ANSWER

.

Bukan suatu masalah bagiku untuk melewati hari seorang diri tanpa teman bermain. Aku nyaman dengan sunyi tempat tinggalku sekarang; sebuah gedung kosong di samping taman di pinggiran kota Okinawa. Ya, benar di samping taman. Setiap hari, taman dengan lahan luas itu dikunjungi banyak orang. Aku tidak tahu berapa jumlahnya, tapi sangat banyak menurutku. Sebenarnya jika aku mau, aku bisa saja bermain sampai lelah di sana. Aku bisa saja berlari memutari kolam, melompat-lompat atau bermain bola bersama siapapun, atau aku bisa tidur di bangku taman sampai sore lalu bermain petak umpet bersama tikus-tikus besar.

Tapi menurutku, aku cukup puas dengan keadaanku suka saat-saat aku memandang keluar jendela untuk melihat burung-burung berada sejajar dengan matahari saat juga sangat menikmati waktu -malasan di rumahku dan tidur siang sepuasnya.

Tetapi, menunggu Hikarudatang adalah yang terbaik.

Hikaru selalu datang mengunjungiku sejak beberapa waktu yang biasanya mulai menampakkan diri saat matahari mulai meredup. Dan saat itu tiba, aku akan duduk menghadap pintu besar, dan menunggu. Atau jika aku tidur terlalu lelap, aku akan terbangun di pangkuannya yang hangat. Nyaman sekali. Atau jika aku sedang sibuk mandi lalu dia tiba-tiba datang, aku akan melompat girang ke arahnya.

Hikaru tidak bisa aku abaikan.

Hari ini aku meringkuk di dekat jendela, karena di luar sedang hujan dan cuaca semakin dingin. Kilat menyambar beberapa kali, dan suara berisik di jendela benar-benar menunggu Hikaru datang. Kalau tidak sedang hujan, sudah pasti aku akan menunggunya di dekat gerbang.

Masalahnya aku tidak suka air dan aku benci basah.

Jadi aku tetap diam, meringkuk dengan mata terpejam tanpa kehilangan kesadaran. Diantara bau tanah basah dan bau kayu lapuk, aku mencium bau yang aku suka; bau amis darah dan bau sake. Menyengat, dan berbaur dengan bau tubuhnya yang hangat.

Hikaru datang!

Aku tau dia pasti datang!

Beberapa degup jantung, lalu siluet Hikaru mulai nampak di ambang bertubuh tinggi aku berdiri di sampingnya, aku merasa seperti semut; berwarna hitam sama seperti warna bola matanya, kontras dengan kulitnya yang pucat seperti warna daging ikan mas.

"Hikaru!"Aku berseru dengan girang.

Dia berjalan dengan gusar sambil mengacak rambut."F**king rain."

Hikarutidak menghiraukan menatap langit dengan mata menyebalkan.

Aku juga menatapnya dengan mata menyebalkan.

"Hikaru!Hikaru jawab aku!"

Hikaru menoleh dan matanya menyipit—dia tersenyum, "Misa-chan, eh? Apa kabar?" tanyanya saat menunduk.

Dia baru menyadari keberadaanku setelah aku memukul-mukul kakinya? Menyebalkan! Dia mengabaikanku menoleh, berjalan menjauh.

"Huh!" Aku mendengus.

Aku baru berjalan beberapa langkah sebelum tangannya merengkuhku, menarikku dekat ke dadanya.

"Apa kabar?" tanyanya.

" sekarang aku jadi basah karenamu!"Aku melompat turun saat menyadari tubuh Hikaru sangat basah.

"Dingin!" seruku kesal sambil berjalan menjauh lagi dengan setengah hati— karena aku sangat suka bau tubuhnya.

"He?Mau kemana?"

Suata langkah kakinya terdengar di berakhir dengan duduk di pojok ruangan, bersandar pada tembok sementara aku bersandar pada dadanya.

"Lapar?Aku punya makanan," ujar Hikaru.

Sontak aku mendongak menatapnya, "Ya!" seruku.

