Title : My Partner's Music

Author : LdrdKyuon

Genre : Friendship/Humor (?)/Angst (?)

Ratting :T

Main Cast :

1. Haruno Yuki

2. Takahasi Kyo

3. Sakurai Seiji

Ini Fiction milikku asli tanpa ada campur tangan orang lain dengan inspirasi tambahan dari orang-orang sekitar yaitu dari Yuki Marui dan Pyon.

Warning!

Maaf bila TYPO MENJAMUR DIMANA MANA

Sedikit Yaoi/BL/ShounenAi

Sudah diberi peringatkan yaa ! ^^

Mohon Review Favorite and Comment

Thanks for read before you read ^^haha

"Tuan! Tuan saya mohon anda cepat bangun!" teriakan menggelegar yang mengganggu laki-laki berwajah tampan salah satu pewaris tunggal di keluarga HARUNO namanya pastilah Haruno Yuki. Si rambut lurus hitam ini menatap tajam pada pintu dan mengutuk seseorang yang membangunkannya sepagi ini. Ya sebenarnya ini jam 06.00 tapi menurut Yuki ini masih terlalu pagi. Biasa KEBO terkeren Abad ini.

"5 menit lagi!" balas Yuki sambil melempar bantalnya tepat di pintu. Memang attitude anak berumur 12 tahun ini sedikit jelek. Tapi wajahnya enggak lo yaa…

"Tuan…. Hari kan babak final lomba music tingkat nasional yang sangat Tuan tunggu~~?"

"he?...Lomba?...Musik?" lola anak konglomerat ini kambuh disaat yang tidak tepat. "hei! Baka!" teriaknya sambil melompat dari tempat tidur mewah big size untuk anak sekecil DIA.

Setelah mempersiapkan semuanya Yuki segera keluar dari rumahnya yang bak Istana Barbie tontonan kesukaan salah satu pelayanannya di waktu senggang.

Didepan, dia ternyata sudah ditunggu oleh laki laki berambut caramel lurus sebayanya bersama orangtuanya. Yuki segera melangkahkan kakinya pada partner terkasihnya ini *ehem. Takahasi Kyo satu satunya orang yang bisa dipercaya oleh Yuki. Karena Yuki memang sangat paranoid dengan teman atau siapapun yang ingin berteman dengannya karena….UANG atau HARTA dan yang lain. Sebut saja DIMANFAATKAN. Entah itu karena UANG atau kelebihan yang ia punya. Apapun itu dia akan sangat membencinya

"Ohayou~Haruno-sama" mata Blue saphirenya bertemu dengan warna mata yg sama dengan rambut Kyo, Yuki.

"Siapkan suaramu Kyo-kun! Hahahahaha!" Yuki menepuk-nepuk keras punggung milik temannya ini. Lah.. yang dipukul malah biasa biasa aja padahal itu cukup keras loo. Mas*ch*st

"itu pasti Haruno-sama. Saya yakin kita bisa memenangkannya kali ini" Kyo tersenyum lembut. Selembut Sutra.

"ya.. tapi.. aku ingin sebelum kita berangkat, maukah kau menulis diinduk kunci yang sengaja ku beli ini dengan cita-cita kita berdua?" Yuki memberikan induk kunci berwarna hitam kelam sama dengan warna rambut pemiliknya. Dan itu termasuk warna kesukaan mereka berdua. Kyo hanya mengangguk menandakan dia mau melakukannya.

Mereka menuliskan cita cita mereka di induk kunci itu dan memsangnya di tralis dekan sebuah jembatan yang sering mereka lewati saat mereka pulang sekolah, dan itu adalah tempat mereka pertama kali bertemu.

Saat mereka tampil mereka datang. Degup jantung mereka bertambah cepat seperti genderang mau perang ke 3. Mereka berdua menaiki panggung megah itu. Ada ribuan pasang mata disana melihat dan terfokus kearah satu-satunya peserta SD yang bisa lolos sejauh ini.

Yuki segera duduk disebuah Piano Grand berwana hitam dan Kyo mengambil micnya. Di sebuah panggung berwarna putih ini dengan paduan baju mereka yang berwarna hitam terlihat contrast.

Permainan mereka pun dimulai. Semua diam, hening. Menikmati alunan piano dari tangan Yuki dan suara lembut merdu dari kyo. Seakan semua penonton itu terbiius dan terhipnotis.

Setelah itu tibalah saat pengumuman yang sangat mendebarkan. Ya, mereka peserta terakhir dan menjadi penutup yang paling memukau.

