Dapatkah aku mencintaimu? © author

Rated: T

Genre: Romance and Drama

Warning: GaJe, Typo(s) dan berbeda dari pikiran kalian.

Fic pertama saya di fictionpress. Saya sadar banget fic ini masih jauuuuhhh dari kata sempurna. Tapi, apa salahnya memberi review atau sekedar mampir untuk membaca fic ini?! Review sangat dibutuhkan demi kesempurnaan fic ini.

-xXx-

-Summary:

Azuki Miori membenci Yuuta/ Hingga pada suatu hari ia harus menjalani hari bersama Yuuta/ Yuuta mencoba mematahkan rasa benci Azuki itu kepadanya dengan bertaruh/ "Tahu begitu, aku tidak akan menyukaimu."/ Silakan dibaca, sudah itu direview. Hahaha~

.

.

.

~Selamat Membaca~

Azuki POV

Ohayo gozaimashita, namaku Azuki Miori. Siswi Seika High School kelas 2-2. Aku adalah sosok yang biasa saja, tidak ada keistimewaan yang menonjol dariku, yoroshiku onegaishimasu. Sebenarnya aku memiliki banyak cerita yang ingin kusampaikan kepada kalian. Tapi, saat ini aku sedang tidak ada semangat untuk menceritakan kehidupanku. Semuanya karena…

"Hah, sayang sekali…" Azuki duduk di bangkunya dengan wajah lesu.

Kemudian Miku menghampirinya. "Ada apa? Wajahmu seperti tanaman yang tidak disiram sebulan."

Azuki mendelik, menatap sahabat kecilnya itu dengan tatapan bosan. "Jangan ganggu aku!"

"Oh, sudah bisa kutebak. Pasti karena pemilihan kelompok tadi pagi, 'kan?" ucap Miku bersemangat.

"Hah…" Azuki hanya mampu mendengus kesal sambil menutup wajahnya menggunakan tangannya. Kesal, kesal sekali rasanya. Hari ini benar-benar hari kesialannya. Tadi pagi kelas 2 – 2 sedang mengadakan pemilihan kelompok belajar secara permanen. Selama ini pemilihan kelompok belajar belum ditetapkan secara permanen. Dan karena pemilihan kelompok belajar menyebalkan itu, akhirnya Azuki harus sekelompok dengan orang yang paling dibencinya, Yuuta.

.

.

.

"Oi, kau mau kemana, Yuuta?" Tanya Akira sambil men-dribble bola basket yang ada di tangannya.

"Mau ke UKS, tidur sebentar. Kenapa?" ucap Yuuta datar.

"Oh, tidak ada. Aku juga harus kembali ke kelas. Bel masuk sebentar lagi akan berbunyi."

"Nih! Ambil bolanya! Tolong kembalikan ke gudang, ya." Akira melempar bola basket itu ke Ryo.

"Hup! Oke, aku pergi dulu!" ucap Ryo. Ia melangkah pergi sambil men-dribble bola basket itu.

"O, ya, Yuuta. Kudengar kelasmu mengadakan pemilihan kelompok belajar permanen." Akira menahan bahu Yuuta.

"Ck, konyol. Seperti apa saja sampai kau juga mengetahuinya."

"Aku tertarik mendengarnya. Soalnya dari berita yang kudengar kau sekelompok dengan seorang gadis. Benarkah itu?"

"Hn."

"Siapa gadis beruntung itu?" Akira mendesak Yuuta.

"Dia tidak sedang beruntung…" Yuuta menghentikan ucapannya, kemudian ia menyeringai licik, membiarkan Akira menatapnya heran. "Karena gadis itu sendiri adalah gadis yang paling membenciku, dia Miori Azuki." Yuuta memperlebar seringainya membayangkan wajah kesal Azuki saat ini.

.

.

.

"Hatssyyiii!" Azuki menggosok hidungnya. "Siapa yang sedang membicarakanku disaat seperti ini?" ucap Azuki kesal.

"Azuki menakutkan. Aku bahkan merasakan ada aura kegelapan menguar darinya…" ucap Miku.

Jiit! Azuki mendelik. "Ada apa?" ucap Azuki.

Miku menggeleng. "Tidak ada. Lanjutkan kegiatanmu. Aku pergi dulu." Miku melangkah keluar kelas, kebetulan karena kelasnya ada di sebelah.

Azuki menghampiri Miku. Ia menahan tangan Miku. "Jangan seperti itu! Aku tidak sedang mengusirmu!"

"Hah, sedari tadi wajahmu terlihat menakutkan…" protes Miku.

Azuki sweatdrop. "Kau berlebihan. Aku hanya masih kesal dengan teman sekelompokku."