Dia mengusap hangat dan besar—seperti baru saja merasa nyaman saat tiba-tiba Hikaru meraih ranselnya.

Ia mengaduk-aduk isi tasnya. Berisik sekali.

"Mencari apa?"Aku menatapnya bingung.

Hikaru tak degup jantung, lalu Hikaru mengeluarkan kotak bekal.

Ia tersenyum lalu berkata, "Aku tidak lapar. Untukmu saja, ya?Masakan Miyoko…cukup ."

"Miyoko siapa?"Aku menelengkan kepala."Apa dia tukang masak ikan?"Aku mengendus kotak bekal dihadapanku.

Di kotak bekal itu ada tamago, tempura, dan onigiri.

Mungkin akan aku coba satu.

Aku menguyah perlahan, "Lumayan."

Hikaru tidak sibuk mengusap darah di pipinya yang pipinya tidak juga melanjutkan makan sembari sesekali mencuri pandang ke arahnya.

Hikaru beranjak, berjalan ke seberang ruangan lalu berteriak keras— setelah sebelumnya berbicara di ponsel kepada… Miyoko?Aku lupa namanya.

Lalu yang kuingat selanjutnya, bau darah semakin kentara, seiring Hikaru meninju tembok berkali-kali sambil menyumpah.

.

.

"Hikaru!"

Hikaru tidak menjawab.

"Hikaruu!"

….

"Hikaru!Bodooohh!"

Hikaru diam memainkan ponselnya sambil berbaring seperti orang berani bertaruh dia membolos lagi hari ini.

" , aku lapar."Aku berjalan mendekat dan menarik-narik celananya.

Hikaru menggendongku di atas menunjukkan layar ponselnya gambar seorang wanita dan seorang pria paruh baya—Hikaru tersenyum riang ditengah kedua orang tersebut.

"Ini..keluarga," lirihnya.

Mana kutahu?

Aku menepis ponselnya.

"Lalu apa hubungannya dengan ikan?Apa keluarga punya ikan?Aku lapar!"

Hikaru tidak kembali menyodorkan ponselnya. Kali ini ada gambar Hikaru bersama seorang perempuan bermata besar dan berpipi tebal.

"Dan ini aku bersama Miyoko."

Oh.

"Dia…baik sekali."

Lalu?

"Dan seharusnya aku merasa bahagia."

Aku memandang matanya lama.

"Seharusnya?"Aku menelengkan .Hikaru tidak tidak juga tersenyum.

Lalu aku mengerti; ini tidak ada hubungannya dengan ikan atau bento yang tidak dimakan.

.

.

Semakin lama, bau sake yang menguar dari tubuhnya semakin suatu hari, Hikaru datang dengan botol kaca besar di tangannya. Dia menenggak isinya seperti tidak minum lama sekali, lalu ia melempar botol kosong itu asal.

"Hikaru, minum apa?" tanyaku.

Dia menarik rambutnya kembali berteriak, tidak aku hanya diam di sampingnya yang duduk bersandar pada dinding gedung.

"F**k."

"Kau baru saja minum…f**k?Apa itu enak?"

Hikaru tidak saat, hening menggantung diantara dia menyambar ranselnya dan berlari keluar gedung.

Sebelum kutemukan alasan mengapa, aku mengikutinya dari mensejajarkan langkahku dengan langkah-langkahnya yang besar—jadi aku berlari kecil.

"Hikaru kenapa?" tanyaku.

Sosokku terlalu kecil dan suaraku tidak lebih baik. Bisa kupastikan dia tidak mendengar, apalagi menyadari keberadaanku di tengah riuh rendah pusat kota. Hikaru tetap naik-turun cepat sekali saat menatap layar ponsel.

Aku tidak mengerti apa yang ada di ponselnya. Mungkin ponselnya mempunyai bubuk cabai sehingga Hikaru tidak bisa bernapas dengan baik—dada naik-turun semakin cepat.

Tapi aku tidak yakin.

