Bab 2

Kring! kring! kring!

"Ng..." erangku sambil menutup telingaku dengan bantal, berusaha meredam suara nyaring itu supaya tidak terdengar..

Kring! kring! kring!

"Akh! baiklah."

Dengan langkah yang sedikit terhuyung aku bangkit dari tempat tidurku kemudian melangkah mendekati gagang telepon, mengangkatnya dan lalu menempelkannya kesalah satu telingaku.

"Halo?" ucapku terdengar parau.

"Halo, selamat malam," ucap seseorang itu dengan suara yang terdengar tidak asing. "Bisa bicara dengan putri dari Bapak Haryanto?"

Ini pasti ibu. batinku.

"Ya, ini aku, bu," kataku jengkel sambil menatap jam yang menunjukkan jam 11.30 malam. "Ada apa nelpon malem-malem?"

Ibuku terdengar sedang terkekeh pelan mendengar nada suaraku. "Besok siang kau jemput kakakmu di bandara ya."

"Eh? kenapa bukan ayah aja?"

"Ayah besok masih ada kerjaan, lagipula kau ada waktu senggang 'kan?"

Aku terdiam untuk berpikir selama beberapa saat lalu menjawab, "Baiklah, besok aku bakal jemput dia."

"Nah, gitu dong," kata ibu tampak senang. "Gimana kabarmu?"

"Baik-baik aja, ibu?"

"Baik," ucapnya, terdengar suara kresakan pelan yang terdengar cukup jelas dari telepon. "Gimana kabar Bi Narti?"

"Baik. Ibu masih di kantor?" tanyaku penasaran.

"Iya, masih ada kerjaan yang menumpuk," jawabnya. Aku hanya ber-oh ria sebagai jawaban.

"Besok jangan berantem sama Andra ya," ucapnya lagi seakan mengingatkanku.

Aku mendesah pelan sambil mengingat kelakuan Andra –kakakku- yang paling senang untuk membuatku kesal. Keisengannya padaku seakan tidak pernah habis sehingga mebuatku mudah lelah karena terlalu sering marah-marah.

"Aku usahakan," kataku pada akhirnya. "Met bekerja, bu."

"Met malam, sayang."

Aku menutup teleponku setelah ibu menutupnya duluan kemudian melangkahkan kakinku kembali ketempat tidur untuk kembali terlelap.

"Bi, nanti saya pulang agak sore ya," kataku selesai sarapan.

"Emang non mau kemana?" tanya Bi Narti menghentikan kegiatan menyapunya.

"Saya mau jemput Andra."

"Oh, kalau gitu saya siapin makan sore kesukaan Mas Andra," gumamnya terdengar olehku.

"Ayah aku berangkat duluan ya," kataku menyaliminya.

"Ya, hati-hati dijalan."

Aku segera bangkit dari tempat dudukku dan menyandang ransel lalu berjalan ke garasi menuju mobilku dan memasukinya. Didalam mobil aku meletakkan tas disampingku, menyalakan mobil lalu mengendarainya menuju sekolah.

Dalam 10 menit aku sampai disekolah dan memarkirkan mobilku. Aku kembali menyandang ranselku lalu berjalan keluar dari mobil.

"Anggi, tumben lu bawa mobil, mau kemana?" tanya Agatha tiba-tiba sudah berada disampingku.

"Gue mau jemput kakak gue di bandara."

Aku mendengar Agatha terkesiap pelan. "Kakak lu yang ganteng itu mau pulang?" tanyanya, matanya berbinar-binar saat menatapku.

Aku balas menatap Agatha dengan pandangan heran, "Kakak gue ganteng darimana?"

"Masa lu gak sadar sih?" tanya Agatha balik menatapku heran.

Aku terdiam selama beberapa saat untuk memikirkan kakakku. Kakakku yang selalu memakai kacamata minus, berambut acak-acakan, berkulit pucat, dan bersifat usil. Tidak ada yang menarik dari semua itu.

"Kakak gue biasa aja, kok," ucapku polos.

Agatha menggelengkan kepalanya dengan tampang frustasi lalu menghela napas. "Lupakan saja yang tadi, tapi..." ucapnya terputus lalu menggenggam tanganku, dia mengerahkan pandangan memohon andalannya ke mata coklatku. "Kenalin gue ke kakak lu ya?"

