All Sound

.

Song by Taylor Swift

.

Spin-Off Last Night on Earth/ Un-Related Timeline

Lucas Anthonius x Lorrie Lucyana

.

I own everything on the Story but not The Song, I also own my Character and anything that related on the Story.

© Regards Litte Yagami Osanowa

.

Api dibalas dengan Api, Air dibalas dengan Air—semua yang dilontarkan akan kembali lagi kepada siapa yang melempar dengan seimbang tanpa kekurangan apapun. Itulah hukum alam, Siapa yang melempar dia yang harus menerima rasa sakitnya. Hukum itu memang benar apa adanya—setidaknya itulah pemikiranku…

Menghela napas, aku menutup buku yang sudah berjam-jam menemaniku di ruangan membaca ini—mencoba untuk menghabiskan waktuku hanya dengan membaca buku yang sama berulang-ulang. Semua buku yang ada di ruangan ini sudah hampir sepenuhnya kubaca setiap hari aku datang ke tempat ini—Hmm, mungkin aku terdengar seperti seorang pemalas di mata kalian yah? Tapi memang beginilah kenyataannya, hanya ini yang bisa kulakukan dibandingkan keluar sana dimana aku tidak dapat melakukan apapun dan sesuatu yang kulakukan pasti tidak akan pernah berguna baginya

Yang bisa kulakukan hanya berdiam diri di dalam ruangan tertutup ini, hanya jendela besar disana itulah satu-satunya jalan dimana aku bisa mengakses pemandangan yang ada di luar dan melihat segalanya dari sini. Tapi tidak cukup untuk mencapainya dengan tangan yang pendek ini…

Aku beranjak bangun dari kursiku dan menghampiri salah satu rak untuk meletakan kembali buku yang ada ditanganku.

Ckrek

Suara kecil dipintu itu cukup keras terdengar di ruangan yang sunyi ini dan membuatku menyadari seseorang akan memasuki ruangan ini, Aku segera berbalik dan mendapati salah satu maid yang bekerja disini berdiri di ambang pintu dan membungkuk hormat begitu melihat diriku.

"Madame… Jamuan akan segera dimulai…" ucapnya memberitahu "Anda harus segera bersiap-siap…" tambahnya lagi

Aku memejamkan mataku—Ah, ya aku hampir saja lupa kalau mala mini adalah Malam Perjamuan Istimewa dan Para Klan besar akan datang berkumpul segera di tempat ini. Sebaiknya aku harus bersiap terlebih dahulu sebelum turun menemui para tamu undangan.

"Baiklah… Aku akan segera bersiap…" ucapku dengan lembut sambil memandang maid tersebut dan menyunggingkan senyuman kecil.

"…Madame, menurutku apakah ini tidak adil namanya…" gumam maid itu pelan sambil menata rambutku di depan cermin hias

Aku memandangi refleksi diriku di depan cermin, mungkin wajahku terlihat ceria dan tidak memiliki beban apapun di dalamnya—tetapi mataku tidak bisa menutupi apa yang kurasakan, begitu kelam dan pekat semua yang kualami saat ini. Tapi aku tidak ingin perasaan ini mempengaruhi diriku dan membuatku semakin tertekan—karena kalau itu terjadi aku akan kalah dan masuk selamanya ke dalam jurang yang dalam. Aku hanya sempat menyunggingkan sedikit senyum mencoba untuk terlihat biasa saja…

"…Apa maksudmu, Lynabeth?" ucapku dengan nada suara yang ringan

Maid itu memutar bola matanya berusaha tidak untuk menatapku secara langsung, wajahnya terlihat begitu sedih akan sesuatu—tetapi aku tidak mengetahui apa yang ia menjadi sumber kesedihannya itu.

"Madame, selalu terlihat ceria bahkan ketika Madame menderita seperti ini—Menurutku itu sama sekali tidak adil… Seharusnya, apa yang menjadi kesedihan Madame menjadi kesedihan seluruh Klan—dan, saat ini aku bahkan… bahkan tidak sanggup melihat wajah Madame yang seperti ini…" jelasnya sambil terisak kecil dengan tangan yang gemetar berusaha sekeras mungkin melakukan pekerjaannya "Padahal kukira semuanya akan aman-aman saja setelah Upacara berakhir—Tapi begitu melihat semua ini… aku… aku…"

