Chapter 4: Kucing, Bola Mata, dan Es

"Hida tidak bersalah! Kenapa—sensei! Sensei, mana Hida?" Kyoko sangat marah sore itu. Hida ditahan dengan kecurigaan bahwa dia terlibat dalam kasus mutilasi dan vandalisme yang akhir-akhir ini terjadi. Nagato-sensei tampak sedih dan menyesal, beliau pun memandangi Kyoko, lalu Shizuka dan Bae.

"Nagato-sensei!" mereka menoleh melihat Jean Salazar berlari ke arah mereka. "Hida tidak mungkin melakukan itu, sensei! Bukankah kasus ini sudah dimulai sebelum dia di sini? Kenapa anda menyerahkannya pada polisi!?"

Dosen tua itu menghela napas. "Baiklah, hanya untuk melegakan pikiran kalian; kasus ini sudah terjadi empat kali, dan salah satunya adalah palsu." Semua yang ada di koridor itu tampak terkejut mendengarnya.

"Palsu...?" Shizuka mengernyit. "Tapi keempat potongan organnya...sama-sama milik sipir penjara—menurut hasil tes DNA..."

Nagato-sensei mengangkat tangannya. "Dengarkan sampai aku selesai, Yukiora-san. Organ ketiga yang disembunyikan adalah sepasang tangan, di dapur sekolah...termasak dan hampir saja dimakan. Pelakunya adalah Itsuki Harada; dia mengaku bahwa dia hanya menemukan kedua tangan itu di depan pintunya. Menurutnya ini akan menarik, jadi dia mencoba meniru kasus sebelumnya dan tentu saja gagal total."

"Gagal total." Gumam Bae. "Karena dia menulis kata 'tangan' di dinding dapur dengan huruf kanji." Dia mengangguk kepada dirinya sendiri. "Jadi gadis itu ditahan karena tulisan di dinding."

Jean mengernyit marah pada Bae. "Apa maksudmu? Kenapa Hida ditahan hanya karena tulisan? Semuanya juga bisa menulis alfabet."

Bae menghela napas bosan. "Bodoh. Sewaktu aku masuk ke perpustakaan, aku tahu bahwa pelaku menyembunyikan organ tubuh, tapi aku tidak tahu apa dan di mana; karena aku tidak mengerti arti tulisan di dinding." Dia melipat tangannya. "Gadis itu bisa langsung menemukannya karena dia mengerti arti tulisan di dinding—karena tulisan itu dalam bahasa ibunya."

"Maksudmu...karena tulisan di dinding berbahasa Indonesia dan Hida orang Indonesia?" Kyoko terbelalak. "Yang benar saja! Memangnya dia satu-satunya orang Indonesia di sini!?"

"Aku tidak mengharapkan semua ini terjadi." Nagato-sensei berdeham. "Mereka akan menahan Aria-san untuk beberapa lama...Menurut detektif, dia terlalu mencurigakan. Lagipula, kalau memang dia hanya meniru kasus sebelumnya, mungkin dia tahu siapa yang memberikan bola mata—"

"Bukan Hida!" teriak Jean marah. Semua terdiam, dan dia juga menyesal sudah berteriak, menatap lantai dengan bingung. "Be...Berapa lama Hida akan ditahan?"

Semua memandang ngeri Nagato-sensei yang menundukkan kepalanya.

"...Sampai polisi yakin dia bukan pelakunya."

Jean menyeringai marah dan mengepalkan kedua tangannya. Gigi Kyoko berdecit, ia bergetar saking marahnya, dan Shizuka menunduk pilu. Bae menghela napas bosan melihat reaksi ketiga orang itu, lalu menatap Nagato.

"Kalau begitu, karena ini terjadi lagi...harusnya mereka melepaskan Itsuki Harada." Katanya dengan datar, lalu memasukkan tangannya ke kantong. Nagato-sensei tampak terkejut, baru mengingat sesuatu.

"Ah, kau benar, Dong-Min. Harada-san akan kembali kuliah besok; tidak mungkin dia melakukan ini lagi ketika dia sedang dipenjara, sehingga polisi menghentikan penahanannya."

"Jadi...kalau Hida terbukti tidak bersalah, dia bisa kembali kuliah?" tanya Jean, menautkan alis. "Tidak dikeluarkan karena pencemaran nama baik?"

