An orific by Rakai Asaju (pseudonym fo K. Rahayuni)

;

;

Asa Rembulan di Penghujung Pagi

Bagian satu: Sheila

;

;

Kisah cinta kita memang tidak biasa.

Tak ada kata-kata romantis, puisi cinta yang indah atau sekedar satu-dua kata sederhana bahwa kau mencintaiku.

Tak ada belaian, sentuhan mesra, atau bahkan kebersamaan yang eksplisit maupun sembunyi-sembunyi, yang kita tunjukkan di depan orang lain.

Bahkan, tak ada tatapan mata yang menyratkan bahwa dirikulah satu-satunya. Karena, memang bukan aku satu-satunya.

Cintamu adalah jalan berkerikil panjang yang berbatu, yang diterjemahkan dalam seribusatu metode yang menuntut tubuhku bekerja hingga di luar batas.

Cintamu adalah tantangan yang menghadang, yang senantiasa ada untuk memastikan bahwa diriku tertempa.

Cintamu adalah pembatasan total dalam kehidupan pribadiku, yang mengikat sekaligus membebaskan.

Yang memberitahuku bahwa... untuk menjadi kuat, kita harus merasakan penderitaan.

Dan... aku tak keberatan menerimanya.

;

;

;

"HIGH KNEES!"

Suara lantang mas Jay langsung memecah suara skipping monoton yang sejak setengah jam lalu terdengar di hall latihan.

Serempak, sekumpulan laki-laki dan perempuan dari berbagai usia mengangkat kakinya dengan cepat di antara lompatan jumprope. Irama jumprope yang tadinya teratur dalam kecepatan sedang, langsung berubah cepat. Hall menjadi gaduh dengan suara hentakan sepatu kets beradu dengan lantai. Para laki-laki dan perempuan itu tahu, komando "high knees" di tigapuluh detik terakhir skipping, berarti kedua kaki harus diangkat bergantian dengan cepat diantara lompatan jumprope. Seperti lari di tempat dengan lutut yang diangkat tinggi. Dan itu latihan kardio yang cukup berat ketika repetisi itu telah dilakukan untuk kesepuluhkalinya. Otot betismu mulai kebas dan akan ada rasa sakit yang amat sangat di kedua engkel.

"ANGKAT! ANGKAT!" Ia berteriak sekali lagi. Memastikan komandonya dipatuhi.

"AAAARGGGH!" Beberapa orang mulai berteriak sambil tetap menahan kakinya naik turun dengan lutut diangkat serata pusar. Kalau rasa lelah mulai menguasai otot, tidak apa untuk berteriak. Mengumpat juga silahkan, bebas-bebas saja selama badanmu masih mau bergerak.

"PRIIIIIIIIITTT!" Mas Jay meniup peluit panjang. Tanda latihan berakhir.

Suara leguhan kelelahan terdengar seperti irama koor, diikuti manusia-manusia bergeletakan dengan baju basah oleh peluh. Nafas yang tersengal membuat udara dalam hall terasa panas. Mas Jay membuka jendela dan hembusan AC dari ruang sebelah langsung menyelinap masuk, sedikit membawa kesejukan. Beberapa orang langsung mendekat kea rah jendela dan pintu menikmati hawa dingin itu, ketika mas Jay juga membuka pintu lebar-lebar. Hall latihan di lantai dua ini memang didesain khusus berlangit-langit rendah, ketika semua pintu dan jendela ditutup, panasnya luar biasa. Satu-satunya penolong hanya dua kipas angin di langit-langit, yang seperti biasa, selama latihan berlangsung selalu dimatikan oleh mas Jay.

Mas Jay menyalakan kipas angin, langsung dalam mode kecepatan maks. Beberapa orang benar-benar menikmati kesejukan itu. Terlentang dengan nafas yang masih terengah, sedang beberapa duduk sambil men-shaking otot betisnya telah disiksa dalam skipping high-knees berepetisi tinggi.

