I WANNA BE A SEME

Cast: Kaoru Kuma, Yukari Neko, Arikawa Usagi, Amami Miya, Ayakashi Kazoku

Kaoru Kuma © Akio Miozuka

Arikawa Usagi © Waii Waii

Yukari Neko, etc © Yuki Marui

Warning: Shounen-ai, EYD kacau, TYPO

Rated: T (+)

.

.

.

.

.

.

.

.

.

BRAKK!

Yukari Neko dan Arikawa Usagi menatap dengan bingung pada sekawan mereka yang barusan menggebrak meja dengan cukup keras.

Usagi meletakkan garpu dari Vanilla Cheesecakenya. "K-kau baik-baik saja, Kaoru-kun?" tanya Usagi sedikit khawatir—pasalnya, dilihat dari wajahnya saja, Kaoru Kuma bisa ditebak sedang diserang stress mendadak.

Iya, Usagi tahu kalau mereka tadi di sekolah mendapatkan tugas untuk mengulang pelajaran matematika aka ulangan harian—tapi dia pikir akibatnya juga tak 'separah' ini.

Neko menyadari tatapan bingung dari pengunjung café lainnya. "Duduklah, kau membuat semua orang menatapmu dengan aneh." Kata Neko datar sambil memotong Chocolate Gateaunya.

"Kaoru-kun?" panggil Usagi dengan ragu.

Kuma menatap kedua uhuk-'teman'-uhuk-nya dengan tatapan berapi.

"Aku ingin menjadi—"

"Ara~~, Yukari-kun~."

Perkataan Kuma (untungnya) terhenti oleh sebuah sapaan super manis dari seorang gadis berambut pirang yang diikat tinggi ke atas.

Yang dipanggil –Yukari Neko- menatap si gadis dengan tatapan tidak nyaman. '—ancaman—' batinnya.

"Konnichiwa, Amami." Sapa Neko pada gadis itu. Si gadis duduk di sebelah Neko yang saat itu memang duduk sendirian dan berhadapan dengan kedua teman sekelasnya.

"Tumben sekali Yukari-kun keluar rumah—" kata si gadis dengan maksud tersembunyi. "—waitress-san!" panggilnya pada seorang pelayan.

Neko mengendik. "Saa,.." jawabnya agak tersinggung.

Kuma menatap pada gadis yang duduk di depannya itu dengan tatapan bingung—begitupun Usagi. 'Siapa dia?' batin mereka kompakan.

"Anoo—" Usagi memberanikan diri membuka suara terlebih dulu. Dan si gadis menyadarinya. "Hai'?" tanya si gadis.

"Kau—"

Si gadis yang memiliki mata berwarna lemon itu mengerejap. "Ah, maaf, aku belum memperkenalkan diri—Amami Miya—" kata Miya sambil berdiri dan membungkuk pada kedua 'bishounen' di depannya.

"—Yukari-kun no kanojo, desu." Lanjut Miya setelah dia menegakkan tubuhnya.

Satu detik.

Dua detik.

Sepuluh detik.

"HAAAAHHH?!" Kuma dan Usagi koor.

Kuma menunjuk-nunjuk Neko dengan tatapan horror. "K-kau sudah punya pacar—?" tanyanya.

Neko melengos. "Dibilang pacaran pun juga bukan begitu adanya." Gumamnya.

Bugh!

"Apa yang kau bicarakan Yukari-kun?! Fufufu~!" kata Miya dengan perempatan merah di pipinya—setelah berhasil menggebuk punggung pemuda yang duduk di sebelahnya.

Neko menatap Miya tajam. "Kau—"

"Parfait, desu—dan Strawberry Squeeze." Kata Miya pada sang waitress yang telah berada di sebelahnya.

Perempatan merah muncul di kening Neko—sedangkan kedua manusia yang ada di depannya masih diam melongo, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.

'Yukari?—punya pacar?'

"Nee, kalian—" Miya membuka percakapan sambil menatap kedua pemuda di depannya. "Hai'?" tanya Usagi—karena Kuma (entah karena apa) sedang ngambek dan mogok bicara sekarang.

Miya melahap pocky di parfaitnya. "Tidak—aku hanya bingung. Kenapa di Rokushu itu hanya ada bishounen—kebalikan dari Kikyo yang banyak sekali ikemennya." Gumam Miya—lebih pada dirinya sendiri. "Huft, so boring~~."tambahnya.

