This is original fiction published on 1/16/2014, FictionPress and written by pillow addict. Do not copy.


pada suatu hari, kami berpisah

"Tidak setiap pertemuan adalah sebuah permulaan, begitu pula tidak setiap perpisahan adalah sebuah akhir, dari segalanya perkara hati anak manusia."


Gadis itu sudah merasakannya. Sudah sejak lama ia menyadari perubahan yang diperlihatkan pemuda itu. Setidaknya sudah berlangsung sejak dua bulan lalu. Bukan berarti ia berusaha menyangkal tanda-tanda bahwa pemuda itu akan segera menjauh darinya, lepas darinya, dan melupakan dirinya nanti. Hanya saja semuanya terlalu sulit dipercaya. Ia sudah menjalin ikatan bak benang merah bersama pemuda itu semenjak ia menginjakkan kaki di kota perantauan ini, sudah hampir dua tahun gadis itu merasa bersama pemuda itu—pemuda yang menggenggam setiap rasa dan emosi yang bahkan dalam hidupnya belum pernah ia rasakan pada orang lain—dengan rasa membutuhkan dan kenyamanan. Ia tidak berani menyebutnya dengan nama cinta, karena baginya semua terlalu dini, namun tetap saja orang-orang akan bilang bahwa ia sedang jatuh cinta pada pemuda itu.

Mungkin cukup sampai di sini. Bagaimana bisa?

Ya, sebuah kalimat terlarang yang selalu mereka rapatkan untuk tidak mengucapkannya melalui bibir akhirnya terucap juga. Orang lain tidak perlu menanyakan seperti apa rasa yang ia rasakan sekarang, karena ia sendiri juga bertanya pada dirinya sendiri, seperti apa rasa yang harus ia rasakan? Haruskah ia menangis? Haruskah ia berteriak sekeras mungkin? Atau haruskah ia tersenyum dan menerimanya?

"Tidak," ucapnya tanpa ia sadari.

Pemuda itu hanya melihat gadis itu sebatas rambut di kepalanya, ia tidak berani memandang mata coklat kembar gadis itu, kemudian berkata, "Kau tidak peka."

Bukan. Gadis itu tahu hal ini akan segera datang, karena pemuda itu terlalu jelas memperlihatkan setiap tandanya. Ia hanya bisa mengepalkan tangan dengan kuat, tubuhnya tipis gemetar. Sekuat tenaga meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Hati malangnya tidak akan patah dan hancur. Hati kecil itu kuat dan sangat kuat, sangat kuat seperti rasa kasih untuk pemuda itu.

"Sudah dua tahun."

Pemuda itu maju selangkah mendekati gadis itu, namun rasa nyeri mendadak ia rasakan di perut saat gadis itu juga mundur satu langkah.

"Kenapa?"

Pemuda itu terdiam. Tidak berkata apa-apa, padahal selama ini ia adalah orang yang ceria. Setiap saat selalu membuat lelucon aneh dan entah bagaimana itu terjadi, lelucon itu pasti akan berhasil menghibur gadis itu. Mereka dulu tertawa bersama. Selalu tersenyum bersama bagaimanapun keadaan mereka.

Ah, setiap momen dalam hubungan mereka bukanlah sesuatu yang selalu manis dan indah. Mereka sering bertengkar karena hal-hal kecil, tapi tetap saja pada akhirnya mereka akan bisa menemukan jalan keluar. Kenapa kali ini tidak bisa? Biasanya bukan pemuda itu yang berpikir untuk mengakhiri hubungan mereka ini, namun si gadislah yang beberapa kali memikirkannya. Sungguh ironis.

"Kita tidak akan bahagia," kata pemuda itu. Sebuah alasan yang absurd untuk mengakhiri sebuah hubungan, "kau pasti akan menemukan pemuda yang lebih baik dariku, kau masih muda."

Jika bisa gadis itu akan mendengarkan semua kata-kata yang akan pemuda itu katakan. Semuanya tanpa terkecuali walau itu alasan bodoh dari yang terbodoh sekalipun. Ia sudah tidak bisa berpikir lebih, alasan apa pun yang pemuda itu katakan tidak akan berguna. Perpisahan ini pasti akan terjadi karena kata terlarang itu sudah pemuda itu katakan.

