Title : Memories of Goodbye

Author : LdrdKyuon

Genre : Friendship/Romance/Drama

Ratting :T

Main Cast :

Shiroi Mia

Miozuka Akane

Ini Fiction milikku asli tanpa ada campur tangan orang lain

Maaf bila TYPO MENJAMUR DIMANA MANA

Mohon Review Favorite and Comment

Thanks for read before you read ^^ haha

KRIIINNNNGGGGG!

Suara jam weaker itu membangun sosok wanita yang mempunyai rambut seleher berwarna coklat tua. Mata hijaunya mengerjap sesaat untuk mengembalikan semua nyawanya.

"AKU TERLAMBATT!" teriak wanita yang bernama Shiroi Mia yang telah tersadar dan melihat kearah jam dinding dikamarnya. Dengan secepat kilat halilintar cetar membahana seluruh katulistiwa ia membersihkan tubuhnya dan turun ke ruang makan.

"ayo cepat Mia-chan . ini hari pertama kau masuk sekolahkan!" teriak wanita paruh baya yang sedang memakai apron biru di badannya.

"iya okaa-san aku berangkat! Jaa ne!" Mia berlari dengan roti yang masih berada di mulutnya. ~hayakuu….~ Mia berlari sambil memejamkan matanya, entah kenapa saya tidak tahu.

BRUAKK!

Mia menabrak seseorang dan badannya terhuyung ke belakang. Tapi dengan sukses dia ditangkap oleh laki laki berambut ikal dan headphone dikepalanya. Dia memakai seragam habataki dengan berantakan. Mia memandang mata biru lautnya dan terdiam sesaat. Si rambut hitam ini menyipitkan matanya. "omoi…"

Dengan segera Mia menjauh dari pelukan laki laki yang menyelamatkannya dari maut. "Go..gomen"

"lain kali bukalah matamu" laki laki ini memandang Mia dengan datar, dan memalingkan wajahnya.

"Gomenasai… hari ini aku buru buru takut terlambat untuk datang di upacara penerimaan murid baru di Habataki" Mia membungkukkan badannya dengan cepat dan ingin segera berlari.

"j..ja" ketika mia ingin berlari bajunya ditarik oleh laki laki itu.

"Ayo ku beri kau tumpangan" laki laki ini mendirikan sepedanya yang tergeletak lemah tak berdaya di tanah.

"A…ano..?" mia terlihat sangat bimbang. Antara ingin tidak terlambat dan tidak ingin menyusahkan orang lain.

"kau ingin terlambat?" kata kata ini membuat teringat betapa pentingnya upacara penerimaan murid baru kali ini.

"ha..haik…aku ikut"

*

"huaaaa… kakkoii ."

"kawaii… /"

"aku ingin sekali diboncengnya… *o*"

Itulah keributan yang terjadi saat aku memasuki kawasan Habataki High School. Teriakan itu pasti dan telah mutlak dikeluarkan oleh para santri santri siswi siswi ada siswanya lo ya, dan murid murid yang berada di depan gerbang. Sedangkan yang merasa di puji hanya tersenyum manis, senyumnya tapi terlihat seperti senyum yang dipaksakan.

Senyumnya itu bagi Mia senyum yang hanya menjadi wajah kedua dari sosok yang baru dikenalnya. Karena di setiap menit perjalanan tadi Mia hanya menjadi seseorang yang berbicara dengan tembok. Sekali laki laki itu menjawab selalu terjadi JLEBB MOMENT.

"kau popular ya… padahal kau murid baru tapi senpai senpai disana sudah mengagumimu" pujian dari Mia hanya dijawab dengan diamnnya laki laki bermata biru ini.

"namaku Miozuka Akane" Akane segera memarkir sepedanya dan sedikit membungkukkan badannya ke perempuan yang baru di kenalnya tadi pagi.

"ah.. Namaku….." belum sempat Mia menyelesaikan perkenalannya Akane memotong.

"Shiroi Mia" Mia sontak terloncat sebentar . Siapa dia sebenarnya? Peramal? Dukun?MATA MATA?. APA IYA? "da..darimana kau tahu?" Mia memasang tampang menyelidik

"IDmu terjatuh. Tadi sebenarnya aku tidak ingin membacanya. Ehh tapi kebaca ya sudah" Akane mengembalikan IDcard Mia dan memalingkan wajahnya.

"TSUN-DE-RE" Mia segera mengambil IDnya dan menjulurkan lidahnya lalu berlari meninggalkan Akane yang mengeluarkan pertigaan lampu merah di ujung kepalanya

"=_= tsundere?... "

Suasana koridor Habataki High School terlihat sangat sepi. Setelah upacara tadi semua murid termasuk Mia sudah memsuki kelasnya. Kelas 1-C dimana Mia berada.

Dikelas Mia terlihat hanya mengerjap ngerjapkan mata hijaunya, tanda bahwa dia sudah bosan karena tak punya teman seorangpun yang dia kenal. Mia menjatuhkan kepalanya di meja dan memiringkannya kekiri. Tanpa sengaja dia melihat sosok yang sangat Familiar dengannya. Wajahnya masih hangat hangat seperti 'itu'nya ayam difikirannya

"Mi..Mio..Miozu..Miozuka-kun?" Mia mengangkat kepalnya dan matanya hanya tertuju pada sosok yang sedang dikerumuni para wanita.

"Shiroi-san? Kau dikelas ini?" suara ramah itu menyadarkan Mia dengan lamunanannya

"ah… ya Miozu…." Akane dengan cepat menarik tangan Mia dan membawanya keluar kelas tanpa member salam selamat tinggal pada wanita wanita yang sedang mengerumuninya. Sedangkan wanita yang tadi ada disekelilingnya terlihat sangat kesal dan mendeathglare kearah Mia.

"i..itai.."Mia memukul mukul tangan Akane yang menggandeng tangannya.

"hah… Yokatta . Arigathou, jja ne" Akane melepaskan tangan Mia. Dan Mia memandang Akane dengan geram. Jadi dia menyapanya hanya untuk pergi dari segerombolan wanita genit genit itu? =_=. Berasa hanya menjadi pelarian, itulah yg Mia rasakan sekarang

"apa?! Hanya ini?! DASAR KAU TUKANG PHP, PLAYBOY, TEMBOK KAU!. BAKA! TSUNDERE!" ya perkataan TSUNDERE ini membuat Akane menghentikan langkahnya

"tsun….de…re…." kali ini Akane mengeluarkan hawa menyeramkan dari tubuhnya.

"a..are…? ya…yabai"Mia memasang kuda kuda dan.. "HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" Berlari pastinya.

Akane yang melihat kejadian tadi hanya bisa terkekeh kecil.

