.

Noted by NatashAurel
Rated: T
Genre: Romance
[Romance—Poetry!Story]

.


.

Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari cerita ini.
Karakter pada cerita ini saya ambil dari Real Life, atau lebih tepatnya teman sekolah saya.
Cerita ini hanya fiksi. Rizal(dipanggil pakdhe di kelas) sama Nissa jangan keburu marah dulu :3
Hanya plotnya saja yang terinspirasi dari dunia nyata.
Tidak ada yang dirugikan dalam cerita ini—
(—tapi mungkin saya sendiri yang menerima akibatnya :'3 )

.

[Rizal x Annisa]
Bold: Rizal
Italic: Annisa

.


.

Aneh

Terasa aneh

.

Awalnya sekedar gunjingan

Namun sekarang merebak

Menjadi suatu yang aneh di dalamku

.

"Rizal, Annisa, forever!" ucap mereka. Aku mendengus kesal, kemudian aku berteriak menyangkal pada segelintir orang kurang kerjaan itu.

"Heh! Apaan sih?!"

"Ciee"

Saat berteriak, aku tak bisa menghindari sesimpul senyum lebar yang mendadak tampak di wajahku.

Aku tak tahu kenapa aku merasa seperti ini.

Perasaan tertekan karena terus menyangkal.

.

Tanpa kusadari,

di hari itu,

jam itu,

saat itu,

mulutku telah tak sinkron lagi dengan hatiku

.


.

Memang bodoh

Semua bibir yang berkata seperti itu

Dimilikki oleh orang-orang bodoh

.

Aku tak sanggup tertawa lagi

Ketika celoteh mereka tentangku—

dan salah satu temanku

.

Annisa

.

Masuk ke dalam telingaku

.

"Ciee, pakdhe sama Annisa!"

"Kamu tuh ngomong apa.." balasku ketus kepada temanku yang aneh itu.

"Dhea pengennya pakdhe sama Annisa terus! Selamanya!"

Anak itu. Dengan kesudian hati yang sangat besar aku mengakuinya sebagai teman sekelasku.

"Ck.."

"Ciee~"

Setiap hari di ketujuh hari yang ada pada keempat minggu dalam dua belas bulan di satu tahun. Hal apa yang mereka inginkan sesungguhnya dariku? Apa untungnya mencomblangkanku dengan temanku-Annisa?

Bahkan, aku tak tahu menahu sejak kapan kelas ini berpandangan seperti itu.

.

Tak ada teori pasti

Tidak ada yang memberiku tahu

Tentang segala permainan mereka

.

Bagai menjadi buah bibir—

yang bahkan tak diketahui darimana asalnya

.

Akan tetapi

Semuanya berubah

.

"—absen 8, absen 23, ada di kelompok 3"

Mendengar pembagian kelompok oleh guru, aku mengangguk mengerti, dan menghapal kelompok kerjaku, namun ada satu yang membuatku bingung.

Mengapa penduduk kelas justru memberiku pandangan aneh dan menatapku dengan senyum-senyum nistanya?

"Rizal sekelompok sama Annisa lagi cie~"

Oh rupanya.

Sekelompok dengannya—lagi?

Maka, itu aku catatkan kembali ke dalam memoriku, sudah keberapa kalinya ia satu kelompok denganku.

.

Semulanya fantasi

Menjadi atraksi nyata

.

Itu berjalan pelan dan perlahan.

Bukannya aku tak menyadari, mendadak ada 'beberapa' hal yang membuatku—entah mengapa—sulit untuk memungkiri bahwa aku tertarik kepadanya.

"—Rizal kerjain itu, aku tak ngerjain yang ini aja"

Mendengar suaranya aku mengangguk pelan—tak berani bersuara, serta tak menengok.

Ada yang aneh dengan tubuhku.

Aku, sedikit malu.

Aku tak akan memungkirinya, aku tertarik.


.

Aku tak mengerti

Kebetulan apa?

Apa yang membuatku kebetulan bersamanya

Tuhan yang takdirkan kah?

.