Aku berdeham pelan sebelum kemudian membuka mulutku "Kesedihanku bukanlah sesuatu yang bisa dibagi begitu saja pada orang lain—hanya aku yang bisa memilikinya, orang lain tidak boleh memiliki kesedihanku ataupun merasakan apa penderitaanku… Lagipula, cukup melihat keadaan menjadi tenang dan semua orang bisa berdampingan dengan damai—aku tidak ingin menghancurkannya…" ucapku

"…Apakah ini kesalahan kami—karena kami sudah memaksakan keinginan Madame untuk…sesuatu seperti ini…" ucapnya lagi dengan pelan

"…Tidak, kalian sama sekali tidak memaksaku untuk apapun tentang hal ini—Akulah yang memutuskannya sendiri, aku yang menginginkannya dengan keinginanku sendiri dan bukan orang lain… Tidak perlu mengiba pada diriku, Tidak perlu mengasihiku karena keadaanku yang seperti ini…Karena aku yang menginginkannya dan aku juga merasa senang karena sudah melakukannya…Kalian tidak menempatkan beban pada diriku, jadi berhentilah khawatir tentang segala hal…" jawabku sambil memegang tangannya yang ada di pundakku, memberitahunya bahwa keadaanku tidak seperti yang ia bayangkan seperti dugaannya. Aku memang dikucilkan oleh-nya, Aku memang terlihat seperti gadis yang menderita—tapi itu bukanlah seperti yang terlihat "…Karena…kalau harus jujur…Aku juga merasa senang…" jawabku sambil tersenyum meyakinkan di depan cermin

"…Madame..." gumamnya

"…Ah, sudah hampir waktunya—Aku harus cepat-cepat turun dan menghampiri para tamu undangan…" ucapku pelan sambil beranjak berdiri, aku sudah cukup rapid an layak untuk keluar menemui para tamu undangan yang mungkin sudah berada di ruangan tengah saat ini. Aku mengambil beberapa langkah menuju pintu "Lynabeth—Aku tahu mungkin kau masih belum bisa mengerti dengan apa yang ku katakan barusan… Tapi untuk hal ini, Tolong jangan bcarakan hal ini pada siapapun juga…" tambahku dengan suara pelan

Maid itu hanya bisa memandangi punggungku sebelum kemudian menunduk hormat tanda ia mengerti pesan terakhirku. Dan aku, mulai melangkah pergi meninggalkan ruangan.

" Lord Lucas—Saya ucapkan selamat atas keberhasilan anda menjalani tugas dari Kementrian Dewan selama ini, dan juga berkat anda semuanya kini menjadi damai… Tidak perlu ada yang dikhawatirkan lagi…" ucap salah satu Bangsawan berbaju hijau pada seorang pemuda berambut Orange yang kini tengah berdiri ditengah-tengah perkumpulan para Bangsawan-Bangsawan terhormat lainnya

"Benar apa yang dikatakan oleh Earl Feirnhearn, Hari-Hari kami berlalu dengan damai tanpa ada kecemasan seperti apa yang dialami dulu—Kami tidak tahu bagaimana harus berterima kasih atas kerja keras anda selama ini Lord Lucas…" sahut Bangsawan berbaju putih itu sambil memegang segelas wine di tangannya

Pemuda berambut Orange yang dipanggil dengan sebutan Lord Lucas hanya berdeham pelan saja sambil memberikan ucapan balasan atas ucapan yang mereka berikan kepadanya. Entah ia merasa peduli pada ucapan yang ditujukan padanya atau ia hanya ingin memberikan rasa hormatnya dengan mebalas ucapan terima kasih mereka, karena akan mencoreng namanya kalau ia melakukan hal yang melanggar etika kepada orang-orang berkelas tinggi seperti ini.

Salah seorang Bangsawan mengenakan pakaian kuning itu menawarkan segelas wine kepadanya dan mengajaknya untuk bersulang bersama, Ia hanya mengikutinya tetapi ia sama sekali tidak meneguk cairan yang ada di dalam gelas keemasan tersebut—Ia membenci jamuan penuh orang seperti ini—tetapi ia tentunya harus beradaptasi dengan situasi seperti ini.

