Senja baru saja merambat meninggalkan belahan bumi Seoul, dan berganti dengan malam yang hadir perlahan di kawasan yang tengah menghadapi pertengahan musim dingin ini. Waktu baru saja menunjukkan pukul enam lebih, namun salju yang terus turun disertai angin kencang membuat jalanan terlihat sepi, apalagi di pinggir kota seperti ini. Suhu yang berada sepuluh derajat di bawah nol semakin menambah rasa malas untuk sekedar berjalan keluar.

Namun, hal itu sepertinya tak berlaku untuk seorang pria yang kini tengah berjalan tergesa menuju sebuah bangunan berwujud apotik di ujung jalan. Langkah pria bernama Kevin itu hampir berlari, tak menghiraukan terpaan salju yang tak henti-henti menghantam mantel tebalnya. Sungguh terlihat bodoh, pergi di malam bersalju seperti ini tanpa payung. Wajah tampannya sudah memucat ketika ia akhirnya sampai di depan apotik. Tak butuh waktu berpikir lama bagi pria itu untuk segera masuk ke dalam. Kehangatan thermostat langsung menyambutnya, menelusup di dalam mantelnya. Namun, Kevin tak punya waktu lama-lama untuk menikmati hangatnya thermostat di apotik, ada seseorang yang lebih penting yang tengah menunggunya di apartemen. Setelah membeli obat yang dibutuhkannya dan membalas senyum manis wanita yang bertugas di apotik, pria tinggi itu segera melesat kembali menembus tebal dan dinginnya salju.

.

.

.

.

.

'Dug. Srak!'

"Gege? Kevin-ge… kaukah itu?"

Seorang pria yang tengah terbaring di sebuah tempat tidur berusaha bangun dengan susah payah saat telinganya menangkap bunyi seperti seseorang yang terantuk sesuatu. Tapi, kondisi tubuhnya yang kelewat lemah membuatnya tak bisa untuk sekedar mengangkat bahunya. Pria pemilik nama Zhang Xiao itu pun akhirnya menyerah dan memilih kembali berbaring.

"Kevin-ge…?" Diulanginya lagi panggilannya.

Lama, tak ada jawaban.

'Krek'

Pintu kamarnya mendadak terbuka, dan menampilkan sosok tampan Kevin di baliknya.

"Xiao? Kau sudah bangun?"

Wajah lelaki berambut pirang keemasan itu terlihat khawatir, walau rona bahagia terpancar sedikit, melihat sosok Xiao yang tengah tersenyum ke arahnya. Kevin mendekat, dan menarik sebuah kursi di samping tempat tidur.

Ditatapnya wajah putih pucat di depannya dengan seksama.

"Ya. Kau darimana, Ge?"

Kevin terdiam. Tak menjawab pertanyaan pria berambut sewarna kayu eboni di depannya itu.

"Ya! Jawab aku, Ge. Kau darimana? Aku belum makan malam tahu," ucap Xiao yang lebih tepat disebut omelan walaupun terdengar lemah karena melihat Kevin yang bukannya menjawab pertanyaannya, dan justru menatapnya. Lagi-lagi Kevin tak menjawab, tangannya hanya terulur, perlahan mengusap lembut surai blackpitch Xiao, menelusur dan berhenti di pipinya.

"Bodoh…" ucap Kevin seraya menepuk pipi Xiao pelan.

"Yah! Kenapa kau memukulku, Ge …" ringis pura-pura Xiao. Kevin tahu, Xiao-nya hanya berpura-pura, karena tepukan itu hanya pelan.

"Kau tidak tahu, betapa khawatirnya aku tadi. Kau tertidur dan tidak bangun-bangun ketika aku berusaha membangunkanmu! Kau tahu, aku aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu. Aku takut sesuatu terjadi padamu!"

"Ge …"

"Aku takut kau tak bangun-bangun…"

"Ge …"

"Aku—"

"–Kevin-ge!" interupsi Xiao keras, demi dilihatnya Kevin yang hentinya bicara.

"Xiao?"

Tangan Xiao bergerak, dan meremas jemari Kevin yang masih bertahan di pipinya. Kevin berjengit, tatapannya menemukan Xiao yang tengah tersenyum lembut ke arahnya.

"Ge … Aku sangat mencintaimu. Aku tidak apa-apa, dan tidak akan terjadi apa-apa padaku. Kau satu-satunya orang yang kumiliki."

"…"

"Kau tidak akan meninggalkanku, 'kan? Aku bukan penakut, Ge. Tapi aku takut kalau kau meninggalkanku sendirian."

"…"

"Kau akan selalu menjagaku, 'kan?" Mata hitam itu menatap Kevin lembut, menuntut jawaban.

"Yah! Ge, jawab aku!"

"…"

"…aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu menjagamu. Janji…" ucap Kevin terbata. Mendengar itu Xiao tersenyum dengan wajah pucatnya. Membuat sosok Kevin kembali tercenung, menatap senyum pemuda yang selalu bisa membuatnya tenang dengan senyum dan tingkahnya, walau tak jarang pemuda itu sendiri juga yang membuatnya khawatir. Ya, tak ada yang lebih penting bagi seorang Kevin Wu selain Zhang Xiao saat ini. Seorang pria yang telah berstatus sebagai kekasihnya sejak sepuluh tahun yang lalu. Walau pengakuan resminya baru tiga tahun, namun bagi Kevin Wu, Xiao adalah kekasihnya, dan telah ditakdirkan untuk menemaninya. Xiao hanya miliknya dan untuknya. Egois memang. Namun egois bagi Kevin Wu pun tak apa jika itu menyangkut BabyXi-nya.

"Aku mencintaimu." Kevin menunduk, menelusur wajah Xiao dengan bibirnya. Mengecup lembut dahi Xiao, dan turun pada sepasang matanya yang menutup perlahan. Hidungnya. Dan berakhir pada bibir lembut yang membalas sentuhannya, yang perlahan berubah menjadi lumatan.

"Wo ai ni…" ucap Kevin pelan di tengah jarak yang terpangkas di antara mereka. Xiao mengalungkan lengannya ke tengkuk Kevin sebagai jawaban. Memperdalam ciuman. Kehangatan pun menjalar, mengalahkan dingin salju di luar dan thermostat yang seolah hangatnya tersia-sia….

...

"Kau tidak akan mengambil libur hari ini, Ge?"

Kevin yang tengah merapikan kemeja di depan kaca menghentikan kegiatannya. Matanya menatap sosok Xiao yang tengah menikmati sarapannya di tempat tidur.

"Kenapa?"

"Ambillah libur untukku, Ge. Aku 'kan sedang sakit. Kumohon…"

"Kau ini seperti seorang istri yang tak mau ditinggal suaminya saja," ucap Kevin seraya melanjutkan kegiatannya dengan dasinya yang kini rewel.

"Apa? Yah, aku memang akan jadi istrimu, Ge nan-"

Deg.

Alis Kevin terangkat. Kembali ditatapnya Xiao yang terdiam seolah kaget dengan kata-katanya sendiri. Kevin tersenyum dan segera berjalan ke arah sosokyang kini pura-pura melanjutkan makannya.

"Jadi, Baobei… kau benar-benar ingin jadi istriku, eh?" goda Kevin.

"Ja-jangan bermimpi, Ge. Aku hanya ingin kau mengambil libur," elak Xiao yang justru semakin menambah lebar senyum Kevin yang mendengar kekasihnya berusaha mengelak.

"Ah, sungguh?! Tadinya kupikir kau ingin menikah dengan PSP-mu itu," goda Kevin lagi, seraya melirik singkat pada PSP yang selalu setia pada BabyXi-nya itu, atau BabyXi-nya yang setia pada benda itu? Entahlah…

"Baiklah, Ge. Kalau begitu kau pergi saja. Tidak baik seorang direktur bolos hanya karena kekasihnya sedang sakit," usir Xiao dengan sindiran yang justru membuat Kevin tertawa.

"Du bu qui, Baobei. Tapi aku tak bisa libur untuk hari ini, mengerti?" ucap Kevin setelah tawanya reda.

"Mengerti," jawab Xiao ketus.

"Sudah jam delapan. Aku bisa terlambat!" Kevin menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Aku pergi dulu. Kau akan baik-baik saja, Baobei. Telepon aku kalau kau butuh apa-apa. Wo ai ni, BabyXi."

Sosok tinggi itu pun melesat meninggalkan Xiao setelah sebelumnya menyempatkan untuk mengecup Xiao yang kini tengah memayunkan bibirnya. Ck, dewasa sekali kau Zhang Xiao.

Kevin Wu, pria asal China berusia 26 tahun yang lahir di Kanada itu termasuk beruntung. Sebagai direktur utama sebuah perusahaan terkenal di Korea, jelas dia kaya. Selain itu wajahnya dan otaknya tak diragukan lagi. Benar-benar sosok yang sempurna; tampan, kaya, dan baik hati. Namun, sesuatu yang terlihat sempurna selalu punya celah untuk kekurangan menelusup di dalamnya, bukan? Dan pemililk marga Wu itu salah satunya. Dia tak akan lepas dari hal itu…

Setelah memarkir Lamborghini putihnya di ujung parkiran sebuah bangunan menjulang berlantai 70 itu, sosok tampan Kevin Wu turun dan berjalan ke arah gedung perusahaan yang berstatus sebagai miliknya. Atau benarkah begitu?

Tumpukan salju sisa tadi malam tak terlihat di depan gedung, mungkin cleaning service kantornya benar-benar bisa diandalkan. Walau tak terlihat salju yang turun, namun hawa dingin tetap tak berubah. Tergesa Kevin masuk ke dalam gedung. Di dalam gedung lebih hangat tentunya. Membalas sapaan ala kadarnya dari bawahannya di lantai satu, pria itu segera menuju lift yang melesat membawanya naik ke ruangannya di lantai 68.

Kevin baru saja menghempaskan tubuhnya di kursi ketika ketukan terdengar di pintunya. Kevin belum sempat mempersilahkan masuk ketika tiga orang ahjussi masuk. Salah satunya yang berpakaian bodyguard segera mengunci pintu dan menutup gorden yang terbuka dengan remote yang tergeletak di nakas samping pintu. Setelah memastikan ruangan kedap suara itu tertutup rapat, ahjussi lain yang terlihat sebagai bosnya segera menatap Kevin, dan mulai duduk. Tanpa berkata, Kevin pun mengkuti jejaknya untuk duduk.

Keheningan yang lama menyelimuti orang-orang itu. Seolah tak ada keinginan untuk memulai bicara. Sang ahjussi hanya menatap Kevin dengan pandangan menilai dan sesekali menyeringai kecil di sudut bibirnya.

"Ada apa?" Kevin memecah keheningan yang lama-lama membuatnya bosan.

"Hahaha aku hanya ingin mengunjungimu, setelah sekian lama tak bertemu. Kau keberatan?" tanya ahjussi itu dengan tawa lebar.

"Tidak… hanya saja rasanya aneh anda mengunjungiku karena alasan itu…" ucap Kevin pelan.

"Seperti biasa, feeling-mu selalu kuat, Kevin," puji sang Ahjussi yang hanya mendapat respon senyum tipis dari Kevin. "Itulah kenapa JungSoo-sajangnim sangat menyukaimu."

"Jadi aku benar. JungSoo ingin aku menjadi menjadi pembunuh lagi?" tanya Kevin sarkastis. Tawa Ahjussi itu semakin lebar mendengar ucapan pria tampan di depannya.

"Hahaha bukan pembunuh, Kevin. Kau adalah malaikat maut."

"Sama saja," ucap Kevin dengan tetap mempertahankan raut tenangnya.

"Arra. Arra. Kita sudahi saja. Aku ke sini bukan untuk berdebat denganmu." Ahjussi itu menghentikan tawanya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Kevin. "Habisi seseorang untukku."

"Hanya itu?" tanya Kevin lagi. "Siapa?"

"Yah, jangan berpikir kali ini mudah."

"Kenapa?"

"Kau harus mencari anak ini dulu."

"Maksud Anda?" Kevin merasa tak mengerti maksud dari ahjussi di dapannya ini.

Ahjussi mengusap dagunya pelan, seolah berpikir.