Nagato-sensei tersenyum kecil. "Mizukami berdiri untuk mengajar, bukan menjadi populer. Tapi mungkin karena itulah universitas ini selalu dikerumuni rumor yang mengerikan." Dia menghela napas, lalu senyumnya menjadi lembut. "Namun semua itu selalu bisa dihapuskan oleh lulusan-lulusan yang kami banggakan. Selama masih ada semangat untuk berjuang, Mizukami akan selalu memberi kesempatan."

Shizuka terisak diam, sedih dan terharu. Nagato-sensei pun bergegas ke kantornya, meninggalkan para mahasiswa-mahasiswi baru itu di lorong yang sepi.

"Kucingnya sudah ditemukan." Mereka menoleh melihat Daisuke berjalan ke arah mereka sambil melipat tangan. "Aku baru saja selesai memeriksa hewan itu, dan coba tebak..." dia tersenyum kecil dan mengeluarkan buku catatannya.

"Apa?" tanya Kyoko tidak sabar.

"Kucing itu matanya dicungkil sudah bertahun-tahun lamanya..." senyum dingin Daisuke melebar dan dia melirik Shizuka dingin. "Matanya dicungkil di waktu sekitar kasus pertama terjadi. Dilihat dari rongga mata hewan itu, tidak ada paksaan, dan tidak ada goresan luka, sehingga kemungkinan besar kucing itu dibius."

Mata Shizuka melebar, dan dia mendekati Daisuke untuk membaca catatannya. Kalau mungkin, mata perak Shizuka semakin lebar, dan dia menatap Kyoko.

"Mitsubishi-san...apa kau tahu kapan kasus pertama terjadi? Tanggal dan bulan?"

Kyoko mengerjap dan mengeluarkan kertas yang dia gumpalkan dari dalam kantong bajunya. "Aku baru mencatatnya, habis menguping saat pemeriksaan; tanggal 29 Februari dua tahun lalu. Memangnya kenapa?"

Bae mengangguk. "Tentu saja. Melakukan anestesi memerlukan obat bius."

Kyoko akhirnya mengerti dan menepuk tangannya sekali. "Ah...dan pelakunya harus mengambil obat bius dengan izin, bukan?"

Shizuka mengangguk. "Jadi...kalau kita periksa catatan Ruang Penyimpanan Bahan Kimia dua tahun lalu, yang dekat dengan tanggal 29 Februari, mungkin kita akan dapat nama-nama yang memakai obat bius."

Jean melipat tangannya, berpikir sejenak. "Apakah harus serepot dan apakah semudah itu?"

Yang lain menatapnya, dan dia mengernyit cemas. "Kalau kita spekulasikan, apa alasan seseorang mencungkil mata kucing sebelum melakukan mutilasi?"

Semua saling tukar pandang. Daisuke menautkan alis, terkejut.

"Percobaan pertama." Katanya, matanya menyipit. "Pelakunya menggunakan obat bius agar kucing itu tidak membuat keributan. Kemungkinan besar, pelaku melakukan pembedahannya yang pertama pada kucing untuk mencoba kemampuannya dulu sebelum menerapkannya pada korban."

Kyoko mengernyit menatap ponselnya. "Oke, aku mengerti kenapa ini akan merepotkan kalau kita mengecek daftar orang yang mengambil obat bius. Kalau mutilasi itu terjadi pada tanggal 29 Februari dan sekitarnya...yang akan kita temukan di daftar adalah nama dosen Kedokteran, Ryuji Sakaki."

Dia menunjukkan ponselnya. "Gia-senpai mencarikan data untukku, dan ujian praktek kelulusan Fakultas Kedokteran selalu dilakukan sekitar akhir Februari. Bisa saja pelakunya mengambil obat bius saat sedang praktikum." Jelas Kyoko serius.

Bae melirik Jean. "Bagaimana dengan...'semudah', Salazar?" tanya dia tajam.

Jean melipat tangan, wajahnya serius dan hati-hati memilih kata. "Yah...Mungkin ini cukup gila, tetapi...kalau kita pertimbangkan bagaimana pelaku bisa mengambil bola mata seekor kucing dengan potongan yang sempurna di percobaan pertamanya...pasti pelaku adalah seorang ahli bedah yang professional." Semua mengernyit menatap Jean. "Kita bisa menyempitkan rentang pencarian orang-orang yang mungkin menjadi tersangka, dengan memeriksa daftar nilai para mahasiswa spesialis bedah."

