Color Breaks
March 1st 2014
by Elise the Writing Desk

"Ya, saya pelakunya, Yang Mulia." Kyoko Mitsubishi berkata dengan senyum hampa, namun matanya menyimpan ketabahan. "Saya mengakuinya. Saya membunuh Aria Hidayah dengan memenuhi kamarnya menggunakan pestisida."

Ruang sidang senyap akan pengakuannya. Hakim Agung tampak terkejut; beliau berdeham dan memukul mejanya, tepat ketika pintu ruang sidang terbuka lagi.

"Keberatan!" Bae Dong-Min terengah, namun suaranya cukup keras untuk menghentikan keputusan Hakim. "Keputusan...tidak boleh diberikan sebelum ada bukti yang meyakinkan!"

Kyoko mengepalkan tangannya, dalam kepalanya ingin mencekik rivalnya di kelas hukum itu. Dia berdiri dan memukul meja terdakwa dengan marah.

"Kenapa kau di sini, dasar sial? Aku sudah mengaku, jadi tutup mulut sajalah! Biasanya kau juga tutup mulut!" bentaknya tidak sabar.

Mata dingin Bae menatap Kyoko, kali itu dipenuhi suatu perasaan yang asing, walau seperti biasanya, tatapan Bae seperti menatap orang bodoh.

"Kalau belum dibuktikan bahwa kau memang tersangkanya...bagaimana caranya Hakim Agung tahu kalau kau memang menyerang Hida? Bagaimana kalau bukan kau pelakuknya...?" dia menoleh menatap Hakim Agung. "Apakah yang mulia ingin memberikan keputusan tak berdasar? Tidak ada hukuman yang diberikan tanpa pidana. Bagaimana, Yang Mulia?"

Sang Hakim Agung menghela napas lega, dan mengangguk. "Aku setuju."

"Keberatan!" Bae dan Kyoko menoleh kepada jaksa yang tak lain adalah senior mereka, Kei Yamazawa. "Terdakwa sudah mengakui perbuatannya, berarti sah saja menganggap itu bukti yang cukup sebagai dasar pengambilan keputusan."

Bae mengepalkan tangannya, geram karena sifat kompetitif seniornya yang selalu muncul kalau dia datang. Kyoko, di samping itu, menggigit bibirnya dengan harapan Hakim Agung merasa lebih baik cara yang mudah ketimbang repot-repot berada di ruang ini. Dia takut mati; di saat yang sama...dia tidak sabar untuk mati. Tidak ada cara lain untuk menebus kesalahannya; dia harus mati.

Dia membunuh Hida. Dia membunuh sahabatnya sendiri.

Tangan dingin Bae menepis air mata Kyoko, yang tidak ia sadari sudah meleleh di pipinya.

"Dasar bodoh." Geram Bae dingin. "Bagaimana mungkin kau bisa mengira kau sudah membunuh sahabatmu sendiri...?"

Chapter 1: Selamat Datang di Pulau Kagaya!

Sebenarnya agak boros juga, mau kuliah saja harus naik pesawat dan kapal ferry, karena kampusnya punya pulau pribadi. Pasti susah pulang kampung kalau uang tipis. Tapi kalau dipikir lagi...makanan sudah tersedia, tinggal di asrama, jadi tidak usah bayar apartemen atau kost...toh, memangnya apa yang mau dibeli di pulau itu? Bagaimana bisa uang habis kalau seperti itu.

Aria Hidayah menarik napas, mengumpulkan udara laut yang asin ke dalam paru-parunya. Jilbab abu-abunya berkibar, dan ia harus memeganginya agar lehernya tidak terlihat. Ini gawat sekali; dia tidak gugup. Itulah yang membuatnya bingung; Hida selalu mencemaskan satu hal saja, yaitu, 'dia mencemaskan apakah dia kurang cemas dalam menanggapi sesuatu'. Nah. Aneh sekali.

