Yoks balik lagi. Saya harus sabar menunggu kedatangan ibuku lagi ke Jakarta pada awal puasa nanti.. (Luigi01: Bujug buneng...)

fetwelve: Hahaha iya xD minta saja ke Luiginya (Luigi: Enak aja, mau banget ya). Kalau bisa sih lem hantu =w= (?)

Yasudah, misteri karakter yang misterius terpecahkan disini. Chapter 17: Battle on Haunted House


"M-Maruta..?" tanya Mario. Ya, sosok itu yang sebenarnya tidak mau ia temui akhirnya muncul kembali.

"Ya, akhirnya kita bertemu lagi," kata Maruta. "Padahal kau kan hampir kalah waktu itu."

"B-beraninya!" Mario kesal.

"Ya, ya, sudah cukup sandiwaranya. Sekarang fix-nya 3 orang itu siapa?" tanya Luigi.

"Ahaha, kau ingin tahu?" tanya Maruta, sambil memetik jarinya. "Wahai 3 orang yang disana, turunlah."

3 orang perempuan itu turun. Mereka memperlihatkan sosok mereka yang mengerikan itu. Luigi dengan nekadnya menyorot senter itu ke hadapan mereka, dan melihat mukanya agak (kalau menurutnya sangat) seram. Tapi, ia mencoba tenang dan melihat berkali-kali muka mereka.

"Mbak yang itu," kata Luigi, menunjuk kepada si kerudung merah. "Dandanannya ketebelan."

"APA?! KURANG AJAR SEKALI KAU!" kata perempuan itu menggosok-gosok mukanya. "Masa kau mengatakan seperti itu didepan perempuan unyu nan keceh seperti aku?!"

'Iuh banget,' batin Luigi, kata-katanya nusuk hati sebenarnya jika dikatakan.

"Apaan yang unyu, justru mengerikan!" kata Teito, membalas kata-kata perempuan itu.

"SEMBARANGAN! TIDAK BOLEH BERBICARA SEPERTI ITU DI HADAPAN KARABURU SAIMI!" teriak perempuan itu. Haduh, OOC sekali disini. Napas, mbak. Napas.

"Siapa elu...," tanya Teito, masih nyolot.

'Haduh, kok jadi songong gini ya...?' batin Luigi lagi.

"Makan ini!"

Luigi terkejut, beruntung ia masih bisa menahan serangan dari Maruta.

"Mario, urus dia!" kata Luigi. "Biar ku urus kedua anak kembar itu!"

"Oke!" Mario bergegas mengeluarkan senjata andalannya.

Teito mengambil sebuah bom, eh bukan, namun beberapa. Lalu melemparkan ke arah Saimi.

"Let's get party here...," kata Teito.

Langsung beberapa ledakan terdengar dari hallway. Maria baru menyadari di sebelahnya tidak ada Teito dan Mario.

"Pasti ulah mereka...," kata Maria.

"Ulah apa?" tanya Niagi.

"Tuh," kata Maria. Terdengar lagi ledakan.

"Sepertinya... iya," kata Niagi.

Kembali ke keadaan...

Asap mengumpul di ruangan itu. Luigi dan Mario ber-uhuk-uhuk ria. Maruta mengambil kesempatan untuk menyerang Mario, yang diketahui Luigi.

"Mario! Awas!" Luigi mendorong Mario, namun ia sendiri terkena serangan Maruta yang menyebabkan pinggang sebelah kirinya terluka dan mengeluarkan darah.

"Luigi!" pekik Mario, lalu berlari ke arah Luigi.

"Aku.. Tidak apa..," kata Luigi.

"Dengkulmu tidak apa! Kau terluka parah!" kata Mario, menyentil dahi Luigi.

"Aduh!" Luigi meringis. Lalu mengusap dahinya yang disentil.

"Mario!" teriak Teito. "Sepertinya kita harus menyelesaikan ini!"

"Bagaimana caranya?! Luigi terluka!" kata Mario.

"Apa?!"

Teito melempar bom asap ke Saimi. Saimi terbatuk-batuk, membuat Teito punya kesempatan untuk berlari ke arah Luigi.

"Sudah, aku tidak apa!" kata Luigi, memaksakan diri untuk bangun. Tapi ia mengerang kesakitan.

"Kau ini mau menyiksa dirimu sendiri ya?" tanya Teito, lalu membantu Luigi untuk berdiri.

