| Littmann & Klein |

Author: 14

Rate: M

Category: angst

Disclaimer: Any and all characters, events, and situations found in these stories are fictional. If there are any similarities between these things and real people, events, and situations, it is purely a coincidence.

Warning: boy x boy, sexual activities

Chapter 1: When Littmann meets Klein


Giorgio berdiri menyandarkan tubuhnya pada tembok sambil sesekali menggerakkan tubuhnya yang indah mengikuti alunan musik. Ia berdiri di salah satu sudut club yang paling sedikit dipenuhi oleh orang. (Tentu kebanyakan orang lebih memilih berada di tengah, berbaur dengan sesama orang yang telah 'melayang'.)

Hari ini club bernama Embassy telah dibanjiri oleh banyak orang, jauh lebih banyak daripada biasanya. Mereka datang satu persatu memenuhi ruangan, membuat suhu di dalam ruangan itu lebih panas daripada sebelumnya.

Tidak mengenal ras, gender dan segala tetek bengek itu, mereka berbaur menikmati kerasnya musik yang memekakkan telinga. Menikmati 'badai serotonin' yang bekerja bagaikan detergen otak; menghapus semua masalah yang menyesakkan, walau sebenarnya hanya bekerja temporer.

Giorgio, yang akrab disapa Gio, merupakan salah satu dari sekian banyak orang itu.

Bermandikan germilap lampu. Mengalunkan tubuh seirama dengan musik yang semakin mencapai klimaksnya saat mendekati tengah malam. Sesekali 'berpesta kimia' dengan mengkombinasikan campuran alkohol berbeda label dan tak lupa menikmati 'badai serotonin' yang membawanya seakan terbang meninggalkan semua penatnya.

Ini merupakan bagian dari rutinitas keseharian Gio. Bagian dari hidupnya.

Di tengah gemerlap lampu club, Gio sadar ada beberapa pasang mata sedari tadi mengamatinya. Lebih tepatnya, mengamati tubuhnya seakan mereka ingin menelannya bulat-bulat. Tak usah heran, terlahir sebagai blasteran Italia-Spanyol memang membuat sosoknya mudah tertangkap oleh mata. Seperti magnet memikat logam.

Sekedar tambahan informasi, Gio merupakan 'magnet super' yang tak pandang bulu. Memikat laki-laki maupun perempuan. Namun entah kenapa dalam kasusnya kebanyakan justru laki-laki yang terpikat. Kali ini juga, beberapa pasang mata yang tersangkut pada feromonnya itu berasal dari kumpulan laki-laki yang berdiri tak jauh darinya.

Gio melirik ke arah mereka, disambut dengan siulan-siulan. Ia hanya tertawa kecil, sudah terlalu biasa dengan perhatian yang tidak diharapkan seperti ini. Dan ia terlalu malas untuk menggubrisnya.

Seandainya ia bosan, mungkin ia akan mampir untuk menawarkan 'servis' pada kumpulan laki-laki itu. Tapi sayang, hari ini bukan hari keberuntungan mereka. Hari ini Gio tidak sedang bosan.

Ia hanya melempar senyum menggoda pada mereka dan melenggos pergi.

Gio melangkahkan kakinya ke arah meja bartender dengan gelas kosong di tangannya. Tubuhnya oleng pertanda ia sudah terlalu banyak mengkonsumsi minuman beralkohol. Dengan senyum simpul di wajah, ia memanggil bartender di hadapannya.

"Boss," panggilnya. Kemudian ia duduk di salah satu kursi kosong di depan mini bar dan meletakkan gelasnya ke atas meja. "Gue minta tambah. Yang biasa ya boss. Lo udah hafal kan kesukaan gue?"

Bartender yang dikenal dengan panggilan 'boss' itu mengambil gelas Gio. Dengan segera, ia kembali mengisinya dengan campuran gin dan air tonik dan menyerahkannya pada Gio. "Tumben sendirian aja, Gio? Mana yang biasanya 'ngekorin'?"

Gio tidak menjawab dan hanya terkekeh. Ia kembali meneguk Gin tonic di tangannya. Dalam sekejap gelas itu kembali kosong. Ia menarik nafas dan menghembuskannya, lalu melirik ke arah bartender itu dan nyengir tanpa dosa, "Boss, tambah lagi."