Semua peserta berkumpul diatas panggung yang megah itu. Saling berpegangan tangan bagi yang bersama Partnernya. Tapi kalau sendiri yang megang tangan sendirilah, masak mau megang megang tangan orang yang gak dikenal. Kan gak ngehits *alay

"baiklahh sekaranglah puncak acara yang kita tunggu tunggu, dimana akan ada yang akan menjadi yang terbaik di JEPANG!"ucapan basa basi yang menyebalkan dari seorang MC. "yang menjadi pemenangnya adalah…..Haruno Yuki dan Takahasi Kyo anak kelas 6 SD!"

DEG!

Seakan semua berhenti sesaat. Yuki memukul mukul pipinya tidak percaya. Lahh kalo si Kyo sih malah masang wajah shock cengoh sumpah Menjijikan. Diliat ribuan pasang mata loo.

"Yatttaaa!" setelah sadar mereka langsung memberikan Lambaian tangan bagai seorang artis. -_- anak zaman sekarang

Karena takut terjadi kerusuhan Yuki dan Kyo segera disuruh untuk turun dari panggung.

"Kyoo! Hahahahahahaha.. ingat janji kita ya. Kita Haruss ke tingkat IN-TER-NA-SI-O-NAL bersama!. Semoga bisa terwujud" Yuki merangkul kawannya ini.

"haik… aku akan melakukan apapun untuk Haruno-sama"

"baiklahh… ayo yang sampai duluan ke mobil adaalah majikannya!" Yuki segera berlari

"=_= Haruno-sama~~ kapan aku bisa menjadi majikan kalau kau selalu mencuri start!"

Suasana disebuah sekolah sederhana itu sangat ramai. Banyak murid yang berlarian berkeliaran bagai maling di koridor koridornya. Seperti biasa Yuki menjadi obyek penglihatan para murid. Ada yang kagum dengan wajahnya, ada juga yang mencela dengan kejutekannya terhadap semua orang.

"Ohayou~~ Haruno-san" sapa salah satu murid laki laki dengan segerombolan ekor manusia bersamanya.

"hmm..? kenapa?" Yuki berusaha memasang wajah datar seperti biasa padahal sekarang jantungnya berdegup kencang bukan karena jatuh cinta. Enak aja =_= dia masih normal untuk beberapa tahun kedepan. Yang membuat jantungnya berdegup cepat karena firasat buruk yang Ia rasakan saat ini.

"kami.. bawakan anda kue Haruno-san" laki-laki berwajah cukup sangar ini memberikan sekotak kue coklat.

"Haruno-sama ini tanda pertemanan kami.." tambah seorang wajah sangar yang masih masuk segerombolan ekor orang tadi.

"pertemanan?" Yuki memiringkan kepalanya agar sedikit terlihat unyu didepan teman teman sangarnya ini.

"ya… teman…. Teman selalu memberikan Ha-ru-no-san….?" senyuman mengerikan muncul diwajah anak SD sebayanya ini. Sial. Firasat buruk Yuki akan terjadi. Seseorang tolong.

"a..ahh wakatta. Arigthou" Yuki membungkuk dan segera berjalan tenang dan tidak terlihat melarikan diri dari segerombolan anak tadi. Tapi langkah kaki Yuki berhenti seketika bukan karena ada lampu merah disana tapi dihadang oleh salah satu dari mereka entah yang mana tadi. Soalnya banyak banget. Anggap aja seperti itu.

"Matte.. Haruno-san. Jangan terburu buru dulu"

Tch.. siapa yang gak keburu buru kalo mainnya keroyokan. Ayok 1 lawan 1 kalo berani.

"ha?. Aku tidak terburu buru. Tapikan aku harus masuk kedalam kelas.."

"hahahahaha. Kau lucu sekali Haruno-san. Kami tadikan bilang kalau sebuah pertemanan itu saling memberi. Nah.. kalau begitu. SEKARANG BERIKAN SEMUA UANGMU HARUNO-SAN"

"tch.. kau tau Uang yang ada didompetku sekarang tidak sepadan dengan KU-E MU-RA-HAN KA-LI-AN. Dan kau tahu, setelah pulang nanti aku akan memberikan KUE ini kesemua babi peliharaanku, yang biasanya hanya makan sampah. Dan karena kue ini hanya sampah, lebih baik ku berikan pada mereka" Yuki melempar semua kue itu ke wajah anak yang ada di hadapannya. Yuki cari mati. Memang, Yuki tidak bisa mengendalikan cara bicaranya, kasar, apalagi dengan anak anak wajah sangar macam mereka.

"Kuso!. Dasar kau tak punya sopan santun!" anak ini menarik kerah kemeja anak konglomerat ini dengan kasar.

