Fall

Katakai, Agustus 2013

Bodoh! Seharusnya aku tidak meladeni orang-orang tidak berguna ! Aku terlambat!

Aku terus berlari tersusul oleh waktu.Hanabi Matsuri1 kali ini lebih ramai dari yang aku dengar deretan kios tahun ini lebih panjang dari tidak yakin apa aku ingat kapan terakhir kali datang ke acara semacam ini. Aku tidak begitu suka kalau seseorang yang penting memintaku, kenapa aku harus menolak?

Aku terus berlari melewati banyak orang yang ramai berlalu lalang silih bilang ia berada di dekat toko penjual Yakisoba dekat pohon besar. Di mana itu?Aku sudah melewati empat penjual Yakisoba namun tak ada pohon.

Hei, itu! Sebuah pohon! Dasar bodoh! Bagaimana bisa aku tak bisa melihat pohon sebesar itu dari tadi?Tch! Pohon itu ada di barisan tengah. Sementara aku ada di barisan , aku harus memutar kalau begini. Atau rencana lain, aku menerobos melewati tenda salah satu penjual. Tenda apa yang bisa aku terobos? Tak ada aku harus memutar.

Tapi… apa aku akan membiarkan Khana menunggu lebih lama lagi?

"Maaf permisi," seruku sambil hendak menerobos melalui stand kingyo sukui2 dengan terburu-buru.

"Hei! Kau! Mau apa kau! Tidak sopan! HEI!" hardik si penjaga stand.

"Maaf!" seruku keras sambil berlari menuju pohon besar , pohon itu! Ada penjualYakisoba dekat sana. Dan itu Khana!

"Khana!" yang sedang bermain dengan Toki-chan, kucingnya, langsung menatapku sambil tersenyum pun langsung menggendong Toki-chan dan berdiri menyambutku.

"Akira! Kau benar-benar datang," seru Khana senang.

"Ah, gommene3.Aku terlambat," seruku sambil sedikit terengah-engah.

"Hihihih… tidak kau , Akira. Pipimu?"Khana memicingkan matanya menyelidik -jangan bekas perkelahian ! Khana tidak harusnya tahu soal pun refleks memalingkan justru itu membuat Khana makin curiga.

"Akira!" seru Khana dengan nada ngotot.

"Bukan apa-apa," seruku datar, tak berani aku bisa merasakan matanya yang bening itu terus manatapku.

"Kau habis berkelahi lagi?" tanya Khana. Menyesalkan diriku karena telah begitu, pandang matanya, membuatku tak pun menghela itu saja Khana sudah paham bahwa dugaannya memang benar.

"Aku kan sudah …"

"Kapan kembang apinya dimulai?" tahu pasti dia akan menceramahiku lagi.

"Akira!"

"Sudahlah!Ayo!" seruku sambil meraih tangannya, mengajaknya berlari.

"Kemana?Akira! Pelan-pelan," seru Khana yang tertatih-tatih karena menggunakangeta4 sambil menggendong Toki-chan. Aku tak masih terlihat bingung dan masih ingin protes soal memar di ia hanya menurutiku. Keluar dari kerumunan matsuri menuju suatu tempat sedikit setapak itu mengatarkan kami pada suatu tempat.

Sebuah bintang situlah tujuan kita.

"Kita mau apa di sini? Ini kan hotel mahal," tanya Khana.

"Sudah ikut saja," pun masuk ke dalam langsung menekan tombollantai berselang lama, kami sudah belum sampai ke tempat masih harus menaiki sudah tidak sabaran, tapi sadar Khana memakaigeta, aku pun memperlambat langkahkus.

"Waaaaahh!" seru Khana takjub begitu sampai ke atas."Tempat ini bagus sekali! Lihat! Chuochin5 dari matsuri jadi tampak indah dari sini," seru Khana kagum.

"Meooong~" Toki-chan ikut memang suka mengikuti mood pemiliknya.

"Kita akan menonton kembang api dari sini," kataku sambil tersenyum tulus.

"Sungguh?"

DUUARR DUAARR

Bertepatan dengan saat itu kembang api pun melunjur dan meledak di langit. Bunga-bunga api itu terbang tumpang tindih silih berganti. Dan semua itu tampak begitu indah dari atas sini.

"Tepat sekali, ya?" kataku.

"Oh! Akira! Bagaimana kau bisa mendapatkan tempat sebagus ini untuk kita menonton kembang api? Ini luar biasa," seru Khana senang sambil mengamit sia-sia usahaku kemarin untuk bernegosiasi dengan pemilik tahu persis akan semua tempat strategis akan penuh untuk menonton kembang api. Tapi aku sungguh beruntung bisa berada di sini hanya berdua, dengan Khana.

"Kau menyukainya?"

"Sangat!"

"Baguslah," seruku pun terdiam sambil mengagumi berbagai luncuran kembang api . Dalam iringan pancaran sinar dan suara letupan kembang api, aku teringat sesuatu.

"Khana…"

"Iya?"

"Seharusnya kau tidak bersamaku lagi…" ucapku Khana tersontak, melepas menatapku kembang api terus terbang beriringan.


September 2013

Aku tidak benci suka tidak membenci pelajaran aku benci jika harus ke lab yang berada di lantai 3! Kalau lantai 2 saja aku masih bisa ini 3 tingkat! Maksudku, berada di tempat buruk macam apa hingga manusia mau membahayakan dirinya di tempat yang berbahaya semacam itu? Gila! Sungguh gila.