"Oi, oi, lu udah kebanyakan minum hari ini. Muka lo udah teler banget tuh." ujar si bartender seakan menasihati, walau ia tetap menerima gelas kosong itu dari tangan Gio.

Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali sembari mengamati wajah Gio.

"Nggak beres emang otak lo, mabok-mabokan mulu. Ntar yang ada lo tepar lagi disini. Awas lo ya, gue udah nggak mau ngurus lagi." sambungnya setengah mengancam.

Gio tertawa renyah.

"Va' al diavolo! Go to hell, man! Lagak lo udah kayak jadi ibu gue aja? Lagian kapan lo ngurus gue? Seinget gue lo cuma nyiram gue pake air supaya gue bangun." sindirnya.

Mereka sama-sama tertawa. Boss kembali memberikan segelas Gin tonic pada Gio.

"Ini yang terakhir ya." ujar bartender itu setengah serius. "Ntar lo bisa muntah kalau lebih banyak dari ini." katanya lagi, tak bosan-bosan menasihati Gio.

Gio tidak menggubris dan buru-buru meneguk alkohol itu langsung. Setelah habis tanpa sisa, ia hanya memandangi gelas kosong tersebut. Ia menarik nafas panjang berulang kali sambil memejamkan matanya. Dan untuk beberapa saat, ia membatu.

Bartender itu takut-takut memanggil laki-laki bermata hijau di depannya, "Gio? Woi, bro, lo nggak apa-apa?"

"Kayaknya… gue mau muntah."

"Nah kan! Baru juga gue bilang!" seru boss jengkel. "Udah lu buruan sana ke kamar mandi! Jangan muntah depan tempat gue! Udah sana, sana! Hush, hush."

Setelah diusir oleh sang bartender, Gio turun dari kursinya dan berjalan terhuyung-huyung mencari toilet terdekat. Boss hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari membersihkan gelas Gio yang sudah kosong.

Belum lama berselang setelah Gio pergi, bartender itu menangkap sosok laki-laki dengan tubuh semapai yang dibungkus oleh setelan jas lengkap dengan dasinya. Ia langsung mengenali laki-laki itu, pelanggan setianya, sama seperti Gio yang datang ke club ini hampir setiap hari.

"Hei, Ben! Baru keliatan? Baru dateng?" tanya boss menyapa dari kejauhan.

Reuben langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah mini bar. Ia berdiri tepat di hadapan bartender itu dan menghembuskan asap rokoknya ke arah boss, membuat bartender itu terbatuk-batuk dan mengutuknya dalam hati.

"Mana Gio?" tanya Reuben tanpa basa-basi.

"Tadi dia baru aja pergi. Mungkin sekarang masih di kamar mandi." jawab si boss, masih sesekali batuk-batuk seakan menuntut permintaan maaf karena sudah disembur asap rokok. "Tadi dia kebanyakan minum terus mau muntah." jelasnya.

Tanpa terima kasih dan malah mematikan putung rokok di atas meja mini bar itu, Ben pun melenggos pergi ke kamar mandi terdekat menyusul Gio. Kalau saja Reuben tidak meninggalkan selembar uang seratus ribu, boss mungkin akan melemparkan es batu ke kepalanya. Kalau saja.


"Oh come on, Vin! Masa udah sampe sini lo nggak mau temenin gue sih?"

Arya menarik-narik lengan baju Alvin sementara yang bersangkutan melipat tangan sambil mendecak kesal. Melihat plang bertuliskan Embassy sudah cukup membuatnya sadar kalau Arya tidak berniat mengajaknya 'belajar bersama' seperti ajakannya di telepon. Bodohnya ia baru sadar ketika sudah berada tepat di depan pintu masuk.

"Gue kira lo mau ngajak gue belajar di restoran. Atau mentok-mentok ngajak gue ngapain gitu? Dan dari semua tempat yang ada di Jakarta, lo pilih tempat ini?" tanya Alvin tak habis pikir. Tak lupa ia menekankan kata ini pada akhir kalimatnya untuk membuat seakan club ini merupakan tempat terlaknat yang ada di muka bumi.