"Hah? buat apa?"

"Kenalan aja," katanya. "Biar dia kenal gue."

Aku terdiam. "Lu mau PDKT sama kakak gue?"

Agatha mengangguk dengan tampang polos, matanya masih memandangku dengan tatapan penuh harap. Aku melengos melihat tatapannya.

"Kakak gue 'kan udah 20 tahun, bukannya lu paling anti sama cowok yang lebih tua diatas 3 tahun diatas lu?" tanyaku. "Kakak gue malah 4 tahun diatas lu."

Dia tersenyum simpul, "Untuk kakak lu itu beda."

"Kalau gitu gak boleh," kataku tegas.

"Eh, kok gitu?" tanyanya kecewa.

Aku tidak memberi tanggapan. Agatha yang panik segera merangkul lenganku lalu memberikan tatapan mengiba.

"Ya udah deh kalau gitu... gue cuma minta kenalan aja, boleh ya?"

Aku menggeleng.

Agatha hendak membuka mulutnya untuk membalas ucapanku, tapi tiba-tiba bel berdering dengan keras sehingga pada akhirnya kami berlari menuju kelas sebelum terlambat.

.

Aku meraih tasku lalu berjalan keluar kelas menuju parkiran. Agatha tidak mengikutiku seperti biasanya, kurasa dia masih ngambek karena aku tidak mengijinkannya untuk berkenalan dengan kakakku.

Didalam mobil aku menyalakan mesin lalu menjalankannya menuju bandara yang terletak cukup jauh dari sekolah, kira-kira menghabiskan waktu sekitar 1 jam untuk sampai disana kalau tidak macet.

Aku melihat jam yang berada didasbor dan melihat bahwa 30 menit lagi pesawat akan mendarat. Aku memutar balik menuju jalan lain yang tidak macet lalu menjalankan mobilku dengan agak cepat.

Sesampainya di terminal kedatangan pesawat kakak, aku mematikan mesin kemudian keluar sambil menyandang tasku.

Aku melihat jam tanganku, terlambat 15 menit. Aku mendongak keatas dan membaca keterangan dilayar tentang pesawat kakak,pesawat itu baru mendarat 5 menit yang lalu. Aku berjalan menuju pagar pembatas bersama beberapa orang lainnya dan menunggu disana.

Beberapa saat kemudian aku kembali mendongak dan menatap tepat kearah orang yang berambut acak-acakan sepertiku dengan mata yang memancarkan sinar usil dan sedikit lelah juga bertubuh jangkung. Orang itu melambai kearahku dengan ekspresi senang dan berjalan menghampiriku.

"Hai bodoh," kata Andra mengacak rambutku dan tersenyum lebar.

"Hai gila," balasku dengan nada jutek.

Dia berhenti mengacak rambutku lalu menatap wajahku agak kecewa.

"Gak ada tangis bahagia untuk gue nih?"

"Ngapain?" tanyaku mengangkat alis.

"Yah... gue 'kan udah pergi cukup lama, lu harusnya peluk gue, nangis atau apa kek. Jangan datar begitu," jelasnya panjang lebar.

Aku hanya diam menatapnya.

"Lupakan sajalah," katanya menyerah lalu berjalan mendahuluiku.

"Lu kecewa banget ya?" tanyaku mengejarnya

Andra terdiam selama beberapa saat kemudian menjawab acuh. "Enggak, biasa aja."

Aku tetap berjalan disamping Andra selama beberapa saat lalu tiba-tiba terdiam ketika sebuah ide muncul dibenakku. Aku tersenyum geli ketika menikmati ide itu selama beberapa saat, memikirkan reaksi Andra yang kupastikan tidak akan mengecewakan.

Dengan cepat aku segera menarik wajah Andra mendekat kearahku lalu mencium pipinya. Reaksinya membuatku tertawa karena dia langsung berjengit dan menjauhiku, Andra sangat benci dicium.

"Lu ngapain cium gue?" ucapnya dengan tatapan horor .

"Loh? Lu kan minta reaksi gue, nah...itu udah gue kasih," ucapku dengan tampang tak bersalah.

Andra menatapku dengan tatapan membunuh, "Gue bales lu nanti."