Shizuka menepuk tangannya sekali. "Oh...aku mengerti. Menurut Salazar-san, pelakunya pasti mahasiswa yang nilainya cukup tinggi saat ujian, bukan?"

Kyoko mengangguk. "Oke, aku sudah minta Gia-senpai untuk mencari daftar nilai itu. Ah, iya, Mitsurugi-sensei baru saja memberitahuku..." dia menoleh pada Jean. "Hida boleh menerima pengunjung, tapi hanya dua. Aku mau, sih, tapi aku ingin meneliti kasus-kasus sebelumnya. Ada yang berminat?"

"Aku." Bae dengan cepat berkata.

Jean ternganga dan melotot pada Bae. Bae meliriknya datar. "Apa?"

"K-Kenapa kau...? Kau mau apa dengan Hida?" tanya Jean cemas.

Daisuke langsung mengerti duduk perkara di sini. Jean menyukai Hida, dan dia cemas soal Bae yang dengan tanggap ingin mengunjungi Hida di sel. Menghela napas bosan, dia pun merangkul Shizuka dengan satu tangan.

"Nah, Yukiora. Sebaiknya kita cari saja daftar orang-orang yang meminta izin pemakaian obat bius, siapa tahu ada yang janggal, untuk dicocokkan." Ujar Daisuke.

"O-Oh, baiklah...Sampai nanti, Mitsubishi-san...Salazar-san...Dong-Min-San..."

Kyoko melambai pada Shizuka dan Daisuke, lalu menatap Bae dan Jean. Karena Kyoko bukan orang yang paham, dia hanya mengangkat bahu dan nyengir.

"Oh iya, Hida bilang, kalau ada yang ingin mengunjunginya, tolong bawakan kartu UNO ya! Da-dah!"

Jean dan Bae memandangi Kyoko pergi dengan heran.

"E-Eh...?"

Bae melipat tangannya dan menyipitkan mata. "Kartu UNO...?"

~.X.~

Sementara itu...

Sebagai seorang penulis dengan otak yang agak rusak, Hida sedang mengelilingi sel-nya dengan penasaran. Sipir yang berjaga di depan selnya malah menertawakannya.

"Hei, kamu itu sedang apa, nona?"

Hida berhenti menepuk-nepuk lantai sel. "Aku belum pernah dipenjara, pak. Ini cukup menarik."

Tahanan di sebelahnya, seorang pria yang cukup rapi, menghela napas. "Kau cukup optimis untuk ukuran seorang tahanan kasus mutilasi. Gadis yang sebelumnya depresi setiap hari."

Gadis berkerudung itu memandangi tahanan tetangganya, lalu duduk di lantai, menyibak kerudungnya sedikit. Memang Hida punya sedikit masalah dengan emosinya...dia jarang—hampir tidak pernah merasa cemas. Kadang dia mencemaskan dirinya yang tidak pernah mencemaskan apapun.

"Pak sipir-san? Orang seperti apa Itsuki Harada itu?" tanya Hida penasaran.

Pria tua itu berpikir sejenak. "Yah...dia gadis yang cukup cantik. Dia gadis seperti kebanyakan yang senang melakukan hal-hal bodoh agar disebut keren, tapi jadi ketakutan kalau sudah ditangkap. Dia sudah di sini lebih dari setengah tahun." Sipir itu mendapati tatapan penasaran Hida. "Namamu Hida-chan, kan? Aku Toshio Wakamura. Tahanan tetanggamu itu seorang psikopat. Rata-rata orang yang tenang dalam tahanan itu psikopat..."

Hida tertawa. "Wah, Toshio-san...jangan menilai orang semudah itu. Aku memang ahli merasa nyaman di tempat-tempat yang tidak wajar...Di tempat-tempat yang belum pernah kukunjungi seperti ini...rasanya sudah banyak cerita yang bisa kutulis..." tangan Hida mengelus jeruji besi di hadapannya.

Dia memandangi psikopat yang jadi tetangganya. "Jadi, psikopat macam apa anda ini, kalau boleh tahu? Apa sejenis Dr. Hannibal atau hanya yandere?"