"Cooling down, jangan langsung santai," Mas Jay berteriak memperingatkan beberapa orang yang menjadi terlalu santai. Baju mereka masih basah dan harus segera diganti, dan otot-otot yang telah bekerja keras harus didinginkan dan diregangkan kembali untuk mencegah cidera. Ia sendiri melangkah ke beberapa jendela lainnya yang belum dibuka. Dibukanya lebar-lebar agar udara masuk.

Sheila menggantungkan jumprope Kettler-nya ke gantungan di sudut hall latihan, pegangannya yang terbuat dari bahan spons bahkan basah oleh keringat. Lalu dengan gerakan ringan ia mulai menggoyang-goyangkan kaki dan tangannya, melakukan gerakan pendinginan selama beberapa menit. Terakhir, peregangan kembali pada otot-otot besar.

"PNF! Berpasangan!" mas jay berteriak lagi.

"Aduh…!" Beberapa atlet mengeluh protes. PNF atau Proprioreceptor Neumuscular Facilitation, adalah metode peregangan otot yang dilakukan berpasangan. Seorang atlet akan dibantu melakukan peregangan maksimal dengan ditaha oleh patnernya. Banyak atlet yang tidak menyukai PNF karena membuat kelenturan mereka ditekan hingga ke batasnya. Dan itu berarti rasa sakit yang harus ditahan selama dua kali sepuluh detik. Padalah, manfaatnya terbukti secara klinis. Mencegak cedera, menambah kelenturan secara signifikan.

"Sheila, sini," Mas Jay memanggil Sheila.

Sheila tersenyum kecut. Jumlah atlet perempuan memang hanya lima orang, dan Sheila biasanya tak punya pasangan. Selain itu ia berbobot paling berat, 65 kilogram, juga berpostur paling tinggi, 168 cm. Semetara teman-teman ceweknya hanya antara 50-55 kilogram. Biasanya Sheila berpasangan dengan laki-laki atau menghindari PNF dengan melakukan peregangan sendiri.

Tapi, hari ini mas Jay memanggilnya. Dan kalau PNF berpasangan dengan mas Jay, sang pelatih, ototnya jelas akan diulur sampai batas maksimal. Hohoho, siap-siaplah merasakan sakit, pikir Sheila.

Sheila berbaring telentang. Mas Jay berlutut di depan Sheila, mengangkat kaki kanan Sheila. Ia memegang pergelangan kaki Sheila dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya memegang lututnya. Lalu Ia mendorongnya pelan-pelan mendekat ke arah tubuh Sheila, menekan hingga maksimal, hingga lutut Sheila hampir menyentuh hidungnya sendiri. Shela meringis merasakan rasa sakit karena otot yang terulur di wilayah paha dan lututnya.

"Aw, aw, aduh.. cukup segitu mas..." Sheila mengaduh. Ada rasa sakit, penolakan yang menjalar sepanjang paha kiri bagian dalamnya.

"Cuma segini?" Mas Jay mengerutkan kening. "Hamstring-mu yang cedera kemarin, belum sembuh, ya?"

"Sudah,.. cuma masih kaku…"

"Sudah dikompres, belum?"

"Su-sudah…"

"Bohong,"

"Sudah, kok!"

"Lha kok belum sembuh? Nggak lentur begini,"

"Ng-nggak tahu,"

Mas Jay menurunkan kaki Sheila, lalu ganti mengangkat kaki kiri. Kali ini, lutut kiri Sheila bahkan menyentuh rata dengan badan tanpa hambatan.

"Nah, harusnya yang kanan juga lentur seperti yang kiri, kayak gini," sahut mas Jay.

"I-iya…"

Mas Jay menahan selama sepuluh detik. Lalu dilepas.

"Oke, berdiri,"

Kali ini mas Jay menggunakan sikunya untuk menahan badan Sheila. Sheila sendiri menggantung dengan kakinya membentuk posisi split. Kurang sempurna karena cedera hamstring-nya belum pulih.

