Protector

By: Sagi-chi

Disclaimer: Terinspirasi dari Bleach karangan Tite Kubo, tapi semuanya pakai chara OC pinjaman dari berbagai author

Rated : T

Warning : Mistypo(s),Gaje

Enjoy my fic

.

.

.

"Jadi kau ini… apa?" tanya Ryu seraya menatap bingung pria dihadapannya ini.

"Maksudmu?" tanya pria itu, Dion, kembali menatap bingung dengan pertanyaan tersebut.

"Jadi begini, kau ini roh, kan? Bagaimana kau bisa berkeliaran disini? Apa kau ini arwah penasaran atau-"

"Hahahahahaha!" Dion hanya tertawa dengan pertanyaan Ryu yang menurutnya bagai pertanyaan anak SD.

"Huh! Terserah," gerutu Ryu lagi.

"Maaf-maaf, habis ini pertama kalinya ada yang bertanya seperti itu. Aku ini adalah shinigami alias dewa kematian," ujarnya lagi.

"Hah? Dewa kematian? Baru dengar ada istilah itu," ujar Ryu seraya menggaruk belakang kepalanya karena bingung.

"Tentu, karena kami tidak ada yang melihat, tapi kami berusaha untuk melindungi para manusia yang masih hidup," ujarnya lagi.

"Oh begitu, bukankah dewa kematian itu biasanya mengambil nyawa?" tanya Ryu lagi.

"Ah, kau salah tentang hal itu. Kami bukan mengambil ataupun mencabut nyawa, tapi menjemput orang-orang yang telah mati. "kata Dion lagi.

"Oh begitu, tapi aku baru tau, kalau roh bisa terluka juga," komentar Ryu.

"Tentu saja, meskipun roh, kami ini tidak abadi dan tetap bisa mati." kata Dion lagi.

"Oh begitu. Jadi tugas kalian adalah memusnahkan para mahluk-mahluk seperti monster itu ya?" tanya Ryu.

"Yup begitulah, kami lebih sering menyebutnya Ghoul. Dan monster itu sendiri juga adalah roh manusia yang masih belum dapat tenang di alamnya," ujar Dion.

"Oh begitu, jadi yang menjadi monster itu roh yang seperti apa?" tanya Ryu.

"Roh dari para pembunuh, intinya roh dari orang-orang yang melakukan kejahatan tapi masih mempunyai dendam, Atau terkadang roh dari para orang-orang yang masih belum bisa meninggal dengan tenang," ujar Dion lagi.

"Tapi kenapa mereka menjadi ghoul?" tanya Ryu.

"Karena perasaan dendam dan perasaan kegelapan lainnya yang menyelimuti mereka. Sehingga mereka berubah menjadi ghoul. " jawab Dion.

"Bukankah mereka seharusnya berada di neraka?" tanya Ryu lagi.

"Begitulah, tapi tidak semua dapat di terima dan banyak yang bersembunyi di sebuah dunia yang mereka bentuk sendiri. Oleh karena itu, kami para dewa kematian di tugaskan untuk menyucikan jiwa tersebut," sambungnya lagi.

Ryu hanya menganggukkan kepalanya, tanda paham.

"Oh ya, aku boleh bertanya?" tanya Dion.

"Ya?"

"Kau ini Indigo? Atau apa? Bagaimana kau bisa melihatku?" tanya Dion bingung.

"Kalau itu, aku sendiri juga tidak tau. Mungkin bisa dibilang begitu," ujar Ryu lagi.

"He? Apakah dari kecil kau sudah bisa melihat para roh?" tanya Dion lagi.

"Kalau itu, aku tidak ingat. Kata orang tuaku, aku pernah mengalami kecelakaan berat. Sehingga aku tidak mengingat bagaimana masa laluku," gumam Ryu lagi.

"Oh begitu, maaf," kata Dion merasa bersalah.

"Sudahlah, tidak apa-apa. Tapi… aku hanya mengingat namaku," gumam Ryu lagi.

"Maksudmu?" tanya Dion bingung.

"Hanya namaku yang bisa ku ingat. Yang lain tidak, bukankah kalau hilang ingatan kau akan lupa seutuhnya pada semua? Termasuk nama?" ujar Ryu lagi.

"Kau benar, hm… aneh," gumam Dion lagi.

"Ryu! Ryu!"

Terdengar suara panggilan dari ruang tamu.

"Ah, iya, mom. Baiklah, aku turun dulu," ujar Ryu lalu beranjak dari kamarnya dan menuju ke ruang tamu.

Dion Pov`s

'Aneh… apa dia salah satu dari kami? Ah iya, mungkin aku hubungi kapten dulu. Untuk menyampaikan kabar dan permintaan,' gumamku lalu menggunakan sebuah kupu-kupu bewarna hitam untuk menyampaikan pesan.