"Kikyo?" Usagi –dan Kuma yang melahap donat coklatnya- menatap Miya dengan bingung. Sedangkan Neko hanya melirik pada Miya.

Miya lalu mengalihkan pandangannya pada Neko. "Nee~, Yukari-kun sudah baca majalah yang aku berikan kemarin, kan?" tanya Miya.

"Aku tidak punya waktu." Jawab Neko singkat. "Buuuuuu~, Yukari-kun paling juga hanya tiduran di rumah." Kata Miya—sambil memanyunkan bibirnya.

"Majalah—dari Kikyo?" tanya Usagi pada Miya. "Unh!" angguk Miya. "Apakah Arikawa-kun juga baca?" tanya Miya.

"Eh—darimana kau tahu namaku?" tanya Usagi. "Ada deh~." Kata Miya.

"Abaikan saja—dia itu stalker." gumam Neko—pedas. "Yukari-kun!" protes Miya.

"Memangnya ada apa dengan majalah-entah-apa-itu dari Kikyo?" tanya Kuma dengan penasaran.

Miya mulai bersemangat. "Itu berisi daftar nominasi para ikemen di seluruh Kikyo—baik itu yang masih berada di SD, SMP, SMA, maupun Universitas. KAU HARUS BACA~!" kata Miya menggebu di akhir kalimat.

"Huh—apa maksudmu yang edisi 23. Maaf, tapi aku belum membelinya." Kata Usagi dengan tak enak hati. "Eh—tak apa kok, lagipula itu baru terbit kemarin. Tapi kalau kau mau—aku masih punya satu lagi." Kata Miya sambil mengeluarkan sebuah majalah dari dalam tas sekolahnya.

Neko memperhatikan Miya. 'Tas anak perempuan itu melar, ya—' batinnya datar.

"A-apakah tak apa?"tanya Usagi sambil menerima majalah itu. "Unh—lagipula aku punya satu yang ada pada Yukari-kun." Kata Miya mengangguk kecil.

"Etoo—bolehkah aku juga ikut melihat?" tanya Kuma pada Miya. "Tidak apa-apa—itu all age, kok." Kata Miya.

Neko sweatdrop. "Bukan itu yang dia maksud." kata Neko pada Miya. "Eh—souka~." Kata Miya dengan senyum lebar—yang mencurigakan.

Kuma memperhatikan cover majalah di depannya. Terdapat tiga orang pemuda yang memakai suit hitam berada di sana. Satu berambut merah maroon duduk di sebuah kursi beludru berwarna merah. Diapit oleh dua orang pemuda—yang kanan berambut pirang platina dan yang kiri berambut oranye karamel.

"Kikyo's Princes?" gumam Kuma ketika membaca sub judul di cover majalah itu. Usagi menatap Kuma. "Kaoru-kun boleh lihat duluan, kok." Kata Usagi sambil menyodorkan majalah itu pada Kuma. "Ah, arigatou Arikawa."

Kuma dengan cepat membuka-buka majalah di tangannya. Dia memperhatikan setiap foto pemuda-pemuda (dalam berbagai situasi dan kondisi) yang ada di dalamnya—dengan melewatkan masing-masing dari NAMA MEREKA.

Toh, siapa yang peduli—itu bukan urusannya.

Kuma lalu berhenti pada profil seorang pemuda yang menjadi salah satu cover di majalah depan. "SUDAH KUPUTUSKAN!" katanya sambil mengangkat majalah di tangannya tinggi-tinggi.

Usagi, Neko dan Miya menatap Kuma dengan bingung. "Kaoru-kun—" panggil Usagi.

"AKU AKAN MENJADI SEME!"

Satu detik.

Dua detik.

Lima detik.

"HAAA?!" Usagi dan Neko –kini ganti- koor.

BRAKK!

"Itu tidak mungkin!" sangkal Miya dengan keras—setelah menggebrak meja.

Kuma menatap Miya bingung—dan dengan puppy eyes. "Eh—kenapa?" tanyanya.

"Kaoru-kun itu jauh sekali dari kata SEME! Kau itu lebih ke UKE!" kata Miya sambil menunjuk wajah Kuma.

"EHHH—!" Kuma shock di tempat.

Usagi mengerejap melihat 'tingkah baru' gadis di depannya. "He?"

"Keluar deh sifatnya." Bisik Neko sambil memijit keningnya yang tiba-tiba terasa pening.

