Smilling © Amacchi


Jarum-jarum air tak henti-hentinya jatuh dari awan berwarna kelabu. Dari sejak itu pula Prilla menekuk wajahnya. Ia hanya melihat ke arah luar, melihat rintik-rintik air tersebut. Arifin, yang saat ini duduk di hadapannya tak tahu apa yang harus ia lakukan atau ucapkan. Sesekali ia menghela napas panjang. Latte yang beberapa menit lalu ia pesan ia seruput pelan.

Ia menyimpan kembali cangkir latte-nya lalu menatap Prilla.

"Kau kenapa?" tanyanya.

Gadis berambut hitam ikal panjang itu menoleh dan berujar pelan, "Hujannya tak berhenti."

Arifin menghela napas panjang. "Mungkin sebentar lagi berhenti," ucapnya sedikit menghibur.

"Semoga."

Hening.

Tak ada satupun dari mereka berdua yang memulai kembali pembicaraan. Derai hujan masih mengalun indah. Namun itu tak mengusik kedua insan yang saat ini berada di dalam sebuah kafe.

Ekspresi Prilla tak juga berubah. Tak ada senyuman, tak ada tatapan hangat seperti biasanya. Yang ada hanyalah tatapan sendu. Ia merasa sedih karena hujan tak kunjung reda. Padahal ini adalah kali pertama Arifin mengajaknya untuk pergi ke luar—bisa dibilang kencan pertama mereka.

Arifin tak bisa berbuat apa-apa. Bola matanya turut melihat ke luar jendela. Masih hujan. Tapi kerapatan rinai-rinai hujan mulai merenggang—hanya tinggal gerimis.

Tiba-tiba Arifin melengkungkan sudut bibirnya saat tatapannya mengarah ke langit.

"Tunggu sebentar," ucapnya. Ia pergi menuju kasir untuk membayar dua cangkir kopi hangat yang tadi ia dan Prilla pesan. Setelah itu ia menghampiri Prilla dan berdiri di hadapan gadis itu.

"Ayo, ikut aku!" ajaknya. Arifin menarik pergelangan tangan Prilla sehingga mau tak mau Prilla mengikuti Arifin.

Tanda-tanya besar muncul dalam benak Prilla.

"Mau ke mana?" tanyanya penasaran. Namun ia hanya menurut. Langkah-langkah kecilnya seirama dengan langkah Arifin yang keluar dari kafe tersebut.

Arifin membawanya ke sebuah bangku di taman. Mereka berdua duduk di bangku tersebut.

Pandangan lelaki itu mengarah pada langit yang mulai cerah.

"Lihatlah," seru Arifin sembali mengarahkan telunjuknya pada sebuah lengkung spektrum warna di langit yang tampak karena pembiasan sinar matahari oleh titik-titik hujan tadi.

Tanpa sadar, Prilla bergumam pelan, "Indahnya~"

Ia menarik sudut-sudut bibirnya, mengukir sebuah senyuman. Ia terus menatap pelangi sambil tersenyum.

"Ya indah," tanggap Arifin.

Arah pandang lelaki itu sebenarnya bukan pada pelangi, melainkan pada gadis di sampingnya.

'Seindah senyummu, Prilla.'


_End_