Genre : Suspense, Fantasy

Rated : T (ada kemungkinan naik rating karena kesadisannya)

Disclaimer : ini fic asli saya, jikalau ada kemiripan ini saya memang dapet inspirasi dari berbagai anime dan komik-komik, dan satu lagi, saya membuat ini tidak berdasarkan sebuah anime melainkan aku mengkarang sendiri.

NOTE : Disini sudut pandangnya selalu ganti-ganti, jadi harap maklum ya. Bagi yang plagiat, saya tak segan-segan BLOKIR atau HACKING !


"Sadarlah.."

"Kau punya tanggung jawab yang besar jika kau terus menggunakan 'kekuatan' itu.."

"Kau masih rapuh, 'kekuatan' itu bagaikan pedang bermata dua.."

"Jika kau salah menggunakannya, kau akan 'hancur', tapi jika kau benar dan tahu, maka 'kekuatan' itu bisa membawamu ke 'kebahagiaan'.."

"Memang sulit, tapi berusahalah.."

"Aku yakin kau bisa, karena kau punya bakat'nya'."


Chapter 1, "Bangkitnya Relic Soul, 'Raging Soul' !"


"Hah !"

Aku terbangun dari tidur panjangku, ah maksudku tidurku dari malam hingga pagi esoknya.

'Lagi-lagi aku mimpi itu lagi.. Sudah keberapa kali ini..'

Entah kenapa, setiap kali aku tidur pasti bermimpi itu. Seorang perempuan yang aneh memakai kimono kuno dan berkata seserius itu padaku, seolah-olah aku mengenalnya. Sebenarnya sih, jujur saja aku sendiri walau tak tahu siapa dia sepertinya tubuhku mengenalnya, namun batinku lupa akan hal itu, atau tidak bisa mengingatnya. Aneh rasanya, tapi kurasa itu hanya mimpi. Tapi, kalau hanya mimpi, kenapa sering sekali ?

Ahh, sudahlah.

Aku malas memikirkannya.

Walau terbangun, tubuhku terasa lemas sekali untuk bangkit. Ah, hari ini bolos saja deh ~

Kutarik lagi selimutku, kupeluk erat gulingku yang empuk ini.

Saat enak-enaknya hampir terlelap, aku mendengar suara derap langkah kaki yang begitu cepat menuju kamarku, dan membuatku cukup terganggu.

"Ahh, jangan lagi.."

BRAKKK

"LEON ! SAMPAI KAPAN KAU TERUS TIDUR BEGITU KAU HARUS SEKOLAH JUGA KAN !?" bentak seorang perempuan tengah baya yang tak lain ibu angkatku. Cih, walau dia ibuku yang sudah membesarkanku hingga usiaku 17 tahun, tapi dia tetaplah seorang yang cerewet.

"Iya deh, ampun. Padahal jaraknya sekitar 6 meter tapi itu tetap memekakan telinga, bu." ucapku menyertakan nada mengeluh dan kesal. Bagaimana tak kesal, aku paling benci jika tidurku diganggu.

"Makanya, kau bangun pagi, supaya aku tak perlu buang-buang tenaga begini, anak bodoh."

Ctikk

Urat perempatan (?) di keningku muncul, namun aku tak pernah bisa mengeluarkan emosiku, karena aku sering disebut berdarah dingin atau lebih tepatnya muka datar.

"Oh, kalau begitu tak perlu membangunkanku, kan. Dengan begitu tenaga Ibu tak terbuang percuma." ucapku santai sambil berjalan keluar kamar, bermaksud mandi. Tapi, namanya juga Ibu, pasti ngocehnya belum selesai.

"Hei, aku begini karena kamu juga, dasar anak bandel. Dasar, nggak nyangka anak imut seperti kamu ini waktu kecil seperti anak perempuan eh begitu dewasa malah sukanya berandalan di sekolah. Mau jadi apa kamu nanti ? Mau jadi jagoan ? Bla bla bla.."

Tentu saja, ocehannya dengan sigap pasti tidak kudengarkan. Yah walau masuk ke telinga palingan keluar lagi lewat telinga lainnya (?). Dengan cepat aku seperti seorang yang kabur dari penjara, aku berlari ke kamar mandi dan mandi.