"Ma-maaf Teito, tapi aku harus membantu kalian berdua...," kata Luigi. "Masa iya kalian harus mengorban diri kalian sendiri demi aku?"

"Namanya pertemanan," kata Teito. "Sudah, kau istirahat dulu! Jika kau menyiksa dirimu lagi, kau bisa pingsan!"

"Apa? Tidak akan!" kata Luigi.

"Aku tahu kau ini bagaimana!" kata Teito.

"Terserah," kata Luigi. "Aku hanya ingin melawan dan ingin tahu sosok 2 anak itu!"

"Baiklah," kata Teito. "Silahkan."

Luigi bangun sambil memegang pinggangnya. Ia lalu melihat 2 sosok itu.

"Terluka, eh?" tanya sosok itu bersamaan.

"Ya, masalah?" tanya Luigi.

"Kurasa 2:1 pasti kita menang," kata seorang perempuan berambut twin tails itu.

'A-apa...?' batin Luigi.

2 orang perempuan itu masing-masing membawa bazooka. Memang mengejutkan bagi Luigi, karena ia tak mungkin bisa menang.

"Pemanasan ya~ FIRE!" perempuan berambut twin tails itu menembak Luigi dengan bazooka-nya.

"Ugh!" Luigi berhasil menahan serangannya dengan memblowing penghisap itu.

"Aku hanya ingin tahu siapa nama kalian berdua...," kata Luigi, napasnya terengah-engah.

"Sasaki Ryuhime," kata perempuan twin tails itu.

"Sasaki Ryohisa," kata perempuan diduga kembarannya.

"...Begitu," kata Luigi. Lalu bangkit lagi. Darahnya semakin banyak mengalir dan semakin mengotori bajunya.

"Combination!" Ryuhime menggabungkan bazooka-nya dengan bazooka milik Ryohisa.

"Kami tahu siapa dirimu, jadi kami harus habiskan dirimu~" kata mereka bersamaan.

'Apa?!' Luigi shock. "Ma-maksud kalian...?"

"Kau harus mati!" Ryohisa dan Ryuhime lalu menembak secara bersamaan.

"Tidak akan!" Luigi lalu menyerang dengan tembakan blowing pada penghisapnya.

2 kekuatan bazooka dengan 1 kekuatan blow berlawanan. Tak lama, akhirnya 3 kekuatan itu meledak.

Ledakan itu menyebabkan sinar yang sangat terang dan merusak yang ada disekitarnya.

Mario terbangun. Baju dan celananya agak sobek karena ledakan itu. Pikirannya mulai negatif ketika mengkhawatirkan Luigi.

"Haduh! Iya!" Mario baru sadar dan mencari-cari Luigi. "Luigi! Dimana kamu?!"

"Disini!"

Luigi tertimpa beberapa kardus-kardus yang sudah rusak. Mario menarik tangan Luigi untuk bisa keluar dari tumpukan kardus-kardus itu.

"D-dios mio!" Mario terkejut, ketika melihat Luigi tambah parah lukanya.

"Ada apa sih?" tanya Luigi.

"Ada apanya apa! Lihat itu!" Mario menunjukkan luka baru pada perut dan lengan Luigi.

"Oh ini...," kata Luigi, cuek.

"Aduh, itu mulai parah luka kamu," kata Mario.

"Mulai deh insting dokternya," kata Luigi. "Daripada ikut berpetualang mendingan kamu jadi dokter di klinik aja."

"Aish kau ini," kata Mario. "Aku kan khawatir."

"Khawatirnya nanti dulu, sekarang lihat keadaan sekeliling," kata Luigi. "Tuh, musuhnya sudah keburu kabur. Mana rumah ini tambah bobrok."

Niagi dan Maria datang untuk melihat apa yang terjadi di ruangan itu.

"Astaga! Kalian ngapain ini sampai seperti ini?!" kata Maria.

"Perang dunia ke-3," kata Mario.

Niagi kaget melihat Luigi terluka di berbagai tempat.

"Ya ampun, Luigi! Kau ini...," kata Niagi, mencoba melihat lukanya.

"Apa-apaan kau? Sakit tahu!" kata Luigi.

"Yeh, aku ga apa-apain kau," kata Niagi. "Wah, dalam sekali."