'Ada kemungkinan, dia memang salah satu dari kami,' gumamku lagi.

'Ditambah lagi, karena ada gangguan jadi kami terpencar-pencar. ' gumamku lagi.

'Apa yang lain baik-baik saja ya?' gumamku lagi.

GROARGH!

'G-ghoul… sial!' gerutuku lalu segera melompat keluar dari jendela.

Kini dihadapanku telah muncul seekor ghoul berbentuk burung dengan warna merah, serta topeng tengkorak pada wajahnya.

Aku segera menggunakan shunpo dan hendak menebas monster itu, namun tiba-tiba ia segera terbang dan masuk ke ruang dimensi.

"Sial! Dia kabur," gerutuku.

Setelah memastikan bahwa ia benar-benar tidak ada, aku pun kembali ke rumah Ryu.

.

.

.

Malam harinya,

"Ada apa Ryu?" tanyaku bingung.

"Ada yang datang," desisnya.

"Maksudmu?" tanyaku bingung.

"Sepertinya monster yang bernama ghoul muncul," ujarnya lagi.

"Eh… bagaimana kau tau?" tanyaku kaget. Harusnya akulah yang merasakannya karena aku yang paling peka, tapi aku tidak merasakan apa-apa.

GROAR!

"I-itu dia," ujar Ryu seraya menunjuk seekor ghoul berbentuk burung yang tadi.

"Baiklah, kau tetap disini," ujarku lalu segera melompat melalui jendela lalu segera bershunpo ke arah ghoul tersebut.

Tapi lagi-lagi ia terbang dan menghilang ke dalam ruang dimensi itu.

"Sial… Apa-apaan ini sebenarnya?" gerutuku bingung.

End Of Dion Pov`s

Ryu Pov`s

Groar!

Saat menoleh, ku lihat seekor monster berbentuk anjing namun ukurannya kecil. Aku pun mundur, hingga di belakangku adalah dinding. Monster itu hanya menyeringai senang, tiba-tiba muncul monster yang sama dari pintu kamar.

'Bagus! Ada dua. Sekarang apa yang harus ku lakukan?' gumamku bingung.

'Apa aku akan mati dengan cara seperti ini? For God Sake,' gumamku.

Tiba-tiba muncul seorang pria berpakaian serba hitam dengan rambut hijau dengan pedang katana di tangannya. Lalu ia segera mengayunkan pedangnya dan membunuh para monster-monster tersebut.

"Dasar baka Yoyon, membunuh ghoul seperti ini saja repot," ujar pria itu sambil mendesah kesal.

"Awas! Belakangmu!" teriakku.

"Eh?" dia menatap kaget ke arahku. "Bagaimana kau bi-"

"Itu tidak penting! Belakang! Awas belakangmu!" ujarku.

"Eh? Uagh!" ia terhempas ke salah satu dinding kamar akibat terkena serangan dari seekor ghoul dengan kepala berbentuk seperti kodok.

"Hei! Kau baik-baik saja?" tanyaku seraya menghampirinya.

"Sial… "desisnya.

"Cepat pergi dari sini!" perintahnya.

"Eh? Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu disini? Itu tidak mungkin!" ujarku.

"Dasar bodoh! Apa kau tidak takut mati? Kau bisa mati jika terus disini!" ujarnya lagi dengan nada memerintah.

"Lalu bagaimana denganmu?! Aku tidak mungkin membiarkanmu di bunuh monster itu!" ujarku seraya memapahnya keluar kamar.

"Dasar bodoh! Kalau begini kita akan sama-sama mati! Lupakan aku! Selamatkan dirimu sendiri!" perintahnya lagi.

"Yang bodoh itu kau! Ini bukan saatnya untuk menyerah!" bentakku seraya terus memapahnya sambil berlari, sedangkan ghoul itu masih mengejar tepat di belakangku.

Ia terdiam, sebelum kembali bergumam "Apa pedulimu padaku? Bukankah aku tidak ada hubungannya dengamu? Meskipun aku mati, tidak ada pengaruhnya padamu, kan?"

"Sudah! Berhentilah menanyakan hal-hal bodoh! Yang penting kita harus mencari bantuan! Dan berlindung!" ujarku lagi, mengacuhkan pertanyaannya tadi.

"Tunggu… "

"Apa lagi?" tanyaku.

"Kita tidak perlu lari," ujarnya singkat.

"Maksudmu apa?" tanyaku.

"Jadilah Shinigami !" ujarnya lagi.

"A-apa kau bercanda? Bagaimana caranya? Aku ini manusia," bantahku.

"Kenapa tidak. Meskipun manusia, tapi kau juga adalah roh yang menempati sebuah tubuh," sambungnya lagi. "Jadi bagaimana?" tawarnya.