Tapi kalau dipikir lagi...toh ia bakal jarang pulang kampung. Kampusnya sudah di negara lain, bisa apa dia?

"Aria-san?" seorang pria memanggilnya, namanya Yuzuki Tokiwa, dosen yang telah menginterview Hida saat tes masuk universitas. "Kenapa kau sendirian? Lihat, yang lain sedang berkenalan."

Hida menghela napas dalam hati; seharusnya orang ini mengerti kalau dia bukan orang paling sosial setelah interview minggu lalu. Pria itu tersenyum tahu.

"Iya, memang kau introvert, tapi kau belajar di sini agar tidak tetap introvert, bukan?"

"Oh, saya kira...saya akan belajar hubungan internasional di sini." Gumam Hida, lalu sedikit malu karena sudah kurang ajar. Tokiwa tertawa hangat dan hendak menepuk gadis berkerudung itu, namun berhenti melihatnya menjauh. "Oh, maaf. Apa namanya...? Tidak muhrim ya?"

Hida mengerjap, lalu tertawa malu. "Oh,maaf, bukan begitu...kalau sensei menyentuh saya...nanti wudhu saya batal." Dia membungkuk. "Saya permisi dulu."

Tokiwa-sensei memandangi mahasiswi berjilbab itu pergi, tersenyum kecil. Dia tidak terlalu mengerti karena memang dia bukan orang Islam...ditambah lagi, ini akan menarik; Aria Hidayah adalah satu-satunya yang berjilbab, namun bukan satu-satunya orang Islam di universitas nanti. Dia hanya penasaran bagaimana teman-temannya nanti bersikap dengan penampilan Hida yang berani itu.

"Tidak terlalu memikirkan omongan orang, ya?" gumamnya.

Hal seperti itu bisa jadi kekuatan dan kelemahan bagi seseorang.

~.X.~

Kyoko Mitsubishi menutupi kepalanya dengan hoodie, lalu melipat tangannya, melirik teman SMA di sebelahnya dengan geli.

"Apa ini artinya kita dijodohkan bersama, Daisuke?"

Sang teman SMA, Daisuke Sawakaze, berusaha membuat rambutnya yang cokelat tetap turun, meski tetap saja angin menerpa dan memberantakkannya.

"Entahlah..." dia mengangkat bahu. "Katanya kita tidak akan tahu dengan siapa kita akan jatuh cinta."

Kyoko melongo, malu dan syok akan teman SMAnya yang selalu saja serius.

"Ya ampun, aku nggak ada maksud—kenapa kamu selalu saja serius, sih? Aku jadi malu." Dia tertawa gugup. "Tapi jurusan kita jauh sekali, ya? Aku di Hukum, kamu di Forensik...Eh, Daisuke? Kenapa Forensik? Kan, harus mengurus mayat?"

Daisuke tersenyum kecil. "Itu dia. Karena mayat tidak akan menjerit atau berbicara...lebih mudah." Matanya bersinar dingin, membuat Kyoko merasa sedikit ngeri.

"Dasar sinting." Gumam Kyoko, tertawa kecil. "Tapi berarti kita mungkin akan sering ketemu kalau kerja nanti. Kan, aku masuk jadi jaksa di hukum pidana."

"Mungkin nggak juga, soalnya aku nggak akan jadi yang buat laporan." Timpal Daisuke, lalu diam. Kyoko menghela napas, sebal dengan teman SMAnya yang sikapnya berbeda dari saat SMA.

Daisuke Sawakaze, seingat Kyoko, sangat ramah dan populer waktu SMA. Saat mereka bertemu lagi di pendaftaran ulang, ternyata Daisuke jadi pendiam dan agak dingin, super serius pula. Mungkin waktu SMA dia hanya berakting, dan karena sudah kuliah, dia merasa bebas mau bertingkah bagaimana pun dia mau.

