For Debbie Yulanda, Happy Birthday! Sori ya, nggak ada hubungannya, tapi ini gift fic nya... -_-;


Yo-Chan!


Hazel melotot melihat rivalnya, Yukari, yang dengan wajah datar menggandeng seorang balita. Saat itu mereka hendak kembali dari acara berkemah musim semi yang diadakan Raven High School, yah, bisa dibilang, sekolah mereka.

"Itu anakmu?" tanya Hazel masih syok melihat bocah yang masih belum fasih bicara.

Yukari mengangkat bahu. "Aku nemu'in dia di hutan tadi pagi. Karena manis, kubawa' deh…" celotehnya, dengan wajah datarnya yang khas. Hazel sukses dibuat ngango.

"Freak! Lu gimana sih! Itu anak orang, bego'!"

"Aku nggak sebego' itu, Firenze…jelas dia anak orang, bukan monyet…gimana sih…" Yukari memutar matanya sinis.

Hazel menepuk dahinya, nggak habis pikir sama jalan pikiran Yukari Eve yang acak amburadul, bagai labirin tanpa akhir. Gila, apa! Pertama, itu anak orang yang dia bawa! Kedua, dia mungut-mungut anak orang kayak mungut anak kucing!

"Nah, anak manis, mulai sekarang kamu kupanggil Yo-chan, ya? Yo-chan panggil aku Mama, oke?" Yukari menunjuk dirinya sendiri, menjelaskan pada bocah laki-laki yang digandengnya.

"Oi! Dia bukan kucing! My God! Ayo, lapor ke bagian barang hilang!"

"Memangnya Yo-chan barang?" desah Yukari, tapi mengikuti Hazel sambil menggandeng Yo-chan.

Akhirnya, Hazel meminta petugas stasiun mengumumkan soal anak hilang, dan diminta menunggu sampai sore. Namun, orang tua Yo-chan tak kunjung datang, sampai habis kesabaran Hazel. Susah, soalnya Yo-chan belum bisa bicara, dan otomatis, mereka nggak tahu nama balita imut satu itu.

"Ah, kalian di sini!" seru seorang petugas stasiun. "Sepertinya orang tua anak ini nggak bakal cepat datang. Kami sudah periksa seluruh stasiun, tapi kami cuma bisa dapat ini…" dia menyodorkan selembar foto.

Yukari dan Hazel mengamati foto itu; foto Yo-chan dan ibunya…dengan latar belakang Castle Square, tidak lain dan tidak bukan, di Lincoln.

"Yo-chan, sepertinya kita akan hidup menjadi keluarga bersama…" senyum Yukari kegirangan, sampai Hazel menggetok kepalanya.

"Jangan ngawur, idiot…Ini artinya kita harus minta detektif mencari ibu ini!" geram Hazel menunjuk wanita di foto.

"Yo-chan tinggal di mana, dong?" kali ini Yukari tampak agak tidak sabar meladeni Hazel. "Kamu tau sendiri kan, Shrewsbury itu tempat macam apa?"

Di Inggris memang tidak terlalu aman, terutama di kota-kota yang sepi. Di malam hari kadang ada psikopat jalanan, atau remaja-remaja yang senang melakukan vandalism (perusakan). Yukari baru mengenal dunia seperti ini sejak ia pindah dari Jepang. Hazel yang orang Irish, cukup familiar dengan budaya negatif semacam itu.

Hazel menghela napas, merasa kalah. "Yah…kita harus selundupkan dia ke asrama…"

…Beberapa saat setelah perjalanan kembali ke asrama…

"Ya ampun, Hazel! Yukari! Kalian punya anak!? Sudah berapa tahun kalian menikah!? Tunggu dulu, apa kalian menikah?"

"Dia bukan anakku." Kata Yukari, disambut anggukan setuju oleh Hazel. "Dia peliharaanku." Tambah Yukari, demi mendapat satu pukulan di kepala dari Hazel.