'Bagaimana ini? Apa aku mengikuti ajakannya? Tapi… kalau aku menolak. Tidak hanya kami, tapi juga warga kota yang lain juga bisa dimangsa olehnya,' gumamku lagi.

"Dan satu lagi, kalau seandainya gagal. Bukan hanya aku yang mati, tapi kau juga," ujarnya lagi.

"Baiklah, mencoba lebih baik dari pada berdiam diri," ujarku lagi.

"Baiklah kalau begitu, manusia," ujarnya lagi.

"Ryu, Namaku Ryuuzaki Shin," ujarku.

"Baiklah, aku Jun, Jun Saffire," ujarnya lalu menikamkan zanpakutounya tepat ke jantungku.

Saat itu cahaya memenuhiku. Entah apa yang terjadi, saat itu tubuhku seperti dipaksa untuk terbelah.

"Ugh… " rintihku.

End Of Ryu Pov`s

Jun Pov`s

'Ada apa ini? Apa gagal? Bagaimana ini? ' sesalku dalam hati.

Sementara monster itu semakin mendekat.

"Sial… " gerutuku.

Tiba-tiba di hadapanku telah berdiri seorang soulreaper dengan rambut jabrik ungu dan iris bewarna ungu.

'D-dia… apa dia memang shinigami ? Namun kekuatannya terkunci? '

Lalu tanpa aba-aba ia segera menebas ghoul itu dan membunuhnya dalam sekejap.

GROAR!

Secara tiba-tiba kumpulan ghoul kembali muncul, bukan hanya satu, tapi ada beberapa.

"Sial… apa dia bisa?" gumamku hawatir.

Dalam sekejap para ghoul itu telah mengepungnya. Saat itu aku berusaha menggerakkan tubuhku, namun percuma, luka serangan tadi melumpuhkan gerakanku.

'Aku harus meminta bantuan!' batinku. Lalu aku segera menggambar sebuah tanda di lengan kanannku dan mulai mengirim pesan pada Dion yang memang berada di daerah ini.

End Of Jun Pov`s

Ryu Pov`s

"Hah… Hah… " aku mendesah seraya menyeka keringat yang terus mengalir. Para monster itu tidak ada habis-habisnya.

'Sial… bagaimana cara menghabisi mereka?' gumamku.

"Panggil namaku Ryu!"

"Eh… Siapa?" gumamku bingung.

"Apa kau lupa? Ini bukan pertama kalinya Ryu!"

"Siapa? Kau siapa?" ujarku bingung.

Sebuah suara yang bisa dibilang tidak asing lagi terus terdengar di benakku.

"Tenangkan dirimu master, pejamkan matamu dan fokuslah. Maka kau akan melihatku… "

Aku mengikuti perkataannya. Ku pejamkan mataku dan ku fokuskan pikiranku. Dalam sekejap, aku kembali terseret ke dalam sebuah dunia. Sebuah tempat bagaikan lapangan, namun dipenuhi butiran salju dan kunang-kunang yang menerangi tempat itu. Pemandangan yang mengagumkan.

"Selamat datang, master… "

Di hadapanku kini muncul sepasang singa bewarna hijau dan biru.

"E-eh… Singa bisa bicara?" ujarku kaget.

"Kami bukanlah singa biasa, kami adalah soul slayer," ujar singa bewarna hijau.

"Zanpakutou?" tanyaku bingung.

"Benar, setiap shinigami mempunyai senjata yang mereka gunakan untuk melindungi diri, dan namanya adalah Zanpakutou," jelas singa bewarna biru itu.

"Lalu maksudmu kau adalah Zanpakutou apa?" tanyaku.

"Jadi beginizanpakutou itu sendiri mempunyai jiwa tersendiri yang dibentuk dari jiwa sang shinigami itu sendiri. Oleh karena itubentuk dari soul slayer masing-masing shinigami itu berbeda-beda, serta wujud dari zanpakutou yang juga berbeda-beda. Inilah yang dinamakan Materialisasi," ujar singa bewarna hijau itu.

"Oke baiklah. Jika hanya untuk menjelaskan zanpakutou itu saja, maaf mungkin lain kali. Aku tidak punya waktu untuk berdiam lama-lama disini," ujarku.

"Tidak sabaran seperti biasanya, tapi apakah kau tau? Zanpakutou mempunyai nama? Dan jika kau bisa berkomunikasi dengan soul slayermu, maka kau akan bisa mendapatkan kekuatannya," ujar singa bewarna biru itu lagi.

"Maksudmu, membantu?" tanyaku.