"Tapi aku benar-benar tidak menyangka, kalau kita lolos masuk Universitas Mizukami...dua dari SMA yang sama, itu lumayan rekor. Bisa-bisa SMA kita terkenal gara-gara dikira punya koneksi untuk masuk Mizukami." Kyoko tertawa riang, mengingat SMAnya itu cukup pinggiran dan selalu saja, jika bertanya dia masuk SMA mana, akhir-akhirnya akan bertanya lagi; "SMA itu ada di mana ya?"

Sambil melirik ke sana kemari di atas dek kapal, lalu melotot melihat gadis dengan rambut bergelombang yang lebat, dan diterpa angin.

"Wah, seramnya...seperti Yuki Onna..." tawanya merinding, memandangi gadis yang selain rambutnya lebat bergelombang, berkulit pucat dan sudah begitu memakai pakaian putih-putih.

Tiba-tiba gadis itu menoleh ke arah mereka, dan lalu memandangi sesuatu di tangannya. Kyoko menelan ludah; gadis itu berjalan sangat pelan ke arah mereka, gemetaran.

"Permisi..." katanya dengan suara dingin. Kyoko tidak tahan tidak melotot, karena gadis itu bermata sangat dingin, berwarna perak; cantik dan dingin...benar-benar Yuki Onna! Dia menarik ujung baju Daisuke, membuatnya menoleh.

"Ini punyamu, kan...?" tanya gadis itu. "Ini kan penting sekali...lain kali berhati-hatilah..."

Kyoko gemetaran; gadis itu...kenapa dia tampak begitu marah? Wajahnya dingin sekali, seakan memarahi orang ceroboh...

"Ah, terimakasih banyak. Untung saja..." Daisuke menerima kartu mahasiswanya dengan senyum penuh terimakasih, membuat gadis itu terkejut.

Tiba-tiba, gadis itu tersenyum hangat sekali. "Sama-sama..." ujarnya lembut, lalu berjalan pergi.

Kyoko semakin lebar melongonya, lalu melirik Daisuke, yang juga melotot, kaget.

"Ya ampun..." gumam Kyoko melihat Daisuke sedikit memerah. "Memangnya ini apa? Kimi ni Todoke!?"

Daisuke semakin memerah, melotot pada Kyoko. "Apaan sih? Sana, cari orang lain kalau masih mau cerewet, Mitsubishi." Usirnya, berusaha dingin dengan wajah merah.

Kyoko menahan tawa dan menuruti permintaan Daisuke, berjalan pergi untuk duduk di bawah payung. Kapal sudah mendekati pulau di mana kampus mereka berdiri. Dari kejauhan, Kyoko bisa melihat jam di bangunan kampusnya, berkilau keemasan terkena sinar matahari.

"Akhirnya..." cengirnya, lalu berdiri mendengar pengumuman untuk bersiap menuruni kapal.

"Aku sampai di sini!"

~.X.~

Jean Salazar berdiri dari kursi lobby ketika mendengar suara pengumuman bahwa kapal ferry yang membawa mahasiswa-mahasiswi lainnya sudah datang. Dia menoleh pada ayahnya, yang tersenyum yakin.

"Nah, belajar yang giat, Jean." Ujar beliau, menepuk pundaknya dengan bangga. "Aku yakin kau akan bisa membuat Ange Skylines lebih sukses dariku setelah lulus."

"Tentu, ayah." Si pirang jerami tersenyum lembut, tapi senyum itu pudar ketika ayahnya membalikkan punggungnya dan berjalan pergi. Dalam hati, ia menghela napas.

Kenapa harus dia yang mensukseskan bisnis penerbangan ayahnya...? Sebenarnya Jean tidak terlalu berminat...tetapi ketika ditanya ayahnya apa yang dia inginkan—dia tidak tahu, karena itulah dia berusaha berbesar hati menerima permintaan ayahnya.