Aku hanya tersenyum lebar menatapnya. Skor saat ini 1:0

Kami berjalan mendekati mobil. Aku membuka kunci lalu meletakkan koper Andra dan tasku dikursi belakang kemudian menyalakan mesin mobil untuk menjalankannya menuju rumah.

"Gimana kabar lu?" tanya Andra

"Gue baik," jawabku. "Lu sendiri?"

"Baik. Hah... gue males nih ngerjain tugas kuliah."

"Emang lu ditugasin banyak banget?" tanyaku penasaran

"Enggak sih, ini akibat gue sendiri karena gue selalu lupa ngerjain," katanya lemas.

"Tapi bohong!" katanya kembali ceria. "Skor kita seri lagi, deh."

"Sial," umpatku mencebikkan bibirku.

Dia tertawa mendengar kejengkelanku lalu berdeham beberapa kali untuk menghilangkan tawanya itu. "Lu udah gak bergaul dengan teman-teman SMP lu dulu kan?" ucapnya terdengar serius.

Aku mengangguk kaku.

"Tapi lu masih temenan sama Agatha dan Rina?"

Aku kembali mengangguk, "Mereka kan temen baik gue direhabilitasi 3 tahun yang lalu."

"Selain mereka ada lagi?"

"Enggak," jawabku. "Udah lama gue gak ketemu yang lain."

"Oh,"

Sesampainya dirumah Bi narti menyambut kami didepan pintu. "Mas Andra, Non Anggi, selamat datang," sapanya.

"Makasih sambutannya bi," kata Andra riang. "Makan sorenya apa, bi?"

"Ayam rica-rica dan telur dadar untuk Non Anggi. Ayam saus mentega, cumi goreng dan tumis kangkung untuk mas Andra," jawab Bi Narti.

"Wah, makan besar nih," kata Andra tambah riang. "Makasih bi."

"Aku juga? makasih ya, bi," ucapku ikutan senang.

Bi Narti tersenyum lembut mendengar tanggapan kami yang antusias. "Sama-sama, sekarang Mas Andra dan Non Anggi mandi dulu ya biar seger."

"Baik, bi."

Kami menghormat bibi secara serentak seperti prajurit lalu mengambil langkah seribu untuk kembali ke kamar dan bersiap-siap mandi.

"Woy buruan! gue mau sekolah nih," seruku sambil menggedor pintu kamar mandi.

"Dibawah juga ada kan?" seru Andra

"Lagi dipake bokap, lama."

Terdengar gerungan Andra dari dalam. "Ya udah, lima menit lagi gue selesai."

"Oke."

Lima menit kemudian sesuai janjinya, dia keluar dari kamar mandi dengan masih berbalut handuk dan rambut basah. "Samponya habis, jadi rambut lu jangan dibasahin nanti bau."

"Iya, tenang aja," ucapku lalu melangkah memasuki kamar mandi dan mulai mandi setelah menguncir rambutku keatas.

Selesai mandi aku segera memakai seragamku, merapikan rambutku sekedarnya kemudian meraih tasku untuk turun kebawah dan mengambil sarapanku.

"Ayah, kakak, aku berangkat ya," kataku setelah menghabiskan sarapanku.

"Ya, hati-hati," sahut ayah dari kamarnya.

Andra bergumam tidak jelas sambil melambaikan tangannya padaku, sibuk dengan makanan dan buku bacaannya.

Aku menghela napas lalu berbalik dan melangkah keluar rumah menuju sekolah dengan berjalan pelan. Aku memandang langit, tampak mendung mirip seperti saat aku melihat kejadian itu. Aku mengepalkan tanganku dengan kencang dan menggeleng, aku harus melupakan itu.

"Pagi-pagi udah melamun," kata seseorang tiba-tiba.

"Emang kenapa? ada masalah?" tanyaku ketus.

"Gak ada masalah."

Aku memutar bola mataku lalu mempercepat langkah untuk menjauhinya.

"Eh gue dong," katanya menyusulku.

Aku mengacuhkan ucapannya dan tetap mempercepat langkahku.

Selama beberapa saat akhirnya dia terdiam dan melangkah dibelakangku, tidak berusaha menyusulku kembali.

"Eh gi, gue pinjem pr lagi ya?"katanya mendadak.

"Gak, minggu ini lu udah nyontek 2 pr. Perjanjiannya 'kan seminggu sekali aja lu nyontek pr gue."

