.

HHGR

Chapter 5 : Confession

.


Glace membantu Ren memasuki sekolah dengan membiarkan teman kecilnya itu melingkarkan lengan pada bahunya. Dia hampir saja melepaskan lengan itu dengan paksa saat melihat Kizuno dan Kido memperhatikannya, tapi dia teringat kalau Kizuno sudah bukan siapa-siapa. Dia sudah bebas melakukan apa saja yang ia mau.

Dia menganggukkan kepalanya saat berjalan melewati kedua orang itu. Sebenarnya dia masih merasakan rasa sakit yang amat saat melihat pasangan baru itu, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan. Dia sudah tidak memiliki hak apa-apa.

Ren yang menyadari hal itu pun mencoba mengalihkan pikiran gadis di sampingnya dengan mempererat rangkulannya. "Hey, Glace. Bagaimana kalau kita makan siang di atap hari ini? Cuaca akan sangat cerah, sayang kalau kita lewatkan di dalam ruangan."

"Kamu sadarkan Ren kalau kaki kamu itu belum sembuh. Bagaimana caranya kamu bisa melewati dua set tangga?" Tanya Glace kesal. Dia tahu dengan jelas kalau Ren akan memintanya untuk membantu, tapi dia tidak akan mengatakannya karena dia terkesan menawarkan bantuannya. Dia tidak akan berlaku baik sepenuhnya untuk Ren.

"Dengan bantuanmu! Kamu 'kan perawatku sampai aku sembuh, Glace. Kamu lupa ya?" Tanya Ren yang melemparkan tatapan tajam andalannya pada Hyoga yang masih memperhatikannya dan Glace. "Aku sudah tidak sabar makan bekal buatan Glace di atap saat cuaca sangat cerah. Kamu tidak keberatan, 'kan?"

"Tentu saja aku keberatan, aku harus menanggung beban yang bukan tubuhku," kata Glace tertawa. Tawa senang yang tak di paksakan. Sepertinya rencana Ren untuk bisa mengalihkan perhatian Glace berhasil. "Kamu berat, tahu?"

Hyoga membalas tatapan tajam Ren dengan tatapan dingin miliknya. Dia tidak tahu untuk apa tatapan Senpainya itu. Apa karena dia mantan Glace? Tapi sekarang 'kan dia sudah bukan siapa-siapa dan Glace sudah bebas.

Pikiran kalau dia sudah bukan siapa-siapa Glace membuat hatinya sedikit sakit. Dia harusnya senang melihat senyuman dan mendengar suara tawa Glace, tapi dia tidak bisa. Karena orang yang di samping Glace sekarang bukan dirinya. Dia masih sangat menyayangi Glace dan menyesal telah memutuskannya hanya karena sebuah alasan kecil, tapi apa yang bisa ia lakukan sekarang? Memutuskan hubungan pura-puranya dengan Hanako dan mengejar-ngejar Glace yang mungkin sudah menjadi milik orang lain?

Dia tidak bisa meminta Glace memaafkannya atas apa yang sudah ia lakukan di depan umum dan memintanya kembali. Dia tidak tahu kalau Glace masih sangat menyukainya dan mengharapkannya kembali.

"Glace, bagaimana keadaan Senpai?" Tanya Riri saat Glace masuk ke dalam kelasnya setelah mengantar Ren ke kelas.

"Kakinya belum sembuh, tapi dia memaksa dokter untuk mengijinkannya pulang dan bersekolah. Aku tidak tahu alasan gilanya," jawab Glace malas. Dia duduk di kursinya dan memijit pundak kanannya yang terasa sakit. "Dia berat sekali."

"Tapi kamu terlihat senang, Glace. Ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Seita yang berdiri di samping Riri yang duduk di dekat Glace.

"Tidak, aku hanya jadi teringat saat aku kecil dengannya," jawab Glace dengan senyuman tipis. "Dia selalu menjagaku seperti seorang kakak. Dia juga membantuku menghadapi trauma terhadap laki-laki, tapi sekarang dia yang bergantung padaku. Dia seperti itu karena salahku juga ya? Hmm."

"Trauma? Ini pertama kalinya aku mendengar itu," kata Riri mecoba mengingat-ingat. "Masa kecil kalian pasti sangat manis. Aku juga ingin lihat pemuda bermata tajam itu saat dia masih kecil."

"Dulu Ren sangat manis. Kurasa umur bisa mengubah penampilan," jawab Glace yang tertawa kecil. "Sekarang Ren yang manis berubah jadi keren."

"Kalau begitu kenapa kamu tidak bersama dengannya saja?" Tanya Riri menggoda. Riri menutup mulutnya dengan tangan saat menyadari apa yang baru saja ia katakan. Sesuatu yang bisa mengingatkan Glace pada Hyoga.