Lagi-lagi aku harus hadapi tangga menurun ada orang yang akan melihatku? Aku pikir keluar dari lab paling akhir tadi dan di sini tempatnya agak aku pikir aman.

Aku pun menempel dengan tembok, berpegangan dengan erat, lalu menuruni tiap anak tangga satu demi , bagus sekali! Kau bisa Akira, sedikit ! Bagus aku selamat.

"Akira?" Aku ? Sejak kapan ia…! Cih!

"Apa kau lihat-lihat?" seruku sinis.

" , Akira aku tidak tahu kau…"

"Apa?" bentakku.

"Tidak jumpa," serunya buru-buru bisa mendengar dia terkikik sekali! Dia pikir ini lucu? Oh benar, sungguh menggelikan karena ada satu orang lagi yang tahu. Mungkin memang derita semacam itu yang harus aku begitu adil rupanya! Hahah! Kalian bisa sebut aku agamais, atau sinisme.

"Yo, Akira!"Kenzo tiba-tiba datang sambil merangkul dan menarik , kebiasaan!

"Ish, Kenzo!" seruku malah langsung melepaskan tangannya, dia malah menatap ke arah tangga.

"Kau habis dari lab, huh?Kali ini berapa rekor turunmu?Empat puluh lima menit?" gurau Kenzo.

"Aish! Diam kau! Kalau bukan karena praktikum, aku juga tak akan ke sana," dumalku.

"Oh, sering bolosdi jam ini kalau hari Selasa."

"Kau sendiri? Tumben masih ada di sekolah jam segini? Kau tidak sedang memata-matai gadis di kelasku lagi kan?" tanyaku.

"Hahah! Tidak! Orang-orang di Casino sedang tidak senang jadi agak mengganggu," jelas Kenzo.

"Kenapa?Kaukalah taruhan dan berhutang?"

"Cih!Kau bercanda?Aku yang menang. Yah, menurutku ini lumayan juga," seru Kenzo sambil mengayun-ayunkan sebuah kunci MOBIL!

"Ferary?Milik Gorila itu?" seruku tak percaya. Aku pernah dengar Kenzo menggunakan motornya sebagai bahan taruhan, lalu dia lama dia sudah punya motor baru memang. Tapi kalau dia bisa memenangkan mobil si Ketua Gorila itu (Aku tidak ingat namanya tapi percayalah, kalian akan dengan mudah mengenalinya. Mungkin kalian berminat jika kalian berpikir pria berambut lebat di tangan, kaki, bahkan dada itu seksi!), berarti seharusnya Kenzo menggunakan mobilnya sebagai bahan taruhan!

"Kau benar!Hanya aku membuat motor orang-orang itu jatuh. Mereka pasti tak akan memaafkanku. Padahal aku sudah bersusah payah beramah-tamah pada orang-orang seberang. Paling tidak aku bisa kabur dengan mobil itu. Untung saja Gorila itu tidak meninggalkan bau busuk di harus mencobanya itu hebat!" seru Kenzo saja sudah sangat lebih keren dari Ferary , apa maunya sajalah.

"Jadi aku tidak bisa melewati jalan pintas, heuh?"

"Heh!Hanya memutar sedikit apa susahnya sih?"

"Ah, ya !"

"Oh, sudah dengar soal Ketua Besar?"

"Ketua Besar? Siapa?"

"Aku juga tidak dengar Ketua Besar itu adalah ketua sesungguhnya dari kelompok itu."

Satu lagi misteri dalam !


"Sebenarnya sewaktu SMP aku ikut klub aku pikir panjat tebing juga tidak buruk," seruFujiki sambil melepas alatsafety di baru saja latihan. Sekolah ini punya replika tebing untuk latihan, pemberian oleh senior ekskul panjat tebing, hanya saat-saat tertentu atau dengan izin replika tebing itu bisa digunakan.

"Yaaah, kau mendapati satu-satunya SMA yang tak punya menjengkelkan," seru Ryota sambil mendribble bola basket miliknya.

"Salahkah kepala sekolah yang terlalu pendendam pada anggota klub basket terdahulu," timpal Hideaki.

Seperti biasa, pukul 5 , Ryota, Fujiki, Kenzo, dan Hideaki berkumpul di lapangan basket. Hubungan pertemanan yang yang aku ingat dari awal mula pertemanan kami adalah saat aku mendapati Ryota bermain basket sendirian saat aku dan dia baru masuk sekolah menengah atas ini. Aku ingat sekali bagaimana menyedihannya dia. Tanpa banyak beramah tamah—itu bukan sifatku—langsung ku rebut bolanya, dan membuat kami bertanding sengit berdua tanpa berbicara. Setelah akhirnya skor seri, kami kami benar-benar sanalah Ryota jadi satu-satunya teman yang bisa aku andalkan, meski kita berbeda kelas.

kenal denganya tak lama setelah dekat dengan sengaja aku tertangkap basah berada di kawasan sekolah seberang masih dengan seragam aku tahu kalau gangster di sana adalah musuh bebuyutan gangster di sekolahku? Dan mana aku tahu kalau tempat itu adalah daerah kekuasaan mereka?Delapan lawan dua. Sungguh tidak sebagian dari mereka membawa stik baseball.Sialnya lagi, aku tidak membawa pisau butterflyku hari sialan! Memang seharusnya aku melanggar aturan MOS hari akan sangat menarik kalau ada darah mengalir dengan halus.