"Kita hanya punya petunjuk satu. Foto anak kecil itu."

"Anda memintaku membunuh anak kecil?" Kevin menatap sosok di depannya tajam.

"Tentu saja tidak. Foto itu adalah fotonya bertahun-tahun yang lalu. Mungkin sekarang dia sudah dewasa dan entah berada di mana," terang ahjussi itu panjang. "Jadi bagaimana?"

"Kau tahu aku tak punya pilihan, 'kan?" ucap Kevin dengan senyum getir di raut wajahnya.

"Haha kau benar."

"Jadi di mana fotonya?" tanya Kevin lagi.

Ahjussi itu tersenyum lebar, diliriknya salah satu bodyguard-nya yang segera mengeluarkan selembar foto usang. Tanpa banyak bertanya Kevin menerima foto lusuh itu. Sang ahjussi menunggu dengan sabar sosok Kevin Wu yang tengah mengamati foto calon korbannya.

Sepasang onyx milik pria Wu itu menatap fokus pada foto anakberusia sembilan tahunan di tangannya. Namun setiap detail yang ia amati seolah menghadirkan déjà vu yang membuat jantungnya berdetak semakin kencang. Sosok dalam foto ini. Walau terlihat sangat sulit dikenali, namun dia yang merasa mengenal pemuda kecil itu dan hidup bersamanya selama bertahun-tahun, tentu tahu siapa sosok dalam foto yang berada di tangannya.

Sosok itu…

Zhang Xiao….

Onyx itu melebar terkejut.

Berusaha mencari kemungkinan yang memastikan bahwa sosok kecil ini bukan Xiao.

BabyXi-nya.

Namun, semua mengarah pada sosok yang kini tengah terbaring sakit di apartemennya.

"Kau kenal anak itu?" tanya sang ahjussi lagi.

Kevin segera tersadar dan kembali memasang raut wajah tenangnya.

"Tidak. Aku tidak tahu anak ini. Lagipula dia pasti sudah besar, 'kan?"

"Ne," jawab ahjussi itu singkat.

"Jadi aku harus mencari anak ini dan membunuhnya. Ah, siapa nama anak ini?" Kevin menatap sosok di depannya.

Hatinya berdenyut tak mengenakkan, menanti jawaban dari sang ahjussi.

Dirinya terus berbisik, semoga nama anak itu bukan,

"—Zhang Xiao."

"Huang–," Kevin terperangah. Ketakutannya terjawab sudah.

"Ya. Nama anak itu Zhang Xiao," jelas ahjussi itu lagi. "Kau harus membunuh anak bernama—"

"—Zhang Xiao."

...

Malam memburuk.

Langit menggeram marah disertai angin yang mengamuk. Kilatan dan suara langit yang menggelegar menjadi alat yang ampuh untuk menahan para makhluk bumi keluar.

Jalanan nyaris tak terlihat tertutup kabut dan butiran hujan yang menggila. Namun, suasana yang seolah setan yang berpesta itu tak mengurungkan niat seorang pria tampan yang nekat menembus kemarahan malam dengan Lamborghini yang terus melaju di atas kecepatan 80km/jam.

Tak ada mimik wajah yang terlihat menyolok dari ukiran sempurna Tuhan itu. Raut wajahnya tetap tenang membawa mobil di atas kecepatan normal dan melawan kegilaan alam. Toh tak ada lawan lain yang melaju bersamanya. Jalanan kelewat sepi, dan orang-orang tidak cukup gila untuk keluar saat malam sedang gila seperti ini.

Namun hal itu tak berlangsung lama.

Dari kesamaran warna malam nan pekat, mendadak matanya menangkap sosok kecil tergeletak tepat di depannya.

"Cittt."

Suara rem yang berdecit, memecah suara hujan di jalanan yang sepi itu. Butuh usaha penuh dari sang pria untuk menghentikan mobilnya secara mendadak dalam kecepatan tinggi disertai jalanan licin yang membuat gaya gesek sangatlah kecil. Mobil itu berhenti dalam posisi nyaris berputar ketika akhirnya berhenti total.

Pria itu segera turun dari mobilnya dan melihat sosok kecil yang tergeletak di tengah jalan. Matanya melebar ketika sosok itu benar-benar sosok lelaki kecil berusia sekitar sembilan tahunan yang tengah meringkuk. Pria tampan itu reflek berjongkok dan memeriksa nadinya. Selamat, denyut yang sangat lemah masih terasa.

Tanpa berpikir panjang. Diangkatnya sosok kecil itu ke dalam mobil. Dibaringkannya di sisinya.

Lalu, dia kembali memacu mobilnya. Dengan satu tujuan… rumah sakit.

Sesekali diliriknya sosok kecil basah kuyup di sampingnya.

Kulitnya yang berwarna putih pucat terlihat membiru.

Tubuhnya melemah, bahkan menggigil pun seolah tak mampu.

Pria itu menambah kecepatan mobilnya. Entah kenapa mendadak jalanan terasa jauh dan panjang. Dia sedang berburu dengan waktu. Jantungnya mendadak berdetak berkali lipat lebih cepat dari biasanya. Bahkan tetesan peluh mulai menetes di dahinya, berbaur dengan air hujan yang sempat membasahinya. Dia berkeringat juga kedinginan. Keinginan untuk menyelamatkan sosok kecil di sisinya benar-benar merasukinya. Bagaikan kekuatan yang membuatnya tak menyadari ia berpeluh tapi kedinginan.

Hingga akhirnya bangunan putih bertingkat itu terlihat.

"Kondisinya sekarang stabil. Beruntung anda segera membawanya, karena jika terlambat sedikit saja, anak itu bisa terserang hypothermia dan meninggal."

Pria itu bersorak dalam hati. Dia belum terlambat. Tubuhnya bergetar hebat. Ternyata Tuhan menolongnya. Tuhan mengizinkannya untuk menyelamatkan satu hambanya.

"Tapi, karena berada dalam kondisi kedinginan yang cukup lama… akan ada masalah lain. Kemungkinan paru-parunya tidak akan berfungsi senormal dulu…."

...

"Saya rasa masuk kantor orang sembarangan bukan bentuk satu kesopanan di Korea."

Kevin menatap sosok tinggi di depannya dengan pandangan menyelidik. Bagaimana tidak? Dia sudah dikejutkan dengan pintu ruangannya yang tidak terkunci dan sekarang disambut sosok tinggi dengan senyum creepy-nya. Sosok yang tengah memain-mainkan PSP di meja itu tersenyum menatap Kevin. Diletakkannya PSP berwarna toska itu kembali ke meja dan dia berjalan mendekat ke arah Kevin, tetap dengan senyumnya yang tanpa dosa.

"Park SeHyun imnida. Kurasa sebaiknya mulai sekarang kita saling bersikap baik, Kevin-ssi. Karena mulai sekarang aku adalah partner-mu." Sosok tinggi itu mengenalkan dirinya disertai bungkukan kecil.

"Partner? Untuk apa?" Kevin yang merasa tak perlu bersopan-sopan untuk kembali membalas memperkenalkan diri, justru menyambut dengan pertanyaan. Toh sosok bernama SeHyun itu sudah tahu namanya.

SeHyun tak menjawab, pria tinggi itu justru menghempaskan diri duduk di salah satu kursi di depan meja Kevin. Dia memutar kursi sehingga kini menghadap ke arah Kevin yang masih berdiri. Lagi-lagi senyum tanpa dosa menghiasai wajahnya.

"Well, tentu saja partner untuk memastikan kau menemukan anak itu dan membunuhnya. Atau aku yang nanti akan membunuhnya."

.

.

.

.

.

"BabyXi, kenapa kau menyukaiku?" Pertanyaan mendadak Kevin membuat Xiao yang tengah asyik memainkan laptop di atas tempat tidur mem-pause game-nya dan menatap sosok Kevin Wu yang kini tengah memandangnya dengan intens dari tempat duduknya, di belakang meja kerjanya.

"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu, Ge?" Xiao menelengkan kepalanya, sedikit tak mengerti dengan maksud pembicaraan kekasihnya.

"Jawab saja, Baobei…"

"Karena… Karena itu kamu…"Xiao tersenyum lembut yang sangat jarang diperlihatkan pemuda berjuluk panda karena lingkaran hitam di bawah matanya itu.

"Aku bukan orang baik… Kau bahkan tidak tahu siapa aku." Kevin kembali menatap layar laptop di depannya. Xiao sontak tertawa keras.

"Orang jahat tidak akan membiarkanku hidup dan menjagaku sampai sekarang, kau bahkan juga tidak tahu siapa aku 'kan, Ge?!" ucap Xiao retoris.

"Itu berbeda, Xiao," jawab Kevin singkat.

"Apa bedanya? Apakah kau ingin membunuhku, Ge?" Xiao terkekeh semakin keras melihat tampang Kevin yang kini kembali menatapnya tajam, seolah berkata; humormu-samasekali-tidak-lucu-PabboXiao. Dan sang pandaXiao memilih melanjutkan game-nya dan mengabaikan Kevin.

Kini keheningan kembali menyelimuti ruangan tempat dua pria itu berada. Hanya sesekali desahan Kevin dengan tugasnya, dan teriakan Xiao karena game-nya yang mencoba melawan keheningan.

"Kau harus segera tidur, Baobei!" perintah Kevin melihat jam yang sudah lewat tengah malam.

"Sebentar lagi, Ge.." Xiao memohon dengan panda eyes andalannya yang selalu saja mempan terhadap Kevin, walaupun akibatnya juga buruk untuk Xiao sendiri. Terutama kalau malam hari seperti ini.

"Tidak ada kata sebentar lagi. Kau harus segera tidur," perintah Kevin mutlak. "Dan jangan memasang wajah itu padaku. Kau besok ada kuliah. Kau tidak ingin bolos karena aku membuatmu tidak bisa jalan, 'kan?"

"Apa?" Mendengar kata 'tidak bisa jalan' membuat pemuda itu segera menarik selimutnya dan bersikap kooperatif untuk segera tidur. Tak lama terdengar dengkur halus dari tubuh yang terbungkus selimut tebal itu.

Melihat itu, Kevin hanya tersenyum. Setidaknya, BabyXi-nya menurut untuk saat ini.

Setelah menutup jendela kerjanya, Kevin berdiri untuk merenggangkan otot-ototnya yang kaku karena berjam-jam di duduk di depan laptop. Dilepasnya kacamata bacanya dan dia beranjak menuju ke jendela untuk menutup tirainya.

Namun pemandangan di luar menghentikan gerakannya. Salju…

Salju tidak turun malam ini. Sebagai gantinya, di langit terlihat samar-samar beberapa kerlipan bintang. Dan sebuah bintang yang berkerlip sendirian. Walaupun begitu sinarnya terlihat paling terang. Sebuah pemandangan yang langka di tengah malam di musim dingin. Kevin tersenyum.

Bintang itu seperti Xiao-nya.

Terlihat begitu bersinar, indah.

Namun begitu jauh. Jauh dan tak terjangkau.

Betapapun tingginya dia. Betapapun inginnya dia.

Bintang itu terlihat, tapi tak dekat.

Xiao-nya juga begitu. Ada di dekatnya. Namun jauh. Sangat jauh. Kevin seperti harus mempertaruhkan segalanya untuk sekedar melihat satu senyumnya.

Xiao begitu tak terjangkau.

Tak terjangkau oleh hatinya yang kotor. Tak terasa aliran hangat mengalir di pipi putihnya. Seorang Kevin Wu menangis. Sepertinya ia harus lebih banyak berada di gereja. Memohon ampunan atas dosa-dosanya yang nyatanya sia-sia. Banyak nyawa yang tak mungkin kembali menjadikan tumpukan dosanya seakan tak berkurang.

Betapapun ia telah bersimpuh di gereja.

Betapapun ia berhenti membunuh untuk Xiao-nya. Karena ia tak ingin pemuda itu tahu, bahwa pria yang dianggapnya malaikat penolong tak ayal hanya malaikat maut. Iblis berwujud malaikat.

Semua itu sia-sia. Menghilang bersama waktu yang egois tak ingin diajak berjalan beriringan. Betapapun ia mencoba, Xiao-nya tetap takkan terjangkau olehnya.

