~ Tobu Yume ~

By : Yuki Utari

The story's idea is adopted from 'Kimi to, Sekai ga Owaru Made' manga by Oda Aya

WARNING : typo(s) jika ada. Tapi, saya harap sih tidak ada :D, mungkin alur agak membingungkan karena banyak flashback

HAPPY READING, MINNA~ (^o^)/''

.

.

-oO..Oo-

.

.


Chapter 1 – Our First Meeting

.

Fuyuko mengucek matanya perlahan. Rasa kantuknya tak juga hilang. Ia menatap arlojinya sejenak dan tetap merasa tenang walaupun lima menit lagi bel sekolah akan berdentang. Fuyuko menyeret kakinya dengan malas menyusuri jalan kota yang cukup sepi itu. Mungkin karena waktu yang beranjak siang dan tak mungkin orang-orang Jepang yang begitu tepat waktu masih berkeliaran tidak jelas di jalanan. Yah, kecuali Fuyuko.

Fuyuko merutuki dirinya sendiri. Kalau saja malam itu ia tidak mengingat 'hal itu', mungkin kini ia sudah duduk tenang di dalam kelasnya.

Untuk kesekian kalinya, Fuyuko mengeluarkan ponsel dengan gantungan beruang dari saku roknya. Benda berwarna merah itu tak bosan-bosannya ia pandangi. Bukan, bukan soal ponsel merahnya. Tapi, apa yang kini tertera di layarnya.

.

To : Mizuki Fuyuko

From : Hanabe Akira

Subject : no subject

.

Hingga kini, Fuyuko masih tidak mengerti apa maksud dari e-mail kosong itu. Untuk apa Akira mengirimkan e-mail seperti itu menjelang kematiannya?

Fuyuko berhenti melangkah dan jatuh terduduk seketika. Lututnya terasa lemas dan tidak bisa menahan beban tubuhnya lagi. Ia mencengkram sweaternya mencoba bertahan dari rasa sakit yang menggerogoti hatinya. "Sial!"

Ia biarkan air matanya mengalir memenuhi wajahnya. Tidak ada yang perlu disembunyikan lagi dari dunia. Tentang rasa sepinya maupun kerapuhan dirinya. Menutupinya hanya akan membuatnya membusuk dari dalam, sama seperti makanan basi.

Rasa sesak menyudutkannya kembali seperti waktu itu. Sama seperti saat gedung berlantai dua puluh itu membawa Akira pergi untuk selamanya.

Isak Fuyuko semakin kencang. Ia tidak lagi peduli pada orang yang lewat memperhatikannya. Yang ia pedulikan hanya bagaimana caranya ia bertahan diri dari rasa perih yang sewaktu-waktu bisa menghancurkannya.

.

.

.

.


Azusa Haruyuki berlari di sepanjang lorong rumahnya dengan tergesa-gesa. Sambil menjinjing tasnya, ia mencoba mencomot apa saja yang ada di meja yang dapat dimakan. Lalu, cepat-cepat ia memakai sepatu dan membuka pintu depan dengan kasar. Tak lupa, ia dibumbui dengan teriakan, "Kaa-chan, aku pergi ya!"

Ibunya Haruyuki, Azusa Michi, hanya menggeleng-gelengkan kepala. Michi tidak heran lagi karena Haruyuki seringkali lupa waktu kalau sudah berhadapan dengan komputer. Tadi malam, Haruyuki memang hampir tidak tidur karena komputer kesayangannya itu dan segala permainannya. Saat akhirnya ia terlelap, jam sudah menunjukkan pukul setengah enam. Terlambat untuk mengistirahatkan matanya.

Setelah keluar rumah, Haruyuki melirik ke bangunan di sebelah kanannya dan berharap seseorang muncul dari sana. Tapi, tidak mungkin juga karena kali ini ia lebih kesiangan daripada biasanya. Gadis yang ditunggunya itu pasti sudah pergi dari tadi.

Dengan segenap kekuatannya, Haruyuki berusaha menahan matanya agar terus terbuka dan berlari di sepanjang jalan menuju ke sekolah. Untunglah ia tidak perlu naik kereta atau bus untuk pergi ke sekolah. Kalau hal itu terjadi, Haruyuki yakin ia sudah memenuhi daftar orang-orang yang datang terlambat dan mendapat sanksi atas semua itu.