"Oh iya—mana Francis?" ayahnya tiba-tiba teringat adik Jean yang masih kecil, lalu melotot pada Jean. "Jean! Cari adikmu—aku akan hubungi Lionel untuk mencarinya juga. Ah, aku harus menyuruh Louis untuk menunggu di jet..."

Jean tidak berkata apa-apa dan mulai mencari adiknya yang masih berumur sepuluh tahun itu.

"Ahh, dasar si kuda prancis itu..." gumamnya, tertawa kecil. Tiba-tiba terdengar pengumuman yang mengatakan bahwa para mahasiswa baru harus segera berkumpul ke aula utama, untuk menghadiri pembukaan.

Sedikit panik dan bingung, Jean berusaha mengatur rencana; gedung aula utama cukup jauh, dan dia tidak tahu adiknya ada di mana. Lagipula, Lionel pasti akan mencari Francis...yah, sebaiknya dia pergi saja ke aula.

Sudah setengah jalan, dia berhenti, cemas. Bagaimana kalau Francis hilang...?

"Ah, itu kakakku!" ujar suara kecil dalam bahasa Inggris, dan Jean menoleh untuk melihat adiknya berlari ke arahnya. "Allos~!"

"Kamu dari mana saja, Francis?" ujar Jean sedikit kesal.

"Aku lihat kapal! Bosan lihat pesawat!" seru Francis, lalu berlari lagi ke seseorang. "Ayo lihat pesawat jetku, Hida!" ujarnya dalam bahasa Inggris lagi.

Jean baru menyadari orang yang menemukan Francis adalah seorang gadis berjilbab, yang tertawa sambil mengacak-acak rambut pirang Francis.

"Dasar, aku ini mau lihat pidato pembukaan. Aku sudah pernah lihat pesawat jet, kok."

"Ahh, bosan lihat pidato. Ayo, naik pesawat jet denganku, Hida!" rengek Francis, menarik-narik atasan gadis itu. "Ikut aku pulang ya, Hida?"

"Nggak bisa, Francie," senyum gadis itu. "Aku mau sekolah di sini. Nanti kalau sudah bekerja mungkin bisa bertemu lagi, oke?"

Francis cemberut, lalu, Jean menyeringai ngeri ketika adiknya memeluk gadis itu.

"Nanti menikah denganku, ya?"

"Francis!" seru Jean, wajahnya merah, ia tertawa gugup dan mendekati keduanya. "Maaf ya, adikku ini...terlalu bersemangat. Ayo, Francis, itu Lionel—sana, pulang."

"Ahh, kakak, jangan dekat-dekat Hida-ku...awas lho ya." Ancam Francis, lalu menatap Hida dengan cemberut lagi. "Nanti aku jemput pakai pesawat jet, lalu kita menikah di bulan ya, Hida? Ya?"

"F-Francis...! Sudah, sana, pulang. Lionel! Gendong kuda prancis ini." Perintah Jean, malu setengah mati dengan adiknya. Kalau sedang di Prancis, mungkin hanya akan ditertawakan—tapi di Jepang ini...apalagi sama gadis berkerudung, sangat tidak pantas...ahh, memalukan.

"Maaf ya soal itu. Terimakasih sudah menemukan adikku." Ujar Jean, tersenyum malu, lalu teringat kalau dia gadis berkerudung dan adiknya sudah memeluknya. "Ah! Maaf, tadi itu—adikku bukan...apa namanya...? Harusnya nggak menyentuhmu, kan?"

Gadis itu tertawa malu. "Ah, nggak kok. Aku ini baru berkerudung...masih belum terlalu alim. Di negaraku banyak gadis berkerudung tapi gandengan dengan cowok juga kok..." dia berkata dengan agak malu.

"Oh...? Kamu bukan dari Arab ya?"

"Dari Indonesia...di sana plural budaya dan agama, jadi mau bagaimana lagi." Gadis itu mengangkat bahu, lalu menatap ke pintu aula. "Ng, maaf ya. Kita sudah terlambat nih—pintunya sudah ditutup."