Kami berjalan dalam diam gelap tidak menjadi hambatan bagiku untuk terus mengikuti Hikaru—pandanganku lampu jalan membuatku sadar bahwa Hikaru terlihat memakai seragam yang disana-sini terdapat bercak kusut, matanya sembap dan kantung matanya hitam— sorot matanya tidak kumengerti.

"KAU MATI SAJA!"

"AKU AKAN MATI DENGAN SUKA RELA SETELAH KAU MEMBUSUK DI TEMPAT SAMPAH, IDIOT!"

"SIAPA YANG IDIOT?!"

Lalu ada suara barang yang pecah, suara tamparan yang memekakkan telinga, dan suara bising lainnya seperti ketika aku mengejar tikus-tikus di gedung kosong tempat itu terdengar dari luar gerbang sebuah rumah tanpa perlu aku menajamkan pendengaran.

Hikaru menghela napas sebelum memasuki gerbang.

"Ini rumahmu?" tanyaku.

Hikaru tidak menjawab.

"Aku mengunjungi rumah Hikaru!"Aku berseru girang sambil berlari-lari diantara kaki Hikaru.

Ini kali pertama aku, mengunjungi rumahnya. Biasanya Hikaru akan datang ke gedung; marah-marah atau bermain denganku, menceritakan sekolahnya yang menurutnya membosankan, atau menceritakan apa yang ia lakukan seharian ini. Ia selalu bercerita walau pada dasarnya ia pendiam—tetapi ia tidak pernah menceritakan soal rumahnya, atau segala sesuatu tentang tempatnya tidur saat malam hari. Sekalipun aku bertanya, Hikaru tidak pernah menjawab.

Hikaru tidak pernah menjawab apapun yang aku tanyakan.

"F**k my live," ujarnya saat membuka mengeras dan sorot matanya menajam.

Rumah Hikaru sangat barang berserakan—utuh maupun hancur memenuhi mengedarkan pandangan; di ruang tamu ada seorang wanita dengan mata nanar, memandang ke arah kami.

"Kaa-san…" Aku mendengar Hikaru berujar. Kakinya baru akan melangkah ketika seseorang menyalak dari balik punggungnya.

"Darimana saja kau?!Pulang dengan penampilan menyedihkan seperti ini!"Suara rendah itu membuatku pria paruh baya datang dan menarik kerah kemeja Hikaru, menyentak tubuhnya dengan keras.

Hikaru menatapnya melawan, tidak juga menghindar—Hikaru hanya diam. Aku berjalan mendekat dan duduk di samping kakinya.

Hikaru menarik ujung bibirnya, mencibir."Pulang?Ini bahkan bukan rumah untuk pedulimu?"

Tanpa memberikan waktu untuk menghela napas, pria tersebut melayangkan tinju ke bawah rahang menjerit keras namun tak mungkin terhuyung lalu membentur lemari di belakangnya.

"Kau tidak pernah mendengar kata-kataku, anak kurang ajar!Betapa sulitnya mendidik anak bodoh sepertimu!"Pria tersebut kembali menyalak.

Hikaru tidak menoleh ke hanya duduk diam disana tanpa memandang melompat ke pangkuannya.

"Ayo ke rumahku saja," tidak nyaman berada di diperlakukan seperti seorang yang jahat.

Hikaru hanya diam. Tidak menjawab.

"Hikaru, ayo kita pergi disini."Aku menempelkan hidungku ke ujung dia tidak bisa menyadari keberadaanku disampingnya, jika seperti ini dia bisa menyadarinya.

Hikaru tidak menjawab.

Aku bias melihat pria dan wanita itu kembali berteriak satu sama lain, sambil menunjuk-nunjuk Hikaru. Wanita itu memukul-mukul dada pria tersebut sambil menjerit sanggup memekakkan telingaku, tapi Hikaru tetap diam.

"Aku tidak suka disini. Kau juga, kan? Kau tidak suka disini, kan? Ayo pergi!"Aku menjilati pipinya, mencoba menarik perhatiannya."Hikaru!"

