Notes : Terinspirasi dari lagu "Laruku - Sayounara". Alur Campuran. Tulisan italic itu flashback. Happy Reading!


Farewell

Written by Chiharu

"Selamat, kau mendapat ranking 2 pararel."

Kevin mengangkat sudut bibirnya. "Semua ini karenamu. Kau sudah dengan sabar mengajariku segala macam pelajaran tak penting itu."

"Berhenti menggunakan kalimat pelajaran tak penting, semua pelajaran itu penting!" protes gadis cantik di sebelahnya. Kevin acuh, tidak berminat untuk menanggapinya. "Lagipula ini bukan karenaku, melainkan usahamu sendiri."

"Terserah, yang pasti aku sudah mendapat ranking 2 pararel." Kevin menolehkan kepalanya. "Jadi, hadiah apa yang akan kau berikan padaku, hm?" Elli diam. Sedikit menundukkan wajahnya. Berusaha mengatur jantungnya yang berdetak tidak beraturan. Kevin hanya diam memperhatikan, masih menunggu.

Cup! Elli mengecup pipi Kevin. Membiarkan sedikit waktunya agar tidak bergerak. Terhenti. Elli kembali pada posisinya. Memalingkan wajahnya yang bersemu merah. Kevin menyeringai. Tak menyangka bahwa Elli akan menciumnya.

"Hadiahmu boleh juga. Terimakasih." Elli menoleh. Menjawab ucapan Kevin dengan senyum manisnya. "Tapi kenapa tidak di bibir saja?" pertanyaan Kevin membuat wajah Elli semakin memanas. Kevin menarik dagu Elli, menjebak iris hitam itu dalam iris coklat miliknya. "Apa kau malu?"

Elli menepis tangan itu dari dagunya. "Bodoh," desisnya. Apa yang pria itu katakan? Seperti itu saja sudah hampir membuat jangtungnya copot. Terlebih ia sendiri yang memulainya. Apa itu belum cukup? Benar-benar bodoh.

Kevin terkekeh. Puas menggoda gadisnya. Gadis yang menjadi daya tariknya untuk berhenti menyukai seribu gadis, in other words, stop of being playboy.

-xXx-

Suasana riuh langsung melebur saat memasuki kantin. Terdengar tawa yang sangat jenaka dari sekumpulan siswa. Semuanya bersorak atas tingkah teman mereka. Di sudut yang lain, beberapa siswi bercerita heboh tentang apa yang dilihatnya, bagaimana suasana hatinya, atau bahkan tentang cowok yang baru-baru ini hangat dibicarakan. Ah, gosip!

Dua siswi duduk berhadapan. Mereka berambut panjang, yang satu dikuncir dan satunya lagi dibiarkan terurai. Mereka menyantap makanan dengan tenang—seolah tak peduli akan keributan kantin, atau memang sudah terbiasa dengan suasana yang memekakkan telinga itu?

Geez, kantin tetaplah kantin. Tak peduli itu sekolah elit atau sekolah biasa. Sama saja.

"Tidak, aku tidak suka pedas." Rosa, gadis yang menawari sambal itu mendecak. Kembali meletakkan sendok di tempat sambal.

"Apa enaknya bakso tidak pakai sambal?"

"Aku sudah menambahkan saos."

"Itu tidak cukup Elli!" Rosa menyanggah. Ia kembali menusukkan garpu ke bulatan kenyal yang disebut bakso.

"Tentu saja untukmu tidak cukup. Kau kan maniak sambal—oh bukan, kau lebih cocok disebut maniak extra pedas," ucap Elli. Gadis itu terkekeh sendiri atas julukan yang ia buat untuk Rosa.

"Dan kau, seorang maniak 10!" Rosa mengarahkan garpunya ke Elli. Elli mengernyit. Apa maksudnya?

"Oh ayolah, Tuhan memberimu otak yang sempurna! Kau selalu mendapat nilai 10 di setiap ulangan. Dan sekalipun kau tidak belajar, tetap saja akan mendapat nilai 10." Elli tersenyum geli mendengar penuturan Rosa. Menurutnya Rosa terlalu berlebihan meski itu memang fakta yang tak bisa dipungkiri.

"Kau juga sering mendapat nilai 10, Rosa."