"Tapi Lord… Anda juga beruntung selain menjadi Pemimpin Legasi baru seperti saat ini—Ah, bagaimana aku harus mengatakannya…" ucap sang Bangsawan berbaju hijau itu lagi

Sang Lord hanya memandangi gelas yang ia pegang sejak tadi sebelum menjawab "Apa maksud anda Earl Feirnhearn?..." tanyanya hampir tidak mengekspresikan apa-apa

Bangsawan berbaju putih tertawa pelan "Lord—Anda tidak perlu membicarakannya untuk mengetahui jawabannya, Aku yakin anda pasti sudah mengetahui jawabannya hanya dengan sekali tebakan…"

"…Begitu…" jawab Sang Lord tidak tertarik

"…Harus saya katakan bahwa Lord adalah seorang yang beruntung, Mungkin itu yang dimaksud oleh Earl Feirnhear. Anda menjadi Pemimpin Legasi baru yang dibentuk Dewan dan memberikan Dunia baru pada kami kedua Klan ditambah menjadi Pemimpin bijaksana seperti sekarang…" ucap Bangsawan itu memulai kemudian memberikan sedikit hint kepada sang Lord secara bersamaan ketika seorang Wanita cantik baru saja menuruni tangga bergabung ke dalam Acara "…Anda juga merupakan satu dari orang yang beruntung Lord, bisa mendapatkan pendamping seperti Lady…" tambahnya sambil tersenyum

Dan lagi Sang Lord merasa tidak begitu tertarik dengan apa yang diucapkan Bangsawan itu kepadanya, Ia hanya memainkan gelas yang ada di genggamannya "…Sepertinya…" sahutnya dengan simple

Para Bangsawan hanya tertawa pelan mendengar komentar singkat Sang Lord kepada mereka dan selanjutnya mereka melanjutkan perbincangan mereka ke hal yang lebih berbeda dibandingkan guraun barusan. Mungkin tentang Bisnis atau yang lainnya yang sedang terjadi di kedua belah pihak.

Aku menuruni tangga dengan perlahan, kulihat para tamu undangan sudah memenuhi Ruang Tengah dan kini sedang sibuk dengan perbincangan masing-masing. Hanya sebagian dari mereka yang bisa ku kenali—tapi mungkin mereka yang tidak ku kenal mengenali diriku ini. Bersamaan pada saat itu, aku dapat mendengar suara tawa seseorang diseberang sana, penasaran aku sedikit memalingkan kepalaku hanya untuk mendapati kumpulan para Bangsawan kini sedang mengobrol di pojok sana sambil meminum wine yang sudah disediakan. Tampaknya mereka begitu menikmati pembicaraan mereka—mataku tidak sengaja berpapasan dengan sepasang mata Merah Safir yang menawan itu.

Hanya butuh waktu beberapa detik sampai aku menyadari kalau daritadi aku terus memandanginya yang mungkin tidak menyadari keberadaanku saat ini. Wajahnya terlihat jelas diantara kerumunan orang tersebut, ekspresinya terlihat sangat tenang dan datar—ia hanya menjawab seperlunya saja mengenai ucapan mereka.

"…Madame…" sebuah panggilan akhirnya menyadarkanku kembali hanya untuk berbalik mendapati seorang maid kini berdiri di sampingku dengan nampan di kedua tangannya "…Apakah anda ingin minuman, Madame…" tawarnya dengan seulas senyum

"Ah…Y-ya…" jawabku pelan kemudian meraih salah satu gelas kaca berisi cairan bening dengan hiasan buah lime di dalamnya "Terima kasih…" ucapku

"Sama-sama, Madame…" jawabnya sambil menunduk hormat kemudian pergi mengunjungi para tamu lainnya untuk menawarkan minuman yang ia bawa.

Aku hanya menghela napas pelan sambil memandangi gelas yang ada di tanganku sebelum kemudian melihat kesamping dimana aku sudah mendapati kumpulan para Bangsawan itu pergi entah kemana begitu juga dengan dirinya yang sudah tidak dapat kulihat lagi diatara para tamu undangan yang ada disini. Mungkin mereka pergi ke ruangan lain untuk membicarakan hal yang lebih penting—itulah pikirku.

"Lady—Oh, Lady… Senang sekali aku bisa bertemu denganmu!" ucap seorang wanita paruh baya mengenakan gaun mewah dengan hiasan permata di sekitar gaunnya menghampiriku dengan senyuman yang berseri

Aku hanya tersenyum kecil membalas senyumannya "Justru akulah yang merasa senang kita bisa bertemu lagi…" ucapku dengan lembut

"Hoho… Seperti biasa anda selalu ramah dan lembut, Lady." ucapnya sambil tertawa pelan "…Aku ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk apa yang kau lakukan saat itu di Wilayah kami, anda sudah melakukan yang terbaik disana—dan semuanya merasa bersyukur anda datang kesana untuk membantu mereka…" tambahnya menjelaskan

"…Aku hanya melakukan tugasku tidak perlu berterima kasih—sudah selayaknya kami salaing membantu satu sama lain, kan…" ucapku lagi

Kemudian beberapa wanita lainnya menghampiri kami berdua, mereka sangat mempesona dengan dandanan mereka—bahkan aku juga sempat merasa iri mereka bisa tampil secantik itu dan tentunya mereka tidak sendirian di Acara seperti ini.