"Bu, aku berangkat."

"Tidak sarapan dulu? Setidaknya bawa bekalmu ini dan makanlah sesuatu untuk sarapan."

"Baiklah, makasih Bu. Aku ambil bekalnya saja ya, sama roti bakarnya."

"Ohh, hati-hati di jalan. Jangan ngelamun lagi."

"Iya-iya, aku tak akan mati karena melamun, Bu."

"He-hei, jaga bicara,-"

BLAM

Belum sempat Ibuku menyelesaikan perkataannya, segera saja aku langsung cabut. Yah, walau sepotong roti ini tak membuatku kenyang, tapi ini cukup buat mengganjal perut, mengingat aku tak begitu suka makan, namun lebih banyak minum.

'Lagi-lagi Ibu buat bekal yang sedikit berlebih, ya. Pantas saja sedikit berat kotak makanku.'

Tubuhku ini aneh, entah banyak atau sedikit pola makanku, badanku tetap proposional (?) seperti biasa. Tinggi 182 dengan berat 67 kg, hohoho, serta wajah yang imut (kata anak-anak perempuan yang pernah melihatku), dan lagi, warna mataku berbeda dari yang lain. Warna mataku keunguan transparan, biasanya kan manusia Jepang hitam kecoklatan atau coklat. Aneh memang, tapi anehnya banyak perempuan yang menginginkanku. Tapi, walau begitu aku tak peduli itu. Aku bukan tipe yang mengurusi hal duniawi yang berlebih seperti itu, walaupun terkadang ada yang ngajak berantem (kalau beneran sangat memaksa, dalam sekejap bisa kubabat habis).

Hatiku terasa kosong.

Bosan.

Sangat bosan.


-Istirahat siang sekolah, pukul 10.15-

-Kelas 3-5-


"Leon-kun ~ Mau tidak kamu menemani kami makan siang di kantin hari ini ?" pinta salah seorang cewek dari gerombolannya padaku, tiba-tiba sudah di depan bangku ku.

'Geh, para cewek ini. Sudah tau aku tak suka pada mereka masih saja mengejarku.'

"Tidak, terima kasih. Aku mau sendirian." tolakku dingin dan segera meninggalkan mereka sambil membawa bekalku. Kecewa, namun para cewek itu terlihat tidak akan menyerah tetapi mereka sepertinya sedang mengurungkan niatnya.


-Atap sekolah SMU Hakuren-


Angin hari ini bertiup sepoi, sedangkan aku menikmati ini sambil memakan bekalku perlahan. Hidup ini terasa damai sekali, ya.

Kehidupanku yang biasa-biasa saja ini mungkin terlihat membosankan, namun justru aku suka yang seperti ini. Damai, tanpa ada masalah apapun. Aku sangat menginginkan ini.

"Sepertinya itu tak akan bertahan lama, Xin Leon."

Di tengah sedang santai-santainya makan, sebuah suara asing menyapaku. Mendengarnya aku cukup kaget, namun karena aku selalu bermuka datar aku tak pernah terlihat memperlihatkan emosiku jadi aku biasa saja(?). Sepertinya dia sedang berdiri dibelakangku, atau tepatnya diatas pagar besi belakangku. Berusaha untuk cuek, aku tak menengoknya seinci pun.

"Siapa kau ? Terlebih pula, bagaimana kau tahu namaku padahal aku tak mengenalmu ?" tanyaku ketus dan dingin, seperti biasa sambil tetap meneruskan makanku.

Merasa diacuhkan, orang asing nan aneh itu turun, tepat di depanku. Tapi ada yang janggal darinya, suara langkah kakinya tak terdengar sama sekali, dan diapun turun juga tidak seperti orang yang sedang lompat, melainkan seperti teleportasi.

'Sihir ? Ilmu ninja ? Lucu sekali.'

Penampilannya sebenarnya tak aneh, terlihat seperti pada manusia umumnya namun ketika kulihat wajahnya, aku terpaku. Kuhentikan acara makan siangku, dan berdiri.

