Judul : Cinta dalam Minyak Zaitun

Pengarang : Lady Drosavera

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Angst

Rating : K+

Summary : Antara aku, kamu, minyak zaitun, dan kopi.


Seperti minyak zaitun, kau melicinkan hatiku yang kasar.

Kau datang dan menyiramnya begitu saja, senyum merekah di wajahmu.

Hatiku pun mekar, pohon kebahagiaan tumbuh dari dalamnya.

Di atasnya kita bermain dan bercanda tawa.

Seperti anak kecil.

Anak kecil yang tidak tahu apa itu cinta.

Yang bermain-main dengan cinta.

Yang menganggap cinta itu seenteng tas sekolah yang mereka bawa.

"Cinta itu apa?" mereka kerap bertanya,

namun hanya dijawab dengan senyuman aneh.

Mereka mencari-cari sendiri artinya cinta,

dan salah menafsirkannya.

Mereka pikir cinta itu semudah membalik telapak tangan sendiri.

Jadi mereka menyepelekannya hingga dewasa.

Seperti aku.

Aku, yang menganggap dirimu seperti minyak zaitun-sungguh bodoh.

Kau tidak licin.

Kau tidak halus.

Kau lebih mirip kopi, jujur saja.

Cokelat dan pahit.

Kau dipuji, didambakan, semua orang ingin jadi kamu.

Semua orang ingin memiliki kamu.

Aku juga.

Tapi begitulah, kau seperti kopi.

Cokelat dan pahit.

Ternyata saat dicoba, kau sangat tidak enak.

Langsung kumuntahkan semua yang ada di mulutku.

"Huh, rasa apa ini? Aku ingin uangku kembali!"

Jadi aku berbalik dan pergi.

Melupakanmu dan semua omong kosong tentang kopi dan minyak zaitun.

.

.

.

.

.

.

.

.

Mungkin.


Ditulis saat pengarang tidak bisa tidur pukul 00.11. Pengarang yang besok-ralat, delapan jam lagi-sangat sibuk malah membuat puisi daripada tidur di kamarnya yang pengap dan sempit. Maklumi saja kalau aneh begini.

Jujur, pengarang mendapat inspirasi dari sahabat pengarang yang (katanya) baru move-on dari orang yang dia suka. Pengarangnya sih tidak tahu kalau sahabatnya itu sudah move-on atau belum. Yang pasti, cerita cintanya(?) sangat "mengenaskan" dan dia sendiri juga perempuan yang agak...uhm, dramatis, jadilah puisi ini seperti yang para pembaca telah lihat tadi.

Saran dan kritik yang membangun akan membuat pengarang makin baik dalam menulis. Terima kasih sudah mau membaca.