"Ehehe, wah, wah, kalau menyetarakanku dengan yandere sih terlalu payah...tapi Dr. Hannibal juga terlalu keren...bagaimana ya...aku ini collector. Namaku Zen Nishikki." Pria rapi itu menyandarkan punggungnya ke dinding sel. "Aku suka mengoleksi mayat."

Pak Toshio menghela napas. "Pertama kali aku ke rumahnya, kau tidak akan percaya...di tempat di mana orang-orang menyimpan daging, dia menyimpan mayat yang dirias dan dikepang..."

Hida menelengkan kepalanya. "Tapi itu semua kan, mayat...memangnya kenapa?"

Pak Toshio menepuk jidatnya, dan Zen bertepuk tangan setuju. "Ya, masalahnya, itu melanggar peraturan, Hida-chan...kau mungkin lupa, tapi di sini mayat yang tidak dikremasi digunakan untuk keperluan penelitian medis. Selain itu..." sipir penjara tua itu menyipitkan matanya. "Pria ini membunuh seseorang juga, pada akhirnya. Karena itulah dia akan dieksekusi."

Hida mengangkat alisnya, terdiam, lalu menatap Zen yang hanya tersenyum tenang.

"Bagaimana, Hida-chan...?" tanya Zen. "Aku ini pembunuh...dan aku akan mati..." pria itu menunduk hingga rambutnya menutupi matanya.

"Zen-san..." Hida beranjak mendekati sel Zen. "Kenapa kau mengoleksi mayat? Kenapa dikepang? Apa kau ingin membuat sosok seseorang yang spesifik, atau bagaimana? Sejak kapan? Apa ada suatu kejadian yang membuatmu memulainya?"

Toshio-san dan Zen memandangi Hida dengan heran. Mereka ini sedang di penjara, dan Hida sedang bicara dengan seorang psikopat yang akan dihukum mati. Kenapa gadis ini malah tampak berbinar-binar matanya, tidak dapat dimengerti. Tiba-tiba Hida menutup mulutnya.

"Ah...maaf, aku jadi mengganggu privasi...Kalau tidak mau cerita tidak apa-apa." Gadis itu melambaikan tangannya.

Mata Zen menjadi lembut, lalu dia turun dari ranjang selnya dan mendekati sel Hida. "Hida...rambutmu...panjang?"

Toshio menjadi kaku, dan setengah beranjak di kursinya. "Nishikki..."

"Ya, rambutku panjang." Hida mengangguk.

Zen tersenyum kecil. "Mungkin ini tidak pantas...tapi...aku akan mati...mau tidak, mengabulkan satu permintaan orang yang akan mati ini?"

"Nishikki!" Toshio beranjak dari kursinya. "Kau—"

"Toshio-san," Hida menatapnya agar pria tua itu diam, lalu menoleh pada Zen lagi. "Apa?"

"Bolehkah aku mengepang rambutmu?" pinta Zen. Toshio menautkan alis dan menggeleng.

"Tidak boleh. Benar-benar tidak boleh. Hida, dia ini psikopat...bagaimana kalau dia menarik rambutmu dan membanting kepalamu ke jeruji, hm?"

Hida bertepuk tangan. "Ya aku akan mati...tapi..." dia nyengir pada Toshio. "Toshio-san tidak akan membiarkanku mati, kan?"

"Ah—tapi..." Toshio tersudut.

"Kalau itu terjadi, potong saja rambutku." Ujar Hida, tersenyum, lalu mulai menarik kerudungnya. Tapi, dia berhenti. "Tapi, Toshio-san...tidak boleh lihat kecuali Zen-san benar-benar membanting kepalaku ke jeruji, lho..."

Toshio menghela napas dan berbalik. Hida memandanginya sebentar.

"Toshio-san...integritas anda akan kuuji. Jangan mengintip lho."

"Terserahlah, aku sudah tidak mengerti apa yang terjadi..."

~.X.~

Shizuka memang pemalu dan suka salah paham, tapi ketika bersentuhan dengan 'dunia medis', dia berubah menjadi sosok yang tegas dan cerdas. Pikirannya penuh dengan kecemasan dan berbagai kemungkinan bagaimana sesuatu terjadi. Kali ini dia mencemaskan Hida.

"Bagaimana kalau Aria-san sedang menangis...?" desahnya. "Mungkin selnya tidak terurus...? Atau mungkin dia dicampur dengan laki-laki..."

