Last Tango in Stockholm

Author: Carl A. R

Pairing: Carl F. Sørensen x Adrianne Linneá

Summary: He' s alone and without love. Many people know about Carl Sørensen, middle-age expatriate from Denmark with his dark past. When a Parisian woman with Swedish descent came to his life, Carl's life changed and make his heart pounding so fast.

Notes: Alur cerita ini berbeda jauh dengan Verano a Dinamarca dan bahkan diceritakan bahwa ayah Adrianne masih hidup.

.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Adrianne Linneá tidak pernah ingin kembali ke Stockholm seumur hidupnya.

Ia sangat membenci Stockholm dan baginya kota itu tidak memberinya kebahagiaan yang utuh sekaligus kenangan buruk. Sudah delapan tahun lamanya ia tidak pernah kembali ke Stockholm, sejak ia berusia sepuluh tahun.

Apa yang menarik dari kota itu? Tidak ada. Selama seseorang yang ia benci di dalam hidupnya masih berada di sana.

Sayangnya ia harus kembali ke sana karena sang mère yang paling ia benci meninggal dunia di sana akibat overdosis obat-obatan bersama kekasih gelapnya. Sang mère adalah asli Swedia sedangkan sang père berasal dari Prancis. Ketika ia masih berusia sepuluh tahun, orangtuanya bercerai karena mère berselingkuh dengan pria lain di ranjang sang mère. Père tidak ingin melihatnya lagi, bahkan ia tidak ingin menghadiri pemakaman mantan istrinya di Stockholm dan ia memutuskan agar Adrianne yang pergi ke Stockholm sendirian.

Ia keluar dari bandara Arlanda, salah satu bandara terbesar di Stockholm, Swedia, sambil menenteng tas Chanel kesayangannya dan Adrianne terlihat jelas sebagai Parisian karena topi hitam dengan bunga merah di ujung topi dan lipstik merah yang tebal, serta baju terusan bermotif bunga-bunga yang sangat indah dan sepatu hak tinggi Christian Loubotin berwarna pink. Berjalan dengan begitu feminin dan mengundang decak kagum oleh pria Stockholm yang melihatnya.

"Aku tidak suka tempat ini," gerutunya kesal dengan bahasa Prancis dan berjalan ke arah taksi bandara. "Aku tidak ingin menggunakan bahasa Swedia maupun bahasa Inggris di tempat ini. Tempat kumuh dan norak."

Adrianne akan tinggal di apartemen sang mère dan itu artinya adalah ia sendiri yang mengurus pemakaman mère-nya tercinta. Betapa mengerikan sekaligus menyakitkan untuk hidup bersama dengan mère yang sama sekali tidak pernah peduli kepadanya maupun père.

Dan kehidupannya baru saja akan dimulai di sini. Setelah ia selesai mengurus pemakaman mère, ia tidak akan kembali ke kota sampah ini dan ia akan hidup dengan tenang tanpa beban masa lalu yang mengintainya.

Ia akan menenangkan diri di Gamla Stan, jika tempat itu masih ada. Tempat itu sangat tenang untuk beristirahat sejenak.

.

.

.

Hidup tidak selalu indah untuk Carl Sørensen, seorang ekspatriat asal Denmark berusia empat puluh dua tahun yang tinggal di Swedia karena kontrak kerja bersama salah satu perusahaan terbesar di Swedia mengenai desain interior maupun bangunan.

Gaji fantastis dan hidup mewah, begitu menyenangkan. Banyak wanita yang kini mendekatinya. Selain kaya, ia dulu adalah mantan tentara. Setiap ia berjalan, wanita seumurannya yang masih lajang selalu menatapnya dengan tatapan kagum, lebih tepatnya kagum karena hartanya yang melimpah dan itu membuat Carl dingin terhadap wanita manapun, terutama wanita Swedia. Lebih tepatnya, Carl membenci semua wanita Swedia karena ketika ia masih muda, wajah Carl hancur total akibat bom molotov dan kekasih Swedia-nya membuang Carl bagaikan sampah.

Ia masih lajang dan tidak berminat untuk berkeluarga. Lebih baik ia hidup dalam kesendirian dibandingkan harus menghabiskan waktunya dengan wanita yang salah.

Wanita yang mendekatinya hanya dijadikan mainan semata tanpa komitmen, untuk membalas dendam. Semakin ia melakukannya, ia semakin sadar bahwa ia sangat kesepian. Tidak pernah ada wanita yang datang kepadanya dengan tulus.

Dewi fortuna tidak pernah berpihak kepadanya dan ia merasa dunia tidak adil kepadanya.

Inikah hukuman dari Tuhan? Karena dulu ia membunuh seorang anak kecil tak bersalah di medan perang? Ia tidak percaya pada Tuhan, tetapi ia sangat takut kepadaNya. Ia tahu Tuhan itu ada dan nyata, begitu jelas.