Kevin sadar itu… dan seperti sekarang.

Saat kenyataan dan takdir bersekongkol menjatuhkannya dalam satu jurang yang curam.

Ia… harus membunuh,

Xiao-nya.

Menghilangkan tawa yang berusaha ia dapatkan mati-matian.

Menghabisi sosok yang setia ada di sisinya, saat yang lain menjauh.

Sosok yang mampu masuk ke hatinya tanpa ia sadari…

Fatalnya, Xiao masuk sudah terlalu dalam…

...

"Yah, Kevin! Kenapa kau selalu melarangku berkunjung ke apartment-mu? Kau menyimpan wanita, huh?" Suara SeHyun terdengar keras saat mereka tengah menikmati makan siang di kantor Kevin.

"Tidak…" jawab Kevin malas-malasan. Untuk apa coba, dia menyimpan seorang wanita, karena Xiao-nya saja sudah kelewat sempurna.

Tangan SeHyun mengelus dagunya seolah berpikir.

"Atau jangan-jangan kau menyembunyikan… calon korban kita…?" Tunjuknya tiba-tiba tepat di muka Kevin yang tengah menikmati makannya. "Karena kau itu diam-diam sangat misterius, Kevin."

Sosok yang biasa memasang raut muka ramah berkharisma itu, mau tak mau sedikit terkejut dengan kalimat SeHyun. Matanya menatap SeHyun yang kini kembali mengaduk pastanya.

"Haha kau ini ada-ada saja. Untuk apa aku menyimpan korbanku sendiri di rumah," ucap Kevin setelah kembali berhasil menguasai keadaan. Huft, nyaris saja.

"Tapi, kalau itu benar terjadi." SeHyun menghentikan makannya dan menatap Kevin serius. "Kupastikan aku yang akan membunuhnya sendiri…"

...

Kevin kembali menatap bintang yang tak berkurang sinarnya.

Entah sampai kapan, ia akan mampu melindungi Xiao-nya. Semua tinggal menunggu waktu sebelum semuanya terbongkar… dan hanya ada pilihan.

Dirinya atau Park SeHyun yang akan menghabisi Xiao…

Walaupun sepenuhnya Kevin menyadari… membunuh Xiao,

berarti membunuh dirinya sendiri…

...

Hari itu Kevin yang memilih pulang lebih cepat dari Xiao, menyiapkan sesuatu untuk panda kesayangannya itu.

Beruntung Xiao baru saja meng-sms-nya bahwa dia pulang agak terlambat karena pergi dengan seorang temannya. Yang tentu saja tak membuat Kevin khawatir karena ia telah mengenal siapa sosok teman yang dimaksud Xiao. Itu artinya memberi waktu bagi pemilik marga Wu itu untuk menyiapkan segalanya.

Malam ini akan berjalan sempurna.

Sangat sempurna malah.

Senyum tak hentinya tersungging di bibir pria itu ketika ia menyiapkan segalanya, memperlihatkan senyum berkharisma yang mampu membuat para wanita memujanya.

Benar saja, malamnya Xiao yang baru pulang disambut dengan sergapan tubuh Kevin yang lebih besar darinya. Belum sempat Zhang Xiao bertanya ada apa, kekasihnya sudah menahan kalimat yang ingin dikeluarkannya dengan sebuah ciuman yang lembut namun menuntut. Keterkejutan Xiao tak berakhir sampai di situ. Karena saat Kevin menciumnya, saat itu jugalah pria itu menutup kedua mata Zhang Xiao dengan sapu tangan yang sudah dipersiapkannya dari tadi. Dan Xiao hanya mampu menurut saat kekasihnya menuntunnya ke suatu tempat.

Tempat yang tidak jauh memang.

Hanya kamar mereka biasanya.

Namun ketika ikat mata itu terbuka.

Sebuah pemandangan yang cukup untuk membuat seorang Zhang Xiao tersenyum takjub terlihat.

Tepat di sisi jendela mereka yang menghadap keluar. Ada sebuah meja lengkap dengan dua kursi dan lilin di tengahnya. Bahkan sebotol wine yang sudah jelas mahal juga ada di atasnya.

Terlihat sederhana. Namun jika bersama Kevin-nya itu akan menjadi luar biasa…

"Kau menyukainya, Baobei?" bisik Kevin lembut.

"Kita tidak sedang merayakan sesuatu 'kan, Ge?" tanya Xiao bingung.

"Tentu saja tidak," jawab Kevin kalem. Kini ia menuntun sang kekasih untuk duduk di salah satu kursi yang ada.

"Lalu?" Xiao masih tak mengerti.

"Kupikir malam ini salju tak turun lagi. Dan ternyata aku benar. Karena itu aku mengajakmu melihat langit malam ini. Kau tak suka, Baobei?" tanya Kevin lagi. Ditatapnya sosok yang kini tengah duduk di sisinya.

"Kau bercanda, Ge? Tentu saja aku suka. La–lagipula kau jarang bersikap romantis padaku," ucap Xiao seraya menundukkan wajahnya. Merasa malu dengan kalimatnya sendiri. Kevin terkekeh pelan.

"Kupikir kau akan menganggapku berlebihan."

"Tentu saja ti–hfft," ucapan Xiao terpotong.

Bibirnya tertangkap oleh bibir Kevin yang kini menciumnya lembut.

Kevin menunduk, mengeliminasi jarak di antara mereka.

Ciuman yang berubah menjadi lumatan saat lidah Kevin meminta izin masuk. Dan mencecap semua rasa yang ada pada kekasihnya. Semua rasa yang membuatnya gila, dan selalu ingin lebih, lebih dan lebih. Xiao mengerang tertahan saat lidah itu menyapu langit-langitnya, mengabsen deretan giginya, dan memaksanya untuk bertarung lidah. Yang tetap dimenangkan oleh Kevin yang selalu nyaris kehilangan kendali saat bersama sosok yang kini mendesah dengan permainannya.

Ia mencintai Xiao-nya yang sensitive.

Xiao-nya yang manja.

Xiao-nya yang jahil.

Xiao-nya yang pasrah seperti ini.

Ia mencintai semua tentang Xiao-nya.

Karena semua tentang Xiao-nya selalu membuatnya gila.

Dan kini Xiao yang terengah mencoba mengimbangi permainan lidah Kevin, walau napasnya mulai putus-putus, membuat sosok Kevin sendiri yang akhirnya menghentikan ciuman panjang itu.

Ditatapnya wajah BabyXi-nya yang kini kulit pucatnya merona merah. Napasnya tersengal layaknya baru saja berlari jauh.

Kevin tersenyum ditatapnya mata onyx itu dalam. Mata yang selalu membuatnya terhipnotis.

Selalu…

Sesaat kemudian Xiao melepas pandangannya dari Kevin dan memilih beranjak untuk berdiri tepat di belakang jendela.

"Kau benar, Ge. Malam ini salju tidak turun…"

Kevin tak menjawab. Dia berjalan ke arah Xiao.

Kevin memposisikan dirinya tepat di belakang kekasihnya.

Tangan kirinya bergerak perlahan melingkari pinggang Xiao lembut.

"Bintang itu seperti dirimu, Baobei."

"Yah, kau salah, Ge!" tolak Xiao.

"Kenapa?" tanya Kevin heran.

Xiao tersenyum jahil.

"Aku lebih indah dari bintang itu, Ge. Aku lebih bersinar. Dan aku lebih tampan," ucapnya narsis. Membuat Kevin terpingkal tanpa melepaskan pelukannya.

"Sejak kapan bintang ada yang tampan dan ada yang tidak, Baobei?"

"Tentu saja sejak kau membandingkan seorang Handsome Prince sepertiku dengan sebuah bintang," jawab Xiao keras.

"Hahaha baiklah aku menyerah. Kau lebih indah dari jutaan bintang itu." Kevin tertawa disusul keheningan dari dua orang pria itu. Keduanya kini memilih menikmati malam yang seolah enggan beranjak.

Sebuah malam yang sempurna.

Sempurna, sebuah analogi aneh untuk malam yang tak akan terulang lagi.

"Mungkin orang berpikir ini aneh. Tapi kau tahu Ge?" tanya Xiao setelah keheningan yang cukup lama. Namun pandangannya yang tetap fokus pada gemerlap malam di luar.

Kevin hanya mempererat pelukan satu tangannya pada Xiao. Mencium aroma mint yang menyenangkan dari tubuh BabyXi-nya. Menghirupnya seraya memejamkan matanya.

'Kau tahu, BabyXi, aku akan sangat merindukan aromamu ini…' ucap Kevin dalam hati.

"Kenapa?" bisik Kevin pelan. Napasnya teratur menggelitik telinga Xiao, membuat sosok yang tak kalah tampan dari pria yang tengah memeluknya itu berjengit pelan. Sebuah senyum terukir di bibirnya.

"Aku merasa sebentar lagi aku akan mati…" jawab Xiao nyaris seperti bisikan.

'Deg.'

Tangannya bergerak ke arah tangan kiri Kevin yang melingkari pinggangnya. Menautkan tangan itu erat. Memaksa tangan itu tetap memeluknya. Dan menjaganya…

"Jangan bercanda, Xiao…"

"Aku tidak bercanda, Ge. Aku merasa aku akan mati… Aku akan mati di dekat orang yang mencintaiku…" getir sekali suara yang keluar dari bibir Xiao. Suara yang akhirnya terbawa angin malam, sekejap singgah di telinganya.

Dihirupnya udara kuat-kuat mencoba mendominasi semua oksigen yang ada.

Berharap oksigen itu mampu membawanya keluar dari keadaan ini…

Logam yang tergenggam di tangan kanan Kevin mendadak terasa semakin dingin.

Perlahan, dimasukkan kembali pisau kecil ke dalam sakunya…

...

Sebuah pagi yang suram.

Salju turun perlahan dengan mendung yang menggantung di kaki langit, mampu membuat jarak pandang terbatas. Sungguh bertolak belakang dengan suasana semalam yang sangat cerah, sisa-sisa langit yang bersih semalam seolah menguap begitu saja. Kevin sangat tidak ingin keluar dengan cuaca seperti ini seandainya ponsel-nya tidak berhenti berdering sejak tiga puluh menit yang lalu. Dan sang pemanggil yang seolah tidak peduli dengan cuaca adalah orang yang sama. Yang kemarin masuk kantornya dengan seenaknya, Park SeHyun. Pria Kanada itu lebih memilih menghabiskan harinya dengan memeluk tubuh hangat Xiao yang kini meringkuk di sisinya. Kehangatan thermostat yang menyala sepertinya mampu membuat pria panda itu tetap terlelap –atau justru kelelahan karena Kevin yang menyentuhnya semalam? Entahlah…

"Nghh… kau mau kemana, Ge?" Akhirnya Xiao terbangun juga, setelah ia tak merasakan sosok Kevin yang sejak semalam memeluknya. Pemudaitu mengucek-ucek mata pandanya dan menemukan Kevin yang tengah mengenakan kemeja putihnya.

"Kau sudah bangun?"

"Ini jam berapa?" Xiao mengabaikan Kevin dan memilih bertanya mengenai jam. Kevin tak menjawab, ia berjalan ke arah jendela dan membuka gorden lebar yang menjuntai menutupi jendela. Sebuah pemandangan yang suram terlihat.

"Sekarang jam sembilan kurasa," jawab Kevin singkat.

"Kau akan ke kantor? Aku tidak bisa kuliah hari ini, Ge," rengek Xiao manja. Kevin tersenyum, didekatinya sosok yang masih berada di tempat tidur itu setelah merapikan trench coat hitamnya.

"Aku tahu." Kevin mengelus pelan surai hitam Xiao.

"Kau jahat sekali meninggalkanku dalam kondisi seperti –hfft!" Xiao tak meneruskan kata-katanya karena Kevin melumat bibirnya lembut. Sebuah morning kiss yang singkat, namun mampu membuat Xiao terdiam seketika. Rona merah menjalar di wajah pucatnya.

"Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu dan menyuruh DaeHyun ke sini untuk menemanimu." Tangan Kevin meraih nampan yang berada di atas meja di samping tempat tidur. Nampan itu berisi segelas besar susu, dan setumpuk sandwich isi daging dan keju. Kevin sangat paham, Xiao tidak suka sayur, karena itu ia tidak memasukkan selada dalam sandwich-nya.