Kuma menatap Miya dengan penuh harap. "T-tapi kan—aku masih tinggi—"

Namun perkataan Kuma dipotong. "Seme IDEAL itu tingginya SELALU di atas 175 cm. Kaoru-kun bahkan tak lebih tinggi dari Yukari-kun."kata Miya dengan kejam. "Dan lagi, kebanyakan dari mereka itu ikemen, atletis, jenius—bagaikan oasis di padang gurun." Paparnya dengan berbunga.

Neko menatap Miya. "Itu kan versimu." Katanya sinis.

"Tapi—Yukari-kun juga setuju, kan?" goda Miya dengan kerlingan nakal. Neko menatap gadis pirang itu dengan ill feel. "Konyol sekali."katanya.

Miya mengerucutkan bibirnya. "Huftt—aku bersaksi kalau kau akan menyukai ikemen nantinya, Yukari-kun." Kata Miya sambil menatap angkuh pada Neko.

"Jangan harap." Kata Neko tak kalah angkuh.

"Ahhhhh, menyebalkan!" gerutu Miya—entah kenapa dia selalu kalah jika berargumen dengan si Yukari sulung itu. "Oh!" katanya sedetik kemudian.

Miya lalu mengalihkan pandangannya pada Usagi dan Kuma. "Nee, apakah kalian mau tiket untuk mengikuti trip perjalanan ke onsen di Kota Kikyo—ini limited edition, lho. Aku sebenarnya ingin pergi dengan teman-teman sekelasku, tapi karena kami ada kegiatan klub di awal musim semi ini, jadilah kami tak bisa pergi." Katanya sambil merogoh tas sekolahnya.

"Ini." kata Miya sambil menyodorkan dua lembar kertas di depan wajah Kuma dan Usagi. "Tidak usah diganti dengan uang—anggap saja sebagai awal perkenalan kita." Kata Miya dengan senyum manis.

Usagi dan Kuma menerima masing-masing tiket itu. "T-tapi, apa tidak apa-apa?" tanya Usagi. "Iya, bagaimana kalau kau jadi pergi dengan teman-temanmu?" lanjut Kuma.

"Tidak masalah kok—aku bisa beli lagi." Kata Miya sambil nyengir lebar. Mata lemonnya lalu menangkap sosok Neko yang diam saja di sebelahnya. "Araa~, aku juga punya satu untuk Yukari-kun, lho~." Kata Miya sambil meletakkan selembar kertas di meja di depan Neko.

"Tidak usah—aku tak akan pergi." Kata Neko dengan nada datar. "Jangan begitu dong, aku sudah menyiapkan 'tour guide' yang SPE-SI-AL untukmu seorang—agar kau tak tersesat." Kata Miya sambil mengedipkan mata.

Neko mendeathglare Miya—namun gadis itu sudah bersiap untuk hengkang. "Kalau begitu—sampai jumpa di lain waktu~~." Katanya sebelum tancap gas dari tempat itu.

Setelah kepergian Miya—Kuma menatap Neko dengan intens.

"Aku tidak akan pergi. Final." Kata Neko sambil meminum mocha lattenya. "Tapi kau sudah dapat tiketnya." Kata Kuma sambil menunjuk tiket di depan Neko. "Bukan berarti aku akan pergi." Kata Neko.

"Ayolah, Yukari~." Kuma tiba-tiba sudah ada di sebelah Neko dan menggelendoti lengannya. "Kita pergi ke Kikyo." Tambahnya.

"Jangan melibatkanku dalam rencana konyolmu itu—ajak saja Arikawa-kun." Kata Neko sambil menunjuk Usagi dengan dagunya. "Tapi~~, lebih enak pergi denganmu." Kata Kuma –cukup- manja.

Poke!

"Ow!" Kuma memegang pinggangnya yang baru saja ditusuk oleh telunjuk jari Neko. "Jangan pinggangku!" kata Kuma kesal.

Neko menatap Kuma ill feel. "Menjauh dariku, EROKUMA!" katanya.

"Aku tidak ERO—Arikawa lah yang ERO!" seru Kuma tak terima.

Usagi yang meminum Vanilla Shakenya dengan tenang—tersedak. "Uhuk—hah? Kenapa aku?" tanyanya pada Kuma. "Eh~, soalnya kan Arikawa itu –ppiiiip- dan –piiipp-." Kata Kuma dengan wajah tanpa dosa.