Haruyuki nyaris saja tersandung ketika melihat sosok yang tadi dicari-carinya ada di depannya. Dengan napas tersengal-sengal, Haruyuki menghampiri gadis itu dan menepuk bahunya pelan.

"Fuyu-chan, kau kenapa?"

.

.

Fuyuko terkejut dan kontan menoleh ke belakang. Haruyuki memandanginya khawatir. Fuyuko jadi merasa tidak enak. Ia selalu membuat Haruyuki khawatir. Dengan gerakan yang sama sekali tidak disadari Haruyuki, Fuyuko menghapus air matanya.

"Kenapa kau masih di sini, Haru-kun?" tanya Fuyuko dengan suara sengau. Oh, tidak, ia bingung bagaimana menghilangkan fakta bahwa ia habis menangis tadi. Baiklah, biarlah dunia tahu betapa sedihnya dia, namun tidak dengan laki-laki ini.

Haruyuki tersenyum aneh. Apa ia bisa menebak rencana Fuyuko barusan? "Harusnya aku yang bertanya begitu, Fuyu-chan. Tidak aneh kalau aku menjadi orang terakhir yang masuk ke kelas. Tapi, kau? Itu baru aneh."

Fuyuko meringis kecil, gabungan antara ingin tersenyum atau tertawa tapi tak bisa. Fuyuko bangkit dari posisi jongkoknya yang pasti terlihat aneh itu. "Ayo pergi atau kita benar-benar akan jadi yang terakhir," ajak Fuyuko sambil terkekeh.

Haruyuki mengangkat bahu. Ada yang aneh dari sikap Fuyuko, sungguh. "Baiklah kalau itu maumu," jawab Haruyuki seadanya. Ia tidak bisa memaksa Fuyuko untuk bercerita.

Fuyuko berjalan duluan. Ia menatap layar ponselnya lagi sekilas sebelum memasukkannya kembali ke saku.

"Tunggu!" Haruyuki menahan tangan Fuyuko yang hendak menyemplungkan benda merah itu ke dalam saku rok.

"Apa?"

Tanpa babibu lagi, Haruyuki mengambil ponsel Fuyuko diikuti seuntaian protes dari sang pemilik. "Haru, kembalikan!"

Hanya dengan lirikan kecil, Haruyuki sudah tahu apa yang dari tadi dipandangi gadis di hadapannya itu. Ia mengacungkan ponsel Fuyuko di depan mata pemiliknya dan membuat Fuyuko membelalak kaget.

"Ini 'kan yang membuatmu menangis dari tadi?! Fuyu, kupikir kau sudah melupakan Akira!"

Fuyuko merebut ponselnya dengan kasar. Kepalanya menunduk. Ia tidak bisa membalas tatapan Haruyuki karena ia tahu ada luka di dalam tatapan itu. "Aku… a, gomen ne…"

Air matanya kembali menggenang di pelupuk mata Fuyuko. Tangannya memeluk tubuhnya sendiri berharap agar gemetar di tubuhnya hilang. Fuyuko juga takut ia benar-benar akan hancur berkeping-keping sekarang. "Gomen, gomen, gomen…" ulangnya lirih. Fuyuko tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan Haruyuki. Janjinya untuk melupakan Akira tercemar sudah.

Haruyuki meraih tubuh mungil Fuyuko dan memeluknya. "Maafkan aku, Fuyu… Maaf, aku tahu melupakan Akira itu sulit. Maaf, aku terlalu egois. Yurushinai, Fuyu…"

Fuyuko tidak menjawab. Ah, tidak, lebih tepatnya ia tidak tahu harus menjawab apa lagi.

Haruyuki melepas pelukannya. Ia menggenggam tangan Fuyuko dan menariknya pergi.

Fuyuko mendongak bingung. "Kita mau kemana, Haru-kun?" tanyanya pelan.

Haruyuki berbalik dan tersenyum lembut. "Kau lupa? Hari ini tepat satu tahun kematian Akira, Fuyu."