Beberapa degup jantung, sebelum akhirnya dia menoleh ke arahku. Lalu ia membawaku pergi keluar. Ia berjalan cepat, dadanya kembali naik-turun seolah-olah tersedak bubuk cabe. Hikaru mendekapku tersebut meneriakki kami dari pintu gerbang—Hikaru tidak peduli, dia tetap berjalan.

Saat aku mencobamencerna apa yang baru saja terjadi, aku menyadari satu hal; pria dan wanita tersebut adalah orang yang sama yang waktu itu ada di ponsel Hikaru— berfoto bersamanya.

Yang Hikaru sebut sebagai keluarga.

.

.

"Hikaru, mau kemana?"

Hikaru tidak menjawab.

Aku hendak memprotes lagi, saat cahaya terang mengalihkan perhatianku.

Aku -lampion berpendar sejauh pandanganku dalam beragam banyak sekali orang-orang memakai yukata maupun hakama.Aku mengendus-endus, ada bau manis kacang merah bercampur dengan bau ikan dan gurita.

Mataku membulat sempurna, menemukan yang aku inginkan, "Aku mau yang itu, Hikaru!Aku mau yang itu!" Aku menunjuk ikan beraroma manis di atas meja.

Hikaru tidak menjawab.

Aku berusaha melepaskan diri dari Hikaru, namun Hikaru mengeratkan dekapannya.

"Ne, Hikaru aku mau yang ituu! Eh, kita mau kemana? Aku mau main dan juga harus makan... dan main juga!"Aku memandang Hikaru kesal.

Hikaru tidak menjawab.

Beberapa kali mencoba menarik perhatian Hikaru, namun gagal.

Aku mengalihkan pandanganku dari wajah menyebalkan Hikaru ke jalan setapak di depan kami. Suara-suara di festival yang kami lewati semakin samar; kami menjauhi keramaian menuju tebing yang dibatasi pagar kayu sekali lompatan, Hikaru berada di balik pagar terguncang-guncang di dekapannya saat dia berlari kecil ke puncak tebing.

"Hikaru! Mau apa kesi—" ucapanku terpotong saat Hikaru membiarkanku turun dan melihat ke depan; cahaya dan warna di tempat festival itu sangat mengagumkan. Saling berpadu dan membentuk spektrum indah dari pendar jingga, merah (atau hijau?) dan kuning lampion.

Aku sini, wajah Hikaru seolah-olah bersinar tertimpa cahaya di kejauhan. Dia mengecek jam yang melingkar di lengannya.

"Sebentar lagi tengah malam, sebentar lagi hanabiakan memenuhi langit," ujarnya.

Aku ingat hanabi; suara berisik, bau benda terbakar, dan warna-warni sesaat di kali aku melihatnya saat di perayaan tahun itu aku sedang duduk di jendela gedung ketika tiba-tiba seseorang di gerbang menyalakan hanabi mendekatinya karena penasaran. Ketika cukup dekat, aku melihat sosoknya berjongkok memainkan hanabikecil di kedua tangannya,

Lalu aku mengenalnya sebagai Hikaru.

"Mari menghitung ingat hanabiwaktu tahun baru, kan?"

Seolah-olah dia membaca pikiranku.

"Ini sama saja dengan waktu mungkin… lebih berisik dan lebih besar?"Hikaru melangkah mendekati ujung tebing.

"Dan kali ini… mungkin akan ada keributan? Oh, tidak. Tidak akan ada yang mengenali sosok menyedihkan teronggok di jurang. Tidak akan."

Lalu Hikaru tidak suka tawanya. Dia melangkah lagi ke depan, lalu mendongak dan mulai menghitung mundur.

"Tiga…"

Aku tidak suka dia menghitung mundur.

"Dua..."

Aku menggigit ujung harus mundur. Dia tidak sepertiku, jika jatuh, dia akan sakit.

"Satu."

Suara ledakan tak terdengar.

Semuanya membisu.

Seolah-olah aku tuli.

Ditengah hanabiyang memesona di langit, aku berteriak.

Hikaru melompat dari tebing tepat saat hanabi berpikir, aku ikut melompat, lalu mendarat dengan Hikaru yang kukira sudah tak berbentuk, ternyata tersangkut di pepohonan.

