.

HHGR

Chapter four : Ren's Past (Side Story)

.


"Ren, ini keluarga Aquarii. Mereka juga baru saja pindah minggu yang lalu," kata mama yang mendorong Ren maju ke depan untuk menyapa keluarga Aquarii yang berada tepat di depan rumahnya.

"Ren Kirishima, salam kenal." Ren memperkenalkan dirinya sambil membungkukkan tubuhnya. Dia memperlihatkan senyuman manisnya.

"Renren manis sekali," kata wanita yang terlihat masih cukup muda itu. Wanita itu menarik seseorang dari belakangnya dan mendorong anak perempuan itu maju. "Glace-chan, kamu harus bisa seperti Renren. Memperkenalkan dirinya tanpa malu seperti itu. Renren, in-"

"Aku akan memperkenalkan diriku sendiri, mama. Aku Glace Aquarii, salam kenal," kata seorang anak perempuan dengan warna rambut yang sama dengan Ren, hanya saja matanya hijau bukan silver. Dan kalau dilihat-lihat, umur mereka tidak jauh berbeda.

"Jaga Ren ya, Glace-chan," kata mama Ren.

Namina Aquarii, menarik anaknya yang ingin berjalan kebelakang agar tetap berada disana. "Harusnya aku yang bilang begitu, Renren tampak bisa berteman dengan baik. Sudah seminggu kami disini, tapi Glace sama sekali belum memiliki teman. Aku harap kalian bisa berteman, Renren, Glace."

Setelah itu, Ren di bawa untuk memperkenalkan diri pada tetangga yang lain. Beberapa rumah disana memiliki anak yang berusia sama dengan Ren, tapi yang menarik perhatian Ren hanya satu rumah, kediaman Aquarii. Glace Aquarii, mengeluarkan aura dingin yang seolah mengatakan 'jangan dekati aku', tapi yang lainnya, menerima Ren dengan sangat terbuka. Hal itulah yang membuat Ren penasaran.

Sorenya, Ren memutuskan untuk bermain keluar, kebetulan rumah mereka tidak jauh dari sebuah taman yang cukup besar. Baru saja ia keluar satu langkah dari gerbang rumahnya, dia melihat Glace duduk di teras dengan buku di tangannya. Ren pun mendekatinya.

"Glace, kamu sedang apa?" Tanya Ren dari depan pagar putih rumah itu. Glace hanya mengangkat wajahnya, melihat Ren sekilas, dan kembali melanjutkan kegiatannya. "Glace?"

Tidak ada jawaban dari anak perempuan itu dan tentu saja Ren tidak akan menyerah disana. Dia sudah memutuskan untuk membuat Glace menjadi temannya. Dia melihat ke arah taman dan melihat sekumpulan anak seusianya sedang bermain bola.

"Glace, mereka sedang bermain bola di taman. Apa kamu tidak ingin bergabung?" Tanya Ren yang kembali menatap anak perempuan pirang itu.

Masih tidak ada jawaban, tangan Glace masih sibuk dengan buku tulis yang berada di tangannya.

"Glace."

"Kamu berisik, tahu?" Tanya Glace yang pada akhirnya berhenti melakukan apa pun itu pada buku tulisnya. "Kalau kamu ingin bermain bersama mereka ya pergi saja. Jangan memanggil-manggil namaku terus."

"Woa! Glace berbicara. Aku pikir suaramu sudah di ambil kucing," goda Ren dan dia mendapat lemparan penghapus yang tepat mengenai kepalanya. "Aw! Aku kan hanya bercanda, Glace. Aku tidak begitu ingin kesana, bagaimana kalau aku bermain bersama denganmu saja? Aku boleh masuk, kan?"

Glace tampak berpikir sejenak dan Ren menunggunya dengan sabar. Dia mengambil penghapus yang tak jauh dari kakinya dan memperlihatkannya pada Glace yang sepertinya sudah memutuskan.

"Huh! Baiklah." Glace berjalan mendekat dan membukakan pintu pagar rumahnya, mengulurkan tangannya untuk meminta penghapusnya. "Berikan padaku."

"Tidak, aku akan memberikannya setelah aku masuk dan aku ingin tahu apa yang kamu lakukan pada kertas tak bersalah itu," kata Ren seraya menunjuk buku yang berada dalam pelukkan lengan kecil Glace.

Ren tidak percaya saat melihat wajah Glace yang agak sedikit memerah, anak perempuan itu juga mepererat pelukkannya pada buku itu. "Kalau kamu ingin masuk, kamu harus memberikan penghapus itu padaku dan tidak boleh melihat apa yang ada dalam buku ini," katanya.

