Gadis itu tersenyum lalu memasukkan kembali pisau yang diayunkannya ke dalam sakunya.

"Aku Iwamine Fugiko seorang gadis SMA penggila hal-hal yang berbau sadis dan horror. Dan asal kau tahu saja, Fugiko dan teman baiknya mempunyai klub sendiri yang disebut dengan 'Yandere Club'. Menakjubkan bukan? Hehehehe…."

"Dan kau dengan santainya mengatakan namamu di depanku?"

"Fufufu….Bagi Fugiko itu bukan masalah besar. Selama ada pisau ini dan orang yang ada didepannya adalah orang lemah, Fugiko akan membunuhnya dalam satu serangan. Kau tahu, jangan remehkan pisau yang Fugiko pegang ini. Ia sudah menemani Fugiko dalam membunuh orang-orang. Swing…swing!"

"Kumohon taruh pisau mu itu kembali. Kau yang akan menanggungnya sendiri jika aku terbunuh disini."

"Kekekek! Yap tentu saja Fugiko tahu itu. Ngomong-ngomong, apa kau tahu peta apa ini?"

Iwamine mengambil secarik kertas dari sakunya lalu memperlihatkannya kepada Hio. Sebuah potongan peta yang sudah kusam. Hio tercengang ketika melihatnya. Ia merasa pernah melihat potongan peta yang seperti itu sebelumnya.

"Hei tunggu! Kurasa aku pernah melihatnya…"

"Apa? Bagaimana bisa, kau…."

"Aku juga tidak tahu, tapi aku menemukan potongan yang persis dengan potongan itu di loker mejaku."

Hio mengambil kertas yang bertuliskan kode matematika dan sebuah potongan peta di dalamnya. Beberapa hari yang lalu, ia menemukan kertas itu di loker mejanya ketika hendak mengambil barang yang tertinggal. Iwamine merebut kertas itu dari tangan Hio secepat kilat, lalu melihat isinya. Wajahnya terlihat kebingungan.

"Hei apa kau tahu sesuatu tentang itu?" Tanya Hio yang mulai tertarik dengan teka-teki tersebut.

"Keh! Harusnya Fugiko yang bertanya seperti itu."

Iwamine mengambil pisaunya lalu menyodorkannya tepat ke dada Hio. Kali ini wajahnya tampak lebih serius, ia tidak main-main dalam menanggapi masalah itu. Hio nyaris berteriak ketika Iwamine tiba-tiba ingin menusuknya. Ia berusaha untuk mundur satu langkah dan lari tapi Iwamine selalu menghalanginya dengan cepat.

"Aa…apa yang kau lakukan?! Ming…gir…. Kau….."

"Tidak sebelum kau menjawab pertanyaan Fugiko. Dari mana kau dapatkan kertas ini?"

"Khh! Sudah kukatan aku tidak tahu! Aku hanya menemukannya di loker mejaku."

"Kalau begitu… Apakah kau orang itu? Apakah kau orang yang bernama Sakagi Hio itu?"

"Iya! Apa yang kau inginkan!? Jangan katakan kau seperti gadis yang kemarin kutemui di apartemen. Apa yang kau inginkan sekarang!?"

Iwamine memasukkan kembali pisaunya ke dalam sakunya. Ia menghela nafas lalu mundur beberapa langkah seakan ketakutan melihat orang yang ada di hadapannya.

"Fugiko meminta maaf atas kelakuannya tadi. Bagaimana jika kita bicarakan hal ini di tempat yang lebih tenang…. Sakagi-San?"

Birdway Cafeteria

Alpha Crossroad

Iwamine menaburkan 2 sendok gula ke cangkirnya lalu mengaduknya dengan sebuah sendok bermotif emas yang biasa dipakai oleh keluarga kerajaan, sedangkan Hio yang duduk di depannya menunggunya dengan tidak sabar. Ia berharap Iwamine segera menghabiskan teh nya lalu mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Iwamine meneguk secangkir teh terakhirnya lalu menyilangkan kedua tangannya di atas meja kaca Cafeteria. Ia memandang Hio dengan tatapan kosong seakan sedang memikirkan taktik untuk membunuhnya. Hio duduk sedikit miring dari kursi, bersiap untuk kabur kapanpun ketika Iwamine kembali mengayunkan pisaunya.

Iwamine berdeham lalu memulai pembicaraannya.

"Seika Manami… dia adalah teman Fugiko. Ia pernah menceritakan seseorang bernama Sakagi Hio kepada Fugiko."

"Hah? Apa yang dia katakan kepadamu?"