"Benar, namun untuk melakukannya kau harus bisa berkomunikasi dengan zanpakutoumu. Dan juga pedang katana yang saat ini kau gunakan adalah bentuk tersegel dari sebuah zanpakutou,"

"Bentuk tersegel?" ujarku bingung.

"Benar, sebuah zanpakutou mempunyai 2 tahapan yang pertema pelepasan, dan yang terahir penguasaan serta pengakuan, Pelepasan atau disebut dengan release dan penguasaan serta pengakuan disebut dengan Mastery yang lebih dikenal dengan Bankai. "

"Untuk bisa menggunakan bentuk pelepasan kau harus tau kata kunci dan nama soul slayer itu sendiri. Sedangkan bentuk mastery, kau harus mengenal dan mengetahui nama panjang dari soul slayer tersebut,"

"Lalu, apa kata kunci tersebut?" tanyaku.

"Kau sudah mengetahuinya master. Kau hanya perlu berfikir dengan tenang tentang hal itu,"

'Sial… apa kata kuncinya? Aku tidak mengerti!'

'Tunggu dulu… karera… wa… aduh apa lagi sambungannya? Sial! Kalau begini bagaimana caranya aku bisa keluar dari sini? Tunggu dulu rip… ah iya! Rippinggu. Tapi, siapa lagi nama mahluk di depanku ini. Midorishi to AoiShi? Nggak mungkin deh. MidoriAoishi? Hm… hijau selain midori apa ya? Eh… tunggu dulu. Elemen angin selalu dilambangkan dengan hijau sedangkan elemen salju/ es dilambangkan dengan biru muda. Berarti… '

"Baiklah! Karera wa rippinggu! KazeYukiShi!"

Tiba-tiba pedang katana di tanganku bersinar dan berubah menjadi sebuah pedang rapier bewarna hijau dan gagangnya yang bewarna biru.

"Selamat, kau berhasil master," ujar sang singa hijau.

"Terimakasih banyak Kazeshi," ujarku.

"Selamat berjuang," ujar singa bewarna biru.

"Baiklah, Yukishi," ujarku.

End Of Ryu Pov`s

Secara tiba-tiba sebuah cahaya muncul dari kumpulan para ghoul tersebut dan menerbangkan mereka ke udara lalu kembali menghempaskannya ke tanah.

'D-dia… bagaimana bisa menguasai bentuk pelepasan dalam waktu singkat? Ini mustahil!' gumam Jun lagi.

Tiba-tiba seekor ghoul berbentuk burung bewarna biru muncul dan terbang menukik ke arah Ryu. Ryu segera menangkis serangan tersebut dan segera menyerangnya. Dalam sekejap Ghoul tersebut membeku karena menyentuh pedang rapier dengan efek es itu dan memusnahkannya.

Setelah beberapa saat ia segera terjatuh dan pingsan, pedang rapiernya kembali menjadi sebuah katana dengan gagang bewarna biru dan hijau.

"Ada apa Jun?" tanya Dion yang baru saja kembali.

"Ceritanya panjang Yon, mungkin perkiraanmu benar," gumam Jun lagi.

"Kalau begitu, ini berbahaya. Mereka pasti mengincarnya," sambung Dion lagi.

"Untuk sementara, ayo bawa dia dulu pulang," ujar Dion seraya memapah Ryu yang telah di kembalikan ke dalam tubuhnya.

"Lukamu bagaimana?" tanya Dion.

"Tenang saja, ugh… "

"Dasar, tunggu sebentar. Aku akan kembali setelah mengantarnya," ujar Dion lagi.

"Ah, baiklah," ujar Jun lagi.

Lalu Dion pun segera pergi dari tempat itu dengan membawa Ryu.

TBC

Glosarium mini#plak

Shunpo(Flash step):Mampu bergerak cepat dengan menggunakan kecepatan tinggi.

Soul slayer: Senjata yang digunakan shinigami untuk melawan mush-musuhnya dan menenangkan serta mengirim jiwa menuju tempat seharusnya berada.

Shinigami : Dewa kematian

Midori: Hijau

Aoi: Biru

Midorishi to aoishi=midoriaoishi: singa hijau dan singa biru

Karera wa rippinggu: Tear`em

Kazeshi: Singa angin

Yukishi: Singa salju

Kazeyukishi: Snow storm lion

Shikai: tahap pelepasan dari zanpakutou yang mempunyai berbagai bentuk.

Bankai: Bentuk pelepasan terahir dari zanpakutou, yang dapat dilakukan setelah kepercayaan tinggi yang diberikan sang jiwa dari zanpakutou pada pemegangnya.

Baka: bodoh

Ghoul: Monster yang berasal dari jiwa manusia yang masih mempunyai dendam dan sebagainya.

Materialisasi: Wujud dari jiwa yang menghuni sebuah zanpakutou