Bab 1

"Ayah aku berangkat!"seruku menjejalkan roti kedalam mulutku dan berlari keluar rumah menuju sekolah

Aku terus berlari menuju sekolah sambil mengunyah roti yang kumasukkan dan berharap semoga pintu pagar sekolah belum ditutup.

Sesampainya di sekolah ternyata pintu pagar sudah tertutup rapat dan aku tidak melihat batang hidung satpam dimanapun. Aku mendongak menatap jam yang terpasang disisi gedung yang menghadapku,tinggal 5 menit lagi sebelum pelajaran dimulai.

Akhirnya setelah memastikan tidak ada orang yang melihatkuku,aku menyusupkan tasku melewati sela-sela pagar lalu mulai memanjat pagar itu dengan perlahan hingga turun dengan hati-hati

Aku meraih tasku dan berjalan cepat memutari bagian tata usaha dan ruang guru menuju ruang kelasku. Saat mencapai kelasku sebuah suara keras tiba-tiba mengejutkanku.

"Anggi,lo terlambat ya?kenapa gak lewatin..."kata Agatha terputus karena aku menbekap mulutnya

"Jangan berisik,"kataku pelan lalu melepasnya. "Gue lagi males ketemu sama guru TU."

"Sori gi,"katanya. "Ngomong-ngomong tumben lu telat?"

"Alarm gue mati,gak tahu kenapa,"kataku.

Kami memasuki kelas kami yang sangat ribut lalu duduk ditempat kami berdua.

"Anggi!"seru Ian sambil berjalan mendekatiku. "Gue pinjem pr lu dong,gue belum selesai nih yang susah-susah."

"Ogah,lu 'kan udah pinjem 2 hari yang lalu."

"Yah...tinggal yang susah-susah doang kok,please..."

Aku terdiam sebentar lalu menyodorkan buku prku padanya, "Minggu ini aja gue kasih."

"Thanks Gi,"katanya menerima bukuku lalu pergi ke mejanya.

"Eh Gi,ini jawabannya apa?"tanya Agatha

"Nomor berapa?"

"Yang terakhir."

Aku membuka buku cetak lalu menyodorkannya pada Agatha, "Jawabannya dikalimat awal."

Agatha membaca kalimat yang kutunjukkan lalu mengangguk-angguk dan mulai menulis jawaban itu dibukunya.

Aku mengalihkan pandanganku dari Agatha menuju seseorang yang sedang duduk dipojokkan. Orang itu tampak menyiulkan sebuah lagu yang dari gerak mulutnya bertempo cepat.

Sepertinya aku menatapnya cukup lama karena dia menengok kearahku bertepatan denganku yang sudah berbalik untuk membaca buku cetak. Setelah dia kembali menatap kedepan,diam-diam aku menghela napas lega.

"Anggi..."kata seseorang merangkul bahuku dari belakang. "Bantu gue dong,lagi menderita level 5 nih..."

"Kenapa?belum ngerjain pr?"

Dia menggelengkan kepalanya

"Dimarahin Bu Siska,lantaran belum ngumpulin tugas sejarah?"

"Bukan,"katanya menggelengkan kepala

"Lu dapet nilai jelek?"

"Bukan!"katanya memelototiku. "Lu ngehina gue ya?"

Aku tertawa mendengarnya,"Sori,gue 'kan gak tahu,emang lu ada masalah apa?"

"Donny marah sama gue Gi,"katanya dengan tampang memelas

"Terus?"

"Dia nyuekin gue Gi,'kan jadinya dikelas gue cuman bisa diem,"katanya lalu menggoyangku kedepan-belakang. "Ayo dong Gi, bantuin gue..."

"Emang lu apain dia sampe jadi diem gitu?"

"Gue cuman bilang kalau gaya rambutnya kuno,kok,"katanya polos

Aku terdiam sambil melengos.

"Apa?"katanya. "Gue emangnya salah ya?"

Aku menghela napas,"Salahlah,lu udah pacaran sama Donny hampir setahun 'kan?masa lu belum ngerti juga sifat Donny?"

"Terus gimana nih?"katanya panik karena sudah paham apa kesalahannya

"Lu minta maaf lah,kalau gak dimaafin yah...itu urusan lu."

"Bener juga,makasih Gi."

Rina segera berlari keluar dari kelas lalu pergi mencari pacarnya itu. Aku memasukkan buku-bukuku kedalam tas lalu berjalan ke kantin sendirian karena Agatha sudah pergi duluan dengan Christy.

Sesampainya dikantin aku membeli seporsi mi ayam lalu duduk ditempat yang kosong. Tiba-tiba Ian menghampiriku dengan membawa piring berisi makanannya.

"Gue boleh duduk disini?"

"Boleh."

Dia duduk disebelah kananku dan mulai makan sepertiku. Entah mengapa aku merasa bahwa dia ada maunya duduk disampingku.