"Sering itu beda sama selalu." Kali ini Elli tertawa. Tawa yang ceria, tawa yang tanpa sengaja menarik perhatian seorang pria tampan, Kevin.

"Gadis itu, aku tidak pernah melihatnya," ucap Kevin. Temannya mengikuti arah pandang Kevin yang tertuju pada Elli.

"Tentu saja. Penglihatanmu kan hanya tertuju pada gadis cantik dan berkelas seperti mereka." Cowok penuh kharisma itu mengedipkan matanya. Sontakpara gadis di sekitar mereka menjerit senang.

"Kurasa dia juga cantik dan berkelas. Siapa namanya?"

"Elli, Elliana Marvell. Tunggu, kau tidak tertarik padanya, kan?"

"Menurutmu?" Kevin mulai berjalan ke meja Elli. Kedua tangan dimasukkan ke saku celana dan dagu terangkat, kesan angkuh yang mampu menjerat hati seluruh siswi Extalia.

"Oh My God! Kevin Ke Sini!" jerit siswi yang duduk di samping meja Rosa dan Elli. Elli menoleh. Pandangannya langsung bertemu dengan iris coklat milik Kevin.

"Elli, maukah kau berkencan denganku?" Serempak, seluruh mata penghuni kantin membulat tidak percaya. Tanpa basa-basi, tanpa awalan, bahkan tanpa perkenalan. Elli hanya diam. Cowok ini gila. Tiba-tiba datang lalu mengajak Elli kencan? Yang benar saja!

"Kevin, jangan membuat masalah." Rosa berdiri dan menatap Kevin tajam. Selama ini hanya Rosa yang berani menentang Kevin. Mungkin karena mereka sepupuan dan tinggal dalam satu rumah.

"Aku hanya mengajaknya kencan."

"Kau hanya membuang waktu dengan pertanyaan konyol itu. Elli tidak akan menerima ajakkanmu." Kevin mengangkat sudut bibirnya. "Bagaimana kalau kita mendengarkan jawaban dari gadis yang terus menatapku ini?" Kevin mengembalikan pandangannya pada fokus awal, Elli.

"Jangan ge-er, aku menatapmu karena kau sungguh terlihat konyol dengan senyum anehmu itu," jawab Elli datar. Rosa tersenyum puas. Sementara para siswi langsung berbisik mencemoohnya. Bagaimana mungkin senyum yang begitu memikat itu dianggap sebagai senyum aneh? Dan berani sekali ia mengatakan Kevin konyol!

"Ohya?" Kevin mendekat, ingin mengurangi jarak yang ada. Memamerkan seriangaiannya tepat sepuluh senti di hadapan wajah Elli. "Kau cukup menarik. Apa itu artinya kau setuju dengan tawaranku?"

"Sama sekali tidak. Rosa, ayo kita kembali ke kelas." Datar dan tak terpengaruh oleh keadaan. Ya, begitulah Elli. Ia berjalan meninggalkan Kevin. Membuat para siswa berdecak kagum sedangkan para siswi menatapnya sinis.

Kevin mengedikkan bahunya. "Sayang sekali. Kalau begitu, bagaimana kalau kalian saja yang berkencan denganku?"

-xXx-

Semilir angin menyentuh lembut wajah mereka. Kevin memejamkan mata untuk menikmatinya. Elli juga menikmatinya sambil memandang taman. Entah kenapa seperti ada sesuatu yang tertahan di matanya, meski Elli tersenyum dengan tulus.

Kevin membuka matanya. Kemudian menoleh pada kekasih hatinya. Menikmati pemandangan indah ciptaan Tuhan. Menelusuri setiap lekuk wajahnya yang begitu menikmati semilir angin. Kevin sedikit menggeser posisi duduknya agar bisa berhadapan dengan Elli.

"Elli, aku mencintaimu." Elli tersenyum. Ia tidak menoleh ataupun membalas ucapan Kevin dengan 'aku juga mencintaimu' melainkan dengan, "Kau sudah mengatakan kalimat itu ribuan kali."

"Bukan sekedar kalimat, itu adalah ungkapan dari perasaanku." Kali ini Elli menoleh. Dari nada bicaranya, Elli tahu kalau Kevin akan membicarakan hal serius.

"Aku hanya ingin kau tahu, selamanya aku akan tetap mencintaimu. Sekalipun jarak memisahkan kita." Kalimat itu seakan menyadarkan Elli. Namun seperti biasa, Elli tetap menjadi pribadi yang tenang dalam kondisi apapun.