Saat kulihat matanya, dia berbeda dari manusia umumnya. Pupilnya setajam seperti kucing, namun iris matanya berwarna ungu transparan sepertiku, terlebih lagi warna rambutnya entah di warnai atau apa, sebagian rambut depannya berwarna ungu kehitaman sedangkan belakangnya berwarna hitam pekat. Apa sepertinya, dia manusia yang langka (?) sepertiku ? Dia juga terlihat lebih muda dariku.

Tapi kurasa bukan. Sesaat dia menyeringai, terlihat taring giginya sedikit lebih tajam dariku, jadi dia terlihat mencolok ketika tersenyum dengan sedikit lebar.

Hawa berat dan aura yang tak enak mulai kurasakan. Terlebih lagi, ini dari dia, si orang asing.

"Sudah cukup diamnya. Aku ini juga sama sepertimu, seorang 'Murk' namun sepertinya kau lebih ke seorang 'Xeone' ya. Namaku, Zoe Sancue."sahutnya tiba-tiba.

'Murk ? Xeone ? Apa yang dia bicarakan ?'

"Aku tak mengerti maksudmu. Murk atau Xeone yang seperti kau bilang aku bahkan baru dengar kali ini."

"Begitu ? Padahal kau adalah satu-satunya keluarga Xin yang tersisa, kau bisa bertahan hidup karena adanya 'Raging Soul' di dalam tubuhmu, yang selalu Murk incar."

'Eh ? Memangnya ada lagi yang bernama Xin selain aku ? Kenapa dia seolah tahu banyak tentangku ? Lebih baik, situasi ini harus kuhindari karena kurasa aku akan terluka kali ini.'

"Hoo.. Lalu aku akan peduli pada hal itu ?"

Dengan cuek aku membawa pergi kotak makanku, dan bermaksud pergi meninggalkannya.

"Kuharap kau tak berjalan lebih dari ini atau kau kubunuh."

Seperti yang sudah kuduga, tangannya yang punya kuku tajam itu sudah mengahalangiku, dengan menyentuh leherku dari samping. Tak lama, aku merasakan nyeri dan sesuatu yang cair mengalir di leherku. Aku mulai sedikit berkeringat.

'Jangan-jangan.. Leherku terluka..'

"Lepaskan aku. Ini tak ada hubungannya denganku, kan."

"Tentu saja ini ada hubungannya, kau punya Raging Soul dan itu yang kuincar."

"Sayangnya aku ini tak tahu apa itu Raging Soul, Murk, ataupun Xeone. Jadi, aku tak mau terlibat."

"Tapi sayangnya kau telah terlibat."

SREET

"Ukh !"

Orang aneh yang bernama Zoe ini melukai leherku lebih dalam dengan cepat hanya dengan kukunya. Sigap aku langsung lompat menjauh darinya sambil memegangi leherku.

"Tuh, benar kan. Lebih baik kau menurut saja supaya masalah ini cepat selesai dan aku akan lakukan ritual pengambilan Soul mu."

"Siapa yang sudi menyerahkan tubuhku ini setelah kau lukai seperti ini, dasar sialan !"

Bermaksud untuk kabur, aku langsung lari kearah pintu menuju koridor dibelakangku. Sebenarnya bisa saja aku sedikit berusaha melawannya, tapi aku merasa untuk kali ini aku tak boleh terlibat lebih jauh.

"Illusion, Vacuty Dark Illusion activated."

Saat hampir mencapai pintunya, tiba-tiba pintu itu lenyap, dan sekitarku menjadi gelap gulita. Seperti berdiri di ruang hampa, aku tidak ada dimana-mana, lantainya tak ada ! Namun aku tetap berdiri tegak.

"Apa ini?! Hei, apa yang kau lakukan padaku, hah?!" teriakku marah. Kali ini, aku benar-benar marah.

"Sudah kubilang, kan? Lebih baik kau menurut saja."

"Kau tidak dengar, heh? Kubilang aku tak mau, brengsek !"

"Lebih baik kau diamlah, karena ritual ini akan dimulai."

Apa yang mau dilakukannya padaku ? Ritual pengambilan Soul Raging ? Tapi, walau begitu berarti aku sama saja akan dibunuh ! Aku tak mau ini terjadi, tapi apa yang harus kulakukan ?

"Power of Soul, Wresting other soul, the Scarce kind, Relic 'Raging Soul'. Dengan ini, ritual aku mulai."