—oo00oo00oo—

Adrianne datang ke apartemen mère-nya yang tidak jauh dari daerah Gamla Stan. Apartemen itu tidak kumuh, tetapi sudah cukup tua dan biaya hidup di apartemen itu sangat tinggi dan mahal. Kakak mère yang tampaknya lebih baik dari sang mère sendiri tersenyum sedih kepada Adrianne, lebih tepatnya senyuman merasa bersalah.

"Aku senang kamu datang, Adrianne," wanita itu berkata dan memeluk Adrianne erat. "Kamu tambah cantik, terakhir kali aku melihatmu adalah ketika kamu masih kecil. Sungguh sayang Fredrika melewatkan perkembangan putrinya yang secantik ini. Ia akan menyesal nanti."

Gadis muda itu hanya diam saja dan menatap mayat mère-nya yang tidak pernah ada untuknya. Fredrika kini berubah jauh, dulu ia sangat cantik dan sekarang wajah Fredrika sudah sangat tidak karuan karena pengaruh narkoba. Usia Fredrika masih relatif muda, tiga puluh sembilan tahun. Ia tidak menangis, harus ia akui rasanya biasa aja menghadapi kematian mère-nya sendiri, lain hal jika sang père yang meninggal dunia.

Ia sangat tahu bagaimana Fredrika, wanita itu seperti plastik dan hanya memikirkan penampilan saja. Mungkin jika wanita itu masih hidup, ia akan merasa malu memiliki anak sepertinya karena di Paris ia sama sekali tidak modis dan cenderung kelelakian. Ketika belum bercerai dari ayahnya, wanita itu selalu mengeluh betapa tidak cantiknya Adrianne setiap wanita itu mengantarnya ke sekolah. Tetapi lihatlah sekarang, Adrianne terlihat seperti wanita modern yang cantik dan sensual, ia yakin Fredrika akan bangkit dari dalam kubur melihat Adrianne berpenampilan seperti ini.

Baju feminin terkutuk, sepatu hak tinggi terkutuk, ia tidak akan pernah memakai benda itu lagi jika kembali ke Paris. Kalau perlu ia akan membakar benda itu hidup-hidup. Benda-benda itu selalu mengingatnya dengan Fredrika si wanita jalang itu.

"Merci—ah— tack så mycket," Adrianne menjawab pelan dan seelegan mungkin. Ia harus menyembunyikan semua kebenciannya dan bersikap seperti wanita feminin walau kenyataannya di Paris ia adalah seorang gadis bergaya tomboy dan tidak suka dengan apa yang namanya fashion terkini dan apa yang ia kenakan hanyalah topeng semata. Aktingnya berhasil dan ia terlihat seperti gadis yang tabah dalam cobaan. "Ah, bolehkah aku berjalan-jalan sebentar ke luar untuk mengenal daerah sekitar?"

Bibinya tersenyum dan berkata. "Silahkan jika itu membuatmu lebih tenang!"

Tentu saja aku akan merasa tenang jika aku bisa segera pergi dari Stockholm dan aku tidak perlu kembali ke tempat ini lagi karena tempat ini tidak bagus untukku.

Adrianne menunjukkan senyum terbaiknya dan ia adalah aktris yang sangat piawai dalam mengecoh orang lain. "Tentu saja dan bolehkah aku meninggalkan topi dan tasku di sini? Kurasa penampilanku sangat mencolok di sini dan aku akan mengganti sepatu hak tinggiku dengan flat shoes."

Bibinya tidak menjawab pertanyaan Adrianne dan merasa sikap Adrianne yang ditunjukkan padanya hanyalah sikap pura-pura. Ada kejanggalan dalam diri Adrianne, tetapi ia tidak tahu apa yang janggal. Sorot mata Adrianne memancarkan kekosongan tanpa fokus, seperti memikirkan sesuatu yang lain. Ia menangkap bahwa sebenarnya Adrianne masih membencinya dan tidak menginginkan kembali ke Stockholm.

.

.

.

Gamla Stan sangat indah dan penuh warna, tidak begitu berubah banyak sejak terakhir kali Adrianne mengunjunginya dan itu pun sudah lama sekali. Berkunjung ke tempat ini, Adrianne seolah-olah memasuki lorong waktu. Gang-gang sempit berliku dan suasana abad pertengahan membuat jiwanya tentram dan lupa tentang masalahnya.

Awal musim panas, Gamla Stan belum terlalu ramai oleh wisatawan dan Adrianne bisa tidur dengan pulas di salah satu bangku taman yang ada di sana tanpa perlu kuatir akan diculik orang.