"Anda terlalu merendahkan diri anda, Lady Lorrie…" ucap seorang wanita bergaun pink sambil tersenyum ramah kepadaku, disampingnya tepat berdiri seorang Pria berambut coklat dengan rambutnya yang diikat kebelakang mengenakan pakaian kebesarannya tersenyum ramah. "Aku juga ingin berterima kasih secara pribadi kepada anda—Kalau tidak ada anda yang membantu mungkin sampai saat ini kami dan seluruh rakyat lainnya akan terjangkit penyakit aneh itu…" jelasnya

Pria itu mengangguk menyetujui pendapat pasangannya "Berkat anda dan para ahli medis alinnya, Kami semua bisa selamat sampai saat ini… Terima kasih banyak, Lady Lorrie.." ucapnya

Aku hanya tersenyum "Semuanya bisa dilakukan karena kerja sama semua orang dan para ahli medis yang membantu… Aku lega mendengar semuanya sudah berhasil selamat dari penyakit itu.." jawabku

"Ah—Kalau dipikir-pikir Lord Lucas pasti sangat bangga memiliki pendamping hebat seperti anda…" puji salah seorang Pria kepadanya "Tidak seperti pasanganku yang ketakutan ini…" godanya pada pasangan yang tepat berdiri di sampingnya

Wanita itu merengut kesal "Aku tidak takut—Hanya kaget, kau harus mengerti itu…" sahutnya sambil membuang muka kesal

Dan semuanyapun tertawa pelan mendengar hal tersebut—Iri juga rasanya melihat mereka seperti itu, pikirku sambil melihat kedua pasangan itu dan pasangan lainnya.

"Apa Lady tidak bersama dengan Lord saat ini? Anda terlihat sendirian diantara para tamu undangan lainnya…" ucap seorang wanita

"Ah—Lucas mungkin sedang sibuk dengan para tamu undangan lainnya membicarakan sesuatu yang penting, aku tidak ingin mengganggunya…" ucapku menjawab pertanyaanya, padahal aku sendiri tidak tahu kemana ia dan para Bangsawan itu pergi atau apa yang sedang mereka bicarakan. Lucas sama sekali tidak pernah memberitahuku apapun tentang hal tersebut, Ia masih belum bisa mempercayaiku—jadi itu wajar saja.

"Lord Lucas pasti seorang pekerja keras, ya—Kalau tidak ada dia, mungkin semua kedamaian seperti ini terasa seperti mimpi saja…" ucap yang lainnya

"Anda beruntung memiliki pasangan setampan Lord Lucas, Lady Lorrie—Aku bahkan snagat iri dengan kalian berdiri berdampingan saat itu… Kalian sangat serasi, Kalian mungkin bisa bekerja sama memerintah Legasi baru ini dengan mudah…Haa, membayangkannya saja sudah membuatku tersenyum-senyum sendiri…" ucap suara yang lainnya

Aku hanya bisa tersenyum—Pasangan yang serasi, ya…Aku harap aku bisa seperti kalian, kemanapun selalu bersama dan berdampingan… berpegangan tangan dan hal lainnya yang kalian lakukan bersama—tapi pada kenyataannya, itu hanyalah khayalanku saja. Khayalan tidak akan bisa menjadi kenyataan, kan?

Alunan Music yang menghiasi ruangan tiba-tiba saja terhenti, semua tamu kini membalikan pandangan mereka kepada seorang Bangsawan berbaju hijau yang kini sedang berbisik-bisik pada seorang moderator yang memimpin para pemain music tersebut. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu—Tak berapa lama kemudian, sang Moderator menganggukan kepalanya menyatakan ia menyetujui apa yang sudah dikatakan sang Bangsawan tersebut kepadanya. Sang Bangsawan itu tersenyum puas kemudian memandangi para Tamu undnaga lainnya.

"Hadirin sekalian, Para pasangan dan juga Para Bangswana serta Lady yang ada di ruangan ini—Tidakkah kalian berpikir mala mini adalah malam yang indah untuk melangkahkan kaki anda kedalam lantai dansa yang dialunkan melodi lembut ini…" ucapnya memulai

Terdengar suara pekikan kecil dari para wanita yang ada di dalam ruangan merasa mereka sudah tidak sabar lagi sambil menggandeng pasangan mereka masing-masing.