"Hmm.." Ren menimbang-nimbang kata apa yang harus ia lemparkan untuk melawan Glace, tapi dia tidak menemukan apa-apa. Dia memberikan penghapus itu pada Glace. "Baiklah, aku tidak akan melihatnya. Jadi aku boleh masuk?"

Glace mengangguk dan membiarkan Ren masuk. Dia kembali menutup pintu pagarnya dan kembali duduk di posisinya tadi. Ren duduk di sebelahnya, ingin melihat apa yang Glace lakukan, tapi anak perempuan itu menggeser posisi duduknya hingga Ren tidak bisa mengintip.

"Baiklah-baiklah, aku tidak akan melihatnya. Sebagai gantinya kamu harus menemaniku mengobrol."

"Bicara saja, aku mendengarmu."

"Kamu harus menjawabku juga, Glace. Kalau hanya aku yang berbicara itu namanya bercerita," kata Ren. "Kamu bisa jawab sambil melanjutkan apa pun yang kamu lakukan itu."

"Baiklah, akan aku jawab kalau memang perlu," kata Glace yang sama sekali tidak mengalihkan matanya dari buku.

"Hmm.. Baiklah, sebelum ke Tokyo kamu tinggal dimana?" Tanya Ren memulai. Dia memang penasaran dari mana Glace sebenarnya karena dia cukup dingin.

"Sapporo, Hokkaido."

Pantas saja aura di sekitar Glace dingin, dia berasal dari pulau terdingin di Jepang. Tapi apa nama Glace dan Aquarii itu dari Jepang?

"Aku dari Okinawa," kata Ren setelah diam beberapa saat karena dia menunggu Glace tapi dia tidak mendapatkan pertanyaan apa-apa darinya.

Okinawa, kota terpanas di Jepang. Ren berpikir apa arti di balik Glace yang berasal dari Pulau terdingin dan dia yang berasal dari kota terpanas.

"Aku pindah karena papaku di pindah tugaskan ke sini. Kalau kamu?" Tanya Ren yang masih belum mendapat pertanyaan dari Glace.

"Aku tidak tahu, hanya mengikuti mamaku," jawab Glace singkat.

"Begitu ya.. Bagaimana dengan hobimu?" Tanya Ren yang sudah mulai bingung ingin membicarakan apa. "Kamu pasti punya hobi, kan?"

"Begitu inginkah kamu melihat apa yang ada pada buku ini?" Tanya Glace, memeluk erat bukunya. Mata Ren berbinar.

"Jadi apa yang ada di buku itu hobimu?" Tanya Ren bersemangat. "Aku ingin tahu!"

Glace menggelengkan kepalanya kencang.

"Kalau kamu memberitahu hobimu, aku akan memberitahu hobiku!" Teriak Ren yang benar-benar ingin tahu.

"Tidak, untuk apa aku mengetahui hobimu?" Tanya Glace sedikit berteriak. Tidak ada argumen disana. Ren pun menyerah.

Dia menghela nafas. "Aku sangat suka membaca buku. Apalagi buku dongeng."

"Membaca buku? Aku juga suka. Dongeng apa yang kamu suka?" Tanya Glace. Pertanyaan berarti pertama dalam sesi tanya jawab ini.

"Snow White! Aku akan jadi pangeran yang menyelamatkan snow white dari penyihir jahat," kata Ren bersemangat. "Tapi aku tidak hanya membaca buku dongeng, aku juga membaca buku-buku seperti novel milik papa di perpustakaan mini kami."

Ren dapat melihat cahaya pada iris hijau Glace. "Perpustakaan mini?" Tanya anak perempuan itu.

"Iya, perpustakaan mini. Papa juga hampir membawa semua bukunya kesini. Kamu ingin lihat?" Tanya Ren dengan senyuman lebar di wajahnya.

"Boleh?" Tanya Glace masih dengan kilatan cahaya pada matanya.

"Tentu saja, kenapa tidak? Bagaimana kalau sepulang sekolah besok? Oh ya, kamu sekolah dimana? Aku di Mamoru," kata Ren senang karena ada kemajuan dalam kegiatan mengobrolnya. Dia berhasil membuat Glace bertanya padanya. Selangkah lebih dekat untuk menjadi temannya

"Aku juga di Mamoru. Aku kelas 4," jawab Glace. "Kamu?"

"Berarti kamu adik kelasku, aku kelas 5."

"Jadi aku harus memanggilmu Senpai?"