Jam sekolahpun berakhir. Semua siswa siswi Habataki berhamburan keluar dari kawasan sekolah. Dan didepan gerbang yang sedang dijatuhi kelopak bunga sakura terlihat sosok pria yang sedang menggunakan headphonenya ini berdiri disana sambil menyapa beberapa orang yg melihatnya.

Akane kali ini memandang bunga sakura yang mulai berguguran sambil tersenyum kecil "kirei.."gumamnya

"yokatta…" ucap Mia sembari menuntun sepeda milik Akane

Akane pun tersadar bahwa sepedanya sudah tidak ada didepannya lagi "=_= ho..hoe.. Apa yg kau lakukan?"

"mencari tumpangan gratis…"Mia mendudukkan dirinya di boncengan belakang sepeda itu

"Geez… Siapa kau? Turun…" Akane mendorong dorong Mia. Mendorongnya bukan pas DIBADANNYA tapi DIKEPALA Mia. # =_= WongTerHormat tenan…

"ahh . itaiyoo Miozuka-kun" Mia mengelu elus kepalanya. "apa kau akan membiarkan wanita sepertiku berjalan sendirian disore sore begini Miozuka-kun?" Mia mengeluarkan puppy eyesnya

"Siapa kau?" Akane hanya menjawab dengan datar dan tetap mendorong dorong kepala Mia agar cepat turun

"kita kan teman Miozuka kun" Mia tersenyum lebar. Sedangkan Akane diam dan memalingkan pandangannya dari Mia.

"teman?. Kok bisa?. Kita saja baru kenal tadi pagi?"

"memangnya sebuah pertemanan dilihat dari kapan kita berkenalan ya Miozuka-kun?. Kan tidak!" Mia mengerucutkan bibirnya. Dan Akane merasa diberi SKAKMAT oleh si mata hijau ini.

"ayo pulang" Akane segera naik disepedanya dan membonceng Mia pulang

Setelah menghantarkan Mia pulang Akane sampai dirumahnya yang sederhana. Disana terlihat wanita berambut hitam panjang dengan kursi rodanya sedang menyirami beberapa bunga.

"Tadaima,, Okaa-san Gomen aku pulang terlambat" Akane memeluk ibunya dengan kedua tangannya

"Daijoubu Akane-kun" Wanita ini sangat cantik, tapi sayang ibu Akane telah lumpuh sekitar 3 tahun yang lalu karena kecelakaan lalu lintas. "Bagaimana sekolahmu?"

"menyenangkan… aku punya banyak teman okaa-san"

"yokatta.." Ibu Akane tersenyum dan mengelus kepala anak satu satunya ini

Dimalam yang memasuki musim dingin ini Mia sudah menjadi seorang Siswi di Habataki sekitar 2 bulan. Dan sekarang dikamarnya Mia sedang belajar. Ya namanya juga seorang siswi pasti dikamar belajar, gag kayak author dikamar tidur =_= #abaikan

Kali ini Mia tidak sendirian dia ditemani oleh teman satu SMPnya dulu Haruhi Nanako

"Mia-chan… Apa kau tahu tentang gossip yang sedang beredar disekolah mu Habataki?" Nanako menggoyang goyangkan tubuh Mia, dan membuat konsentrasi Mia buyar

"nani..nani?!" mia membalikkan badannya dimelepas kacamatanya

"katanya disekolahmu itu ada anak dari pembunuh bayaran yg sedang buron" kali ini wajah Nanako berubah sangat mengerikan

"hontoni?" Mia membulatkan matanya. "si..siapa? namanya?"

"untuk nama.. belum tahu.. wajahnyapun belum ada yang melihatnya. Katanya ditakutkan dia menjadi THE NEXT OF MAFIA MASTER!" kali ini nanako benar benar Alay dia berpose ala Mafia diatas kasur milik Mia. Dan Mia hanya bersweatdrop bejimbun

"-_- jangan membesar besarkan BAKA!" Mia menjitak kepala temannya dengan kacamata yg ada ditangan kirinya

Sedangkan Akane sekarang tengahh tiduran di Atas kasurnya yg empuk sambil sesekali melihat jam dinding berwarna biru dikamarnya. Karena besok hari minggu Akane berencana mengajak seseorang untuk pergi.

"apa sekarang dia sudah selesai belajar?" sekarang Akane membuka handphonenya dan mencari Name Contact seseorang. "fuuhhh.. Ayolah Akane!"

/tuut tuut tuut/

"ah.. moshi moshi konbanwa" Akane memberi salam duluan untuk yang disebrang sana

"Konbanwa.. Shiroi desu. Dengan siapa ini?" Suara lembut itu terdengar dan membuat Akane menghela nafas panjang.

"Shiroi-san ini aku Miozuka Akane" Akane menutup mulutnya sedikit agar suaranya nervousnya tidak terdengar

"ah.. Miozuka-kun ada apa?" Suara Mia terdengar sangat bahagia. Dan membuat jantung Akane berdetak makin cepat seperti genderang mau perang #-_-

"ano…Besok kau mau tidak pergi bersamaku?. Ja..jangan berfikir kalau itu adalah kencan.. i..ini hanya jalan jalan biasa kok!" Teriakan Akane membuat Mia banjir sweatdrop. Ternyata Akane benar benar anak yg TSUNDERE.

"hei..hei.. aku tidak bilang seperti itu kan?!. Lagian sepertinya kau yang mengharapkan kalau itu akan menjadi sebuah kencan" Mia terkekeh kekeh saat menggoda Akane

"u..urusai! kau mau tidak?!" kali ini wajah Akane sangat merah semerah lampu merah traffic light.

"haik..haik.. Miozuka-kun. Aku mau" Akane akhirnya menghela nafas panjang. Fuuhh akhirnya…

"ka..kalau begitu besok pagi aku jemput dirumahmu" Akane segera mematikan handphonenya dan melemparnya ke kasur. "BAKA!"

"Ohay…." Kalimat selamat pagi itu terpotong karena Mia melihat scenery yg jarang sekali terlihat dikala dia bertemu dengan Miozuka Akane.

Kali ini Akane sedang menggunakan headphonenya sambil bersandar dipagar rumah milik Mia. Akane memejamkan matanya dan menggoyang goyang kepalanya mengikuti irama lagu yg ia dengar. Sambil sesekali bibirnya bergerak mengikuti lagunya."kak..kakoi" gumam Mia. Apalagi sekarang Akane benar benar berpenampilan sangat keren.

"apa yg kakkoi?" Akane yg mendengar gumaman Mia langsung memandang Mia dengan tajam.

"ti..tidak ada. Aku hanya memuji sepedamu :p" Mia mmenjulurkan lidahnya dan berusaha menyembunyikan wajah merahnya.