"Bulan yang indah tengah menyinari langit malam—Bintang-Bintang juga mengisi kekosongan langit dengan sinarnya yang indah… Jadi, kita meriahkan Acara kali ini dengan dansa istimewa…" ucapnya kemudian menjentikkan jarinya dan alunan melodi lembut mulai terdengar

Para tamu lainnya kini sudah berdampingan memasuki lantai dansai dan berdansa mengikuti alunan melodi yang terdengar, Para laki-laki mengulurkan tangan mereka dan Para perempuan meraih uluran tangan tersebut kemudian keduanya saling bergandengan tangan memasuki lantai dansa bersama. Semuanya tampak menikmati melodi indah tersebut—Aku melihat mereka diseberang sana tidak melakukan apa-apa. Mungkin hanya aku sendiri wanita yang tidak memiliki pasangan seperti mereka yang sedang berdansa disana.

Menghela napas aku menaruh kembali gelas yang kugenggam daritadi diatas meja kecil, aku hanya bisa melihat kesenangan mereka dari sini. Tidak ada yang bisa kulakukan lagi…

"Sedang apa berdiri disana…" sahut sebuah suara membuatku menoleh kearah asal suara tersebut mendapati Lucas berjalan menghampiriku dengan santainya "…Seperti orang bodoh…" tambahnya pelan

Aku hanya memandangnya tapi sebelum aku sempat membuka mulutku untuk mengatakan sesuatu, Lucas hanya mengulurkan tangannya dihadapanku sementara aku hanya memandanginya tidak tahu apa yang ia maksud.

"…Aku tidak harus mengatakan apa-apa kan…" ucapnya memandangiku yang hanya bisa menatap mata Merah Safir itu sebelum kemudian mencerna apa yang ia katakan barusan. Merasa mengerti dengan apa maksudnya, aku hanya tersenyum kecil kemudian meraih uluran tangan tersebut. Ia menggenggam tanganku dengan pelan dan menuntunku menuju lantai dansa tersebut dimana semua mata memandangi kami berdua—Hangat—itulah pikirku ketika melihat tangan kami saling bertautan, kenangan lama itu mulai mengalir kembali di dalam ingatanku… hanya sekali saja kami pernah bergandengan tangan seperti ini, dan aku senang hal itu bisa terjadi untuk kedua kalinya. Perasaan yang sama masih mengalir di dalam benakku… Perasaan yang sampai saat ini tidak bisa kulupakan apapun yang terjadi nantinya.

Kami berdua berhenti ditengah-tengah lantai dansa, semuanya masih memandangi kami berdua yang kini saling berhadapan satu sama lain. Lucas menuntun tanganku kearah bahunya sementara tangan yang satunya lagi memegang pinggangku, kami bertatapan satu sama lain sebelum kemudian memulai langkah pertama dansa kami.

Kini dengan semua orang mulai kembali melanjutkan dansa mereka membiarkan kami berdansa dengan tenang mengikuti irama lagu. Mungkin ini pengalaman dansa pertamaku bersamanya, aku senang—senang dalam berbagai hal yang terjadi.

"…Orang-Orang idiot itu masih melihat kearah sini, huh…" gumamnya pelan sambil mengambil beberapa langkah memutar

Aku hanya tersenyum senang memandanginya "…Kau tahu, Aku tidak menyangka kau akan mengajakku berdansa seperti ini Lucas…" ucapku "…Aku merasa senang…" tambahku sambil memandanginya

"Hh—Terserah apa katamu… Aku tidak ingin menjadi orang bodoh yang hanya bisa berdiri di pojok sana…" jawabnya dengan datar sambil mengambil beberapa langkah maju

Aku tertawa kecil mendengarnya—Terkadang aku memikirkan, mungkin saja ada alasan lain dibalik ucapannya tersebut "Nee… Tapi aku senang, Kita berdansa seperti ini…" ucapku

"…Apa yang menyenangkan dari sebuah dansa…" sahutnya tidak tertarik

Karena tentunya kita bisa dekat seperti saat ini—Lebih dekat dari waktu yang lalu, jauh lebih terasa dekat seperti ini kalau kita berdekatan seperti ini, pikirku sambil melingkarkan tanganku di lehernya dan lebih mendekatkan diri dengannya.