"C'est si bon! Masih sepi dan tidak ramai, akan menjadi ide bagus untuk tidur di sini tanpa perlu kuatir," gumamnya pelan. Sebenci-bencinya ia pada Stockholm, ia tahu Stockholm jauh lebih aman dan sejahtera dibandingkan dengan negaranya sendiri apalagi dengan ibukotanya yang dari tahun ke tahun semakin banyak copet.

Adrianne mencari-cari dimana bangku taman yang kosong dan sayangnya bangku-bangku tersebut sudah dipenuhi oleh orang padahal ia berniat untuk segera tidur di sana tanpa gangguan yang berarti untuk menenangkan jiwanya yang sangat kacau. Di sekelilingnya banyak anak-anak bermain dengan riang bersama ayah dan ibunya, serta sepasang kekasih yang mabuk cinta bermesraan di taman tanpa peduli apa pandangan orang lain terhadap mereka.

Itu membuat Adrianne sedikit iri dan meratapi nasibnya yang sungguh tidak adil. Waktu terus berjalan dan akhirnya Adrianne menemukan tempat yang nyaman untuk tidur yaitu bangku taman dekat Stortoget, berbaring di atasnya tanpa peduli apa pandangan orang lain terhadapnya . Fisik dan jiwa Adrianne sudah sangat lelah dan mulai tertidur perlahan.

"Tidak seharusnya gadis cantik sepertimu tidur di tempat seperti ini? Atau kau terlalu bodoh dan naif?"

Adrianne membuka mata dan melihat siapa yang memanggilnya, ternyata yang memanggilnya adalah seorang pria tampan paruh baya. Ia cuek saja dan menganggap itu hanya ilusinya karena terlalu lelah. "Ini hanya mimpi, hanya mimpi, hanya mimpi," gumamnya pelan dalam bahasa Prancis dan kembali tertidur.

Pria tampan paruh baya yang dimaksud Adrianne bernama Carl Sørensen tersenyum melihat tingkah Adrianne, jarang sekali ada wanita secantik itu bertingkah sembarangan dan mengambil bangku yang biasa ia tempati. Wanita yang mengambil bangkunya ini sangat cantik dengan rambut pirang keemasan dan pipi merah merona, sekilas ia melihat bola mata wanita itu, berwarna biru cemerlang dengan bibir merah menggoda—ia tidak tahu apakah wanita itu mengenakan lipstik atau tidak—tapi wanita itu membuat Carl agak penasaran terhadapnya.

"Aku tidak mau tahu kalau kau diperkosa di sini? Aku benar-benar serius dengan perkataanku sendiri, nona manis!" Carl berkata pelan dengan bahasa Denmark dan mengeluarkan senyuman licik terbaiknya. "Bagaimana kalau aku yang memperkosamu sekarang juga?"

Adrianne terbangun dengan setengah mengantuk dan menonjok Carl sekuat tenaga hingga pria itu terjengkang. "Dasar om-om hidung belang dan kesepian," gerutunya jengkel. Rupanya ia mencoba bermain-main padanya dan ingin mencari gara-gara, jangan salah ia mengerti bahasa Denmark juga walau ia tidak begitu sering menggunakannya. "Kukutuk kau agar segera menjadi impoten, tolol!"

Carl terkaget-kaget dan berusaha untuk berdiri. Wanita ini bukan wanita sembarangan dan mengerti apa yang ia ucapkan, sungguh di luar dugaan. Seperti kebanyakan orang, tentu Carl tidak menduga bahwa Adrianne akan mengerti dari makna ucapannya sendiri. "Ku—kupikir anda tidak tahu maksud perkataanku," ujarnya setengah salah tingkah dan malu. "Lupakan saja perkataanku tadi, aku hanya bercanda."

Adrianne tidak tersenyum dengan perkataan Carl dan ulah pria itu membuat mood-nya semakin kacau balau. Sial, pria ini membuatku tidak bisa tidur dengan nyaman. Satu alasan lagi ia membenci kota ini. Brengsek!

"Ma—mau kemana? Kita belum berkenalan, bukan? Sepertinya kamu adalah turis?"

Sayang bagi Carl, Adrianne hanya memberi pria itu delikan tajam dan mengacuhkannya. Bagi Adrianne, Carl hanyalah pria hidung belang nafsuan yang suka berkeliaran di jalanan. Adrianne bangkit dari bangkunya dan pergi meninggalkan Carl dengan penuh tanda tanya di dalamnya.

TBC


Dictionary:

c'est si bon (french): it's so good, merci (french): thanks, mère (french): ibu, père (french): ayah

Author Notes: Another new orific again, it's different from Verano a Dinamarca story but i feel Adrianne is different in this story. Sorry if this story is weird and cheesy . Thank you for reading my weird story and happy Friday :) It will be three chapters like Espanola Fantasia XD