"Tapi pr ini dari guru killer, gi."

"Salah sendiri gak ngerjain," balasku dengan tega.

Tidak terdengar tanggapan apapun dari Ian.

Sampai didepan pagar sekolah aku berbalik lalu menepuk pundaknya yang memancarkan bayangan garis-garis berwarna hitam dipunggungnya "Gue duluan ya."

"Ya, pergilah."

Aku berjalan menuju kelasku lalu duduk disebelah Agatha yang sedang serius menatap layar Hpnya.

"Ada apa, tha?" tanyaku heran

"Gue kemaren download game baru tapi gak bisa dimainin."

Dahiku mengerut bingung mendengar perkataan Agatha. "Lu kali yang gak bisa maininnya."

"Kalo gue gak bisa ngapain gue download?"

"Penasaran, mungkin?"tebakku.

"Ya udah, coba lu mainin nih Hp," katanya menyodorkan Hpnya yang segera kuambil.

Aku menekan beberapa tombol untuk memainkannya. Setelah mencoba beberapa kali memencet tombol-tombolnya game ini tetap tidak bisa kumainkan. Aku mencoba kembali untuk yang terakhir lalu menyerahkan Hp itu pada Agatha, menyerah.

"Lu kagak bisa mainin kan?"

Aku mengangguk.

"Tuh kan bener dugaan gue, kalo gue aja gak bisa mainin apalagi elu."

Aku menatapnya dengan tatapan menusuk.

"Apa? gue bener kan?"

Kami berdebat cukup lama tentang game itu hingga bel berbunyi keras dan seorang guru memasuki kelas kami.

.

Saat istirahat aku dan Agatha berjalan menuju ke kantin. Di kantin Agatha langsung menghampiri Christy dan duduk disampingnya.

Aku memutar kedua bola mataku lalu berjalan menuju antrian makanan. Setelah mengantri aku berjalan ke meja yang kosong karena tahu kalau Agatha dan Christy akan mengacuhkan aku dan lebih menikmati obrolan mereka berdua jika aku duduk dengan mereka.

Disela-sela kunyahanku yang lambat aku memperhatikan seseorang yang sedang tersenyum karena mendengarkan sesuatu dari teman dibelakangnya. Matanya tampak memperhatikan makanan yang diletakkan kedalam piringnya dengan tatapan serius. Tiba-tiba matanya beralih menatapku dan senyumnya menjadi lebar.

Oh, sial.

Aku kembali menatap makananku lalu menyuapkan sesendok penuh makanan kemulutku dan mengunyahnya cepat, aku harus cepat pergi dari sini.

"Anggi," kata seseorang menyentuh bahuku.

"Apa?"

Ian meletakkan nampannya dimeja lalu duduk disampingku, wajahnya tampak senang. Dalam sekejap aku merasakan sensasi mulas diperutku.

"Lu suka sama gue kan?"

"Enggak," kataku memasang wajah cuek. "Siapa bilang?"

"Lu tadi liatin gue kan?"

Aku menggelengkan kepalaku dengan tatapan polos."Gue daritadi liatin pohon yang kecil itu buat referensi gambar kok," ucapku seraya menunjuk asal sebatang pohon.

Dia terdiam sebentar dan perlahan wajahnya berubah menjadi tidak bersemangat lalu mendesah.

Apa aku berbuat salah ya? pikirku heran.

"Hei kau..." kataku merasa bersalah.

"Yah, gak seru deh," katanya tiba-tiba bangkit berdiri membawa nampannya lalu memukul pundakku. "Gue ke temen-temen gue ya."

"Ah... oke."

Dia pergi ke meja yang tampak ribut lalu bergabung disana. Kurasa aku telah membuat kesalahan padanya.

.

Saat pulang sekolah, aku buru-buru merapikan tasku lalu berjalan menuju meja Ian untuk minta maaf. Tapi sebelum aku meminta maaf, tangannya sudah merangkul bahu salah satu temannya dan ngeluyur pergi tanpa memandangku sekalipun.

Dia benar-benar marah padaku.

Aku meraih tasku dan segera mengikuti Ian yang berbelok ke sudut menuju lahan parkir kearah sebuah mobil. Aku mengintip dari balik tiang dan melihat Ian duduk dikap mobil dan tertawa bersama teman-temannya. Dia tampak senang.