Sheila menengadah. Mencoba menatap wajah mas Jay.

Bagaimana ceritanya hingga ada bekas luka itu, aku ingin tahu.

Mas Jay menatapnya balik.

"Kenapa, Sel?"

"Ng-nggak mas, nggak apa-apa." Sahut Sheila.

"Ganti, kiri depan,"

Sheila melakukan split kiri dengan mudah. Sedangkan yang kanan, karena masalah hamstring itu, tak terlalu baik hasilnya. Split-nya sedikit miring.

"Kompres lagi habis ini. Lalu SMS mbak Puji. Minta fisioterapi," perintah mas jay.

"Iya mas," Sheila menunduk patuh.

Latihan pagi ditutup dengan doa bersama dan tos. Ketua tim, yang lazim disebut Lurah (entah darimana sebutan itu datang) memimpin doa dan tos.

"JAWA TIMUR JAYA LUAR BIASA!" Teriak para atluet di tengah lingkaran. Kalimat pendek itu adalah penutup setiap latihan, dan juga pembuka awal berdoa ketika akan bertanding. Ritual berdoa sebelum dan sesuadah awal latihan adalah wajib bagi para atlit pencak silat. Bahkan termasuk di sesi latihan fisik yang tak melibatkan tendangan atau pukulan.

Untuk latihan fisik yang kebanyakan dibenci para atlit, pelatihnya adalah seorang lelaki tigapuluh empat tahun bernama Jayadi Hertantyo, yang akrab dipanggil mas Jay. Sarjana Olahraga, mantan atlet Pencak Silat yang entah mengapa saat berkarir lebih sering jadi runner-up daripada juara. Kemudian ia mengambil sekolah khusus kepelatihan fisik dan memegang lisensi hingga tingkat pre-advanced, tingkat kedua setelah beginner. Rumornya, ia masih menabung untuk ikut sekolah di jejang Advanced yang hanya diadakan di Australia.

Mas Jay adalah pribadi unik, keras namun bisa juga menjadi sahabat. Ia memang bukan pelatih teknik tetapi para atlit suka berdiskusi mengnai teknik dan strategi dengannya. Ia juga satu-satunya yang masih single diantara tiga pelatih lainnya, sehingga bersedia untuk menemani atlit yang ingin melakukan latihan tambahan, kapanpun bahkan di malam hari atau akhir pekan. Tingginya hanya 165 cm, tidak terlalu tinggi untuk seorang mantan atlit, tetapi otot-ototnya terlatih bagus. Ia satu-satuya pelatih yang masih mau berlari bersama-sama para atlit, memegang punching pad dan sansak dan membiarkan dirinya jatuh terjengkang ketika ditendang sekuat tenaga.

Mas Jay, punya kulit berwarna tembaga. Potongan rambutnya selalu cepak, ringkas, dan panjangnya tak pernah lebih dari dua senti. Wajahnya bulat dengn hidung mancung yang sedikit miring, katanya karena hidung itu pernah patah saat masih bertanding dahulu. Dan fitur dari wajahnya yang sulit dilupakan adalah, bekas luka berjahit empat yang melintang miring di alis kanannya. Hampir menyentuh mata, sehingga satu mata kanannya terlihat lebih sipit. Di awal para atlit baru mengenalnya dan syok dengan porsi latihannya yang keras, mereka diam-diam menyebutnya "Battosai". Sebutan itu ia dianggap mewakili kekejamannya seperti tokoh Kenshin Himura saat masih menjadi pembunuh.

Mas Jay sangat akrab dan terbuka. Tetapi dia tak pernah menceritakan secara jelas darimana luka itu berasal. Dia hanya selalu menjawab,

"Dulu luka saat masih bertanding."

Dan itu adalah satu hal yang Sheila sangat ingin tahu.