Aku punya pengalaman berkelahi sebenarnya, namun aku ragu Ryota pun semua terserah percuma saja bernegosiasi dengan senior-senior bodoh bodoh karena mudah termakan sanalah senior Kenzo menghajar delapan orang bodoh itu saja Kenzo habis jika saja aku tidak menghajar mereka yang menahan itu aku mengenal baiknya, tak ada lagi senior menyebalkan yang menggangguku sejak bukan ketua dari geng apa pun. Tapi tak ada yang berani macam-macam padanya di karena karena karena kekayaan orang tuanya.

Lalu Hideaki, aku mengenalnya begitu saja sebagai teman Kenzo. Si pemegang piagam olimpiade Fisika, dan otomatis dia tentu jago lebih tua dariku, hanya aku tidak pernah menganggapnya dia tidak terlihat begitu!

Kemudian Fujiki. Dia masih MOS kemarin Fujiki menjadi bulan-bulanan teman seangkatanku karena… tidak tahu juga alasan yang tak jelas itu kamu memutuskan untuk melindunginya.

Kembali ke saat ini.

" , tapi Yamamoto-san benar-benar hebat dalam mendaki, ya. Dia bahkan lebih hebat dari senior-senior laki-laki lainnya," seru Fujiki.

"Iya,YamamotoSeira itu. Dia bahkan bisa menandingin kemampuan pacarnya yang ketua di sana. Dia sekelas denganmu kan tahun lalu, Akira?" tanyaRyota.

"Hmph!"Aku mendengus dengan kejadian tadi siang membuatku harus Seira?

"Hei, kau ini kenapa, heuh?" tanyaKenzo. Semua mereka berempat ini peka sekali sih dengan perubahan sikapku?Atau ekspresiku saja yang begitu kentara.

"Ah, Akira pasti sedang kesal karena kepergok tengah bersusah payah turun dari tangga oleh Seira itu," ! Tebakan mujur! Bagaimana pula ia menebaknya?

"Tck!" decakku kesal.

"Ahahahah… aku benar!Kau juga berekspresi begitu saat Ibu Sakamotomemergokimu turun dari tangga," tawa Hideaki dengan puasnya.

"Aish! KAU! Kau ingin mati!" teriakku kesal sambil meninju sedikit, namun tetap yang lain pun ikut tertawa.

"Oh, ingat sesuatu," seru Fujiki memecah tawa pun mengambil sesuatu dari tasnya.

"Ada titipan dari fans di kelasku. Surat dari Hana dan coklat dari Ai," ucap Fujiki.

"Percuma, Fujiki. Dia pasti tidak akan menerimanya," komentar Ryota.

"Buat kalian saja!" kataku cuek, sambil beranjak dari tempat ini.

"Hei, Akira kau mau kemana?" Tanya Hideaki.

"Toilet!"

"Mau aku temani?Barangkali kau butuh bantuan," seru Ryota.

"The heck!"


Aku mulai mempermasalahkan ketakutanku untuk aku mengakui bahwa aku takut pada ketinggian. Sebenarnya… banyak hal terjadi begitu saja.

"Fiuuuhh…" Aku menarik napas meredam yang biasa terjadi jika aku berada di lantai yang seperti ini masih bisa ku dari lantai 2 tak akan membunuhku semudah itu!

BRRAAAAAKKKK

"Mau kemana kau?!Kau pikir bisa seperti itu, heh!"

"Tinggalkan aku sendiri!"

"Oh! YA! Terserah kau saja, NONA!"

Suara makian itu langsung terdengar lantang begitu pintu klub panjat tebing terbuka—terbanting— sudah amat , sudah jam 8 sudah berakhir sejak pikir hanya tinggal aku dan beberapa anggota komite disiplin yang masih ada di lain sedang sibuk di bawah. Aku malah penasaran ingin melihat-lihat gedung sekolah sendiri di malam hari seperti mencoba merasakan adrenalin dari hal-hal tidak ada yang seram di sini.

Hei, keluar topik! Jadi intinya, kenapamasih adaorang di sekolah? Dan, tunggu! Itu Seira, kan? Dengan pacarnya?Mereka bertengkar?Pertengkaran mereka dasyat melihat pacarnya, yang aku tahu bernama Masa, langsung pergi ke lantai bawah tanpa menyadari Seira yang tadi histeris, kemudian menutupi wajahnya dan sadar aku sedang memperhatikannya juga, huh?

"Hiks hiks…"

Seira berlari, sambil menutupi menyadari ! Dia mau lari kemana?Ke atap sekolah?!

"Heeii!" teriakku sambil tak terlalu terus berlari ke atas dan aku terus apa gadis itu?! Dia benar-benar ke atas sekolah malam begini?!

"Kau!Berhenti!"

BRAAAK

Aku menghantam pintu yang membantasi tangga dan langit malam yang cerah itu menyambutku, baru aku sadari bahwa langit tampak lebih dekat dari , ini… Aku ada di atap! Di atas lantai 4! Tempat setinggi ini…

"Ish!" decakku .Aku merasa kakiku ini seakan , bagaimana caranya untuk turun?Semua terasa aku mau muntah.

"Masa…?" Aku bisa mendengar Seira bergetar, tapi aku menangkap ada rasa harapan di tahu! Aku tidak ingin melihat ke bawah sana. Aku pun berpegang erat pada mulut pintu dan menjatuhkan diri ke lantai.

"Bukan," seruku, sedikit ! Sekarang aku terjebak di aku biarkan saja Seira pula aku tidak sadar bisa menaiki anak tangga sebanyak itu?

Aku bisa melihat siluet gadis berjalan ke dia menyalakan diriku yang tengah terduduk lemas sambil memegangi mulut pintu seperti orang bodoh.