"ya sudah ayo naik"

"Shiroi-san. Kita sudah sampai." Akane yang masih berada diatas sepeda menoel noel tangan wanita yg sedang memeluk pinggangnya. Dan teryata eh ternyata Mia tertidur di punggung Akane, entah sejak kapan. "Shiroi-san.. jangan bilang kalau kau tertidur?" masih belum ada jawaban.

Akhirnya Akane memutuskan untuk tetap berada diatas sepedanya. Beberapa menit kemudian … "huahhhh.. sudah sampai ya?" Mia merenggangkan otot otonya

"=_= sudah 5 menit yg lalu.." Akane sweatdrop sambil turun dari sepedanya

Mia melihat sekeliling, dipantai terlihat sangat sepi. Dan hanya ada suara ombak dan hembusan angin yg dingin

"oe Miozuka-kun… ini musim dingin kenapa kau mengajakku ke tempat seperti ini?" Mia menggosok- gossokkan pipinya dengan tangan.

"apapun musimnya.. pantai tetap indahkan?" jawab Akane sembari memasukkan tangannya ke dalam kantong

"sou..ka" Mia mengangguk

"soal.. dulu.. tawaranmu masih berlakukan?" Akane membuang wajahnya yang mulai memerah

"tawaran? Apa? Apa aku menjual sesuatu padamu dengan diskon? Kau seperti ibu ibu saja suka diskon" Mia mengerjap ngerjapkan matanya bingung

"ta..tawaran sebagai teman BAKA!" Akane membelakangi Mia sambil menutup mulutnya.

"ah.. kalau itu…. Berlaku selamanya. Kapan kau mau.. aku siap menerima" Mia tersenyum dan menepuk punggung Akane

"a..arigathou.. Mia-san" Akane tersenyum dan menghela nafas panjang

"sama sama TSUNDERE –kun" mia segera turun dari sepeda dan berlari "TSUNDERE TSUNDERE. NAMAMU TSUNDERE AKANE-KUN HAHAHAHA" mia berteriak dan terus mengejek Akane yang mulai mengeluarkan pertigaan lampu merah diujung jidatnya.

"AWAS KAU YAA!" Akane mulai berlari mengejar Mia yg sudah tunggang langgang berlari.

Akane sampai dirumahnya, keadaan rumah sangat sepi. Dan ada mobil didepan rumahnya. Mungkin ada tamu. Karena hal yg belum mungkin untuk ibu Akane memiliki mobil lagi seperti dulu.

"tadaima Oka.." Akane terhenti diambang pintu saat melihat sosok laki laki tegap yang ia kenal "Kenapa kau datang kesini?" raut wajah Akane berubah menyeramkan seketika.

"Aku ingin menjemputmu Akane" laki laki ini menghampiri Akane yang terlihat geram dengan sosok yg ada didepannya

"Aku sudah mengatakannya ratusan kali AKU TIDAK MAU!. Aku MUAK denganmu. Dan jangan temui Okaa-san ku lagi!" Suara Akane mninggi dan menarik laki-laki ini keluar dengan paksa

"Oto-san ingin melihatmu bahagia di Tokyo. Hidupmu akan terjami Akane.." Akane hendak memukul Ayahnya, Miozuka Teru. Tapi hal itu berehenti saat ibu Akane memeluk Kakinya

"Chotto Akane-kun Damme Dia Oto-san mu"

"Oto-san?. Oto-sanku bukan seorang PECUNDANG sepertinya. Yang hanya bisa melarikan diri dari masalahnya yg dia buat sendiri" Akane menutup pintunya dengan keras dan menguncinya. Akane segera memeluk ibunya dengan erat

"Akane…dia oto-san mu" Akane tidak bisa membendung air mata yg sudah di pelupuk matanya

"Kinishinaide oka-san. Aku ingin disini. Bersamamu.." Akane mengelus punggung ibunya dengan lembut

"tapi.. Oka-san ingin kau bersama Oto-sanmu. Karena oka-san tidak ingin merepotkanmu disini"

Akane terkejut dengan perkataan dari ibunya

"jangan membuatku marah oka-san"

"besok sudah malam natal… hah… pasti okaa-san menyuruhku untuk kesana kemari lakukan itu dan ini. . arrghhh!" suara menggerutu itu keluar dari mulut kecil Mia. "o..iya.. Akane… itu suka apa ya?"

/tulit tulit tulit/

"Akane? Panjang umur hahaha"

/tiit/

"Mi..mia-san" suara bergetar itu keluar dan Mia menyadarinya

"akane-kun? Nani? Kau kenapa haa?" Mia terlihat sangat kawatir. Apa dia menangis?

"ka..kau ada dirumah sekarang?"

"i..iya.. ?. ada apa?" Mia yakin sekarang Akane terdengar sangat sedih

"bisakah.. kau menemuiku. Di depan rumahmu" Mia terkejut. Sejak kapan dia ada disana? Kenapa dia disini?

"tunggu disana aku akan segera turun" Mia segera mengambil jaketnya dan berlari keluar rumah. Didepan rumahnya benar benar terlihat laki-laki dengan sepedanya sedang terduduk "akane-kun?"

"Mia.." wajah Akane benar benar pucat. Matanya sedikit sembab menandakan kalau Akane menangis tadi

"ka..kau?" Mia memberikan tangannya kepipi Laki laki mata biru yang dingin. "ada apa akane-kun?"

"a..aku hanya ingin melihatmu. Hehe…" Mia dengan cepat menjitak kepala Akane dengan keras

"baka!. Malam ini udaranya sangat dingin!. Lagian tadi pagi juga kita sudah bertemukan?!" Mia meneriaki laki laki yg tengah diam dihadapannya. "Lalu… kenapa kau menangis ha?"

Akane segera menarik wanita yg 10cm lebih pendek darinya ini dalam pelukannya. "biarkan seperti ini untuk beberapa menit. Waktuku tidak akan lama disini.. sangat singkat…"

Mia membulatkan matanya danmembalas pelukan dari Akane. "hmm hmm"

Mia berjalan menuju sebuah rumah yang sederhana dan banyak sekali bunga disini. "florist?" gumam mia. Didepan rumah itu terdapat banyak sekali orang. "-_- ramainya…". Karena hari ini malam natal mereka semua memborong bunga untuk dijadikan sebuah hiasan.

"su..sumimasen…" Mia memasuki toko tersebut

"selamat datang. Silahkan." Sambutan dari seorang wanita yang sangat cantik. Rambut dan matanya mirip seperti Akane.

"oba-san sumimasen. Akane-kun menyuruhku untuk membantunya di toko.. katany dia ada beberapa masalah. Jadi dia membutuhkanku" mia tersenyum dan membunggkukkan badannya.