"lepaskan teme! Lihat kemeja mahalku rusak oleh tangan kasarmu!. Kemeja ini tak sepadan dengan nyawamu BODOH!" Yuki meronta dan memukul tangan milik laki laki dihadapannya

"dasarr! Hiaaaaa.." anak ini hendak memukul wajah tampan milik Yuki. Tapi hal itu terhenti.

"chotto!" suara seorang malaikat peyelamat Yuki datang. Wajahnya di terpa sinar pagi dekat jendela lantai 2 sekolah ini.

"apa kau?! Mau jadi pahlawan untuk anak tak punya sopan santun ini ha?!" mata anak yang sedang memegangi kerah Yuki sekarang memelototi Kyo.

"a..matanya sampai ingin keluar" gumam pelan Yuki. Untung tak terdengar.

"bukan aku tak mau jadi pahlawan kesiangan aku maunya jadi chibi marukochan" okee ini mulai tidak logis kyo "tapi.. kawan kawan. Lihat ada Hiroshi-sensei yang melihat perkelahian kalian tadi" Kyo menunjuk ngawur kesembarang arah pokoknya menunjuk.

"maana?" pada saat mereka lengahh kyo segera menarik tangan Yuki dan membawanya berlari sebelum mereka sadar betapa bodohnya mereka sampai bisa dibohongi dengan hal sebodoh itu.

Dan sampailah mereka di belakang sekolah. Ramai. Ada yang sudah persiapan untuk berolahraga.

"haa~~h ye ye Yokkatta Kyo.. Ariga.." ucapan Yuki terhenti saat ia melihat temannya masih sibuk membersihkan darah yang keluar dari hidungnya.

"jaa" dengan cepat Kyo pergi dari hadapan Yuki. Yuki bingung

"kenapa dihidung kyo keluar saus..?.. atau jangan jangan kyoo makan saus lewat hidung. Sughoiii!"

Setelah kejadian keluar saus dari hidung menurut Yuki, Kyo tidak masuk sudah hamper 2 minggu. Setiap Yuki datang kerumahnya selalu tidak ada ibuunya selalu mengucapkan hal yang sama `kyo sedang pergi`. Apa mungkin kyo malu gara gara mengeluarkan saus dari hidung?. Padahal itu sangat MENAJUBKAN!.

Hal itu hanya membuat Yuki diam saat jam istirahat. Kalau ngomong sendiri takut dikira gila. Dan tanpa sengaja telinganya menguping pembicaraan teman dibelakangnya.

"hei hei.. kau tahu tidak kalau salah satu murid sekolah kita akan pindah sekolah diluar negeri lo"

"Ha?. Kenapa?. Dan siapa?"

"katanya ia akan dikirim ke sekolah music yang terkenal dan diikutkan lomba music internasional. Dan katanya Takahasi kyo yang terpilih"

Yuki kaget dengan kalimat terakhir itu. Kalau Kyo pergi Yuki pasti juga akan pergi.

"kau tidak bohongkan?" Yuki membalikkan badannya

"iya.. hari ini dia akan mengambil ijazah untuk lulus lebih awal"

Yuki terdiam dan dengan cepat ia berlari secepat Eyeshield 21 menyusuri semua koridor. Dan berhenti pada saat ia melihat kyo keluar dari ruang guru bersama ibunya.

"kyooo!" Teriak Yuki. Tapi kyo malah memandangnya dengan tatpan tak enak. Apa wajah Yuki hari ini tidak enak dipandang?. Kyo menyuruh ibunya untuk pergi terlebih daulu. Lalu kakinya berjalan ketempat dimana temannya berdiri.

"kyo! Apa benar kau akan pergi ke luar negeri. Kalau begitu aku juga. Kan kita sudah berjanji untuk bisa ke tingkat internasional bersama" Yuki merangkul temannya ini. Tapi Kyo membuang kasar tangan Yuki.

"kau tak perlu menyusulku. aku sudah tak ingin menjadi partnermu. Aku akan pergi ke tingkat internasional bersamapartner ku yang baru dan lebih hebat daripada kau." Kata-kata menyakitkan hati itu keluar bagai racun ditelinga Yuki.

"ta..tapi.. bagaimana dengan janji kita. Janji kita berdua?" Yuki mulai menjatuhkan bulir bulir airmata. Menyakitkan. Itu pasti.

"huh!. Janji itu hanya bualan omong kosong bagiku. Sana pergi dan menangis dihadapan ibum. Selamat tinggal. Jangan ganggu aku lagi. Dan terimakasih. Berkat kau aku bisa mengambil ini semua berkat Tingkat Nasional yang kita menangkan"

Kyo berjalan meninggalkan Yuki yang mematung. Mematung dengan buliran buliran deras air mata yang membasai pipinya sekarang. Dimanfaatkan. Hanya itu yang ada dibenak Yuki. Sial. Mana Yuki tau bila Kyo bertingkah sangat baik padanya.