"Fuuhhh…. Sebagai temannya, Fugiko tidak boleh membocorkan rahasia yang Manami katakan kepadanya. Intinya dia membicarakaanmu. Tapi kau tidak perlu khawatir, apa yang ia bicarakan sama sekali tidak penting dan tidak ada hubungannya dengan sekolahmu. Fugiko bahkan nyaris tertawa mendengarnya."

"Lalu apa maksud dari potongan peta itu? Apakah Seika yang membuatnya?"

"Fugiko tidak tahu pasti siapa yang membuatnya, tapi yang jelas… Fugiko juga menemukan potongan peta yang sama dengan yang kau temukan di rumah Manami. Siang itu, kalau tidak salah pada tanggal 25 Agustus, Fugiko berniat mengunjungi Manami di rumahnya. Tapi sangat disayangkan, Manami tidak ada di rumah hari itu."

25 Agustus… Hari itu adalah hari dimana aku pergi ke sekolah untuk mengambil barang yang tertinggal. Sudah jelas Seika tidak ada di rumahnya. Ia ada di sekolah sedang berlatih menggunakan sihir api.

"Dan hari itu juga…. Fugiko semakin khawatir ketika menemukan potongan peta ini di depan pintu rumahnya. Banyak bercak bekas darah di belakang petanya. Fugiko khawatir terjadi sesuatu pada Manami. Fugiko pikir ia akan menyimpannya dan menanyakan kepada orang-orang jika ada yang mengetahui apa sebenarnya peta itu. Karena itulah seharian ini Fugiko berkeliling di kota ini untuk bertanya kepada orang lain dan mendapatkan informasi. Fugiko sangat senang kau ada di sana saat itu."

Gadis abnormal ini…. Dia rela bertanya kepada jutaan orang di kota ini demi temannya!? Apa dia tidak pernah memikirkan cara yang lebih efisien?

"Lalu bagaimana dengan potongan peta dan kode matematika yang kutemukan di lokerku?"

Iwamine mengambil potongan peta yang Hio temukan lalu menggabungkannya dengan potongan peta yang ia temukan di rumah Seika Manami.

"Dua potongan peta ini ternyata saling berhubungan. Jika kau menggabungkannya, maka akan terlihat sebuah peta yang menunjukkan lokasi suatu tempat. Dan kode itu….."

"Itu kode matematika, bukan? Aku tahu siapa itu Albert Einstein, tapi aku tidak tahu siapa itu Caesar."

"Julius Caesar… dia adalah orang yang membuat kode ini bersama dengan Einstein. Karena itulah kode ini disebut sandi Caesar, sandi yang cukup terkenal di dunia. Manami pernah memberitahu cara membaca sandinya kepada Fugiko."

"Hah bagaimana caranya?"

"Cukup mudah. Sandi Caesar adalah salah satu sandi yang dapat dipecahkan dengan mudah, karena sistem penggunaan sandi ini intinya hanya menukar tempat dari huruf alfabet saja."

"Aku tidak mengerti…"

"Shhh…. Kukira seorang siswa dari Akademi Seika dapat memecahkannya dengan mudah. Baiklah Fugiko akan berbaik hati mengajarkannya kepadamu."

Iwamine mengeluarkan sebuah box kecil dari sakunya. Box itu berbentuk persegi berukuran 10 cm dengan ketebalan sekitar 3 cm. Iwamine menekan sebuah tombol biru pada permukaan box hitam tersebut. Tiba-tiba sebuah layar hologram muncul di hadapannya.

"Ini komputer hologram mini yang disimpan dalam sebuah box. Fugiko selalu membawanya untuk berjaga-jaga."

Tadi pisau, sekarang komputer mini, selanjutnya apa lagi yang akan ia bawa?

"Kau mungkin berpikir bahwa gadis seperti Fugiko banyak membawa benda aneh di sakunya, tapi itu lebih baik daripada tidak membawa apa-apa seperti kau. Kota ini…. Walau kota ini memiliki tingkat keamanan yang tinggi dan teknologi modern, kita tidak akan pernah terlepas dari pengguna sihir yang menyalahgunakan kemampuannya."

Tentang sihir lagi…. Jadi Iwamine juga mengetahui hal itu.

"Ngomong-ngomong Sakagi-San, Fugiko tidak suka jika orang lain tidak memperhatikan penjelasannya. Jadi Fugiko ingatkan kembali, jangan pernah mencoba MELAMUN di hadapannya."

"Aku tidak sedang melamun, aku sedang mencerna apa yang kau katakan. Ahh lupakan! Ayo ajari aku cara membacanya."

Iwamine menggeser kursinya sedikit ke depan lalu mulai menjelaskan apa yang sudah ia pelajari dari temannya.