"Hahaha, bersabarlah, Azuki-chan. Yuuta-kun tidak seburuk itu!" ucap Miku sambil mengelus pundak Azuki.

Azuki tersenyum. "Semoga benar begitu. Ehm, Kalau begitu aku ke UKS dulu. Aku ingin mencari Kaede-san dan meminta obat sakit kepala. Sejak pagi tadi kepalaku pusing."

"Begitu, ya. Azuki-chan harus berhati-hati." Miku tampak cemas.

"Aku pasti berhati-hati. Mungkin aku sekalian akan beristirahat di sana. Sampai jumpa!" Azuki berjalan menuju UKS.

"Sampai jumpa!"

Di UKS. Azuki mencari Kaede-san. 'Kemana dia?' batinnya bingung. Azuki mencari Kaede di berbagai tempat.

"Mungkinkah di sini?!" Srek! Azuki menyibakkan tirai putih di depannya. Bisa jadi Kaede-san sedang beristirahat di ranjang.

Jiit! Apa ini? Azuki terdiam sejenak. Ia masih berdiri di tempat. Rupanya pikiran Azuki meleset. Bukan Kaede-san yang di sana melainkan sosok yang paling dibenci Azuki, Yuuta. Yuuta berbaring di ranjang UKS dengan kemejanya yang terbuka sambil membaca sebuah buku.

"Ada orang, ya?" Yuuta mengubah posisinya menjadi duduk. Ia menatap orang itu. "Kau, ya." Yuuta menyeringai.

"Apa yang kau lakukan di sini? Kau membolos?" Tanya Azuki.

"Aku tidak sedang enak badan. Tapi aku juga sedang membaca buku pelajaran kali ini. Kau sendiri? Sedang membolos?"

"Enak saja! Aku sama sepertimu. Oya, kau melihat Kaede-san?"

"Dia keluar sebentar. Katanya akan kembali sebentar lagi. Kau menunggu saja di sini."

"Terima kasih, tapi aku harus kembali ke kelas." Azuki hendak melangkah meninggalkan tempat itu, kalau saja Yuuta tidak menariknya.

Zruut! Bruk! "Eh, apa yang kau lakukan?!" jerit Azuki. Yuuta menarik Azuki agar duduk di sampingnya. Tidak lupa dengan lengan Yuuta yang memeluk pinggangnya.

"Duduklah sebentar saja di sini. Kelas kita jauh dari UKS, sungguh melelahkan kalau harus ke sana lagi."

Azuki menatap Yuuta kesal. "Bisa kau lepas tanganmu dari pinggangku? Hal itu menggangguku!"

"Oh, maaf!" Yuuta melepaskan tangannya dari pinggang Azuki.

.

.

.

Keheningan pun melanda keduanya. Yuuta yang tidak menyukai ini segera memecah keheningan tersebut. "Hei, kenapa kau membenciku?" Tanya Yuuta.

Azuki menatap Yuuta tajam. "Huh, kau terlalu dingin. Pelit bicara, pelit senyum. Juga terkadang terlalu santai."

"Hanya itu? Semua orang malah menyukai sikapku yang seperti itu." Yuuta tak mau kalah.

"Tapi aku berbeda. Di mataku, kau bahkan lebih rendah dari seekor kecoa. Kau bukanlah sosok gentlemen."

Yuuta tersenyum. "Begitu? Aku pikir kau salah menilai sosok gentlemen. Dengar, aku akan membuatmu mengerti apa itu gentlemen…"

"Huh? Tidak perlu pembuktian…"

"Dengar baik-baik dan jangan pernah lupakan. Aku akan membuatmu menyukaiku!"

"Hah? Kau ini…" Azuki tercengang.

"Bagaimana? Kalau aku menang, kau harus menuruti tiga permintaanku, begitu juga sebaliknya."

Azuki berpikir sejenak. Tidak ada salahnya kalau ia mencoba taruhan itu. Biar tahu rasa Yuuta nantinya. Azuki tersenyum. "Baiklah."

Sepuluh menit lamanya Azuki menunggu Kaede-san, namun yang dicari sama sekali belum menampakkan batang hidungnya. Azuki berpikir Yuuta sedang menipunya.

"Aku ingin kembali. Kaede-san belum datang juga." Azuki beranjak dari duduknya.

"Oya, bagaimana dengan tugas nanti? Apa kau akan ke rumahku? Atau aku yang ke rumahmu?" Yuuta bermaksud menjalankan permainan taruhannya itu dengan memanfaatkan kelompok belajar.

Azuki terdiam. Ia berpikir sebentar. "Aku tidak peduli tempatnya. Yang penting kau tidak ke rumahku."