Semenjak kejadian itu. Yuki menangis dan memohon untuk dipindahkan tak mau mengingat kenangannya bersama Kyo lagi.

4 tahun berlalu. Yuki masih sama seperti dulu. Ber-attitude kurang baik. Jutek, judes, tampan, tapi kali ini terlihat lebih parah. Dan sekarang Yuki berhenti total dari kehidupan bermusiknya. Dia menyuruh Ayahnya untuk menjual Piano Grandnya untuk tambahan modal bekerja Ayahnya. Alasan bodoh. Tapi diterima oleh Ayahnya. Apa Ayahnya juga bodoh?

Sekarang Yuki duduk di kursi SMA. Sekarang dia lebih senang berkelahi. Semua orang dimusuhi olehnya. Tak ada yang bisa di percaya. Itu alasannya. Dan akhirnya orang tua Yuki dipanggil oleh sekolah untuk menghadap.

"Yuki!. Kau ini kenapa ha?!. Sikapmu sudah keterlaluan. Ku kira dengan mengirimmu ke Tokyo bisa membuat mu sadar. SMP. SMA sama saja!" Teriak maut itu keluar dari mulut Ayahnya yang terkenal sabar. Dan sekarang kesabarannya habis dan perlu diisi ulang dengan merubah sikap Yuki.

"kali ini kau harus kembali ke Kouzu!" ucapann Ayahnya kali ini membuat Yuki yang daritadi diam, sekarang angkat bicara.

"Apa-apaan Ayahnya ini?! Aku tidak mau!"

"sudahlah Yuki dengarkan apa yang Ayahmu bilang. Mungkin ini yang terbaik." Ibu Yuki menengahi.

Yuki berusaha tetap menolak tapi mau bagaimana lagi. Sekarang Yuki merasa benar benar bersalah, dan menyesal. Coba sikapnya baik, dia tidak akan kembali ketempat yg seakan telah mengutuknya telak disana.

Hari ini adalah hari pertama Yuki masuk sekolah Kouzu gakuen. Sekolah sederhana. Dan kali ini Yuki berjanji untuk tidak melakukan hal hal yang akan membuat ia dimakan oleh Ayahnya. Kenangannya bersama Kyo muncul satu persatu membuat Yuki mengacak rambut hitamnya frustasi.

"kuso!" umpatnya setelah melihat kearah Induk kunci hitam yang ternyata masih berada disana. Ya untung saja tidak ada pemulung yang ingin mengambilnya.

"Minggir!" teriak seseorang bermata empat. Dibaca pakai kacamata. Dengan sepedanya yang lepas kendali yang habis meluncur dari ketinggian gag tau datang sepertinya hendak menabrak Yuki yang sedang frustasi disana.

"Aaaaa!" teriak Yuki bersamaan dengan laki laki berambut ikal berwarna merah maroon itu.

BRAKK!

Ya mereka saling bertabrakan bisa diketahui oleh suara effect diatas. Dan kali ini posisinya sangat berbahaya dimana terjadi sandwich sepeda. Yuki berada di bawah lalu sepeda diatas ditaburi dengan Laki Laki bermata emas menawan miliknya.

"i..itai." rintih Kyo

"huaaaaaaaa. Go..gomen senpai!" Dengan cepat laki laki bishounen ini berdiri dan membenarkan posisi sepedanya.

"tch.. kau seebenarnya bisa naik sepeda gag sih?!" bentak Yuki dihadapan anak yang menabraknya tadi. Seketika Yuki merasa paginya hancur.

"hehehe… gomen senpai remku bllooonngg jadi gag bisa di rem hehehe. Lah, senpai sendiri malah ngelamun liatin barang hitam itu. Otakk senpai juga blong ya?" ucapnya dengan senyum bisa di bilang sok innocent

"emank kau kira otakku seperti sepeda tuamu itu ha?!"

"bu..bukan begitu senpai. Hehehe gomen. Emm memangnya ada kenangan apa dengan Induk kunci itu?. Dari pacar senpai ya?. Uhuuuyy~~ punya pacar ni yeee~~" oke ternyata radar bahaya laki laki ini telah blong seperti sepeda murahannya

"kau ini cari mati ya?!" teriaknya sambil bawa samurainya samurai X yang gag tau dapet dari mana.

"huaaaa~~. i..ie senpai. Aku masih cari hidup. Kasian orang tua saya kalau kehilangan laki laki tampan seperti saya. Mereka pasti akan menagisinya setiap hari~~" ucapnya sambil nglesot nglesot ala sinetron anak yang dihakimi sama ibu tirinya. Angap saja begitu.