"Akira?" seru Seira kaget."Sejak kapan kau di sini?Dan… kau tampak pucat?Kau tak apa?" tanyanya kemudian.

"Tidak! Aku tidak baik! Kau, kenapa masih ada di sekolah dan berlari ke sini sambil menangis?Kau ingin bunuh diri, heuh?" seruku malah memiringkan kepalanya.

"Kau sendiri belum pulang," katanya baru saja dia menangis histeris dia memang tak bisa menyembunyikan matanya yang sembab.

"Komite disiplin sedang rapat malam aku belum malah berduaan malam-malam dalam ruang klub," sindirku.

"Huh, memangnya sekolah ini milikmu?Hmm… tunggu aku barusekali melihatmu berada di sudah berapa kali kemari sebelumnya?" Tanya Seira.

"Tidak pernah!" seruku singkat.

"Tidak pernah?Kau pasti bercanda!" seru Seira.

"Aku juga tidak ingin bercanda hanya untuk menghibur gadis yang bertengkar dengan pacarnya," seruku ketus.

"Kau ini tidak sopan sekali," seru Seira sambil bisa melihat dia perjalan ke beton pembatas yang tingginya kurang lebih hanya satu , mau apa gadis itu?

"Heeeeehh!Kau mau mati?" seruku.

"Aku tidak akan bunuh hanya ingin duduk di sini," ucapnya.

"Kau gila?Kau bisa terjatuh!" seruku ngeri melihat dia berada di tempat berbahaya semacam itu.

"Tak sudah terbiasa kok,"katanya. Aish, gadis ini keras kepala , kalau itu maunya! Tapi walau aku bilang begitu, tetap saja aku ngeri melihat dia duduk di beton memang sinting.

"Aku suka tempat ?" ? Maksudnya? Kenapa ia terkesan seperti sedang mengejekku? Menjengkelkan!

"Tidak!"

"Tidak?"

"Tidak!"

"Kenapa?"Kenapa?Perlu aku katakan kenapa? Tidakkah ia lihat betapa berbahayanya tempat tinggi itu? Ish, aku tak ingin menjelaskannya!

"Aku suka tempat sedih, aku seakan bisa melihat langit mendekat, seakan aku semakin dekat dengan segala penyebab kesedihanku di bawah menjauh dan mengecil," ceritanya."Kalau di tempat seperti ini, aku juga jadi merasa tinggi."

"Yah, aku tahu kau pendek!" seruku sambil tersenyum ada kesempatan untuk tadi hanya aku yang merasa ditertawakan di sini!

"Iiiihhh…Bukan begitu!" protesnya sambil duduk menghadap ke tak mau aku tertawa, tawa meremehkan. Memang seperti ini cara tawaku. Tapi memangnya seberapa sering aku tertawa?

"Maksudku, aku jadi merasa… seakan aku bisa melakukan apa pun," seruku tak membalas masih menatapku.

"Oh masuk SMA, setiap festival kembang api aku pasti kemari. Kembang api selalu tampak bagus di sini, lho. Kau juga harus menonton kembang api dari sini," seru Seira.Matsuri.Aku sudah lama tidak datang ke acara seperti itu pun jarang.

Aku bisa melihat dia mulai mengayun-ayunkan membuatku takut akan kemungkinan ia terjatuh.

"Hei, berhenti melakukan itu!Kau bisa terjatuh!" seruku.

"Hahahah… tidak apa-apa sudah sering aku hampir jatuh, biasanya juga. . . huaah!"

Bahaya!

Aku tahu apa yang terjadi. Sesuatu secara tak sadar , dan… aku berhasil menangkap gadis itu kan? Dia tidak terjatuh! Tidak baik-baik saja.

"Akiraaaaaaa!"

Tidak! Ketinggian ! Tidak! Kenapa aku harus melihat ini lagi?Kenapa aku harus mengingat jeritan dia lagi?Aku tak sanggup untuk bisa melihat dasar itu bab beratus-ratus meter jaraknya. Begitu tinggi, dan tak sanggup terjatuh dalam anggan mengerikan ragaku menolak untuk menyingkir.

"Ak—Akira?" Sadar tak sadar aku mendengar Seira yang terdengar tidak seakan melihat bayang-bayang silam itu terjatuh.

"Khana…" bisikku tubuhku membeku dalam terlalu ! Berhenti.

"Astaga!Akira!Sadarlah!" seru Seira sambil mengguncang tubuhku—yang secara tak sadar terus memeluknya dengan masa silam itu masih saja tanpa sadar aku didorong secara mendorongku ia menuntunku untuk duduk bersandar di dinding dekat pintu. Menjauhi pinggir atap itu.

"Akira, Akira!" Seira berusaha menyadarkanku ini aku baru benar-benar bisa melihat Seira begitu cemas akan diriku.

"Kau baik-baik saja?" TanyaSeira. Tanpa bertanya pun dia sudah tidak baik! Tadi juga dia sudah menanyakannya.

"Kau takut pada ketinggian?" bukan pertanyaan dengan niat prihatin. Prihatin saja, aku ini menyedihkan.

"Bodoh sekali ya?" kataku sambil tertawa pun pada diriku pada Seira."Bahkan aku tidak tahu bagaimana agar aku bisa turun dari sini," sudah tidak peduli masalah dia akan tahu. Aku benar-benar butuh bantuan.

"Berpeganglah akan turun bersama-sama," ucap Seira Aku ada pilihan lain. Aku mengangguk saja.