"ohh.. kau Shiroi Mia kan?. Akane banyak bercerita tentangmu. Dia ada disana." Wanita ini senyumnya sungguh menawan tapi sayang kakinya harus lumpuh

"ahh.. sumimasen. Oba-san bosnya Akane kan?"

"iie. Watashi wa Akane no Oka-san hehe" Mia mengerjapkan matanya sesaat. Pantes sama….

"sou..ka.. saya akan segera bekerja oba-san ^^"

Mia mulai bekerja.. ditengah tengah pekerjaan dia melihat Akane melayani pelanggannya dengan senyum. Senyumnya adalah senyum yg ikhlas. Dia sepertinya suka bekerja membantu ibunya. Dan demi ibunya

"Ganbatte Akane-kun" Mia memukul pundak laki laki itu dan tersenyum

"hahhahaah ya Mia-san"

"akhirnyaa! . " Mia menjatuhkan badaanya pada lantai toko bisa dibilang nglesotan #bahasa apa ini?. "hah… baru kali ini aku merasakan selelah ini"

"gomen.." Akane berbaring di samping Mia

"ahh.. daijoubu.. hitung hhitung untuk pengalaman kerja nantikan ^^ hahaha" mia memejamkan matanya. "sebentar lagi tengah malam… berarti.. sebentar lagi Natal akan tiba ya" ucap mia dengan semangat dan Akane hanya memiringkan badannya kearah Mia sambil melihatnya.

"tak apakan kalau kita tidak datang ke acara pesta sekolah"

"iee.. daijoubu. Lebih baik disini.." Mia tersenyum kecil dan sangat bahagia.

Ya bagaimana tidak Bahagia Mia bersama dengan laki laki tampan seperti Akane, yang mungkin sedang ditunggu tunggu ratusan wanita disekolah. Bisa dibilang Mia LUCKY GIRL malam ini.

"oh iya aku punya sesuatu" Mia bangun dan mengambil sesuatu didalam tasnya. "Akane kemarilah"

Akane segra bangun dan berdiri disamping Mia. "apa?"

"ini.. ku beri kau gantungan untuk handphonemu" Mia memberikan boneka buatan tangan kecil berbentuk orang 1 laki laki dan 1nya wanita yang sedang memeluk satu sama lain.

"he? Apa ini?" Akane memutar mutar benda itu sembari mengerutkan dahinya

"heii.. ini buatan tangan tau.. lihat jari jariku tertusuk jarum. Yang laki laki itu Miozuka Akane. Dan yang wanitanya… ya.. kau tahukan hehehee" Mia menggaruk garuk tengkuknya yang tidak gatal

"emm aku mengerti apa maksudnya ini. Kau menyukaikukan?" Akane mengeluarkan smirknya yg mengerikan

"ha?! Iiee… bukan be..begitu maksudku i..itu hannya.. hanya.." Mia menundukkan kepalany. Dan memainkan jari jarinya

"merry Christmast" Akane memeluk wanita ini. Dan membuat wajah Mia semakin merah

"dasar playboy" Mia membalas pelukan Akane dan tersenyum

"aku hanya tebar pesona saja" Akane mengeratkan pelukannya

"Hahahaha sama saja TSUNDERE-KUN"

"dasar kau!"

Ibu Akane yang melihat kejadian ini pun tertawa kecil "ternyata Anakku kakkoi juga ya ^^ pantass.."

Akhirnya sekolahpun masuk lagi.. ya bukan akhirnya sih malah membuat petaka untuk Mia yang mulai malas masuk sekolah

"aku ingin pulang~~~" Mia menaruh kepalnya di meja dengan teman sekelasnya Hinata Nami.

"sudahlah Mia-chan.. kita harus semangat!" Nami menepuk nepuk punggung temannya yg terlihat sangat lesu.

"tapi.. hari ini aku sangat malas…." Mia memejamkan matanyya sesaat. "Nami-chan aku mau ke rooftop saja bye" Mia segera berlari menghilang dari kelas yang sedang ada jam kosong

"chot…to.. -_- hah dasar"

di rooftop mia merentangkan tanganny. Menikamti angin yang sebenarnya sangat dingin tapi untuk Mia itu adalah angin kebebasan.

Tiba tiba terdengar suara samar samar, suara orang bernyanyi dengan merdu. Suaranya lembut.. seperti ice cream. Mia mendatangi sumber sura itu.

Di balik tembok bangunan terlihat laki laki yang sedang mengenakan Headphone dan memejamkan matanya. Dia bernyanyi dan menikmati lagu yang ia dengarkan. "Akane-kun?"

"eumh.. Mia?" Akane membuka matanya dan memperbaiki duduknya

"ah.. go..gomen. aku per.." perkataan Mia terpotong saat Akane memberikan isyarat tangan 'kemari'. Mia akhirnya duduk disebelahnya.

Akane menggantikan headphonenya dengan headset. "pakai satunya, dengarkan dan beri komentar".

Mia langsung melakukan perintah Akane. Dia mendengarkannya dengan serious. Permainan gitarnya sungguh indah. Suara yang indahnya itu adalah suara Akane.

Akane melihat kearah Mia dalam dalam sambil tersenyum. Sampai music berakhir pun Akane masih melihat kearah Mia dan tak berkedip sama sekali

"Akane lagunya in…" Mia memeringkan kepalanya "are..? Akane?" tapi Akane masih saja melihat kea rah Mia sambil tersenyum. "Akane lagunya sudah habis…" masih tetap seperti itu. Dan..

"TSUNDERE-KUN!" Akane mengerjapkan matanya dan memukul mukul pipinya

"ah.. go..gomen. bagaimana lagunya?"

"ini suaramukan Akane-kun?. Hahahaha tak ku sangka kau bisa bermain gitar seindah itu. Dan suaramu.. tak kalah dengan penyanyi terkenal lainnya." Mia tersenyum dengan lebar.

"yokatta. Arigathou. Lagu itu adalah lagu ciptaanku sendiri, hanya kau yang boleh tau soal ini"

Musim Panas pun tiba. Dan mulailah mempersiapkan untuk liburan musim panas. Di koridor sekolah, si mata hijau Mia berjalan dengan lesu melewati kelas kelas yang ada. "at….sui. at..sui" gerutunya. Mia tak melihat jalan dengan benar dan…

BRUAKKK!

"i..itai.. pergunakan matamu hei kau…" Mia terjatuh dan mendoongakkan wajahnya keatas. "kau?"

"Mia-chan?" laki laki dengan seragam sekolah yang beda. Sepertinya dia pindahan dari salah satu SMA di Tokyo.