"hah! Kau itu hanya merugikan orang tuamu saja!. Tampan enggak, pinter enggak. Blo'on IYA!" bentak Yuki yang sekarang mulai bawa Itachi Uchiha buat amaterasuin ni anak. Biar menguap dari dunianya.

"huaaaaaaaaaaa~~~"

"Sana pergi!" kali ini Yuki benar benar sudah tidak tahan dengan keberadaan laki-laki penghancur pagi orang lain ini.

Dan akhirnya dengan cepat secepat menghilang bagai pesawat MH-37# *KamiTurutBerduka*

Yuki sekarang berjalan di koridor sekolah yang sepi, ditemani dengan wanita yang biasanya disebut Sensei disekolah. Mereka menuju kelas 1-5.

Yuki terlihat sangat lesu. Karena di hari pertamanya ini dia harus langsung belajar dengan serius. Karena sebentar lagi adalah ajaran Semester 2. Kuso.

Greeett~~

Suara pintu kelas itu digeser oleh tangan putih milik Sensei. Dan masuk kedalamnya. Suasana kelas yang dari luar terdengar ramai seketika hening.

"Selamat pagi Anak anak~~. Hari ini kita punya teman baru"

Semua murid dikelas ini langsung terfokus oleh Yuki. Banyak wanita wanita yang masuk dalam Club API (Anggota Pemuja Ikkeman) itu memasang wajah Mupeng pada Yuki. Dan yang diliatin mah cuma masang wajah datar dan mengalihkan dari pandangan yang terkensa menjijikan itu. Sedangkan para laki-laki disana pun ikut ngeces *plok* karena mereka iri dengan paras tampan bak artis terkenal Hollywood itu. Diliat cewek aja Yuki jijik apalagi diliat oleh cowok-cowok yang mengerikan itu rasanya Yuki ingin membunuh mereka sekarang juga agar tidak mengotori pemandangannya.

"Namaku Haruno Yuki. Salam Kenal. Boleh aku duduk Sensei. Aku capek." Perkenalan singkat itu membuat semua hening. Mereka seakan tau apa bahaya berteman dengan anak seperti Yuki. Tapi salah satu murid dikelas itu malah memasang mata Puupy yang amat sangat menyilaukan dan kawai untuk diliatn. Sia sepertinya senang dengan adanya Yuki disini.

"ohh. Baiklah silahkan duduk bersama Sakurai Seiji. Sakurai-kun silahkan angjat tangan."

Yang diperintahpun langsung mengangkat tangannya. Yuki memasang tampang horror kearah laki laki yang akan menemaninya selama ia di SMA. Pasti akan terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan.

"o..omae?!" Yukii berteriak. Yuki tidak terimalahh harus duduk dengan pengacau paginya.

Si Seiji hanya tersenyum Innocent dengan memainkan kacamatanya. Sial. Dia tertawa dibawah penderitaan orang lain.

Dengan helaan nafas berat Yuki berjalan menuju bangku malapetakanya. Dan disambut oleh Seiji.

"ja..jadi senpai bukan senpai. Dan senpai adalah anak yang bermain music di SD waktu dulu. Di tingkat Nasional. Hua senpai yang bukan senpai kau Kakkoi!" comment panjangnya hanya dib alas dengan diamnya Yuki. Tapi.. Dari mana dia tau?

"aku tau karena aku melihat penampilanmu dulu dengan partnermu yang bernama Takahasi Kyo. Aku mengingatnya karena aku Fansmu Haruno-senpai" jelas panjangnya seakan dia mendengar isi pikiran Yuki.

"sekali lagi kau mengeluarkan suara akan ku cabut pita suaramu, dan BISU selamanya" SKAKMAT bagi Seiji. Ia langsung kicep di tempat daripada dia tidak bisa bernyanyi lagi. Ya Seiji adalah seorang penyanyi banggaan saat SMP walau hanya sampai Tingkat regional saja tapi kelihaiannya dalam menyanyi sudah sangat terkenal dan membuat semua saingannya merasa terkalahkan oleh suaranya yg terkesan serak serak basah itu.

Jam istirahat pun telah tiba. Jam istirahat adalah terbukanya pintu surga yang menyegarkan fikiran. Dan di istirahat pertamanya di Kouzu kali ini, Yuki memilih untuk mencari tempat tidur yang tenang, untuk makan siang? Tenang saja Pelayan yang ada di luar sekolah pasti akan siap sedia bila Tuannya kelaparan.