Asrama mereka adalah asrama co-ed, artinya laki-laki dan perempuan tinggal di bangunan yang sama. Sepertinya, menyelundupkan apapun tidak akan berhasil di asrama ini. Semua teman-teman seasrama heboh melihat Yo-chan.

Hazel pun menjelaskan situasi mereka pada teman-teman asramanya. Salah satu teman mereka, Chess, mengusulkan diri untuk menyewa detektif.

"Soal uang sewa detektifnya gampang, tapi kalian harus bertanggung jawab merawat Yo-chan." Senyum Chess menepuk tangannya. "Tapi agak aneh, ya? Masa' tidak ada telepon ke stasiun sama sekali saat kalian menunggu?"

"Ya, tapi kami sudah tinggalkan nomor kalau ada yang mencari Yo-chan." Hazel mengangkat bahu. "Memangnya apa susahnya merawat anak…?"

"Firenze," Yukari memanggil nama keluarga Hazel dengan wajah datar, lalu mengangkat Yo-chan. "Popoknya harus diganti. Kerjakan!"

"Dia peliharaanmu, kan!? Kerjakan sendiri, bodoh!"

"Nggak bisa, kata Chess kita harus melalui ini bersama." Angguk Yukari dengan wajah penuh ketegaran. "Akan kubuka popoknya, kamu yang bersihkan, terus aku yang pasangin popok baru—eh, kita belum beli popok, lho!"

Dan sejak hari itu, Hazel Firenze dan Yukari Eve harus bekerja sama merawat Yo-chan. Yo-chan tidur di kamar Yukari. Teman-teman seasrama juga bisa diandalkan soal makanan dan lainnya, tapi mereka ambil seribu langkah begitu popok Yo-chan berbau busuk. Hazel selalu bad mood, karena konsentrasinya terpecah belah antara belajar, menunggu telepon dari detektif atau stasiun, dan menyuapi Yo-chan.

"Susu." Kata Yo-chan menepuk tangannya. Sudah seminggu, dan Yo-chan sudah belajar beberapa kata baru, seperti; 'susu', 'bodoh', 'cantik', 'seksi', 'cewek', 'ganteng', 'idiot'…dan lain sebagainya, deh…

"Oh, kamu mau susu, Yo-chan?" Yukari mengangkat alis. "Mau susu mama atau susu sapi?"

"EHEM." Hazel berdeham keras-keras, merasa malu padahal bukan dia yang vulgar. "Sudah terlalu lama sejak detektif disewa, tapi nggak ada kabar…"

Yukari terus menyisiri rambut Yo-chan yang masih tipis. "Kita bakal gimana, kalau Yo-chan terpaksa di sini terus?"

Hazel memandangi Yo-chan, balita yang sampai kini nama aslinya masih belum diketahui. Yo-chan, yang umurnya belum pasti antara 2 atau 3 tahun. Yo-chan, yang ulang tahunnya tidak diketahui. Yo-chan, yang tidak diketahui punya ayah atau tidak. Yo-chan…yang nasibnya punya dua kemungkinan miris.

Mungkin, ibu Yo-chan memang nggak sengaja meninggalkan anaknya. Mungkin juga, ibu Yo-chan sudah lenyap ditelan bumi…alias sudah wafat…Bukan, bukan itu yang Hazel takutkan.

Hari pertama bertemu Yo-chan, stasiun Shrewsbury menghubungi semua stasiun lain di Inggris, melaporkan soal anak hilang. Tidak ada telepon sama sekali yang menanggapi pengumuman itu. Lalu, sudah seminggu detektif mencari, padahal tempatnya sudah jelas di Lincoln, kenapa ibu Yo-chan belum juga ketemu?

"Papa?" Hazel ngango ketika Yo-chan berlari dan menubruknya, minta dipangku. "Papapapapa!" serunya sambil menarik-narik kaos Hazel. Hazel merasa malu dilihat Yukari.