"Gi,gue ada permintaan nih."

Sesuai dugaanku, "Apa?"

"Gue boleh pinjem laptop lu buat ngetik tugas sejarah?"

Aku mengerutkan dahi,heran,"Kenapa gak pake komputer lu aja?"

"Monitornya rusak,belum gue betulin,"katanya sambil nyengir kearahku,dasar,monitornya kan emang udah rusak dari kapan tahu.

"Lu mau pinjem kapan?"

"Kalau bisa nanti sore aja,"katanya. "Lu udah ngerjain 'kan?"

Aku mengangguk.

"Kalau gitu,nanti sore gue mampir ke rumah lu,ya."

"Oke."

Kami melanjutkan makan dalam diam lalu aku bangkit berdiri dan menepuk bahunya,"Gue duluan ya."

Dia mengangguk.

"Anggi...!"seru seseorang

"Apa?"seruku balik

Rina berjalan menghampiriku,wajahnya tampak berbinar senang, "Gue udah baikan sama Donny."

"Dia bilang apa ke lu?"

"Dia cuman bilang kalau dia bisa maklumin sifat gue yang ceplas-ceplos."

"Oh,bagus deh. Terus mana dia,kok lu gak barengan?"

"Dia lagi sama temennya."katanya lalu melanjutkan. "Sori gi,gue duluan ya,belum ngerjain pr nih."

"Ya."

Rina berjalan mendahuluiku dan aku berjalan masuk kedalam kelas lalu duduk ditempatku disebelah jendela. Sambil menunggu Agatha datang,aku mengeluarkan buku sketsaku dari tas lalu mulai menggambar sesuatu yang terlintas dibenakku.

Aku membuat sketsa padang rumput dengan pohon besar disalah satu sisi lalu menebalkannya dan memberi efek bayangan. Setelah itu aku menggambar seorang anak perempuan dan anak laki-laki yang berlarian disana sambil tertawa.

"Gambar lu bagus,belajar darimana?"kata seseorang tiba-tiba.

"Gue belajar sendiri."

"Gambar lu kelihatan nyata,bagus banget,"pujinya

"Makasih,"kataku sambil mendongak kearahnya,anak cewek yang belum pernah kulihat dikelas. "Ngomong-ngomong lu anak baru ya?"

"Iya,"katanya mengangguk lalu mengulurkan tangannya. "Gue Tari,salam kenal."

Aku menerima uluran tangannya, "Gue Anggi,salam kenal juga."

"Lu duduk dimana?"tanyaku lagi

"Kata Bu Hani gue duduk didepan Santi,"katanya sambil melangkah ke bangku dekat pintu kelas. "Disini 'kan?"

Aku mengangguk.

"Sebelah gue siapa?"

"Anak cewek,namanya Vita."

"Em...kok kelas ini sepi banget?"

Aku menengok kearah jam yang sudah menunjukkan pukul 06.55 dan kelas yang hanya terisi beberapa orang saja.

"Iya juga,"kataku berpikir lalu teringat. "Gue rasa ini gara-gara jam pelajaran pertama itu Pak Tono,guru yang terkenal error."

"Oh,"dia mengangguk mengerti. "Ya udah,sori gue ganggu lu dari tadi."

"Ya,santai aja."

Pelajaran Pak Tono seperti biasanya berjalan kacau. Beberapa murid ada yang menggodanya,ada yang sembunyi-sembunyi main Hp/baca komik,ada yang tidur,ada yang ngobrol dan beberapa lagi memperhatikan Tari yang sedang mengobrol dengan Vita.

Sebenarnya terbersit niat untuk membantu Pak Tono menertibkan yang lain,tapi hari ini aku males. Kalau Agatha gak ngajak ngobrol mungkin aku sudah tidur dari awal pelajaran.

"Eh gi,kenalin gue ke Tari dong,"bisik Agatha

"Kenapa gak lu aja?"

"Gue gak pede sama dia."

Aku memperhatikan Agatha yang tampak imut dengan wajah agak bulat,berambut ikal dan bermata coklat hangat.

"Penampilan lu oke,kok."

"Tapi,penampilan gue masih kalah dibanding lu,gi."

"Ya elah tha,penampilan'kan gak ada hubungannya dengan pertemanan,lu lagi punya masalah ya?"

"Gak."

"Yakin?kok gue merasakan sesuatu?"kataku dengan nada usil

"Gak ada yang gue sembunyiin kok,gue cuman mau kenalan sama Tari."

Sebelum aku menanggapi,bel berdering dengan keras dan Agatha keluar kelas dengan cepat.

Aku berjalan keluar kelas dengan perasaan masih bingung dengan alasan Agatha yang tidak masuk akal.

"Eh gi,"kata seseorang menepuk bahuku. "Atha kenapa tuh?"