Daisuke mengernyit dan memandangi teman sekelasnya itu. Tiba-tiba, dia menaruh tangannya di atas kepala Shizuka.

"Konsentrasi." Katanya. "Kalau kau ingin menolong temanmu, fokus dengan apa yang harus kau lakukan, Yukiora." Ujar Daisuke, menepuk kepala Shizuka dengan lembut.

Shizuka terbelalak, lalu, tersenyum dan mengangguk. "Ya, ya, Sawakaze-san...benar...maafkan aku. Baiklah...Ada beberapa nama yang meminta izin penggunaan obat bius...yang ada di tanggal-tanggal yang tidak normal."

Daisuke meneliti nama-nama tersebut serta jurusan-jurusan peminta yang ada di daftar. Sejak dimulainya kasus ini, catatan pengguna bahan kimia dijadikan umum, sehingga semua orang bisa mengawasi siapa saja yang memakai dan untuk apa. Pasti ada yang terlewat jika sampai dua tahun pelaku kasus ini tidak tertangkap.

Shizuka membacakan nama dan mata kuliah peminta, sementara Daisuke mencatat. Daisuke memang bukan teman Hida, tapi dia sangat tertarik dengan kasus ini sejak diumumkannya berita bahwa sipir penjara dari Korea Utara hilang; apalagi ketika potongan tubuhnya ditemukan di Jepang.

Korea Utara adalah negara tertutup. Bahkan warga di sana tidak bisa keluar dengan bebas. Bagaimana bisa seseorang dari negara seperti itu potongan tubuhnya sampai ke Jepang? Kecuali kalau sipir penjara itu seberuntung Bae Dong-Min, yang mana tidak mungkin, berarti pria malang itu kabur.

Daisuke menautkan alis. Andaikan saja memang benar, sipir penjara itu kabur dari Korea Utara. Kenapa potongan tubuhnya berada di Jepang? Apakah dia kabur ke Jepang? Atau apa hanya potongan tubuhnya saja? Jika kemungkinan yang ke-dua, di mana lokasi sipir penjara yang sebenarnya? Kenapa mengirim potongan tubuhnya ke Universitas Mizukami?

Kecuali...

Mata Daisuke melebar, dan ia berhenti menulis.

"Sawakaze-san...?"

"Yukiora..." Daisuke meliriknya tajam. "Menurutmu apa Vivaldi-senpai punya info lebih terkait sipir penjara itu?"

~.X.~

Zen Nishikki adalah seorang pria yang cukup tampan, berpakaian rapi, tutur katanya halus dan tertawanya manis. Rambutnya pendek, tapi dia memanjangkan poninya. Terkadang ia suka mengepang poninya, karena dia kesusahan untuk mengepang rambutnya sendiri dari belakang, karena itu dia tidak memanjangkan rambutnya yang di belakang.

"Aku akan menguncirmu dengan gaya fishtail." Kata Zen lembut, menyisiri rambut Hida dengan jari-jarinya yang panjang dan kurus.

"Oh, seperti Elsa waktu kecil." Gumam Hida.

"Siapa Elsa?"

"Karakter di film animasi Disney terbaru, judulnya Frozen. Jadi di sini tidak bisa nonton juga, ya?" tanya Hida, sedikit menyandarkan diri sementara Zen menguncir rambutnya melalui jeruji besi.

"Ya, namanya juga tahanan. Sebenarnya memang tidak ada bedanya bagiku. Sebelum aku ditahan, aku jarang keluar atau jalan-jalan menonton film. Aku tidak suka menonton televisi. Tapi aku punya koleksi buku-buku yang cukup banyak."

Tangan Zen mengelus rambut hitam Hida dengan sayang. Hida menatap langit-langit sel.

"Kenapa Zen-san mengoleksi mayat?"

Zen menggumam sedikit. "Waktu itu aku...baik-baik saja. Usiaku baru 17 tahun. Aku masuk universitas yang bagus—Universitas Tokyo. Aku dijanjikan kontrak kerja saat semester ke-dua. Mata kuliahku adalah Kimia."

Pria itu mulai menjalin rambut Hida dengan lembut. "Teman-temanku yang dulu selalu single saat sekolah, mereka mulai mencari istri. Mereka mulai jatuh cinta. Dan bukannya sombong, tapi dengan penampilanku, banyak juga gadis yang menyatakan perasaan padaku."