"kau?... Mitsuki Fuji?" Mia segera berdiri dan mengingat ngingat kembali pada rambut hijau tua yang berada di dihadapannya

"ya ini aku Mia-chan. Hahahahhahaha long time no see" laki laki ini langsung memeluk Mia dengan erat. "kau tahu.. aku ingin sekali bertemu denganmu semenjak 2 tahun yang lalu aku pergi dari Habataki"

"eum.. tanpa pamit tentunya" Mia melepaskan pelukan Laki laki itu

"hahaha. Jangan marahlah Mia-chan, aku pindah kesini. Karena… Ada beberapa masalah di perusahaan oto-san yang telah meninggal 1 tahun yang lalu" Fuji memnundukkan kepalanya

"oto-san? Ahh.. gomen. Aku turut berduka." Mia hanya memsang wajah datarnya, seakan dia tidak ingin bertemu dengan Fuji.

"lagian kalau aku sekolah disini, aku bisa menemukan siapa yg membunuh oto-san. Aku akan menemukan anaknya disini. Dia pasti pintar bermain wajah" Fuji mengepalkan tangannya dengan erat seakan benar benar membenci ssosok yg membunuh Ayahnya

"pem..bunuh? pembunuhnya seorang Mafia kah?"Mia membulatkan matanya teringat dengan perkataan teman satu SMPnya Nanako

"iya.. seperti yg diberitakan dia adalah ketua dari sekelompok Mafia di Tokyo. Entah karena apa oto-san di bunuh oleh mereka." Wajah fuji menjadi sangat sendu.

Dan tiba tiba dari belakang Mia terlihat seorang laki laki si mata biru yg berjalan menghampiri Mia

"kau.. disi..ni" Akane menepuk pundak Mia dan menatap horror laki laki yang wajahnya sangat Familiar yg ada didepannya "Kau..?"

"ehh? Kau mengenalnya Akane-kun?" Mia mengerjap kerjapkan matanya.

"I..iee. mungkin aku salah lihat" Akane mengalihkan pandangannya dari Fuji

"kau tidak salah lihat Akane-kun. Aku Mitsuki Fuji" Fuji melihat horror kea rah Akane dan menekankan pada kata Mitsuki nama keluarga Fuji. Seketika Akane membelalakkan matanya

"kau pindah disini?"

"haik… aku ingin bertemu dengan anak dari seorang pembunuh Ayahku"

Mia yang melihat percakapan ini sangat kebingungan. Apa yang mereka bicaraakan? Akane berkenalan dengan Fuji dimana? Kapan?.

"Akane-kun!. TSUNDERE-KUN!" lengkingan Mia memenuhi seluruh koridor sedangkan yang dipanggil hanya berjalan lurus seakan dia tidak mendengar perkataan Mia, atau memang dia tidak mendengar lengkingan Mia. "Akane!" Mia menghepaskan tangannya di punggung temannya ini

" . Mia kau mengagetkanku" wajah kaget Akane terlihat sangat datar -_-

"=_= wajahmu terlihat tidak seperti orang kaget Akane-kun"Akane hanya diam dan mengalihkan pandangannya serta melanjutkan langkah kakinya "eto.. Akane-kun. Dimana kau mengenal Fuji?"

Akane terlihat kaget dengan perkataan itu. Dia terlihat bingung bagaimana menjawab pertanyaan yang seharusnya pertanyaan yang sangat mudah dijawab. Akane hanya bisa diam dan melanjutkan langkahnya.

Mia terdiam disana, "kau menyembunyikan sesuatu Akane-kun"

Di rooftop terlihat sangat sepi dan hening… dijam pulang sekolah ini ada 2 orang anak laki laki yang telah berjanji untuk bertemu

"apa yang ingin kau tanyakan padaku?" Akane memandang kosong kea rah laut disana

"aku hanya ingin membahas soal pembunuh" Fuji tersenyum manis disana.

"apa hubungannya denganku?" Akane membalikkan badannya

"kau… ada disana dulu.. dan aku tahu siapa kau Akane.. teman lama" Fuji menatap Akane dengan penuh dendam. Akane mendengus kesal

"lalu?"

"suruh Miozuka Teru menyerahkan dirinya ke polisi. Dan kau takkan terlibat Akane" kata Fuji sambil berjalan mendekati Akane

"aku sudah tak ada hubungan lagi dengannya. Kau salah bila menyuruhku Fuji" Akane membuang wajahnya. "lagian aku tidak pernah terlibat dengan kasus itu" tambahnya

"apa?! Kau tidak terlibat?!. Dulu saat kejadian itu kau memaksaku untuk pergi keluar dan berjalan jalan. Coba saja bila kau tidak memaksaku aku tidak akan membiarkan Ayahku sendirian disana dan dibunuh dengan seorang bajingan. Kau pasti bersengkongkol dengan ayahmu kan?" Fuji menarik kerah baju Akane

"A..apa maksudmu?" Akane mendorong kasar laki laki yang ada didepannya

"jangan pura pura bodoh kau Akane. Cepat suruh Miozuka Teru menyerahkan dirinya atau Mia-chan akan tau siapa dirimu sebenarnya?. Kau anak dari seorang pembunuh, dan kau akan menjadi seorang pembunuh juga" Fuji meninggalkan Akane yang membalakan matanya dan menundukkan wajahny. "pikirkan itu baik baik Akane" tambah Fuji yg lalu menghilang.

Akane terduduk dan mengacak acak rambutnya. Dia tidak tahu harus memilih yang mana. Dia memukul mukulnya tangannya dilantai.

Sebenarnya Akane menyayangi ayahnya, dan dia juga tidak ingin Mia tahu tentang semua ini.

"BAKA!"

Ternyata malam itu juga setelah pulang dari sekolah Akane memutuskan untuk menemui Ayahnya di Tokyo. Dengan tekad bulat, dan apapun yang akan terjadi Akane akan membawa Ayahnya ke hadapan Fuji segera.

Sesampainya disana dia memasuki rumah besar dan mewah milik Ayahnya. Memang Ayahnya saat ini hanya bisa menyamar menjadi orang lain, dan itu sangat rapi. Sehingga polisi sulit melacak keberadaanya.

"kau mau kemana anak muda. Jangan masuk sembarangan disini?" seorang dengan badan tegap dan jas yang rapi mencegatnya didepan gerbang.

"biarkan aku lewat.. aku Miozuka Akane. Anak dari Teru bosmu" Akane memandang semua orang disana dengan tatapan mengerikan

"o..oh.. silahkan masuk Tuan. Tuan besar ada di Ruangannya"

Akane segera meluncur dimana Ayahnya berada. Rumahnya terlihat sangat sepi dan isinya hanya laki laki penjaga yang menjaga lingkungan rumah ini.

Akane menemukan ruangan Ayahnya dan segera membukanya

"aku masuk" katanya sembari membuka pintu yang ada dihadapannya

"a..akane?" Miozuka teru membulatkan matanya ketika wajah anaknya sekarang terlihat di pintu ruang kerjanya. "kau..kenapa kau disini?"