"Oh, gawat..." Jean menepuk dahinya. "Maaf ya, gara-gara adikku sih."

"Nggak apa-apa, kok." Gadis itu tertawa lagi, kelihatan periang. "Adikmu itu lucu sekali...apa kamu juga pria perayu?" godanya.

"Bukan, kok." Jean tertawa juga. "Namaku Jean Salazar, aku di bisnis."

"Oh, aku...Aria Hidayah, hubungan internasional. Biasa dipanggil Hida." Dia dengan santai menjulurkan tangan, dan Jean, sedikit terkejut, menjabat tangannya.

"Kita akan sering bertemu di bahasa Inggris dan Hukum Internasional, ya?" senyum Jean, merasa senang bisa berkenalan dengan seseorang yang baru.

Hida hanya mengangguk, senyumannya ragu.

~.X.~

Tepat di belakang aula utama adalah lapangan yang dikelilingi bangunan kampus lima lantai. Laboratorium dipisah, bentuk gedungnya seperti kubah, karena bagian atapnya adalah planetarium bagi jurusan Astronomi. Fasilitas olahraga mengelilingi lahan luas di mana asrama pria dan wanita didirikan, dan wilayah yang tidak dijadikan jalan atau bangunan masih penuh pepohonan; pulau Kagaya masih dipenuhi hutan.

Seorang pemuda berambut hitam kelam berjalan menuju asramanya, orang-orang di sekitarnya berbisik-bisik tentang dirinya tanpa malu.

"Dia dari Korea Utara..."

"Seram sekali...apa seperti penulis Camp 14 ya?"

"Mungkin dia kabur ke sini mengorbankan banyak orang juga..."

Bae Dong-Min tidak peduli—dia tidak pernah peduli, sama seperti pemerintah negaranya, tidak peduli. Dia berada di Jepang ini karena permintaan pemerintah agar dia belajar menjadi Hakim Agung. Seorang Hakim harus benar-benar adil dan tidak melihat perasaan orang—ia harus jadi Hakim Agung yang memenuhi aturan saja.

Yang terpenting dari semua ini, dia sudah tidak di Korea Utara. Walau jika dia berani macam-macam untuk kabur...dia akan dieksekusi seperti ibunya yang di penjara.

"Tadi sudah mendaftarkan sidik jari, kan?" tanya dosen yang mengurusi asrama pria. "Nah, untuk masuk, tempelkan saja tanganmu ke touch-screen itu."

Bae pun masuk ke asramanya, melirik sekilas wajahnya yang muncul di layar dan menerangkan kamarnya di lantai dua. Lantai pertama asrama berupa sebuah lobby luas, ada lima tangga. Bae naik melalui tangga ke dua dan lagi-lagi disambut dengan koridor luas, dan tangga spiral yang naik sampai lantai lima. Di depan tangga lantai dua ada lift, dan pintunya terbuka. Mahasiswa-mahasiswa di belakangnya yang kamarnya di lantai atas mulai memenuhi lift, sementara Bae berjalan ke kamarnya yang berada di ujung koridor, nomor 14. Pintu terbuka jika sidik jarinya dideteksi oleh pegangan pintu.

Makan malam pertama akan diadakan di aula. Selanjutnya, mereka bisa mengunjungi kantin atau jika memang bisa, memakai dapur yang tersedia di tiap lantai asrama. Bae memandangi betapa banyaknya makanan yang tersedia di banyak meja; betapa mudahnya ia makan saat ini, dibandingkan dengan sebulan lalu saat dia harus memakan tanaman liar yang bisa ia temukan.

Mengunyah pudding yang sering ia lihat di komersial televisi, ia tidak bisa merasakan apa-apa. Delapan belas tahun ia hidup di Korea Utara, dan sejak ia lahir ia sudah dididik agar mati rasa. Sekarang, memakan daging steak yang hangat dan gurih dibanding dengan malam-malam dingin di luar penjara sudah tidak ada bedanya bagi Bae.