Hida mengangguk. "Lalu Zen-san tidak tertarik sama sekali, dan teman-teman mengira Zen-san gay?"

Zen tertawa. "Wow, kamu cukup tahu."

"Aku pernah mengalaminya..." desah Hida jengkel. "Dan ternyata?"

"Aku yakin aku tidak gay." Ujar Zen. "Aku pun buru-buru menjelaskan gadis yang jadi tipeku; pokoknya harus berambut panjang agar aku bisa mengepangnya. Tahu-tahu aku benar-benar jadi memikirkannya dan mulai belajar mengepang rambut."

"Awalnya aku mengepang boneka. Lalu model wig rambut. Suatu hari, temanku yang perempuan memintaku untuk mengepang rambutnya. Aku senang sekali melakukannya..." suara Zen sedikit mendesah, jari-jarinya bergerak teliti dan sangat lembut di rambut Hida. "Sensasi menarik rambut yang asli...kelembutannya...bagian-bagian yang kadang terbelit...Tapi aku tidak bisa terus-menerus mengepang rambut temanku."

"Saat itulah aku mencuri satu mayat yang berambut panjang. Aku mengepangi rambutnya setiap hari. Aku jadi bosan dan mulai mempelajari berbagai gaya...lalu pertama kalinya aku membuat model sanggul kepangan...aku merasa sayang untuk mengurainya..."

Hida tersenyum kecil. "Jadi kau mencuri mayat lagi?"

"Yah..." Zen tertawa. "Tahu-tahu aku membuat model yang susah lagi, dan aku mencuri mayat lagi, lagi, lagi, dan lagi..."

Hida merasakan jari-jari Zen sedikit menegang saat menarik rambutnya.

"Lalu yang kau bunuh?"

Pegangan Zen mengendur seketika.

"Itu...gadis itu punya rambut yang panjang sekali, seperti Hida ini..." mata Zen melebar, menyadari sesuatu. "Aku memintanya jadi pacarku. Dia setuju. Aku tidak menyukai gadis itu...aku hanya menyukai rambutnya...dia menyebalkan sekali. Dia tidak akan membiarkanku mengepang rambutnya kalau aku tidak membelikannya baju baru...tas baru...mengerjakan skripsinya..."

"Lalu dia mengancam akan memotong rambutnya. Tahu-tahu aku sudah membenturkan kepalanya ke dinding, dan dia mati." Lagi-lagi tarikan Zen pada rambut Hida menguat, dan Hida merasa sedikit menekan jeruji besi.

Mereka tidak berbicara lagi ketika Zen sedang berkutat untuk mengikat ujung rambut Hida yang sudah dikepang. Tahu-tahu dia tertawa kecil.

"Sebenarnya bagian terakhir itu agak bohong." Zen memainkan ujung kepangan Hida. "Bolehkah...aku...mengepang rambutmu lagi?"

"Boleh saja." Kata Hida santai. "Tapi ceritakan yang jujur."

Zen tertawa kecil dan mulai mengurai rambut Hida lagi. Hida terkejut ketika Zen menggumpalkan rambutnya dan menciuminya sebelum mulai menyisirinya lagi.

"Gadis bodoh itu masih hidup...Aku masih ingin menguncir rambutnya...tapi dia terus saja menangis...jadi aku memasukkannya ke lemari es di mana aku menyimpan mayat-mayat lain...setelah beberapa hari...aku bosan dengan tangisannya, jadi aku ingin memotong rambutnya dan membiarkannya pergi...tapi...dia membenciku..."

Zen meremas rambut hida dengan geram. "Dia tidak ingin membuatku senang...jadi dia menggunting rambutnya jadi helaian kecil...aku tidak bisa mengepangnya...dan...karena itulah aku membunuhnya."

Hida mengernyit. "Lemari es...? Pastinya tidak dengan pendingin biasa, kan?"

"Ah, tentu saja tidak. Aku kan mahasiswa Kimia...jadi aku memakai gas untuk mengawetkannya...formalin jarang dipakai di jurusanku..."