Akane berjalan perlahan dan memandang ke Ayahnya. Tiba tiba saja Akane berlutut dihadapan Ayahnya "O..Oto-san.. aku.. mohon padamu. Untuk kali ini saja. Aku sangat memohon. Tolong menyerahlah pada polisi" Akane menundukkan kepalanya

Mendengar permintaan Anak semata wayang ini Teru hanya bisa tersenyum kecil dan menarik Akane untuk berdiri. "Akane…Bukan Oto-san tidak ingin menyerah pada polisi tapi… Oto-san hanya butuh waktu"

"untuk apa?.." Akane memandang wajah Ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca

"untuk bersenang senang bersama keluargaku dimusim panas terakhirku di musim panas kali ini" Teru memeluk Anaknya ini dengan erat dan mengelus elus kepalanya.

Hati Akanenya yg benci pada Ayahnya kali ini hilang, yg dia rasakan adalah kasih sayang seorang Ayah pada anaknya yg amat sangat dia rindukan setelah beberapa tahun yang lalu. "Oto-san.. se..sebenarnya aku tidak ingin membuat Oto-san masuk ke penjara tapi…"

"Oto-san mengerti.. kau tidak ingin kehilangan teman teman mu. Tapi.. tetap saja nanti mereka akan tahu"

"Daijoubu…. Asalkan Oto-san akan menemani Oka-san dan aku musim panas ini"

Liburan musim panas pun tiba… terlihat seorang wanita bermata hijau ini sedang menyirami bunga bunga SEPAGI INI sekitar jam 06.00 didepan rumah. Dia tidak sendirian, dia bersama laki laki yang biasanya menemaninya di setiap harinya #plak

"jadi.. Oto-sanmu akan mengajakmu jalan jalan kepantai?" Mia mengerjap ngerjapkan matanya bingung. "jadi.. Oto-sanmu selama ini ada di Tokyo?"

"iya…iya" jawab singkat Akane

"emm.. jadi musim panas ini kau tidak ada waktu dengaku?" Mia memandang Akane dengan wajah sedih. "ahh lupakan…" Mia menggeleng gelengkan kepalanya

Akane tersenyum kecil "pasti ada…"

Mia memandang Akane dan tersenyum. Warna merah dipipinya terlihat. Mia sangat senang mendengarnya. "kalau begitu aku ingin pergi ke pantai"

Akane hanya tersenyum dan mengalihkan pandangannya. Sebenarnya Akane tidak yakin kalau musim panas ini dia akan menemani teman tercintanya ini untuk pergi kepantai, karena….

Tiba tiba seorang laki laki dengan rambut hijau tuanya melewati depan rumah Mia

"ohayo.. minna ^^" sapa Fuji

"ohayo.. Fuji-kun" Mia membalas senyum Fuji dan Akane hanya mengalihkan pandangannya dari laki laki didepannya

"Akane-kun..,, bagaimana?" Tanya Fuji. Akane tahu dimana arah pembicaraan Fuji padanya, dan dia hanya menghela nafas panjang dan menatap Fuji horror

"akan ku tunggu untuk 2 hari… kalau tidak kau tahukan resiko yang harus kau tanggung Miozuka-san" Fuji tersenyum licik. Dan Mia yang mendengarkan percakapan itu hanya diam, karena dia tidak tahu kemana arah pembicaraan mereka

"se..sebenarnya apa yg kalian bicarakan?" Mia mulai bertanya dan dengan cepat pandangan Akane beralih ke arah Mia.

"i..itu.." ucapan Akane terpotong "itu akan menjadi kejutan nantinya Mia-chan" sahut Fuji dan tersenyum hangat pada Mia. Akane mengepalkan tangannya. "sesuatu.. yang bisa membuat perasaanmu berubah seketika" tambah Fuji

"heum? Perasaan?" Mia tetap dalam mode bingung dengan kata kata yang ambigu itu

"jaa" Fuji berjalan menjauh dari kedua orang yang mematung

2 hari setelahnya Fuji memembuat pertemuan dengan Mia di sebuah cafe dekat pantai. Mereka saling berbincang dan akhirnya Fuji memasuki pembicaraan yang seharusnya dia tidak mengatakannya, karena itu adalah sebuah JANJI

"Mia… kau tahu siapa Akane sebenarnya?"

"maksudmu? Dia temanku pasti aku tahu" Fuji tersenyum kecil mendengarnya

"haha… Akane itu anak dari seorang pembunuh yang membunuh Ayahku" Fuji mengatakannya dengan cukup gamblang

"a..apa?. kau ini jangan menyebar gossip yang tidak tidak" Mia mengibas ngibaskan tanggannya

"aku tidak menggosiip ini fakta, besok lihat saja kalau ada akan sekumpulan polisi berada disana untuk menangkap Ayahnya. Dan Akane juga ikut bersengkongkol dalam kegiatan pembunuhan itu. Mungkin saja dia juga akan ditangkap. Lupakan perasaanmu padanya Mia-chan" Jelas Fuji sembari memegang tangan Mia yang sedang mematung kaget dengan perkataan Fuji

"k..kau?.. aku tidak percaya dengan kata-katamu Fuji ha.. Akane bukan seorang pembunuh kau tahu!" Mia menarik tangannya denga kasar dan segera pergi dari hadapan Fuji teman lamanya.

"jangan menyesal nantinya Mia-chan"

Keesokan harinya, Ini sudah seminggu dia tidak bersama Akane, karena Mia membiarkan Akane bersama Ayahnya. Dia berusaha untuk tidak menghubungi Akane.. tapi.. selalu saja perasaan itu muncul. Dan akhirnya dia memutuskan untuk mendatangi rumahnya.

Didepan rumah Akane terlihat sekerumunan orang, dan polisi yang sedang berdiri disana. Polisi itu menarik seorang laki-laki dari rumah Mia dan disana terlihat ibu Akane menangis dan Akane hanya memeluk ibunya.

"a..apa ini? Ada apa? A..apa benar kalau…" Mia segera berjalan mendekati kerumunan itu. Dan memang benar yang ditangkap adlah ayah Akane Miozuka Teru. Mia yang mengetahui hal itupun langsung berjalan pergi. Dan saat itu Fuji berada didepannya.

"kau lihat sendirikan Mia?" Fuji tersenyum khas liciknya.

"biarkan aku pergi!" Mia segera berlari meninggalkan kerumunan itu dan pulang kerumahnya. Akane yang melihat kejadian itupun langsung mengejar Mia.

Didepan rumah Mia Akane menarik tangan Mia. Terdengar suara isakan disana. Akane terlihat sangat merasa bersalah karena menutupi semuanya.