"Baiklah. Besok, jam delapan kita bertemu di depan taman kota. Bagaimana?" tawar Yuuta.

Azuki menghela napas. "Ya, baiklah." Azuki berjalan meninggalkan Yuuta.

"Eh, hei. Tunggu sebentar! Datanglah dan temui aku dengan niat 'kencan'!" ucap Yuuta.

Azuki berbalik menatap Yuuta. "Hah? Apa?" Azuki tidak habis pikir. Kenapa orang ini bertindak seenak jidatnya?

"Aku harap kau tidak tuli, Azuki-san!" ucap Yuuta.

Azuki mengendikkan bahu. "Terserah…"

.

.

.

Keesokan harinya…

"Hei! Kau kemana saja? Ini sudah jam sepuluh, bodoh!" bentak Yuuta.

"Diam! Aku hanya sedang membersihkan rumah terlebih dahulu."

"Dan apa itu? Kau sama sekali tidak memakai make-up? Huh, aku malu jalan denganmu!"

"Berisik. Yang minta juga kamu, 'kan! Jadi tidak usah mengomeliku terus…" ucap Azuki membela diri.

"Huh, terpaksa aku harus membenahimu dulu." Gyut! Yuuta menarik lengan Azuki.

"Hiiee! Apa yang kau lakukan?!"

.

.

.

Rupanya Yuuta membawa Azuki ke toko riasan. Azuki merasa aneh dengan sekitarnya. Ia melihat beberapa make-up dan aksesoris yang sering Ibunya pakai. Belum pernah ia memakai peralatan itu sedikit pun.

"Nah! Ayo, coba ini!" ucap Yuuta. Membuat Azuki mengalihkan pandangannya ke sebuah benda yang ada di tangan Yuuta.

"Apa itu?"

"Lipgloss. Aku yakin kau cocok dengan yang warna ini. Cepat pakai!" Yuuta menyodorkan lipgloss yang ada di tangannya ke Azuki. Azuki pun menerima lipgloss itu.

Melihat Azuki yang diam saja seolah sedang berpikir, Yuuta langsung merebut kembali lipgloss itu dari tangan Azuki.

"Bodoh! Sini. Biar aku yang pakaikan!" Yuuta mengangkat dagu Azuki. "Buka mulutmu! Kalau seperti itu mana bisa kupakaikan!"

Namun Azuki mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Buka!" pinta Yuuta.

Dengan pasrah, Azuki membuka sedikit mulutnya. Deg! Yuuta merasakan jantungnya berdetak kencang.

Bruk! Yuuta memberikan lipgloss itu kepada Azuki. "Kau pakai saja sendiri. Aku tidak bisa."

"Heh? Dasar aneh!"

Hari ini mereka berdua tampak senang. Yuuta tampak begitu menyenangkan hari ini. Azuki tidak mengerti. Ia hanya menjalani hari menyenangkan ini bersama Yuuta. Baginya, hari ini tidak rugi rasanya keluar belajar kelompok bersama Yuuta. Pergi ke sini, ke situ. Ia sungguh bahagia. Sayangnya, Azuki tak tahu, kalau sebenarnya Yuuta melakukan ini hanya untuk menyelesaikan taruhan itu. Ya, Azuki tak tahu itu.

.

.

.

Keesokan harinya…

Azuki meletakkan buku-bukunya di loker. Ia tersenyum mengingat hari-hari bersama Yuuta kemarin itu sungguh menyenangkan.

"Hei! Oh, kau Azuki, ya…" ucap Kikyou sambil berjalan mendekati Azuki.

"Ya, ada apa?"

"Kudengar kau dekat dengan Yuuta. Karena sekelompok dengannya, kau berpikir bisa mendekati Yuuta seenakmu!" bentak Kikyou.

"Eh?!"

"Sayangnya, kemarin Yuuta memberitahukan kami tentangmu. Baginya kau ini bodoh. Begitu mudah dikelabui. Kemarin itu kau dan Inuyasaha sedang belajar bersama, 'kan? Kau tahu, sebenarnya itu hanya tipuan yang Yuuta buat agar ia menang. Kami juga tahu, kau sedang taruhan dengannya. Jadi, tolong jangan anggap serius, deh!" ucap Kikyou tajam.

Jleb! Hati Azuki serasa tertusuk beribu-ribu jarum yang tak kasat mata. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

'Bodohnya aku! Aku berpikir Yuuta melakukan itu tanpa memikirkan taruhan. Aku bodoh!' batin Azuki.

Tiba-tiba Yuuta datang ke tempat itu. Kebetulan ia baru datang juga. Yuuta menguap pelan.

"Yuuta! Ohayou!" sapa Kikyou.