Gadis itu menatap lurus pada Yo-chan. "Bukan, bukan Papa. Ka…Kek. Ka-kek. Bu-kan pa-pa. Ka-kek." Koreksinya.

"Lu mau dihajar?"

"Males aja, aku mamanya, kok kamu papanya. YIKES." Yukari menghela napas dan mencoba mengundang Yo-chan dengan tepukan tangan. Sadar perkataan Yukari, Hazel merasa malu dan marah.

Yo-chan pun beranjak dan memeluk Yukari, yang berkata; "Yo-chan, kalau kamu akan jadi keluargaku…jangan minta Firenze jadi Papa-mu…jangan, Mama nggak sanggup menikahinya…"

"Pikirmu aku sanggup—er, argh, bodoh amat…nggak mungkin kok, nggak mungkin…" Hazel mengipasi dirinya.

"Firenze?"

"Hm…?"

"Yo-chan…terlalu muda buat ingat mamanya yang asli." Kata Yukari, menatap Hazel dengan wajahnya yang datar. "Kalau akhirnya ketemu mama asli…Yo-chan pasti nggak kenal…terus…kita pasti dia sangka mama papanya yang asli, kan?"

"Terus kenapa?" tanya Hazel agak sebal. "Nanti Yo-chan meski mewek sejadi-jadinya pun, dia bakal ikut mama aslinya, dan lama-lama, dia toh bakal lupa sama kita…jadi nggak apa, kan?"

"Hmm…" Yukari mengangguk kecil. "Kamu mau ikut tidur di sini? Sudah jam tidur."

"Gila, apa? Good night…" Hazel pun meninggalkan kamar Yukari.

Pagi harinya akhir pekan, dan Hazel dibangunkan oleh tangisan. Dia kaget melihat Yo-chan menangis sambil memanjat naik ke kasurnya.

"Err…Y-Yo-chan, kamu kok di sini…?"

"Papapapa…papapa…" Hazel sudah terbiasa dengan cara Yo-chan berkomunikasi. Karena Yo-chan menarik-narik kaosnya, artinya dia minta digendong.

"Mana Yukari—err, mama mana?"

"MAMAAA!" tangisan Yo-chan makin keras, dia meronta-ronta memukuli Hazel.

"Ow, ow!"

"Pak, tolong anaknya didiamkan…" gerutu teman asramanya, melongok keluar dari kamar, lalu membanting pintunya lagi.

Hazel pun berusaha menenangkan Yo-chan sambil turun ke lantai satu, dan mendapati Yukari dan Chess sedang serius berbincang. Meskipun berusaha tak bersuara, ternyata Yukari dengan mudah menyadari kehadiran mereka, lalu berdiri.

"Ayo, kita ke Lincoln." Kata Yukari, memegangi selembar kertas. "Kita cari mamanya Yo-chan."

Hazel ternganga bingung. "Ha…? Serius lu?"

"Yukari," panggil Chess, wajahnya cemas. "Kamu sudah pertimbangkan perasaan ibu itu?"

Yukari memandangi Chess sejenak. "Tenang aja." Dia tersenyum pada Chess, lalu berbalik pada Hazel dan Yo-chan. "Ayo, langsung berangkat."

Pagi itu mereka memesan tiket ke Lincoln yang akan berangkat satu jam lagi. Ketiganya pun duduk di bangku stasiun. Hazel terus menggendong Yo-chan yang pelan-pelan minum dari botolnya, sementara Yukari memakan roti lapis untuk sarapan.

"Ini, sarapan juga, dong." Yukari menyodorkan roti lapis ke muka Hazel. Hazel menggigit besar dan mengunyah. Meskipun keduanya rival dalam pelajaran di sekolah, sejak mereka merawat Yo-chan bersama-sama, mereka jadi terbiasa satu-sama lain, sampai sering dibilang suami-istri.

