A/N : Bagian terakhir dari HHGR. Kenapa Hanako tidak ingin Hyoga kembali pada Glace? Ini jawabannya! Enjoy!


.

HHGR

Chapter 8 : Hanako's Side Story

.


Hanako melemparkan tubuhnya ke kasur setelah menyelesaikan semuanya dengan Kizuno, membenamkan wajahnya pada bantalnya. Dia merasa sedih dan menyesal. Dia mengatakan pada Kizuno kalau dia hanya menggunakan pemuda itu untuk mengusir stalkernya, tapi sebenarnya dia menyukai pemuda itu sejak pertama kali ia melihatnya.

Semuanya berawal musim semi tahun lalu. Dimana mereka semua baru saja memasuki tahun ajaran baru di SMA. Hanako berjalan santai ke arah kelas barunya walaupun pelajaran sudah di mulai beberapa menit yang lalu.

"Sensei, aku terlambat." Hanya itu yang ia ucapkan sebelum duduk di kursi meja kosong dengan sebuah papan nama kecil bertuliskan "Hanako Kido" di atasnya.

"Kido-sama, Anda bisa tanyakan apa yang kita bahas pada teman disebelah Anda," jawab Sensei yang menghentikan kegiatan menulisnya di papan. Siapa yang berani menghukum putri tunggal keluarga Kido yang memiliki sekolah ini? "Kita lanjutkan pelajaran kita."

Hanako melirik kesebelah kanannya. Seorang pemuda berambut coklat tua berantakan. Pemuda itu melihat ke arah papan, tapi Hanako yakin pikirannya tidak disana. Dia memutuskan untuk melihat ke depan dan belakangnya. Sama saja, tidak bisa di harapkan. Walaupun dia anak pemilik sekolah, bukan berarti dia bisa bertindak sesukainya dengan nilai. Itu satu-satunya pesan dari sang papa.

Dia melihat kesebelah kirinya, Hanako sedikit menyipitkan matanya karena cahaya dari jendela kelasnya itu. Seorang pemuda berkacamata duduk di meja sebelahnya dengan tatapan yang terfokus pada papan tulis. Sesekali dia juga mencatat pada buku tulisnya. Rambut pirangnya terlihat bersinar karena terkena sinar matahari.

Hanako merasa jantungnya berdebar lebih cepat dari sebelumnya. Dia tidak pernah percaya pada yang namanya cinta pada pandangan pertama, tapi sekarang dia percaya karena telah mengalaminya sendiri. Bagaimana mungkin?

Bel istirahat berbunyi. Pemuda itu melepaskan kacamatanya dan mengeluarkan bento dengan kain pembungkus light blue. Wajah datar tanpa ekspresinya menghangat dan senyuman tipis terlihat.

Hanako merasakan debaran itu lagi. Dia terus menatap lekat wajah itu sampai iris biru muda membalas tatapannya itu. "Ada apa, Kido-san?"

Gadis pirang itu mengalihkan pandangannya ke arah jendela dan melihat langit biru bersih dari sana. "A-Aku ingin meminjam catatan pelajaran pertama tadi," jawabnya mencoba untuk terdengar biasa saja.

Pemuda yang dia tidak ketahui namanya itu mengambil sebuah buku di dalam tasnya dan memberikannya pada Hanako.

"Terima kasih, umm.."

"Kizuno. Hyoga Kizuno."

"Terima kasih, Kizuno-kun." Hanako duduk di kursinya kembali dan meletakan buku itu ke dalam tasnya. Dia mengeluarkan kotak bento dengan pembungkus merah yang dibuatkan oleh koki keluarganya.

Hari demi hari berganti dan Hanako sama sekali tidak bisa mengeluarkan pemuda itu dari kepalanya. Semakin dia mencoba berusaha untuk melupakannya, semakin ia menyukainya. Dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, dia sama sekali tidak mengetahui apa pun tentang Hyoga Kizuno. Hal yang ia ketahui hanyalah berasal dari gosip yang tersebar. Gosip tentang bekal yang Kizuno bawa setiap hari ke sekolah.

Hanako tidak mengerti arti penting dari bento itu. Bukankah bento itu hal yang biasa? Bukankah setiap orang bebas membawa bento yang di buatkan atau buatannya sendiri? Kenapa semua orang harus meributkan masalah kecil seperti bento? Dan suatu hari, dia mendengar hal penting di balik kotak berwarna hitam yang Hyoga bawa setiap hari.

"Bukannya itu dibuatkan oleh mamanya?" Hanako yang berada di dalam kelas saat istirahat siang tanpa sengaja mendengar pembicaraan tiga orang teman sekelasnya tentang sesuatu. Dia tidak bermaksud menguping, tapi suara mereka tidak mungkin tidak bisa di dengar olehnya.

"Mamanya itu sudah tidak ada karena kecelakaan. Dia tinggal bersama papanya yang sibuk bekerja dan kakak laki-lakinya yang sibuk belajar," jawab yang lainnya. "Tidak ada yang bisa membuatkan bekal itu selain dirinya sendiri, kan?"

Pemuda ketiga disana menghela nafas. "Setelah sekian lama kalian satu kelas dengan Kizuno kalian tidak tahu misteri di balik bento itu?"

Mendengar nama Kizuno di sebut Hanako pun tertarik dan lebih memfokuskan pendengarannya pada pembicaraan itu.