Aku tak tahu bagaimana nasib martabatku sebagai pria karena seorang gadis menolongku seperti juga sudah tidak ingin mempermasalahkannya aku merangkul, berpegang pada Seira begitu kali aku memejamkan Seira tak benar-benar ingin di bawah aku mau tak mau berterima kasih sudah semakin larut.

"Apa tadi kau mengejarku karena aku membuat keributan?" TanyaSeira. Aku pun tidak yakin apa yang terjadi. Aku mendaki tangga-tangga itu karena Seira menangis?Aku tidak begitu yakin, tapi melihat orang lain menangis seperti itu di tempat tinggil membuat firasatku tidak enak.

"Kau sedang ada masalah dengan Masa?" juga aku peduli dengan masalah orang lain.

"Iya, hahahah… Hanya masalah biasa antar wajar, kan?" kata Seira.

"Kau sungguh mencintainya?" tanyaku heran.

"Hmm… iya!" seru Seira yakin.

"Ooh… bagus."

"Kenapa?Apa kau diam-diam menyukaiku?" sindir Seira sambil menyikutku.

"Tidak!"

" begitu kenapa bertanya begitu?"

"Hanya heran. "Aku hendak berjalan menuju gerbang sekolah mendahuluinya.

"Hm?Maksudmu?"Seira berusaha menyusulku.

"Seharusnya kau sudah meninggalkan pria brengsek seperti itu kan?"

"Dia tidak selalu Masa sangat baik."

"Hm?"Seira diam terus berjalan perlahan menuju gerbang sekolah.

"Dia memang agak keras … saat ia melimpahkan banyak perhatian padaku, aku jadi merasa tak mampu membencinya," ucap Seira semakin aku tak ingin banyak bertanya.

"Dasar anak muda!"

"Jadi kau sendiri apa? Manula, begitu?" seru aku tak ingin meladeninya terlalu banyak tentang hal-hal picisan itu bukan hobiku.

"Siapa Khana?" Tiba-tiba ia bertanya. DEG! Jantungku berdeguk kuat mendengar aku menyebut nama itu? Bagus sekali!

Seira tampak makin penasaran menyadari ekspresi aku tidak ingin memilih berjalan terlebih dahulu ke gerbang pun langsung menyusulku tanpa bertanya lagi.

"Sial, gerbangnya dikunci!" umpatku saat melihat rantai beserta gembok membelenggu pagar itu.

"Sepertinya penjaga tidak tahu kita masih ada di sini," kata Seira.

"Dasar tidak berguna!Kau bisa memanjat pagar ini?" tanyaku.

"Bisa saja."

"Bagus!Ayo, aku duluan supaya bisa membantumu."

"Hihihih… aku rasa itu tidak perlu," ucap membenarkan posisi tas gendongnya sebelum dia mulai memanjat. Dia bisa , dia kan yang paling ahli memanjat tebing di sini. Dia tidak merepotkan ternyata.

"Rumahmu di mana?Biar aku antar," kataku setelah kami berhasil memanjat gerbang tinggi tinggi untuk membuatku beradrenalin dan menutup mata sesekali.

"Lho?Kau membawa kendaraan?Kamu tidak memarkirnya di sekolah?" TanyaSeira.

"Memangnya aku ini sudah cukup umur untuk punya SIM?"

"Oh, hahahah… Benar juga. Benar tidak apa-apa?"

"Kau ingin aku meningkalkanmu sendirian di sini?"

" ikut!"


Aku baru keluar dari ruang biologiku menyuruhku membawa buku-buku tugas milik siswa ke mejanya tadi. Tepat sekali saat aku keluar aku lihat Seira bersama melihatku dan ia langsung menyapaku dengan ramah. Tapi aku tak banyak kan saja , dia sudah baikan dengan Masa?Cepat baru kemarin dia bertengkar banyak sekali hal sulit aku mengerti. Setidaknya Seira tidak menyebarkan cerita soal fobiaku.

"Yo! Akira!" panggil datang dengan Hideaki. Mereka berjalan ke Seira dan tepat saat mereka berpapasan, Kenzo seakan memberi gerlikan aneh ke arah heran.

"Ada masalah dengannya?" tanyaku pada pun menatap ke arahku dengan serius—atau pura-pura serius.

"Barusan aku dengar isu dari penjaga sekolah," kata Hideaki sambil menoleh sebentar ke arah belakangnya.

"Ng?"


Tengah sepengetahuan orang rumah aku mampir ke membeli makanan dan sedang di tengah malam aku lapar dan tak ada makanan di boleh buat. Hanya minimarket dekat sekolah yang buka jam segini.

Aku pun berjalan dengan enteng menyusuri jalanan malam beberapa gang gelap dan tanpa sengaja aku melihat dua orang laki-laki mabuk dan menangkap percakapan mereka.

"Aaaaaahh… iya benar-benar luar biasa," seru salah seorang laki-laki kurus sambil menegak sebotol minuman beralkohol.

"Hheeehh!Berikan padaku!" protes laki-laki yang satunya sambil merebut botol alkohol itu dan langsung menegaknya minuman itu dengan kampungan! Tidak pernah minum alkohol mahal, heh?

"Eeeehhh…" seru si kurus yang sudah amat mabuk. "Kenapa dia menyuruh kita berjaga-jaga di sini, heeeuuh?Merusak kesenanganku saja," katanya.

Dia?

"Aaah… aku tidak Besar membawa pacarnya dan menyuruh kita berjaga di sini."

Ketua Besar? Tunggu! Barusan…

"Masih ingat soal Ketua Besar?"tanya Kenzo.

"Ng?Ketua misterius dari musuh bebuyutan gangster daerah sini?Ada apa memang?" tanyaku.