ZRUUT

Sesuatu yang seperti bayangan hitam mendadak mengikat tubuhku, membuatku tak bisa bergerak. Selain itu, salah satu bayangan tersebut ada yang berusaha mencekikku, dan juga ada yang perlahan masuk ke mulutku.

"Ugh.. Uhuk.."

'Si, sial ! Rasanya seperti sentuhan tangan manusia ! Tapi ini bayangan ! Kenapa terasa sakit sekali ?! Apa yang harus kulakukan kali ini ?!'

"...Lemah sekali..."

Siapa ? Suara siapa barusan ?

"Ini aku, bodoh. 'Raging Soul', seperti kata orang yang sedang hampir membunuhmu sekarang."

Raging Soul ? Jadi kau benar-benar ada ?! Tapi, kenapa kau baru mengatakannya dan membuatku susah sekarang !?

"Sebenarnya Raging Soul baru aktif ketika 'wadah' sudah berumur 20 tahun lebih, tapi tak kusangka aku bisa sedikit terbebas ketika kau berumur 17 tahun. Tapi, daripada itu, bagaimana kalau aku membantumu ?"

Membantu ? Kau bisa apa sedangkan aku seperti ini ?!

"Lebih baik kau diam saja dan biar kuambil alih dulu tubuhmu ini. Lihat dan tonton saja."

WUSSSHH... BLARRR !

"Apa ? Apa yang terjadi ?!" ucap Zoe sedikit kaget, karena ilusi dan bayangannya lenyap oleh ledakan.


-Normal Pov-

-Di rumah kediaman Ibu angkat Leon-


"Apa yang terjadi?" ucap Ibu Leon tiba-tiba. Dia seolah-olah sedang merasakan sesuatu.

'Leon.. Jangan-jangan, Raging Soul sudah aktif ?! Kenapa disaat begini?!'


-Atap Sekolah SMU Hakuren-


"Ah, begitu rupanya.. Pantas saja, ternyata kau. Raging Soul." gumam Zoe, sedikit berkeringat.

Bagaimana tidak, tubuh Leon telah diambil alih, dan itu membuatnya berubah. Matanya, seperti seorang iblis, berwarna merah menyala, dan warna rambutnya juga berubah, semula berwarna seperti blonde kecoklatan, sekarang berwarna hitam pekat. Selain itu, aura disekitarnya berubah, menjadi lebih berat dan menakutkan. Sebagai manusia biasa kalau melihat Leon yang ini, mungkin sudah lari ataupun pingsan, karena tak tahannya dengan hawanya. Tapi, karena Zoe seorang 'Murk' dia sedikit mampu menahannya dan hanya berkeringat.

Sifatnya juga berubah 180° dari sifat aslinya.

Leon menyeringai.

"Kenapa melihatku seperti itu, Murk ? Kau takut ?" tanya Leon dengan angkuhnya. Sukses, membuat Zoe kesal.

"Lebih baik kau jangan sombong! Raging Soul sepertimu yang sudah tertidur ribuan tahun dan bangkit lagi dalam 17 tahun, mana mungkin bisa mengalahkanku!"

"Begitu? Lalu kau yang lebih lemah dariku bisa mengambilku, begitu?"

WUSSSH

Tanpa banyak kata, dengan kecepatan kilat Zoe sudah dibelakang Leon, bersiap menyerang dengan kuku tajam ditangannya.

Tapi anehnya Leon tidak terkejut sama sekali, malah tertawa.

"Mati kau!"

"Justru kau yang akan mati, bodoh. Hahahaha!"

SRIING, KRAKKK!

Saat Zoe menebas tangannya, silatan cakar muncul, namun anehnya sama sekali tidak mengenai Leon. Sesuatu seperti pelindung transparan yang sangat kuat melindungi sekitar tubuh Leon. Seketika itu juga, Zoe segera sedikit melangkah mundur menjauhi Leon.

"Itu.. Kau.."

"Air Shield. Aku pengguna elemen alam, pemegang 'lingkaran' dan seorang Aegis."

"Gawat.."

"Sudah kubilang'kan, kau yang akan mati. Natural Fest Spirit, Thread and Grasp other Soul."