Kedua pemuda di hadapan pemuda ketiga menggelengkan kepalanya dan si ketiga pun melanjutkan, "Itu dibuatkan oleh pacarnya yang berada di Mamoru High."

Pacar? Hanako mempertahankan poker facenya walaupun dia tidak senang mendengar kenyataan kalau pemuda yang telah mencuri hatinya sudah menjadi milik orang lain. Dia memasang telinganya lebih tajam untuk mendengar apa yang akan mereka katakan lagi, mungkin mereka akan menyebutkan nama sang pacar dan Hanako bisa menggunakan kekuatannya untuk mendapatkan Hyoga.

"Pacarnya yang juga berambut pirang itu maksudmu?" Tanya pemuda kedua pada kedua orang temannya. Pemuda ketiga mengangguk dan mereka kembali membicarakan hal itu, tapi tidak ada yang menyebutkan namanya. Hanako akhirnya memutuskan sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia lakukan sebagai putri terhormat.

Pulang sekolah, Hanako mengikuti Hyoga Kizuno yang ia duga akan menjemput pacar misteriusnya itu. Mamoru High berada sangat jauh dari Hirata High dan Hanako harus memerintahkan supirnya untuk pulang karena Hyoga berjalan kaki. Gadis beriris coklat itu berjalan sekitar beberapa meter di belakang Hyoga. Hanako mendapat tatapan-tatapan kagum dari beberapa murid yang sudah meninggalkan bangunan Mamoru High dan dia sama sekali menyukai tatapan itu.

"Glace." Hanako melihat Hyoga melambaikan tangannya di depan gerbang sekolah yang jauh berada di bawah Hirata High. Dia berpura-pura melihat sebuah majalah dari rak toko buku yang tak jauh dari sana. "Maaf lama."

"Tidak apa-apa kok. Ayo!" Seorang gadis berambut pirang keluar dari gerbang itu bersama satu gadis dan pemuda berambut coklat. Hanako tentu saja menyimpulkan Glace adalah gadis pirang itu, pacar dari Hyoga Kizuno.

Dia cukup shock karena pacar dari seorang Hyoga Kizuno adalah seseorang yang terlihat biasa saja. Gadis yang di panggil Glace itu sama sekali tidak menarik, hanya iris emerald dan tinggi yang sepertinya hampir menyaingi Hanako. Itu kesimpulan yang ia ambil karena jarak mereka yang cukup jauh.

Sejak hari itu, dia memutuskan untuk merebut pemuda pirang itu dari Glace bagaimana pun carana. Dia tidak peduli kalau dia memang harus menggunakan cara licik. Dia Hanako Kido, putri tunggal keluarga kaya Kido yang akan selalu mendapatkan apa yang ia inginkan tanpa terkecuali, termasuk seorang Hyoga Kizuno.

Maka di mulailah aksi penarikan perhatian, tapi dia sama sekali tidak mendapatkan respon apa-apa. Dia tidak bisa mengalihkan perhatian Hyoga dari gadis yang memanggilnya Hizu. Tapi, itu sama sekali tidak menghentikannya. Dan dia mendapatkan kesempatan emas saat Hyoga memutuskan untuk pindah sekolah dan mendengarnya mengatakan kalau dia tidak ingin merepotkan Glace.

"Bagaimana kalau kita bekerja sama?"

"Bekerja sama? Untuk apa?"

"Kamu tidak mau merepotkan pacarmu tersayang itu, kan? Aku juga tidak ingin diikuti para stalker dari Hirata dan Mamoru. Bagaimana kalau kamu putuskan saja dia dan bersamaku. Kita berdua sama-sama mendapatkan apa yang kita inginkan."

"Apa?"

"Kamu tidak ingin merepotkannya tapi kamu selalu berada disisinya? Bagaimana bisa kamu berhenti merepotkannya? Kamu selalu bergantung padanya seperti dia itu mamamu."

"Tapi aku.."

"Pikirkan baik-baik, dia bisa mendapatkan yang jauh lebih baik darimu. Seperti Kirishima-senpai yang selalu berada disisinya selain kamu itu." Hanako bisa mengatakan itu karena dia sudah menyelidiki asal usul Glace dan teman kecilnya yang bernama Kirishima Ren itu.

"Baiklah."

Hanako tidak sepenuhnya berbohong saat mengatakan ia membutuhkan Hyoga untuk mengusir stalkernya, tapi alasan utamanya adalah untuk mendapatkan Hyoga. Dia tidak menyangka kalau Hyoga akan menyetujuinya dengan mudah.

Tapi itu tidak bertahan lama karena akhirnya Hyoga menyadari kesalahannya dan memutuskan untuk kembali pada Glace. Berat bagi Hanako untuk melepaskan Hyoga, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan karena dia tidak bisa memiliki hati pemuda itu.

Hanako tersenyum pada dirinya sendiri, melihat foto-foto yang memperlihatkan dirinya dan Hyoga saat mereka berfoto di foto box setelah ia memaksa dan meyakinkan pemuda itu kalau foto adalah hal yang penting untuk menutupi hubungan palsu mereka.

"Aku sadar sekarang arti dari yang namanya cinta. Kalau kamu senang bersama dengan Aquarii, aku tidak akan mengganggumu dan aku akan menunggumu sampai akhirnya kamu bisa melihatku."

.

.

Hanako's Side Story End