"Aku juga akan selalu mencintaimu, selamanya mencintaimu." Kevin menatap mata Elli dalam. Ingin menemukan jawaban atas sikap Elli yang terlalu berpura-pura. Baiklah, salah satu di antara mereka harus memulainya.

"Kurasa kau tidak mungkin lupa akan keberangkatanku ke Inggris." Elli segera mengalihkan pandangannya. Sadar bahwa masa depan masih menantinya, namun tetap saja tidak bisa menerima satu keadaan ini.

"Aku tidak lupa. Aku hanya berusaha melupakannya," ucap Elli. Kevin menyandarkan tubuhnya di bangku taman dan melipat kedua tangan di depan dada. Menyeringai. "Jadi kau takut kehilanganku?"

"Ya."

"Kalau begitu percaya padaku kalau aku tidak akan berpaling darimu."

"Tidak bisa. Karena mungkin saja aku yang berpaling darimu, kepada Lyon mungkin?" Kevin langsung menegakkan tubuhnya. Tidak percaya dengan apa yang Elli katakan.

"Jangan bercanda, kau tidak mungkin menyukai si penebar kharisma itu kan?"

Elli mengedikkan bahu. "Masa depan siapa yang tahu?" Elli tertawa melihat reaksi dan ekspresi Kevin. Matanya membulat dan bibirnya sedikit terbuka, membuat gadis itu tak bisa menghentikan tawanya. Sementara yang ditertawakan sudah kembali ke ekspresi awal : mode serius.

"Cukup usahamu untuk melupakan kenyataan, Elli." Bagai terhempas ke bebatuan terjal, tawa Elli seketika berhenti. Mata cerahnya berubah sendu. Perubahan yang begitu drastis. Menimbulkan suasana yang aneh, sesak, juga menyakitkan.

Elli mendesah. Menggerakkan tubuhnya untuk menghadap Kevin. Menatap iris coklat Kevin yang tegas namun penuh kelembutan. "Tidak bisakah kau membatalkan kepergianmu?" lirih Elli. Matanya terus memancarkan harapan yang besar.

Tangan Kevin mengusap lembut pipi Elli. "Kau tahu kalau itu tidak mungkin terjadi. Aku harus melanjutkan kuliah di sana untuk bekal mengurus perusahaan." Harapan itu sirna ditelan kekecewaan. Menjatuhkan setitik bening dari pelupuk mata indahnya.

-xXx-

Sekolah sudah sepi, tapi Elli masih berada di sana. Map miliknya hilang, ia berpikir mungkin tertinggal di perpustakaan atau di kelas. Satu jam sudah ia mencari, tapi hasilnya nihil.

Elli menghela napas begitu keluar dari gerbang sekolah. Terdapat mobil sport di depannya. Kaca pintu depan yang berhadapan dengan Elli terbuka, atau memang sengaja dibuka? Entahlah. Elli tidak menyadarinya, pikirannya terfokus pada map. Map itu sangat penting, semua desain baju dan gaun yang selama satu minggu ini ia kerjakan ada di sana.

Tin! Suara klakson mobil itu menyadarkan Elli dari lautan pikirannya. Tatapan Elli langsung berubah menjadi jengkel. Pria yang ada di mobil itu adalah Kevin, pria yang terus mengikutinya dan mengganggunya sejak 'ajakan kencan gila' itu. Elli tidak mengerti dengan jalan pikiran pria itu. Masih banyak gadis di Extalia yang lebih baik darinya. Tapi kenapa malah ia yang diincar?

Mata Elli membulat. Kevin memegang map miliknya! Kevin tengah membuka lembaran demi lembaran hasil desainnya!

"Tidak usah kaget. Aku memang sengaja mengambilnya. Ternyata kau desainer muda yang berbakat," ucap Kevin tanpa mengalihkan pandangannya dari map Elli.

Elli mendekat. "Kembalikan map itu."

"Tidak sebelum kau naik ke mobilku," tandas Kevin. Elli mengalah, terpaksa masuk ke mobil Kevin. Elli menerima mapnya dan bergegas keluar, namun sayang, pintu mobil sudah terkunci. "Pakai sabuk pengamanmu, aku akan mengantarmu pulang."