"Baru-baru ini aku dengar ketua mereka bukan siswa atau alumni dari sekolah itu," seru Kenzo.

"Hah? Maksudmu?"

"Dia itu sebenarnya orang dalam," kata Hideaki.

"Orang dalam?"

"Yang dia maksud adalah, orang itu justru bersekolah di sini," kata Kenzo.

"Haah?!" seruku kaget.

"Aku sudah menelusuri data base sekolah. Kalau perkiraanku benar, seharusnya orang itu tinggal di lingkungan kelompok itu," kata Hideaki.

"Dan dia, satu-satunya orang yang kita dapatkan," kata Kenzo serius.

"Masayuki Yoshimitsu," kata Hideaki.

"Kau pasti bercanda," seruku."Maksudku, dia ini masih 'anak-anak'. "

"Mulanya aku berpikir begitu," seru Kenzo.

"Belakangan jumlah korban yang mereka timbulkan lebih mereka tahu apa yang sedang terjadi di sekolah," kata Hideaki.

"Dan ingat pernah melihat bocah itu bersama kelompok mereka," seru Kenzo.

"Kelas 2 itu ketua?"Aku masih tak percaya.

"Kita pun masih harus memastikannya. "

"Walau dia kelas 2, bukan tidak mungkin dia menjadi ketua. "

Aku teringat akan kata-kata Kenzo dan Hideaki kemarin. Tentang Ketua Besar. Pacarnya Seira?

"Pacarnya?Pacarnya yang mana?" seru si kurus.

Yang mana?Apa si brengsek itu memiliki pacar yang lain?

"Itu, kau ia dapat dari sekolahnya. "

"Oh, si cantik Ira-chan itu?Apa yang dia lakukan dengan gadis itu?"

Ira-chan? Maksudnya Seira? Apa yang terjadi?

"Aaah… dia hanya bilang ingin bersenang-senang di markas kecil dan menyuruhku memastikan tak akan ada yang berada di sekitar sana," kata laki-laki satunya.

"Gyahahahah!Kau ini naïf tahu, aku tahu! Ketua Besar pasti sedang bersenang-senang dengan Ira-chan," tebak si kurus.

Bersenang-senang? Tunggu dulu! Firasatku mulai tidak enak.

"Wahahahahah! Benar juga! Dia kan mendapatkan perawan baru," tawa laki-laki satu lagi.

DAFUQ! Jangan-jangan si brengsek itu hendak…?! SEIRA!

"Heh!Kalian berdua!" seruku sinis sambil menghampiri pun menoleh ke arahku dengan tatapan sumringah.

"Ng?Mau apa kau?" seru si kurus.

"Kalian mau dengan cara baik-baik atau dengan cara cepat?" seruku dingin.

"Haaaaaaaah? Kau anak kecil mau apa? Kau tidak tahu siapa kami?" seru laki-laki satunya dengan arogan.

"Katakan padaku—Di mana…Seira?"


Aku mendaki tangga-tangga itu secepat yang aku berguna! Di mana si bajingan itu berada?Mereka bilang di lantai yang mana?

"Masa… Hentikan… Hmph!"Aku mendengar suara itu suara Seira! Dari ruang salah lagi!

BRUUUKK

Aku berusaha mendobrak tidak -kali aku coba mendobrak, dan…

BRAAAAKKK

Pintu terbuka! Tapi…

BUUUUUKK

"ARGH!" menghantam balok kayu sungguh-sungguh Masa, yang mengayukannya terkhuyuk beberapa saat.

"Akira!" jerit … Seira! Astaga! Aku tak berani bisa melihat seragam sekolahnya tergeletak di pun sedang aku aku melihat hanya dua kain yang melekat di brengsek itu…!

"Beraninya kau!" erang si bajingan itu sambil mengayukan balok kayu besar itu ingin memukulku?Lambat sekali.

BUUUUK

Aku menghajarnya sedemikian menendang tangannya, membuatnya menjatuhkan balok kayu aku meninju perut dan wajahnya dia hanya sempat meninjuku sekali, diiringi suara tangis kali ini aku merasa sehebat ini dalam bocah ini saja yang lemah?Atau aku terlalu kesal melihat wajah busuk dan mesum si brengsek ini?Sebagai penutup, aku menendangnya kuat hingga menghantam tembok.

Buru-buru aku punguti baju melepaskan setengah terpejam aku berikan seragamnya dan langsung memasangkan jaketku padanya.

"Cepat pakai!" suruhku sambil memalingkan pandanganku.

"Akira? Bagaimana kau bisa…?"

"Tidak ada waktu!Kita harus pergi dari sini!" seruku. Aku langsung meraih tangannya saat yakin seragamnya dan jaketku yang terlalu besar untuknya sudah mengunci pintu ruang itu terlebih setelah itu kami buru-buru menuju ke bawah.

Aku pun mengajaknya harus segera menjauhi tempat gangster di sekitar sini mengepung kita.

"Akira!" jerit Seira anggota gangster sudah berada di depanmencegat aku sadar bahwa aku sudah berlari mendekati kandang macan.Casino yang waktu itu!

"Wah wah wah, siapa ini," seru seorang anggota gangster seberang yang aku ingat bernama Kawada.

"Kau masih berada di sini malam-malam, huh?" seru si Gorila sambil mengacungkan stik baseball ia mengenakan kaos dengan bagian dada terbuka. Melihat buru lebat di dada dan tangannya membuatku jijik.

"Kenzo sedang tidak baik kalian menyingkir sebelum aku bertindak!" kataku, berusaha mengertak.