"akhirnya aku bisaa…" belum sempat selesai percakapannya, Yuki akan mendapat hantaman keras dari sang master bermata 4 Seiji yang hilang control saat berlari menyusuri koridor kelas.

BRAKKK!

Lagi lagi sound effect itu harus dikeluarkan. Dan membuat Yuki limbung ke belakang dan menghantam tembok disana. Rasanya pasti mantap.

"Go..Gomen Senpai bukan Senpai" Seiji membungkukkan badannya kepada Yuki yang untung saja tidak collaps di tempat.

"jangan memanggilku Senpai AHOOO!" Yuki segera berdiri dan menatap Seiji seakan ingin membunuhnya dengan pulpen gel yang ujungnya runcing. Dan Yuki akan menusuknya berulang kali agar rasanya lebih greget, disekujur tubu Si Seiji ini. Sadis~~

"Go..gomen Senpai.. upss Haruno-sama" lagi lagi Seiji menggunakan jurus membungkukkan badan dan puppy eyesnya kepada Yuki. Tapi hal itu hanya menjadi bertambah tingginya emosi Yuki

"kau ini kenapa ha?! Ada masalah denganku?! Apa perlu kakimu ku potong agar kau tak bisa menabrakku lagi ha?!" kali ini Yuki seperti elah berubah menjadi Titan. Rivaille selamatkan Seiji dari Titan ini.

"huaa.. Senpai. kakiku. Kau boleh memotong yang lain asalkan jangan kakiku~~" kali ini mata Seiji mulai berair. "lihat sepatu baruku nanti siapa yang pakai?. Apa Haruno-sama mau memakainya untukku?"

Yuki bergidik disco karena ucapan mengerikan yang keluar dari seseorang menyebalkan ini. "Persetan dengan sepatumu AHOO!"

"Hehehehe kalau begitu bagaimana kalau kau ikut aku."

"hah.. daripada aku harus bersama orang pembawa sial sepertimu. Lebih baik aku tidur" Yuki memijit mijit kepalanya yang tidak pusing.

"huaa. Jangan tidur Haruno-sama. Kau tahu. Tidur itu akan menyebabkan tingkat ke-Keboan anda meningkat dan menjadikan anda kebo" Seiji yang memang tidak pernah diuntung

"lalu kau menyebutku kebo ha?!" ya kepancing lagilahh Yuki

"hehehe bukan begitu. Lebih baik Haruno-sama ikut denganku ke club music" ucapan Seiji membuat Yuki berhenti dan mengalihkan pandangannya dari Seiji. Ya itu adalah topic sensitive bagi Yuki

"aku tidak lagi bermain musik. Terimakasih atas tawarannya" Yuki mengepalkan tangannya erat.

"ehh? Haruno-sama?. A..ada apa? Kenapa?"

"lebih baik kau tutup mulutmu dari pada tubuhmu yag ku potong hidup hidup" Yuki berjalan pergi. Seiji diam, ia bingung. Kenapa idolanya yang membuatnya mau berjuang seperti SMP dulu secara tiba-tiba berhenti. Padahal Seiji bahagia bisa bertemu dengan idolanya dan ingin sekali bernyanyi bersamanya dan untuknya.

Sekolah pun selesai. Seiji sengaja untuk menunggu Yuki di gerbang sekolah dengan sepedanya. Seiji meyandarkan dirinya pada Tembok gerbang sekolahnya. Sampai sosok yang ia cari datang.

"Senpa!. Ayo pulang sama sama!" teriak Seiji membuat yang dipanggil dengan enggan memandang Seiji disana.

"aku masih ingin hidup BOCAH!" Yuki masih ingat bagaimana sepeda itu menabraknya karena remnya yg blong. Naik sepeda itu sama saja naik kekendaraan agar bisa bertemu Tuhan secepat mungkin.

"a..aku menuntunnya Senpai…~~~ Hehehe" ucapnyca meyakinkan.

"ha~h baiklah ayo" Yuki berjalan lebih dulu didepan Seiji. Dan akhirnya mereka pulang bersama.

Diperjalanan hanya ada keheningan. Sampai si anak berkacamata ini mengeluarkan suaranya. Mungkin ini waktunya yang tepat untuk bertanya alasan Yuki. "S..senpai… Bolehkah aku bertanya?"dan dibalas anggukan dari Yuki yang sedang melihat ke Arah matahari terbenam di laut itu.

"ke..kenapa kau berhenti bermain musik?. Ya. Mungkin ini lancang tapi…" Seiji menundukkan kepalanya.

"Aku punya kenangan buruk. Seorang partner yang ku kira sangat baik, dan tidak memanfaatkanku ternyata malah memanfaatkanku. Agar dia bisa masuk ke kancah internasional." Jelasnya. Seiji mendengar suara Yuki sedikit bergetar. Apa mungkin dia salah?