Semuanya sama saja.

Karena itulah dia disuruh belajar jadi hakim—karena dia akan jadi hakim yang tidak berperasaan, yang akan selalu mengikuti aturan, apapun yang terjadi.

"Kau makan tidak, pudingmu? Boleh buatku? Sudah habis yang di meja tuh..." gadis berambut pendek memohon padanya, matanya bercahaya melihat puding di piringnya.

Bae tersenyum sangat tipis, lalu menyendok seluruh pudingnya, dan dengan sangat perlahan dan sangat nikmat, menelannya. Gadis itu melotot jengkel.

"Dasar sial. Pamer." Gerutunya, lalu menggembungkan pipinya.

Bae menghiraukan gadis itu—meskipun dia menyadari sesuatu.

Dia menikmatinya; menyiksa orang lain...apakah dia memang sudah menjadi sekejam pemerintahnya?

"Mobil, puddingnya datang lagi tuh!" seru gadis senior berambut keriting.

"Hah? Mana!?" gadis pudding tadi langsung lari menyerbu pudding yang sedang ditata oleh chef. Tanpa sadar, Bae memperhatikannya makan; ia teringat penjara, saat orang-orang makan apa yang dilemparkan ke lantai dengan begitu lahapnya, meskipun makanan itu telah diludahi atau dikotori.

Gadis itu makan persis seperti orang-orang di penjara.

"Bodoh." Bae tersenyum kecil. Coba saja yang dimakannya itu rumput...pasti tidak akan selahap itu.

Terdengar pengumuman dari arah panggung; Bae mengenali pria yang memegang microphone, ia adalah kepala kampus, Konosuke Nagato. Pria itu memberinya pendidikan dasar dan tata krama privat, karena selama Bae tinggal di penjara, dia tidak pernah belajar membaca, berhitung, dan tata krama adalah hal terakhir yang dipikirkan oleh para tahanan yang teraniaya di rumah neraka itu.

Namun Bae membuat beliau cukup kagum, karena dia cepat belajar—dia memiliki pertahanan diri yang kuat, toh, dia tidak punya pilihan kalau tidak punya hal seperti itu, sebagai anak yang lahir di penjara. Orang-orang bilang, dia beruntung, karena terakhir seorang wanita melahirkan di penjara, wanita itu disuruh menenggelamkan bayinya sendiri. Bagi Bae, tidak ada bedanya. Dia tidak peduli.

"Ahh, gadis itu berkerudung?"

"Satu-satunya di kampus? Apa dia itu fanatik ya?"

"Jangan-jangan dia masuk jurusan kimia untuk membuat bom?"

Mungkin Bae cukup terkejut melihat ada orang lain yang lebih tidak peduli; gadis itu hanya memandangi daging yang bertumpuk di meja dengan datar, lalu pergi mengambil makanan manis yang sangat biasa. Itu cukup aneh; di antara banyak makanan mewah, kenapa dia mengambil makanan yang sangat biasa? Apakah baginya juga tidak ada bedanya?

Seandainya saja gadis itu mendengar pikiran Bae, mungkin dia akan tertawa sambil menangis, karena gadis itu tentu saja Hida.

"Kelihatannya enak sekali..." gumam Hida pelan melihat orang-orang memakan daging dengan lahap. Sambil memandangi rotinya yang berisi selai buah, Hida berharap dia tahu apa daging-daging itu boleh ia makan karena bebas babi. Tentu saja, dia ingin makan, tetapi dia ini sedang di Jepang; harus hati-hati makannya.

"Kamu Aria Hidayah, dari hubungan internasional, ya?" wajah Indonesia yang jarang Hida lihat muncul di keramaian, penuh senyum. Rambutnya panjang lurus, kulitnya kecoklatan. "Bingung ya, mau makan apa? Nggak apa-apa, kok. Kalau nggak tahu kan nggak apa."