"Cih!Berlagak berani sedang tidak membahas si Kenzo itu," komentar orang mulai muncul keluar dari casino.Aku rasa ini bukan situasi yang bagus.

"Ketua Besar bilang pacarnya di culik," seru si Gorila sambil tersenyum orang-orang di belakang itu tampak bersiap-siap seakan akan melakukan pembantaian. Pembantaian padaku dan seorang gadis?

"Akira, lari!" bisik Seira ketakutan sambil mencengkram lenganku.

"Shit!" umpatku. Aku langsung menarik tangan .Itu lebih tepatnya aku tak punya ide lain. Gangsteritu mengejar bertenaga adrenalin, kami mampu lari lebih cepat dari harus membawa Seira pergi dari daerah , seharusnya aku bawa motor tadi.

"Akira, ke sini!"Seira mengajakku masuk ke dalam sebuah apartemen ikuti ide pun masuk mencari tempat pun memilih menaiki tangga ke lantai 2 sampai, kita langsung terduduk di tangga dan terengah-engah karena sendari tadi berlari.

BRUUUKK

Seira tiba-tiba jatuh menangis sejadi-jadinya.

"Aaaaaakkk! Hiks, hiks, hiks…" Dia histeris.

" yang dia lakukan padamu?" seruku sambil mencengkram kedua Seira tidak terus tidak apa yang telah bajingan itu perbuat padanya. "Katakan padaku?Apa yang si brengsek itu lakukan padamu," paksaku sambil mengguncang tubuhnya.

Ia tak kunjung menjawab. Ia tetap menangis. Aku sadar aku tak bisa memaksanya bicara aku lepaskan dia. Membiarkan dia menangis terlebih perhatikan dirinya aku sadar sendari tadi ia tak menggunakan alas kaki. Jadi… dia berlari sekencang itu bertelanjang kaki di atas aspal?Dasar kau dungu, Akira! Seharusnya kau sadar itu dari awal!

"Hiks hiks hiks… Aku tidak ingin pacaran lagi…" Tiba-tiba ia bergumam. Aku langsung menatapnya sudah menduga Masa itu laki-laki aku tidak mengira dia akan bertingkah kurang ajar seperti ini. Pada Seira. Padahal biasanya aku melihat sosok Seira yang ceria dan kali ini lain. Ia tampak begitu menyedihkan dan terluka. Hanya karena si Ketua Besar itu!

TAP TAP TAP

Terdengar suara langkah satu atau ! Mereka menemukan kita!

"Seira!Kita harus sembunyi!" seruku sambil menarik tangannya hendak mencari tempat aku tidak bisa menemukan tempat yang bisa menyembunyikan orang-orang itu terdengar makin gaduh.

"Akira! Kita harus ke atas!" seru Seira tegas.

"Ke atas?" seruku ragu.

"Tidak ada !" perintah Seira sambil menarik tak mendengar keributan di bawah membuatku tak membiarkan tanganku di tarik merasa kepalaku mulai mulai terasa pun berdetak sangat semua itu semakin menjadi berbanding lurus dengan berapa tinggi aku berada dari permukaan tanah.

TAP TAP TAP TAP

Suara berisik itu makin terdengar membuat kamu makin menyapu pandangan dan menemukan sebuah pintu yang tak terkunci.

"Ke sini!" langsung membuka pintu itu tanpa pikir …

Tidak! Aku melihat ke bawah! Berapa lantai ini?Tiga lantai? Tidak! Ini empat lantai! Ini tangga hanya pada deretan besi yang di las menerupai ! Aku seharusnya tahu kemana pintu tadi akan membawaku.

"Akira! Akira! Tak usah lihat ke apa-apa!"Bahkan teriakan Seira terabai tak kuasa untuk mencengkram pegangan besi sekuat mungkin dan terus terpompa dengan itu! Aku ingat saat seperti ini, telah … saat itu, hal itu terjadi … Khana pergi…

"Awas!Akiraaa!"

Bahaya!


Katakai, 9 September 2013

Akhir libur musim telah memasuki musim libur musim panas, aku tak bertemu Seira sejak kejadian itu pun Seira tak tampak. Saat ujian pun, aku dengar ia melakukan ujian di rumah.

Saat malam itu, yang terjadi adalah… segerombolan gangster itu mendapatkan salah seorang hendak teriakan Seira seketika seketika lupa akan ketakutanku. Aku menghajar mereka ! Setiap ada yang hendak meraih Seira, aku tak sedikit pun membiarkan itu ku yang ternyata datang oleh panggilan salah satu penghuni apartemen memecah dan Seira di bawa untuk melakukan tak henti-hentinya menangis setelah sejak esoknya aku tak bertemu Seira lagi.

Masa sedang tua Seira menuntut Masa atas tidakan kekerasan dan pelecehan terhadap itu sungguh membuatku -laki brengsek tak pantas mengganggu gadis ada laki-laki yang boleh menyakiti gadis siapa pun! Aku melindungi Seira waktu itu juga karena dorongan naluri, melindungi ia temanku juga.

Beberapa kali aku bertanya pada Fujiki dan temannya, tapi pun tak Seira, ada apa denganmu? Dia bahkan sampai berkata tak ingin pacaran jarang peduli pada seseorang, tapi aku peduli sebenarnya, hanya Seira yang tidak menertawakan ketakutanku pada ketinggian, sekalipun ketinggian adalah kesukaannya.

Malam berjalan tak menentu sambil menyesap segelas kopi dari berjalan tak tentu sampai aku merasa mulai banyak orang berjalan menuju suatu yang tampak berpendar dengan banyak pendagang di sana.