"Apa Senpai tidak mencari seorang partner lagi?" Tanya Seiji

"semua orang didunia ini tidak ada yang bisa dipercaya sekalipun itu orangtuamu"

"aku bisa kau percaya senpai!" Seiji memberhentikan langkah kakinya. Yuki yang berjalan beberapa langkah didepan Seiji ikut berhenti dan membalikkan badannya. "Aku bisa menjadi partnermu!" tambah Seiji.

"hah!. Baru pertama bertemu saja kau sudah membuatku merasa sial hari ini!" katanya dengan kesal.

"ya memang aku membuatmu sial. Tapi kau asal kau ingat saja Aku tidak akan menghianatimu Senpai!. Percayalah!" Teriaknya menyakinkan. Seiji ingin sekaali membuat idolanya ini memainkan jari jemari nya di atas piano dan disoraki oleh seluruh orang di dunia ini. Bersamanya, dia yakin dia bisa membuatnya seperti dulu lagi. Bermain dengan hati tulus dan saling percaya satu sama lain.

Yuki membulatkan matanya. Berusaha mencerna perkataan anak pendek yang tingginya tidak jauh beda dengannya ini. Dari matanya Yuki yakin dia bersungguh sungguh. Tapi tetap Yuki berusaha mengelak dan menyangka itu hanya acting orang yang ingin memanfaatkannya. "hah…itu hanya sebuah bualan dari mulut kecilmu Sakurai!"

"akan ku tunjukkan padamu bahwa aku bukan membual YUKI!" Seiji memanggil Yuki dengan nama kecilnya. Dan membuat Yuki kesal. Berani sekali dia memanggil nama kecilnya. Sok akrab. Siapa dia?. Mungkin itu yang dipikiran author. Tapi ternyata tidak Yuki mengalihkan pandangannya. Menyembunyikan wajahnya yang sedikit memerah. Dia merasakan bahwa Seiji ini benar benar ingin bermain bersamanya.

"a..aku pergi" Yuki berjalan meninggalkan Seiji dengan ambisinya.

"aiiii malunya~~" Seiji memukul mukul pipinya. "Bisa-bisanya aku~~" Seiji segera menaiki sepedanya dan membalik arah berlawanan dengan Yuki.

Yuki disana pun tersenyum. Dia merasakan kalau diakan bisa kembali keduaninya yang dulu bersama orang bernama Seiji.

Keesokan harinya mood Yuki terlihat baik. Ini bisa dilihat dia mau diantar berangkat sekolah oleh supirnya yang biasanya hanya menganggur atau malah menguntit kemana Yuki pergi. Yuki keluar dari mobil mewahnya. Membuat semua murid memfokuskan matanya pada sosok tinggi semampai berambut lurus, hitam dan bermata hitam yang indah. Tapi tetap dia memasang wajah memangsa kearah semua murid.

Stelah memarkir sepedanya Seiji melihat Yuki memasuki sekolah. Dengan cepat ia berlari menghampiri Yuki.

"SENPAI!" Seiji memukul pundak milik Yuki dengan cukup… bukan tapi sangat KERAS.

"teme!. Kau ingin pundahkku patah ha?!" Yuki membentaknya. Bagaimana tidak. Rasa pundaknya kini seperti di belah dengan pedang milik Yatogami alias Sekki.

"alah.. Senpai mau cari perhatianku saja. Biar aku bilang 'cup cup Yuki-chan.. nanti kalau dicium sembuh kok.. chuu' gitukan?" Seiji memonyongkan monyongkan bibirnya dihadapan Yuki. Dengan reflek yang cepat Yuki langsung menghantam wajah Seiji dengan tas yang dibawanya.

"Menjijikan. Kau kira aku terpikat dengan laki laki seperti mu ha?!" Seiji menyembunyikan wajahnya lagi. Sial. Anak ini bisa merusak pamornya sebagai seorang ikkeman.

"he? Aku tidak bilang tentang pikat memikat. Eh senpai malah bicarain soal itu. Gag nyambung!" Seiji tersenyum licik alias smirk. "atau mungkin Senpai terpikat denganku ya? Ya kan? Ya kan? Ha? Ha?" Seiji menaik turunkan alisnya.

"BAKA! Kau kira aku tidak normal ha?!" kali ini kepala Seiji yang menjadi hantaman keras dari tangan kuat milik Yuki.

"Seiji!" teriak seorang wanita dari kejauhan.