Seandainya Hida bisa sesantai itu.

"Aku phobia...habisnya aku pernah kena kanker usus..." gumamnya pelan, tapi ternyata suaranya tidak terdengar, jadi gadis itu mengambilkan sepiring daging panggang dan menyodorkannya.

"Namaku Kartika Rahmania...kamu dari mana? Aku dari Bandung."

"Aku...dari Surabaya." Jawab Hida pelan. Rahmania...dia mengerti, karena dia Islam...tetapi dia tidak pakai kerudung...Hida jadi berpikir apakah dia akan dianggap sok alim kalau memakai kerudung sendiri. Sebenarnya di Jepang sendiri banyak mahasiswi dari Indonesia yang juga berkerudung, tapi memang Hida satu-satunya mahasiswi berkerudung yang diterima di kampus ini.

"Sayang ya, nggak ada teman Indonesia yang satu jurusan sama kamu, lho. Soalnya nggak ada yang ambil jurusan hubungan internasional di sini; paling banyak ada dua di kedokteran, lima di teknologi, malah ada sepuluh di agroteknologi. Aku sendiri di budaya sama tiga orang lain." Celoteh Kartika, orangnya supel sekali.

Hida berharap bisa supel seperti Kartika. Sudah ramah, bersahabat, berambut panjang...cantik sekali...Sebenarnya banyak orang yang ramah yang ia temui hari ini. Hida melirik melihat Kyoko Mitsubishi, teman yang kamarnya tepat di sebelahnya, dari Kyoto. Manis, baik, ceria...agak tomboi, berambut pendek. Lalu ada Giorgia Vivaldi, senior mereka yang dari Italia; agak aneh, sangat cantik dan dewasa, tapi seorang fujoshi yang bangga—dan karena itulah dia jomblo.

"Akan kutunggu pria yang mau menerimaku apa adanya, termasuk cintaku pada yaoi." Ujar Gia, panggilan Giorgia, dengan mata berbinar-binar terharu. Lalu, Shizuka Yukiora akan terisak karena haru.

Shizuka Yukiora dari Hokkaido, wajahnya terlihat dingin, pucat dan sangat cantik. Tidak seperti orang Jepang biasanya, rambutnya lebat dan bergelombang. Ia tampak dingin dan tidak peduli, tapi yang paling mudah terharu. Sayangnya ia semakin ditakuti karena dia mengambil jurusan forensik.

"Selamat datang di pulau Kagaya, dan selamat bergabung di Universitas Mizukami." Kepala kampus, Nagato-sensei, memulai pidato. "Kepintaran kalian telah diakui begitu kalian lulus semua tes yang kami berikan; sekarang, kami akan mengajarkan kalian lebih dari ilmu teori dan praktek di sini. Di universitas ini, kami harap kami dapat mengajarkan kalian cara menghadapi realitas dengan optimisme dan kreativitas. Nilai bagus itu wajib, tapi tidak cukup."

Pria yang rambutnya sudah memutih itu berdeham, lalu tersenyum lagi. "Ada yang pintar dan tidak perlu belajar, semoga kalian bisa mulai merasakan apa itu namanya kerja keras. Ada yang rajin seperti semut dan tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya, semoga kalian bisa belajar untuk peduli. Kita tidak hidup untuk bekerja saja, atau bermain saja. Kita hidup ini tidak sendiri; kita hidup untuk banyak orang. Di tengah lautan ini, kami akan memberikan yang terbaik agar kalian semua dapat menjadi orang yang terbaik yang bisa ditawarkan kepada dunia."

Aula dipenuhi tepuk tangan. Kyoko menertawai Shizuka yang sudah terisak ke sapu tangannya. Gia memimpin paduan suara kampus untuk menyanyikan Mars Mizukami. Hida merasa berdebar-debar; apa benar, dia bisa berubah? Apa benar, dia bisa...jadi orang yang berarti bagi dunia ini?