"Astaga…" mereka mendengar beberapa ibu-ibu menggunjing setelah melewati mereka.

"…Masih umur segitu sudah punya anak…" beberapa gossip lainnya terdengar.

Hazel tertawa gugup. "Sejak Yo-chan datang, hubungan kita jadi makin nggak jelas, ya…"

"Memangnya kita ada hubungan?" tanya Yukari, benar-benar dengan maksud polos, tapi tetap saja menyakitkan Hazel. "Detektifnya sudah nemu'in mamanya Yo-chan yang asli…tapi mamanya nggak bisa ke sini, jadi kita yang antar Yo-chan ke Lincoln."

"Oh…oke…?" Hazel mengangkat bahu, lalu dengan cekatan menangkap botol susu Yo-chan yang ia jatuhkan.

"Apa aku mandikan sedikit dulu?" Yukari menawarkan.

"Nggak usah, pakai bedak bayi aja…" Hazel menggeleng.

Akhirnya kereta datang dan mereka berangkat ke Lincoln. Yukari tampak seperti biasa, bermain-main dengan Yo-chan. Tapi, Hazel masih heran dan bingung. Yukari tidak mau dipisahkan dari Yo-chan. Tapi kenapa dia yang berinisiatif mencari mama aslinya Yo-chan?

Apa ada imbalan uang? Mobil? Pesawat Jet…?

Mereka pun tiba di Lincoln, dan Yukari membuka lembaran kertas tadi, membaca alamat sambil menggandeng Yo-chan. Alamat itu menunjukkan sebuah apartemen yang kelihatan sudah tua dan agak bobrok. Yukari dan Hazel agak sungkan ketika masuk.

"Aku yang bicara?" tawar Hazel. Yukari mengangguk, lalu keduanya mengetuk pintu rumah mama asli Yo-chan.

"Siapa." Pintu terbuka sedikit dan mereka melihat sedikit; wanita yang mirip dengan yang di foto! Mamanya Yo-chan!

"Umm…ibu, ini anak ibu yang hilang, kan?" tanya Hazel. "Persis seperti di foto kalian, tidak salah lagi."

Tiba-tiba pintu dibanting tertutup, dan mereka mendengar wanita itu berteriak. "Kalian ini kenapa, sih!? Aku memang sengaja membuangnya di Shrewsbury! Jangan kembali lagi dengan bocah bajingan itu!"

Hazel syok akan reaksi spontan itu, lalu menggedor pintu dengan marah. "Ibu tidak bisa begitu! Saya bisa lapor ke polisi dengan perkara pembuangan anak! Ini pelanggaran HAM! Dia kan tanggung jawab anda!"

"Jangan ikut campur!" mereka dengar wanita itu membentak. "Ini hidupku, kenapa kalian harus ikut campur? Bawa saja Danny ke panti asuhan kek, penitipan kek! Pokoknya aku nggak bisa!"

"Ibu, kami ini berusaha berbuat hal baik—"

"Ya berbuat baiklah dengan tinggalkan aku sendirian!"

Dengan emosi, Hazel menendang pintu dan menggendong Yo-chan, alias Danny, untuk pergi meninggalkan rumah mama asli Danny. Yukari tidak mengatakan apa-apa, tapi mereka berjalan dalam diam ke Castle Square dan duduk di bangku tamannya.

"Kamu sudah tau kalau begini jadinya…" geram Hazel, melirik Yukari dengan marah. "Kamu tau dia sengaja buang Yo-chan, terus kenapa kamu datang sampai sejauh ini?"

Yukari tersenyum. "Sori, ya…aku baru melakukan hal buruk." Dia menghela napas, lalu memangku Yo-chan, atau sekarang dipanggil Danny. "Aku…mau masti'in kalau mamanya bener-bener nggak mau Yo-chan lagi…Aku nggak mau ngembali'in Yo-chan…eh…Danny? Ah nggak, namanya Yo-chan…"

"Yukari…?" Hazel tampak terkejut.