"go..gom.." Mia memukul Kepala Akane dan memotong permintaan maaf Akane

"kenapa kau tidak bilang dari dulu ha?! Mia kecewa dengan ini semua. Bukan kecewa karena Ayah Akane adalah seorang pembunuh. Tapi karena Akane tidak mengatakan beban seberat ini padanya. "selama ini kau menganggap aku apa AKANE!" Mia menangis sekuat tenaga dan memukul mukul tubuh Akane yang membeku disana "katanya kita adalah TEMAN tapi kenapa…."

"gomen.. aku tidak akan melakukannya lagi.. jadi janganlah menangis Mia" Akane mengelus kepala wanita yang sedang menangis hebat disana."

"janji.." Mia memberhentikan tangisannya dan segera memeluk temannya itu. "dan… jangan tinggalkan aku di musim panas minggu ini Akane-kun"

Mendengarkan perkataan Mia itu Akane hanya bisa diam dan menahan buliran air mata itu turun dari matanya. Karena janji itu sangat sulit untuk diwujudkan setelah semua ini terjadi.

Dirumah Akane terlihat sedang merapikan barangbarangnya dan dimasukannya ke dalam sebuah koper yang cukup besar

"Akane-kun apa kau yakin?" Tanya ibunya sembari membantunya merapikan barang barang

Akane hanya diam dan melanjutkan aktivitasnya. Akane sendiri bingung apakah keputusannya itu benar. "Bagaimana dengan Mia?" pertanyaan dari ibunya kali ini membuat Akane memberhentikan aktivitasnya "aku ingin dia melupakanku" jawab Akane singkat. "tapi.. itu akan membuat hatinya sakit Akane-kun" balas ibunya

Akane menghela nafas panjang dan menundukkan kepalanya "Mangkannya dari itu oka-san aku ingin dia melupakanku, dan dia tidak akan merasakan sakitnya"

Ibu Akane mengelus kepala Akane dengan kasih sayangnya dan memeluk anak semata wayangnya ini "kaalau memang itu keputusanmu, ibu tidak bisa berkata apa apa lagi. Tapi ibu yakin bahwa kalian berdua tidak akan bisa melupakan satu sama lain" Akane tersenyum dan mengangguk kecil. "mungkin aku tidak bisa melupakannya tapi dia HARUS bisa melupakanku"

Sedangkan dirumah Mia, dia memandang sebuah photo yg dia ambil ketika musim dingin bersama Akane di tokonya.

"lusa kau akan berulang tahun ya Akane.. sebentar lagi liburan musim panas akan berakhir.. kita bisa mendengarkan sebuah lagu bersama lagi di rooftop" Mia tertawa kecil sambil memeluk photo yg ada ditangannya. "akan ku berikan sebuah kado terindah untukmu besok lusa"

Siang hari ini sangat panas, Mia terkoyak lemah di tempat tidurnya. "at..suii" keluhnya setiap hari. Padhal diruangannya terdapat AC alias angin cepoi cepoi.

"kenapa Akane belum menelponku.. -_- setiap ditelpon pasti sibuk, hah" Mia memandangi handphonenya

/tulit ulit/

Handphonenya pun bersuara di layar tertulis sebuah nama yang sangat dia rindukan, AKANE. Mata Mia membulat semua nyawanya kembali utuh dan segera mengangkat telponnya

"Akane-kun!" teriaknya dengan semangat

"hmm" Akane hanya menjawab singkat, lebih singkat dari biasanya seakan dia tidak mengenal sosok yg sedang ditelponnya

"a..ada apa Akane kun?" mia berharap kalau Akane kun akann mengajaknya keluar hari ini

"ano.. sore ini bila kau tidak acara ku tunggu di pantai, ada yang ingin ku bicarakan penting, jangan terlambat dan jangan terlalu cepat, paskan waktunya. Jja" Akane dengan cepat mematikan telponnya. Mia terdiam dan bingung perkataan penting apa yg akan Akane katakana padanya.

"mungkinkah…" Mia tersenyum dan memeluk gulingnya untuk menutupi wajah merahnya

Sore ini, sesuai dengan janji yg telah mereka buat bersama, bertemu di pantai. Mia memakai baju yang paling bagus, dan berdandan dengan cantik. Dia tersenyum melewati deru ombak menuju dimana Akane berdiri dan memandang matahari yang akan terbenam

"AKANE-KUN!" Mia memegang tangan Akane dan memandangnya dengan senyum, sedangkan Akane hanya melihatnya dingin tanpa ada senyum disana. "kau ingin bicara apa Akane-kun?"

"Mia.. aku akan pergi. Aku ingin melanjutkan sekolah di Hokkaido" Akane mengalihkan pandangannya dari Mia

"ha?.. Akane-kun! Kau jangan bercanda, nanti kalau kita tidak makan bersama lagi, naik sepeda lagi gimana?, dasar kau iini" Mia tetap tersenyum dan tidak percaya apa yang dikatakan padanya

"lupakan perasaanmu padaku, aku bukan seseorang yg kau dambakan selama ini, aku yang bersamamu bukanlah aku yang sebenarnya. Kau tidak tahu aku" perkataan Akane membuat dirinya main bingung dengan si mata biru laut ini

"maksudmu?"

"lupakan aku.. aku ingin kau melupakan detik detik dimana aku berbohong padamu dengan semua ini!. Jangan pernah mengingat namaku Mia!" Akane meninggikan nada suaranya dan membuat Mia membulatkan matanya

"apa yang kau maksud?!. Selama ini kau?. Tidak aku tidak percaya, senyum mu selama ini bersama ku adalah senyum yang ikhlas, bukan senyum yang dipaksakan" Mia menggenggam erat tangan Akane seakan tidak ingin melepaskannya

"memangnya kau tau darimana kalau itu adalah senyum yang ikhlas?!" Perkataan Akane ini membuat Mia mematung, nafasnya terasa sesak, dadanya tersa sakit.

"A,,Akane-kun.. aku yakin, aku yakin dengan senyum itu dan semuanya" Mia memandang Akane dengan mata yg berkaca-kaca

"aku mohon.. lupakan semuanya.. lupakan aku.. dan lupakan perasaanmu padaku.. selamanya. Selamat tinggal" Akane melepaskan genggaman Mia dari tangannya dan berbalik memunggunginya dan berjalan pergi meninggalkan sosok yang sebenarnya sangat disayanginya

"A..akanee…" Mia menangis sekeras-kerasnya. Tidak ada badai dihubungan mereka berdua tetapi, semua berakhir dengan satu kata SELAMAT TINGGAL. mia hanya bisa menangis sepetah dua kata dia tidak bisa keluarkan karena perasaanya yg tidak menentu

Sedangkan Akane yg mendengar tangisan Mia hanya mentutp telinganya "jangan menangis..aku mohon.. Gomenne" Akane segera berlari pulang.