"Eh Nis, dah berapa kali coba kamu barengan sama Rizal terus?"

"Dah tho.. ngapain diomongin sih?"

"Ga usah marah juga keleus"

"Ya kamu sih, dari kemaren nanyain itu mulu, kebetulan doang paling.."

"Yee, kamunya.. Kebetulan, apa kebetulan nis~?"

"Woe!"

.

Ya

Suatu kebetulanku—

yang Tuhan tali merahkan dengannya

.

Aku menyadarinya

Aku tahu

Aku tertarik

.

Rasanya aku tak pandai berbohong

Untuk menyangkal hal itu

Karena semuanya telah tahu

.


.

Terkadang aku berpikir

Mungkin, apakah harus?

Belum

.

Jawabannya belum..

.

Karena hal ini sendiri masih rancau

Aku masih ragu

Aku tak yakin dengan apa yang ia rasakan

Bisa saja ia tidak sama denganku

Aku ingin

Tapi mungkin ia tidak

.

.

.

.

Namun sekarang,

Aku yakin,

Perasaanmu sama—

denganku

.

Tetapi ini terlalu awal

Untukku dan (mungkin) untukmu

Aku perlu memastikannya

.

Dan juga, kita di sini

Masih terlalu bocah

.

Kita masih ada di jenjang

Ke satu menengah pertama

.

Jadi..

.

Ini sudah penghujung semester kedua.

Dimana beberapa minggu lagi aku sudah menginjak kelas delapan.

Aku ragu, tapi aku ingin memastikan pula.

Jadi, akan kutunggu.

Dalam kerja kelompok yang kesekian kalinya.

Aku bersama dengannya lagi.

Aku malu-malu menutupi mulutku dengan sebelah tangan.

Berusaha semampuku agar ucapanku tak terdengar Annisa yang ada di samping.

"Niss, kamu nunggu lima tahun lagi mau nggak?"

Aku bersumpah demi kesudianku mengaku Dhea sebagai temanku, bahwa.. Annisa dengan jelas mendengarnya.

Dengan jarak tidak lebih dari satu meter. Ia nya yang duduk tepat di sampingku, percuma menutup mulutku dengan sebelah tangan. Pasti terdengar.

Beruntungnya, hanya dia yang mendengarnya.

Ia menengok dengan heran dan hanya melontarkan, "Haa?"

Ah, sudahlah. Aku tak akan patah hati jika kau tak mendengar ucapanku barusan. Karena kepastian itu adalah kepastian yang aku tunggu secara pribadi.

Perkataanku, ekspresimu, dan hari ini, sudah ternoted di dalam otakku—sampai lima tahun ke depan. Lima tahun ke depan dalam memastikan kebenaran dari perasaan aneh ini.

Tapi sungguh, apakah dia benar-benar tak mengerti?

Aku hanya tertawa pelan, dan sangat kecil sambil bergumam, "dasar lolhok." Lalu dibalasnya dengan muka marah—cantik—yang aku sukai.

.

.

.

.

.


[Berat Bersih: 681 words]

A-ah, maafkan untuk Rizal dan Nissa yang kemungkinan baca puisi/cerita gaje ini ._.
Aku demi apapun cuma kepengen pinjem karakter kalian aja QwQ don't be mad to me!
Karena saking tenarnya para mak comblang kelas kita njodohin kalian :'3 kan aku termasuk shipper kalian juga XD

Oke, untuk para readers sekalian, saya perorangan mengaku bahwa fic ini gaje, karena gak jelas antara mau poetry atau story /stahp/ lupakan..

Bikin fic ini greget banget, karena sekitar 40% isinya NYATA terjadi di kelas saya ._. sisanya cuma imajinasi saya saja ._.v

Mungkin ada juga diantara anda-anda yang kebingungan dengan tanda pembatas yang ada di atas? :/ Ah, tolong maafkan saya..

Jujur, ini ori-fic pertama saya, saya biasanya Cuma bikin FFn, so, agak ga bisa sinkron dengan FictionPress ini, tapi semoga para readers suka aja deh ;)

RnR!