Neko menatap Usagi tak percaya. "Usodesu ne?"

"Huaa~, b-bukan begitu Yukari-kun!" kata Usagi dengan kelabakan.

"YOSH! Sudah kuputuskan—kita besok akan pergi ke Kota Kikyo!"kata Kuma dengan bersemangat. Melupakan berbagai protesan dari Usagi dan (terutama) Neko.

"Jadi—menurutmu—apa yang harus kita lakukan sekarang, huh?" tanya Neko dengan tatapan tajam pada Kuma yang kini berdiri di sebelahnya yang sedang duduk di bangku tunggu stasiun kereta api bawah tanah.

Kuma spaced out. "Etoo~~…"

"Apakah Amami-san tak bilang apapun?" tanya Usagi yang duduk di sebelah kiri Neko. "Apa yang bisa kau harapkan dari dia—kecuali hanya 'kau akan dijemput oleh Fujita Kyo'. Ck, apa-apaan itu." gerutu Neko di akhir.

Usagi menerawang. "Fujita—Kyo?"

"Etoo, anoo—Yukari Neko-kun, desu ka?"

Neko diikuti oleh Usagi dan Kuma, menatap pada seseorang yang kini berdiri di depan Neko. Seorang pemuda tinggi tampan bersurai hitam keunguan dan mengenakan kacamata full frame.

"Siapa?" tanya Neko sambil mengamati pemuda itu dari atas ke bawah. 'Anak ini—'batinnya.

"P-perkenalkan, namaku F-Fujita Kyo. Y-yoroshiku onegaishimasu!" kata pemuda bernama Kyo itu sambil membungkukkan badannya dengan terlalu 'semangat' di depan Neko.

Neko speechless—begitupun dengan Kuma. Mereka tidak tahu harus merespon seperti apa.

Usagi—

-dia terlalu terpesona dengan 'keunikan' pemuda di depannya. 'Kawaii~…' batinnya berbunga lebat.(?)

"Uhh, yoroshiku—Fujita-kun. Akan kuperkenalkan—ini Kaoru Kuma dan Arikawa Usagi." Kata Neko sambil menunjuk Kuma dan Usagi bergantian.

"Uwahh~, yokatta. Kupikir aku salah orang—soalnya Miya-chan hanya berkata kalau Neko-chan itu bishounen." Kata Kyo dengan senyum lega—sambil menggaruk belakang tengkuknya.

Kuma dan Usagi mengalihkan pandangannya dari Neko—untuk tertawa.

"Pftt…Neko—chan…"Kuma menahan tawanya hingga airmatanya ingin keluar.

Sedangkan Usagi—bahunya bergetar menahan tawa yang ingin meledak. "—bishounen.."bisik Usagi.

Perempatan merah muncul di kepala Neko. "Ahh, souka—" kata Neko dengan senyum yang cukup mengerikan.

Kyo tersentak di tempat—tubuhnya bergetar ketakutan. "A-anoo g-gomenasai—a-aku-t-tidak—" Kyo mencoba mengatakan sesuatu, namun apa daya, suaranya sangat sulit untuk keluar.

"Haha, sudahlah. Walaupun kelihatan galak—Neko-chan itu cukup baik, kok." Kata Kuma sambil menepuk bahu pemuda di depannya—mengabaikan deathglarean maut dari Neko.

Kyo serasa mendapat pencerahan. "A-arigatou, Kaoru-kun." Kata Kyo sambil mencoba tersenyum—walaupun sedikit terpaksa.

Kuma tersenyum dengan (sok) cool. 'Uwahhh, kalau begini—aku pasti bisa jadi seme. Muahahahaha.' Batinnya nista dalam hati.

Padahal Kyo jauh lebih tinggi darinya.(=.=")

" K-kalau begitu—ayo ikut aku." kata Kyo sambil tersenyum malu-malu.

Kuma, Neko dan Usagi speechless di tempat.

Bagaimana tidak?

Ketika mereka keluar dari pintu masuk ke kereta bawah tanah—di depan mereka sudah menunggu sebuah mobil Limousine berwarna putih yang kelihatannya sangat mewah.

Bukan kelihatannya sih—memang benar-benar mewah.

"A-anoo—kupikir kita akan naik bis atau apa—" kata Usagi memecah keheningan.