"Apa?"

-xXx-

"Kau harus tersenyum lagi setelah menangis, Elli," ucap Kevin. Elli mengeratkan pelukannya. Menumpahkan kesedihannya yang mungkin takkan habis. Hey, Kevin pergi dan tidak tahu kapan kembali!

Kevin melepaskan pelukkannya. Menatap wajah gadis yang telah menemaninya selama dua setengah tahun itu. Merekam tiap lekuk wajah Elli, lalu tersenyum hangat.

"Kau akan kembali, kan?"

"Tenang saja, kita akan bertemu lagi," jawab Kevin sedikit melenceng dari pertanyaan Elli.

-xXx-

Elli memasuki butiknya. Semangatnya langsung lenyap begitu melihat Kevin. "Oh, Elli, kau sudah datang? Pilihkan aku jas lagi." Kevin menggenggam tangan Elli. Sementara Elli sendiri hanya membulatkan matanya. Lagi?

Elli menarik tangannya saat sampai di bagian jas. Baru sadar kalau tangannya dan tangan Kevin saling bertautan. Kevin mengangkat sudut bibirnya."Kau senang telah bergandengan tangan denganku?"

"Mimpi saja sana!"

"Oh tentu, aku selalu memimpikan kita berjalan sambil bergandengan tangan." Kalau gadis lain yang menerima pernyataan itu pasti akan bersemu merah dan melayang-layang. Tapi tidak dengan Elli, ia malah menunjukkan wajah tidak sudi.

Elli berjalan mengambil stelan jas hitam lalu memberikannya pada Kevin. "Ini jas dengan harga paling tinggi di butik kami, silahkan ke kasir dan pergi dari sini," usir Elli terang-terangan kemudian melangkah pergi.

Kevin, pria itu jadi sering ke butiknya dengan alasan membeli stelan jas untuk menghadiri resepsi pernikahan relasinya. Elli tahu bahwa Kevin adalah anak dari pemilik sekolah dan pengusaha besar. Tapi konyol sekali bila setiap hari ia ke butik Elli untuk membeli jas dengan alasan yang sama. Memangnya relasinya itu mengadakan resepsi di hari yang berurutan? Tidak, kan? Memangnya ia harus mengganti jas di setiap resepsi dengan stelan jas harga termurah sampai harga tertinggi? Tidak juga, kan?

"Playboy sakit jiwa."

-xXx-

"Elli!" Rosa melambaikan tangan agar Elli menghampirinya.

"See? You look so beautiful with that dress."

"I don't think so," jawab Elli kalem. Ia heran dengan Rosa yang getol sekali menyuruhnya untuk memakai dress putih itu, padahal ia sudah mempunyai dress sendiri untuk dipakainya saat Prom Night.

Elli berjalan ke meja minuman. Prom Night tahun ini sepertinya kembali berjalan sukses. Elli tersenyum, matanya menjelajahi para tamu undangan. Siapa tahu ia dapat inspirasi baru untuk mendesain dress yang cantik.

Saat ia memandang para cowok, pandangannya terhenti pada Kevin. Pikirannya langsung dipenuhi oleh sikap Kevin yang begitu mengincarnya. Namun dibalik itu semua, Elli melihat perubahan pada diri Kevin, sekarang Kevin tidak lagi membuat masalah, bahkan terdengar kabar kalau Kevin sudah berhenti menjadi playboy.

"Apa dia benar-benar serius denganku?" Elli memandang wajah Kevin. Selama ini ia tidak pernah benar-benar memandangnya. Elli akui Kevin memang sangat tampan. Terlebih dengan jas putihnya itu.

Elli tersentak. Menyadari begitu serasinya ia bila berdampingan dengan Kevin. Baju mereka seperti satu pasangan. Elli menggelengkan kepalanya tidak percaya. Jadi ini alasan Rosa menyuruhnya memakai dress ini?

-xXx-

Elli ke luar aula, berjalan menuju halaman belakang. Langkahnya terhenti di undakan-undakan kecil menuju taman. Jalan itu dihiasi dengan lilin-lilin cantik. Dan di tengah taman, lilin-lilin itu membentuk satu hati.

Elli tersenyum. Kembali melangkah menuju bentuk hati itu. "Kau menyukainya?" Senyum Elli memudar. Ia langsung berbalik untuk kembali ke aula.