"Kita putus."

Dua kata itu seperti paku yang ditancapkan tepat di dada gadis itu. Bagaimana orang bisa menuliskan rasa patah hati, kecewa, dan tidak tahu tentang apa pun lagi? Apa mereka menuliskannya dengan tertusuk, hancur seperti dihantam batu, atau seperti dijatuhkan ke jurang? Mereka tidak tahu, ia tidak mengerti, dan pemuda itu mungkin tidak menyadari. Ia tidak pernah merasakan hal ini. Ia mengira hidupnya sempurna sekalipun banyak retak-retak di mana-mana, tapi pemuda itu membuat segalanya menjadi lebih baik dan menutupinya. Semuanya dulu terlihat sempurna, semuanya telihat sempurna sampai pada beberapa menit yang lalu.

Menghela napas panjang, gadis itu mendongak melihat pemuda yang lebih tinggi darinya itu. Mengingat beberapa skenario yang ia sempat rencanakan hari-hari yang lalu. Entah ia sendiri juga tidak tahu kenapa saat di cermin ia akan melihat refleksi dirinya sendiri, menjalankan skenario seperti ini pada dirinya sendiri.

Karena tanda-tanda semuanya akan berakhir sudah jelas, eh?

Tidak, tidak, tidak. Ia tidak bisa mengingat barang satu skenario pun. Ia tidak bisa berada di tempat ini lebih lama.

Gadis itu selalu mengira patah hati adalah hal yang bodoh. Melihat orang-orang yang terpuruk karena ditinggal orang yang dikasihi adalah hal yang bodoh. Namun ia sendiri juga tidak menyadari bahwa rasanya akan sesakit ini. Secara sederhana rasa itu sakit dan napas sesak.

Mungkin mereka yang mengatakan bahwa patah hati adalah hal yang sangat tidak cerdas adalah orang yang belum pernah merasakannya, eh? Atau mereka yang memandang sebelah mata orang yang terpuruk dan menangis karena kehilangan orang yang mereka sayangi—entah itu pergi, menghilang, atau kembali ke sisi-Nya—adalah orang yang telah melalui masa itu dan menjadi bahagia. Bagaimana jika orang yang terpuruk dan menangis itu tidak mempunyai orang yang bisa memuat mereka bangkit dan menjadi bahagia seperti orang-orang yang memandang mereka dengan sebelah mata? Mereka sama-sama manusia, terlahir tanpa apa pun dan akan mati tanpa membawa apa pun. Kenapa?

Pemuda itu tidak mati, namun akan pergi. Mungkin akan ada perbedaan rasa pada kedua hal itu jika terjadi. Namun rasa sakit tetaplah rasa sakit. Mungkin ada hal yang jauh lebih besar, namun tetap saja itu rasa sakit. Tidak selayaknya rasa itu dicemooh dan dipandang sebelah mata.

Kemudian gadis itu sadar bahwa tidak ada yang bisa dipaksakan. Ya, semuanya telah berakhir. Berusaha mengatur napasnya kembali, berdiri tegak dan mengeraskan hati kecilnya ia berkata, "Kita akan tetap menjadi teman, bukan?"

Pemuda itu terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.

Senyum tipis gadis itu sunggingkan sebelum akhirnya ia berbalik dan dengan tegas berjalan menjauh. Karena ia tahu, ia tidak bisa berada di hadapan pemuda itu lebih lama lagi. Ia tidak ingin hancur dalam pandang mata pemuda itu. Setidaknya ia ingin pemuda itu tahu bahwa ia akan baik-baik saja dengan berjalan menjauh. Setiap langkah pasti itu dilihat oleh pemuda itu, supaya ia sadar bahwa gadis itu baik-baik saja, itulah harapannya.

Gadis itu tidak butuh alasan kenapa hubungan mereka berakhir, karena pemuda itu sudah mengatakan bahwa ia sudah tidak ingin bersama dengannya, dan baginya itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi alasan perpisahan mereka.