"Untuk mempermudah pengerjaannya, sebaiknya kita buat tabel alfabet dari 'A' sampai 'Z'. Selanjutnya kita asumsikan A = 0, B = 1, C = 2, dan seterusnya hingga Z = 25."

Iwamine dengan cepat membuat sebuah tabel alfabet dari A sampai Z di komputer mini nya dengan masing-masing huruf mempunyai angkanya masing-masing.

"Lalu bagaimana jika kita balik susunan angkanya? Bagaimana jika huruf G = 0, H = 1, I = 2, dan seterusnya?"

"Apa boleh seperti itu?"

"Tentu saja, selama huruf yang kita pindahkan berurutan. Misalnya, kau ingin mengganti huruf A dengan huruf C. Dalam masalah tersebut kau mengganti huruf A dan semua susunan urutan setelahnya. Hasilnya adalah huruf C = 0 , D = 1 , E = 2, dan seterusnya."

"Lalu apa yang terjadi dengan huruf A dan B?"

"Kedua huruf itu dipindahkan menjadi seperti ini…"

Iwamine membuat sebuah tabel baru di samping tabel alfabet yang lama.

"Anggap saja dalam kode ini kita melakukan permainan mengambil kursi milik orang lain. Dalam kasus ini, C mengambil kursi A sehingga C = 0. Hal ini berlaku pula dengan huruf-huruf yang terletak sebelum huruf C, seperti B dan A. Lalu huruf A dan B…. menjadi huruf terakhir dalam alfabet yaitu huruf setelah Z."

"Jadi seperti itu…! Lalu bagaimana kita mengkaitkan hal ini dalam menyelesaikan suatu kode? Seperti kode yang kutemukan itu."

"Nah… dari sinilah kita mulai memasuki cara pembacaan kode."

Iwamine membuat suatu kode di bidang yang tersisa pada komputer mini.

"Fugiko akan memberikan contoh sederhana dengan membuat kode seperti ini."

FPSSH

Hint : "4"

"Pertama kau harus melihat petunjuk yang tertulis di bawah kode tersebut. Disana tertulis angka 4. Huruf alfabet apa yang mempunyai kedudukan 4?"

"E , bukan?"

"Yap! Jadi seperti yang kujelaskan tadi, E = 0 karena E telah mengambil kursi milik A. Setelah itu kau tahu susunan alfabet yang baru, kan?"

"Hmmm…. E = 0 , F = 1, G = 2, dan seterusnya hingga D = 25"

Hio menuliskan susunan alfabet yang baru di sebuah kertas.

"Langkah yang selanjutnya akan lebih mudah jika kita sudah berhasil menemukan petunjuknya. Coba lihat di susunan alfabet yang baru. F, P, S, S, H ada dalam urutan atau posisi ke berapa saja?"

"F = 1, P = 11, 2 huruf S = 10, dan H = 3."

"Lalu lihat apa huruf alfabet yang sebenarnya melalui angka-angka itu, 1, 11, 10, dan 3. Di susunan alfabet yang sebenarnya, mereka ada di huruf apa saja?"

"1 ada di B, 11 ada di L, dua huruf S ada di O, dan 3 ada di huruf D. Jadi kode F, P, S, S, H ini dibaca…."

"BLOOD…" Jawab Iwamine sembari tersenyum

"Ternyata begitu cara membacanya!"

"Memang cukup membingungkan saat pertama kali melihatnya, tapi setelah kau mengetahui caranya kau akan selalu mengatakan kode itu sangat mudah. Karena konsep dari kode ini hanya mengganti, menyusun, dan mencocokkan."

Iwamine menyandarkan punggungnya di kursi lalu menguap lebar-lebar. Ia mengambil kertas berisi sandi Caesar yang ditemukan oleh Hio lalu dengan santai memberikan sandi tersebut kepadanya.

"Sekarang coba kau selesaikan sandi Caesar yang kau temukan itu."

Hio dengan cepat menyelesaikan sandi tersebut. Kali ini ia benar-benar tertarik dengan permasalahan aneh yang sedang dihadapinya setelah berhasil menyelesaikan Sandi Caesar yang diberikan Iwamine.

A = T, V = 0…

!

"Oy Iwamine, aku menemukan jawabannya!"

"Apa? Kau cepat juga ya."

"Tapi aneh…. Apa maksud dari kata ini?"

TOLONG AKU!

SEIKA MANAMI

"Ma…Manami!"

Drttt..! Tiba-tiba terdengar suara dering handphone dari saku Iwamine. Ia segera mengambil handphone dari sakunya lalu mengangkatnya.

"Ha…halo?!"

"Fugiko! Kau darimana saja?! Aku sudah mencarimu ke berbagai tempat tapi kau tidak ada dimanapun. Sekarang kau ada dimana? Cepatlah pulang!"