"Gak tahu,gue juga bingung."

Kami terdiam dalam pikiran masing-masing.

"Dia lagi jomblo'kan?"kata Rina tiba-tiba

Aku mengangguk.

"Enggak habis ditolak'kan?"

Aku mengangguk lagi.

"Gue tahu dia lagi kenapa,"kata Rina dengan tampang puas

Aku mengerutkan kening, "Apa?"

"Dia lagi 'itu'..."

"'Itu?apaan tuh?"tanyaku sama sekali tidak mengerti dengan kata-katanya.

"Akh!lu payah amat sih,sini."

Aku mendekat kearahnya sehingga dia bisa memberitahuku.

"Oh itu,gue ngerti sekarang,"kataku paham.

"Iya 'kan?"

"Hmm...tapi rin,meskipun begitu dia pasti lagi punya masalah'kan?"

"Iya juga,"kata Rina mengacak rambutnya. "Akh,gue gak tahu,gue gak terlalu akrab sama dia sih,kan elo yang deket sama dia."

"Iya,tapi dia gak pernah curhat sama gue tentang masalahnya,"kataku

Kami terdiam lagi memikirkan apa kira-kira masalah Agatha.

Tiba-tiba Rina tersentak dan menyentuh bahuku, "Eh gi,gue duluan ya,sori."

"Oke,"kataku sambil melambai padanya

Sambil berjalan dengan pelan,aku memikirkan sikap Agatha yang akhir-akhir ini memang aneh. Saat pelajaran kalau aku lagi serius ngerjain tugas dia sering melamun dan menghela napas berkali-kali.

"Lu kenapa tha?"kataku suatu hari

"Eh?"katanya tersadar. "Enggak apa-apa kok."

"Kalau gak apa-apa ngapain bengong?"

"Gue lagi mikir ini caranya gimana,"katanya sambil menunjuk tulisan soalnya.

"Oh,"kataku lalu menunjukkan jawabannya

"Lu kenapa gi?"

Tiba-tiba aku tersadar karena pertanyaan barusan tidak hanya berasal dari ingatanku.

Aku menengok dan melihat Ian yang balas menatapku balik dengan tatapan heran.

"Gue gak kenapa-napa kok."

"Trus ngapain lu bengong?"tanyanya penasaran.

"Bukan urusan lu,"jawabku datar.

"Gue 'kan nanya baik-baik."

Aku hanya diam mendengar ucapannya.

"Padahal gue tahu kenapa Agatha begitu,"katanya sambil lalu

"Tunggu,"aku menangkap pergelangan tangannya. "Emang kenapa Agatha jadi begitu?"

"Dia gak lolos masuk klub tennis yang ada dideket rumah Tari. Klubnya emang bagus makanya seleksinya agak susah,gue aja berhasil masuk dengan kemampuan yang dianggap paling payah."

"Cuman itu?"kataku

Dia mengangguk.

"Oke,makasih informasinya,"kataku tulus.

Aku berlari meninggalkan Ian menuju seluruh ruang yang mungkin dikunjungi Agatha. Aku berlari-lari seperti orang yang dikejar-kejar setan sehingga beberapa orang memandangku dengan pandangan aneh.

Akhirnya bel berbunyi dengan keras,aku berbalik menuju kelas dan menghempaskan diriku di kursi,kelelahan. Aku tidak memperhitungkan kemampuan Agatha yang pintar bersembunyi dan aku yang payah mencari.

Aku berjalan menuju sekolah sambil mengetik sms ke Agatha untuk yang ke-5 kalinya. Sebelum sampai didepan pagar sekolah,seseorang menepuk bahuku.

"Udah ketemu Agatha?"kata Ian

"Belum."

Tiba-tiba dia menjitak kepalaku dengan keras lalu melesat pergi.

"Hei!"seruku kaget

"Ayo kejar gue,"serunya balik sambil tertawa terbahak-bahak melihatku mengejarnya dengan susah payah.

Aku mengejarnya hingga taman belakang lalu menghadiahkan sebuah pukulan dipunggungnya. Ian langsung mengaduh sambil mengosok-gosok punggungnya.

"Rasain!"kataku sambil tertawa

Aku melangkah meninggalkan Ian menuju kelas lalu duduk ditempatku. Bangku Agatha masih kosong,padahal dia selalu datang lebih cepat dariku jika bukan pelajaran pak Tono. Aku menghela napas panjang lalu meletakkan kepalaku diatas meja.

Aku menengok kearah jam,masih 20 menit lagi sebelum pelajaran dimulai. Aku berdiri dan berjalan keluar kelas menuju balkon lalu menggelayut disana,menunggu Agatha datang.

Beberapa saat kemudian dari sudut mataku aku melihat seseorang yang juga menyenderkan tubuhnya disampingku,aku menengok dan melihat Agatha sedang memandang kebawah.