Di ujung semua jari tangan kanan Leon, muncul seutas benang tipis yang panjang berwarna merah, menempel ke seluruh tubuh Zoe. Zoe yang ingin membebaskan diri, tak bisa menggerakkan tubuhnya sebebas apa yang dia mau.

"Tu, tubuhku! Sial, kau.."

"Bye-bye."

Semua benang yang menempel Zoe pun memanjang, dan melilit tubuhnya sendiri.

"Prepare to die."

ZRASSHH

Leon membuka telapak tangannya, dan menutupnya perlahan. Itu membuat lilitan benang yang melilit Zoe semakin kencang, dan sekejap membuat semua tubuh Zoe terpotong menjadi bagian yang kecil-kecil. Darah Zoe pun muncrat kemana-mana dan tak sedikit mengenai tubuh Leon.

"Ra, Raging Soul.. Itu.. Kau yang... melakukannya..?"

"Kenapa? Kau terkejut ?"

"Bagaimana aku tak terkejut ?! Itu kan namanya membunuh ! Bagaimana kalau ada yang melihat kita ?! Dan lagi, aku.."

"Ini sudah tugasku untuk melindungi 'wadah'ku. Lagipula, dia juga hampir mengambilku, dan sama saja itu juga mau membunuhku. Kalau ini, mudah saja, tinggal kabur saja."

"Cih! Lebih baik, kita pergi ke sungai di bawah jembatan dekat rumahku saja. Aku tak mau pulang ke rumah dengan penuh darah seperti ini. Ibu pasti kaget sekali."

Leon yang sedang diambil alih tubuhnya pun melompat keatas pagar besi pembatas, bermaksud pergi keluar sekolah dan lompat-lompat lewat atap rumah.

"Hahaha.. Yuuna Shere, Ibu angkatmu, kan. Baiklah, kita pergi."

"Tung, tunggu! Bagaimana kau bisa tahu nama Ibuku?!"

"Kau akan tahu nanti."


Di lain pihak..

Seorang wanita cantik nan seksi duduk di sebuah bangku, yang sepertinya itu bangku untuk seorang Queen karena disampingnya terdapat 2 pengawal kembar, tak lain menyandang gelar Knight lv 3. Terlihat, sang Queen sedang membicarakan sesuatu dengan beberapa orang di depannya, yang biasa disebut, 'Nine Murk Guardians'. Para penyandang nama itupun kebanyakan berpangkat rata-rata Bishop, Rook dan Knight lv 2 dan 3. Sesuai namanya, hanya 9 orang yang terpilih.

"Sepertinya ada salah satu Pawn kita yang telah mati." ucap Queen serius, Namiean. Dia mampu menyandang Queen karena selain kuat, dia merupakan salah satu Murk yang paling ditakuti sebab dia adalah orang yang kejam dan tak pandang bulu.

Siapapun yang menentangnya, dia pasti langsung membunuhnya tanpa basa-basi, tanpa bergerak seinci pun. Ya, ada kekuatan level tinggi yang dia gunakan.

"Begitulah, Queen. Aku juga merasakannya. Padahal, kalau dia tak seenaknya Pawn itu bisa naik level menjadi Rook lv 1 dan memperoleh kekuatan baru." sahut salah satu Knight lv 3 perempuan yang tomboy, Rere. Sang Murk pengendali Shadow Illusion 'Nine Murk Guardians'.

"Itu lah akibatnya. Sudah tahu yang kita lawan dan incar adalah Relic 'Raging Soul', yang bahkan telah mengalahkan King kita." kata seseorang yang badannya hanya berbentuk dari tengkorak, Rook lv 3 Skeleton sang Shinigami. Yang lain hanya mengangguk.

"Baiklah, karena 'Raging Soul' telah aktif walau belum sempurna. Mari, kita mulai rapatnya dan segeralah kita mulai 'bergerak'." ucap sang Queen, memulai rapatnya.

"Baik, Queen."


-TO BE CONTINUED-


A / N : Yoo ! Kembali lagi dengan saya, author gaje yang udah vacuum selama 3 TAHUN *whatt?!* muncul lagi di sini , soalnya gag perlu terpaut seperti di FFN. :D

Yah, yang penting selamat datang aja ya di fic saya ~

Happy Reading ! *udah telat woy, ini penutup!* #plak

-Review Please !-