"Hikaru!"Aku berseru kaget saat suara yang memekakkan telinga terdengar dari dahan disusul suara benturan keras antara tubuh Hikaru dan tanah dibawahnya.

Aku berlari mendekat dan tidak menghiraukan suara jeritan dari atas atas, ada seorang wanita yang melihat ke arah kami.

"Tolong Hikaru!"

Aku mengitari tubuh Hikaru yang diam, menginjaknya, menempelkan hidungku pada kali ini, tetap tidak ada respon.

Entah berapa lama aku berbaring di samping Hikaru di tanah yang dingin, sampai beberapa orang berbadan besar datang dan membawanya pergi dari sana dan menuju ke kendaraan putih yang mengeluarkan suara dengingan tak henti.

Aku juga ikut naik bersama tak boleh meninggalkannya sendirian, pasti Hikaru kesakitan.

Aku meringkuk di bawah selimut yang ternodai warna merah yang semakin melebar, di samping samping Hikaru.

.

.

Aku terbangun saat mendengar suara pintu perempuan bermata besar datang dengan wajah menghambur memeluk Hikaru yang duduk memangkuku.

"Bodoh! Kenapa bias seperti ini?! Apa yang kau pikirkan, hah?!" Perempuan itu menangis di dada Hikaru.

"Jangan menangis, Mii."Hikaru membelai kepalanya lembut, lalu mencium puncak kepalanya lama.

Aku melompat turun dari pangkuan Hikaru.

"Siapa dia?" tanyaku

Hikaru tak menjawab.

"Kenapa kau menciumnya?" tanyaku lagi

Hikaru tidak menjawab.

Dirinya sibuk tersenyum dan menenangkan perempuan yang kini duduk di sampingnya.

"Miyoko-chan, aku minta maaf."

Oh, jadi namanya Miyoko. Aku mengingatnya sebagai orang yang membuatkan Hikaru bekal—yang akhirnya aku makan. Miyoko yang ada di ponsel Hikaru, yang menurut Hikaru, seharusnya ia bahagia bersama Miyoko.

"Apa sekarang kau bahagia?" aku bertanya lagi setelah mendengar Hikaru tertawa lepas saat Miyoko mengucapkan sesuatu.

Hikaru tidak , dia tidak pernah menjawab apapun yang aku katakan. Ada yang tidak bisa Hikaru mengerti dari diriku, seperti aku tidak mengerti apa yang dialami Hikaru selama ini.

Tapi pada akhirnya aku mengerti satu hal, tanpa perlu Hikaru menjawab, dan tanpa perlu aku tanyakan padanya; Hikaru bahagia bersama bahagia yang berbeda dengan bahagia saat Hikaru bermain bersamaku.

Hikaru bisa menjawab apa yang Miyoko tanyakan. Mereka bisa berbincang dan tertawa bersama.

Tidak seperti aku dan Hikaru.

.

.

Beberapa hari aku tetap menemani Hikaru yang harus terus berbaring pun tetap ada di sampingnya, Miyoko menjaga, merawat, dan membuatkan Hikaru makanan yang enak.

Miyoko melebihi segala dari apa yang sanggup aku lakukan untuk Hikaru.

Miyoko membuat Hikaru bahagia.

Hikaru pun bahagia bersamanya.

Maka hari ini aku memutuskan untuk pergi meninggalkan Hikaru yang "bahagia" bersama Miyoko.

.

.

Saat ini aku sedang berjalan di sebuah taman, saat aku melihat seorang anak kecil yang sedang bermain sendirian di kotak pasir. Aku mendekatinya.

"Hey."

Dia menoleh mendengar suaraku.

"Kenapa sendirian? Apa kamu punya teman?" tanyaku

Mata anak itu berbinar dan dia mengulurkan tangannya untuk membelai kepalaku.

"Main bersamaku yuk, kucing!" ucap anak itu sembari tersenyum cerah.

"Baiklah, kurasa aku mau main bersamamu."

.

.

END

.

.