"Aaa… Muko-Chan, sepertinya Fugiko tidak bisa pulang cepat hari ini. Fugiko sedang di Cafeteria bersama dengan seseorang. Kali ini sedang darurat, Muko-Chan jangan mengganggu Fugiko ya! Fugiko akan segera kembali secepat mungkin, sampai nanti!"

"Oii tunggu, Fugiko!"

Iwamine menutup handphone nya lalu kembali ke topik pembicaraan.

"Hei Sakagi-San, aku tidak ingin mendengar pendapatmu tapi sebaiknya kau ikut denganku."

Iwamine memegang tangan Hio lalu menariknya pergi dari Cafeteria.

"Hei tunggu dulu! Sebaiknya kita selesaikan baik-baik masalah ini! Kita tidak perlu terburu-buru, bukan?"

"Bagaimana Fugiko tidak terburu-buru ketika melihat temannya dalam bahaya?! APA KAU TIDAK PERNAH MEMILIKI ORANG YANG KAU SAYANGI, HA?! MINGGIR KAU!"

"BODOH! TENTU SAJA AKU PUNYA! MAKSUDKU KITA PUN TIDAK TAHU AKAN KEMANA, KITA TIDAK TAHU APA YANG TERJADI DENGANNYA, APA YANG AKAN KAU LAKUKAN JIKA TIDAK MENGETAHUI APAPUN?!"

Iwamine terdiam mendengar perkataan Hio. Di sisi lain ia merasa perkataannya ada benarnya juga. Melakukan sesuatu dengan terburu-buru itu tidak baik. Iwamine tertawa kesal lalu memandang Hio yang ada di depannya.

"Khh… Fugiko tidak pernah menyangka….orang yang disukai Manami ternyata seorang idiot seperti dia."

"Hah? Disukai apa?" Tanya Hio yang merasa mendengar sesuatu.

"Bukan apa-apa. Ayo, jika kau ingin menolong Fugiko mencari Manami, segera pikirkan baik-baik caranya…"

..

"Ahhh Fugiko! Kenapa kau tidak membalas telepon ku juga?! Ini sudah pukul 16.00 lho! Biasanya dia tidak pulang sampai selarut ini, dan lagi… dia bilang situasinya darurat. Kenapa kau tidak memberitahukan kepadaku saja jika ada masalah….."

Fuukiba berlari menuju Birdway Cafeteria yang terletak di jalan Alpha. Ia tidak yakin temannya ada disana, tapi cafeteria itu adalah salah satu café favoritnya, jadi mungkin Iwamine ada disana.

Birdway Cafeteria

Alpha Crossroad

"Hah….hah…hah….. Permisi…. Apa kau melihat seorang gadis berambut panjang? Ia selalu membawa banyak barang di sakunya dan…..dan….."

Penjaga toko tersebut memandang Fuukiba dengan keheranan. Ia lalu tersenyum dan menepuk pundaknya berusaha menenangkan gadis itu.

"Kau tidak perlu khawatir, aku tahu anak itu. Kalau tidak salah namanya Iwamine Fugiko kan? Dia sering mampir ke café ini."

"I…iya aku tahu itu, sekarang dimana dia?!"

"Beberapa menit yang lalu ia bersama seorang laki-laki yang sepertinya dari Akademi Seika. Aku tidak terlalu mengingat detail dan ciri-cirinya lagi selain itu."

"Tidak apa-apa! Terimakasih banyak!"

"Ahh ada apa dengannya? Kelihatannya ia sangat terburu-buru dan khawatir. Apa jangan-jangan….. anak itu diculik oleh laki-laki dari Akademi Seika itu?!"

"Haah aku tidak punya banyak waktu jika terus mencarinya begini. Di saat seperti ini aku hanya bisa menggunakan ini…. 'Aim of The Stalker' "

Fuukiba melemparkan sebuah kalung perak dengan ornament berbentuk ruby berwarna biru ke tanah. Cling! Ketika kalung tersebut sampai di permukaan tanah, tiba-tiba terbentuk sebuah lingkaran sihir yang berpendar-pendar. Ujung-ujung lingkaran sihir tersebut kemudian barubah menjadi sebuah jalan kecil yang bersinar-sinar. Jalan itu terus memanjang dan akan berhenti secara otomatis jika target yang dicari sudah ditemukan.

"Fuuhh… Untung aku selalu membawa kalung pemberian Fugiko ini. Karena aku sudah mencampur sedikit darahnya dengan kalung ini, aku dapat menggunakan Aim of The Stalker dengan baik. Selama ada benda tertentu dan darah, tidak ada yang bisa lepas dari mataku fufufu….."