"Hmm..." Hida mendapat inspirasi. Tapi dia menggeleng sedikit, lalu tersenyum kecil. Saat ini, dia hanya ingin menjadi teman Zen di saat-saat terakhirnya. Toshio memegang janjinya dan tidak berbalik sama sekali, melipat tangannya. Wajah pria tua itu merengut, terdapat konflik batin baginya.

Zen tahu yang dia lakukan itu salah. Dia tahu dia harus dihukum. Karena itulah dia merasa tenang. Dia menyuruh Hida berbalik, lalu tersenyum sedih.

"Hida...seandainya saja aku tidak akan dihukum mati..." pria itu berdiri dan tertawa kecil. "Mungkin kamu gadis yang sudah lama kutunggu."

Wajah Hida memerah. "Ah...eh...aku nggak tahu harus bilang apa...terimakasih..." dia terbatuk kecil dan memakai kerudungnya lagi. "Toshio-san, sudah selesai." Sipir penjara itu tidak berbalik. "Toshio-san...?"

Toshio-san mengepalkan tangannya. "Bodoh...jangan buatku ingin membebaskan kalian..." geramnya sedih, membuat Zen dan Hida tertawa.

~.X.~

Akhirnya Hida bisa memasuki ruang bicara tahanan dengan pengunjung. Kaca pembatas dengan lubang-lubang kecil untuk bicara yang memisahkan tahanan dengan pengunjung membuat Hida membayangkan ribuan adegan dalam berbagai cerita yang bisa ia tulis.

Belum pernah ada orang berlagak seperti turis di penjara.

"Dong-Min...Jean..." Hida menarik kursi untuk duduk di hadapan kedua pemuda itu. "Bagaimana? Kalian tahu detil pemeriksaan detektif?"

Jean menggeleng. "Dosen-dosen kita integritasnya terlalu tinggi." Dia menatap Hida dengan cemas. "Tapi...Hida di sini baik-baik saja?"

"Ya, di sini lumayan menyenangkan." Hida tersenyum kecil, lalu melirik Bae. "Ah, maaf, maksudku...yah, aku tidak bisa membayangkan penjara di negaramu...maaf..."

Bae memandangi Hida dengan diam, lalu menyipitkan mata. "Apa senyaman itu?"

Jean menepuk dahi. Hida mengangguk.

"Ya. Kalau dibandingkan dengan penjara di negaramu...tempat ini seperti hotel."

Bae melipat tangannya, menautkan alisnya. "Mungkin harusnya aku yang menemukan bola mata itu..." dia menggeleng.

"Jadi...menurut kalian kapan aku bisa keluar dari sini?" tanya Hida.

"Ah...itu..." Jean mengernyit resah. "Kata Nagato-sensei, kamu bisa keluar kalau polisi tidak curiga denganmu lagi, Hida..." lalu dia menatap Hida dengan penuh keyakinan. "Tapi tenang saja, Mitsubishi, Yukiora, Sawakaze dan Vivaldi-senpai juga sedang berusaha untuk membantumu."

Hida tampak terkejut. "Eh...? K-Kenapa?"

"Mereka temanmu, kan?" Jean tersenyum. "Aku juga akan membantumu sebisa mungkin. Sebenarnya kalau ini dimajukan hingga sidang, aku akan mencarikan pengacara terbaik untukmu, tenang saja."

Wajah Hida memerah. Dia bingung dengan kebaikan orang-orang yang baru dia kenal beberapa hari. Dia baru tahu, orang asing bisa sejauh ini peduli pada satu sama lain. Hida menunduk malu, tersenyum kecil.

"Terimakasih..."

Jean menggeleng. "Jangan berterimakasih dulu! Berterimakasihlah kalau kami berhasil mengeluarkanmu, oke?"

Bae menghela napas bosan. Saat ini, baginya, semua orang yang berusaha membantu Hida hanyalah orang-orang yang senang ikut campur, lalu dia melihat ekspresi Hida, dan merasa sedikit bingung. Kenapa gadis ini tampak senang?

Hida menggeleng. "Aku...tahu kalau ada orang-orang yang mau membantuku saja...aku sudah merasa senang." Dia tertawa kecil. "Meskipun kalian tidak berhasil, aku tetap senang kok. Yang penting itu perasaan kalian...jadi terimakasih."

Jean memerah dan menunduk malu. Dia senang bisa membuat Hida merasa begitu senang...Hida memang orang yang unik; ingin rasanya membuat gadis itu tersenyum. Dia mengepalkan kedua tangannya, dalam hati berniat untuk membuat Hida lebih senang dengan membebaskannya dari penjara.