Kyo terkaget. "Ah—ehh k-kalian tidak s-suka? K-kalau begitu a-aku akan menelepon r-rumah untuk mengirim mobil b-baru—" kata Kyo sambil memenceti (?) layar ponselnya dengan kepanikan stadium akhir.

"Ah, b-bukan begitu!" kata Usagi—jadi bingung sendiri mau berkata apa.

Kuma –yang merasa kasihan pada kedua makhluk Tuhan itu- mulai meluruskan masalah. "Maksudnya adalah—kemarin kami mendapat tiket trip perjalanan ke onsen dari Amami-chan. Jadi kami pikir—kalau kami akan mendapat trip yang normal." Kata Kuma.

Kyo loading. "Y-yappari—kalian tak suka mobilnya." Kata Kyo dengan gloomy.

"Ehh—" Kuma speechless.

Neko mendengus melihat adegan konyol di depannya.

"G-gomen, N-Neko-chan." Kata Kyo pelan—hampir mengeluarkan air mata. 'Kenapa hanya aku?' batin Neko—agak panik juga.

"Kyo, cepatlah—setelah ini aku harus bertemu dengan Ayame." Sebuah teguran dari pintu Limousine membuyarkan suasana berat di antara keempat pemuda tersebut.

Kyo menoleh pada pemuda pirang yang memanggilnya. "H-Haru…"

Haru lalu menoleh pada Kuma dkk. "Kalian juga cepat masuk—aku tak punya banyak waktu untuk menunggu kalian." Kata Haru dengan kesal—sebelum masuk ke dalam mobil.

Kuma merinding. 'Menyeramkan…' batinnya.

"N-nee, a-ayo masuk." Kata Kyo.

Kuma tak bisa menahan kekagumannya begitu masuk ke dalam mobil mewah itu. Melihat interior di dalam mobil dengan binar bahagia(?)—hingga tak melihat dimana dia berpijak.

"UWAHH!"

Kuma melebarkan matanya ketika jarak wajahnya dengan wajah pemuda yang bernama Haru tadi bisa dihitung persenti. Apalagi posisi Kuma yang memenjarakan Haru di tempat dimana pemuda itu duduk di dalam mobil.

Waktu terasa berhenti—sesaat setelah kaki Kuma tersandung kaki Haru.

"Bisakah kau minggir—aku tidak suka berdekatan dengan orang yang tak kukenal." Kata Haru dengan kesal. Kuma melebarkan matanya—menarik dirinya dengan kasar.

"Seharusnya aku yang berkata begitu—salahkan saja pada kakimu yang keleleran di sembarang tempat." Kata Kuma sambil menunjuk Haru dengan kesal.

"Sesukaku—ini kan mobilku." Kata Haru tak mau kalah.

Kuma kicep—tak bisa menjawab apapun.

Dia kalah telak.

"Haru, sudahlah." Kata Kyo mencoba menengahi. "Hmph, kalau saja bukan karena paksaan Yoshi—aku tak akan pernah mau pergi." gerutu Haru kesal.

"Maa~ maa~, setidaknya Yoshi tak membawa-bawa Ryuu." Kata Kyo sambil duduk di sebelah Haru. "Kalian juga duduklah." Kata Kyo pada Usagi dan Neko.

"Seperti dia mau melakukan hal konyol macam si sis-con satu itu." kata Haru. "K-kupikir kau juga sis-con, Haru." Kata Kyo dengan senyum terpaksa.

Kyo lalu menatap ketiga pemuda yang duduk berseberangan dengannya. "Etoo—perkenalkan, ini Chiaki Haru. Kami bisa dikatakan sebagai saudara jauh." Kata Kyo sambil menunjuk Haru.

Pandangan Kuma dan Haru bertemu—dan sedetik kemudian keduanya saling mengalihkan pandangan dengan dengusan kesal.

"Haru—ini Yukari Neko-chan, Arikawa Usagi—dan yang barusan kau ajak berargumen—Kaoru Kuma." Kata Kyo. Haru menatap Kuma dengan lama—sebelum melempar smirk sinis.

"Ku—ma—?"

Perempatan merah muncul di kepala Kuma. "Kau bermasalah?" tanya Kuma kesal. Dan Haru hanya mengendik dengan menyebalkan, menurut Kuma.

"Hanya mengagumi takdir dari Kami-sama yang kadang menyenangkan." Kata Chiaki dengan smirk lebar.

