Hello

140424. borneo.


Hello, hello. Aku sedang di sini. Membaui dua puluh helai daun bundar yang dilengketi petrichor. Bunga bak jejarum kemerahan menyembul di seberang aliran air, aku ingat, bunganya masih sewarna dengan apa yang kita temui di perjalanan pulang dahulu. Aku hanya berdiri, sendiri. Aliran air yang menderas membuat bayanganku seabstrak langit yang hujan enggan namun panas pun segan.

Hello, hello, ingatkah kamu? Aku, kamu, dan sekotak takoyaki yang terpaksa dibagi berdua, ketika siang itu, saat kita melepas penat belajar lantas kita mengejar rumah.

Hello, hello, ingatkah kamu bahwa bayanganmu pernah jua terlukis di permukaan aliran bisu ini? Ya, bayangan kita pernah terbawa aliran ini. Seberharga sekotak emaskah kamu hingga perjalanan pulang nan singkat itu tetap kurawat sebagai harta jiwa? Bukan, kamu bukan emas. Platina juga bukan. Kamu bukan perak. Kamu bukan permata. Tapi kamu pertama.

Hello, hello. Wajahmu mengenakan senyum seharga seluruh platina di muka bumi waktu itu. Mungkin kamu lupa, tapi penambang batu mulia sepertiku tak akan begitu saja membuang harta yang kamu beri padaku siang itu.

Hello, hello, hello. Hello, dua tahun lalu, mungkin kamu lupa, malam ini, ketika itu, kamu memberikannya. Tidak apa, karena aku masih memilikinya untuk kurawat. Seperti sekerat mahkota bunga untuk seorang putri mungil, apa yang kamu beri masih bersinggasana di tempat yang tak kamu duga.

Hello, terima kasih sudah mampir tadi malam. Meski kamu hanya sesingkat bus sore yang dikejar senja dan hanya singgah di halte berupa alam mimpiku tak lebih dari satu menit, aku tetap memberimu bekal lagi berupa suguhan rindu yang beraroma kasih dalam sebuah cawan perak bernama hasrat.

Hello, hello, tujuh ratus tiga puluh malam lalu, kamu menitipkan pesan sebelum pergi. Masih kusimpan, masih kurawat, meski kalimat itu bukanlah seindah dialog picisan drama yang sering bertayang di balik layar perak.

Hello, hello, hello, aku masih merindukanmu.

Hello, hello, seperti tujuh ratus tiga puluh malam lalu ketika kamu harus pergi keesokannya namun semalamnya kutahan kamu dengan pengakuan rasa.

Hello, aku rindu.

Hell, apa kabarmu?

Hel, masihkah kamu ingat kalimatmu sendiri di malam itu?

He? Termilikikah masih senyum yang kamu kadokan untukku lewat manisnya kalimat malam itu?

H, kubiarkan bulan meneruskan salamku pada matahari di langitmu sana.


A/N: malam ini, dua tahun lalu, ada kejadian seru. uh, seharusnya aku mengurus resume-ku. uhuk.