"Kalau dekat seperti ini… rasanya hangat ya…" gumamku pelan

Lucas hanya berdeham pelan kemudian menjawab "…Tidak, sangat menyusahkan kalau kau dekat seperti ini dan merusak bajuku…" jawabnya

Aku hanya tertawa pelan "Hangat—Sangat hangat… Lucas…" ucapku lagi

"…Kau itu bodoh…" jawabnya dengan datar "Kau sudah tahu Makhluk seperti kita mustahil memiliki kehangatan tubuh…" tambahnya lagi

"Tapi kau terasa hangat—Aku suka… sangat suka…" jawabku sambil tersenyum kecil "Nee… Lucas, kau mau berdansa lagi?" ajakku

"Tidak…" jawabnya tidak berminat

Aku hanya bisa berdeham pelan mendengar tolakannya tersebut, mungkin tanpa kubilang sekalipun ia pasti sudah menyadarinya kalau kami sudah berdansa lebih dari 3 lagu. Mungkin waktu terasa cepat berlalu dan yang lainnya masih memandangi kami yang masih berdiri berdansa ditengah lantai dansa tanpa memperhatikan apapun.

Apakah akan seterusnya seperti ini? Karena aku ingin tetap seperti ini…Kenangan yang indah akan selalu terukir selamanya…

… Lucas berjalan memasuki Ruangan Baca kini mengenakan pakaian hitam, wajahnya terlihat datar seperti biasa, tetapi ada sesuatu yang jauh di dalam Mata Safirnya itu mengatakan hal yang berbeda. Ia melangkahkan kakinya dan merebahkan dirinya disalah satu sofa yang ada ditengah-tengah ruangan menghela napas kelelahan. Ia memejamkan matanya sejenak untuk merilekskan dirinya.

"…Kakak…" panggil sebuah suara membuatnya membuka kembali matanya mendapati kini Elrick menghampirnya "Aku yakin pasti kakak ada disini…" ucapnya

"…Apa yang kau dapatkan…" sahut Lucas tanpa mengatakan hal lainnya merasa Elrick mungkin sudah mengetahui apa maksudnya

"…Masih belum ada laporan dari mereka, sepertinya dia menghilang tanpa meninggalkan jejak apapun…" jawabnya pelan "Ketua Dewan juga ingin bertemu dengan kakak…"

Lucas hanya bisa menjawab dengan singkat "Katakan padanya aku akan menemuinya nanti…" ucapnya dan Elrick tidak harus diberikan ucapan apapun untuk mengerti maksud perkataanya karena ia hanya mengangguk mengerti kemudian meninggalkan ruangan sehingga dirinya bisa memiliki waktu untuk sendirian saat ini.

Lucas beranjak dari tempat duduknya merasa masalah ini tidak mungkin bisa terselesaikan kalau ia hanya menunggu dan diam—Ia berniat untuk meninggalkan ruangan sebelum sebuah suara kecil menghentikan langkahnya. Perlahan ia berbalik hanya mendapati sebuah buku yang tergeletak begitu saja diatas lantai mungkin terjatuh dari raknya, Ia mengambil buku tersebut berniat untuk menaruhnya kembali keatas rak hanya untuk mendapati secarik kertas yang terselip dirak buku tersebut, kertas yang dilipat secara rapi itu sepertinya diselipkan seseorang secara sengaja.

Penasaran dengan apa isinya, Lucas meraih kertas tersebut dan mengantunginya merasa ia akan membacanya nanti dan menaruh kembali buku tersebut di tempatnya. Menemui Ketua Dewan dan selanjutnya ia akan mengurusi urusan pribadinya dengan orang itu. Setelah apa yang ia lakukan tentunya ia akan mendapatkan orang tersebut untuk membayar perbuatannya.

Karena yang tertulis bukanlah sebuah huruf yang merangkai sebuah kata, yang akan kutulis adalah sebuah kenangan manis yang ku alami dan baru kurasakan seumur hidupku dengan seseorang yang kucintai. Rangkaian kenangan mungkin sudah lebih cukup dibandingkan rangkaian kata untuk menjelaskan semuanya.

Lucas Anthonius, Aku sangat mencintaimu selamanya.

Lorrie Lucyana.


Author Notes: Okay~ Spin-Off sedikit doank tentang sebelum event dan sesudah event yang terjadi Hehehehe, agak kurang nyambung yah kayaknya tapi di bagian akhir akan lebih diperpanjang dalam Sequel yang bakal dibuat kok! Litte jamin! Hehehe Yupe akhirnya nongol lagi di Fiction Press setelah lama menghilang~