Xiao tersenyum senang, ternyata walau meninggalkannya Kevin telah mempersiapkan semuanya.

"Xie xie, Ge!"

"Aa." Kevin mengusap surai hitam itu sekali lagi dan berdiri. "Aku berangkat dulu. kurasa sebentar lagi DaeHyun datang."

Xiao mengangguk singkat, kini mulutnya penuh dengan sandwich sehingga tak mampu menjawab kata-kata Kevin.

"Makanlah dengan perlahan." Kevin menyempatkan diri mengusap remah roti yang ada di mulut Xiao. Sebelum akhirnya keluar dari kamar mereka. Xiao mendengar ia berbicara dengan seseorang di depan. Xiao menduga pasti itu DaeHyun.

Benar saja, tak lama kemudian sosok pemuda cantik itu muncul dari kamar Xiao yang barus saja tertutup.

"Annyeong, Xiao!" sapa DaeHyun ceria. Pemuda mungil asli Korea itu memang selalu ceria. "Aku tadi bertemu Kevin di depan."

Xiao tersenyum dan membiarkan sosok polos itu melihat-lihat koleksi kaset game-nya.

"Huh, kupikir kau sakit parah. Karena Kevin tadi terdengar begitu khawatir saat memintaku mengikuti jejakmu untuk bolos kuliah dan menjagamu di sini," adu DaeHyun lagi. Ia duduk di depan meja belajar Xiao dan memutar kursinya menghadap Xiao yang terbaring dengan laptop di pangkuan.

"Sungguh?" tanya Xiao tanpa mengalihkan perhatiannya dari laptop di depannya.

"Ya. Kurasa Kevin sangat menyanyangimu. Kau beruntung mengenal orang sebaik dia." DaeHyun menatap foto selca Xiao dan Kevin yang terpasang di meja belajar Xiao yang bersebelahan dengan meja kerja Kevin. Xiao terdiam. Sejenak dia mengubah direksinya dan menatap DaeHyun dalam.

"Menurutmu begitu?"

"Ne…" jawab DaeHyun seraya menunjukkan ibu jarinya.

"Hah, padahal dia selalu meninggalkanku." Xiao menghela napas pelan.

"Tapi dia tak pernah membiarkanmu sendirian, 'kan? Buktinya dia menyuruhku menemanimu."

Xiao tersenyum. "Kau benar."

Ia kembali menunduk dan melanjutkan game-nya yang tertunda. Membiarkan DaeHyun yang kini sibuk melihat foto-fotonya.

"Xiao!" panggil DaeHyun tiba-tiba.

"Hm?"

"Aku tidak bisa lama-lama menemanimu…" DaeHyun berjalan dan duduk di samping Xiao.

"Kenapa?" Xiao menatap pria itu, meminta penjelasan.

"Aku harus menemui seseorang…."

...

"Kalau kau memanggilku hanya untuk hal yang tidak penting aku akan membunuhmu, Park SeHyun!" omel Kevin begitu sampai di kantor dan menemui sosok yang tengah tersenyum-senyum tidak jelas di kursinya.

SeHyun bangkit dari kursinya dan merangkul pria itu.

"Lihat apa yang kudapatkan!" tangannya mengibaskan sesuatu yang sepertinya selembar foto.

"Apa? Foto kekasihmu, eh?" tanya Kevin asal. Ia benar-benar masih kesal pada sosok yang membuatnya meninggalkan BabyXi-nya di apartment dalam kondisi sakit.

"Tentu saja bukan!" SeHyun melepas bahu Kevin dan kembali duduk di kursi, membiarkan Kevin sibuk dengan setumpuk berkas di mejanya. "Ini adalah foto Zhang Xiao yang sekarang!"

Tek.

Kevin meletakkan berkasnya di meja. Kepalanya menoleh cepat ke arah SeHyun yang kini memandangnya dengan creepy smirk di sudut bibirnya.

"Darimana kau dapatkan itu?" Kevin mendekat dan merebut foto yang ada di tangan SeHyun. Dan memang itu adalah foto Xiao. Xiao yang sedang berada di taman universitasnya.

"Aku menyuruh kekasihku untuk mencari anak itu dan memotretnya. Kau tahu? Suatu kebetulan yang manis karena ternyata dia adalah teman dekatnya."

Kevin tersentak, teman dekat Xiao…

Jangan-jangan…

"Apa kekasihmu tahu kalau kau berencana membunuh anak ini? Lagupula bisa saja yang kita maksud bukan anak ini." Kevin mencoba berdebat. Sementara jantungnya sudah berdebar kencang. Mati-matian ia mencoba mempertahankan raut wajah tenangnya.

"Oh, ayolah, Kevin. Bandingkan kedua foto itu. Tak perlu ahli telematika untuk melihatnya bahwa dia memang Zhang Xiao yang kita cari," ucap SeHyun seraya menunjuk foto saat anak itu kecil yang kini terpajang di meja Kevin. "Dan DaeHyun memang tidak tahu kalau aku akan membunuh anak itu."

"DaeHyun?" Kevin mengucapkan nama itu lamat-lamat.

"Iya, dia yang berhasil mendapatkan foto ini." SeHyun memainkan foto Xiao kecil yang terpajang di atas meja Kevin. "Yah, Kevin!"

"Apa?" Kevin kembali menatap pria itu, menyembunyikan pikirannya yang mulai dipenuhi tentang Xiao.

"Kita tinggal mencari tahu tentang anak itu. Lalu membunuhnya." Diangkatnya foto yang terpasang manis pada pigura berwarna biru. "Kau ini! Foto calon korban saja kau pasang di pigura seperti foto kekasih!"

"Apakah secepat itu kita harus membunuhnya?" Kevin mengabaikan kata-kata SeHyun.

"Apa maksudmu? Kenapa kau jadi aneh begitu? Hah sepertinya kau terlalu kama tidak membunuh!" ucap SeHyun sarkastis. Kevin menunduk menatap foto Xiao yang tergenggam di tangannya. Sejuta pertanyaan ada di kepalanya.

Apa ia akan mampu membunuh kekasihnya?

Sementara percobaan kecil yang ia lakukan semalam gagal.

Ia bahkan gagal untuk sekedar menggores luka kecil di tubuh Xiao.

Bagaimana dengan membunuhnya?

"Kalau kau tidak segera membunuhnya, aku yang akan menghabisinya." SeHyun menatap sosok pria yang terdiam di depannya. Kevin menggelang, ditatapnya SeHyun tajam.

"Tidak. Aku yang akan membunuhnya… Aku sendiri yang akan membunuh Zhang Xiao…"

"Hahaha aku tahu kalau kau akan berkata begitu." SeHyun bangkit dari duduknya. "Aku pergi dulu. Aku harus kencan dengan DaeHyun! Ah iya, Kevin, lebih baik kau cepat-cepat menemukannya, atau aku tak segan mendahuluimu jika aku sudah menemukannya lebih dulu."

Sosok pria tinggi itu pun menghilang di balik pintu. Meninggalkan Kevin yang kini kembali digelayuti berbagai kekhawatiran tentang kondisi Xiao. Ada sesuatu yang membuatnya tidak tenang. Hari ini mendadak begitu khawatir terhadap keselamatan Xiao.

...

SeHyun tersenyum lebar menyambut sosok mungil yang tengah berlari ke arahnya.

"Jadi, Dae kau akan membawaku ke tempat temanmu itu sekarang?" sambut SeHyun ketika pemuda itu –DaeHyun sudah berada di dekatnya.

"Tentu."

"Baiklah ayo kita segera kesana. Kajja!" SeHyun membuka pintu mobilnya dam membiarkan kekasihnya itu masuk lebih dulu ke dalam mobil yang akan membawa mereka ke apartment yang dihuni Xiao. SeHyun terus tersenyum selama perjalanan, sementara DaeHyun yang tak mengerti apa-apa hanya sesekali memberitahu arah jalan pada SeHyun.

Tak butuh waktu lama ketika mereka akhirnya sampai di sebuah apartment mewah di pinggir kota. Langkah kedua pria itu teratur menuju lantai sebelas tempat Xiao berada.

Setelah menekan bel, keduanya menunggu sang pemilik ruangan untuk membuka pintu. Tangan SeHyun tak lepas dari saku celana panjang yang dikenakannya. Sebuah revolver dengan peluru penuh terasa dingin dalam genggamanya.

Cukup untuk satu kepala di dalam ruangan…

Sementara itu…

Xiao yang mendengar bunyi bel segera berjalan ke depan. Ia yang baru selesai mandi berjalan seraya mengeringkan rambutnya. Ia penasaran siapa yang datang ke apartment meraka, mengingat yang tahu dan pernah datang ke apartment mereka hanya DaeHyun dan tukang pizza.

Apa mungkin Kevin? Tapi rasanya tidak mungkin. Untuk apa Kevin menekan bel saat masuk ke apartment-nya sendiri?

Xiao pun berdiri di depan pintu. Tangannya sudah memegang handle.

Memutarnya...

Dan membukannya…

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

'Klek-klek'

Xiao mendengus. Dia lupa membawa key card apartment mereka. Dengan cepat ia berbalik ke kamar untuk mengambilnya. Pemuda tampan itu ingat bahwa Kevin selalu mengingatkannya untuk mengunci pintu saat ia hanya di rumah sendirian. Dan Xiao mengunci pintu saat mengantarkan DaeHyun pergi tadi.

Bel di luar berbunyi sekali lagi.

Dengan omelan Xiao masih mencari key card yang lupa ia taruh di mana. Pria itu menyesalkan ingatannya yang buruk untuk saat ini. Setelah ia mengubek-ubek ruang tamu, kakinya membawanya ke kamar. Butuh waktu beberapa saat sebelum key card itu ditemukan terselip di bawah bukunya. Senyum pria itu cerah saat ia berjalan kembali ke luar. Dan senyum itu hilang saat ponsel-nya yang berbunyi nyaring lagi-lagi menahan langkahnya. Malas-malasan ia meraih benda elektronik mungil yang tergeletak di atas meja belajarnya. Nama 'Kevin Wu' tertera di layar benda persegi panjang itu.

"Ge!"

"Kau di mana?" terdengar nada suara lembut Kevin di line seberang.

"Aku di apartment. Kenapa?"

"Kau tidak apa-apa, Xiao?" nada suara Kevin mulai terdengar khawatir.

"Aku baik-baik saja. Kenapa? Sebentar, Ge. Ada orang di luar yang menungguku untuk membukakan pintu. Siapa tahu mereka tamu penting yang ingin berkunjung."

"Jangan dibuka. Biarkan saja mereka!" larang Kevin cepat.

"Kenapa? Siapa tahu mereka ada keperluan penting," sangkal Xiao.

"Kau lupa yang tahu apartment kita hanya tukang pizza dan DaeHyun saja?"

Xiao berpikir sejenak, Kevin benar. Dan ia juga tidak memesan pizza hari ini.

"Tapi bagaimana kalau itu DaeHyun?" Xiao masih mencoba berdebat. Pria itu tak mengerti bahwa raut muka Kevin di seberang sudah memerah menahan amarah.

"YAH! DENGARKAN AKU SEKALI SAJA ZHANG XIAO! JANGAN BUKA PINTU SELAIN UNTUKKU! DAN SEKARANG KEMBALI KE KAMARMU, MENGERTI?!"

Xiao berjengit, ia terpaksa menjauhkan benda mungil itu dari telinganya mendengar suara keras dari kekasihnya di seberang.

"Ya, ya. Aku mengerti, Ge!" jawab Xiao patuh seraya mengangguk-angguk, tanpa sadar bahwa Kevin tak akan melihat anggukannya.

"Baiklah kalau kau sudah mengerti. Tunggu aku pulang sebentar lagi dan jangan kemana-mana." Kevin mengakhiri teleponnya tak lama kemudian setelah memberikan petuah-petuah sederhana seperti jangan lupa makan pada pria yang kini memilih menyalakan laptop untuk bermain game.

.

.

.