"Tidak, kamu boleh memanggilku Ren karena kamu teman pertamaku disini." Ren melihat langit yang sudah cukup gelap lalu berdiri. "Aku harus segera pulang sekarang. Senang bisa mengobrol bersamamu, Glace."

"Umm.. Ren." Ren merasa ada yang menarik bagian bawah bajunya. Dia pun berbalik dan melihat Glace yang menariknya. "Tunggu sebentar. A..aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu."

"Baiklah," jawab Ren lalu Glace masuk ke dalam rumahnya. Dia senang karena Glace memanggilnya Ren bukan kamu lagi. Dua langkah menjadi temannya.

"Ini." Glace kembali dengan sebuah buku catatan di tangannya dan memberikannya pada Ren. "Ka-Kamu suka membaca, kan? Umm.. Ini.. Buku yang aku tu..lis. A..aku tahu ini tidak ba..bagus. A-apa kamu mau membacanya? Aku tahu banyak ke-"

Ren mengambil buku itu dengan tangan kanannya dan tangan kirinya ia gunakan untuk mengacak rambut pirang anak perempuan yang lebih pendek darinya itu. "Tenang saja, aku akan membacanya dan memberitahumu bagian yang aku suka dan bagian mana yang bisa kamu perbaiki. Terima kasih ya, aku sangat senang."

"Terima kasih, Ren. Jangan perlihatkan pada yang lain."

"Aku janji."

Ren pulang dengan sangat senang. Teman pertamanya yang ia pikir akan sulit di dekati memberikan buku yang tadinya sama sekali tidak ingin ia perlihatkan hanya karena membicarakan hobi. Ren merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, tapi apa? Dia harus membuka buku catatannya lagi. Kalau catatan tentang perasaan ini ada dalam bukunya.

"Aku pulang." Ren masuk ke dalam rumahnya, duduk di genkan dan melepaskan sepatunya. Dia mendengar langkah kaki mendekat dan dari suaranya, dia tahu siapa yang datang.

"Ren, bagaimana harimu?" Tanya sang mama dengan apron merah polkadot putih.

"Menyenangkan, aku berbicara dengan Glace tadi. Besok siang dia akan datang untuk melihat perpustakaan kita," jawab Ren yang masih sibuk dengan sepatunya.

"Benarkah? Kalau begitu mama akan menyiapkan snack untuk kalian," kata sang mama bersemangat. "Apa yang dia suka?"

Ren berdiri dan berbalik. "Aku tidak tahu, aku belum sempat menanyakannya," jawab Ren tersenyum lalu masuk ke dalam kamarnya karena tidak sabar untuk melihat buku teman barunya itu.

Kingdom of Loneliness. Ren merasa dari judulnya, cerita ini akan cukup menyedihkan. Dia membuka halaman pertama buku itu dan melihat deretan tulisan yang cukup rapi untuk anak kelas 4. Dia mulai membaca dan menemukan kalau cerita itu memang menyedihkan, tapi kurang di perdalam.

Dalam 2 jam, Ren menyisakan satu halaman terakhir buku itu. Di halaman terakhir, dia melihat sebuah tulisan yang lebih kecil dari pada tulisan lainnya dalam bahasa inggris.

"Loneliness.. Kenapa ini harus terjadi dalam hidupku? Kenapa semua orang terus membiarkan aku sendirian? Aku tahu aku ini bukan siapa-siapa. Aku tahu aku tidak penting. Aku tahu mereka hanya menganggapku sebagai pengganggu. Tidak adakah seorangpun yang mau menerimaku? Apa aku memang harus sendirian? Tidak bisakah aku memiliki seseorang yang selalu bisa berada disisiku? Menganggapku penting?"

"Loneliness?" Menjadi anak kelas 5 yang cukup pintar di kelasnya, Ren bisa mengerti apa arti catatan itu. Rasa kesepian yang amat sangat. Jadi itukah yang Glace rasakan selama ini? Hanya bisa berharap mendapatkan teman dan alasan dia tidak mencari karena dia takut kalau dia akan di tinggalkan. Hal itu membuat Ren memutuskan sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya. "Aku akan menjadi temanmu, Glace. Sampai kapan pun. Aku akan selalu melindungimu dari orang jahat. Aku janji."

Sebuah janji pada dirinya sendiri yang tidak akan pernah ia ungkapkan pada Glace ataupun orang lain.

Dua tahun berlalu, sekarang Ren sudah menduduki bangku kelas 1 Junior High. Dia memutuskan untuk masuk ke klub Judo agar bisa menolong Glace di saat-saat yang sangat mendesak. Hari ini dia tidak bisa pulang bersama Glace karena kegiatan klub itu.