"Maksudmu berhubungan dengannya? Mana mungkin, Riri." Glace menepuk bahu temannya sambil tertawa. "Ren itu sudah seperti kakakku sendiri dan aku rasa dia menganggapku adiknya atau mungkin hanya temannya dari kecil. Atau aku bisa bersama Ren untuk melupakan Hizu?"

Glace terdiam setelah mengatakkan itu. Lagi-lagi air mata memaksa untuk keluar dari matanya. Dia tidak ingin menangis hanya karena pemuda yang sama sekali tidak bisa menghargai perasaannya itu.

"Glace.." Ren masuk ke dalam kelas dengan tongkat bantuannya dan segera berdiri di dekat teman kecilnya itu. "Kamu kenapa?"

"A..h.. Aku tidak apa-apa kok, Ren," jawab Glace, mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menghilangkan air matanya itu. "Aku tidak apa-apa."

Ren melemparkan tatapan tajamnya pada Riri dan Seita yang terlihat cemas. Bagaimana pun juga, topik yang bisa membuat Glace menangis hanya satu saat ini, Kizuno. Ren tahu kedua teman baik Glace ini yang mengingatkannya.

"Kalau kamu ingin menangis, menangis saja. Aku akan menemanimu," kata Ren, meletakan tangan kanannya di atas kepala Glace dan mengacaknya pelan. "Kita teman, 'kan?"

"Mana mungkin aku menangis, baka." Glace berdiri, sudah siap untuk berlari. "Aku akan ke toilet sebentar. Ren, jangan kemana-mana atau kakimu tidak akan pernah sembuh."

"Aku mengerti," jawab Ren yang mengambil tempat duduk Glace. Gadis itu berlari pergi, membuat pasangan berambut coklat itu mendapat tatapan tajam lagi.

Glace berhenti berlari di dekat kelas 2A. Dia ingin tahu apa yang Kizuno lakukan walaupun dia sudah bukan siapa-siapa. Dia mengintip dari jendela ruang kelas itu dan melihat Kizuno dan Kido sedang membicarakan sesuatu dengan wajah serius. Dia tidak bisa mendengarnya karena pintu maupun jendela kelas itu di tutup rapat. Alasan kenapa dia lebih memilihnya daripada aku ya?

"Glace, kamu tidak bersama Riri?" Tanya suara Himeka yang cukup mengejutkan Glace. "Atau Kirishima-senpai?"

"Mereka ada di kelasku. Aku hanya lewat karena ingin ke toilet," jawab Glace lalu mulai berjalan. "Duluan ya."

Di saat yang bersamaan di kelas, kedua pasangan berambut coklat itu belum mengatakan apa-apa. Mereka berdua takut tatapan tajam Ren bisa membunuh mereka.

"Kenapa kalian membawa topik tentang Kizuno?" Tanya Ren pada akhirnya. Dia tidak mengalihkan pandangannya dari mereka sama sekali.

"Kami hanya bertanya kenapa dia tidak bersama dengan Senpai saja," jawab Seita tidak ingin di tuduh. "Apa Senpai tidak ingin tahu alasannya?"

Ren tertawa, tawa mengejek. "Tidak, aku sudah tahu. Aku sudah bersama dengannya lebih lama dari kalian, bagaimana mungkin aku tidak mengetahui itu?" Tanyanya.

Ren sudah tahu, sejak dulu Glace memang hanya memandangnya sebagai kakak. Tidak lebih dari itu. Dia menyukai Glace lebih dari adik maupun teman, tapi dia memutuskan untuk tidak memberitahu Glace demi persahabatan mereka. Ren tahu itu menyakitkan, tapi kehilangan Glace karena itu jauh lebih menyakitkan.

"Baiklah kalau Senpai merasa lebih tahu. Kalau begitu Senpai bisa membuat Glace melupakan kejadian kemarin, 'kan? Bagaimana juga Senpai itukan temannya sejak kecil," kata Riri yang terdengar sedikit kesal.

"Baiklah, akan kucoba."

"Akan mencoba apa, Ren?" Tanya Glace bingung. Dia memasuki kelas bersama dengan temannya yang lain.

"Tidak. Hari Minggu ini kamu tidak ada kegiatan apa-apa, 'kan, Glace?" Ren berdiri dan berjalan mendekati Glace. "Aku ingin pergi mencari buku untuk bahan ujian. Aku juga ingin refreshing. Bisa temani aku?"

Glace meletakkan telunjuk tangan kanannya pada pelipisnya, terlihat berpikir sebelum mengangguk. "Baiklah, aku juga ingin refreshing. Kalian tidak ingin ikut?" Tanya Glace pada sahabatnya yang lain.