"Apa aku harus memberitahunya kalau kita datang berkunjung, Hyun?" DaeHyun menatap pria yang bersandar pada dinding sebelah pintu di sisinya. SeHyun mengeleng.

"Tidak perlu, Dae. Lebih baik kita pergi saja." SeHyun beranjak pergi dari pintu apartment diikuti DaeHyun yang mengekor dengan patuh di belakangnya. "Anggap saja saat ini kau beruntung, Bocah!"

"Kau bicara apa?" tanya DaeHyun yang tak sengaja mendengar bisikan kekasihnya itu. SeHyun menggeleng. Pria itu tersenyum manis seraya merangkul bahu DaeHyun lembut, membuat wajah alabaster DaeHyun bersemburat merah.

...

Api di tungku perapian berderak-derak pelan.

Nyalanya menjadi satu-satunya cahaya dalam ruangan yang nyaris gelap, tanpa penerangan. Hawa hangatnya menyebar ke seluruh sudut-sudut ruangan bergaya Eropa kuno ini, bersaing dengan bau batu bara yang menggelitik sudut-sudut organ penciuman. Akan tetapi atmosfer ruangan tak menyambut kehangatan itu dan memilih menebarkan auranya sendiri, hening —

hening yang mengerikan.

Waktu sepertinya membawa beban berat, sehingga ia berjalan lambat.

Di salah satu sudut ruangan, di mana cahaya hampir tak mencapainya, dua pasang mata memandang tak berkedip kepada pemilik sepasang mata lain yang sedang berdiri di depan perapian. Keduanya berada dalam kondisi yang mengenaskan, meringkuk dalam keadaan terikat dan mulut tersumpal lakban. Sekujur tubuh mereka penuh lebam. Mereka tak berani membuat gerakan sekecil apapun, takut jika gerakan sekecil apapun itu, akan mendekatkan neraka pada mereka.

Lelaki itu menyeringai, dia berjalan mendekat dan menunduk menatap pria ravendi bawahnya. Dan dengan gerakan cepat, diayunkannya kapak yang dipegangnya ke dada pria raven itu. Tubuh priaraven itu menghentak keras, darah menyembur seiring dengan derak suara kapak mematahkan tulang-tulang rusuknya.

Sasaran selanjutnya adalah perut pria raven itu, ayunannya cukup untuk membuat isi perut pria raven itu keluar. Seolah tak peduli dengan dirinya yang juga bermandi darah pria raven itu, lelaki pirang itu lagi-lagi hanya menyeringai.

Dan ayunan kapak terakhirnya, hampir memutus leher pria raven sekaligus mengakhiri napasnya.

Sang wanita ingin menjerit, tapi mulutnya yang tersumpal membuatnya hanya melakukan gerakan berontak yang kesetanan...

Sosok bocah lelaki melihat kejadian itu dengan permatanya.

Onyx-nya menyorot tajam. Sang bocah lelaki mencoba melawan kegelapan dari tempatnya sekarang berada.

Tapi, kegelapan itu tak lama...

'Ctak'

Suara petikan pematik dan aroma bensin mengawali atraksi selanjutnya.

Lidah merah, merambat dan mulai menjilat barang-barang apa saja yang mengganggunya.

Hawa panas mulai menyerang bersamaan dengan kobaran api yang memecah kegelapan malam.

Sosok kecil itu terjebak, terjebak dalam neraka bersama dua mayat di depannya, di bangunan di sudut Seoul.

.

.

.

"HENTIKAN!"

Mimpi itu lagi.

Kevin Wu terbangun dengan peluh yang menetes di sekujur tubuhnya. Napasnya tersengal dengan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya.

Disingkapnya selimut yang menutupi tubuhnya. Diliriknya sosok di sisinya yang beruntung tidak terbangun karena teriakannya.

Tertatih ia mencoba melangkah.

Disentuhnya sakelar lampu tidur di meja.

Dalam remang cahaya redup ia tak melihat apa-apa.

Kevin seakan tersentak.

Perlahan tanpa suara ia beranjak meninggalkan hangatnya tempat peraduannya, terseok menuruni tangga menuju lantai bawah apartment-nya, tergesa membawa langkah menantang hawa dingin di luar yang menembus setiap pori kulitnya.

Di tengah kegelapan malam.

Setelah salju yang turun petang tadi reda, Kevin menatap langit. Bintang tidak muncul malam ini. Sekitar apartment mewah itu sepi. Hanya ada cahaya kehidupan yang berasal dari tempat security berjaga, agak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Ragu-ragu Kevin melangkah menuju taman yang terletak di bawah apartment. Pria bermata onyx itu menjatuhkan dirinya di salah satu bangku taman, pandangan matanya menangkap kolam melingkar di depannya, yang kini membeku karena cuaca dingin yang memburuk. Kevin mendesah. Napasnya menjadi uap di depannya.

Lagi-lagi mimpi itu muncul.

Mimpi buruk yang sangat ingin dilupakannya. Sebuah mimpi mengerikan mengenai pembantaian orang tuanya di depan matanya. Dan suatu keberuntungan ia selamat dari peristiwa pembantaian dan pembakaran Wu's Mansion saat itu.

Dia selamat. Satu-satunya yang tersisa dari peristiwa itu dan tak ada seorang pun yang tahu. Kecuali —

lelaki itu…

Berkat lelaki itu ia merasa tertolong dan hidup kembali.

Namun Kevin salah.

Lelaki itu tak menyelamatkan hidupnya.

Lelaki itu justru membawanya ke neraka. Mendidiknya bukan sebagai manusia namun sebagai mesin pembunuh yang keji. Kevin merasa berjalan di atas kekosongan. Mereka yang 'menolongnya' seakan menutup matanya pada bisu kenyataan. Menjerat lehernya, memaksanya menggenggam kebodohan. Mengecap kepahitan yang manis dan mencium kebusukan yang harum. Matanya seolah diajari untuk melihat kengerian yang indah. Bertahun-tahun ia bermain-main dengan kesunyian. Tidurnya tak pernah nyenyak lagi. Bangun selalu menyisakan sebentuk ketakutan. Seperti malam ini. Ketakutan yang menyesaki ruang memorinya seakan mencabut mimpi-mimpi indahnya. Semuanya selalu berputar-putar di alam bawah sadarnya. Seperti labirin—tak berujung. Hingga akhirnya sosok itu—

"Kau bisa sakit kalau di luar tanpa selimut begini, Ge." Seseorang menutupi bahunya dengan selimut tebal. Hangat.

datang.

Dan sosok itu segera mengambil tempat duduk di sampingnya.

"Kau ada masalah, Ge? Akhir-akhir ini wajahmu terlihat murung." Kevin berjengit. Begitu mudahkah Xiao membaca wajahnya?

"Aku hanya sedikit lelah." Kevin berbohong. Diraihnya bahu Xiao mendekat, sehingga kini bersandar padanya. Xiao tak menolak perlakuan lembut pria itu. Dia tersenyum, tangannya bergerak meraih ujung satu selimutnya. Menariknya sehingga kini ia satu selimut itu menutupi bahu keduanya.

"Hangat?" Kevin bertanya seraya tersenyum menatap pemuda di sampingnya. Xiao mengangguk singkat.

"Aku akan merindukan saat-saat seperti ini, Ge…"

"Aku juga…" jawab Kevin pelan.

"Ibuku pernah memberitahuku sesuatu…"

"Apa?"

Xiao tak menjawab. Dengan lembut ia menarik wajah Kevin mendekat. Dan perlahan dikecupnya dahi Kevin lama…

Kevin terpejam. Sebuah rasa tenang yang berawal dari dahinya menjalar menelusup dalam setiap bagian tubuhnya. Tak ada kata-kata, hanya kehangatan yang mengalir ke dalam hati, mencairkan bongkah-bongkah kebekuan selama ini. Seluruh tubuhnya terasa hangat. Hangat yang sangat berkontradiksi dengan keadaan di sekitarnya.

"Ibuku bilang, kecupan di kening adalah kecupan kasih sayang dan bersifat menenangkan. Hingga orang-orang menyebutnya sebagai 'Mother Kiss," terang Xiao setelah ia melepas kecupannya. Kevin membuka matanya. Bagian hatinya masih menginginkan bibir itu bertahan lebih lama. "Bagaimana? Kau merasa lebih baik, Ge?"

"Xie xie. Aku merasa lebih baik sekarang…" Tangan Kevin kembali merengkuh sosok itu kembali ke dalam dekapannya.

"Ayah dan ibuku adalah orang yang hebat, Ge. Dan begitu juga dengan jiejie-ku. Walau menyebalkan, tapi LiYin-jiejie sangat perhatian padaku…" cerita Xiao.

"Kalau begitu mungkin aku bisa menikah saja dengan LiYin," goda Kevin.

"Yak! Tidak boleh." Xiao melepaskan diri dari pelukan Kevin seraya mengerucutkan bibirnya. Dan Kevin harus menahan dirinya untuk tidak mengecup bibir menggoda itu. "Kau milikku, Ge! Aku tidak akan menyerahkanmu pada siapa pun."

"Aku hanya milikmu Zhang Xiao. Kevin Wu hanya milik Zhang Xiao seorang." Diraihnya pemuda itu kembali.

"Aku merindukan keluargaku, Ge…" Xiao mempererat pelukannya pada sosok Kevin yang terdiam di sampingnya. "Tapi aku merasa lebih baik karena kau ada di sisiku…"

"Tapi karena aku juga kau tidak punya banyak teman dan kesepian. Karena aku menahanmu dari dunia luar."

"Bagiku itu tidak masalah, Ge… Kau tahu kenapa?" Xiao menatap Kevin yang kini membalas tatapannya. Dirinya sendiri tak mengerti kenapa menanyakan hal itu.

"Kenapa?"

"Karena ada kau, Ge. Dan karena kau yang meminta. Kau sudah cukup bagiku, Ge. Selama ada kau, sekarang aku tak butuh siapa pun…"

"Begitukah?" Kevin tak melanjutkan kata-katanya. Seperti ada sesuatu yang menyesaki dadanya, matanya terasa panas menatap sosok yang tengah berkata penuh keyakinan di sisinya.

"Walaupun aku sempat sedih saat mereka meninggalkanku secara bersamaan. Kesendirian yang tiba-tiba itu jauh lebih menyakitkan daripada yang kusadari." Xiao tersenyum. Mati-matian ia berusaha mengemas senyum saat ia merasakan kehidupan begitu tak adil padanya. "Tapi aku tak boleh menangis. Kehidupan tak memberiku kesempatan untuk menangis, Ge. Karena aku akhirnya menemukanmu."

"Aku menyukaimu yang seperti ini, Zhang Xiao." Masih banyak kata-kata tak berwujud memenuhi kepala Kevin.

"Aku benar-benar beruntung menemukan orang sepertimu, Ge. Kau sangat sempurna. Bahkan satu-satunya kekuranganmu mungkin hanya karena kau terlalu sempurna."

"Aku bukan malaikat, Xiao…"

"Tapi kau malaikatku, Ge."

Kevin tak menjawab. Membiarkan angin yang membelai tubuh keduanya, menebarkan hawa dingin yang memaksa menembus selimut mereka.

"Ayo kita kembali ke dalam…" Kevin bangkit dan mulai berjalan. Namun sesaat kemudian ia berhenti. Dia menoleh dan menemukan Xiao yang belum juga beranjak.

"Ada apa?" Kevin mengangkat sebelah alisnya tak mengerti.

Xiao tersenyum yang membuat Kevin merasakan hal tidak enak.

Jangan-jangan Xiao minta —

"Gendong aku sampai atas, Ge!" pinta pemuda pandaitu tanpa dosa.

—nah benar, 'kan?

"Naiklah." Kevin sedikit merendahkan tubuhnya, dan membiarkan sosok itu meloncat dengan senang ke atas punggungnya.

Dan karena tubuh Kevin yang jauh lebih besar serta bertenaga lebih dari Xiao maka mudah baginya membawa tubuh kekasihnya.

"Kau tahu, Ge?" tanya Xiao saat mereka berjalan di lorong apartment yang sepi.

"Apa lagi?"

"Gendonganmu sangat nyaman dan tubuhmu juga harum…."