"Aku mencintaimu!" teriakan Kevin sontak menghentikan langkah Elli. "Aku mencintaimu, Elliana Marvell," Elli berbalik lagi.

"Kenapa kau begitu mengincarku?"

"Aku tidak mengincarmu, aku mencintaimu." Elli menatapnya datar. Semua playboy pasti mengucapkan hal itu.

"Lalu apa alasanmu? Alasan apa yang bisa membuatmu mencintaiku?" Kevin diam. Sebenarnnya ia tidak tahu alasannya. Tapi melihat Elli yang begitu menuntut jawaban, akhirnya ia mengucapkan alasan yang biasa ia katakan pada gadis lain.

"Kau cantik, pintar, tak pernah membuat masalah, desainer muda berbakat, dan kau berbeda dari gadis yang lain, di saat semua gadis bersuka ria, kau tetap saja belajar."

"Sudah?" Elli tersenyum mengejek. "Kau tetap saja playboy. Dengar, Kevin, cinta itu tidak butuh alasan, kalau setelah ini aku menjadi troublemaker sepertimu bagaimana? Aku tidak lagi pintar, tanganku patah sehingga aku bukan lagi desainer berbakat, aku sama dengan gadis lain, bila alasan itu hilang, cinta itu juga akan hilang, kan?"

"Satu lagi, kurasa matamu bermasalah sampai bilang aku cantik, permisi." Kevin menahan lengan Elli. Elli menoleh.

"Kau cantik, kau saja yang tidak menyadarinya," ucap Kevin lembut. Elli diam saja saat Kevin menggerakkan tubuhnya untuk menghadap ke Kevin. Mata Kevin seperti menghipnotis dirinya.

"Yang aku katakan tadi adalah alasan mengapa kau selalu mendapat ranking 1 pararel." Elli sedikit terkejut, namun tetap mengendalikan diri pada wajah datarnya. Kevin menggenggam kedua tangan Elli. "Sebenarnya aku tidak tahu alasan mengapa aku mencintaimu, aku hanya merasa nyaman bila bersamamu. Aku tidak pernah merasa gugup saat bersama seorang gadis, tapi denganmu, aku merasakannya, bahkan detak jantungku selalu menggila saat aku memandangmu."

Elli menatap Kevin, ia tahu kalau kali ini Kevin serius, ia bisa merasakan ketulusan Kevin. Terlebih…detak jantungnya juga ikut menggila saat mereka saling tatap seperti ini. Semakin menggila saat Kevin mendekatkan wajahnya.

Elli memejamkan mata, merasakan bibir Kevin yang menyentuh bibirnya. Tak ada pergerakan, bibir mereka hanya saling mengatup. Di tengah lilin yang membentuk hati itu mereka berdiri dan berciumanoh tunggu, apa itu bisa disebut sebuah ciuman?

Elli membuka matanya saat Kevin menjauhkan bibir. Elli menunduk, menutupi senyum manisnya sekaligus berusaha menormalkan kembali detak jangtungnya. Kevin menyeringai.

"Will you marry me?"

"What?"

-xXx-

Kevin mengusap air mata Elli. "Mau sampai kapan kau menangis?" Elli tak menjawab. Hanya membiarkan Kevin menghapus air matanya.

"Tersenyumlah," Elli diam. Tersenyum untuk sebuah kesedihan itu jauh lebih menyakitkan dibanding menangisinya. Tapi perlahan, senyum Elli muncul, meski masih terlihat kesedihan di sana, Elli tetap tersenyum. "Aku mencintaimu," ucap Elli. Kevin ikut tersenyum. Elli mengucapkan 'aku mencintaimu' itu hal yang cukup langka.

Direngkuhnya kedua pipi Elli. "Kita akan bertemu lagi."

Ya, kita akan bertemu lagi, terimakasih.

-xXx-

Cinta tak harus memiliki. Itu bohong. Kalau memang cinta seperti itu berarti mereka tak benar-benar cinta, cinta mereka hanya berikrar di bibir. Sampai sekarang Elli masih memiliki Kevin. Cintanya tetap berada di hati Elli.

"Mama!" seru bocah kecil di samping Elli. Matanya yang bulat sungguh menggemaskan. Ia memegang gulungan syal.