Yukari menatap kastil di hadapan mereka. "Soalnya, aku juga sama kayak Yo-chan." Gumamnya. "Tapi aku lebih besar dari Yo-chan. Waktu itu aku ingat persis, mamaku ninggalin aku di stasiun. Aku pun tinggal di panti…dan detektif juga disewa buat nyari mamaku…tapi ternyata, perawat panti bilang aku terpaksa harus tinggal di panti sampai akhirnya diadopsi…" dia tertawa kecil dan melirik Hazel dengan alis terangkat.

"Apartemen mama Yo-chan tadi…murah banget, ya? Mamanya juga kelihatannya sudah lama nggak makan…Mama Yo-chan terpaksa ninggalin Yo-chan soalnya dia nggak sanggup melihat Yo-chan menderita kalau dia rawat…"

Hazel mendengarkan dengan wajah antara marah, sedih dan tidak percaya. Dia tidak pernah tahu, rivalnya itu selalu bertingkah aneh dan mengatakan hal-hal yang mengejutkan, tidak pandai berkomunikasi…karena pengaruh tinggal di panti-asuhan…

Yo-chan merangkak untuk duduk di pangkuan Hazel dan berteriak; "Cewek!" Yukari tertawa kecil, sementara Hazel menepuk kepalanya. Yukari pun menghela napas dan mulai bercerita lagi.

"Kata perawat di panti asuhan, mamaku terpaksa ngelaku'in hal buruk untuk membuatku bahagia…dan mama melakukan hal yang benar…Mama Yo-chan juga ngelaku'in hal yang sama…"

Hazel tersenyum kecil. "Cuman, kita harus masti'in Yo-chan bahagia."

Yukari mengangguk setuju. "Mamaku mungkin terpaksa melakukan hal buruk dengan harapan biar aku bahagia, dan Mama Yo-chan juga terpaksa ninggalin Yo-chan dengan harapan yang sama…" dia berdiri dan menggendong Yo-chan. "Nah, sekarang, kita melakukan hal yang baik untuk membuat Yo-chan bahagia, dan mengabulkan harapannya Mama Yo-chan…"

"Oke deh!" Hazel tertawa kecil dan meregangkan kedua lengannya. "Yo-chan pasti seneng kok, punya mama kamu." Katanya sinis.

Yukari memandangi Hazel sejenak, lalu sekilas, dia nyengir jahil dan berjalan mendahului.

"Oh, pasti dong…Yo-chan paasti bahagia punya mama-papa kayak kita…ya, kan, Yo-chan?"

"Seksi!" seru Yo-chan kegirangan. Hazel tertawa.

Lalu, dia menyadari sesuatu. Tiba-tiba wajahnya terasa panas.

"Eh, Yukari? Maksudmu 'mama-papa kayak kita' itu apa…?"

"Yo-chan, lihat, ada kambing…" Yukari pura-pura tuli.

"Cantik!" seru Yo-chan, padahal jelas-jelas nggak ada kambing di Castle Square Lincoln.

"Dasar idiot…" dengus Hazel, tapi dia tersenyum agak malu.

Yah, pada akhirnya mereka bertiga secara tidak langsung menjadi keluarga. Yo-chan mungkin masih balita, tapi kehadirannya mengajari Hazel banyak hal. Misalnya, kadang hal baik belum tentu membuat orang bahagia, dan juga sebaliknya, kadang kita terpaksa melakukan hal buruk demi kebahagiaan orang lain. Tapi…melakukan hal baik yang membuat orang bahagia…jauh lebih menyenangkan.

Lagipula, siapa yang pernah mengira, memungut anak di hutan sembarangan bisa menyenangkan?


LOL, awkward ending. Kalau ada waktu dan sedang good mood, silakan review!