"Teito?! Teito?!" Maria memanggil Teito berkali-kali.

"Aku disini," kata Teito. Ia keluar dari balik triplek yang ambruk.

"Widih kau ini main petak umpet ya," kata Mario. "Masak di balik triplek."

"Enggak kok, cuma jadi tikus," kata Teito.

"Jadi... kita kalah nih...?" tanya Luigi.

"Belum!" kata Mario. "Orang musuhnya ilang!"

"Yasudah," kata Luigi, lalu teringat sesuatu. "Ah tidak! Aku lupa mencari barang itu!"

.

.

.

GUBRAK!

"Haduh kau ini," kata Mario, menjitak kepala Luigi.

"Astaga kau ini!" kata Niagi.

"Yasudah kita cari bareng-bareng!" kata Teito. "Ada-ada aja ini..."

"Kan kita lupa gara-gara ada musuh!" kata Luigi.

"Udah lupain aja, sekarang yang kau cari itu apa?" tanya Teito.

"Umm... benda itu kubentuk seperti kalung, batu permatanya berwarna hijau toscha dan ada ukiran namaku disitu," kata Luigi.

"Hah? Permatanya ditalikan gitu?" tanya Teito.

"Iya," kata Luigi.

"Seperti ini kan?" tanya Mario, memberi benda yang dimaksud Luigi.

"Hah?! Kau nemu dimana itu?!" kata Luigi.

"Sudah lama," kata Mario. "Kukira kau tidak mencari-carinya."

"Wah diawetin," kata Luigi.

"Aku baru tahu kalau Luigi suka memakai benda seperti itu," kata Teito.

"Bukannya suka, tapi memang ini benda yang spesial," kata Luigi.

"Halah, dari pacarmu kan?" kata Mario.

"Enak saja!" kata Luigi.

"Ngaku saja~" kata Niagi.

"Beneran bukan!" kata Luigi.

"Jadi, dari siapa?" tanya Maria.

"Mau tau?" tanya Luigi.

"Iya," kata mereka serempak.

"Kepo!" kata Luigi.

"Yah kok gitu sih," kata Teito. "Aku kan pengen tau."

"Rahasia dibalik rahasia~" kata Luigi. "Aku tidak mau orang lain tahu~"

"Dasar, masih misterius juga ini anak," kata Mario.

"Boleh dong," kata Luigi. "Nah, terus kita gimana nih sekarang?"

"Pulang..?" tanya Maria.

"Yasudah, istirahat dulu," kata Niagi. "Aku capek."

"Sama," kata Teito.

"Dan...," Mario melirik ke Luigi.

"Apa?!" tanya Luigi. "Aku tak mengerti arti lirikanmu!"

"Ahaha ga apa," kata Mario. "Ayo, kita pulang dulu!"

"Hayoo!" kata mereka serempak, meninggalkan rumah itu, namun dihentikan oleh Rui.

"Tunggu!" kata Rui. "Aku ingin berbicara denganmu."

Luigi mengerti dan berjalan mendekati Rui.

"Namamu siapa? Aku tidak tahu," kata Rui.

"Kagayaku Luigi," kata Luigi. "Ada apa?"

"Setelah misimu selesai," kata Rui. "Tolong kembali kesini lagi."

"Me-memangnya maksud misi itu apa?" tanya Luigi.

"Kau punya misi tidak?" tanya Rui.

"Punya lah!" kata Luigi.

"Setelah selesai, tolong kembali. Aku butuh bantuanmu," kata Rui.

"Oke," kata Luigi, lalu meninggalkan Rui.

=o=o=o=o=o=o=

Mereka berlima berjalan meninggalkan rumah itu. Mario menyenggol Luigi seraya ingin berbisik sesuatu.

"Tadi katanya apa?" tanya Mario.

"Tidak kok, bukan apa-apa," kata Luigi. Tersenyum.

Seiring waktu berjalan cepat, tak terasa mereka berjalan ke rumah sampai waktu malam tiba.


Masih panjang ternyata ceritanya. Tapi lumayan lah, seminggu Niagi02 tinggalin dulu karena sibuk. Maafkan daku, Luigi01~

Yasudah lah, daripada yang nunggu sudah ngupil duluan, mendingan sudahi dulu saja Author Note disini.

Review boleh~ dan HBD buat Roleplayer Hanami Rei pada 25 Mei kemarin!