Setelah berkata seperti itu, Xiao segera menelusupkan kepalanya ke dalam tengkuk Kevin. Merasakan aroma Kevin yang sangat disukainya. Membiarkan Kevin yang kini tersenyum dalam langkahnya.

...

Xiao terbangun karena tak menemukan sosok Kevin Wu di sisinya. Matanya yang masih setengah terpejam menyusur dan menemukan sosok Kevin Wu yang telah berpakaian rapi tengah berdiri di belakang jendela. Di tangannya terdapat segelas Bolingger Grand Anne yang berwarna kemerahan. Xiao bangkit, piamanya berantakan memperlihatkan bahu pucatnya yang tersingkap. Pria itu berjalan mendekati Kevin dan memeluk sosok yang terbenam dalam lamunan itu dari belakang. Kevin berjengit merasakan tangan Xiao yang melingkar di pinggangnya serta wajahnya yang menelusup di tengkuknya. Satu kebiasaan Xiao.

"Kau sudah bangun, Baobei?"

"Aa," jawab Xiao serak. "Kau masih belum tenang, Ge?"

"…." Kevin tak menjawab.

"Ceritakan padaku, Ge. Aku pasti mengerti…" pinta Xiao.

"Kau tidak akan mengerti." Kevin melepaskan pelukan Xiao dan berjalan ke meja meletakkan gelas wine-nya.

"Ge? Kenapa kau mengatakan hal itu?" Xiao bersedekap menatap Kevin tajam, yang kini memilih memainkan gelasnya. "Kau selalu saja merahasiakan masalahmu dariku, Ge! Kau selalu mengatakan semuanya baik-baik saja. Kau selalu menipuku dengan kata-katamu dan wajah sok tenangmu itu! Kenapa, Ge? Apa yang kau rahasiakan dariku?"

"Aku tak merahasiakan apapun darimu, Xiao!"

"Kau bohong, Ge! Kau bohong!"

"Kenapa kau tidak pernah memercayai kata-kataku, Zhang Xiao?!" teriak Kevin keras. Di tatapnya Xiao di depannya.

"Aku tidak pernah memercayai kata-katamu, karena aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Kevin Wu!" balas Xiao tak kalah keras.

"Apakah kau juga masih tak percaya jika aku berkata bahwa aku ingin membunuhmu?"

"Tidak! Aku tidak akan percaya!" teriak Xiao keras. "Kau bodoh Kevin!"

"Sayangnya kali ini kau harus percaya!"

Xiao terhenyak.

Sebuah revolver kini berada di tangan Kevin, dan tepat mengarah padanya.

"Ge…?" panggil Xiao hati-hati. "Kau tidak ingin benar-benar membunuhku, 'kan?"

"Aku harus membunuhmu, Xiao! Dan kali ini kau harus percaya padaku!" Kevin berkata datar.

"Tapi kenapa, Ge? Kenapa kau ingin membunuhku?" teriak Xiao. Tubuhnya bergetar menahan emosi yang meluap keluar. Hatinya terus berbisik bahwa Kevin hanya bercanda. Kevin sangat mencintainya. Tak mungkinpria itu akan membunuhnya. Tapi sosok yang ada di depannya… seperti —

"Aku tidak punya pilihan, Xiao! Kau harus melihat semua kenyataan yang ada!"

bukan Kevin Wu.

"Tapi kau mencintaiku! Dan aku sangat mengerti itu! Kita akan baik-baik saja." Xiao tercekat. "Kau yang seharusnya melihat kenyataan, Ge!"

Untuk beberapa saat ruangan itu sunyi. Hanya ada Kevin yang merasa bahwa dirinya adalah sosok yang sakit jiwa. Sakit dan hampa.

"Tidak, Baobei! Kau tidak mengerti… Dan kau tidak mengenalku… Maaf. Maafkan aku, Xiao."

'DORR'

Semua terasa berjalan begitu cepat.

Sebuah tembakan terdengar menembus pagi yang suram dan hening.

Xiao terbelalak.

Tubuhnya serasa mengambang tak menjejak bumi. Yang ia rasakan hanya rasa sakit yang berpusat pada dadanya dan menjalar ke seluruh tubuhnya. Tangannya meremas dadanya yang kini mengalirkan likuid merah hangat yang pekat.

Tubuhnya terhuyung, pandangnya mengabur, sebelum akhirnya ia oleng dan jatuh tersungkur di lantai yang dingin.

Samar-samar matanya menangkap sosok Kevin yang berdiri di depannya dengan revolver yang masih mengepulkan asap. Satu yang terlintas di kepalanya.

Kevin mencoba membunuhnya.

Dan ia merasa bahwa begitu banyak yang tak ia ketahui tentang pria itu.

Xiao memejamkan matanya, merasakan sakit yang berpusat di dadanya.

"K-Kevin-gege… Ke-kenapa…?"

Dan akhirnya kesadaran mulai berkhianat dan meninggalkannya.

.

.

.

Kevin ambruk. Tubuhnya seakan mati rasa dan membeku.

Matanya berair menatap tubuh Xiao yang tersungkur di depannya dengan darah yang tak hentinya mengalir.

Satu kalimat terus terngiang di kepalanya.

Kevin Wu telah membunuh Zhang Xiao!

Ia telah membunuh kekasihnya!

Ia berhasil dan itu adalah keberhasilan yang pahit untuknya.

'Brakk!'

Pintu kamar mereka mendadak terbuka, membiarkan dua orang pria yang baru datang melihat adegan yang barusan terjadi.

"Xiao! Kevin!" terdengar teriakan keras. Tak ada jawaban.

Dua orang pria itu —SeHyun dan DaeHyun menatap tak percaya atas apa yang ada di depan mata mereka…

.

.

.

.

.

"Apa yang kau lakukan, Bodoh?!"

'Bug!'

Tangan kekar SeHyun memukul Kevin hingga pria tersungkur. Darah segar mengalir dari hidungnya. Namun ia tak membalas pukulan rekannya. Matanya menatap tubuh Xiao yang kini berada dalam pelukan tubuh mungil DaeHyun yang terisak pelan.

"Hyun!"panggil DaeHyun serak. "Hyun! Ayo cepat kita bawa Xiao ke rumah sakit!"

Darah di tubuh Xiao mulai mengalir di atas t shirt putih yang DaeHyun kenakan.

SeHyun menatap Kevin tajam. "Kita belum selesai, Wu!"

Setelah berkata seperti itu pria tinggi itu segera mengangkat tubuh Xiao ala bridal dan membawanya turun ke lantai dasar. DaeHyun mengikutinya dengan setengah berlari. Mereka meninggalkan pintu apartment yang terbuka lebar dengan sosok pria yang kini menatap kosong aliran darah di depannya.

Aliran darah kekasihnya.

Sosok yang selama ini menyelamatkannya dari neraka kesepian.

Sosok yang membuatnya berhenti mengotori tangannya.

Sosok… yang dicintainya.

Sangat dicintainya.

Yang seharusnya ia lindungi dengan taruhan nyawanya.

Kevin seperti tersadar dari sebuah mimpi panjang yang mengerikan.

Pria itu segera berdiri dan meraih kunci mobil yang tergeletak di atas nakas. Ia bergegas turun dan mengejar SeHyun.

Mobil putihnya melaju di atas kecepatan 100km/jam. Tak dihiraukannya traffic light yang dilanggarnya. Hanya Xiao yang kini ada di kepalanya.

Kevin akan sangat berdosa jika Xiao benar-benar mati di tangannya.

Ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Hal itu akan menjadi dosa yang akan ia tanggung seumur hidup.

"Aku merasa sebentar lagi aku akan mati."

"Aku tidak bercanda, Ge. Aku merasa aku akan mati… Aku akan mati di dekat orang yang mencintaiku…"

Kalimat Xiao terus berputar di kepala Kevin, bagaikan kaset rusak yang menyentak-nyentak. Begitu menakutkan dan menciptakan rasa sakit di atas kepalanya. Rasa sakit yang menghangatkan ujung-ujung matanya.

Kalimat yang sangat ditakutinya jika saat ini kalimat tersebut menjadi kenyataan.

.

.

.

"Nyawa anak itu kemungkinan masih bisa tertolong asalkan operasi pengangkatan peluru segera dilakukan." Telinga Kevin menangkap suara seorang dokter yang kini tengah berbicara dengan SeHyun dan DaeHyun di depan sebuah ruangan. "Kami akan segera melakukan operasi."

.

.

.

"Apa yang ada di otakmu sebenarnya? Sampai kau tega mencoba membunuh kekasihmu sendiri?"

'Bug.'

Sekali lagi SeHyun memukul wajah Kevin yang hanya terdiam atas pukulan-pukulan di tubuhnya. Di sisi mereka DaeHyun terisak. Ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan ia tak mampu menghentikan dua orang pria yang kini tengah bertengkar dan beradu pukul —walau hanya SeHyun yang memukul.

"Kenapa Park SeHyun? Bukankah kau yang sangat bernafsu ingin membunuh kekasihku?"

'Plak!'

Sebuah tamparan mendarat di pipi Kevin. Darah kini mengalir dari sudut bibirnya yang sobek.

"Kau masih berani menyebut dia kekasihmu setelah kau berniat membunuhnya, hah?" Tangan SeHyun mencekal wajah Kevin, memaksa pria itu memandangnya,

"Kita sama-sama kotor. Kita sama-sama pembunuh. Kita sama-sama merasakaan neraka kesepian. Tapi kau tahu apa yang membedakan kita?" SeHyun menyentakkan wajah tampan yang telah babak belur karena ulah tangannya itu kasar. "Aku masih punya hati untuk tidak membunuh kekasihku sendiri. Aku tidak cukup gila untuk membunuh DaeHyun jika itu terjadi padaku!"

Kevin terdiam. Ia mengusap darah di sudut bibir dan hidungnya perlahan.

"Beruntung DaeHyun sempat memberitahuku apa hubunganmu dengan Xiao." Ditatapnya DaeHyun yang tercenung menatap keluar jendela. "Seharusnya aku mencegahmu lebih awal."

SeHyun duduk di atas ranjang pasien. Matanya menatap lantai yang dingin, dan sesekali mengikuti tingkah Kevin yang berkali-kali memukul dinding putih di depannya.

"Sepertinya aku harus mengajarimu teknik membunuh dari awal." SeHyun bangkit dan berjalan ke arah pintu. "Ayo ikuti aku!"

Kevin memandangnya tak mengerti namun akhirnya mengikuti langkah lebar SeHyun meninggalkan DaeHyun yang juga beranjak untuk menuju ruang operasi Xiao.

...

Dua orang pria itu terdiam.

Kevin hanya menurut pada sosok yang menyetir dengan santai di sisinya itu. Yang ia tahu, mereka melakukan perjalanan ke SM's mansion yang ternyata tidak berada di lokasi metropoli Seoul.

Tapi, berada di wilayah sudut kota Seoul, dengan suasana pedesaan yang masih mendominasi.

Setelah melalui area metropolitan Seoul yang ramai, penuh pertokoan dan lalu lalang manusia yang menikmati liburan musim panas mereka, Mobil sport itu memasuki kawasan sepi penduduk, dengan bangunan yang semakin jarang.

Ladang-ladang jagung memenuhi sisi-sisi jalan, di sepanjang jalan yang sepi ini.

Tak lama, ladang jagung itu berakhir dan berganti dengan jajaran hutan, dengan pepohonan yang jarang dan akhirnya melebat.

Jalan yang dilalui mulai berkelok-kelok dan sedikit teduh yang berasal dari rimbunnya pepohonan.

Aneh rasanya melihat mobil sekelas Ferrari melaju di atas jalanan dan suasana seperti ini.

Mereka telah memasuki kawasan pedesaan dengan rumah-rumah bergaya kuno, ditandai dengan dinding batanya yang gelap dan cerobong asapnya yang tinggi. Rumah-rumah itu dibangun teratur di sisi kanan dan kiri jalan, dengan jarak seratus meter antar rumah, dan terpisah oleh kebun-kebun kecil. Desa ini terlihat begitu indah, tenang, dan asri. Samar-samar terlihat sebuah menara bak istana dalam dongeng mencuat di atas pepohonan di ujungnya.