"Bro, come on, lo udah 21 tahun. Masa lo ngaku anak Jakarta tapi belom pernah ke club? Kalah lo sama bocah SMP jaman sekarang!" seru Arya makin gencar memanas-manasi. "Bentar aja, anggep kita ngerayain tahun baru super extreme. Ya? Ya? Please?"

Alvin hanya menekuk wajahnya tanpa menjawab. Malas rasanya membuka mulut kalau sudah begini. Ia tahu sahabatnya tidak akan menyerah sampai titik darah penghabisan dan pada akhirnya toh ia yang akan mengalah dan menurutinya. Memang sial bersahabat dengan manusia seperti Arya ini.

Alvin melirik ke arah sahabatnya yang masih memasang wajah memelas dan mencubit hidungnya keras-keras.

"Lo itu ya bener-bener deh. Udah tahu lusa kita ujian lisan sama dokter Ayu tapi lo malah ngajakin gue clubbing malem ini?" tanya Alvin masih tak habis pikir. "Yang lain pasti belajar gila-gilaan malem ini... dan kita? Kita malah ke tempat ginian."

Arya nyengir kuda. Ia sudah mencium bau kemenangan.

"Bro, kita butuh hiburan. Capek nggak sih lo tiap hari jaga malem di rumah sakit? Sedikit-sedikit harus diskusi, buat laporan terus ujian lisan." bujuk Arya setengah curcol. "Kapan lagi kita bisa gini? Coba gue tanya, kapan lagi? Habis libur tahun baru kita super sibuk, nggak ada libur lagi. Cuma malem ini doang nih kita bisa gini."

Alvin tidak menjawab, protes dalam kebisuannya. Sahabatnya yang masih nyengir pun memeluknya dengan sebelah tangan. Kembali berusaha membujuknya untuk masuk.

"Ayolah, bentar aja kita disini. Habis itu kita pulang, oke?"

"Setengah jam aja. Awas lo kalau lebih."

"Sip deh, Vin! You're the best, man!"

Arya nyengir lebar dan dibalas dengan helaan nafas berat dari Alvin.


Orang boleh punya beribu alasan untuk terus kembali ke tempat laknat ini, tapi Alvin hanya butuh satu alasan untuk tak mau lagi datang: buang-buang waktu. Meski akhirnya ia pasrah dan menuruti kemauan sahabatnya untuk masuk ke dalam, tidak sedetik pun ia menikmatinya. Setiap detik yang berlalu mayoritas ia habiskan dengan mengutuk sahabatnya.

Sungguh, ia heran, apa yang membuat begitu banyak orang berkumpul disini? Berisiknya saja ampun-ampunan. Alvin berani bertaruh, 10 tahun lagi ia akan menemui wajah-wajah ini mondar-mandir ke dokter spesialis THT.

"Vin! Come on bro! Have fun!" seru Arya, yang entah sejak kapan membaur dengan wajah-wajah yang divonis Alvin mengalami ketulian dini di tengah ruangan.

Alvin hanya menggeleng dan mengungsi ke sudut-sudut club yang kurang dipadati.

Kakinya berhenti secara spontan setelah menangkap pemandangan tidak senonoh di depannya. Sepasang kekasih yang saling bercumbu di sudut ruangan, tanpa malu-malu nyaris menanggalkan busana. Alvin membelakakkan mata, tak percaya. Shock hingga terdiam di tempat.

Setelah 'loading'-nya selesai, ia buru-buru membalikkan tubuhnya. Mual.

'I think I'm gonna be sick after seeing that.'

Dan ia pun segera bergegas menuju kamar mandi terdekat.


Gio kembali memuntahkan isi perutnya. Sepertinya perutnya protes keras dan berniat menghukum Gio karena takaran alkohol yang dikonsumsinya melebihi batas normal. Ia tidak diberi ampun, bahkan tidak diberikan kesempatan untuk mengatur nafas. Ia kembali muntah tanpa jeda hingga tak ada lagi yang bisa dimuntahkan.

Lemas. Kakinya bahkan tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya.

Gio menjatuhkan tubuhnya, bertumpu pada kedua dengkulnya dan tangan yang masih memegang wastafel. Ia berusaha mengatur nafasnya, juga berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya yang mulai berceceran.

Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Mata hijau Gio secara spontan melirik ke arah suara itu berasal. Seorang laki-laki dengan balutan jas berdiri di ujung pintu. Gio tersenyum kecut. Ah, datanglah tamu tak diundang.

"Reuben," sapanya pelan. "Kok ada disini? Gue kira lo hari ini ada meeting?"

Gio berusaha membuatnya terdengar sopan, walaupun dalam hati ia sungguh tidak ingin bertemu dengan Reuben sekarang. Kalau bisa, ia ingin mengusirnya jauh-jauh.

Reuben berjalan mendekat dan membantu Gio berdiri. Tanpa banyak berkata ia mengelap sisa muntahan di sudut bibir Gio. Tidak sedikit pun ia terlihat jijik. Ia mengusap bibir ranum itu dengan ibu jarinya dan memandang pria blasteran itu tajam.

"Kenapa? Lo kelihatan nggak seneng gue dateng?" tanya Reuben balik, nadanya dingin. Sama seperti sinar matanya. "Gue dateng buat nemuin lo. Gue butuh lo."

Gio menghela nafas.

'Reuben, sayang, mungkin lo butuh kacamata. Nggak lihat gue abis muntah gini? Gue aja mau bangun susah terus sekarang masih disuruh 'ngelayanin' lo? Gila ya?' batin Gio.

Kalau saja Gio punya pilihan, mungkin ia lebih memilih membenturkan kepala Reuben pada wastafel hingga tak sadarkan diri dan meninggalkannya pergi atau mungkin menendang Reuben tepat pada kejantanannya hingga ia meringis kesakitan.

Kalau saja ia punya pilihan….

"Sampe kapan lo mau diem doang? Gue nggak punya banyak waktu." desak Reuben.

Gio menurut tanpa protes. Ia berlutut di depan Reuben, membuka ikat pinggang yang melingkari celana Reuben lalu menggigit resleting celana Ben dan menariknya turun. Gio mulai membelai kejantanan Reuben yang masih dibalut dengan celana dalam berwarna hitam dengan gerakan tangan yang menggoda. Ia sudah hafal titik sensitif tubuh Reuben.

Reuben tak sabar, ia menurunkan celana dalamnya. Menuntut untuk 'diservis' lebih.

Sebenarnya Gio sungguh muak, tapi ia tidak punya kuasa untuk menolak.

Sebelah tangan Gio mulai bergerak ke atas-bawah dengan tempo pelan sementara lidahnya mulai menjamah pangkal penis Reuben. Lidahnya memutar saat turun dan berhenti di skrotum Ben. Memanja bagian itu untuk beberapa saat dan kembali menjilati penis Reuben.

Reuben kembali tidak sabaran. Ia langsung memposisikan kejantanannya pada rongga mulut Gio dan memaksanya masuk hingga Gio nyaris tersedak. Setelah menyesuaikan diri dengan keberadaan penis Reuben yang 'bongsor', kepala Gio bergerak maju-mundur dengan tempo yang konstan bertambah cepat.

Sesekali Gio menggunakan lidahnya dengan lihai, memanja ujung penis Reuben. Wet sound mulai terdengar, bercampur dengan lenguhan penuh kepuasan dari Ben.

Baru sebentar Gio memberikan 'servis', kejantanan Reuben sudah menegang keras.

Reuben mengelus wajah Gio dengan punggung tangannya. Nafasnya mulai memburu.

"Gio, amore mio, I want more."


"Tai emang Arya," gerutu Alvin tanpa henti sambil melangkahkan kakinya. "Gila emang dia, setengah sakit jiwa. Ngajak gue ke tempat ginian, yang bener aja! Kayak nggak ada tempat lain aja."

Ia masih menggerutu tanpa henti sambil berjalan menuju ke arah kamar mandi.

Tidak, ia tidak benar-benar akan muntah. Ia hanya ingin mencuci muka setelah melihat pemandangan tak senonoh tadi. Alvin masih merinding bila mengingatnya.

"Apes banget gue ngeliat gituan. Emang sekarang orang udah nggak ada moralnya. Nggak malu apa gitu di tempat umum? Hello? Get a room!" gerutunya lagi.