Bae mengernyit, merasa aneh. Apakah...dipedulikan dan mempedulikan itu...perasaan yang begitu kuat? Apa artinya kepedulian orang kalau Hida tidak bisa keluar dari penjara ini? Bagi Bae saat itu, sesuatu yang tidak ada hasilnya tidak berarti. Dia bingung akan rasa senang Hida.

"Tapi tidak usah memaksakan diri." Hida menggeleng. "Tempat ini tidak begitu buruk, kok. Sipir penjagaku baik, namanya Toshio-san. Lalu di sebelahku ada seorang psikopat yang ramah, namanya Zen Nishikki."

Jean malah semakin cemas mendengar hal itu. Hida tampak berkilau matanya.

"Oh iya, apa yang kalian lakukan soal kasus ini?"

Bae pun menjawab, "Sawakaze menemukan bahwa kucing yang matanya dicungkil itu dijadikan percobaan pertama seorang mahasiswa bedah dua tahun lalu. Dari data yang diberikan Vivaldi, ujian bedah dilakukan sekitar akhir Februari tiap tahun, dan memungkinkan pelaku untuk menyelundupkan obat bius yang disediakan saat ujian. Dilihat dari bekas sayatan yang bersih, mereka memutuskan untuk memeriksa mahasiswa bedah yang nilai praktikumnya tinggi. Baru sejauh itu."

"Ini akan sulit, soalnya...kita harus cari cara untuk menggeledah kamar mereka..." Jean menghela napas.

Hida memainkan jari-jarinya. "Begini...aku dapat inspirasi dari Zen..." dia melipat kedua tangannya. "Ini hal yang cukup gila...tapi bagaimana kalau korban masih hidup?"

Bahkan Bae yang biasanya tidak berekspresi langsung terbelalak. Sebelum keduanya merespon, Hida mengangkat tangannya dan lanjut berbicara.

"Waktu aku menanyakan detil kasus yang dilakukan Zen, dia bilang dia memotong kedua kaki korbannya, dan membekukan darahnya dengan gas." Dia mengangguk sekali. "Es. Dong-Min, kau ingat bagaimana keadaan bola mata yang kita temukan, bukan?"

Bae mengangguk ragu. "Beku dalam es...tapi kenapa..."

"Menurutku..." Jean memulai, "Pelaku mutilasi ini sengaja...karena dia ingin kita menemukan sipir penjara." Dia menatap Hida. "Jadi...kita harus memeriksa peti es kampus?"

Hida menggeleng. Bae pun langsung mengerti idenya.

"Sebaiknya kalian periksa daftar mahasiswa teknik kimia dan daftar peminta gas pembeku: Nitrogen."

~.X.~

Kembali ke asrama putri, Gia-senpai sedang mencari-cari informasi. Selain jagoan teknologi, gadis cantik itu juga cukup handal meretas situs-situs khusus; forum khusus dewan pengajar, misalnya. Kadang-kadang, ia harus mengambil langkah drastis, seperti...

"...Senpai, ini registrasi pengajar pengganti semester depan, kan?" tanya Kyoko, terkejut. "Kalau kau mendaftar itu, kau harus ikut, kan? Itu bayarnya lumayan mahal, kan? Nanti semester depan kau harus ikut pertemuan pengajar, dong?"

Gia tertawa kecil. "Fufufu~ tenang saja...dipikir nanti saja...yang penting sekarang forum diskusi para dosen dua tahun lalu..." dia mengetik sambil memegangi perutnya. "Kalau Ummi nggak pulang-pulang, nanti siapa yang masakin sarapan buatku...?"

Identitas orang-orang dari Korea Utara cukup dirahasiakan, tidak banyak dan terlalu riskan untuk dijadikan umum. Namun, para dosen umumnya tahu soal identitas sipir penjara dari Korea Utara sejak dua tahun lalu di mana kasus bermula.

"Oke, ini dia! Mobil!" Gia-senpai memanggil Kyoko dengan panggilan ejekannya. "Astaga...apa ini...?"

Kyoko menggeser Gia-senpai untuk melotot ke salah satu balasan forum.

Nama sipir penjara yang hilang itu...

"Hwang Sei...Dong-Min?"