"Sayang, kenapa dilepas? Nanti kamu kedinginan," ucap Elli lembut. Ia memakaikan kembali syal itu.

"Aku tahan dingin, kok!" serunya bangga. Elli dan suaminya tertawa. Suami Elli mengelus puncak kepala putra mereka.

"Suhunya semakin dingin, aku beli minuman hangat dulu, ya?"

"Aku ikut!" suami Elli tersenyum dan mengangguk. Merekapun pergi, sementara Elli menunggu di bangku taman. Elli terdiam. Taman, tempat yang selalu mengingatkannya pada Kevin. Elli memaksakan sebuah senyuman, terus memperhatikan suami dan anaknya yang telah menjauh.

"Aku sudah memiliki mereka. Kevin, apa kau masih mencintaiku?"

"Masih." Sontak Elli menoleh. Di sampingnya berdiri seorang pria yang sangat dikenali Elli. Pria itu duduk di sampingnya. Elli memandangnya, masih tidak percaya bahwa kekasihnya itu kembali.

"Kembali? Mungkin lebih tepatnya bertemu kembali," gumam Elli.

"Kau benar," sahut Kevin. Setelah itu handphone-nya berbunyi. "Halo, sayang, ada apa?" Elli memperhatikan Kevin. "Really? Wah anak daddy sudah pintar memasak, kamu kan baru enam tahun sayang?" Kevin tertawa mendengar sahutan di seberang sana.

"Baiklah, daddy akan segera pulang, sampaikan salam daddy untuk mommy, love you."

"Kau tampak bahagia dengan keluargamu," ucap Elli.

"Kau juga tampak bahagia dengan keluargamu," balas Kevin. Elli mendesah. Ia mengalihkan pandangannya ke depan. "Kau tidak jadi berpaling pada Lyon?"

"Jangan bodoh. Kau tidak mungkin lupa kalau Lyon sudah bersama Rosa, kan?" Elli menjeda. "Saat itu aku berharap kau juga datang ke pernikahannya, tapi ternyata tidak."

"Aku sibuk, maaf. Aku tidak punya waktu untuk menghubungimu, pekerjaanku menghabiskan waktu luangku."

"Aku mengerti. Tapi apa kau tahu? Saat itu adalah saat terakhir aku mengharapkanmu. Ibu sudah tidak bisa lagi menunggumu, jadi bila kau tidak datang…"

"Kau akan menikah dengan pria yang sekarang menjadi suamimu?" Elli menoleh. Seakan tahu apa yang dipikirkan Elli, Kevin langsung berkata, "Rosa yang memberitahuku. Sebenarnya aku datang tepat saat kau pulang. Aku ingin menyusulmu tapi tidak bisa. Aku sudah bertunangan dengan gadis yang sekarang menjadi istriku."

"Kenapa?" tanya Elli lirih.

"Ayahku meninggal, dan itu adalah permintaan terakhirnya, aku tidak bisa menolaknya. Maaf, aku memang pria brengsek."

"Apa kau mencintai istrimu?"

"Ya." Hati Elli mencelos. "Aku mencintainya seperti kau mencintai suamimu." Kali ini Elli tersentak. Kevin, ia tak jauh beda dengannya. Mereka sama-sama tak sepenuhnya mencintai pasangan hidup.

"Hatimu tetap milikku." Kevin mendekatkan wajahnya. "Kau, milikku." wajah Kevin semakin dekat. "Tapi itu tak serta merta bisa menyatukkan kita bukan?" Hati Elli bergetar, sakit sekali mendengar kalimat itu.

Masih dengan wajah yang sangat dekat, Elli menatap iris coklat yang sering menjebakknya itu. "Aku mencintaimu, Kevin Raynard."

Kevin tersenyum miring, kemudian berdiri. "Aku harus pulang, bye."

Elli tersenyum tipis. Memandang punggung Kevin yang kian menjauh. Satu kesimpulan telah ia dapatkan. Cinta tak selamanya memiliki itu ungkapan yang salah, yang benar adalah... cinta tak selamanya menyatu.

I love you. Farewell.


Halo minna-san! Aku newbie nih hehehe jadi sori sori sasori(?) ya kalau masih ada typo juga feel-nya gak dapet, baru belajar juga hehehe

Kalau ada kesalahan mohon kritik dan sarannya ya? ^^

Review, please?