Gumpalan awan putih menyelimuti langit

Pelindung bumi itu seakan tersipu malu,

Melukiskan rona kemerahan lembut

Mengiringi Sang Raja Siang kembali ke peraduannya,

Dan tak lupa mengucapkan salam pada Sang Dewi Malam

.

.

Kisah tentang 'Senja yang Menawan' pun dimulai

.

.

Burung-burung tidak mau ketinggalan

Dengan anggun, mereka menyelaraskan gerak di udara,

Berputar-putar, melayang kesana kemari

Angin ikut menemani,

Bagai kompas alam yang mengantar mereka pulang,

Membawa kebahagiaan, entah untuk sarang atau perut mereka

.

.

.

Sejalan dengan meredupnya cahaya,

Dingin pun merayap turun,

Mendekati tanah dan menghampiri seluruh makhluk bumi,

Membiarkan daging berlapis kulit itu menggigil beku

Tak masalah selama mereka dapat bertahan

.

.

.

Tapi, sang kakek tua yang bernama waktu,

Terus melangkah walau perlahan,

Bersama tongkat penunjuk angka kesayangannya

.

Setelah berhenti di angka yang tepat,

Tirai hitam kelam dengan ribuan berlian,

Menutup dan mengakhiri kisah 'Senja yang Menawan'

.

.

.

.

.


#Curcol Author#

Capek nulis puisi angst jadi pindah jalur gini (=_=)"

Gapapa lah sekali-kali... ^^