Para atlet dan pelatih turun ke bawah dari hall latihan, dengan baju berpeluh yang masih basah. Ada suara tawa di bawah, sepertinya ada seseorang yang menyapa mereka dan bercengkrama. Sheila dan Mas Jay yang turun belakangan, baru mengetahui kalau ada seorang tamu yang datang mengunjungi mereka. Tamu itu sedang bercengkrama akrab dengan para atlit yang turun dari hall duluan.

Tamu itu,… seseorang yang tampak luar biasa.

Mengenakan sepatu boot yang tampak mengintimidasi, wanita itu mengenakan celana boot cut yang sangat cocok untuk kakinya yang panjang (Sheila menaksir sekitar 160 cm), jas safari berwarna sama hitam dan kemeja putih dengan rimpel di dadanya. Rambutnya dikuncir tinggi dan sangat lurus, riasannya juga terkesan natural, dengan kedua kupingnya mengenakan anting kecil yang sepertinya permata asli. Mengesankan wanita karier yang cantik, cerdas dan mandiri. Ia masih mengenakan sarung tangan pengendara bermotor saat menyapa para atlit. Sheila melihat sebuah Yamaha Vixion merah dengan boks Givi di belakangnya, terparkir di depan pintu masuk hall latihan.

Sheila mendengar beberapa rekan atlitnya menyapanya dengan "Mbak".

Apa dia mantan atlit senior? Sheila bertanya-tanya.

Mata wanita itu beradu dengan mas Jay di belakangnya. Mas Jay, yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.

"Slamet?" Mas Jay memanggil.

Slamet?

"Jahat! Kamu masih manggil aku pakai itu," dan si Mbak melayangkan tinju ringan ke dada mas Jay, kekaraban yang sangat khas antara sesama atlit pencak silat.

"Sori, met," dan mas Jay mengulangi sambil tertawa.

"Cieeeee…!" beberapa atlit senior yang tadinya bercengkrama dengan wanita itu mengolok-olok, melihat kekraban antara mas Jay dan "Slamet".

"CLBK … Cinta Lama Bersemi Kembali!" beberapa mengolok, yang dibalas seringai seram mas Jay. Tapi tanpa rasa takt mereka malah mendorong si Mbak untuk lebih dekat ke depan Mas Jay.

"Ayo ayo,… ayo Shel, tinggalin aja. Biar berduaan!" Masih dalam suasana guyon, Dudi, salah satu atlit senior, menarik tangan Sheila untuk menjauh.

Sheila sebal, mengapa ia yang sama sekali tak tahu siapa perempuan yang dipangil dengan nama lelaki itu oleh Mas Jay. Siapa dia?

"Siapa, mas Dud?" tanya Sheila.

"Sella Yukiananta, mantan atlit," sahut Dudi.

"Dulu, dia yang membacok mas Jay sampai ada luka di alisnya itu,"

Sheila terdiam.

Banyak sekali,… yang aku belum tahu tentangmu.

Bersambung ke bagian 2

"SELLA"

Glosarry:

High knees: lompat-lompat angkat kaki selutut

Jumprope: alat untuk lompat tali

Shaking: mengguncang-guncangkan otot, salah satu metode pijat yang bisa digunakan untuk melemaskan otot setelah latihan.

Kardio: istilah untuk latihan Kardiovaskular, umumnya untuk menyebut latihan aerobik dengan repetisi yang cukup tinggi dan lama untuk memperkuat kapasitas paru dan otot jantung. Merupakan latihan yang penting untuk atlit.

PNF / Proprioreceptor Neuromuscular Facilitation: Metode peregangan berpasangan dimana satu orang memanipulasi atau memegangkan otot-otot patnernya. Otot yang diregangkan didorong hingga titik maksimal, kemudian ditahan selama beberapa detik. Biasanya digunakan setelah pendinginan atau untuk pemulihan cedera. Silahkan serach di google kalau penasaran,…