Mata Fuyuko membulat. Mulutnya menganga. Astaga… ia lupa kalau hari ini peringatan setahun meninggalnya Akira! Kenapa bisa-bisanya ia lupa?

"Fuyu-chan, kau belum pernah sekali pun mengunjungi makamnya 'kan?"

"He?"

Belum hilang dari kagetnya, Fuyuko merasakan angin kencang menerpa wajahnya. Fuyuko menoleh ke samping dan mendapati laut biru yang terbentang luas.

"Kirei ka?"

Fuyuko hanya mengangguk pelan. Walaupun tinggal di dekat laut, Fuyuko belum pernah bermain atau bertamasya ke pantai. Boleh dibilang ia tidak menyukai air asin itu beserta teriknya matahari. Ia lebih suka bermain ke tengah hutan dan menikmati suasana tenangnya. Ya, kota tempat tinggalnya memang memiliki laut sekaligus hutan yang lumayan lebat.

"Aku jadi penasaran. Akira menyukai laut atau hutan ya?" gumam Haruyuki pelan nyaris berbisik.

"Laut. Umi ga suki desu," jawab Fuyuko dengan suara pelan juga.

"He? Kau dengar ya?"

"Hn." Fuyuko tersenyum. Pikirannya kembali mengenang sosok laki-laki yang suka tersenyum tapi tidak banyak bicara itu. Akira-nya.

"Begitu ya… Sepertinya kita harus menunggu bus beberapa menit di sini," sahut Haruyuki membuyarkan lamunan Fuyuko tentang Akira.

"Masih jauh?"

"Lumayan. Tapi, kalau kau mau jalan kaki saja aku sih tidak masalah," tawar Haruyuki.

Fuyuko tertawa pelan melihat wajah keberatan Haruyuki. Rupanya anak itu tidak sadar wajahnya mengatakan hal yang sebaliknya. "Tidak apa-apa kok. Menunggu tidak akan membuatku gila."

"Hee… Bagus kalau begitu," balas Haruyuki sambil menguap lebar.

"Sudah, kau tidur dulu, Haru-kun. Aku tahu pasti kau tidak tidur lagi tadi malam karena main game."

"Tepat sasaran~" Dan dalam hitungan detik, Haruyuki sudah pergi ke dunia mimpi.

Sementara Haruyuki tidur, mata Fuyuko menerawang ke langit, memperhatikan awan-awan putih yang terlihat tidak bergerak. Aroma asin yang khas dari laut di hadapannya mengingatkannya pada Akira dan pertemuan awal mereka.

.

.

.

.


Tiga tahun yang lalu, saat bunga sakura mulai bermekaran. Fuyuko dan Haruyuki, yang dari kecil sudah berteman baik, memulai masa SMA mereka di sekolah yang sama.

Fuyuko yang pendiam lebih suka kemana-mana menyendiri. Bahkan, terkadang ia melupakan Haruyuki yang malah seperti anak buahnya karena mengikutinya kesana kemari.

"Bisa tidak kau tidak mengikutiku sepanjang hari, Haru-kun?" Fuyuko yang sudah tidak tahan dengan kehadiran Haruyuki langsung memerintahkan Haruyuki untuk menjauh darinya. Paling tidak, satu hari saja.

"Hee? Mana bisa! Fuyu-chan, daisuki~ Dou?"

Wajah Fuyuko berubah menjadi merah padam. Bukan karena malu, tapi karena marah. "Apanya yang bagaimana, Asuza Haru?! Aku sudah berkali-kali bilang kalau aku tidak suka padamu! Tidak mengerti-mengerti juga?!"

Haruyuki membalas geraman Fuyuko dengan cengiran khas-nya. "Makanya, akan kubuat kau menyukaiku, Fuyu-chan."

Sambil menghentakkan kakinya kesal, Fuyuko berbalik dan segera menjauh. Percuma ngomong sama bocah bebal di depannya itu.

"Fuyuko-chan~ Paling tidak pikirkanlah dulu, jangan langsung dijawab seperti itu~"

"Aku bosan."

"Hee? Bosan? Kau kejam sekali, Fuyu-chan~"

"Habisnya kau terlalu sering menyatakan perasaanmu sejak kelas 1 SMP, Haru."