"Kalau begitu aku pulang duluan ya, Ren." Glace melambaikan tangannya pada Ren yang berdiri di depan gym. Pemuda pirang itu membalas dan tersenyum.

"Sampai nanti, Glace. Hati-hati di jalan."

Glace pun tak dapat terlihat lagi saat melewati sebuah tikungan. Ren baru saja berbalik saat namanya di panggil.

"Ada apa? Kalian harus latihan hari ini, tidak boleh bolos," kata Ren malas. Dia pun melanjutkan perjalanannya karena tidak mendapat jawaban dari kedua pemuda yang memanggilnya tadi. Mereka terlihat sedang mengatur nafas mereka.

"Tu-tunggu, Kirishima. Ka-kami ba..ru sa..ja melihat seseorang yang sangat aneh mengikuti Aquarii," kata seorang pemuda berkacamata. Mendengar nama Aquarii, Ren segera berlari ke arah Glace pergi tadi. Dia akan melindunginya dari apa pun.

"Glace!" Dia berteriak memanggil-manggil nama Glace karena gadis itu tidak bisa di temukan di jalanan yang seharusnya ia lewati. "Glace! Kamu dimana?"

"R-Ren! To-!"

Suara Glace terdengar tapi Ren masih belum bisa menemukan gadis pirang itu. Iris silvernya menyapu jalanan itu untuk melihat celah-celah yang ada.

PRANK

Bunyi keras benda besi jatuh ke aspal membuatnya berlari ke arah jalan sempit yang berada di dekat sana. Dia melihat seorang pria dengan kacamata hitam dan masker, menutup mulut Glace dengan tangannya.

"Apa yang kamu lakukan pada Glace?" Tanya Ren, menarik kerah kemeja pria itu sehingga pegangannya pada Glace lepas. "Beraninya kamu! Glace, cepat hubungi polisi!"

Menjadi seorang remaja yang tidak begitu kuat, pegangan Ren pada kerah kemeja pria itu terlepas saat pria misterius itu melepasnya dengan paksa. Dia langsung berlari pergi dari sana.

"Dia sudah pergi, Glace. Kamu tidak apa-apa, kan? Dia tidak melakukan apa-apa padamu, kan?" Tanya Ren cemas. Glace yang terduduk segera berdiri dan memeluk teman kecilnya itu. Ren bisa merasakan kaki dan bahkan seluruh tubuh Glace gemetar. Dia pasti sangat ketakutan. "Maafkan aku, Glace."

"Ren, aku takut. A-aku.. Kalau kamu tidak datang, aku.." Glace terisak dan Ren bisa merasakan tetesan hangat jatuh pada bahunya. Glace, boneka es dari Sapporo, menangis.

Ren merasakan sesuatu yang aneh saat ini. Perasaan yang ia rasakan saat dia kelas 5. Dia masih tidak mengetahui perasaan itu dan dia tidak berani menanyakannya pada kedua orang tuanya.

Semua itu terjawab saat ia berusia 16 tahun. Glace memperkenalkannya pada seorang pemuda berambut pirang dan beriris biru muda yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

"Ren, perkenalkan. Ini Hyoga Kizuno, pacarku. Kami bertemu saat kamu kembali ke Okinawa. Aku harap kamu tidak keberatan," kata Glace dengan wajah yang sangat senang. Bagaimana mungkin Ren bisa mengatakan kalau dia keberatan?

Selama ini dia selalu menyelidiki asal usul orang yang ingin mendekati Glace dan yang berhasil lolos barulah sahabatnya yang sekarang. Tentu saja kehadiran Hyoga Kizuno sekarang sebagai pacar Glace membuatnya tidak nyaman. Bagaimana bisa dia membiarkan seseorang mengambil Glacenya saat ia tidak melihat? Ya, Glacenya.

Dia menyukai Glace. Dia sadar, dia menyukainya sejak pertama kali ia bertemu dengan anak perempuan itu. Tapi gadis itu tidak pernah melihatnya lebih dari seorang teman. Sekarang sudah ada orang lain yang bisa mencairkan hati boneka es itu selain Ren, orang yang mendapat posisi yang lebih dari apa yang Ren capai selama beberapa tahun dalam sekejap.

"Aku Ren Kirishima, teman kecil Glace. Aku harap kamu bisa menjaga Glace dengan baik atau kamu harus menerima konsekuensinya."

.

.

Ren's side story end.