"Ohayou! Ada apa?"

"Nggak ada apa-apa. Aku pergi dulu." Kikyou berjalan meninggalkan Yuuta.

Yuuta menatap Azuki yang tengah menambil beberapa bukunya di loker. Yuuta tersenyum sambil menghampiri Azuki.

"Oi, Azuki!"

Dengan gesit Azuki menutup lokernya dan hendak berjalan meninggalkan tempat itu. Kalau saja Yuuta tidak menarik lengannya.

"Kau mau kemana? Aku 'kan memanggilmu."

Azuki menggigit bibir bawahnya agar air matanya tidak mengalir. Kemudian ia tersenyum manis sambil menatap Yuuta. "Hehehe, aku kalah taruhannya. Kau menang. Maaf, aku sudah salah menganggap soal sosok gentlemen." Azuki tersenyum manis sambil melepaskan genggaman Yuuta pada lengannya. Kemudian ia berlari meninggalkan tempat itu.

"Eh, hei! Tunggu, Azuki. Kau mau kemana?" teriak Yuuta. Ia agak heran dengan tingkah Azuki.

'Ah, apa aku menyukainya? Aku sama sekali tidak merasakan kekesalan kemarin. Aku bahkan merasa sedih ketika tahu Yuuta hanya memikirkan taruhan.' Batin Azuki sambil menangis.

"Hosh, hosh!" Azuki menghembuskan napasnya. Ia sungguh lelah berlari. Ia berlari tanpa berpikir dan alhasil ia tersesat di puncak gedung yang belum pernah dikununginya.

"Dimana ini?" Azuki panik. Ia menatap sekelilingnya. Tidak ada orang sama sekali.

Blugh! Azuki jatuh terduduk. Menangis tersedu-sedu.

"Hei! Apa yang kau lakukan di sana?" Tanya Yuuta.

"Hah?" Azuki menatap Yuuta yang berjalan mendekatinya.

"Ada apa denganmu?" Yuuta hendak menyentuh kepala Azuki, namun gadis itu menepisnya.

"Kenapa kau ada di sini?" teriak Azuki.

"Aku mengejarmu! Tidak kusangka larimu kencang juga. Hampir aku kehilangan jejakmu."

"Kenapa mengejarku?! Kata Kikyou kau tidak peduli padaku! Aku tahu, kau menang. Sejujurnya aku menyukaimu. Aku menyukai sifatmu yang menyenangkan seperti kemarin. Tapi, tahu semuanya memang hanya sebatas taruhan, aku merasa sakit hati. Tahu begitu, aku tidak akan menyukaimu! Hiks…" Azuki mengusap air matanya yang semakin banyak mengalir.

Yuuta menggigit bibir bawahnya. "Kau bilang untuk apa aku mengejarmu? Aku hanya ingin meminta hadiah taruhanku."

"Bicara apa kau? Kau bodoh! Disaat seperti ini kau malah memikirkan soal hadiah! Bodoh! Yuuta bodoh! Kau menyebal-"

CUP! Yuuta mengunci bibir Azuki. "Diamlah. Kau bikin repot saja." Ucap Yuuta sambil melepaskan ciumannya.

"Apa yang kau lakukan? Dasar rendahan!" teriak Azuki sambil kembali menangis, tidak terima dengan Yuuta yang mencuri ciuman pertamanya.

"Aku ingin meminta semua hadiahku. Dengar, yang pertama jadilah pacarku, karena aku juga sangat menyukaimu."

"Hah?" Azuki tercengang. "A-apa maksudmu?"

"Yang kedua, biarkan aku membahagiakanmu karena aku tidak bisa melihatmu menangis seperti tadi."

"Dan yang ketiga, kalau sudah dewasa nanti, menikahlah denganku!" ucap Yuuta dengan wajah memerah.

"I-Inuya…sha?" Azuki terkejut karena Yuuta menembak sekaligus melamarnya di waktu dan tempat yang sama.

"Kenapa? Kau tuli lagi?" sindir Yuuta.

Grep! "Yuuta!" Azuki memeluk Yuuta. "Terima kasih!"

"Kuharap kau mau menyanggupi permintaanku itu. Jangan pedulikan apa yang Kikyou katakan padamu. Karena yang ada aku sangat mencintaimu." Yuuta balas memeluk Azuki.

.

.

.

-OWARI-

Halo, minna-san. Ini adalah fic pertama saya di FII. Semoga semuanya suka. Dan saya berharap akan menadapat review dari para readers. Maaf kalau isi fic ini sangat tidak sesuai dengan pikiran readers -_- Dan maaf juga kalau typo-nya masih bertebaran …

Review, please, okay?! ^^