Did I really a Wallflower?

Kau bisa bilang nasibku selalu buruk, sebagai gadis yang selalu jadi 'Wallflower' ini. Aku selalu terpojok, tidak punya teman, Pembully-an Mental. Memang rasanya datang dan pergi, bahkan kalau rasa itu pergi pasti akan terasa tidak mungkin kembali lagi, tapi itulah yang terasa sekarang.

Dulu aku bisa dibilang anak cengeng, dari TK hingga kelas satu. Betapa bodohnya aku dulu, karena tidak bisa membaca atau menulis. Pelajaran ini serasa pelajaran kelas satu untuk ku padahal ini harusnya TK. Tapi sekarang Buku adalah Sahabatku

Aku bercita-cita menjadi penulis. Tekat sudah bulat dan hanya tulisan yang dapat membuat semua perasaanku lega.

Waktu kelsa dua, aku tidak punya teman, satu-satunya temanku, Sahabat baikku sampai sekarang adalah temanku dulu dari kelas satu. Aku kena Pembully-an Mental. Selalu diejek dan dianggap hina, dijauhkan dari semua orang. Memang orang yang dari dulu sampai sekarang yang paling ku benci adalah Anak Provokator itu aku tidak akan menyebutkan namanya.

Panggil saja dia Wilma. Sampai kelas tiga ak masih berharap aku bisa mendapat teman, hal hasil aku tetap dijauhkan. Kelas 4 aku punya sahabat selama beberapa bulan.

Kami punya gantungan yang sama. Namun setiap kaumempunyai benda kembar, kau harus menerima konsenensinya, mereka menjauh dari mu.

Tapi itu yang pertama. Waktu kelas lima malahan aku dijauhi dari dia. Rasanya jahat sekali.

Tapi temanku dari kelas satu membuatku pulih kembali, dia satu-satunya temanku sampai sekarang. Dan saat kelas enam, adalah saat yang paling menyenangkan: Aku mendirikan Club Harry Potter pertamaku. Dan berjalan lancar sampai akhir tahun. Sekarang aku sudah kelas tujuh

Sahabatku yang dulu se club bersamaku, malah berpindah sahabat. Aku seperti dijauhkan lagi aku sering tidak dapat kelompok. Rasanya 'Being a Loner is the best way' untukku. Sahabatku hanya dua orang rasanya: 1. Anak yang selalu ad disampingku sampai kelas satu. 2. Buku.]