Besar dalam keluarga dimana menonton kissing scene merupakan hal tabu hingga duduk di bangku SMA membuat main set otak Alvin kolot, persis seperti orang tuanya. Dalam kamusnya, pacaran itu urutan ke-entah-berapa ratus. Dan hal tidak senonoh seperti tadi? Mungkin urutan terakhir.

Ketika sampai di depan pintu dan hendak membukanya, ia mendengar suara dua orang laki-laki yang sedang berselisih paham. Secara refleks Alvin mengurungkan niatnya untuk masuk dan memilih untuk menalisa keadaan terlebih dulu.

"Gue bukannya nggak mau, lo dengerin gue kek."

"Tai lo, gue nggak butuh alesan lo! Klise tahu nggak?!"

Senyap, lebur oleh suara musik yang semakin menggila. Alvin berusaha menajamkan pendengarannya. Baru saja ia ingin menempelkan telinganya pada pintu, namun belum-belum pintu kamar mandi itu sudah dibuka.

Seorang laki-laki dengan balutan jas muncul, mengintimidasi dengan matanya yang tajam. Tanpa perlu disuruh, Alvin minggir dan memberi jalan. Sudah begitu pun laki-laki tadi masih dengan sengaja menabrakan bahunya pada Alvin.

Alvin menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Sial banget sih dia? Pertama pemandangan tak senonoh, lalu sekarang jadi pelampiasan laki-laki berjas padahal ia tidak salah apa-apa. Rasanya ia benar-benar ingin segera angkat kaki dari tempat ini.

Sudahlah, setelah mencuci muka ia akan memburu Arya dan menyeretnya pergi.

Saat melangkahkan kakinya masuk Alvin justru mendapatkan kejutan baru. Seorang laki-laki yang tergeletak di lantai!

Spontan ia pun menahan nafas. Haruskah ia kabur seakan tak melihat apa pun? Kalau laki-laki itu sudah tidak bernyawa dan ia terlanjur menyentuhnya, masalahnya bisa panjang. Urusannya nanti dengan polisi. Dan pastinya akan berujung pada orang tuanya.

Uh-oh, Not good.

Alvin sudah nyaris membalikkan tubuh dan mengambil langkah seribu. Namun ia mengurungkan niatnya saat ia mendengar suara yang berasal dari laki-laki itu. Alvin kembali menoleh ke arahnya. Ia melihat laki-laki itu menggeliat, berusaha bergerak.

Jesus, he's still alive!

Kali ini tanpa pikir panjang buru-buru Alvin menghampirinya. Dengan naluri sebagai mahasiswa kedokteran yang sudah sering jaga di klinik, pertolongan pertama segera dilakukan oleh Alvin. Setelah mengobservasi sebentar dan memberi nilai GCS, Alvin berusaha menggucangkan tubuh laki-laki itu.

"Mas, mas! Mas bisa dengar suara saya?"

Belum ada jawaban, hanya terdengar suara-suara tak bermakna.

"Mas! Bisa dengar suara saya?!" panggil Alvin, kali ini suaranya lebih keras.

"Nngh… A-aw."

Akhirnya ada respon. Laki-laki itu menggerakkan tangannya dan mulai mengerjapkan matanya. Alvin menghela nafas lega, setidaknya tidak ada tanda-tanda kalau laki-laki ini akan menghembuskan nafas terakhirnya.

Alvin dengan teliti mengamati respon tubuh laki-laki itu, mengamati setiap gerakan yang diciptakannya. Tangannya mengarah ke arah bagian kepala sebelah kiri. Buru-buru Alvin menusurinya, memegang bagian kepala laki-laki itu.

Darah. …Darah? …God, darah!

Alvin terpaku sesaat. Dalam waktu sesaat itu, ia kembali mengingat kenapa ia bisa sampai berada di tempat ini? Kenapa ia bisa sampai terjebak pada situasi ini? Ah, ya, Arya. His fucking buddy. He's so dead after this.

Kembali teringat ucapannya tadi kalau ia tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki ke tempat terkutuk ini. Dan sekarang, ia sungguh-sungguh akan hal itu. No more… clubbing… ever… again.


-To be continue-