"Tidak, kami sudah ada janji minggu ini." Mereka menggeleng serempak, membuat Glace sedikit bingung. Hal itu membuat Glace merasa tersisih karena mereka sering pergi ngedate bersama setiap minggu, tapi kali ini Glace tidak bisa ikut.

"Hmm.. Baiklah, aku akan pergi dengan Ren saja," kata Glace bersamaan dengan bunyi bel tanda pelajaran akan segera di mulai.

Ren mengambil beberapa kemeja dari lemari pakaiannya, menempelkan pada tubuhnya secara bergantian dan melihatnya di depan cermin.

"Apa yang kamu lakukan, Ren?" Tanya pemuda itu pada pantulan dirinya di cermin. "Kamu bukan perempuan yang sangat peduli dengan apa yang kamu pakai. Ini juga bukan date!"

Dia melemparkan kemeja-kemeja tak bersalah itu ke atas tempat tidurnya. Ren membuka lemarinya lagi dan mengambil jeans hitamnya.

"Mungkin aku hanya gugup karena sudah lama sekali tidak pergi dengan Glace. Baiklah!"

Kemudian dia mengambil kaos putih dan kemeja hitam polos sebelum memakainya dan keluar dari rumahnya untuk menuju rumah yang berada tepat di depannya.

"Ah, Renren. Kamu mau pergi kemana?" Tanya Namina Aquarii, mama Glace yang sedang merapikan taman kecilnya. "Dengan Glace?"

"Iya, kami akan pergi ke toko buku dan mungkin game center nanti. Tenang saja, Namina-san. Aku akan menjaga Glace," jawab Ren dengan senyuman lembut yang tidak pernah ia perlihatkan di sekolah.

Namina menghela nafas. "Terima kasih ya, Renren. Padahal kecelakaan yang menimpamu itu adalah kesalahan Glace, tapi aku memintamu untuk menjaganya lagi."

"Masalah kecelakaan itu bukan masalah, Namina-san. Judo itu tidak begitu penting bagiku, aku ikut untuk melindungi Glace dan aku senang kemampuan lariku yang cukup cepat bisa menyelamatkan Glace waktu itu," jawab Ren masih dengan senyumannya. "Glace juga sudah kurepotkan di sekolah."

"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan, Renren. Aku tidak bisa melakukan apa-apa," kata Namina membalas senyuman Ren. "Glace, Renren sudah datang."

"Ma, sudah berapa kali aku bilang jangan panggil dia Renren lagi? Dia sudah besar," kata Glace yang keluar dari rumahnya itu dengan kaos hitam, jaket hijau tua, dan jeans biru tua.

"Renren saja tidak keberatan. Mama Renren juga memanggilmu Glace-chan, 'kan?" Tanya mama yang melihat anaknya berdiri di mulut pintu seraya membetulkan sepatunya.

"Panggilan itu wajar, ma. Renren itu untuk anak kecil," jawab Glace lagi. "Sudahlah, aku pergi ya, ma."

"Iya, hati-hati kalian berdua."

Maka pergilah kedua orang pirang itu ke toko buku yang Ren inginkan. Pemuda beriris silver itu mengajak Glace kesana karena tahu seberapa gilanya gadis itu dengan buku, tapi mungkin itu keputusan yang salah.

"Glace, bagaimana dengan buku yang ini?" Tanya Ren seraya mengambil buku berhard cover biru tua dan berjudul 'Astrology'. "Umm.. Glace?"

Dia berpaling ke kiri dan melihat Glace menatap kumpulan buku manga disana dengan mata berkaca-kaca. "Uh.. Maaf. Aku dan Hizu sering ke sini sebelumnya. Ada apa?"

"Tidak apa, aku akan membeli beberapa buku dan kita akan ke tempat lain setelah itu," jawab Ren, mengambil beberapa buku novel lalu membayarnya. "Ayo, Glace."

"Baik."

Mereka berdua keluar dari toko buku itu dan segera pergi ke tempat yang Ren pikir aman, game center. "Ayo kita main!"

Lagi-lagi Glace tidak menjawab. Dia hanya menatap mesin permainan itu dengan tatapan yang sama.

"Jangan bilang kamu sering pergi ke sini dengan Kizuno juga? Haaah.. Jadi sebenarnya kalian itu kutu buku atau gamers?" Tanya Ren memegang pelipisnya. "Kita pulang saja."

Ren menarik tangan Glace keluar dari sana. Glace tidak melawan, hanya mengikuti Ren dari belakang. Mereka sampai di rumah Glace dan duduk di teras sama seperti 7 tahun yang lalu.

"Baiklah, kalau kamu ingin cerita dan menangis lakukan saja. Aku akan mendengarkan semuanya. Kamu tahukan kalau itu akan membuatmu lega daripada kamu menyimpannya sendirian," kata Ren dan gadis itu mengangguk.