"Hm?Matsuri?" semakin diyakinkan dengan banyak gadis yang mengenakan Yukata.Ah, benar. Itu matsuri.Entah matsuriapa, aku tidak pernah menghapalnya.

"Dengar-dengar Katakai Matsuri tahun ini ada kembang apinya ya?"Tanpa sengaja aku mendengar percakapan sepasang gadis.

"Ah, kenapa baru memberitahuku?Kalau begini kan kita sudah terlambat untuk mendapatkan tempat yang bagus. "

Kembang api…?

"Setiap ada festival kembang api aku pasti api selalu tampak bagus di sini, lho. Kau juga harus menonton kembang api dari sini. "

Aku tidak tahu apa yang menggerakan kakiku. Tapi apa yang terpikir dalam benapku sekarang adalah… aku harus menemui Seira.


Memakai Yukata, sendiri ia berada di atap sekolah. Semilir angin musim gugur datang dan membelai helai-helai ra tidak menyangka, dia benar-benar diri malam-malam.

Aku tak mengatakan sepatah kata pun berjalan lalu berdiri di sampingnya ikut menunggu kembang api. Seira tampak kaget melihat aku bisa berada di sini, di atap sekolah yang tinggi.

"Akira… bagaimana kau bisa…?" seru Seira tak hanya pada saat itu kembang api pun meluncur ke langit. Seira tak berkata padaku hanya diam berdiri memandangi luncuran bungaapi yang meledak dengan indah di langit.

"Terakhir kali aku menonton kembang api, aku menontonnya dengan Khana..." ucapku lirih. Seira langsung menatapku. Aku terdiam sesaat, sementara kembang api terus berterbangan.

"Apa yang terjadi?" tanya Seira. Aku tarik napas dalam. Lalu aku ceritakan suatu kejadian. Pada hanabi matsuri tahun lalu.

Saat itu... aku membuat Khana menangis. Aku meminta Khana menjauhiku, karena aku tak ingin Khana dalam bahaya. Banyak anggota gangster yang tak menyukaiku karena aku telah banyak "menyusahkan" mereka.

Tapi di tengah kembang api, sekelompokan berandalan mencegak kami. Terjadi pertarungan sengit. Lalu Khana... iya terdorong dan terjatuh ke bawah...

"Maafkan aku..." seru Seira bersimpati. Aku tarik napas dalam dan kembali bercerita.

Nyawa Khana tak tertolong. Namun Toki-chan dalam gendongan selamat. Sungguh ironis. Aku tak berdaya. Dan saat turun tangga untuk kabur. Aku malah terjatuh dan tak sadarkan diri. Begitu sadar aku mendapati diriku patah tulang kaki dan habis babak belum.

"Itulah kenapa aku takut pada ketinggian," kataku sambil terkekeh kecil, diikuti dengan Seira. Lalu kami berdua kembali terdiam. Selama empat puluh lima menit kami hanya begitu sampai pertunjukan kembang api berakhir.

"Akira," Seira yang bicara duluan.

"Ng?"

"Aku belum sempat … terima kasih," ucap Seira sambil membungkuk padaku begitu ada yang pernah melakukan itu padaku selama terima kasih yang sangat tulus.

"Tak masalah, untuk teman baikku," ucapku sambil tersenyum—hal yang jarang ku pun bangkit dan menatapku dengan wajah yang sudah pulih.

"Akira, wajahmu pucat," komentar Seira.

"Aku rasa aku butuh bantuan untuk kau tidak keberatan," pintaku.

"Hihihih… Kalau begitu berpeganganlah," Seira terkekeh sambil menyerahkan itu yang aku aku sudah merasa mulai pusing dan mual oleh ketinggian belum hilang benar.


Aku habis dari lab harus berjuang lagi menuruni tangga-tangga ! Menyusahkanku saja!

Tiba-tiba Seira datang, tak mengatakan apa pun padaku, membuatku bingung akan apa yang dipikirkannya. Kemudian tiba aku mendengar ia berseru.

"Hei! Asuka! Kyaaa… aku kangen padamu!" begitu teriaknya sambil berlari tahu apa yang dia lakukan. Tapi sampai ke bawah aku mengerti apa yang terjadi.

"Maaf ya tak menyapamu Asuka hendak ke atas," seru Seira sambil tersenyum wajah cerah itu telah barulah Seira yang aku terus berceloteh riang padaku, sampai aku tak sadar selama break itu kami terus break berakhirnya, aku mengantarnya ke kelasnya. Baru aku ke kelas, sebelum dua orang gadis siapa aku lupa namanya.

"Akira! Apa benar kau pacaran dengan Seira?" tanya gadis itu tiba-tiba.

"Iya!" susul temannya dengan suara yang ?

"Pacar?Tidak!" perhatikan sekelilingku, ternyata sendari tadi sudah banyak anak perempuan yang apa sih mereka ini? Buang-buang waktu saja.

"Kalau bukan pacar, lalu apa?" tanya gadis tadi sambil manyun-manyun. Aku tersenyum sambil terkekeh , apa yang harus aku katakan pada gadis-gadis ini?

"Dia sahabatku," kataku langsung berjalan melewati mereka dan mempedulikan kegaduhan di sekitarku.

Pacar? Hahah… yang benar saja! Seira juga sudah tak ingin punya … aku tak ingin membahayakan siapa pun karena berada di tidak ingin Seira benarkan?Seira?

Dan tanpa sepengetahuanku, ia tersenyum padaku…