Matahari terbenam ini menjadi saksi kesedihan Mia dan Akane disana.

Keesokan harinya setelah pulang dari sekolah Mia memtuskan memberikan sebuah hadiah ulang tahun berupa kalung buatannya semalam dengan aliran air asin deras dipipinya. Mia memberanikan diri mengetuk pintu rumah Akane, dan berharap bahwa Akane ada dirumah.

"permisi" Mia mengetuk pintunya perlahan, dan keluarlah seorang wanita, ibu Akane dengan kursi rodanya.

"Mi..mia. ada apa?" Ibu Akane menyambutnya dengan hangat "Akane sudah tidak disini, kau tahukan?"

"iya.. obaa-san. Aku hanya ingin memberikan ini, kalau seumpama Akane kembali, berikan ini padanya. Bilang padanya kalau percuma saja bila dia berbohong padaku, dan menyuruhku untuk melupakannya, karena aku akan menunggunya kembali kesini lagi" Mia tersenyum sambil menangis.

Dengan hangat Ibu Akane menarik Mia kedalam pelukan hangatnya "jangan menangis.. kau adalah wanita yg kuat, kau pasti bisa menerima semuanya. Dan pasti dia akan kembali nanti". Mia mengangguk dan membalas pelukan ibu Akane. Sedangkan laki laki yg sedang bersembunyi melihat ini semua hanya bisa menutupi mulutnya dan membiarkan aliran deras itu mengalir ke pipinya.

Akane harus berbohong pada perasaanya kali ini karena alas an yang tidak jelas. Alasan yang bodoh, dan alas an yang sebenarnya bisa diterima oleh Mia dengan lapang dada. Tetapi, Akane tidak ingin membuat Mia terus berharap padanya, anak dari keluarga sederhana dan anak dari seorang pembunuh.

"Mia.. hari sudah mulai gelap lebih baik kau pulang.. nanti Ayah dan Ibumu`mencarimu" Ibu Akane mengelus kepala wanita berambut pendek ini. Mia hanya tersenyum dan mengangguk. Dengan segera dia pergi dari rumah Akane.

Akane keluar dari tempatnya dan menemui Ibunya. Wajahnya terlihat sangat merah "Oka-san.." suaranya terdengar parau, dan agak tersendat.

"cepat bersiap.. malam ini kau harus segera berangkat. Hapus airmatamu Akane" Ibu Akane tersenyum. Akane hanya mengangguk.

Hari ini adalah hari dimana Akane harus meninggalkan Habataki, tempat dimana dia bertemu dengan sosok yang sangat disayanginya, Mia. Di stasiun kereta dia hanya bisa diam dan berdiri disana. Memori memori tentang Mia bersamanya kembali muncul membuat Akane harus menundukkan kepalanya menyembunyikan tangisan yang ia tahan. "aishiteru Mia"

Sedangkan Mia yang berada dirumahnya hanya bisa duduk termenung sambil melihat kearah laut lepas di jendelanya. Jermarinya mengenggam erat sebuah gantungan handphone yang sengaja ia buatkan untuk Akane dan dia sendiri. "Akane-kun… Daisuki" ucapnya lirih.

6 TAHUN KEMUDIAN

Mia sekarang sudah mendapat pekerjaan sesuai dengan jurusan kuliahnya dulu. 6 tahun… 6 tahun.. setelah perpisahannya dengan Akane Mia tetap menjadi orang yg sama. Mungkin, hanya penampilannya yg berbeda. Sekarang dia lebih dewasa dari yang dulu. Rambutnya yang pendek sekarang telah berubah menjadi panjang.

Mia tidak lupa dengan sosok yang telah meninggalkannya selama ini. Di pantai ini mereka bertemu dan di pantai ini mereka berpisah. Tapi, Mia tetap menunggu sosok yang ia idamkan, Akane.

Sekarang Mia sedang berdiri di sebuah stasiun. Banyak org lalu lalang bagaikan mengacuhkan keberadaaanya sekarang. Tapi apa boleh buat, langkahnya tetap maju walau ditabrak oleh ratusan orang untuk memasuki kereta itu.

Pada saat Mia ingin masuk dalam kereta tersebut, terlihat sosok laki laki yang sedang berjalan keluar dari kereta disebelahnya. Laki laki itu memandang kearah Mia dengan senyuman khas ala Akane yg jarang sekali ia munculkan di tempat seperti ini

"Akane?" gumam kecil Mia, yang langsung mencancel niatnya untuk pergi kerumah neneknya di Tokyo menggunakan kereta.

Langkah kecilnya terus mengikuti langkah cepat milik laki laki yang ia kira Akane. Dia masih ingin memastikan siapa laki-laki itu.

Mia tidak bisa mengejar sosok itu, sosok yang dia yakin kalau itu laki laki yang sangat ia rindukan. Nafasnya berart harus melawan ratusan orang di stasiun ini.

Tidak terasa tetesan builr air dari mata Mia menetes.

"a..akane?..." suaranya bergetar. Tangisannya semakin tidak bisa ditahan lagi sampai ada seseorang yang menepuk pundaknya, dan memberi secarik kertas padanya. Mia membalikkan badannya dan menerima kertas itu. Mia memandang laki laki berkacamata hitam ini dalam dalam.

"baca.." ucap laki laki yang memberikan kertasnya padanya dan meninggalkannya mematung disana.

Mia membuka kertas itu, dia tersenyum.

Baka-san,

Jangan menangis

Ku tunggu dipantai sore nanti

Salam Baka,

Tsundere-kun

Mia langsung berlari dan pulang kerumahnya. Dia yakin kalau laki-laki tadi adalah Akane.

Sore ini, sesuai janjinya dengan laki laki kertas dia menunggu dipantai. Senyumnya tidak bisa lepas dari bibirnya sekarang. Bahagia.

"kirei.." gumam Mia lirih

"apapun musimnya pantai tetap indahkan…." Seorang pria tiba tiba menyahut dari belakang. "apalagi dengan bunga sakura yang sedang berjatuhan seperti ini…" tambahnya sambil memainkan sebuah kalung yang ada dilehernya

Mia segera melihat kearah belakangnya dan terbelalak tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Kalung yang pernah ia beri sebelumnya.

"maaf.. aku melepaskan tanganmu dulu. Dan harus menyuruhmu menunggu selama ini" ucap Akane sambil memegang kedua tangan Mia dan lalu memeluknya. Tangisan kebahagiaan Mia tidak bisa dibendung lagi

"ayo kita mulai semua dari awal, dan luapkan perasaan kita. Dan lupakan semua kenangan buruk itu" Mia membalas pelukan sosok yang sangat dicintainya

"aku tahu itu…. Dan aku percaya itu akan hanya menjadi Kenangan perpisahan (Memories of Goodbye)"

END