Akhirnya karena merasa nyaris melanggar privasi mereka dan obrolan mereka mungkin akan lama aku memutuskan untuk berbalik dan segera berjalan pulang.

Yeah! weekend...

Aku bergelung semakin rapat keselimutku setelah melihat jam yang masih menunjukkan jam 07.00 pagi. Hari ini aku berniat untuk bangun siang dan bermalas-malasan sepanjang hari. Andrapun tidak akan menggangguku karena dia pulang larut malam kemarin.

Indahnya...

Tiba-tiba Hpku berbunyi nyaring yang menandakan ada telepon yang harus kuangkat. Aku meraih Hpku dari atas meja kecil dan mengangkatnya.

"Halo?" tanyaku.

"Wah, lu baru bangun ya?"

Aku mendesah pelan ketika mendengar sedikit nada sindiran dari Agatha. "Ini kan hari sabtu, tha..."

"Yah lu kan tetap harus bangun pagi, kau lupa kebiasaan kita?"

"Nontonnya nanti siang kan?" tanyaku heran

"Gue gak bisa, jam 11 nanti gue bakal kerumah nenek bareng keluarga."

"Yah... kok begitu, gue kan butuh tidur cukup buat nyetir nanti."

"Gak usah aja nih?" balas Agatha terdengar mengancam.

"Jangan!"sahutku keras. "Gue udah lama pengen nonton film itu."

"Ya udah berangkat sekarang."

Aku kembali mendesah, kali ini dengan nada yang terdengar putus asa. "Iya, iya, bye."

"Bye."

Aku mematikan Hpku lalu bangkit dan meregangkan badanku sebentar. Setelah selesai aku merapikan tempat tidur lalu mengambil handuk dan berjalan kekamar mandi untuk mandi.

Selesai mandi aku menganti baju tidur dengan T-shirt dan jins serta memasukkan Hp dan dompet kekantong celana jins, membuka pintu kamar lalu berjalan kelantai bawah.

"Wah... non Anggi udah bangun, mau kemana?" sapa Bi Narti menghentikan kegiatan menyapunya.

"Mau jalan-jalan," balasku. "Udah ada sarapan, bi?"

"Saya belum buatin sarapan, non," jawab bibi, wajahnya tampak merasa bersalah.

Aku mendesah lalu tersenyum menenangkan bibi. "Ya udah deh, bi, nanti saya minta sama temen saya aja."

"Oh, oke," katanya tampak lega.

"Saya berangkat dulu ya, bi."

"Iya, non."

Aku berjalan ke garasi lalu menyalakan mobilku kemudian menyetirnya menuju rumah Agatha. Dalam 20 menit aku sampai dirumahnya lalu menekan klakson mobilku sebagai tanda.

Beberapa menit kemudian dia keluar sambil membawa ransel dipunggungnya. Dia membuka pintu mobil lalu duduk disampingku dan langsung memakai seatbelt.

"Langsung ke bioskop?" tanyaku

"Kita ke sev*l dulu buat makan, lu laper'kan?"

Aku mengangguk.

"Ya udah, ayo jalan."

"Oke."

Aku menyalakan mobilku kembali lalu mengendarainya menuju sev*l terdekat.

Sesampainya disana aku dan Agatha keluar dari mobil lalu berjalan masuk kedalam. Aku langsung menuju tempat makanan lalu memilih spaggheti dan mengisi gelas dengan coca-cola. Agatha memilih roti keju dan slurpee berbagai rasa digelas sedang.

Kami duduk ditempat yang kosong lalu mulai menyantap makanan kami.

"Kita telat gak nih?" tanyaku disela makan.

"Gak, mulainya jam 8.30 kok."

"Oh."

Kami segera menghabiskan makanan masing-masing dalam diam lalu keluar dari sev*l dan memasuki mobil, menyalakan mesin mobil kemudian segera menjalankannya ke bioskop.

.

.

.

.

.

To be continued

A/N : Hai, makasih karena sudah mau baca chap ini dan chap yang lalu. Makasih sekali lagi buat Miss. Nightray dan Black Raven Diamond yang sudah memberi kritik dan saran dichapter kemarin, itu sangat membantuku...

berkenan untuk memberi review? :)