Kuma sudah panas sampai ubun-ubun. 'Kono yaro—akan kububuh dia nanti!'batinnya

"Hai'onegaishimasu. Etoo—Fujita Kyo, Chiaki Haru—" Kyo sedang mengurusi keperluan kamar di resepsionis. Sedangkan Kuma, Neko dan Usagi menunggu di belakangnya dengan koper di masing-masing tangan.

Haru—?

Dia masih berada di luar—entah ada apa.

"Ayame!"

Seruan dari Haru membuat keempat orang yang ada di depan meja resepsionis menoleh ke arah pintu—melihat dengan tanya pada Haru yang kini masuk ke dalam penginapan dengan didahului oleh seorang pemuda berambut biru gelap.

"Tenang saja, Haru. Aku tak akan mengacau." Kata pemuda berambut biru itu. "Dari dulu keberadaanmu itu selalu membuat kacau suasana." kata Haru dengan kesal.

Namun si pemuda yang dipanggil Ayame melengos. "Narumi Ayame desu—" kata Ayame pada sang resepsionis. Perempatan merah muncul di kepala Haru.

Grab!

Haru menarik kerah kemeja Ayame. "Ayame, aku serius. Yoshi akan menggantung kita bersama di aula depan kalau a-ca-ra a-dik-nya kacau." Kata Haru lamat di depan wajah Ayame—dengan rape-face.(?)

"Tenang saja—Ryuu akan datang." Kata Ayame kelewat santai dan OOT.

Kyo tersentak mendengar nama 'sakral' itu. "R-Ryuu akan k-ke sini?" tanyanya dengan suara mencicit. Ayame mengangguk. "Ya—dia bilang mau merubuhkan onsen ini." kata Ayame tenang.

"HAAA?!" semua orang yang ada di pintu depan(kecuali Ayame) jawdrop berjamaah bahkan sang resepsionispun sempat bergetar ketakutan mendengarnya.

"Tenang saja—kiddin'." Kata Ayame. Sebelah mata Haru kedutan. "Jangan pernah bercanda dengan nama Ryuu, Ayame." Kata Haru kesal—ingin sekali dia mencekik pemuda kelewat santai satu ini.

Usagi terdiam di tempatnya. 'Sepertinya aku pernah melihat mereka—dimana ya?'batinnya.

"I-ini kamar Kaoru-kun—maaf, k-karena tiketnya sendiri-sendiri, jadi kalian juga berada di kamar sendiri-sendiri. S-sekali lagi m-maaf." Kata Kyo berdiri di ambang pintu geser.

Kuma mengangguk. "Tak masalah—terimakasih untuk bantuannya." Kata Kuma sambil membungkuk sopan.

Kyo balas membungkuk dengan kikuk. "S-sama-sama—aku akan menjemputmu saat makan siang—nikmati waktumu." Kata Kyo sebelum menutup pintu geser kamar yang ditempati Kuma.

Setelah Kyo keluar—Kuma dengan cepat merebahkan diri di atas lantai tatami yang halus. "Ahhhh~, lelahnya." Katanya—sebelum menghela nafas panjang-panjang.

Kuma lalu mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. "Masih jam 11—sepertinya aku akan tidur sebentar." gumamnya, meletakkan ponselnya di lantai.

Poke!

"Unhh…" Kuma merasakan sentuhan pada pipinya.

Poke!

"Nee~, bangunlah~"

"Umhh, uhhh—lima menit lagi—" Kuma merespon dari tidurnya.

"Kalau kau tak bangun—aku akan menciummu~chuuuuuu~"

DUAK!

"Ahhh, sakit~!"

Kuma bangun dengan ngos-ngosan setelah berhasil memberi bogeman maut pada dagu pemuda yang kini berguling-guling sambil memegangi dagu di sebelahnya. "SIAPA KAU, HAH?!" teriak Kuma galak.

Pemuda berambut karamel itu bangun dari guling-gulingnya. "Sakit—kau tak perlu memukulku seperti itu." pemuda itu mengeluh—mata oranyenya sedikit berair. "Kyo memintaku untuk mengantarmu ke ruang makan karena dia sedang ada urusan." Tambah pemuda itu lagi.

"Ehh—ohh, m-maaf." kata Kuma ketika menyadari maksud pemuda itu. "T-tapi kau juga tak perlu menggodaku begitu." kata Kuma dengan wajah blushing.

Namun sedetik dia sadar.