"huaaa.., Hazuki Makoto senpai?!. Na..Nani?" Seiji mengalihkan perhatiannya oleh sosok yang berjalan menghapirinya dengan hawa menyeramkan.

"Kau!. Selalu saja bolos latihan. Festival budaya akan diselenggarakan sebulan lagi!. Baka!" Makoto menjewer Seiji. Anak emas di club music. Dan Makoto adalah Ketuanya.

"huaaaa senpai.. itai!. Yuki-senpai. Tolong aku~~" rengek Seiji disela sela penganiayaan yang ia rasakan.

"eh?. Jadi kau yang namanya Haruno Yuki?" Makoto mendorong Seiji dan mendekati Yuki

"seperti yang kau dengar" jawab Yuki datar.

"Haruno-kun. Aku ingin kau masuk ke club music. Apa kau mau?" tampang sangar Makoto berubah menjadi tampang sok imut dan membuat Seiji yang melihatnya ingin muntah didepan wajah mengerikan itu

"aku sudah tidak lagi di dunia music lagi. Jelas?!" Yuki segera beranjak karena muak dengan tawaran tersebut.

"karena?" pertanyaan makoto membuat langkahnya terhenti. Yuki menghela nafas berat dan membalikkan badannya kearah Makoto. Wajahnya berubah seram.

"BU-KAN U-RU-SAN-MU" ucapnya datar tapi penuh dengan penekanan jadi terlihat kalau Yuki tak ingin mengungkit masalahnya.

"ahh. Apa itu itu sebuah kejadian memalukan?. Atau mungkin penghianatan?" tambah Makoto. Dari nadanya jelas kalau Makoto menyulutkan api diantara mereka berdua.

Yuki menggenggam tangannya erat dan kesabarannya sudah mencapai puncaknya. "tch."

"emm ya ya. Memang benar kau dikhianati kan?" jelasnya lagi setelah melihat ekspresi yang dikeluarkan oleh Yuki. "ternyata tebakanku benar kan?. Pecundang. Kau LOOSER. Lari dari masalah" tambah Makoto.

Seiji melihat Yuki mulai terpancing dengan perkataan Makoto-pun langsung menggandeng tangan milik Yuki dan segera pergi dari hadapan Makoto. Ia tidak mau idolanya ini merasa di jatuhkan. "J…jangan kau dengarkan senpai" ucapnya diaktivitasnya menggandeng Yuki pergi. "itu akan membuatmu makin sakit" tambahnya. Yuki yang digandengpun hanya tersenyum lega, dia tidak salah memilih seorang teman *ehem.

Hari itu saat pulang sekolah, Seiji mengcancel kegiatannya pulang bersama Yuki. Dan terpaksa mengikuti kegiatan clubnya. Karena sebentar lagi festival budaya akan segera diselenggarakan. Club music memutuskan untuk menampilkan orchestra. Anggota club ini cukup banyak. Karena club ini memang sering ikut di suatu kejuaraan. Dan menang. Tapi sayangnya hanya tingkat regional. Sedangkan kepala sekolah menginginkan kemajuan. Yaitu tingkat nasional atau lebih. Sedangkan mereka selalu kalah dibabak penyisihan tingkat nasional. Karena itu club membutuhkan anggota yang bertalent dalam music.

Tapi itu sebelum kedatangan Seiji. Kedatangan Seiji sangat diharapkan mengubah semua. Ya walaupun dia hanya sering memenangkan tingkat regional. Tapi kelihaiannya dalam bernyanyi dan bermain piano telah terdengar di telinga para peserta tingkat nasional. Ya bukannya Seiji tidak mau masuk tingkat nasional. Tapi dia sudah bernadzar kalau dia tidak bisa menemukan Yuki dia tidak mau dimasukkan dalam peserta tingkat nasional.

"Seiji kau akan membawa Haruno Yuki kemari." Perintah Makoto tiba tiba disaat Seiji sedang berlatih.

"huaaa. Bagaimana ca..caranya senpai?. Kau kan tau Yuki-senpai benar benar tidak ingin bermain music lagi. Kalau dia marah karena dipaksa aku bisa dibunuhnya" Seiji memasang wajah melas semelas kucing yang lagi kecepit pintu rumah sakit yang bkin dia meringis.

"caranya kau fikir sendiri. Dan kalau kau dibunuh. Aku berjanji akan mendoakanmu agar kau masuk dalam surga". Kata Makoto dengan wajah datar sedater tembok rumah author.

"hee?!. Senpai!"

"ingat kita membutuhkan dana. Dan kau akan kumasukkan dalam peserta tingkat nasional. Bila kau ingin bermain bersama Yuki. Lakukan perintahku"

Seiji memandang piano grand didepannya. "ya akan kulakukan"