"Ren." Glace memulai. "Aku masih menyukainya. Sangat. Aku belum atau mungkin tidak bisa melupakannya."

Ren diam, memutuskan untuk menunggu cerita Glace selesai.

"Saat dia bilang menyukaiku, aku merasa sangat senang. Aku senang bisa menjadi orang yang special, berarti dalam hidup seseorang selain mama dan kamu."

Ren tahu itu, dia tahu dengan jelas perasaan Glace. Bagaimana pun juga gadis itu memang berharap bisa di terima oleh orang lain. Ren memang menerimanya, tapi Glace menganggapnya sebagai keluarga sehingga ia tidak di perhitungkan.

"Dia baik walaupun dia terlihat sangat dingin. Dia tidak bisa memasak walaupun sangat pintar dalam hal lain dan itulah kenapa aku memutuskan untuk belajar dari Riri. Aku ingin bisa melengkapi kekurangannya."

"Dia selalu bermain entah game playstation, komputer, atau ke game center, tapi dia tidak pernah membiarkanku sendirian dan mengajakku untuk ikut. Sebagai gantinya, aku membantunya membersihkan rumah."

Suaranya mulai bergetar.

"Ren, aku benar-benar ingin bertemu dengannya, berada disisinya, berbicara dengannya, tertawa bersama. Aku.. Aku.."

Dia menangis.

"Mungkin.. Kido memang jauh lebih baik dariku," katanya. "Karena aku ini memang bukan apa-apa. Kido memiliki segalanya. Dia pintar, dari keluarga ternama, dan cantik."

Dia menghapus air matanya dan tersenyum sedih.

"Ini membuatku teringat akan apa yang harusnya tidak pernah aku ingat lagi." Ren mulai bergerak saat Glace mengatakan itu. "Kalau aku memang tidak pernah bisa memiliki apa yang aku inginkan. Aku tidak akan pernah bisa menjadi seseorang yang penting untuk orang lain."

Kali ini air matanya mengalir dengan deras. Ren menarik Glace ke pelukkannya, membelai rambut pirang gadis itu perlahan, penuh dengan perasaan.

"Glace, kamu tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Bukan hanya aku dan Namina-san yang menganggapmu penting. Ada sahabat-sahabatmu. Mereka memang tidak pernah mengatakannya, tapi aku yakin kamu penting untuk mereka," kata Ren dengan nada menenangkan.

"Kamu tidak tahu, Ren. Mungkin Himeka dan yang lainnya berteman denganku karena Riri. Mereka jauh lebih menyukainya dari pada aku yang tidak bisa apa-apa ini," jawab Glace. "Aku juga tidak tahu kenapa Riri mau menjadi temanku sampai sekarang. Aku ini orang yang membosankan dan hanya bisa merepotkan."

"Glace." Ren memanggilnya dengan nada yang lebih keras. "Jangan terus memandang rendah dirimu seperti itu. Kamu lebih dari apa yang kamu pikirkan."

Glace mencoba melepas pelukkan Ren. "Tidak, aku akan selalu menyedihkan. Kamu juga, kenapa masih bersamaku? Aku tahu, pasti karena mamaku."

"Glace!" Kali ini Ren berteriak. "Aku bersamamu karena kamu! Saat pertama kali aku bertemu denganmu aku selalu merasa harus melindungimu, menjagamu! Sejak saat itu, aku menyukaimu, Glace!"

Mata Ren membesar karena kaget. Dia tidak menyangka dia akan memberitahu Glace tentang perasaannya seperti ini. Dia bahkan tidak berniat memberitahu teman kecilnya itu.

"A-Aku.."

"Ka-kamu menyukaiku, Ren?"

Disaat yang sama, Hyoga berjalan kesana kemari di dalam kamarnya. Dia sibuk memikirkan apa yang harus ia lakukan sekarang. Glace, Kirishima, dan Kido, hanya itu yang ada di kepalanya sekarang. Melihat Glace dengan Kirishima kemarin membuatnya kesal. Hyoga tahu kenapa dia kesal, tapi dia sudah tidak memiliki hak apa-apa.

"Apa yang harus aku lakukan? Apa?" Tanya Hyoga yang mulai menarik helaian indah rambut pirangnya. "Glace.."

Setelah mengelilingi kamarnya itu tujuh kali, Hyoga mengambil telepon genggamnya dan menekan beberapa tombol.

"Ada apa, Kizuno?"

"Kido, ada hal yang ingin kusampaikan padamu," jawab Hyoga dengan suara datarnya. "Aku rasa sudah saatnya kita akhiri hubungan pura-pura kita ini. Aku akan berbicara dengan Glace."

.

.

To be continue..