This is original fiction published on 12/26/2013. FictionPress by me. Do not copy.


fondasi usang kami yang dulu, kami, dan kami yang akan datang


Pasir.

Saat belum mengenal apa itu semen, kami berusaha sekuat tenaga membangun sebuah fondasi yang kokoh. Mungkin dengan pengetahuan ala kadarnya ini, dari pengalaman yang diperoleh kami yang dulu, mencampur segalanya dalam satu adukan sendok besi.

Pasir dan gamping.

Kami hanya membangun fondasi, agar kelak kami yang akan datang bisa mendirikan sebuah bangunan kuat. Membangun sebuah fondasi mungkin hal yang mudah dan sulit secara bersamaan. Tapi kami yakin, kami yang sekarang akan menjadi kami yang dulu, bahwa kami yang akan datang akan berusaha memperbaikinya. Ya, serapuh apa pun fondasi yang kami bangun dan tancapkan di bumi pertiwi ini, kami yang akan datang akan membuatnya jauh lebih baik. Sama seperti dengan yang kami lakukan saat kami tidak mempunyai fondasi sama sekali. Kami yang dulu tidak membuat fondasi untuk mendirikan sebuah bangunan, hanya dengan batu dan tanah yang kami jajar menjadi satu garis—lalu satu garis lagi, lagi, dan lagi hingga mereka terhubung.

Pasir, gamping, dan air.

Kami tidak menyalahkan kami yang dulu. Zaman berubah begitu pula segalanya, lini masa hanya sekedip mata, napas hanya sedesir embusan angin, sebongkah batu dan tanah hanya sebutir debu. Kami bahkan tidak bisa mengenggamnya. Mereka hanya bagian kecil, bagaimana kami bisa menyalahkan mereka saat kami mempunyai material yang lebih banyak dan kuat? Seharusnya kami berterimakasih, karena ada hal kecil itu akan membuat kami menjadi semakin besar. Kami yang akan datang selalu mempunyai hal yang lebih.

Pasir, gamping, air, dan keringat.

Lihat, fondasi kami sudah hampir jadi! Keringat kami membuatnya lebih kuat. Bukan hanya batu dan tanah. Fondasi ini akan menjadi kuat karena kami yakin kami mencampurkan segala bahannya dengan takaran yang tepat—semuanya hanya untuk kami yang akan datang semata. Kami mengenggam sendok besi ini dengan semakin kuat, kami tersenyum saat keringat ini terus menetes. Persetan dengan keringat dan tangan kami yang mulai mengeras, tergores dan berdarah. Karena dalam kedip-kedip mata kami selanjutnya kami bisa melihat bahwa kami yang akan datang akan senang dan berterimakasih pada kami, sama seperti yang kami lakukan kepada kami yang dulu.

Pasir, gamping, air, keringat, dan air mata.

Toh apa yang bisa kami perbuat saat kami yang akan datang mengenal semen. Bukan memperbaiki fondasi yang telah usang, rapuh, dan ditelan zaman. Semen-semen itu digunakan untuk membuat tembok-tembok besar yang bahkan fondasi kami tidak kuat menahannya.

Kami tidak bisa menangis, hanya bisa berharap lebih. Sebelum fondasi usang itu hancur, buatlah pencakar langit di antaranya, agar lebih kuat dan kalian—kami yang akan datang— bisa leluasa menambahkan tembok dan lantai.

Toh, kami yang akan datang tidak peduli. Kalian terus membangun dan membangun di atas fondasi usang kami. Ini terlalu berat. Kalian mengabaikan semua takaran yang kami dan kami yang dulu ajarkan. Terus dan terus membangun untuk membuat sebuah bangunan bertingkat tertinggi. Mengapa? Mengapa ingin menjadi yang tertinggi dan hanya dengan fondasi usang ini? Salah kami 'kah jika fondasi ini tidak cukup kuat saat kalian sudah setengah jalan membangun bangunan tertinggi itu? Salah kami 'kah saat kami tidak cukup pandai membuat fondasi yang terbaik? Masa membuat kata terbaik tidak eksis, sekadar khalayan.

Lalu kami benar-benar menangis saat kalian menggerogoti pasir, mencuil gamping, dan menegak tetes demi tetes air. Pada siapa kami harus kecewa? Ini salah siapa?

Esok fondasi usang ini akan hancur sebelum bangunan tinggi itu selesai. Daripada membangun kembali dari lantai satu, mungkin lebih baik kalian merobohkannya dan memulai segalanya dari awal. Tidak selamanya kalian bisa mengandalkan fondasi usang ini, sama seperti saat kami tidak bisa lagi mengandalkan batu dan tanah itu. Bangunlah fondasi beton pencakar langit dan rangka baja, lalu bangunlah bangunan tertinggi yang belum pernah ada.

Ya, fondasi usang ini hancur. Esok fondasi usang ini hancur. Semua hancur tak terkecuali kalian—kami yang dulu, kami, dan kami yang akan datang.

Pasir, gamping, air, keringat, air mata, dan bongkahan fondasi tak berguna.

Sebelum esok, mari membangun fondasi baru. Tidak perlu menunggu bangunan-bangunan yang telah berdiri lainnya membantu. Itu terlalu lama. Mungkin mereka akan datang esok—saat fondasi ini sudah hancur. Lalu mereka akan mengambil material kita untuk mempertinggi bangunan mereka sendiri. Ayo, bangun fondasi baru karena masih ada waktu. Sungguh, masih ada waktu sebelum esok. Masih ada harapan sebelum hari esok.

Pasir, gamping, air, keringat, air mata, bongkahan fondasi tak berguna, dan rancangan baru.


Nanti, ada saatnya semua akan menjadi lebih baik. Bukan berarti negeri ini buruk, tapi negeri ini bisa menjadi lebih baik. Pasti. Lini masa tidak mengenal kata 'terbaik'.

—untuk Indonesia.