ARGHHH, APA YANG KUPIKIRKAN?!

AKU KAN SEME!

"Ah, tapi sebelum itu—Kyo menyuruhmu untuk berganti dengan kimono penginapan di lemari itu." kata si pemuda karamel sambil menunjuk lemari dengan dagunya. "Aku akan menunggumu di luar." Katanya sebelum beranjak keluar kamar.

Kuma mengangguk—sebelum berjalan ke arah satu-satunya lemari di sana. Mengambil sebuah kimono berwarna biru muda dari dalamnya dan mengenakannya.

Setelah selesai memakai kimononya—Kuma melirik ke arah pintu kamarnya yang masih tertutup rapat. "Dia—" bisiknya pelan—namun dengan cepat dia menggelengkan kepalanya dengan heboh. "Sadarlah, Kuma! Kau SEME!" katanya sambil menepuk pipinya keras.

"Maaf menunggu. Ayo—" Kata Kuma—namun terhenti begitu tangan pemuda yang setia(?) menunggu di depan pintu kamarnya itu meraih pipinya. "Pipimu merah—kau apakan?" tanya pemuda itu.

Blush

"I-itu bukan urusanmu!" seru Kuma sambil menampik tangan pemuda tampan dan lebih tinggi darinya itu. Membuatnya merasa kalah—dalam hal apapun. "C-cepat tunjukkan saja ruang makannya." Katanya sambil menundukkan wajahnya—menjauhi kontak mata dengan pemuda karamel tadi.

"Araa~, aho-Yuuta. Apa yang kau lakukan pada teman dari Yoshi-no-imoutou, hee?" sebuah suara memecah keheningan di antara Kuma dan pemuda yang ternyata bernama 'Yuuta' itu.

Yuuta tersentak kaget. "Haa?! Yoshi?!" katanya shock berlebih. Seorang pemuda bersurai pirang (selain Haru) berdiri tak jauh dari mereka—menenteng sebuah tas bepergian. "Tunggu, kenapa kau ada di sini Namie?" tanya Yuuta.

Si 'Namie' hanya mengendikkan bahu acuh. "Karena aku mendengar kalau Nekoi akan datang ke sini—" kata-kata Namie dipotong. "Sejak kapan kau berubah profesi menjadi stalker, ha?" tanya Yuuta. "Saa.." kata Namie acuh—melewati Yuuta dan Kuma.

"Berhati-hatilah. Si bodoh ini tidak 'sebodoh' kelihatannya." Kata Namie sambil melambaikan tangannya tanpa menatap Kuma. "APA MAKSUDMU, HAH?!" seru Yuuta tak terima.

Setelah sosok Namie hilang di belokan lorong—Yuuta mengalihkan pandangannya pada Kuma. "Tak perlu sejauh itu—aku tak akan menggigitmu." Kata Yuuta sweatdrop melihat Kuma sudah ambil jarak aman darinya. "Ehh—t-tapi—" kata Kuma.

Yuuta menghela nafas. "Ayo—aku tunjukan ruang makannya." Kata Yuuta. Dia berjalan mendahului Kuma. Kuma hanya mengangguk mengerti dan berjalan dalam diam.

Neko baru saja kembali dari kamar mandi ketika dia berpapasan dengan dua orang pemuda yang menenteng tas bepergian di masing-masing tangan—baru saja tiba di penginapan. Makan malam sudah berlalu sekitar satu jam yang lalu dan orang-orang ini baru datang?

Mata keemasan Neko mengikuti arah kemana pemuda (mungkin seumuran dengannya) dengan surai rambut berwarna maroon dan light blonde itu hingga sosoknya hilang di belokan lorong. Mengerejap sebentar, "Kupikir—seharusnya aku memasang kekkai."gumamnya.

"Kekkai?"

Suara itu tak begitu mengejutkan bagi Neko. "Hanya bercanda." kata Neko sambil berjalan menjauhi pemuda bersurai ungu gelap itu.

"Nee, Neko-chan—bisakah kita bicara sebentar?"

Neko menoleh ke belakangnya—hendak mendeathglare pemuda yang kini menggenggam pergelangan tangannya dengan cukup erat. Namun matanya melebar ketika mendapati Kyo melepas kacamatanya—memperlihatkan kilau merah di baliknya.

"Kau—"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Karya baru?

Gak juga sih—Cuma buat ngerjain 'seseorang'~~~

With love,

Yuki_Marui.