Tak lama, Ferari itu berbelok dan memasuki jalan panjang dengan bunga daisy dan kangguru paw yang bermekaran di kanan-kirinya.

Bak di negeri dongeng, sebuah gerbang tinggi besar terbuat dari perunggu, menyambut Kevin dan SeHyun.

Dengan kendali otomatis dari Ferrari, gerbang itu terbuka memperlihatkan isinya, gedung utama SM's mansion yang menjulang tinggi dan megah.

'Kevin kembali ke neraka yang tempatnya tumbuh sebelum ia mengenal Xiao…"

Di tengah-tengah halaman, terdapat kolam melingkar dengan opera glass yang tepat berada di tengah-tengahnya, artistik dan mewah.

Ferrari itu berbelok menjauh dari kolam dan berhenti dengan lurus di samping Limousine yang telah terparkir sebelumnya.

SeHyun keluar dan menunggu Kevin yang mengikuti langkahnya dengan pertanyaan yang memenuhi kepalanya.

"Untuk apa kau membawaku ke sini, Park?"

SeHyun tak menjawab. Ia hanya memasukkan tangannya ke saku celana. Kevin menatapnya heran saat pria Korea itu mengulurkan Jericho padanya.

Tanpa bertanya lebih lanjut Kevin menerima senjata api itu dan mengikuti SeHyun masuk ke dalam rumah megah, yang hampir saja ia lupakan…

Kevin melewati lorong panjang dengan banyak pintu.

Lukisan dan guci-guci yang mahal dan bernilai seni tinggi terpajang di sepanjang lorong tersebut.

Bersinar dengan cahaya yang berasal dari jendela-jendela tinggi yang menampilkan siluet senja.

"Mansion ini dilengkapi dengan kamera pengawas di setiap sudut-sudutnya. Juga perangkat keamanan lain, yang mungkin bisa disetarakan dengan Markas Besar CIA di Seattle. Yang membedakannya hanyalah mansion ini tidak anti nuklir."

SeHyun menjelaskan sambil terus berjalan, sementara Kevin dengan patuh mengekor di belakangnya. Ia yang pernah hidup di dalam Mansion ini merasa belum pernah mendengar hal ini sebelumnya.

Langkah panjang itu berakhir di sebuah pintu ebony kualitas terbaik.

"Ini ruang kerja tuan Lee JungSoo. Kurasa kau sudah mengenalnya dengan baik." SeHyun berkata sambil menekan tombol hijau di samping pintu. Wajahnya mendongak menatap kamera pengawas tepat di atas pintu.

"Tuan, saya mengantarkan tamu."

Jawaban dari kata-kata SeHyun adalah pintu yang otomatis terbuka di depan mereka.

Keduanya melangkah masuk, namun SeHyun segera keluar meninggalkan Kevin di dalam dan pintu yang tertutup kembali, setelah mengangguk pada seorang ahjusshi.

"Selamat datang, Kevin," sambut ahjusshi yang kini menatapnya.

Ruangan ini termasuk nyaman dengan sofa mewah di sisi kanan, pantry dan kulkas di samping sofa.

Ruangan berada tepat di tengah mansion, melihat dinding-dindingnya yang permanen, dengan satu sisi jendela tinggi.

"Silahkan duduk dulu. Pasti perjalananmu tadi melelahkan." Ahjusshi yang ternyata adalah Lee JungSoo itu meletakkan dokumen yang tadi dipegangnya dan beranjak mendekati Kevin untuk mengajaknya duduk di sofa.

Keduanya saling bertatapan, dan akhirnya seringai tipis terbentuk di wajah ahjusshi itu.

"Bagaimana rasanya harus membunuh kekasih sendiri, Kevin?" pertanyaan JungSoo menohok Kevin tajam.

"Apa maksud Anda?"

"Hahaha kau pikir aku tidak tahu bahwa target yang kuberikan ternyata adalah kekasihmu sendiri, eoh?"

"Anda tidak punya hati! Kalau sudah tahu, kenapa kau tetap memaksaku melakukan ini?" teriak Kevin keras. "Kenapa kau ingin membuat anakmu sendiri menderita?"

"Anak? Kau hanya anak angkatku kalau kau lupa," ejek JungSoo sinis. "Dan sekarang kau tak lebih hanya pembunuh bayaran yang bekerja untukku. Kau harus tahu itu."

Tangan Kevin menekan Jericho di sakunya erat-erat.

"Lalu apa salah Xiao? Kenapa kau ingin membunuhnya?"

"Hahahaha kenapa kau menanyakan pertanyaan bodoh itu padaku?" JungSoo berdiri. Ia berjalan dan menatap suasana luar di belakang jendela tinggi yang buram di depannya.

"Kesalahan harus ditutup dengan kesalahan. Dan kau seharusnya berterima kasih karena aku memberimu tugas ini."

"Apa maksudmu…?"

"Kau tidak ingat keluarga yang kau bantai beberapa tahun yang lalu?"

Kevin tersentak. Ingatannya melayang kembali ke waktu bertahun lalu.

Malam.

Saat hujan mendekap bumi dengan segala kegalaun…

...

Malam mengelam.

Langit seolah tergelak menatap goyangan dedaunan di bawahnya yang terkena jatuhan air darinya.

Langit menghitam, tak terlihat pesona bintang yang berdiam patuh di rasinya.

Dan berteman dengan bayangan malam dan suara petir yang berpesta pora.

Langkah Kevin sampai di depan sebuah apartment mewah.

Tampak lampu yang masih menyala di lantai tiga.

Malam ini Kevin merasa lain.

Ia bagai kehilangan roh keji yang biasa bersarang di tubuhnya.

Hal itu terlihat dari wajahnya yang gelisah.

Sebelumnya, Kevin memang belum pernah membunuh satu keluarga, dia belum pernah merasakan sensasi membantai satu keluarga.

Dan kali ini ia harus melakukannya.

Kevin mendaki satu persatu tangga apartment itu.

Setiap tangga yang ia daki semakin mengurangi keyakinannya.

Namun, langkahnya telah sampai di muka pintu itu.

Ia mengumpulkan segala amarahnya dengan mengingat wajah pembunuh orang tuanya.

Dengan kekuatan penuh ditendangnya pintu itu, bersiap mencabut nyawa semua penghuni di dalamnya.

.

.

.

Ruangan bercahaya temaram ini benar-benar mengerikan.

Neraka seolah melemparkan sebagian eksistensinya di ruangan berukuran sedang yang kini menjadi sorotan utama. Di dinding terdapat bercak-bercak darah kental, menjadi cat ke dua bagi dinding yang tadinya putih. Aura anyir darah menguar ke seluruh sudut-sudut ruangan.

Sementara itu, sang malaikat maut hanya memandang datar atas hasil perbuatannya. Katana berhias tetesan liquid merah masih tergenggam erat di jemari porselennya, katana yang menjadi alat eksekusi utama sang korban Death Angel.

Samar-samar mata sang malaikat kematian melihat foto besar yang terpajang di ruangan yang sebagian besar telah tertutup darah. Matanya menangkap empat orang yang tengah berfoto keluarga.

Dan ia menyadari sesuatu.

Matanya kembali pada tiga mayat yang tak beraturan di depannya. Ia hanya membunuh tiga anggota keluarga. Masih ada satu anggota keluarga Zhang yang belum ia bunuh…

.

.

.

Malam memburuk.

Langit menggeram marah disertai angin yang mengamuk. Kilatan dan suara langit yang menggelegar menjadi alat yang ampuh untuk menahan para makhluk bumi keluar.

Jalanan nyaris tak terlihat tertutup kabut dan butiran hujan yang menggila. Namun, suasana yang seolah setan yang berpesta itu tak mengurungkan niat seorang pria tampan yang nekat menembus kemarahan malam dengan Lamborghini yang terus melaju di atas kecepatan 80km/jam.

Tak ada mimik wajah yang terlihat menyolok dari ukiran sempurna Tuhan itu. Raut wajahnya tetap tenang membawa mobil di atas kecepatan normal dan melawan kegilaan alam. Toh tak ada lawan lain yang melaju bersamanya. Jalanan kelewat sepi, dan orang-orang tidak cukup gila untuk keluar saat malam sedang gila seperti ini. Dan ia yang baru saja menghabisi nyawa keluarga Huang sesekali melirik darah yang menempel di atas kemeja putihnya. Ia berharap segera sampai di apartment dan membersihkan noda pekat yang merusak penampilannya itu.

Namun hal itu tak berlangsung lama.

Dari kesamaran warna malam nan pekat, mendadak matanya menangkap sosok kecil tergeletak tepat di depannya.

"Cittt."

Suara rem yang berdecit, memecah suara hujan di jalanan yang sepi itu. Butuh usaha penuh dari sang pria untuk menghentikan mobilnya secara mendadak dalam kecepatan tinggi disertai jalanan licin yang membuat gaya gesek sangatlah kecil. Mobil itu berhenti dalam posisi nyaris berputar ketika akhirnya berhenti total.

Pria itu segera turun dari mobilnya dan melihat sosok kecil yang tergeletak di tengah jalan. Matanya melebar ketika sosok itu benar-benar sosok pemuda kecil berusia sekitar sembilan tahunan yang tengah meringkuk. Pria tampan itu reflek berjongkok dan memeriksa nadinya. Selamat, denyut yang sangat lemah masih terasa.

Tanpa berpikir panjang. Diangkatnya sosok kecil itu ke dalam mobil. Dibaringkannya di sisinya.

Dia kembali memacu mobilnya. Dengan satu tujuan… rumah sakit.

Sesekali diliriknya sosok kecil basah kuyup di sampingnya.

Kulitnya yang berwarna putih pucat terlihat membiru.

Tubuhnya melemah, bahkan menggigil pun seolah tak mampu.

Pria itu menambah kecepatan mobilnya. Entah kenapa mendadak jalanan terasa jauh dan panjang. Dia sedang berburu dengan waktu. Jantungnya mendadak berdetak berkali lipat lebih cepat dari biasanya. Bahkan tetesan peluh mulai menetes di dahinya, berbaur dengan air hujan yang sempat membasahinya. Dia berkeringat juga kedinginan. Keinginan untuk menyelamatkan sosok kecil di sisinya benar-benar merasukinya. Bagaikan kekuatan yang membuatnya tak menyadari ia berpeluh tapi kedinginan.

Hingga akhirnya bangunan putih bertingkat itu terlihat.

.

.

.

"Kondisinya sekarang stabil. Beruntung anda segera membawanya, karena jika terlambat sedikit saja, anak itu bisa terserang hypothermia dan meninggal."

Pria itu bersorak dalam hati. Dia belum terlambat. Tubuhnya bergetar hebat. Ternyata Tuhan menolongnya. Tuhan mengizinkannya untuk menyelamatkan satu hambanya.

"Tapi, karena berada dalam kondisi kedinginan yang cukup lama… akan ada masalah lain. Kemungkinan paru-parunya tidak akan berfungsi senormal dulu…."

...

"Jangan-jangan…" Kevin tak melanjutkan kata-katanya. Matanya kini menatap punggung JungSoo tajam.

"Ya, benar sekali. Keluarga yang kau bantai malam itu adalah keluarga dari Zhang Xiao." JungSoo berbalik dan membalas tatapan Kevin. "Anak yang kau selamatkan sekaligus kekasihmu."

Kevin terhenyak. Tangannya mengepal erat. Buku-buku jarinya memutih menahan emosi yang seakan ingin meledak keluar.

"Kesalahan harus ditutup dengan kesalahan. Kau yang telah membunuh keluarganya, harus menghabisi bocah itu sebagai sisanya. Hahaha kau sadar sekarang, Kevin Wu… bahwa takdir itu begitu kejam."

"Kenapa aku harus membunuhnya? Dan kenapa kau menyuruhku menghabisi nyawa keluarga Huang? Kenapa JungSoo-sshi?!"

"Kau pikir pria itu akan memaafkanmu setelah tahu bahwa kau yang telah membantai keluarganya, eoh? Bodoh! Dia akan berbalik membencimu!" teriak JungSoo keras.

"Aku tak peduli dengan semua itu!" Kevin berdiri dan mengacungkan Jericho pemberian SeHyun tepat ke arah ahjusshi di depannya.