"Itu 'kan karena memang aku menyukaimu~"

"Haru-kun! Aku tidak akan pernah menyukaimu sebagai laki-laki selain sebagai teman!" balas Fuyuko nyaris menjerit karena sudah tidak tahan dengan Haruyuki yang terus berkoar-koar.

"Jahatnya~ jangan katakan 'tidak akan pernah' dong. Itu artinya 'kan tidak ada kesempatan lagi buatku~"

Fuyuko menoleh cepat ke belakang. Tatapan garangnya membuat Haruyuki mundur perlahan. "Memang tidak akan pernah, Haru-kun!"

"Warui nee, Fuyu-chan~~ Are?" rengekan Haruyuki berhenti begitu ia mendengar suara seseorang tertawa terbahak-bahak dari atasnya.

Haruyuki mendongak dan mendapati anak laki-laki seusianya melongokkan kepala dari jendela di lantai dua. Anak itu tertawa lebar.

Haruyuki langsung mengamuk, "Jangan tertawa! Apa yang lucu, heh?!"

Laki-laki berambut pirang itu terkekeh lagi. "Hubungan kalian berdua unik ya. Kau seperti anjing yang mengikuti majikannya kemana pun."

"Kurang ajar! Sini turun kau kalau berani! Jangan bicara di atas saja seperti itu!" tantang Haruyuki.

Fuyuko menepuk pundak Haruyuki pelan. Haruyuki menoleh dengan mata berbinar-binar. "Kenapa, Fuyu-chan~?"

Dengan tatapan innocent, Fuyuko bergumam, "Dia benar, Haru-kun, kau jadi mirip Chiia."

"UAPA?! Masa aku disamakan dengan anjingmu sih Fuyuko?" protes Haruyuki tidak terima.

"Wah, ternyata kau sadis juga ya."

Fuyuko mendongak. "Siapa yang katamu sadis?"

Si pirang tersenyum. "Tentu saja kau. Kau seperti shinigami, yang siap menjemput kematian siapa pun dengan matamu yang tajam."

Dahi Fuyuko mengerut. "Harusnya aku yang mengataimu sadis. Siapa kau ini dengan seenaknya meledek kami?"

"Aku? kau tidak mengenalku? Aku 'kan terkenal!"

Fuyuko memasang wajah datarnya. "Aku tidak mengenalmu sama sekali. Oh, ayolah, memang kau itu siapa? Kau bukan siapa-siapa."

Si pirang meringis. "Astaga, kau memang heartless girl. Aku Hanabe Akira dari kelas 1-2, salam kenal… Dan sekali lagi, hampir semua orang di sekolah ini mengenalku. Dasar kau aneh."

Ekspresi Fuyuko sama sekali tidak berubah. Julukan heartless girl memang tepat untuknya. "Terserah apa katamu. Dari perkataanmu tadi, itu berarti aku tidak termasuk dalam kategori 'hampir' tadi."

Bukannya kesal, Akira malah tersenyum. Mungkin yang ada dipikirannya Fuyuko ini lucu sekali. Ia pelawak dengan wajah datar kali ya?

"Hanabe-san!"

Akira menoleh. "Ada apa, sensei?"

"Bantu aku bawakan materi ini ke kelas 2-1. Tolong ya." Akira hanya mengangguk.

Sebelum pergi, Akira menoleh lagi memandang Haruyuki dan Fuyuko. "Oh, ya, nama kalian siapa?"

Haruyuki mendengus. "Untuk apa kau tahu?! Itu tidak pen–"

"Aku Mizuki Fuyuko. Dia Azusa Haruyuki."

Haruyuki menatap Fuyuko tidak percaya. "Fuyu-chan?"

Akira tertawa kecil sebelum akhirnya menyusul sensei ke kelas 2-1. Akira berbalik badan sebentar dan melambaikan tangan. "Yoroshiku, Mizu-san."

Fuyuko tersenyum, senyum pertamanya hari itu. "Yoroshiku."

.

.

.

.

.


#Curcol Author#

Bagaimana chapter 1, reader? sudah terlihat angst-nya kah? *abaikan saja*