Mereka tidak pernah berandai tentang masa depan hubungan mereka berdua, hanya secara sederhana menjalaninya. Bagi mereka itu adalah hal yang tabu berbicara tentang masa depan, saat hari esok saja mereka tidak tahu. Ya, dalam dua tahun ini mereka sama sekali tidak berani merencanakan masa depan, yang mana menuliskan mereka dalam sebuah lembar yang sama dan berharap bahagia selamanya. Mungkin itulah mengapa ia bisa menerimanya, karena setidaknya tidak ada harapan tentang masa depan yang kandas, hanya hati dan kepercayaannya saja yang luluh lantah.

Terakhir, ia hanya bisa berharap matanya tidak akan sembab karena menangis semalaman. Lalu, ia juga berharap mereka akan menemukan jalan mereka masing-masing.

Toh, hati kecilnya masih bertanya walau sudah terkikis di beberapa bagian. Kenapa mereka harus berpisah setelah sekian lama menjalin hubungan?

tidak semua alasan bisa dikatakan, mungkin mereka akan mengatakan hal bodoh untuk dijadikan sebuah alasan, apa pun itu tetaplah harus disadari bahwa suatu waktu, perpisahan adalah jalan yang terbaik.

Dari kejauhan pemuda itu tidak pernah melepaskan satu detik pun tatapannya pada gadis itu. Ia terus melihat gadis itu berjalan meninggalkannya, meninggalkan hatinya, dan hidupnya dalam sebuah langkah yang berani. Sampai gadis itu memasuki sebuah taksi yang akan mengantarkannya untuk semakin menjauh. Ia tahu bahwa gadis itu akan menangis seketika saat ia sudah memasuki taksi itu. Ia tahu hati gadis itu berteriak untuk tetap tinggal.

Setelah gadis itu benar-benar hilang dari pandangannya, ia mendongak ke langit, "Tolong jaga dia selalu, Tuhan."

Dalam dua tahun mereka telah menjadi teman baik, sahabat, kawan, kekasih, dan guru dalam hidup untuk satu sama lain. Jangan dikira hari-hari pertama yang akan berlalu setelah ini akan mudah.

Gadis itu mempunyai masa depan yang lebih baik darinya.

Ia telah menjadi pengangguran semenjak dua bulan lalu. Sedangkan gadis itu masih kuliah dan akan mendapatkan gelar sarjana, lapangan pekerjaan akan terbuka luas untuknya. Tidak seperti pemuda itu, drop out tanpa gelar sarjana. Siapa yang akan memperkerjakannya? Dalam dua bulan ia berusaha mencari sebuah solusi, namun semuanya buntu.

Hingga orangtua gadis itu tahu tentang keadaannya dan berbicara beberapa mata dengannya. Meminta pemuda itu secara baik-baik untuk mengakhiri hubungan mereka tanpa memberikan sebuah pilihan yang bisa membuat mereka bertahan.

Tidak mungkin pemuda itu tetap nekat untuk mempertahankan gadis itu, yang mana hal itu akan membuat gadis itu menjadi anak durhaka kepada orangtuanya. Tidak mungkin.

Orang tidak akan bisa menuliskan seperti apa rasanya, kerena laki-laki tidak akan pernah menunjukkannya. Hati pemuda itu bukan terbuat dari batu, itu bisa hancur. Untuk kali ini saja, menjadi batu pun tidak masalah asal ia bisa merelakan segalanya pergi.

Mungkin nanti ia akan merindukan segala hal tentang gadis itu—akan sangat lebih dan semakin merindukannya. Saat ini ia hanya mengurus perkara hatinya sendiri, yang tidak ada bedanya dengan milik gadis itu. Mereka hancur dari dalam secara perlahan.

Kemudian ia berbalik, berjalan ke arah berlawanan dengan gadis itu. Untuk menjauhinya, agar jarak di antara mereka semakin jauh, agar mereka tidak bisa melihat satu sama lain lagi. Tidak dipikirkan olehnya untuk menoleh ke belakang, ia hanya ingin berjalan menjauh dan pergi. Jika bisa ia ingin lari dari kenyataan, jika bisa.

pada hari itu, hati mereka berkhianat. Tetap tinggal untuk satu sama lain. Tetap saling memanggil satu sama lain. Sampai waktu nanti saat esok demi esok berlalu. Ya, hati mereka tetap berkhianat.


part 01 of 10, thank you for reading.