"Hai,"sapaku

"Hai gi."

"Lu kemana aja kemaren?"

"Gue ke perpus,ke kantin,ke taman buat bengong,balik ke perpus lagi,terus pulang."

"Kok gue gak ketemu lu?"

"Gue kan ahli menghilang,"jawabnya terkekeh

"Oh..."

Aku terdiam selama beberapa saat sehingga Agatha berhenti tertawa dan mulai menjentikkan jari-jarinya dengan gelisah.

"Gi,maafin gue ya karena..."katanya meringis lalu melanjutkan. "Kabur tanpa bilang apa masalahnya sama lu."

Aku menggeleng lalu mendesah, "Gue juga mau minta maaf karena gak nanya-nanya masalah lu."

"Yah...gue maklum kok,gue 'kan yang selalu ngomong,bukan lu."

Aku mendengus tertawa, "Lu emang bawel banget sih jadi orang,makanya gue jadi heran kenapa lu jarang ngomong akhir-akhir ini."

"Sialan,lu sendiri juga bawel 'kan?"

"Tapi gak separah lu,"tandasku sambil tersenyum jail

Agatha memasang tampang cemberut yang kemudian berubah jadi tawa.

"Anggi,oper ke gue,"seru Vita padaku

Aku mendribel bola selama beberapa saat lalu mengoper bola itu pada Vita. Vita kemudian mendribel bola itu lalu mengopernya pada orang lain.

Aku mengikuti orang itu mendribel bola mendekati ring lawan. Tiba-tiba salah satu pemain dari regu cowok menghalanginya. Dia segera melemparkannya pada Agatha yang kosong lalu Agatha mendribelnya menuju ring.

Seorang cowok kembali menghadang lalu dia merebut bola dan mendribelnya ke ring kami. Aku mengejar cowok itu yang kemudian mengopernya pada yang lain. Permainan ini berlangsung cukup lama hingga tim cowok akhirnya berhasil memasukkan bola kedalam ring dan Pak Radit menghentikan permainan.

"Oke,permainan sudah selesai,sekarang ganti baju kalian dan masuk kelas kembali."

"Baik pak,"kata kami semua

Dengan rusuh anak-anak cewek dan cowok berhamburan keluar dari gimnasium. Aku mengambil botol minumku yang berada disalah satu sudut lalu mengikuti Agatha yang sedang mengobrol dengan temannya.

"Bagaimana kabar orangtuamu,gi?"tanya Pak Radit yang sudah ada disampingku

"Baik pak,"jawabku agak kaget karena pertanyaan Pak Radit yang tiba-tiba.

"Kakakmu Andra masih diluar negeri untuk kuliahnya?"

"Iya pak,dia tinggal sama ibu saya yang juga kerja disana."

Pak Radit menganggukkan kepalanya, "Kamu sudah gak kumpul dengan teman-teman lamamu itu?"

Aku terpaku sejenak lalu mengangguk, "Sudah pak."

"Bagus,"dia menganggukkan kepalanya . "Sekarang ganti bajulah,5 menit lagi pelajaran selanjutnya dimulai."

"Baik pak,terima kasih."

Aku langsung berlari menuju ruang ganti yang sudah kosong dan mengganti baju olahragaku dengan seragam putih abu-abu. Selesai berganti baju,aku segera berlari menuju kelasku yang pintunya sudah tertutup.

Aku berdri didepan pintu lalu menengok kearah jendela kelas dan melihat Tari yang sedang menatapku balik. Dia segera mengisyaratkan tanda untuk mengetuk pintu dan mengerakkan mulutnya membentuk kata buruan.

Aku mengangguk tanda mengerti kemudian mengetuk pintu dan berjalan masuk sambil menutup pintunya kembali.

"Maaf bu,saya terlambat."

"Ya,silahkan duduk,"katanya tanpa memandangku

Aku menghela napas lega lalu duduk ditempatku. Aku melihat Bu Siska menulis dibuku kelas yang kurasa tentangku lalu berdiri dan memulai pelajaran.

"Lu kenapa lama banget?"tanya Agatha.

"Tadi gue terhambat sama Pak Radit."

"Emang Pak Radit nyuruh lu apa?"

"Bukan,dia nanya kabar keluarga gue dan temen kita dulu."

"Meta?"tanya Agatha,mukanya langsung berubah muram.

Aku mengangguk.

"Yah...kita gak perlu mikirin mereka untuk sementara ini 'kan?"

"Ya,tentu saja."

Kami diam dalam pikiran kami masing-masing sambil berusaha mendengarkan penjelasan Bu Siska tentang pelajaran kewarganegaraan yang sama mengerikan dengan sifatnya.*

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

.

.

A/N:

Hai... aku author baru disini,mohon bimbingannya senior. Kalau bisa RnR ya...makasih :)