"Kau! Jangan coba-coba melakukan ini, Kevin!"

"Aku tidak akan coba-coba! Kau yang membuat hidupku berantakan! Dengan membunuhmu aku akan mengakhiri semua ini!" Kevin mulai mengaktifkan senjata berpengaktif jari tersebut. "Aku bisa membunuh orang lain dengan mudah sesuai perintahmu. Dan kali ini target terakhirku adalah kau sendiri; Lee JungSoo."

'DORR'

Letusan senjata terdengar memecah ruangan mewah kedap suara tersebut.

Asap mengepul keluar dari ujung Jericho di tangan Kevin yang baru saja melubangi dada sang ahjusshi di depannya. Tubuh tua itu pun ambruk menyentuh dinginnya lantai.

"K-kau akan menyesal melakukan ini padaku!" Wajah itu mendongak menatap Kevin yang tengah memandangnya dingin.

"Aku tidak akan menyesali apapun. Terima kasih kau sudah merawatku dan mendidikku menjadi pembunuh selama ini." Kevin berjalan dan berhenti di depan pintu besar saat ia masuk tadi.

"Kau tidak mengerti! Ayah Zhang Xiao adalah orang yang menyuruh pembunuh bayaran untuk membantai keluargamu dan membakar rumahmu! Kau seharusnya tahu itu! Orang tua bocah itu sama kotornya denganmu!"

Deg.

Kevin berbalik menatap JungSoo yang tersungkur dengan darah yang mengalir di mulut dan dadanya tajam.

"Apa maksudmu?"

"K-kau pikir untuk apa aku menolongmu? Merawatmu selama ini? Kau adalah cucuku! Lee YeRin, ibumu adalah anakku. Dan karena persaingan bisnis orang tua dari Zhang Xiao menyuruh orang untuk menghabisi keluargamu. Mereka tidak tahu bahwa mereka telah membunuh anak dari Lee JungSoo!"

"A-aku tidak percaya! Kau tidak memberitahuku soal ini sebelumnya!" Kevin tercekat.

"Dengan memilih menolong anak itu, kau melakukan kesalahan terbesar. Kau menolong anak dari pembunuh orang tuamu."

Kevin menunduk menatap lantai dingin di bawahnya. "Setidaknya kekotoran kami sama. Takdir kami sama. Itu… yang ingin aku pertahankan. Jeongmal mianhae…"

Kevin pun melesat pergi meninggalkan mansion besar itu dengan lelaki yang sekarat di dalamnya. Lelaki yang menyebut dirinya kakeknya.

Takdir memang begitu kejam mempermainkan mereka….

.

.

.

Kevin terdiam selama perjalanan yang membawanya kembali ke pusat Seoul. Park SeHyun pun tak berniat menginterupsi pria itu dalam pikirannya. Ia hanya fokus pada kemudi di tangannya.

Kevin menatap pepohonan yang seolah berlarian mengejar mereka. Musim semi baru saja tiba. Dan ia kembali dalam keadaan yang sama.

Bagaimana mungkin jika takdir akan mempermainkan mereka sekejam ini? Kenapa ia harus dipertemukan dengan Xiao dalam keadaan seperti ini?

Orang tua Xiao yang menyuruh orang membantai keluarganya.

Dan ia… tanpa sadar telah membalas dendam orang tuanya dengan membantai keluarga Xiao. Ia dan Xiao hanya sisa dari permainan kecil takdir.

Sebuah permainan yang menghancurkan hidupnya.

Dan ia sama kotornya dengan pembunuh orang tuanya. Sama kotornya.

Lee JungSoo telah menanamkan kekotoran padanya. Sebuah kekotoran yang diterimanya tanpa ia sadari. Lelaki yang mengangkatnya menjadi anak, dan ternyata lebih dari itu. Kakeknya sendiri yang mengukir takdir kejam untuknya.

Benar.

Takdir itu berputar.

Terus berputar dengan begitu kejam!

.

.

.

.

.

.

"Sekarang dia sudah sadar. Beruntung peluru tidak mengenai bagian vitalnya."

Kevin dan SeHyun menemukan DaeHyun yang tengah berbicara dengan dokter.

"Hyun! Kevin!" Pria itu berteriak senang melihat kehadiran Kevin dan SeHyun. Ia segera menyuruh keduanya memasuki ruangan tempat Xiao dirawat dengan isyarat.

Obsidian Kevin menemukan onyx Xiao yang menatapnya redup.

"Ge…" panggil Xiao lirih saat pria itu bergerak ke arahnya yang tengah terbaring dengan perban membalut tubuhnya. Kevin tak menjawab. Ia mengembalikan Jericho SeHyun dan mengambil revolver miliknya sendiri dari sakunya. Ia kembali mendekati Xiao yang melempar pandangan tak mengerti.

Pria itu tak ingin menembaknya lagi kan?

Kevin mengecup dahi Xiao singkat, bahkan sebelum Xiao sadar apa yang terjadi. Dan ia letakkan revolver berisi peluru itu di meja tepat di samping Xiao. Kevin berjalan mundur. Membiarkan Xiao menunggu apa yang akan ia lakukan.

"Ge…"

"Saranghae, BabyXi. Jeongmal saranghae…" Kevin berucap pelan, mencoba mengalahkan air mata yang kini meluncur dengan lancang di pipinya.

"Ge…"

"Mianhae. Jeongmal mianhae."

"Aku sudah memaafkanmu, Ge. Aku tahu kau tidak berniat membunuhku…" Xiao tersenyum lembut.

"Aku yang membantai keluargamu, Xiao."

Deg.

Senyum Xiao mendadak memudar dari wajah pucatnya.

"Aku yang membunuh mereka malam itu."

"A-apa yang kau katakan? Jangan bercanda, Ge!"

"AKU TIDAK BERCANDA, ZHANG XIAO!"

"Kau tidak lucu, Ge!" Air mata mulai mengalir di atas pipi pucat Zhang Xiao.

"Tidakah kau bisa memercayaiku sekali saja?" Kevin berteriak serak. "Aku yang membunuh keluargamu. Dan aku juga mencoba membunuhmu!"

"Kenapa? Kenapa semua jadi seperti ini?" Xiao berteriak menuntut jawaban. "Aku memaafkanmu yang mencoba membunuhku. Tapi kenapa kau tiba-tiba berkata kau juga membunuh orang tuaku? Apa salah mereka?"

"Mereka membunuh orang tuaku, Baobei." Kevin tersenyum getir. "Orang tuamu membunuh orang tuaku. Kita hanyalah sisa takdir yang harus meneruskan takdir tanpa kehilangan sisi kejam yang pernah ia berikan pada masa lalu kita."

"Ge…" Xiao terisak keras. Bahunya terguncang menahan air mata yang mengalir deras.

"Sekarang keputusan ada di tanganmu." Kevin bergetar. "Kita tidak mungkin hidup bersama dalam rantai takdir seperti ini. Betapapun kita memaksa untuk bersama. Rasa benci dan dendam itu akan hadir dan menyerang kita kapan saja."

Tangan Xiao bergerak menyentuh revolver yang terasa dingin di kulitnya. Jemari itu gemetar saat mengarahkan moncong senjata pada sosok Kevin yang tersenyum getir.

"Kau tahu, Ge… Saat kau mencoba membunuhku aku masih bisa memaafkanmu." Jemari itu gemetar mencoba menahan posisi moncong revolver tetap di targetnya. "Tapi saat kau bilang kau membunuh keluargaku, entah kenapa semua kebencian bertumpuk padamu. Kenapa Ge? Kau yang menarikku dari jurang kesepian tapi kau sendiri yang memasukkanku ke jurang yang sangat mengerikan itu. Kenapa, Ge?"

"Karena tadir menulis kita harus begitu. Kita tak akan bisa hidup bersama dalam kebencian dan dendam. Kita tak akan bisa. Takkan akan pernah bisa…"

"Du bu qui, Ge!" Jemari itu menekan pelatuk.

"Aku mengerti, Xiao…" Kevin tersenyum.

Untuk terakhir kali.

"Xiao! JANGAN!" teriak DaeHyun keras. Tubuh berontaknya ditahan SeHyun mati-matian.

'DORRR!"

Terlambat.

Kevin Wu tersungkur dengan peluru tepat mengenai jantungnya.

"Terima kasih, Xiao. Kau telah menyelamatkanku dari sebuah penyesalan yang tak ingin kutanggung seumur hidupku…"

Denyut itu melemah.

Napas itu mulai sesak.

"Aku tidak bercanda, Ge. Aku merasa aku akan mati… Aku akan mati di dekat orang yang mencintaiku…"

"Terima kasih, karena kau membuatku mati di tangan orang yang kucintai…"

Mata itu mulai terpejam.

"Saranghae, Zhang Xiao. Jeongmal sarang… hae…"

Nadi itu berhenti.

Selamanya…

"KEVIN!" teriakan DaeHyun sia-sia.

.

.

.

.

.

Xiao gemetar hebat.

Ia melempaskan senjata yang baru saja ia gunakan untuk menghabisi nyawa Kevin.

"Ge!" panggilnya bergetar. Matanya ragu-ragu menatap Kevin yang kini terkulai di pelukan SeHyun.

"Ge! KEVIN–GE JAWAB AKU!" Xiao tertatih turun dari ranjangnya dan mendekati tubuh kaku Kevin.

Ia berteriak keras saat menyadari pria itu tak akan bisa lagi membalas panggilannya.

Xiao telah berhasil membalas dendam orang tuanya.

Ia telah berhasil.

Ia telah berhasil membunuh kekasih-nya.

Zhang Xiao telah membunuh Kevin Wu itu yang terjadi…

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tempat itu sepi.

Petang mulai jatuh perlahan menggantikan senja dengan rasa malas yang menahan. Dua orang pria itu masih di sana. Menatap nanar batu bernama di depannya. Batu tempat seseorang tak akan bangkit lagi.

Selamanya.

Batu tempat jenazah Kevin Wu berada.

Terbaring atas korban kekejaman takdir pada hidupnya.

Nam DaeHyun dan Park SeHyun, dua pria yang menjadi saksi kejam dari takdir dua pria lainnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Beberapa tahun kemudian…

Exost Medical Research Center. Terlihat dua orang pria yang tengah membicarakan sesuatu dengan ahjusshi berpakaian dokter di depan mereka. Mereka—DaeHyun dan SeHyun sepertinya tengah membicarakan sesuatu yang serius.

"Jadi, bagaimana keadaannya sekarang?"

Dokter itu menggeleng pasrah. "Tak ada yang perkembangan yang berarti dari pria itu. Satu-satunya yang bagus hanya kali ini dia sudah mengurangi frekuensi percobaan bunuh dirinya."

"Hanya itu? Apa dia sudah bisa diajak bicara?"

"Belum. Dia masih menutup diri terhadap siapa pun. Dan masih sering mengalami mimpi buruk. Bahkan delusi dan halusinasi yang ia hadirkan terlalu mengerikan."

"Tapi ini sudah lebih dari empat tahun sejak kejadian itu!"

"Kami tahu. Tapi sayang sekali beginilah keadaannya—!"

DaeHyun dan SeHyun saling melempar pandang getir.

"—Zhang Xiao tak ubahnya raga tanpa jiwa dan… ia hidup di dunianya sendiri."

.

.

.

.

.

Pria itu tercenung.

Onyx-nya memandang kosong atas lautan rumput yang bergoyang di depannya. Bergoyang tertiup angin yang terlalu lancang mempermainkannya. Entah apa yang ada di pikirannya.

Ia bergeming.

Bahkan ketika warna jingga terbias sempurna di atas langit yang memayunginya.

Maupun suara pintu di belakangnya yang terbuka pelan. Sesosok pria masuk ke ruangan dan berdiri di belakangnya.

"Nihao, Xiao."

Pria itu menyapanya. Lembut.

Sosok bernama Xiao itu seolah tak mendengar, pun ketika pria di belakangnya itu melanjutkan kalimatnya.

"Aku ingin berteman denganmu… Kris Wu imnida…"

.

.

.

.

.

.

THE BEGINNING...The author would like to thank you for your continued support. Your review has been posted.